Stockholm, 16 Februari 2005

Bismillaahirrahmaanirrahiim.
Assalamu'alaikum wr wbr.
 

ARDIANSYAH MAKIN KELIHATAN BELANGNYA MEMAKAI WARNA EKOR YUDHOYONO
Ahmad Sudirman
Stockholm - SWEDIA.

 

MAKIN JELAS ITU YANG MENGAKU MAU MEMBUAT SKRIPSI TENTANG ACHEH TETAPI KENYATAAN EKORNYA SUSILO BAMBANG YUDHOYONO

"Saudara Ahmad Sudirman hanya bisa membaca sejarah, tapi buta akan keadaan yang sebenarnya di Acheh. Dan saudara takut kembali ke RI walaupun ada Amnesti.( takut tidak berumur panjang ya mas ? ) Padahal sudah terkapar tak berdaya dengan hasil sementara random sampling dan kenyataan ajaran Islam yg sebenarnya. Eksistensi suatu Negara bukan hanya karena kenyataan sejarah Bung ! Kalo mau merilis sejarah , kenapa enggak bikin kesultanan Acheh aja sekalian. Kenapa anda bukannya minta suaka politik, tetapi malah menjadi warga negara Swedia ? tindakan yang jelas menghianati warga Acheh ! Saat ini pasti mulut anda terkunci rapat & lagi pusing tujuh keliling, mau jawab apa ya ?" (Muhammad Ardiansyah, Muhammad.Ardiansyah@hm.com ,Wed, 16 Feb 2005 15:18:34 +0700)

Baiklah Ardiansyah di Jakarta, Indonesia.

Nah, memang akhirnya makin jelas kelihatan itu belangnya Ardiansyah yang semula terbungkuk-bungkuk mau membuat skripsi tentang Acheh, rupanya ekornya SusiloBambang Yudhoyono. Dan jelas apa yang telah dilambungkan Ardiansyah di mimbar bebas ini hanyalah sekedar coretan-coretan model Susilo Bambang Yudhoyono.

Lihat dan perhatikan saja apa yang ditulisnya: "Kenapa anda bukannya minta suaka politik, tetapi malah menjadi warga negara Swedia ? tindakan yang jelas menghianati warga Acheh ! Saat ini pasti mulut anda terkunci rapat & lagi pusing tujuh keliling, mau jawab apa ya ?"

Kan kelihatan, Ardiansyah memang budek, itu sebelum pemerintah Swedia menerima Ahmad Sudirman sebagai warganegara-nya, Jenderal Soeharto melalui kacungnya di Cairo Noer Hassan Wirajuda waktu itu menjabat sebagai Kepala Sub Bidang Protokol & Konsuler Sekretaris Ketiga di Kedutaan Besar RI di Cairo, sekarang Menteri Luar Negeri dan Ferdy Salim, waktu itu Duta Besar, tahun 1981 mencabut kewarganegaraan Indonesia Ahmad Sudirman. Dengan alasan tulisan Ahmad Sudirman yang berjudul "Dibawah Belenggu Rezim Penguasa" isinya menghina Jenderal Soeharto dengan pancasila-nya. Dimana sebelum kewarganegaraan Indonesia Ahmad Sudirman dicabut, itu pasport Ahmad Sudirman dicabut oleh itu Ferdi Salim dan Noer Hassan Wirajuda.

Jadi, sudah jelas, dari sejak awal itu Jenderal Soeharto, Noer Hassan Wirajuda, dan Ferdy Salim orang awak itu, sudah membuat permasalahan dengan Ahmad Sudirman. Ketika Pemerintah Swedia menerima Ahmad Sudirman dan famili untuk tingggal di negaranya, maka itu negeri Mesir, Ahmad Sudirman tinggalkan pada tanggal 29 Juli 1981. Dengan alasan itu Anwar Sadat pun waktu itu Presiden Mesir bersekutu dengan mbah Soeharto untuk sama-sama mengganyang Ahmad Sudirman.

Setelah lima tahun tinggal di Negeri salju ini, maka pada tangal 11 Juni 1986 Ahmad Sudirman diterima sebagai warganegara Swedia.

Jadi Ardiansyah ekornya Susilo Bambang Yudhoyono, itu ketika Ahmad Sudirman diterima oleh Pemerintah Swedia, itu status Ahmad Sudirman ada dalam perlindungan politik Pemerintah Swedia dengan kehilangan kewarganegaraan Indonesia karena dicabut mbah Soeharto dan Mang Noer Hassan Wirajuda orang Sunda satu itu, serta Ferdy Salim orang awak satu itu.

Karena itu tidak benar itu yang dikatakan Ardiansyah kacungnya Susilo Bambang Yudhoyono ini yang menyatakan: "Kenapa anda bukannya minta suaka politik, tetapi malah menjadi warga negara Swedia ? tindakan yang jelas menghianati warga Acheh !"

Jelas, untuk formalitas hukum, karena itu kewarganegaraan Indonesia telah dicabut mbah Soeharto, mang Noer Hassan Wirajuda dan Ferdy Salim, dari diri Ahmad Sudirman, kemudian ketika pihak Pemerintah Swedia menyodorkan kewarganegaraan Swedia, ya untuk sementara diterima Ahmad Sudirman, dari pada tidak punya warganegara sama seklai.

Jadi, dimana letak dan kedudukan Ahmad Sudirman menghianati warga Acheh ?.

Yang harus kena gebuk itu mbah Soeharto, mang Noer Hassan Wirajuda dan Ferdy Salim yang mencabut kewarganegaraan Ahmad Sudirman. Masa baru saja dikritik pancasila hasil kutak katik Soekarno, sudah petentengan unjuk gigi taring. Dan tentu saja itu mbah Soeharto sekarang masih menyuruk di cendana. Tetapi sayang itu mang Noer Hassan Wirajuda tetap duduk disinggasana kursi Menteri Luar Negeri nya yang sudah goyang yang salah satunya disebabkan kena hantaman politik dan diplomasi ASNLF.

Ardiansyah, kalian memang budek, itu soal pengumpulan data yang dilakukan oleh teman kalian di Acheh tentang sikap mereka terhadap pihak RI, TNI, Darurat Militer, Darurat Sipil, ekonomi, politik dan lainnya di Acheh, adalah omong kosong hasilnya, kalau itu situasi dan kondisi politik dan keamanan di Acheh masih berada dibawah payung PP No.2/2004 tentang Darurat Sipil dan Keppres No.43/2003.

Apakah Ardiansyah yang mengaku masih belajar di universitas, tidak memahami apa itu wilayah atau daerah yang berada dalam status Darurat Sipil ? Dan apakah kalian Ardiansyah tidak membaca itu isi PP No.2/2004 ?.

Coba tunjukkan itu hasil kumpulan data dengan cara random sampling di Negeri Acheh ini di mimbar bebas ini. Apa itu kriteria-kriteria dan metode penelitian yang teman kalian lakukan di Acheh itu ?

Jangan hanya seenaknya saja mengambil kesimpulan dari hasil kesimpulan, bahwa itu rakyat Acheh tidak penting siapa yang berkuasa, yang penting Islam bisa tegak di Acheh. Coba Islam yang bagaimana yang harus tegak itu ? Islam model UU No.18/2001 atau Islam yang dipimpin oleh orang-orang sekuler, atau penerapan hukum Islam yang mengacu kepada dasar hukum pancasila ?.

Kalian saja Ardiansyah mana itu melihat kepada contoh Rasulullah saw dalam hal membangun Daulah Islamiyah. Paling kalian melihat kepada Negara sekuler RI, negaranya mbah Soekarno. Kalian Ardiansyah memang alergi tentang Islam yang diterapkan secara menyeluruh. Kalian menyinggung Teungku Muhammad Daud Beureueh, tetapi ketika membicarakan sepak terjang NII Teungku Muhammad Daud Beureueh dibelokkan kepada otonomi gombal made in Soekarno dengan bhineka tunggal ika hindunya mpu Tantular.

Ardiansyah, tidak perlu kalian ikut-ikutan berbicara NII Teungku Muhammad Daud Beureueh kalau otak kalian masih dijejali sampah pancasila Soekarno dan otonomi gombal UU No.18/2001 made in mbak Megawati dan bung Akbar Tandjung cs.

Kemudian, kalian Ardiansyah menyinggung: "Eksistensi suatu Negara bukan hanya karena kenyataan sejarah Bung ! Kalo mau merilis sejarah , kenapa enggak bikin kesultanan Acheh aja sekalian."

Jelas, Ardiansyah budek, itu jalur proses pertumbuhan dan perkembangan suatu negara adalah merupakan dasar hukum, sejarah, fakta dan bukti wujudnya negara. Kemudian itu mengenai kesultanan Acheh, itu hanyalah merupakan bentuk negara. Yang penting bagi rakyat Acheh yang telah sadar untuk menentukan nasib sendiri bebas dari pengaruh kekuasaan Negara pancasila adalah membebaskan Acheh dari kungkungan dan jajahan RI. Setelah itu, apakah Negeri Acheh mau dijadikan sebagai bentuk kesultanan, republik, kerajaan, itu semua diserahkan melalui plebisit kepada seluruh rakyat Acheh.

Lihat saja itu sejarah proses jalur pertumbuhan dan perkembangan RI, yang macam-macam bentuk warna negaranya bagaikan warna kuda zebra.

Bagi yang ada minat untuk menanggapi silahkan tujukan atau cc kan kepada ahmad@dataphone.se agar supaya sampai kepada saya dan bagi yang ada waktu untuk membaca tulisan-tulisan saya yang telah lalu yang menyinggung tentang Khilafah Islam dan Undang Undang Madinah silahkan lihat di kumpulan artikel di HP http://www.dataphone.se/~ahmad

Hanya kepada Allah kita memohon pertolongan dan hanya kepada Allah kita memohon petunjuk, amin *.*

Wassalam.

Ahmad Sudirman

http://www.dataphone.se/~ahmad
www.ahmad-sudirman.com
ahmad@dataphone.se
----------

Date: Wed, 16 Feb 2005 15:18:34 +0700
From: Muhammad.Ardiansyah@hm.com
To: <ahmad@dataphone.se>, <serambi_indonesia@yahoo.com>, <balipost@indo.net.id>, <newsletter@waspada.co.id>, <redaksi@pikiran-rakyat.com>, <editor@pontianak.wasantara.net.id>, <hudoyo@cbn.net.id>, <jktpost2@cbn.net.id>, <redaksi@kompas.com>, <redaksi@satunet.com>, <redaksi@waspada.co.id>, <waspada@waspada.co.id>, <webmaster@detik.com>, <kompas@kompas.com>, <Padmanaba@uboot.com>, <solopos@bumi.net.id>, <sea@swipnet.se>, <siliwangi27@hotmail.com>, <suparmo@tjp.toshiba.co.jp>, <editor@jawapos.co.id>, <habearifin@yahoo.com>, mr_dharminta@yahoo.com
Subject: RE: DHARMINTA & MUBA ACUNGKAN HASYIM MUZADI-PBNU UNTUK TERUS IKAT ACHEH DENGAN TALI MPU TANTULAR

Assalamu'alaikum wr wbr.

Saudara Ahmad Sudirman hanya bisa membaca sejarah, tapi buta akan keadaan yang sebenarnya di Acheh. Dan saudara takut kembali ke RI walaupun ada Amnesti.( takut tidak
berumur panjang ya mas ? ) Padahal sudah terkapar tak berdaya dengan hasil sementara random sampling dan kenyataan ajaran Islam yg sebenarnya.

Dan terimakasih atas bantuannya meyakinkan akan kebenaran kalau perjuangan Rakyat acheh adalah hal yang mengada-ada berdasarkan kenyataan sekarang ini ( karena Tulisan Ahmad Sudirman terlihat benar tapi setelah ditelaah lebih lanjut ternyata banyak ngaco nya ).

Eksistensi suatu Negara bukan hanya karena kenyataan sejarah Bung ! Kalo mau merilis sejarah , kenapa enggak bikin kesultanan Acheh aja sekalian. Kenapa anda bukannya minta suaka politik, tetapi malah menjadi warga negara Swedia ? tindakan yang jelas menghianati warga Acheh !

Saat ini pasti mulut anda terkunci rapat & lagi pusing tujuh keliling, mau jawab apa ya ?

Wassalam

Ardiansyah

Muhammad.Ardiansyah@hm.com
Jakarta, Indonesia
----------