Stockholm, 20 Februari 2005

Bismillaahirrahmaanirrahiim.
Assalamu'alaikum wr wbr.
 

MUBA, KALAU HANYA MENULISKAN KATA INDONESIA DI POSTER LALU DIKLAIM LEGALISASI PENJAJAHAN DI ACHEH, ITU GOMBAL
Ahmad Sudirman
Stockholm - SWEDIA.

 

MAKIN KELIHATAN ITU MUBA OTAKNYA OTAK UDANG, KALAU HANYA MENULISKAN KATA INDONESIA DI POSTER LALU DIKLAIM LEGALISASI PENJAJAHAN DI ACHEH, ITU NAMANYA GOMBAL

"Ha ha ha. Mad Mad. Ternyata kamu itu memang picik, kerdil, dan bloon.! Kamu hanya terpaku dengan tulisan itu saja sebagai masalah utama dari foto yang aku kirimkan. Kalau memang masalahnya hanya tuntutan bebas SPP dan rektor turun, mustahil aku mengirimkan foto itu kepadamu. Lebih mustahil lagi jika aku meminta tanggapan terhadap kedua issue itu kepada seorang warga negara Swedia. Kedua issue itu (tuntutan bebas SPP dan rektor turun), jelas masalah dalam negeri, wa bil khusus masalah propinsi NAD, wa bil khusus lagi masalah Unsyiah Banda Aceh, bukan masalah orang Swedia. Aku percaya." (Sun, 20 Feb 2005 06:44:24 -0800 (PST))

Baiklah Muba di Paris, Perancis.

Makin kelihatan budek dan gombalnya itu yang menamakan dirinya Muba. Mengapa ?
Coba saja perhatikan, dengan mengutip fakta yang berbentuk poster yang bertuliskan "Indonesia menangis Rektor tertawa" yang dipegang oleh salah seorang mahasiswa Universitas Syiah Kuala, Banda Acheh ketika mereka melakukan demonstrasi didepan Gedung Academic Activity Center Dayan Dawood, Universitas Syiah Kuala, Kamis, 10 Februari 2005 yang menuntut pembebasan SPP dan Rektor mundur dari jabatannya.

Ternyata oleh Muba budek dan otak udang, itu poster yang bertuliskan "Indonesia menangis" dijadikan sebagai dasar pengklaiman dan legalisasi penjajahan di Acheh oleh pihak Negara penjajah RI. Kan gombal itu dasar argumentasi yang berupa fakta berbentuk poster bertulisakan "Indonesia menangis" untuk dijadikan sebagai alat legalisasi Soekarno menjajah Negeri Acheh dan untuk dipertahankan sampai detik ini.

Muba budek, karena otak dan pikiran kalian hanya terfokus kepada Negara RI hasil leburan RIS dan jelmaan NKRI saja, maka ketika kalian menemukan kata Indoensia, dianggaplah itu sebagai pengklaiman legalisasi RI, dasar gombal. Apalagi kalau itu orang Acheh yang memegang poster bertuliskan "Indonesia menangis" lalu diklaim itu namanya Indonesia karena dipegang oleh rakyat Acheh dianggap sebagai bukti legalisasi Acheh berada dalam sangkar Negara RI. Dan dianggap itu mahasiswa Acheh yang memegang poster tersebut sebagai fakta legalnya Acheh dalam cengkraman RI.

Nah disinilah memang kalian, masih budek Muba. Karena kalian terus saja memfokuskan masalah konflik Acheh adalah masalah domestik, maka apapun asal itu ada nama Indonesia dijadikan sebagai pengklaiman sebagai fakta itu masalah dalam negeri. Kan ngaco. Kalau memang benar itu masalah konflik Acheh adalah merupakan masalah domestik, tidak akan mungkin itu Susilo Bambang Yudhoyono dan Jusuf Kalla melakukan perundingan atau pembicaraan atau dialog dengan pihak ASNLF di luar RI. Tetapi karena kalian Muba gombal dan budek, maka tetap saja, otak kalian penuh dengan sampah racun gombal tipu daya Soekarno dan mbah kalian Hasyim Muzadi.

Nah, karena kalian itu sudah sedemikian tertanam dalam pikiran dan jiwa kalian bahwa yang namanya RI itu dari Sabang sampai Merauke, walaupun asalnya hanya diatas kertas secuil saja, maka kalian Muba tidak peduli lagi akibat dari yang dilakukan oleh Soekarno penipu licik yang gombal itu merugikan dan meluluhkan sebagian bangsa yang ada di Nusantara ini, asalkan itu yang namanya Jawa dan RI-nya bisa terus mencengkram wilayah-wilayah yang ada di Nusantara. Dan memang beginilah tipis dan sifat manusia Jawa yang keras kepala, yang budek, yang otak udang, pura-pura lembut padahal hatinya betul-betul seperti serigala. Lihat contohnya itu mbah Soekarno.

Bagaimana itu Muba budek otak udang ini bisa mempertahankan secara kronologis jalur proses pertumbuhan dan perkembangan Negara RI hubungannya dengan Acheh di mimbar bebas ini untuk membuktikan bahwa itu Soekarno dengan RIS-nya tidak mencaplok Acheh, kalau hanya kemampuannya sampai ketingkat menjadikan poster yang bertuliskan "Indonesia menangis" yang dipegang oleh mahasiswa Acheh sebagai suatu fakta legalisasi Negeri Acheh ada dalam sangkar Negara RI.

Tidak pernah sedikitpun Ahmad Sudirman membaca kronologis bagaimanan itu dari awal RI ini terbentuk dan dihubungkan dengan Negeri Acheh yang ditulis oleh Muba budek, kecuali hanya cuplikan gombal yang secuil mengenai perjanjian Linggajati, perjanjian Renville, Perjanjian Roem Royen, KMB, Perjanjian New-York, yang isinya hanya secuil-secuil. Bagaimana bisa dijadikan fakta dan bukti sejarah dan dasar hukum yang jelas dan benar dihubungkan dengan Negeri Acheh.

Tetapi tentu saja bisa dimengerti, mengapa itu Muba gombal dan budek ini menuliskan rincian perjanjian secuil-secuil seperti itu ? Karena memang begitulah cara-cara guru dan dosen mengajarkan sejarah jalur propses pertumbuhan dan perkembangan Negara RI hubungannya dengan Acheh kepada para muridnya, sehingga wajar saja kalau murid-muridnya pada gombal semua, termasuk Muba Jawa budek satu ini.

Hanya tentu saja, Muba budek ini dan para pendukung penjajahan di Acheh, tidak akan berani menyerahkan penyelesaian konflik Acheh ini kepada seluruh rakyat Acheh di Acheh untuk melakukan plebisit atau referendum guna menentukan sikap apakah mau otonomi sebagaimana dalam UU No.18/2001 atau menentukan nasib sendiri bebas dari cengkraman Negara pancasila.

Jelas, itu Muba budek dan semua pendukung penjajah RI, tidak berani melakukannya. Mengapa ? Karena mereka masih ragu dan tidak percaya kepada dirinya sendiri, bahwa sebagian besar rakyat Acheh akan memilih masuk dalam otonomi RI.

Dari sini saja, sudah jelas kelihatan bahwa itu Muba budek hanyalah mendasarkan kepada perasaannya saja yang gombal itu. Karena takut seperti yang terjadi pada referendum di Timor Timur tanggal 30 Agustus 1999 yang lalu. Dimana sebagian besar rakyat Timor Timur memilih memisahkan dari RI. Dan itu BJ Habibie gigit jari, yang sebelumnya yakin sekali bahwa sebagian besar rakyat Timor Timur akan berada dibelakang RI dibawa BJ Habibie.

Jadi Muba budek, apapun usaha kalian untuk mengkorek-korek fakta dari tempat sampah yang ada di Acheh, tetap saja kalian tidak mempunyai dasar status legal Acheh mengapa sampai Acheh bisa ada dalam sangkar RI.

Kemudian kalau itu soal pengakuan PBB, sekejap mata saja bisa berobah. Bagaimana itu Yugoslavia bisa berobah. Uni Soviet bisa berobah. Jerman bisa berobah. Dan pengakuan datang menyusul dari anggota PBB kepada negara-negara baru tersebut. Jadi, soal itu RI yang asalnya merupakan hasil leburan Negara/Daerah Bagian RIS ditambah Negeri Acheh, Maluku Selatan dan Papua Barat hasil caplokan Soekarno, itu akan berobah statusnya dan akan diakui baru oleh PBB kalau telah terjadi perobahan dalam tubuh RI.

Soal bencana alam adalah bukan soal politik yang bisa merobah status Negeri Acheh yang dijajah oleh RI, Muba gombal. Kalian pikir dengan adanya bencana tsunami itu status legal Acheh menjadi berobah dari status dijajah menjadi statusnya bersatu. Mana bisa itu terjadi, Muba. Kalian hanyalah mimpi besar Muba budek, dasar orang Jawa.

Selama kalian Muba budek, tidak memiliki dasar fakta, bukti, sejarah dan dasar hukum yang kuat yang menjadi dasar status legal Acheh masuk kedalam RI, maka selama itu kalian Muba Jawa akan tetap berhadapan dengan rakyat Acheh yang telah sadar untuk menentukan nasib sendiri bebas dari pengaruh kekuasaan Negara pancasila.

Bagi yang ada minat untuk menanggapi silahkan tujukan atau cc kan kepada ahmad@dataphone.se agar supaya sampai kepada saya dan bagi yang ada waktu untuk membaca tulisan-tulisan saya yang telah lalu yang menyinggung tentang Khilafah Islam dan Undang Undang Madinah silahkan lihat di kumpulan artikel di HP http://www.dataphone.se/~ahmad

Hanya kepada Allah kita memohon pertolongan dan hanya kepada Allah kita memohon petunjuk, amin *.*

Wassalam.

Ahmad Sudirman

http://www.dataphone.se/~ahmad
www.ahmad-sudirman.com
ahmad@dataphone.se
---------

Date: Sun, 20 Feb 2005 06:44:24 -0800 (PST)
From: muba zir mbzr00@yahoo.com
Subject: Re: MUBA, ITU REKTOR UNSYIAH MEMANG PERLU MUNDUR DARI KURSI REKTORNYA, KALAU MEMANG IA BUDEK
To: Ahmad Sudirman ahmad@dataphone.se
Cc: a_yoosran@yahoo.com, acheh_karbala@yahoo.com, ahmad_mattulesy@yahoo.com, muhammad.ardiansyah@hm.com, bambang_hw@rekayasa.co.id, editor@jawapos.co.id, email_ichwan@yahoo.co.uk, fzn_1@yahoo.com, hasan_saleh1945@yahoo.com, mitro@kpei.co.id, mr_dharminta@yahoo.com, nur-abdurrahman@telkom.net, owan02@yahoo.com, rpidie@yahoo.com, se_dayu@yahoo.com, siliwangi27@hotmail.com, sutanlatief@yahoo.com, tang_ce@yahoo.com, narastati@yahoo.com

Ha ha ha. Mad Mad. Ternyata kamu itu memang picik, kerdil, dan bloon.! Kamu hanya terpaku dengan tulisan itu saja sebagai masalah utama dari foto yang aku kirimkan. Kalau memang masalahnya hanya tuntutan bebas SPP dan rektor turun, mustahil aku mengirimkan foto itu kepadamu. Lebih mustahil lagi jika aku meminta tanggapan terhadap kedua issue itu kepada seorang warga negara Swedia. Kedua issue itu (tuntutan bebas SPP dan rektor turun), jelas masalah dalam negeri, wa bil khusus masalah propinsi NAD, wa bil khusus lagi masalah Unsyiah Banda Aceh, bukan masalah orang Swedia. Aku percaya

Tidak heran dengan kepicikan, kekerdilan, dan kebloonan kamu itu, kamu hanya bisa mengusung Renville dan "Soekarno mencaplok Aceh", seperti yang tertulis dalam dalam catatan sejarah usang. Aku sudah katakan bahwa Renville bubar dengan adanya perundingan lainnya, dan "Soekarno mencaplok Aceh" tidak pernah terbukti sehingga Indonesiapun dengan mudah diterima menjadi anggota PBB. Itulah sebabnya aku pernah katakan kepadamu bahwa catatan2 sejarah yang kamu pertahankan dengan argumentasi kosong itu hanya pantas menjadi bungkus kacang rebus. Kamu buta terhadap berbagai fakta dan kenyataan yang di antaranya disampaikan dengan bahasa yang teramat jernih dan sederhana (agar kamu mudah mencernanya) oleh Bung Ardi, bahkan oleh yang lainnya.

Yang ingin aku tunjukkan kepadamu melalui foto yang aku kirimkan itu adalah POSTER ITU. Ini adalah satu lagi FAKTA LAPANGAN. Mereka, para mahasiswa Universitas Syiah Kuala Banda Aceh itu, menuliskan dengan huruf BESAR: "INDONESIA MENANGIS REKTOR TERTAWA". Mereka tidak menulis "ACEH MENANGIS REKTOR TERTAWA" apalagi "GPK MENANGIS REKTOR TERTAWA". Mengerti kamu, budek? Itu artinya adalah, mereka, para mahasiswa Unsyiah itu, menulis dengan benar, dengan SPONTAN, bahwa YANG MENANGIS ITU INDONESIA, BUKAN HANYA ACEH...!!! Mereka, para mahasiswa Unsyiah itu, secara SPONTAN merasakan dirinya merupakan bagian dari keluarga besar Indonesia yang membentang dari Sabang sampai Merauke. Mereka, para mahasiswa Unsyiah itu, merasakan benar betapa seluruh Bangsa Indonesia, dari Sabang sampai Merauke, menangis dan memberikan apa saja yang mereka (Bangsa Indonesia dari Sabang sampai Merauke itu) mampu berikan kepada Aceh, dengan cinta (do you know about love, man?). Bahkan saudara-saudara dari Kawasan Timur Indonesia, bahkan pula yang masih dalam duka akibat gempa dalam skala yang lebih kecil, tidak mau ketinggalan untuk membantu saudaranya di Aceh. Itulah sebabnya aku menyebut dalam posting terdahulu "MY BELOVED ACEH", karena memang kami, bangsa Indonesia yang membentang dari Sabang sampai Merauke, teramat mencintai rakyat Aceh.

Tsunami telah membuktikan bahwa kami, Bangsa Indonesia, dari Sabang sampai Merauke, adalah satu dalam cinta, duka, dan bahagia; bukan hanya satu dalam nusa, bangsa, dan bahasa. Itulah yang dimaksudkan "hikmah tsunami" seperti yang dipostingkan beberapa teman dalam mimbar bebas ini. Tsunami telah mengembalikan kemesraan 17 Agustus 1945 Bangsa Indonesia mengikrarkan sebuah ikatan dalam bentuk kemerdekaan Indonesia.

Muba ZR

mbzr00@yahoo.com
Paris, Perancis
----------