Stockholm, 19 Februari 2005

Bismillaahirrahmaanirrahiim.
Assalamu'alaikum wr wbr.
 

DHARMINTA TERUS SAJA MELAMBUNGKAN ALASAN GOMBAL YANG TIDAK DITUNJANG STATUS LEGAL ACHEH
Ahmad Sudirman
Stockholm - SWEDIA.

 

BAGAIMANA BISA ITU MATIUS DHARMINTA BERHASIL MEMPERTAHANKAN NEGERI ACHEH YANG DIJAJAH RIS KALAU IA HANYA MELAMBUNGKAN ALASAN GOMBAL YANG TIDAK DITUNJANG STATUS LEGAL ACHEH

"Benci karena rasa iri, sedang iri tanpa dapat menyamai/kemampuan tuk bisa menyamai berakibat sakit hati. Begitulah setidaknya seseorang kalau udah dilanda rasa benci dan iri, apapun yang didengar / dilihatnya merupakan sesuatu yang tidak ia kehendaki, karena semua itu hanya akan menambah rasa sakit hati. Itu bisa dilihat dari perkataanya yang penuh kebencian dan keirian, umpatan dan sumpah srapah. Tapi tak apa, bertolak dari semua itu masih ada yang lebih tahu mana yang benar dan mana yang tidak, yakni "Allah" yang maha tahu. Becik ketitik olo ketoro, suro duro jayaningrat lebur dining pangastuti." (Matius Dharminta, mr_dharminta@yahoo.com ,Fri, 18 Feb 2005 21:59:53 -0800 (PST))

Baiklah Dharminta di Surabaya, Indonesia.

Dharminta itu yang dilambungkan oleh saudara Muhammad Al Qubra dalam tulisannya "SBY Presiden teroris Indonesia lantik TNI sebagai pembunuh" pada hari Jumat, 18 Februari 2005, bukan karena didasari oleh adanya "Rasa benci dan iri. Benci karena rasa iri, sedang iri tanpa dapat menyamai/kemampuan tuk bisa menyamai", seperti yang kalian Dharminta lambungkan.

Itu kalau ada dari pihak orang yang negerinya dijajah oleh RI, dimana sampai detik ini itu pihak Legislatif dan Eksekutif RI dan TNI-nya terus melakukan pembunuhan terhadap rakyat Acheh yang telah sadar untuk menentukan nasib sendiri bebas dari pengaruh kekuasaan Negara pancasila bisa timbul. Jelas, akan timbul penentangan yang sangat hebat terhadap pihak Susilo Bambang Yudhoyono dan mesin pembunuh TNI-nya.

Jadi, kalau kalian Dharminta memahami, kalau ada sikap yang demikian tajam dari pihak rakyat Acheh yang dijajah RI, maka adalah masuk akal kalau timbul pernyataan-pernyataan seperti yang dlambungkan oleh saudara Muhammad Al Qubra dari Norwegia itu.

Sikap tegas, tegar, pantang mundur yang ditampilkan oleh rakyat Acheh yang telah sadar untuk menentukan nasib sendiri itu, bukan merupakan sikap cengeng dan emosianal, model-model orang Jawa seperti kalian Dharminta. Baru saja disebut nama sukunya sudah seperti cacing kepanasan.

Persis seperti kalian Dharminta. Ketika itu Susilo Bambang Yudhoyono yang menjajah Acheh ada yang mengkritik, seperti yang dilambungkan oleh saudara Al Qubra, langsung saja kalian Dharminta melambungkan salto yang dasarnya hanya emosional yang diformulasikan dalam bentuk kalimat "Benci karena rasa iri, sedang iri tanpa dapat menyamai/kemampuan tuk bisa menyamai berakibat sakit hati".

Nah dari cara Dharminta memberikan tanggapan disini, adalah itu memang tipis orang Jawa yang merasa dirinya hebat, sehingga kalau ada orang lain yang melakukan kritik karena perilaku jahatnya di Acheh, dianggap sebagai sikap benci dan iri.

Inilah, kemampuan orang model Dharminta dan kawan-kawannya di Jawa ini, dalam hal memberikan tanggapan dan sanggahan untuk terus mencengkram agar Negeri Acheh tetap berada dalam genggaman para penerus Soekarno yang dari Jawa itu.

Jadi, kalau itu Susilo Bambang Yudhoyono melantik para pembantunya sebagai alat mesin pembunuh di Negeri Acheh, seperti melantik Letnan Jenderal TNI Djoko Santoso menduduki jabatan Kepala Staf TNI Angkatan Darat, Laksamana Madya Slamet Subiyanto menduduki jabatan Kepala Staf TNI Angkatan Laut, dan Marsekal Madya Joko Suyanto menduduki jabatan Kepala Staf TNI Angkatan Udara, adalah suatu fakta dan bukti serta sejarah dan dasar hukum bagaimana itu Susilo Bambang Yudhoyono beserta TNI-nya untuk terus menduduki dan menjajah Negeri Acheh dan agar kelangsungan untuk menguasai dan memerintah rakyat dan Negeri Acheh terus berkesinambungan.

Nah, kalau kalian Dharminta, memahami dari sudut pandang ini, maka akan mudah untuk mengerti mengapa timbul kritik dan sorotan tajam terhadap pihak Susilo Bambang Yudhoyono dengan para Perwira tinggi TNI-nya.

Kalau kalian hanya mampu memberikan alasan dan tanggapan bahwa untuk menyelesaikan Acheh adalah satu-satunya harus dimakan itu kueh apam busuk UU No.18/2001, maka itu bukan suatu alasan yang kuat dan benar. Mengapa ? Karena itu alasan hanya dibuat dan ditentukan dari sebelah pihak saja.

Padahal kalau kalian Dharminta tidak terus-terusan mempertahankan kebijaksanaan politik, pertahanan dan keamanan sebagaimana yang telah dijalankan oleh mbah kalian Soekarno dari Jawa itu, maka penyelesaian konflik Acheh akan mudah diselesaikan.

Persoalananya, kalian Dharminta sampai detik ini, masih tetap ngotot dengan pegangan gombal dan berkaratnya itu UU No.18/2001 yang kalian jadikan dasar pegangan dengan sebutan otonomi khusus bagi Acheh.

Coba saja pikirkan, apapula mau disebut otonomi khusus, sedangkan itu Negeri Acheh asalnya dicaplok Soekarno dengan RIS-nya.

Itu sama saja dengan seorang perampok yang merampok barang dari seseorang, kemudian diakui barang rampokannya sebagai barang miliknya dengan melalui pembuatan surat milik dan ganti nama yang dibuatnya sendiri dengan para kompanyonnya. Kan gombal cara itu. Persis itu caranya Soekarno dengan RIS-nya yang mencaplok Negeri Acheh, kemudian dibuatlah PP RIS No.21/1950 dan PERPPU No.5/1950, maka jadilah itu Negeri Acheh menjadi wilayah bagian Negara RIS yang dilebur jadi RI dan menjelma menjadi NKRI. Kan gombal alias kosong itu perbuatan dan kebijaksanaan politik, pertahanan, keamanan di Acheh yang telah dilambungkan Soekarno itu, yang mbah kalian itu Dharminta.

Jadi Dharminta, selama kalian itu budek dan picik dalam hal memberikan tanggapan dan sanggahan dimimbar bebas ini, maka selama itu kalian Dharminta mana sanggup untuk terus menerus mempertahankan Negeri Acheh tetap berada dalam sangkar RI, Dharminta budek.

Kalau mau menanggapi coba gali itu semua fakta, bukti, dasar hukum dan sejarah, seperti yang dilakukan oleh Pemerintah Kerajaan Malaysia ketika memperjuangkan Pulau Sipadan dan Pulau Ligitan. Dengan teori yang diubrak abrik dari buntelan sejarah dan dasar hukum yang mereka miliki yang mereka namakan dengan teori Chain of Title, yaitu teori yang menyatakan Pulau Sipadan dan Pulau Ligitan yang merupakan mata rantai kepemilikan menurut alur Sultan Sulu - Spanyol - AS - Inggris - Malaysia. Dimana masing-masing Negara memiliki hak kedaulatan atas Pulau Sipadan dan Pulau Ligitan. Dasar fakta, bukti dan hukum serta sejarah yang dijadikan alasan pihak Malaysia dengan teori Chain of Title itu adalah dokumen peta War Department kepunyaan Amerika dan Dokumen The 1907 Exchange of Note antara AS dengan Inggris yang berisi pengakuan Inggris terhadap kedaulatan AS atas pulau-pulau yang terletak di luar 9 mil dari garis pantai, sebagai batas wilayah teritorial. Dimana pulau-pulau yang terletak di luar batas 9 mil adalah berada di bawah administrasi Inggris, termasuk Pulau Sipadan dan Pulau Ligitan. Dalam Konvensi 1930 yang mendahului The 1930 Anglo-United States Convention antara Inggris-Amerika dinyatakan bahwa Amerika menyerahkan Pulau Sipadan dan Pulau Ligitan kepada Inggris, yang selanjutnya Inggris menyerahkan kepada Malaysia.

Nah, coba perhatikan, itu teori Chain of Title isinya penuh dengan fakta, bukti, sejarah dan dasar hukum.

Sekarang, kalau kalian Dharminta budek dan hanya mengandalkan kepada alasan gombal kalian "itu sejarah sudah usang, itu sejarah sudah basi, itu sejarah sudah lapuk.". Jelas, bagaimana bisa kalian Dharminta mempertahankan terus Negeri Acheh yang dijajah RI.

Malaysia jelas, itu Inggris yang menyerahkan Pulau Sipadan dan Pulau Ligitan, bukan dicaploknya, seperti Soekarno dengan RIS-nya mencaplok Negeri Acheh. Belanda dalam KMB tidak menyerahkan Negeri Acheh kepada pihak RI, tidak juga kepada pihak RIS. Jadi, itu memang Soekarno secara terang-terangan mencaplok Negeri Acheh.

Nah, itulah Dharminta, kalau kalian hanya pandai memberikan tanggapan gombal dimimbar bebas ini, maka sampai kapanpun kalian itu tidak akan mampu mempertahankan itu Negeri Acheh terus berada dalam dekapan selimut Negara RI ini.

Bagi yang ada minat untuk menanggapi silahkan tujukan atau cc kan kepada ahmad@dataphone.se agar supaya sampai kepada saya dan bagi yang ada waktu untuk membaca tulisan-tulisan saya yang telah lalu yang menyinggung tentang Khilafah Islam dan Undang Undang Madinah silahkan lihat di kumpulan artikel di HP http://www.dataphone.se/~ahmad

Hanya kepada Allah kita memohon pertolongan dan hanya kepada Allah kita memohon petunjuk, amin *.*

Wassalam.

Ahmad Sudirman

http://www.dataphone.se/~ahmad
www.ahmad-sudirman.com
ahmad@dataphone.se
---------

Date: Fri, 18 Feb 2005 21:59:53 -0800 (PST)
From: matius dharminta mr_dharminta@yahoo.com
Subject: SBY PRESIDEN TERORIS INDONESIA LANTIK TNI SEBAGAI PEMBUNUH
To: Ahmad Sudirman <ahmad@dataphone.se>, tang_ce@yahoo.com, om_puteh@hotmail.com, afdalgama@hotmail.com, agus_smur@yahoo.com, alexandra_raihan@yahoo.com.sg, fadlontripa@yahoo.com, info@atjehtimes.com, trieng@netzero.net, musrial_m@yahoo.com, ndin_armadaputra2002@yahoo.com, universityofwarwick@yahoo.co.uk, lampohawe@yahoo.com, warzain@yahoo.com, yusrahabib21@hotmail.com,media_kutaraja@yahoo.com, aditjond@psychology.newcastle.edu.au

Benci karena rasa iri, sedang iri tanpa dapat menyamai/kemampuan tuk bisa menyamai berakibat sakit hati.

Begitulah setidaknya seseorang kalau udah dilanda rasa benci dan iri, apapun yang didengar / dilihatnya merupakan sesuatu yang tidak ia kehendaki, karena semua itu hanya akan menambah rasa sakit hati. Itu bisa dilihat dari perkataanya yang penuh kebencian dan keirian, umpatan dan sumpah srapah. Tapi tak apa, bertolak dari semua itu masih ada yang lebih tahu mana yang benar dan mana yang tidak, yakni "Allah" yang maha tahu.

Becik ketitik olo ketoro, suro duro jayaningrat lebur dining pangastuti.

Matius Dharminta

mr_dharminta@yahoo.com
Surabaya, Indonesia
----------