Stockholm, 16 Februari 2005

Bismillaahirrahmaanirrahiim.
Assalamu'alaikum wr wbr.
 

DHARMINTA & MUBA ACUNGKAN HASYIM MUZADI-PBNU UNTUK TERUS IKAT ACHEH DENGAN TALI MPU TANTULAR
Ahmad Sudirman
Stockholm - SWEDIA.

 

KELIHATAN ITU MATIUS DHARMINTA & MUBA ZR MENGACUNGKAN HASYIM MUZADI-PBNU UNTUK TERUS MENGIKAT ACHEH DENGAN TALI BHINEKA TUNGGAL IKA HINDU NYA MPU TANTULAR

"Yudhoyono memang tidak akan bisa membantu dengan sejarah Acheh, terutama cuplikan sejarah yang dipegang bung A. Sudirman, cuplikan sejarah yang memang udah lapuk dan tidak berlaku lagi yang selalu dipaksakan. Lihat aja setiap argumenya, selalu melingkar ke cuplikan sejarah lapuknya yang dihambur di setiap e.mail, itu semua dilakukan dengan harapak ada pihak lain yang mau mengadopsinya. Yaa maklum memang hanya dengan cara demikian ia bisa mencari nafkah di negeri barunya itu. Dengan demikian yang perlu dipertanyakan pula adalah posisinya sebagai separatis GAM, apa betul ia melakukan semua itu atas keperluan gerakan separatisme, mengingat ia bukan lagi warga NKRI, melainkan warga Swedia yang nota bene udah menjadi warga asing diwilayah NKRI, jadi kesimpulanya ia udah berada diluar pagar dengan masalah yang terjadi di Acheh." (Matius Dharminta, mr_dharminta@yahoo.com ,Tue, 15 Feb 2005 19:54:59 -0800 (PST))

"Apa itu maksud pasal 2 itu? Kok aku tidak melihat kaitannya sech.? Apa ini salah satu bukti lagi tentang kepandaian kamu menarik kesimpulan? Ha ha." (Muba Zir, mbzr00@yahoo.com ,Tue, 15 Feb 2005 15:07:25 -0800 (PST))

"Sorry deh, aku kemaren ada masalah dengan komputerku. Tapi memang aku kagum dengan kepandaianmu menarik kesimpulan, seperti tentang aku: "ujungnya hanya memeluk TNI saja". Hanya sedikit komentarku tentang kesimpulan-kesimpulan yang pernah kamu buat dalam mimbar ini: salah sekaleee." (Muba Zir, mbzr00@yahoo.com ,Tue, 15 Feb 2005 14:37:06 -0800 (PST))

Baiklah Matius Dharminta di Surabaya, Indonesia dan Muba di Paris, Perancis.

Memang makin jelas saja, itu Dharminta dan Muba, karena memang mereka berdua ini sudah tidak ada lagi argumentasi yang bisa ditampilkan di mimbar bebas ini guna menangkis dan merobohkan benteng pertahanan rakyat Acheh yang sedang berjuang untuk penentuan nasib sendiri, maka mereka berdua hanya bisa menkongkerek-korek argumentasi dari tempat sampah di Kediri, Jawa Timur, seperti pandangan dan pikiran yang dilemparkan oleh Ketua Umum Pengurus Besar Nahdlatul Ulama KH A Hasyim Muzadi yang menyatakan: " Kalau GAM menginginkan adanya penambahan status melebihi otonomi yang sudah diberikan pemerintah sebelumnya, silakan saja asalkan masih dalam kerangka NKRI. Kalau masih menuntut kemerdekaan dan ingin mendirikan negara sendiri, jangan harap akan ada kompromi, apalagi dengan pemberontak" (ceramah A Hasyim Muzadi dalam istighotsah Tahun Baru Islam 1426 H, Kediri, Jawa Timur, Minggu 13 Februari 2005)

Nah, ternyata pandangan dan pikiran Ketua Umum Pengurus Besar Nahdlatul Ulama KH A Hasyim Muzadi inilah yang dikorek dari tempat sampah di Kediri oleh Matius Dharminta dari Surabaya dan Muba dari Paris itu.

Karena kalau Matius Dharminta, jelas, ia kosong otaknya, disuruh menampilkan dasar referensi dari apa yang diajarkan oleh para guru dan dosen di RI tentang sejarah Acheh yang ada hubungannya dengan jalur proses pertumbuhan dan perkembangan Negara RI tidak pernah dimunculkannya. Padahal itulah dasar referensi yang bisa didiskusikan dan didebatkan dimimbar bebas ini. Tetapi, itu Dharminta dari Jawa Pos ini, bukan dasar referensi sejarah Acheh yang diajarkan di sekolah dan universitas yang dilambungkan melainkan hasil pandangan dan pemikiran Ketua Umum PBN A Hasyim Muzadi yang sama-sama dari Jawa itu. Dan celakanya, dipungut pula itu pandangan A Hasyim Muzadi oleh Muba yang juga dari Jawa dan sekarang ia sedang menyuruk di Paris, Perancis itu.

Memang, apa yang dilambungkan oleh Hasyim Muzadi itu, sama saja dengan apa yang dilambungkan oleh Susilo Bambang Yudhoyono, Endriartono Sutarto, Ryamizard Ryacudu, Theo L Sambuaga, AM Fatwa, Noer Hassan Wirajuda, Widodo Adi Sutjipto.

Karena memang itu Hasyim Muzadi, tidak ada pilihan lain yang bisa dijadikan dasar argumentasi berdasarkan fakta, bukti, sejarah dan dasar hukum tentang Acheh ditelan Soekarno, melainkan hanya acuan kosong UU No.18/2001 hasil kutak-katik anggota DPR zaman Bung Akbar Tandjung dan anggota Kabinet Gotong Royong zaman mbak Megawati.

Hasyim Muzadi cs ini memang seperti juga itu Dharminta yang pandainya hanya melambungkan alasan: "cuplikan sejarah yang dipegang bung A. Sudirman, cuplikan sejarah yang memang udah lapuk dan tidak berlaku lagi yang selalu dipaksakan."

Nah, memang itulah model orang-orang Jawa yang terus berada dibelakang ekor mbah Soekarno dengan bhineka tunggal ikanya mpu Tantular yang menggubah cerita khayal hindu Sutasoma. Padahal kalau itu yang namanya Dharminta tidak hanya membeo dan mengekor mpu Tantular, sudah pasti dibongkarnya sejarah lain tentang Acheh agar mampu dijadikan dasar argumentasi untuk mendobrak benteng pertahanan Acheh yang dipasang Ahmad Sudirman. Tetapi, kenyataannya tidak demikian itu Dharminta yang mengaku wartawan Jawa Pos dari Surabaya ini. Malahan ditambah pula dengan kocekan untaian kata yang tidak menentu yang berbunyi: "setiap argumenya, selalu melingkar ke cuplikan sejarah lapuknya yang dihambur di setiap e.mail, itu semua dilakukan dengan harapak ada pihak lain yang mau mengadopsinya. Yaa maklum memang hanya dengan cara demikian ia bisa mencari nafkah di negeri barunya itu".

Nah kan kelihatan itu Dharminta, ia bukan menangkis serangan dan benteng pertahanan Acheh yang dipasang Ahmad Sudirman, melainkan ia hanya mengkorek-korek kata-kata kosong.

Jelas, itu yang selalu mendapat kiriman tulisan Ahmad Sudirman ini adalah orang-orang yang sejak lama selalu mendapat kiriman tulisan Ahmad Sudirman. Kalau mau mengadopsi atau tidak tulisan-tulisan itu, bukan tujuan dan maksud dari apa yang ditulis oleh Ahmad Sudirman. Dan tulisan tentang sejarah Acheh yang dilambungkan Ahmad Sudirman tidak perlu diadopsi oleh mereka. Yang penting adalah apakah ada dari mereka yang mampu menampilkan dasar argumentasi yang bisa mempertahankan Acheh hasil rampokan, telanan, caplokan Soekarno dengan RIS-nya itu dengan didasarkan pada fakta, bukti, sejarah dan dasar hukum yang kuat dan benar ?.

Lagi pula Ahmad Sudirman menulis tentang Acheh dan RI ini bukan untuk mencari nafkah di Swedia. Ahmad Sudirman dapat nafkah bukan karena dari hasil menulis. Puluhan tahun Ahmad Sudirman bekerja, cukup itu untuk menghidupi hidup di Swedia. Itu apa yang ditulis merupakan hasil pemikiran, pandangan, analisa, kesimpulan yang didasarkan pada fakta, bukti, sejarah dan dasar hukum yang jelas tentang Acheh hubungannya dengan jalur proses pertumbuhan dan perkembangan RI. Dan karena Ahmad Sudirman mendukung dan menyokong perjuangan rakyat Acheh yang telah sadar untuk menentukan nasib sendiri bebas dari pengaruh kekuasaan Negara pancasila, maka dengan ditampilkannya sejarah Acheh dan hubungannya dengan RI yang benar dan jelas, ternyata itu pihak Soekarno dan para penerusnya, termasuk Dharminta, Muba Hasyim Muzadi kelabakan, tidak mampu memberikan tanggapan dan argumentasinya, kecuali, seperti Dharminta hanya melambungkan kata-kata: "selalu melingkar ke cuplikan sejarah lapuknya". Atau itu Muba hanya hanya sanggup menuliskan: "sedikit komentarku tentang kesimpulan-kesimpulan yang pernah kamu buat dalam mimbar ini: salah sekaleee". Atau juga itu Hasyim Muzadi yang melambungkan pandangannya: "Kalau masih menuntut kemerdekaan dan ingin mendirikan negara sendiri, jangan harap akan ada kompromi, apalagi dengan pemberontak".

Karena kalau alasan-alasan yang dilambungkan oleh Dharminta, Hasyim Muzadi, Muba itu adalah alasan yang ternyata setelah dikupas oleh Ahmad Sudirman, itu alasan dalam gebrakan pertama saja sudah hancur berantakan. Apalagi itu Dharminta yang pandainya hanya melambungkan kata-kata: "cuplikan sejarah lapuk"

Mana bisa itu alasan Dharminta yang berbunyi "cuplikan sejarah lapuk" bisa merobohkan benteng pertahanan rakyat Acheh yang negerinya ditelan dan dijajah Soekarno dengan RIS-nya.

Apalagi itu Hasyim Muzadi dari PBNU di Jawa Timur itu. Ia hanya pandai mempertahankan Negeri Acheh biar tetap berada dalam sangkar RI hanya dengan melambungkan kata-kata dalam istighotsah Tahun Baru Islam 1426 H yang berbunyi: "Kalau GAM menginginkan adanya penambahan status melebihi otonomi yang sudah diberikan pemerintah sebelumnya, silakan saja asalkan masih dalam kerangka NKRI."

Nah atas dasar apa itu Ketua Umum PBNU Hasyim Muzadi melemparkan pemikiran seperti itu ?. Apakah itu Hasyim Muzadi melambungkan pemikiran Negeri Acheh ada dalam pelukan RI hasil rampokan dan telanan Soekarno itu dianggap sebagai hasil dan usaha yang benar dan itu Negeri Acheh dianggap sebagai wilayah bagian RI ?.

Kan ngaco dan salah kaprah itu isi ceramah Ketua Umum PBNU Hasyim Muzadi yang dengan seenak udelnya sendiri melambungkan pemikiran seperti itu yang tanpa ditunjang oleh adanya fakta, bukti, sejarah dan dasar hukum yang jelas dan benar yang menyatakan bahwa itu Negeri Acheh merupakan milik RI atau milik RI Soekarno atau milik RI 17 Agustus 1945.

Kemudian lagi, itu Dharminta, karena memang sudah lumpuh untuk mempertahankan Acheh, disebabkan tidak punya argumentasi yang jelas dan benar berdasarkan fakta, bukti, sejarah dan dasar hukum, maka dilambungkanlah cerita yang berisikan cairan: "yang perlu dipertanyakan pula adalah posisinya sebagai separatis GAM, apa betul ia melakukan semua itu atas keperluan gerakan separatisme, mengingat ia bukan lagi warga NKRI, melainkan warga Swedia yang nota bene udah menjadi warga asing diwilayah NKRI, jadi kesimpulanya ia udah berada diluar pagar dengan masalah yang terjadi di Acheh."

Nah, kan itu sama seperti yang dilambungkan Susilo Bambang Yudhoyono. Padahal itu Ahmad Sudirman telah menyatakan dalam tulisan sebelum ini bahwa dengan alasan warganegara asing, maka menurut Susilo Bambang Yudhoyono, Pemerintah RI tidak perlu mendengarkan suara ASNLF. Padahal walaupun Ahmad Sudirman diterima sebagai warganegara Swedia, tidak otomatis secara etnis langsung menjadi suku Swedia. Dan perubahan suku itu tidak mungkin terjadi. Kemudian kalau Ahmad Sudirman menyampaikan buah pikiran dan mendukung perjuangan rakyat Acheh untuk pembebasan negerinya, itu ditunjang oleh dasar hukum internasional Pernyataan Umum Tentang Hak Hak Asasi Manusia, yang dalam pasal 2 berbunyi "Setiap orang berhak atas semua hak dan kebebasan-kebebasan yang tercantum di dalam Pernyataan ini tanpa perkecualian apapun, seperti ras, warna kulit, jenis kelamin, bahasa, agama, politik atau pendapat yang berlainan, asal mula kebangsaan atau kemasyarakatan, hak milik, kelahiran ataupun kedudukan lain. Di samping itu, tidak diperbolehkan melakukan perbedaan atas dasar kedudukan politik, hukum atau kedudukan internasional dari negara atau daerah dari mana seseorang berasal, baik dari negara yang merdeka, yang berbentuk wilayah-wilayah perwalian, jajahan atau yang berada di bawah batasan kedaulatan yang lain." (Pernyataan Umum Tentang Hak Hak Asasi Manusia, Pasal 2)

Nah, dari Pernyataan Umum Tentang Hak Hak Asasi Manusia, Pasal 2 ini menggambarkan bahwa Ahmad Sudirman berhak atas semua hak dan kebebasan-kebebasan yang tercantum di dalam Pernyataan Umum Tentang Hak Hak Asasi Manusia tanpa perkecualian apapun, dan tidak dibeda-bedakan karena adanya perbedaan kedudukan politik, hukum atau kedudukan internasional dari negara atau daerah dari mana Ahmad Sudirman sekarang berada.

Jadi, kalau sekarang Ahmad Sudirman mendukung dan menyokong perjuangan Rakyat Acheh bersama ASNLFnya untuk penentuan nasib sendiri dan pembebasan negeri Acheh, itu dijamin oleh dasar hukum internasional Pernyataan Umum Tentang Hak Hak Asasi Manusia, Pasal 2.

Kemudian, celakanya dasar hukum internasional Pernyataan Umum Tentang Hak Hak Asasi Manusia, Pasal 2 ini tidak dimengerti dan tidak dipahami oleh Muba pengekor Susilo Bambang Yudhoyono dan Hasyim Muzadi dari Jawa ini. Seperti contohnya itu Muba menampilkan hasil otak kosongnya: "Apa itu maksud pasal 2 itu? Kok aku tidak melihat kaitannya sech.? Apa ini salah satu bukti lagi tentang kepandaian kamu menarik kesimpulan? Ha ha."

Kan lucu, itu Muba ekornya Hasyim Muzadi dari PBNU ini, cekakakan, bukan berpikir dan menggali kembali apa yang tercantum dalam Pernyataan Umum Tentang Hak Hak Asasi Manusia, Pasal 2 ini.

Nah terakhir, itulah orang-orang RI seperti Dharminta, Muba dan Hasyim Muzadi ketika mereka melambungkan dasar pemikirannya tentang Acheh, ternyata isinya hanyalah kosong, termakan racun mpu Tantular yang dipasang dan disebarkan oleh Soekarno kedalam sejarah Acheh dan negeri RI.

Bagi yang ada minat untuk menanggapi silahkan tujukan atau cc kan kepada ahmad@dataphone.se agar supaya sampai kepada saya dan bagi yang ada waktu untuk membaca tulisan-tulisan saya yang telah lalu yang menyinggung tentang Khilafah Islam dan Undang Undang Madinah silahkan lihat di kumpulan artikel di HP http://www.dataphone.se/~ahmad

Hanya kepada Allah kita memohon pertolongan dan hanya kepada Allah kita memohon petunjuk, amin *.*

Wassalam.

Ahmad Sudirman

http://www.dataphone.se/~ahmad
www.ahmad-sudirman.com
ahmad@dataphone.se
----------

Date: Tue, 15 Feb 2005 19:54:59 -0800 (PST)
From: matius dharminta mr_dharminta@yahoo.com
Subject: ITU YUDHOYONO MANA BISA MEMBANTU DENGAN SEJARAH ACHEH
To: Ahmad Sudirman <ahmad@dataphone.se>, Serambi Indonesia <serambi_indonesia@yahoo.com>, Habe Arifin <habearifin@yahoo.com>, Yuhendra <yuhe1st@yahoo.com>, Ditya Soedarsono <dityaaceh_2003@yahoo.com>, ahmad jibril <ahmad_jibril1423@yahoo.com>, Hassan Wirajuda <hassan.wirajuda@ties.itu.int>, Megawati <megawati@gmx.net>, Al Chaidar alchaidar@yahoo.com

AGOOSH YOOSRAN, ITU YUDHOYONO MANA BISA MEMBANTU DENGAN SEJARAH ACHEH

Yudhoyono memang tidak akan bisa membantu dengan sejarah Acheh, terutama cuplikan sejarah yang dipegang bung A. Sudirman, cuplikan sejarah yang memang udah lapuk dan tidak berlaku lagi yang selalu dipaksakan. Lihat aja setiap argumenya, selalu melingkar ke cuplikan sejarah lapuknya yang dihambur di setiap e.mail, itu semua dilakukan dengan harapak ada pihak lain yang mau mengadopsinya.

Yaa maklum memang hanya dengan cara demikian ia bisa mencari nafkah di negeri barunya itu. Dengan demikian yang perlu dipertanyakan pula adalah posisinya sebagai separatis GAM, apa betul ia melakukan semua itu atas keperluan gerakan separatisme, mengingat ia bukan lagi warga NKRI, melainkan warga Swedia yang nota bene udah menjadi warga asing diwilayah NKRI, jadi kesimpulanya ia udah berada diluar pagar dengan masalah yang terjadi di Acheh.

Semoga semua pihak memahami akan hal itu, dan ma'af apabila ada kata yang sedikit kasar.

Matius Dharminta

mr_dharminta@yahoo.com
Surabaya, Indonesia
----------

Date: Tue, 15 Feb 2005 14:22:18 -0800 (PST)
From: muba zir mbzr00@yahoo.com
Subject: NKRI Jangan Hanya Dikorbankan karena GAM
To: Ahmad Sudirman <ahmad@dataphone.se>, narastati@yahoo.com, hasan_saleh1945@yahoo.com, bambang_hw@rekayasa.co.id, editor@jawapos.co.id, mitro@kpei.co.id

Minggu, 13 Februari 2005 20:45 WIB
NKRI Jangan Hanya Dikorbankan karena GAM

KEDIRI-MIOL: Ketua Umum Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) KH Drs A Hasyim Muzadi mengingatkan pemerintah Indonesia agar tidak mengorbankan keutuhan Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI) dalam berhadapan dengan Gerakan Aceh Merdeka (GAM).

"Kalau GAM menginginkan adanya penambahan status melebihi otonomi yang sudah diberikan pemerintah sebelumnya, silakan saja asalkan masih dalam kerangka NKRI," katanya usai memberikan ceramah dalam istighotsah Tahun Baru Islam 1426 Hijriyah di Kediri, Jawa Timur, Minggu.

Menurut pandangan Hasyim, perundingan antara kedua belah pihak beberapa waktu mendatang tidak akan menghasilkan sebuah komitmen apapun selama GAM masih menuntut kemerdekaan dan ingin mendirikan negara sendiri.

"Kalau masih seperti itu jangan harap akan ada kompromi, apalagi dengan pemberontak," tukas mantan Cawapres dalam pemilu presiden 2004 itu. Menyimak hal itu, Hasyim memprediksi perundingan antara RI dengan GAM akan tetap 'mauquf' (menemui jalan buntu), sekalipun beberapa negara maju terlibat sebagai mediator dalam perundingan kedua belah pihak. Dalam suasana duka pasca terjadinya bencana tsunami yang merenggut ratusan ribu nyawa warga Aceh itu, ia menyarankan agar GAM sebaiknya menempuh jalan damai dengan pemerintah. Dalam pidatonya, Hasyim mengharapkan agar semua pihak bisa meringankan beban psikologis yang kini mendera para korban selamat dalam peristiwa bencana gempa dan
tsunami di Aceh serta sebagian Sumut itu. Menurut pengasuh Pesantren Mahasiswa Al-Hikam, Malang, Jatim yang sudah empat kali mengunjungi lokasi bencana di Aceh itu, para korban tidak hanya membutuhkan bantuan materi saja, tetapi juga bantuan spiritual. Bantuan dalam bentuk spiritual itu telah dilakukan PBNU dengan mengirimkan para relawan dari kalangan santri pondok pesantren untuk membangkitkan semangat keagamaan masyarakat Aceh pasca bencana.

"Yang lebih penting lagi jangan sampai timbul fitnah dalam penanganan masalah Aceh, karena masalah penanganan pasca bencana di Aceh merupakan tanggung jawab semua pihak," katanya, mengingatkan. (Ant/O-2)

Sumber: Media Indonesia Online

Muba ZR

mbzr00@yahoo.com
Paris, Perancis
----------

Date: Tue, 15 Feb 2005 14:37:06 -0800 (PST)
From: muba zir mbzr00@yahoo.com
Subject: Re: SDR ICHWAN ITU PEMASUKAN KATA SUKU HANYALAH BUNGA DISKUSI SAJA BUKAN SUATU PENGHINAAN
To: Ahmad Sudirman ahmad@dataphone.se
Cc: Ahmad Sudirman <ahmad@dataphone.se>, narastati@yahoo.com, hasan_saleh1945@yahoo.com, bambang_hw@rekayasa.co.id, editor@jawapos.co.id, mitro@kpei.co.id

Ha ha, aku ternyata cukup berkesan di hatimu ya. Makasih dengan tetap mengingatku. Sorry deh, aku kemaren ada masalah dengan komputerku. Tapi memang aku kagum dengan kepandaianmu menarik kesimpulan, seperti tentang aku: "ujungnya hanya memeluk TNI saja...". Hanya sedikit komentarku tentang kesimpulan-kesimpulan yang pernah kamu buat dalam mimbar ini: SALAH SEKALEEEE.

Muba ZR

mbzr00@yahoo.com
Paris, Perancis
----------

Date: Tue, 15 Feb 2005 15:07:25 -0800 (PST)
From: muba zir mbzr00@yahoo.com
Subject: Re: AKHIRNYA KELIHATAN ARDIANSYAH PAKAI KEDOK SKRIPSI UNTUK DUKUNG YUDHOYONO & TNI GEBUK ASNLF
To: Ahmad Sudirman ahmad@dataphone.se
Cc: narastati@yahoo.com, hasan_saleh1945@yahoo.com, bambang_hw@rekayasa.co.id, editor@jawapos.co.id, mitro@kpei.co.id, Muhammad.Ardiansyah@hm.com

Apa itu maksud pasal 2 itu? Kok aku tidak melihat kaitannya sech.? Apa ini salah satu bukti lagi tentang kepandaian kamu menarik kesimpulan? Ha ha.

Muba ZR

mbzr00@yahoo.com
Paris, Perancis
----------