Stockholm, 17 Februari 2005

Bismillaahirrahmaanirrahiim.
Assalamu'alaikum wr wbr.
 

ARGUMENTASI ARDIANSYAH MASIH LEMAH UNTUK DIPAKAI MEMPERTAHANKAN NEGERI ACHEH
Ahmad Sudirman
Stockholm - SWEDIA.

 

KELIHATAN DENGAN JELAS ITU ARGUMENTASI ARDIANSYAH MASIH LEMAH UNTUK DIPAKAI MEMPERTAHANKAN NEGERI ACHEH TETAP DALAM SANGKAR RI

"Terima kasih atas tanggapan balik saudara Sudirman. Pada Dasarnya kita sesama muslim adalah bersaudara. Bersama kita mendo'akan keselamatan seluruh kaum muslim & muslimat diseluruh dunia sedikitnya pada saat kita sholat. Anda lihat dasar berdirinya Republik ini adalah dengan Syukur, lihat pembukaan UUD 1945. "Atas berkat rahmat Allah". Jadi bukan berlandasan Thoghut pancasila, anda lihat, Pancasila adalah tujuan dari berdirinya republik ini "Pada alenia ke IV UUD 1945. Saya Pribadi mengakui kalau pengakuan kedaulatan wilayah adalah hasil dari pencaplokan, karena tidaklah mungkin pada waktu itu Founder father kita menunggu hasil plebisit dari seluruh suku dan daerah. Melihat fakta perjuangan rakyat Indonesia sejak Tahun 1928 adalah bahu mambahu dalam mengusir penjajah secar terstruktur dan systematis , dan faham nasionalisme yang berkembang dari sabang sampai merauke, dapat kita simpulkan , apa yang dilakukan founder father adalah hal yang benar." (Muhammad Ardiansyah, Muhammad.Ardiansyah@hm.com , 17 februari 2005 04:48:06)

Baiklah saudara Ardiansyah di Jakarta, Indonesia.

Setelah membaca pandangan dan pikiran saudara Muhammad Ardiansyah yang dilambungkan di mimbar bebas ini, ada beberapa hal yang perlu di garis bawahi dan diluruskan, agar supaya mengarah kepada jalur yang benar dan mengarah kepada sumber utama timbulnya konflik di Negeri Acheh ini.

Diawali dengan saudara Ardiansyah menyatakan: "Saya Pribadi mengakui kalau pengakuan kedaulatan wilayah adalah hasil dari pencaplokan, karena tidaklah mungkin pada waktu itu Founder father kita menunggu hasil plebisit dari seluruh suku dan daerah. Melihat fakta perjuangan rakyat Indonesia sejak Tahun 1928 adalah bahu mambahu dalam mengusir penjajah secar terstruktur dan systematis , dan faham nasionalisme yang berkembang dari sabang sampai merauke, dapat kita simpulkan , apa yang dilakukan founder father adalah hal yang benar."

Dari apa yang dilontarkan saudara Ardiansyah diatas ini, menggambarkan bahwa dalam arus jalur proses pertumbuhan dan perkembangan Negara RI yang diproklamasikan oleh Soekarno dan Mohammad Hatta pada tanggal 17 Agustus 1945, ternyata memang diakui oleh saudara Ardiansyah, bahwa wilayah de-facto RI yang baru lahir itu merupakan hasil pencaplokan, dengan alasan tidak mungkin menunggu hasil plebisit. Atau dengan kata lain bahwa wilayah de-facto RI ketika diproklamasikan, itu wilayah de-facto RI hanya berdasarkan pengklaiman yang dituangkan diatas secarik kertas putih saja. Mengapa ?

Karena kalau digali lebih kedalam melalui jalur arus pertumbuhan dan perkembangan Negara RI ini dari sejak lahir sampai menjadi NKRI dan menjelma kembali menjadi RI melalui Dekrit Presiden 5 Juli 1959, memang apa yang diklaim wilayah dari Sabang sampai Merauke itu pada awalnya hanya tertulis dalam ingatan dan dalam kertas saja.

Tentang masalah kronologis proses pertumbuhan dan perkembangan Negara RI ini telah dijelaskan panjang lebar oleh Ahmad Sudirman dimimbar bebas ini. Begitu juga hubungannya dengan Negeri Acheh. Jadi, tidak perlu diulang-ulang lagi. Cukup dapat dilihat di www.dataphone.se/~ahmad/opini.htm

Nah, kalau saudara Ardiansyah telah menyadari bahwa apa yang dilakukan oleh Soekarno Cs ketika membangun RI wilayah daerah de-factonya adalah hasil dari pencaplokan wilayah diluar wilayah de-facto RI, maka sudah dapat dibayangkan dan digambarkan apa yang terjadi ketika berlangsungnya proses pertumbuhan dan perkembangan Negara RI ini.

Dengan adanya dasar pemikiran saudara Ardiansyah inilah yang justru perlu diluruskan ketika terjadi penyimpangan-penyimpangan kebijaksanaan politik, keamanan, pertahanan yang dilakukan oleh pihak Soekarno dalam menjalankan roda pemerintah RI-nya itu. Karena kalau kita dari sejak awal sudah mengetahui dan menyadari bahwa memang itu wilayah-wilayah yang sekarang menjadi wilayah RI ternyata pada awalnya merupakan hasil pencaplokan pihak RI dibawa Soekarno cs.

Kemudian, ketika terjadi proses pencaplokan itu pihak pendiri RI ini menjadikan dasar argumentasinya apa yang dicetuskan dalam Sumpa Pemudah 28 Oktober 1928, maka sudah jelas, itu dasar argumentasi yang demikian sangat lemah dilihat dari sudut hukum proses berdirinya negara RI ini. Didalam setiap Perundingan yang terjadi, tidak pernah dilibatkan dan disinggung mengani sejarah Sumpah Pemuda tanggal 28 Oktober 1928 sebagai suatu dasar hukum untuk pengklaiman wilayah de-facto RI. Mengapa ?

Karena itu landasan sumpah pemuda yang diikrarkan oleh Organisasi Pemuda dalam Kongres Pemuda II tanggal 28 Oktober 1928 di Jakarta adalah semangat, ide dan cita-cita para pemuda pada saat itu yaitu pembebasan tanah air dari penjajah melalui ide nasionalisme, percaya kepada diri sendiri, dan tidak mau kerjasama dengan pihak penjajah dengan rasa nasionalisme-radikal yang hebat sebagaimana dikumandangkan oleh Soekarno dan kawan-kawannya, seperti Tjipto Mangoenkusumo, Ishaq Tjokrohadisoerjo, Sartono, Budiardjo, Sunarjo, Anwar melalui Partai Nasional Indonesia-nya yang didirikan pada tanggal 4 Juli 1927 di Bandung. Dimana setahun kemudian, ide nasionalisme-radikal ini menjalar dan mempengaruhi Organisasi Pemuda yang dalam Kongres Pemuda II tanggal 28 Oktober 1928 di Jakarta melahirkan ikrar sumpah pemuda yang isinya: 1. Kami putra dan putri Indonesia mengaku berbangsa yang satu, bangsa Indonesia. 2. Kami putra dan putri Indonesia mengaku bertanah air satu, tanah air Indonesia. 3. Kami putra dan putri Indonesia menjunjung bahasa persatuan, bahasa Indonesia.

Nah, kalau dilihat secara sepintas, itu isi ikrar sumpah pemuda, satu bangsa, satu tanah air, satu bahasa, menunjukkan satu tali pengikat pemuda Indonesia, tetapi kalau ditelaah lebih mendalam, maka tiga faktor pengikat persatuan organisasi pemuda itu ternyata bukanlah bisa dijadikan sebagai pengikat dasar hukum dibentuknya NKRI 15 Agustus 1950, melainkan hanya sebagai manifestasi politik dari organisasi pemuda yang mempunyai ide dan semangat nasionalisme-radikal yang dipelopori oleh Soekarno, Tjipto Mangoenkusumo, Ishaq Tjokrohadisoerjo, Sartono, Budiardjo, Sunarjo, dan Anwar dengan Partai Nasional Indonesia (PNI)-nya.

Mengapa Ahmad Sudirman menyatakan dibentuknya NKRI 15 Agustus 1950 sebagai dasar pertimbangan ? Karena kalau menelusuri proses berjalannya roda Negara RI, ternyata dalam pertumbuhan dan perkembangan RI, yang dinamakan RI itu ketika menjadi Negara bagian RIS, kedaulatannya telah diserahkan kepada RIS, dan wilayah de-facto RI hanya sekitar Yogyakarta dan sekitarnya saja. Sedangkan wilayah diluar de-facto RI merupakan wilayah de-facto Negara-Negara dan Daerah-Daerah Bagian RIS.

Jadi, dengan melihat kepada adanya peleburan Negara/Daerah Bagian RIS kedalam tubuh Negara RI Negara Bagian RIS, yang menjelma dari RI menjadi NKRI pada tanggal 15 Agustus 1950 inilah yang dijadikan dasar pertimbangan bahwa ternyata ketika terjelmanya NKRI dari RI itu tidak ada dicantumkan hasil ikrar Sumpah Pemuda 28 Oktober 1928 sebagai tali pengikat Negara/Daerah Bagian RI kedalam RI dan menjelma menjadi NKRI. Justru yang ada adalah penelanan dan pencaplokan wilayah diluar de-facto RIS, seperti Negeri Acheh dan wilayah Maluku Selatan.

Nah, dengan dasar argumentasi inilah mengapa itu semangat kaum masionalis-radikal yang disponsori oleh Soekarno Cs dengan PNI-nya tidak bisa dijadikan sebagai dasar hukum untuk mengikat dan memasukkan wilayah Negeri Acheh kedalam wilayah RIS dan masuk kedalam RI dan menjelma menjadi NKRI.

Karena itu kalau saudara Ardiansyah menyandarkan Negeri Acheh itu bisa dimasukkan kedalam wilayah RI dengan alasan "fakta perjuangan rakyat Indonesia sejak Tahun 1928 adalah bahu mambahu dalam mengusir penjajah secar terstruktur dan systematis , dan faham nasionalisme yang berkembang dari sabang sampai merauke, dapat kita simpulkan , apa yang dilakukan founder father adalah hal yang benar"

Nah, justru kesimpulan saudara Ardiansyah ini sangat lemah sekali untuk dijadikan sebagai pegangan guna dijadikan sebagai tali hukum pengikat wilayah Acheh masuk kedalam wilayah RI.

Jadi selama dasar hukum tentang Negeri Acheh dimasukkan kedalam wilayah RI yang dijadikan pegangan oleh saudara Ardiansyah adalah lemah, maka selama itu pihak rakyat Acheh yang telah sadar untuk menentukan nasib sendiri bebas dari pengaruh kekuasaan Negara pancasila akan terus berjalan dan berlangsung.

Selanjutnya saudara Ardiansyah menyinggung: "Anda lihat dasar berdirinya Republik ini adalah dengan Syukur, lihat pembukaan UUD 1945. "Atas berkat rahmat Allah". Jadi bukan berlandasan Thoghut pancasila, anda lihat, Pancasila adalah tujuan dari berdirinya republik ini "Pada alenia ke IV UUD 1945."

Nah, kita gali sejak kapan itu UUD 1945 yang merupakan konstitusi Negara RI ini tumbuh dan berkembang, dan siapa yang membuat UUD 1945 ini pada awal mulanya.

Ternyata kalau digali sedikit kedalam maka akan terbuka bahwa BPUPK (Badan Penyelidik Usaha-usaha Persiapan Kemerdekaan) atau Dokuritzu Zunbi Cosakai yang terdiri dari 62 anggota dengan ketuanya Dr Rajiman Widiodiningrat dibentuk dan dilantik oleh Jenderal Hagachi Seisiroo seorang jenderal Angkatan Darat Jepang. Dimana BPUPK ini bersidang dari tanggal 28 Mei sampai dengan 1 juni 1945.Dan pada tanggal 1 juni 1945 Soekarno menyampaikan pidatonya yang berisikan konsepsi usul tentang dasar falsafah negara yang diberi nama dengan pancasila yang berisikan 1. Kebangsaan Indonesia atau Nasionalisme, 2. Perikemanusiaan atau Internasionalisme, 3. Mufakat atau Demokrasi, 4. Kesejahteraan Sosial, 5. Ketuhanan yang Maha Esa. Dimana hasil sidang ini dirumuskan oleh panitia sembilan yaitu Soekarno, Hatta, Maramis, Abikusno Cokrosuyoso, Agus Salim, Kahar Muzakkir, Wahid Hasyim, Ahmad Subardjo, Mohammad Yamin. Pada tanggal 22 juni 1945 lahirlah dari hasil rumusan ini yang oleh Mohammad Yamin disebut dengan Piagam Jakarta yang berisikan rumusan lima dasar yang asalnya diambil dari usul pidato Soekarno pada tanggal 1 Juni 1945. Dimana dalam Piagam Jakarta ini dinyatakan bahwa Ketuhanan dengan kewajiban menjalankan syariat Islam bagi pemeluknya.

Ternyata hasil rumusan Piagam Jakarta ini, dirubah sedemikian rupa, ketika BPUPK dalam sidangnya yang kedua dari tanggal 10 Juli sampai 16 Juli 1945 untuk membicarakan rancangan undang undang dasar. Kemudian rancangan undang undang dasar ini setelah mengalami perubahan-perubahan oleh PPKI (Panitia Persiapan Kemerdekaan Indonesia) yang dibentuk pada tanggal 7 Agustus 1945, disahkan dan ditetapkan menjadi UUD 1945 dengan rumusan terakhir pancasila yang tercantum dalam preambule (pembukaan) UUD 1945 pada tanggal 18 Agustus 1945. Dimana isi rincian pancasila ini tertuang dalam pembukaan UUD 1945 berbunyi "Berkedaulatan rakyat dengan berdasar kepada Ke Tuhanan Yang Maha Esa, Kemanusiaan yang adil dan beradab, Persatuan Indonesia dan Kerakyatan yang dipimpin oleh hikmah kebijaksanaan dalam permusyawaratan/perwakilan, serta dengan mewujudkan suatu keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia"

Ternyata dari apa yang dibuat oleh PPKI (Panitia Persiapan Kemerdekaan Indonesia) terlihat dengan jelas dan gamblang, dan sejarah telah mencatat, bahwa Ketuhanan, dengan kewajiban menjalankan syariat Islam bagi pemeluknya, dirubah menjadi Ketuhanan Yang maha Esa. Sampai sekarang, tidak ada seorangpun yang berusaha untuk merubahnya kembali. Bahkan terus dipertahankan, sebagaimana yang pernah dikatakan oleh Megawati ketika masih menjabat sebagai Presiden RI, bahwa hanya batang tubuh UUD 1945 yang bisa diamandemen bukan Pembukaannya.

Jadi saudara Ardiansyah, kalau Ahmad Sudirman menyatakan bahwa dasar dan sumber hukum Negara RI mengacu kepada thaghut pancasila memang ada fakta dan buktinya. Artinya, sumber hukum yang memang bukan dari apa yang diturunkan Allah SWT dan dicontohkan Rasululah saw adalah sumber hukum thaghut, termasuk pancasila.

Lihat saja, ketika panitia sembilan merumuskan itu pidato Soekarno, kemudian lahir Piagam Jakarta yang pada butir pertama pancasila itu mencantumkan Ketuhanan dengan kewajiban menjalankan syariat Islam bagi pemeluknya, ternyata itu butir hasil rumusan Panitia Sembilan disapu dan dibuang oleh PPKI diganti dengan yang rumusan lain, biar dapat ditafsirkan sesuai dengan kebutuhan, dan keinginan.

Dan jelas, itu yang dinamakan pancasila, sebagaimana isinya diuraikan dalam Pembukaan UUD 1945 adalah merupakan dasar Negara RI, bukan tujuan dari berdirinya Negara RI.

Coba perhatikan kalimat yang tertuang dalam Pembukaan UUD 1945 yang dijadikan sebagai landasan Negara RI yang berbunyi "maka disusunlah Kemerdekaan Kebangsaan Indonesia itu dalam suatu Undang-Undang Dasar Negara Indonesia, yang terbentuk dalam suatu susunan Negara Republik Indonesia yang berkedaulatan rakyat dengan berdasar kepada Ketuhanan Yang Maha Esa, Kemanusiaan yang adil dan beradab, Persatuan Indonesia dan Kerakyatan yang dipimpin oleh hikmat kebijaksanaan dalam Permusyawaratan/Perwakilan, serta dengan mewujudkan suatu Keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia."

Jadi, kalau diartikan dengan pengertian lain, maka bunyinya menjadi Negara RI dibentuk dalam susunan atau bangunan yang dibawahnya mengandung batu-batu yang tersusun dalam bangunan pancasila.

Selanjutnya, kalau saudara Ardiansyah menyatakan bahwa dengan berlandaskan kepada kalimat "Atas berkat rahmat Allah" yang tertuang dalam Pembukaan UUD 1945, maka otomatis itu dasar Negara RI bukan sumber hukum thaghut.

Jelas, itu kesimpulan yang salah total. Mengapa ? Karena ternyata kalau digali lebih dalam isi dari Pembukaan UUD 1945 tidak satu patah katapun yang mengacu kepada sumber hukum yang diturunkan Allah SWT. Kalau hanya bersandarkan kepada kalimat " Atas berkat rahmat Allah" itu tidak menjamin bahwa dasar dan sumber hukum Negara RI mengacu kepada sumber hukum yang diturunkan Allah SWT dan dicontohkan Rasul-Nya Muhammad saw.

Nah, inilah saudara Ardiansyah, mengapa Ahmad Sudirman menyatakan bahwa itu pancasila sebagai sumber hukum thaghut pancasila.

Kemudian, kalau saudara Ardiansyah melambungkan argumentasi "seluruh rakyat Indonesia meneriakan "merdeka atau mati" dengan niat tulus seluruh suku bangsa merapatkan barisan tanpa di iming-imingi pembayaran 1 juta rupiah seperti yang dilakukan ASNLF, Pejuang-pejuang kita bahu membahu mengadakan perlawanan dengan tujuan "mempertahankan kemerdekaan"

Dimana itu argumentasi yang dipakai saudara Ardiansyah adalah untuk mempertahankan wilayah Acheh merupakan wilayah bagian RI. Dengan alasan seluruh rakyat Indonesia meneriakan "merdeka atau mati" dengan niat tulus.

Apakah benar dan kuat itu argumentasi yang dinyatakan dalam kalimat seluruh rakyat Indonesia meneriakan "merdeka atau mati", kemudian wilayah Acheh bisa dengan seenak sendiri ditelan dan dicaplok oleh RI ?. Jelas, argumentasi ini sangat lemah dan tidak mempunyai dasar hukum yang kuat.

Kalau pihak Soekarno dengan RIS-nya melakukan plebisit bagi seluruh rakyat Acheh di Acheh pada waktu itu untuk menentukan apakah mau bergabung dengan RIS atau tidak, maka memang benar itu hasil plebisit bisa dijadikan sebagai dasar hukum untuk menyatakan wilayah Acheh menjadi bagian wilayah de-facto RIS, yang akhirnya menjadi wilayah de-facto RI. Kalau memang mayoritas dari rakyat Acheh telah menyatakan sikap mereka untuk mengatakan Ya bergabung kedalam RI. Tetapi, kenyataannya itu plebisit tidak dilakukan di Negeri Acheh oleh pihak Soekarno dari RIS. Dan inilah sebenarnya yang dinamakan pencaplokan Negeri Acheh oleh Soekarno dengan RIS-nya.

Selanjutnya, kalau Ahmad Sudirman menyatakan Negeri Acheh milik mbahnya Soekarno, Negeri Acheh milik RI. Dalam hal ini menunjukkan bahwa Soekarno sebagai Presiden atau pemimpin tertinggi lembaga eksekutif negara RI yang mempunyai hak, wewenang dan kewajiban sebagaimana tertuang dalam UUD 1945. Begitu juga kalau Ahmad Sudirman menyatakan RI, itu menunjukkan kepada satu Negara yang didalamnya terdiri dari berbagai provinsi yang salah satunya Acheh yang telah dicaploknya. Artinya dicaplok oleh Presiden RIS Soekarno dengan RIS-nya. Atau Presiden RIS Soekarno mencaplok Negeri Acheh dengan mempergunakan hukum yang dibuat dalam Negara RIS.

Seterusnya, kalau Ahmad Sudirman mengatakan Ardiansyah pengekor Susilo Bambang Yudhoyono dalam konflik Acheh. Disini dimaksudkan dengan adanya kebijaksanaan politik, pertahanan, keamanan di Acheh yang telah ditetapkan oleh Susilo Bambang Yudhoyono sebagai Presiden RI. Misalnya, ketika PP No.2/2004 yang ditetapkan dan disahkan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono. Kemudian Ahmad Sudirman menyatakan, itu Ardiansyah pengekor Susilo Bambang Yudhoyono dalam konflik Acheh. Artinya itu Ardiansyah dengan manut dan yesmen terhadap kebijaksaan politik, keamanan, pertahanan yang tertuang dalam PP No.2/2004 di Negeri Acheh.

Kemudian, menyinggung masalah hak. Seluruh rakyat Acheh yang terdaftar sebagai penduduk resmi di Acheh memiliki hak untuk tinggal dan hidup di Acheh, walaupun tidak memiliki tanah atau rumah sendiri. Tetapi mereka memiliki hak untuk tinggal dan hidup di Negeri Acheh, artinya diwilayah de-facto Acheh, yang sekarang oleh pihak RI dimasukkan kedalam Provinsi Acheh.

Jadi, kalau Ahmad Sudirman menyatakan bahwa penyelesaian konflik Acheh dengan cara aman dan damai tanpa melalui kekerasan senjata adalah cara yang terbaik, jujur dan adil melalui plebist bagi seluruh rakyat Acheh, artinya Seluruh rakyat Acheh yang terdaftar sebagai penduduk resmi di Acheh, walaupun sebagian ada yang tingal dan bekerja diluar Acheh. Nah, itulah yang dimaksudkan dengan hak rakyat Acheh dalam hal penentuan nasib sendiri. Sedangkan hak Ahmad Sudirman adalah salah satunya menyokong dan mendukung perjuangan rakyat Acheh yang menuntut penentuan nasib sendiri bebas dari pengaruh kekuasaan Pemerintah Negara RI. Memang Ahmad Sudirman tidak memiliki hak untuk ikut dalam plebisit di Acheh, dan tidak mempunyai hak memiliki tanah di Acheh. Tetapi Ahmad Sudirman mempunyai hak untuk membantu dan menolong serta menyokong perjuangan kemerdekaan rakyat Acheh untuk bebasnya Negeri Acheh dari cengkraman pihak RI.

Jadi, walaupun Ahmad Sudirman tidak mempunyai hak memiliki tanah di Acheh, tetapi Ahmad Sudirman mempunyai hak untuk ikut menolong dan membantu perjuangan rakyat Acheh yang telah sadar untuk menentukan nasib sendiri bebas dari pengaruh kekuasaan Pemerintah Negara Pancasila.

Selanjutnya mengenai apa yang dikemukakan oleh saudara Ardiansyah: "Anda mengaku bahwa status kewarga negaraan anda di cabut RI , Cuma ada 1 kemungkinan dicabutnya status kewarganegaraan saudara: 1.anda memiliki status kewarganegaraan ganda . Dan tidak mungkin pada saat itu hanya karena anda menulis sebuah buku maka statu kewarganegaraan anda dicabut. Jadi wajar apabila warga Acheh mengatakan "ASNLF adalah Penghianat Acheh".

Jelas, itu anggapan saudara Ardiansyah salah. Ahmad Sudirman dicabut kewarganegaraan Indonesia pada bulan September 1981, sedangkan Ahmad Sudirman mendapat kewarganegaraan Swedia pada bulan Juni 1986. Jadi, suatu hal yang tidak mungkin pada tahun 1981 Ahmad Sudirman mempunyai kewarganegaraan ganda. Dan yang benar memang Itu pihak Pemerintah RI termasuk didalamnya itu Noer Hassan Wirajuda dan Ferdy Salim yang mencabut kewarganegaraan Indonesia Ahmad Sudirman, karena memang Ahmad Sudirman menulis artikel yang berjudul "Dibawah Belenggu Rezim Penguasa" pada tahun 1981. Coba tanyakan atau telepon langsung itu kepada Menteri Luar Negeri Noer Hassan Wirajuda di Departemen Luar Negeri RI kalau memang masih kurang percaya dan masih ragu.

Saudara Ardiansyah, perjuangan rakyat Acheh adalah sudah jelas tujuannya untuk penentuan nasib sendiri bebas dari pengaruh kekuasaan Pemerintah Negara Pancasila dan pembebasan wilayah Negeri Acheh yang dicaplok Soekarno dengan RIS-nya.

Jadi, soal amnesti tidak ada hubungannya dengan tujuan perjuangan rakyat Acheh yang telah sadar untuk mementukan nasib sendiri bebas dari pengaruh kekuasaan Negara pancasila. Contoh Xanana, tidak bisa dijadikan sebagai acuan dalam perjuangan bagi rakyat Acheh yang tela sadar untuk menentukan nasib sendiri. Xanana memiliki taktik dan strategi sendiri, dan Teungku Hasan Muhammad di Tiro memiliki taktik dan strategi sendiri. Masing-masing memiliki keunikan tersendiri.

Soal masuk keluar penjara, seperti yang dilakukan Soekarno cs, itu adalah cara dan taktik Soekarno menghadapi Belanda. Teungku Hasan Muhammad di Tiro cs mempunyai taktik dan strategi sendiri. Soekarno cs berbeda dengan Teungku Hasan Muhammad di Tiro cs dalam hal taktik strategi perjuangan.

Dalam perjuangan pembebasan Negeri tidak ada istilah pengecut. Yang ada adalah bagaimana mengatur taktik dan strategi dalam usaha mencapai tujuan penentuan nasib sendiri dan pembebasan Negeri Acheh dari jajahan RI.

Sekarang saudara Ardiansyah mempersoalkan: "Kalau anda katakan Istilah Pengaruh kekuasaan negara pancasial adalah tidak benar! Dalam demokrasi pancasila, Kekuasaan tertinggi berada ditangan Rakyat. SBY - JK bukanlah penguasa, mereka adalah "pemimpin" Anda sering melambungkn kata - kata "plebisit bagi rakyat Acheh untuk menentukan nasib sendiri"

Memang yang dimaksud dengan pengaruh kekuasaan Negara pancasila artinya kekuasaan yang ada dalam lembaga kenegaraan RI. Artinya didalamnya menyangkut kekuasaan lembaga eksekutif (pemerintah), legislatif (DPR/MPR) dan yudikatif (Mahkamah Agung dan MK). Kekuasaan dalam Negara pancasila atau Negara RI inilah yang dimaksud dengan apa yang selalu Ahmad Sudirman nyatakan "pengaruh kekuasaan negara pancasila".

Kemudian menyangkut masalah plebisit itu tidak sama dengan pemilu dalam hal yang ditujukan dalam masalah penyelesaian konflik Acheh. Yang dimaksud Ahmad Sudirman dengan plebisit di Acheh bagi seluruh rakyat Acheh adalah untuk menetapkan dan memutuskan sikap rakyat Acheh terhadap Negara RI, yaitu dalam bentuk memilih dua opsi, opsi YA bebas dari RI dan opsi Tidak bebas dari RI. Inilah yang dimaksudkan dengan plebisit bagi seluruh rakyat Acheh untuk menyelesaikan konflik Acheh ini. Contohnya sebagaimana yang pernah dilakukan plebisit di Timor Timur pada tanggal 30 Agustus 1999 yang diawasi oleh PBB.

Sebenarnya adalah sangat sederhana, kalau memang pihak RI menganggap bahwa rakyat Acheh setia dan mau tetap berada dibawah payung RI, maka otomatis kalau dilakukan plebisit atau sering juga dikatakan dengan referendum, itu sebagian rakyat Acheh akan memilih tetap bergabung dengan RI. Tetapi, kenyataannya, mengapa pihak RI masih ragu dan tetap ngotot dengan pendiriannya bahwa itu wilayah Acheh adalah merupakan wilayah bagian RI, walaupun sudah diketahui bahwa sebenarnya itu wilayah Acheh dicaplok Soekarno dengan RIS-nya.

Seterusnya itu saudara Ardiansyah menyatakan: "Kalau anda punya nyali, tinjau lah mantan TNA yang ada dilembaga pemasyarakatan yang ada, malah menurut berita ada yang telah keluar dan bermasyarakat, namun enggan kembali ke aceh karena telah membangun masa depannya yang tenang, kalau anda tidak percaya , datang lah ke Indonesia."

Sebagaimana yang sudah diketahui, bahwa pencucian otak dalam LP LP itu terus berlangsung. Bentuk pencucian otak dari mulai penjejalan dengan masalah dasar negara sampai propaganda yang memburukkan perjuangan rakyat Acheh dan ASNLF-nya. Jelas itu akan membekas dalam pikiran para tahanan di LP LP.

Dan Ahmad Sudirman tidak heran, kalau pihak RI dengan cucian otaknya itu berusaha untuk mengikis habis cita-cita perjuangan rakyat Acheh dengan memakai berbagai cara. Sama dengan cara dan metode Snouck Horgronye pada masa Belanda dulu terhadap rakyat pejuang muslim Acheh.

Kalau saudara Ardiansyah menyatakan: "RI tidak merangkul rakyat aceh, yang benar adalah Rakyat aceh berdiri sama tinggi dan duduk sama rendah dengan suku - suku lain dengan semangat "Bhineka Tunggal Ika" hanya dengan buhul itulah bangsa Indonesia akan kuat."

Jelas, itu masih perlu dipertanyakan. Apakah memang benar rakyat Acheh dianggap sama. Duduk sama rendah, berdiri sama tinggi. Nah, sekarang kalau memang itu rakyat Acheh dianggap sama, coba berikan kebebasan kepada seluruh rakyat Acheh untuk menentukan sikap mereka dalam hal konflik Acheh ini, kalau memang pihak RI menganggap telah memberikan kebebasan untuk duduk sama rendah dan berdiri sama tinggi.

Mengapa Ahmad Sudirman mempertanyakan masalah tersebut ? Karena itu persoalan konflik Acheh masih tetap berlangsung sampai detik sekarang ini. Dimana pihak TNI ternyata tidak mampu menghabisi dan menyelesaikannya. Jadi, jalan terbaik adalah lakukan seperti yang pernah dilakukan di Timor Timur itu melalui Referendum atau plebisit. Sebagaimana pernah Amerika memberikan referendum kepada rakyat Hawai. Begitu juga di Canada telah diberikan kepada seluruh rakyat Quebek.

Mengapa pihak RI merasa takut kalau diadakan referendum di Acheh ? Kalau pihak kalian Ardiansyah mengetahui bahwa sebagian besar rakyat Acheh cinta dan senang bersama RI dibawah Susilo Bambang Yudhoyono.

Bagi yang ada minat untuk menanggapi silahkan tujukan atau cc kan kepada ahmad@dataphone.se agar supaya sampai kepada saya dan bagi yang ada waktu untuk membaca tulisan-tulisan saya yang telah lalu yang menyinggung tentang Khilafah Islam dan Undang Undang Madinah silahkan lihat di kumpulan artikel di HP http://www.dataphone.se/~ahmad

Hanya kepada Allah kita memohon pertolongan dan hanya kepada Allah kita memohon petunjuk, amin *.*

Wassalam.

Ahmad Sudirman

http://www.dataphone.se/~ahmad
www.ahmad-sudirman.com
ahmad@dataphone.se
----------

From: Muhammad.Ardiansyah@hm.com
Date: 17 februari 2005 04:48:06
To: <ahmad_sudirman@hotmail.com>, <padhang-mbulan@egroups.com>, <PPDI@yahoogroups.com>, <oposisi-list@yahoogroups.com>, <mimbarbebas@egroups.com>, <politikmahasiswa@yahoogroups.com>, <fundamentalis@eGroups.com>, <Lantak@yahoogroups.com>, <kuasa_rakyatmiskin@yahoogroups.com>, <acehkita@yahoogroups.com>, <achehnews@yahoogroups.com>, <communitygallery@yahoogroups.com>, asnlfnorwegia@yahoo.com
Subject: Saudara Ahmad Sudirman mencoba mengecoh fakta dengan cerita ngalor - ngidul

Assalamu'alaikum,

Terima kasih atas tanggapan balik saudara Sudirman.
Pada Dasarnya kita sesama muslim adalah bersaudara. Bersama kita mendo'akan keselamatan seluruh kaum muslim & muslimat diseluruh dunia sedikitnya pada saat kita sholat.

Anda lihat dasar berdirinya Republik ini adalah dengan Syukur, lihat pembukaan UUD 1945. "Atas berkat rahmat Allah". Jadi bukan berlandasan Thoghut pancasila, anda lihat, Pancasila adalah tujuan dari berdirinya republik ini "Pada alenia ke IV UUD 1945.

Saya Pribadi mengakui kalau pengakuan kedaulatan wilayah adalah hasil dari pencaplokan , karena tidaklah mungkin pada waktu itu Founder father kita menunggu hasil plebisit dari seluruh suku dan daerah.

Melihat fakta perjuangan rakyat Indonesia sejak Tahun 1928 adalah bahu mambahu dalam mengusir penjajah secar terstruktur dan systematis , dan faham nasionalisme yang berkembang dari sabang sampai merauke, dapat kita simpulkan , apa yang dilakukan founder father adalah hal yang benar.

Pada saat Proklamasi , seluruh rakyat Indonesia meneriakan "MERDEKA ATAU MATI" dengan niat tulus seluruh suku bangsa merapatkan barisan tanpa di iming - imingi pembayaran 1 juta rupiah seperti yang dilakukan ASNLF , Pejuang - pejuang kita bahu membahu mengadakan perlawanan dengan tujuan "mempertahankan kemerdekaan " padahal saat itu kemerdekaan barulah diucapkan dan bukan kemerdekaan yang sebenarnya karena keadaan vacum power pada saat itu.

Jadi Istilah Acheh adalah milik RI adalah tidak benar, karena RI bukanlah subyek yang bisa memiliki dalam arti Hukum Perdata . RI adalah bentuk pemerintahan yang didalamnya terbuka beragam suku Bangsa untuk tujuan bersama sesuaicita - cita kemerdekaan RI . Jadi saudara Sudirman sekali lagi salah dalam memahami arti "kepemilikan"

Presiden Bukan pemilik suatu Negara, jadi Istilah Ardiasyah mengekor SBY itu tidak benar yang benar adalah Kami sepaham dengan Pandangan Bangsa Indonesia lainnya.

Kalau dikatakan hak atau tidak berhaknya atas Acheh, Saya lebih berhak atas sebidang tanah dan bangunan di aceh, karena didalam keluarga, saya berani menerima wasiat dari kakek untuk mengurus Tanah dan Rumah beliau di Acheh, walaupun rumah tsb akhirnya dibakar oleh GAM th 1999, tapi batas - batas tanah masi jelas dan diakui, sedangkan anda saudara
Sudirman ?

Anda orang yang tidak berhak atas sejengkal tanah pun di acheh, dan anda tidak malu mau mengurus kami padahal anda mengakui bahwa anda adalah Warga negara swedia dan berhak untuk membantu suatu bangsa untuk menentukan nasib sendiri !

Anda mengaku bahwa statu kewarga negaraan anda di cabut RI , Cuma ada 1 kemungkinan dicabutnya status kewarganegaraan saudara: 1.anda memiliki status kewarganegaraan ganda .
dan tidak mungkin pada saat itu hanya karena anda menulis sebuah buku maka statu kewarganegaraan anda dicabut. Jadi wajar apabila warga Acheh mengatakan "ASNLF adalah Penghianat Acheh".

Tawaran Amnesti harusnya ana dkk ambil karena hanya dengan itulah perjuangan anda dkk bisa jelas arah tujuannya hendak kemana, Fakta membuktikan, walaupun Xanana berada di penjara cipinang tapi beliau sehat wal afiat sampai cita - cita perjuangannya tercapai.

Jadi tidak ada alasan kalau anda takut masuk lembaga pemasyarakatan di Indonesia, sampai - sampai anda harus kabur dan mengganti kewarga negaraan. itulah yang saya sebutkan sikap pengecut. Kalau anda benar, pasti anda tidak takut mati, karena mati adalah hal yang di rindukan oleh mujahid - mujahid Islam. Mengapa anda sampai lari terkentut - kentut kenegara orang & mengorbankan kehidupan kekerabatan saudara ?

Kalau anda katakan Istilah Pengaruh kekuasaan negara pancasial adalah tidak benar!
Dalam demokrasi pancasila, Kekuasaan tertinggi berada ditangan Rakyat. SBY - JK bukanlah penguasa, mereka adalah "pemimpin" Anda sering melambungkn kata - kata "plebisit bagi rakyat Acheh untuk menentukan nasib sendiri"

Anda lupa pada system Pemilu, disanalah saatnya rakyat menentukan nasib sendiri , bukan hanya rakyat Acheh, tapi seluruh rakyat Indonesia berhak menentukan nasib sendiri. Apalagi dengan adanua UU No 32 th 2004 tentang Otonomi daerah, anda bisa lihat keharmonisan hubungan Demokrasi yang semaki hidup di Nusantara. Sekarang , apa lagi yang hendak anda sanggah ?

Masihkah anda berteriak hingga keluar urat leher saudara untuk plebisit untuk rakyat Acheh ?

Sekali lagi bukan hanya Rakyat Acheh yang sadar untuk menentukan Naibnya sendiri, tetapi seluruh rakyat Indonesia telah sadar untuk menentukan Nasib sendiri "Bahwa Kemerdekaan itu ialah hak segala bangsa , dan oleh karena itu penjajahan diatas Dunia harus dihapuskan karena tidak sesuai dengan pri kemanusiaan dan pri keadilan"

Kalau anda punya nyali, tinjau lah mantan TNA yang ada dilembaga pemasyarakatan yang ada, malah menurut berita ada yang telah keluar dan bermasyarakat, namun enggan kembali ke aceh karena telah membangun masa depannya yang tenang, kalau anda tidak percaya , datang lah ke Indonesia.

Jadi jangan hanya Uang bulanan anda habis untuk iuran perjuangan Rakyat acheh, sedangkan disini yang ada adalah perampok yang anda persenjatai untuk membunuh saudara anda sendiri.

Yang perlu anda Camkan lagi adalah, RI tidak merangkul rakyat aceh, yang benar adalah Rakyat aceh berdiri sama tinggi dan duduk sama rendah dengan suku - suku lain dengan semangat "Bhineka Tunggal Ika" hanya dengan buhul itulah bangsa Indonesia akan kuat.

Istilah Jawa hanyalah menghianati Proklamasi! karena pada saat Proklamasi bukan disebutkan "Kami Bangsa Jawa ! JADI ANDA BISA SADAR,SIAPA YANG DIJAJAH DAN SIAPA YANG TERJAJAH ? JAWABANNYA " TIDAK ADA PENJAJAHAN SAUDARAKU.

Adalah hal yang bijak kalau anda saudara Sudirman dkk kembali Ke Indonesia, kalau mau berkunjung, silahkan kerumah saya, karena sesama Muslim kita adalah saudara.

Ingat Firman Allah : Bismillah hirrahman nirrahiim..."Sekiranya kamu bersikap keras lagi kasar , tentulah mereka menjauh dari sekeliling mu ( Qs Al Imran (3):159 ) dan beberapa hadist Rasulullah saw: Dari ibnu Abbas ra : Rasulullah bersabda 'Tidak ada Hijrah setelah penaklukan Mekkah , tetapi tinggal Jihad dan niat : -Rasulullah saw Hijrah ke Madinah , saat itu di Mekkah tidak ada kebebasan dalam beragama .setelah itu tidak ada perang penaklukan
kenegara lain, walaupun pada saat itu kekuatan Ummat Islam mampumelakukannya.

dari Ibnu Mas'ud berkata : Bersabda rasulullah saw :"Memaki Muslim satu kedurhakaan dan memerangi itu kekufuran" Jadi berhentilah memaki di mimbar bebas ini.

Ardiansyah dkk adalah muslim, jadi tidak benar dikatakan musuh rakyat acheh, bahkan Ardiansyah sekarang punya kekasih wanita dari warga Acheh (lahir & keturunan asli suku Acheh), kakek, Teman juga warga aceh. Dimana letak permusuhan yang saudara Ahmad Sudirman utarakan ? Dan sekarang Kami pun masih menganggap Anda ASNLF dkk adalah saudara, karena kita seAgama, satu Nabi dan saling mendo'akan . Lalu permusuhannya dimana, saudaraku ? Beda pemahaman adalah wajar, karena disalah satu pihak ada yang khilaf . Buka mata hati saudara untuk menyikapi persaudaraan sesama Muslim. Teriakan Perdamaian . Kelak Bumi Serambi Mekkah akan Jaya sepeti Abad 16 "dan masih dalam konteks pesan Alm Teungku Muhammad Daud Beureueh," KEMBALIKAN ALQUR'AN KE ACEH " hargailah pesan beliau.

Salam kepada Ayanda Hasan Tiro.

Hanya kepada Allah kita memohon pertolongan dan hanya kepada Allah kita memohon petunjuk, amin *.*

Wassalam

Muhammad Ardiansyah

Muhammad.Ardiansyah@hm.com
Jakarta, Indonesia
----------