Stockholm, 20 Februari 2005

Bismillaahirrahmaanirrahiim.
Assalamu'alaikum wr wbr.
 

NUR ABDURRAHMAN, ITU LASKAR JIHAD, MMI, MUJAHIDIN DII/TII SUL-SEL DI AMBON DIJADIKAN ALAT OLEH TNI
Ahmad Sudirman
Stockholm - SWEDIA.

 

NUR ABDURRAHMAN, ITU ITU LASKAR JIHAD, MMI, MUJAHIDIN DII/TII SUL-SEL DI AMBON DIJADIKAN ALAT OLEH ABDURRAHMAN WAHID DAN TNI

"Apa memang benar press release yang dikeluarkan oleh Bakhtiar Abdullah itu demikan bunyinya? Apakah itu memang pendapat resmi ASNLF? Bahwa ASNLF menganggap para mujahidin yang lillah dan ikhlas dijalan Allah sebagai kaum teroris? Kami sebagai "sisa-sisa" Mujahidin DII/TII Sul-Sel Abd Qahhar Mudzakkar yang berjihad ke Ambon berama-sama dengan Lasykar Jihad, Majlis Mujahidin Indonesia sangat tersinggung difitnah sebagai terrorist oleh ASNLF. Kalau tidak dengan segera Lasykar Jihad, Majlis Mujahidin Indonesia dan "sisa-sisa" Mujahidin DII?TII Sul-Sel Abd Qahhar Mudzakkar pergi berjihad di Ambon dan Maluku Utara, dan juga Poso, maka habislah ummat Islam di Ambon dan Maluku Utara. Lasykar Jihad, Majlis Mujahidin Indonesia dan "sisa-sisa" Mujahidin DII?TII Sul-Sel Abd Qahhar Mudzakkar di samping menghadapi kuffar RMS, juga menghadapi sekaligus TNI dari Batalyon Gabungan TNI. Ahmad Sudirman segera jawab menyampaikan sikap." (H. M. Nur Abdurrahman, nur-abdurrahman@telkom.net , 19 februari 2005 14:55:58)

Baiklah saudara M. Nur Abdurrahman di Jakarta, Indonesia.

Sebenarnya tanggapan untuk masalah ini telah Ahmad Sudirman sampaikan kepada saudara Ahmad Mattulesy, kemaren, Sabtu, 19 Februari 2005, dan juga disampaikan kepada seluruh peserta mimbar bebas ini.

Memang benar isi yang ada dalam Press Release Tentang Front Pembela Islam dan Majelis Mujahidin Indonesia di Acheh, yang dikeluarkan di Stockholm, Swedia, 9 Januari 2005 oleh Juru Penerangan ASNLF Bakhtiar Abdullah.

Saudara Bakhtiar melihat dari sudut kacamata Negara Acheh dalam pengasingan di Swedia atas apa yang dilakukan oleh laskar-laskar FPI dan MMI di Banda Acheh yang membuat suasana menjadi keruh terutama setelah saudara Salman al-Farisi mengeluarkan penyataannya tentang tsunami, rakyat Acheh dan syariat Islam, yang menimbulkan suasana menjadi panas. Ditambah perilaku laskar FPI yang menunjukkan sikap yang kurang fleksibel terhadap para relawan militer dan sipil dari negara asing yang ada di Banda Acheh.

Begitu juga atas kejadian di Maluku Selatan, dimana Ahmad Sudirman pernah menyatakan bahwa masalah konflik Maluku Selatan adalah masalah yang telah berakar lebih dari setengah abad yang lalu, ketika Soekarno dengan RIS-nya menelan Republik Maluku Selatan yang telah diproklamasikan pada tanggal 25 April 1950 dari Negara Indonesia Timur Negara Bagian RIS oleh Soumokil di Ambon.

Kemudian pada bulan April 2000 muncul apa yang disebut Laskar Jihad, satu tahun setelah pergolakan di Maluku Selatan timbul. Dimana Laskar Jihad ini dibentuk oleh forum komunikasi Ahlussunah wal Jamaah yang dipengaruhi oleh paham Wahhabi atau Salafi dari Saudi Arabia dibawah panglima perangnya Ustadz Jaffar Umar Thalib yang telah mendeklarkan bahwa target utama Laskar Jihad di Ambon adalah untuk mengembalikan wibawa umat Islam Indonesia di hadapan dunia internasional, guna mendorong terbentuknya pemerintah yang berwibawa. Sekarang ini kita melihat kenyataan, pemerintah kita adalah pengemis internasional. Mereka minta bantuan kepada lembaga-lembaga internasional sampai pada tingkat tidak ada harga diri. Karena itu kita membuat laskar jihad dengan upaya untuk menaikan wibawa umat Islam. Ini sekaligus sebagai reaksi terhadap ketidakmampuan pemerintah untuk mengangkat harkat dan martabat bangsa ini. Dengan tujuan untuk berperang melawan kelompok separatis RMS yang ingin memisahkan diri dari RI (dan) kelompok Gereja Protestan Maluku (GPM) yang ingin mendirikan Negara Kristen Indonesia Timur yang meliputi 3 wilayah: Irian, Maluku dan Sulawesi Utara. Kita akan berperang melawan mereka. ( http://www.dataphone.se/~ahmad/000416.htm )

Nah disinilah memang kelihatan bahwa Laskar Jihad telah secara tidak langsung dijadikan alat oleh pihak Presiden Abdurahman Wahid dan TNI-nya, yang tidak disadari oleh pihak Jaffar Umar Thalib, bahwa dengan mereka terjun ke Ambon, telah mengakibatkan api perang makin membara, dan pihak Abdurrahman Wahid dan TNI-nya waktu itu diselamatkan dari tuduhan tindakan biadab pelanggaran Hak hak Azasi Manusia rakyat Maluku Selatan.

Jadi dengan Jaffar Umar Thalib mendeklarkan bahwa tujuan utama Laskar Jihad untuk berperang melawan kelompok separatis RMS yang ingin memisahkan diri dari RI (dan) kelompok Gereja Protestan Maluku (GPM) yang ingin mendirikan Negara Kristen Indonesia Timur, inilah yang menjadi salah satu penyebab menjalarnya api permusuhan yang makin dalam di wilayah Maluku Selatan ini.

Ketika Jaffar Umar Thalib mendeklarkan perang tersebut, maka pada saat itu juga Ahmad Sudirman melambungkan jawaban kepada pihak Laskar Jihad bahwa "Apabila kita gali lebih dalam tujuan Laskar Jihad tersebut, maka kita sampai kepada satu titik yaitu titik yang mengandung deklarasi perang melawan RMS dan GPM dalam rangka mempertahankan Negara Republik Indonesia yang berdasarkan pancasila dan berkonstitusi UUD 1945 yang sekular, bukan mempertahankan Daulah Islam Rasulullah yang berdasarkan Aqidah Islam dengan menghormati agama lain dan berkonstitusi yang bersumberkan dari Al Quran dan Sunnah, yang tidak mengenal nasionalitas, kebangsaan, kesukuan dan ras dengan tujuan untuk beribadah, bertaqwa dan mengharap ridha Allah SWT. Sebenarnya kalau mau berpikir dengan waras, bukan Laskar Jihad yang harus menghadapi RMS dan GPM, melainkan ABRI. Karena tugas dan kewajiban ABRI-lah untuk mempertahankan Negara Pancasila dari gangguan dan ancaman bersenjata yang membahayakan NKRI. Dan jelas yang harus mendeklarkan perang melawan RMS dan GPM adalah Gus Dur sebagai Presiden RI setelah mendapat persetujuan lembaga DPR/MPR, bukan panglima perang Laskar Jihad." ( http://www.dataphone.se/~ahmad/000416.htm )

Jelas, disini kelihatan bahwa itu Laskar Jihad dibawah Jaffar Umar Thalib telah dijadikan alat dan ujung senjata oleh pihak TNI untuk menghancurkan pihak pergerakan Republik Maluku Selatan yang wilayahnya telah dicaplok oleh Soekarno dengan RIS-nya.

Seterusnya untuk meredam dan menghancurkan pergolakan di Maluku Selatan ini, Abdurrahman Wahid telah mengeluarkan Keputusan Presiden No. 88/2000 yang berisikan penetapan keadaan darurat sipil, di Propinsi Maluku dan Maluku Utara yang berlaku mulai pukul 00:00 WBTI, Selasa 27 Juni 2000 dengan tujuan untuk mengamankan dan menyelesaikan konflik berdarah di daerah Propinsi Maluku dan Maluku Utara.

Jadi sebenarnya, Laskar Jihad, Mujahidin DII/TII Sulawesi Selatan Abd Qahhar Mudzakkar, Majlis Mujahidin Indonesia yang ikut terlibat dalam pertumpahan di Ambon itu telah dijadikan alat dan ujung tombak oleh pihak Abdurrahman Wahid dengan TNI-nya untuk bersama-sama menghancurkan gerakan Kemerdekaan dari Republik Maluku Selatan yang daerah atau wilayahnya telah ditelan dan dicaplok oleh Soekarno memakai jaring-jaring Negara Republik Indonesia Serikat.

Tetapi, Laskar Jihad ini usianya tidak lama, karena setelah Dewan Pembina Forum Komunikasi Ahlus Sunnah wal Jamaah mengadakan serangkaian pertemuan sejak tanggal 24-26 Rajab 1423 H / 30 September 2002 - 2 Oktober 2002 M di Yogjakarta yang dihadiri oleh Dewan Pembina Forum Komunikasi Ahlus Sunnah wal Jamaah dari seluruh Indonesia. Dan kemudian disusul dengan pertemuan Tim Khusus Dewan Pembina Forum Komunikasi Ahlus Sunnah wal Jamaah sejak tanggal 27 - 29 Rajab 1423 H / 3 Oktober 2002 - 5 Oktober 2002 M di Jogjakarta, memutuskan untuk membubarkan Forum Komunikasi Ahlus Sunnah wal Jamaah dengan Laskar Jihad-nya.

Jadi sebenarnya, sebagaimana Ahmad Sudirman katakan bahwa terlibatnya Laskar Jihad dan lainnya itu di Ambon bukan karena pertentangan umat beragama atau pertentangan antara Islam vs Kristen, melainkan karena adanya usaha dari pihak RI untuk tetap terus menduduki dan menjajah wilayah Maluku Selatan. Dan Laskar Jihad, MMI, dan Mujahidin DII/TII Sulawesi Selatan Abd Qahhar Mudzakkar telah dijadikan ujung tombak oleh Abdurrahman Wahid dengan TNI-nya untuk menghancurkan pergerakan pembebasan Negara Republik Maluku Selatan yang diproklamasikan pada tanggal 25 April 1950 dari Negara Indonesia Timur.

Nah, dari sudut inilah, itu saudara Bakhtiar Abdullah dengan kacamata Negara Acheh dalam Pengasingan di Swedia melihat permasalahan di Ambon dan kemudian melambungkan pernyataannya yang menyangkut Laskar Jihad, MMI dan juga FPI dan keterlibatannya di Ambon, Maluku Selatan itu yang dihubungkan dengan tindakan teroris.

Bagi yang ada minat untuk menanggapi silahkan tujukan atau cc kan kepada ahmad@dataphone.se agar supaya sampai kepada saya dan bagi yang ada waktu untuk membaca tulisan-tulisan saya yang telah lalu yang menyinggung tentang Khilafah Islam dan Undang Undang Madinah silahkan lihat di kumpulan artikel di HP http://www.dataphone.se/~ahmad

Hanya kepada Allah kita memohon pertolongan dan hanya kepada Allah kita memohon petunjuk, amin *.*

Wassalam.

Ahmad Sudirman

http://www.dataphone.se/~ahmad
www.ahmad-sudirman.com
ahmad@dataphone.se
---------

From: H. M. Nur Abdurrahman nur-abdurrahman@telkom.net
Date: 19 februari 2005 14:55:58
To: "Ahmad Sudirman" ahmad_sudirman@hotmail.com
CC: "ahmad mattulesy" ahmad_mattulesy@yahoo.com
Subject: Fw: ASNLF/GAM ADALAH GEROMBOLAN MUSLIM MUNAFIQ

Apa memang benar press release yang dikeluarkan oleh Bakhtiar Abdullah itu demikan bunyinya? Apakah itu memang pendapat resmi ASNLF? Bahwa ASNLF menganggap para mujahidin yang lillah dan ikhlas dijalan Allah sebagai kaum teroris? Kami sebagai "sisa-sisa" Mujahidin DII?TII Sul-Sel Abd Qahhar Mudzakkar yang berjihad ke Ambon berama-sama dengan Lasykar Jihad, Majlis Mujahidin Indonesia sangat tersinggung difitnah sebagai terrorist oleh ASNLF.

Kalau tidak dengan segera Lasykar Jihad, Majlis Mujahidin Indonesia dan "sisa-sisa" Mujahidin DII?TII Sul-Sel Abd Qahhar Mudzakkar pergi berjihad di Ambon dan Maluku Utara, dan juga Poso, maka habislah ummat Islam di Ambon dan Maluku Utara. Lasykar Jihad, Majlis Mujahidin Indonesia dan "sisa-sisa" Mujahidin DII?TII Sul-Sel Abd Qahhar Mudzakkar di samping menghadapi kuffar RMS, juga menghadapi sekaligus TNI dari Batalyon Gabungan TNI.

Ahmad Sudirman segera jawab menyampaikan sikap. Ini ana sampaikan Dewan Pimpinan Pusat Forum Komunikasi Ahlus Sunnah Wal Jamaah sebagai institusi yang mewadahi Pernyataan Pers Laskar Jihad

H. M. Nur Abdurrahman

nur-abdurrahman@telkom.net
Jakarta, Indonesia
----------

Bismillahirrahmanirrahim
Pernyataan Pers

Sweeping Yon Gab di Poliklinik Laskar Jihad
Berdasarkan Hasil Investigasi di Tempat Kejadian Perkara di Ambon

Berkenaan dengan peristiwa pembantaian Batalyon Gabungan (Yon Gab) terhadap masyarakat sipil di Ambon, Kamis, 14 Juni 2001, maka Dewan Pimpinan Pusat Forum Komunikasi Ahlus Sunnah Wal Jamaah sebagai institusi yang mewadahi Laskar Jihad Ahlus Sunnah Wal Jamaah, dengan ini perlu menyampaikan klarifikasi (berdasarkan hasil investigasi Ayip Syafruddin, M. Rahman Marasabesy, SH dan M. Taufik, SH (keduanya anggota Tim Pengacara Muslim) tanggal 16-19 Juni 2001 di Ambon atas beberapa berita yang dilansir oleh media cetak dan elektronik:

1. Peristiwa pembantaian itu sendiri bermula dari sikap arogansi pihak Batalyon Gabungan terhadap masyarakat sipil tak bersenjata yang tengah berupaya menjaga barikade di tengah jalan agar tidak dibuka oleh pihak Batalyon Gabungan. Sikap masyarakat yang begitu keras membangun barikade untuk menutup jalan masuk tersebut dilandasi oleh sikap masyarakat Islam, bahwa setiap Batalyon Gabungan melakukan sweeping di wilayah komunitas muslimin selalu berbuntut insiden. Peristiwa Batu Merah Berdarah, 19-22 Januari 2001 adalah peristiwa tragis yang selalu menimbulkan trauma mendalam bagi masyarakat sipil di Ambon. Maka, tatkala berita sweeping berkembang di masyarakat muslimin, secara serta merta masyarakat membuat blokade agar pihak batalyon gabungan tidak bisa masuk. Tatkala batalyon gabungan tersebut memasuki wilayah Tanah Rata, Desa Batu Merah, Kecamatan Sirimau, Kodya Ambon, Kamis siang (14/6) terjadilah apa yang disebut sebagai Insiden Tanah Rata. Saat itu masyarakat mencoba menghalangi laju enam buah truk Batalyon Gabungan yang melintasi Tanah Rata untuk masuk ke perkampungan Kebun Cengkeh. Namun dalam upaya tersebut (yaitu agar masyarakat tidak menghalang-halangi penyingkiran barikade oleh beberapa anggota Batalyon Gabungan tersebut), tiba-tiba batalyon gabungan langsung menembaki penduduk. Para warga pun berhamburan menyelamatkan diri. Naasnya ada dua orang (Abu Muadz dan Arifin, salah seorang dari keduanya masih hidup dan menjadi saksi) yang sempat tertangkap, dipukuli dengan kopel dan popor senjata. Kedua warga sipil ini selanjutnya diangkut dengan truk menuju Kebun Cengkeh. Peristiwa penembakan secara membabibuta ini bisa dilihat bukti-buktinya melalui bekas tembakan yang mengenai gedung Pengadilan Tinggi Agama (PTA). Jadi tidak benar apa yang diungkapkan oleh Menkopolsoskam, Agun Gumelar, yang mengatakan bahwa yang mengawali penembakan adalah masyarakat. Tidak benar pula batalyon gabungan ditembaki oleh warga masyarakat. Yang terbukti di tempat kejadian perkara adalah perilaku brutal dari batalyon gabungan. Insiden Tanah Rata inilah yang memicu masyarakat semakin tidak menyukai Batalyon Gabungan. Apalagi setelah diketahui ada dua warga yang diangkut paksa oleh Batalyon Gabungan. Insiden Tanah Rata adalah pemicu masyarakat untuk bersikap agresif terhadap batalyon gabungan. Sekali lagi, tidak benar apa yang diucapkan oleh Agum Gumelar sebagaimana dilansir beberapa media.

2. Tidak benar pula bahwa pembantaian warga sipil itu didahului oleh pertempuran antara Laskar Jihad dengan Yon 408/Diponegoro sehari sebelumnya (Koran Tempo, Jumat, 22 Juni 2001). Berita semacam ini adalah merupakan penyesatan opini yang tidak bertanggung jawab dan jauh dari kebenaran fakta di lapangan. Laskar Jihad Ahlus Sunnah Wal Jamaah tidak melakukan penyerangan atau pertempuran dengan siapa pun sehari sebelum peristiwa biadab tersebut. Yang terjadi justru penyerangan pada waktu itu berasal dari wilayah Karang Panjang (sebuah wilayah Kristen) terhadap masyarakat Ahuru (muslim). Pada waktu itu justru Yon 408/Diponegoro tidak berbuat apapun untuk melindungi warga masyarakat muslim. Tidak menghalau pasukan penyerang tersebut, bahkan membiarkan saja.

3. Opini-opini yang dikembangkan oleh kalangan pemerintah, khususnya TNI selalu melakukan pembelaan dan bahkan bila perlu melakukan upaya 'cuci tangan'. Ini sudah menjadi 'lagu lama' yang selalu diterapkan oleh TNI manakala terjadi kasus yang melibatkan jajaran TNI. Pola ini pernah pula diupayakan tatkala terjadi peristiwa Batu Merah Berdarah, 19-22 Januari 2001 di Batu Merah, Sirimau, Kodya Ambon. Bahkan, pada waktu itu pun pihak TNI membentuk Tim Pencari Fakta (TPF) yang ujung-ujungnya, hasil dari temuan fakta itu hanya untuk membenarkan apa yang dilakukan oleh pasukan pembantai dari TNI. Mestinya TNI telah menyalahi prosedur dan harus ditindaklanjuti ke Pengadilan Militer. Namun kenyataannya, Panglima TNI memberikan pernyataan yang sangat menyakitkan hati kaum muslimin. "TNI telah berbuat sesuai prosedur", katanya dengan mimik tanpa dosa. Menembaki warga sipil tak bersenjata, apakah itu merupakan prosedur TNI? Kalau itu memang menjadi prosedur TNI, pantas bila pembantaian terhadap warga sipil kemudian terulang kembali.

Demikianlah keterangan yang bisa kami sampaikan. Wallahu 'A'lam.

Jakarta, 22 Juni 2001
----------

Tambahan, dicuplik dari Seri 408:

BISMILLA-HIRRAHMA-NIRRAHIYM

WAHYU DAN AKAL - IMAN DAN ILMU
[Kolom Tetap Harian Fajar]
408. Masalah Ambon dan Maluku Utara

Untuk daerah Ambon dan Maluku Utara pembahasan harus dimulai dari permulaan yang menyulut qital (pembantaian), yaitu pada waktu ummat Islam sedang shalat Iyd pada 19 Januari 1999 sekonyong-konyong diserbu dan dibantai oleh gerombolan pengacau liar non-Muslim, kemudian ummat Islam diusir meninggalkan tempatnya bermukim. Apapun alasannya, apakah itu kesenjangan sosial, lebih-lebih jika itu berbau SARA ataupun apakah itu ulah penghasut (provokator) elit politik yang bertujuan mengacaukan Sulawesi Selatan (para exodus Muslim etnis Bugis-Makassar dari Ambon dan Kupang) untuk mendiskreditkan Habibie yang mempunyai hubungan emosional dengan orang Bugis-Makassar, maka bagi ummat Islam yang sedang shalat Iyd yang dizalimi di Ambon itu setahun yang lalu, akan merasakan dan meresapkan betul dalam hati sanubari akan makna Firman Allah: ADZN LLDZYN YQATLWN BANHM ZHLMWA WAN ALLH 'ALY NSHRHM LQDYR. ALDZYN AKHRJWA MN DYARHM BGHYR HQ ALA AN YQWLWA RBNA ALLH (S. ALHJ, 39-40), dibaca: Udzina lilladzi-na yuqa-talu-na biannahum zhulimu- wainnaLla-ha 'ala- nashrihim laqadi-r. Alladzi-na ukhriju- min diya-rihim bighayri haqqin illa- ayyaqu-lu- rabbunaLla-hu (s. alhjj), artinya: Diizinkan berperang karena mereka dizalimi. Yaitu orang-orang yang diusir dari tempatnya bermukim dengan tidak benar hanya karena mereka berkata Maha Pemelihara kami adalah Allah (22 : 39-40).

KTB 'ALYKM ALQTAL WHW KRH LKM W'ASY AN TKRHWA SYY^N WHW KHYR LKM W'ASY AN THBWA SYY^AN WHW SYR LKM WALLH Y'ALM WANTM LA T'ALMWN (S. ALBQRT, 216), dibaca: Kutiba 'alaykumul qita-lu wahuwa karhul lakum wa'asa- an takrahu- syay.aw wahuwa khayrul lakum wa'asa- an tuhibbu- syay.aw wahuwa syarrul lakum waLla-hu ya'lamu waantum la- ta'lamu-n (s. albaqarah), artinya: Diwajibkan atas kamu berperang padahal itu kamu benci, dan boleh jadi kamu benci akan sesuatu, padahal itu baik bagimu, dan boleh jadi kamu senang akan sesuatu tetapi itu buruk bagimu, dan Allah mengetahui, sedang kamu tidak ketahui (2 : 216).

WaLla-hu a'lamu bi shshawa-b.

Makassar, 30 Januari 2000
[H.Muh.Nur Abdurrahman]
----------