Stockholm, 20 Februari 2005

Bismillaahirrahmaanirrahiim.
Assalamu'alaikum wr wbr.
 

NUR ABDURRAHMAN, COBA DALAMI AKAR MASALAH PENYEBAB KONFLIK ACHEH, PAPUA, & MALUKU SELATAN
Ahmad Sudirman
Stockholm - SWEDIA.

 

SUPAYA TIDAK TERJERUMUS KEDALAM GENGGAMAN TNI COBA ITU NUR ABDURRAHMAN DALAMI AKAR MASALAH PENYEBAB KONFLIK ACHEH, PAPUA, & MALUKU SELATAN, JANGAN HANYA MENJIPLAK SEJARAH SOEKARNO YANG PENUH TIPUAN DAN SALAH KAPRAH ITU

"Apa? Iitu Laskar Jihad, MMI, Mujahidin DII/TII Sul-Sel di Ambon dijadikan alat oleh TNI ? Dari mana ente dengar berita sampah berupa fitnah bahwa DI/TII, Sulawesi Selatan diperalat TNI, he Ahmad Sudirman? "Sisa-sisa" DI/TII Abd. Qahhar Mudzakkar bukan boneka yang bisa diperalat TNI. Kami "sisa-sisa" DI/TII Abd. Qahhar Mudzakkar bukan pengecut seperti ente dan pimpinan ente melarikan diri berlindung di negeri kaum kuffar. Terus terang ana dengan fitnahan ente itu, ana tidak menaruh hormat lagi kepada ente, yang sebelumnya ana berbaik sangka kepada ente. Mulai sekarang tulisan ente ana anggap sampah, dan kalau postingan ente masuk di ana punya mail-box langsung ana delet, biarlah akhi Ahmad Mattulesy jika msih berminat melayani ente punya tulisan sampah." (H. M. Nur Abdurrahman, nur-abdurrahman@telkom.net ,Mon, 21 Feb 2005 01:23:31 +0700)

Baiklah saudara M. Nur Abdurrahman di Jakarta, Indonesia.

Nah, setelah Ahmad Sudirman membukakan fakta, bukti, dasar hukum dan sejarah mengenai jalur proses pertumbuhan dan perkembangan Negara sekuler Pancasila ini atau Negara RI atau Negara RI Soekarno atau Negara RI 17 Agustus 1945 atau Negara RI Asaat dihubungkan dengan Negeri Acheh, Negeri Papua Barat dan Negeri Maluku Selatan, maka terbongkarlah bahwa apa yang dilakukan oleh Soekarno dengan RIS-nya yang didalamnya ada Negara Bagian RI telah melakukan suatu kejahatan kemanusiaan dan penjarahan serta pencaplokan wilayah Negeri-Negeri yang ada diluar wilayah de-facto dan de-jure RIS dan de-facto RI, seperti Negeri Acheh, Maluku Selatan dan Papua Barat.

Kalau kita sebagai umat Islam menyadari bahwa apa yang telah dilakukan oleh yang menamakan diri mereka pendiri RI yang telah melakukan kejahatan dalam pelanggaran hukum internasional dan nasional, maka mengapa kita tetap merasa dan menganggap bahwa apa yang dilakukan oleh mereka di Negara sekuler RI ini dianggap sebagai hal yang bisa diterima dan diakui sah ?.

Contohnya, Ahmad Sudirman telah menuliskan beratus kali di mimbar bebas ini, bahwa pandangan rakyat RI terhadap Negeri Acheh saja sudah menganggap bahwa apa yang dilakukan oleh Soekarno dengan cara mencaplok Negeri Acheh dianggap sebagai suatu perbuatan yang legal dan sah. Kemudian dianggap pembunuhan terhadap rakyat muslim Acheh oleh pasukan TNI terus saja didukung atau didiamkan saja kejahatan pembunuhan yang dilakukan TNI, dengan alasan membela keutuhan NKRI jelmaan RI hasil leburan RIS. Begitu juga terhadap wilayah Papua Barat yang dicaplok Soekarno ? Mengapa rakyat Negara sekuler RI menganggap itu pencaplokan wilayah dan tanah Papua Barat sebagai suatu tindakan yang legal dan sah ? Begitu juga Soekarno dengan APRI/TNI-nya dengan dibawah lindungan RIS menyapu wilayah Maluku Selatan ?

Kalau saudara Nur Abdurrahman mau mengerti dan mau memahami bagaimana itu Soekarno Cs memakai alasan persatuan telah mampu mengorbankan kebebasan, kehormatan, rasa saling percaya antara satu bangsa dengan bangsa lainnya, antara satu suku dengan suku lainnya.

Nah sekarang, ketika Ahmad Sudirman membongkar akar utama timbulnya konflik di Maluku Selatan ini yang sudah berlangsung sejak 19 Mei 1950 ketika itu Negara Indonesia Timur masuk kedalam usus Negara RI Negara Bagian RIS, kemudian ditelan itu wilayah Maluku Selatan yang sudah bebas dari Negara Indonesia Timur oleh Soekarno dengan RIS dan APRI/TNI-nya.

Apakah sebagai umat Islam yang sadar akan kehidupan untuk hidup saling menjaga kehormatan antara bangsa dan antara negara masih mau menerima apa yang dilakukan oleh Soekarno itu sebagai suatu tindakan yang sah dan legal ?.

Nah, kalau Ahmad Sudirman membongkar konflik Maluku Selatan, itu bukan baru muncul tahun 1999 saja, tetapi telah muncul sejak tahun 1950, sudah lebih dari setengah abad. Sama seperti kasus konflik di Acheh. Masalahnya kasus di Acheh rakyat di Acheh adalah rakyat muslim. Kemudian itu di Maluku Selatan sebagian rakyatnya rakyat Kristan. Begitu juga yang di Papua Barat adalah orang-orang non Muslim. Perbedaan agama ini bukan menjadi suatu halangan untuk membela keadilan dan menegakkan hukum.

Karena itulah ketika Ahmad Sudirman menyatakan bahwa pihak RI harus menyadari dan memahami serta mempelajari kembali akar utama timbulnya konflik di Acheh, Papua Barat dan di Maluku Selatan, agar supaya rakyat di RI tidak dibawa kepada lembah kebohongan yang telah digali oleh Soekarno dan para penerusnya ini.

Ketika terjadi konflik di Ambon, itu konflik sebenarnya sudah muncul sejak 25 April 1950. Bukan ketika pada tahun 1990-an saja. Jadi, kalau itu di Ambon dan sekitarnya di Maluku itu dihembuskan pertentangan Agama dan pertumpahan darah karena pertentangan agama adalah tidak benar. Yang benar adalah karena adanya usaha dari rakyat di Maluku Selatan pada tanggal 25 April 1950 menyatakan wilayah Maluku Selatan bebas merdeka dari wilayah kekuasaan negara Indonesia Timur, yang seterusnya ditelan oleh Soekarno dengan RIS-nya.

Inilah yang menjadi dasar utama konflik di Maluku Selatan itu. Kemudian kalau ada dari pihak Laskar Jihad yang secara terang-terangan mendeklarkan perang terhadap rakyat Maluku yang telah menyatakan diri mereka bebas dari NIT yang ditelan soekarno dengan RIS-nya, maka itu membuktikan secara fakta, bukti, sejarah dan hukum, bahwa pihak Laskar Jihad berada dibelakang Pemerintah negara sekuler Pancasila dengan TNI-nya. Atau dengan kata lain bahwa secara tidak langsung itu Laskar Jihad telah dijadikan sebagai alat oleh TNI untuk dipakai menghancurkan rakyat Maluku Selatan yang telah memerdekakan diri itu.

Begitu juga dengan kelompok lainnya yang terlibat dalam pertumpahan darah di Ambon tersebut, seperti yang saudara Abdurrahman katakan, DI/TII Abd. Qahhar Mudzakkar, dan kelompok-kelompok lainnya, besama-sama Laskar Jihad itu.

Karena kalau kita tidak mengerti dan tidak paham akar utama penyebab timbulnya konflik di Maluku selatan, Acheh dan Papua Barat ini, maka akhirnya kelompok-kelompok Islam ini mudah terjerumus kedalam kancah perang dan berada didalam lingkaran dan garis TNI.

Seperti di Acheh, apakah itu Laskar Jihad mendukung perjuangan rakyat muslim Acheh untuk menentukan nasib sendiri bebas dari pengaruh kekuasaan Negara pancasila ?

Jelas, sampai detik ini tidak keluar satu patah katapun dari kelompok Laskar Jihad walaupun sudah dibubarkan, tetapi induknya masih ada, kelompok wahhabi atau salafi, mendukung perjuangan rakyat muslim Acheh yang telah sadar untuk menentukan nasib sendiri bebas dari pengaruh kekuasaan Negara pancasila.

Atas dasar apa pihak Laskar Jihad atau kelompok organisasi Islam lainnya yang ada di RI tidak mendukung perjuangan rakyat muslim Acheh yang sedang memperjuangkan kemerdekaan Negerinya dan bahkan ikut mendukung atau setidaknya mendiamkan itu kelakuan TNI untuk terus membunuh rakyat muslim Acheh itu ?

Apakah karena pihak ASNLF mau menentukan nasib sendiri dan dianggap sebagai pemberontak dan ingin memisahkan diri dari Negara sekuler Pancasila, maka Laskar Jihad dan kelompok pergerakan Islam lainnya tidak mendukung dan menyokong ASNLF ?.

Nah dari sini saja sudah jelas bahwa walaupun itu perjuangan yang dilancarkan Laskar Jihad dan kelompok lainnya mengatas-namakan Islam, tetapi kenyataannya ketika menghadapi perjuangan rakyat muslim Acheh yang telah sadar untuk menentukan nasib sendiri, maka mereka itu justru menentangnya dan bahkan berbalik mendukung pihak RI dan TNI-nya.

Begitu juga dengan perjuangan rakyat di Papua Barat dan di Maluku Selatan yang mereka itu telah menentukan sikap untuk penentuan nasib mereka sendiri. Apakah dengan adanya sikap dari mereka yang telah menentukan untuk membangun diri mereka dan negerinya sendiri bebas dari RI dengan alasan fakta, bukti, sejarah dan dasar hukum yang kuat kita anggap mereka sebagai musuh dan yang perlu dihancurkan dengan kekuatan apapun ?.

Nah dasar inilah, mengapa Ahmad Sudirman menampilkan bahwa kelompok Laskar Jihad, dan kelompok lainnya yang terlibat di Ambon dan sekitarnya yang secara tidak langsung merupakan alat Pemerintah RI dan TNI.

Sama juga kalau itu Laskar Jihad ikut masuk ke Acheh dan melawan kekuatan ASNLF, maka pihak ASNLF akan menganggap itu Laskar Jihad sebagai musuh dan diangap sebagai kacung dan alat TNI untuk membunuh rakyat muslim Acheh yang telah sadar untuk menentukan nasib sendiri.

Jadi inilah yang harus dipahami dan dimengerti bahwa tanpa kita mendalami, menggali, menganalisa fakta, bukti, sejarah dan dasar hukum yang menyangkut Acheh, Papua Barat dan Maluku Selatan, maka kita akan mudah terjerumus kedalam lobang yang sangat membahayakan. Dan tentu saja, seperti Ahmad Sudirman katakan dalam tulisan sebelum ini bahwa pihak Soekarno dan para penerusnya yang merasa diungtungkan dengan tampilnya Laskar Jihad dan kelompok Islam lainnya di Ambon untuk berhantam melawan musuh Soekarno dan para penerusnya dengan TNI-nya yang telah mencaplok wilayah Maluku Selatan, Acheh, dan Papua Barat.

Terakhir, kalau kita masih budek dan buta akan fakta, bukti, sejarah dan hukum tentang bagaimana itu Soekarno dengan RIS-nya menelan Negeri Acheh, Maluku selatan dan Papua Barat, maka selama itu kita akan mudah dibawa hanyut oleh arus yang telah dialirkan oleh Soekarno dan para penerusnya termasuk TNI didalamnya. Dan akan terus menjadi kacung TNI dan alat TNI, walaupun mulut mengatakan tidak.

Bagi yang ada minat untuk menanggapi silahkan tujukan atau cc kan kepada ahmad@dataphone.se agar supaya sampai kepada saya dan bagi yang ada waktu untuk membaca tulisan-tulisan saya yang telah lalu yang menyinggung tentang Khilafah Islam dan Undang Undang Madinah silahkan lihat di kumpulan artikel di HP http://www.dataphone.se/~ahmad

Hanya kepada Allah kita memohon pertolongan dan hanya kepada Allah kita memohon petunjuk, amin *.*

Wassalam.

Ahmad Sudirman

http://www.dataphone.se/~ahmad
www.ahmad-sudirman.com
ahmad@dataphone.se
---------

Date: Mon, 21 Feb 2005 01:23:31 +0700
From: "H. M. Nur Abdurrahman" nur-abdurrahman@telkom.net
To: "Ahmad Sudirman" ahmad@dataphone.se
Cc: "ahmad mattulesy" ahmad_mattulesy@yahoo.com
Subject: Re: NUR ABDURRAHMAN, ITU LASKAR JIHAD, MMI, MUJAHIDIN DII/TII

1. Apa? ITU LASKAR JIHAD, MMI, MUJAHIDIN DII/TII SUL-SEL DI AMBON DIJADIKAN ALAT OLEH TNI? Dari mana ente dengar berita sampah berupa fitnah bahwa DI/TII, Sulawesi Selatan diperalat TNI, he Ahmad Sudirman? "Sisa-sisa" DI/TII Abd. Qahhar Mudzakkar bukan boneka yang bisa diperalat TNI. Kami "sisa-sisa" DI/TII Abd. Qahhar Mudzakkar bukan pengecut seperti ente dan pimpinan ente melarikan diri berlindung di negeri kaum kuffar. Terus terang ana dengan fitnahan ente itu, ana tidak menaruh hormat lagi kepada ente, yang sebelumnya ana berbaik sangka kepada ente. Mulai sekarang tulisan ente
ana anggap sampah, dan kalau postingan ente masuk di ana punya mail-box langsung ana delet, biarlah akhi Ahmad Mattulesy jika msih berminat melayani ente punya tulisan sampah.

2. Apa? Sebenarnya kalau mau berpikir dengan waras, bukan Laskar Jihad yang harus menghadapi RMS? Sebenarnya ente tidak berpikir waras, karana pikiran ente terpaku di atas kertas. Pikiran ente tidak waras karena ente mengabaikan keadaan lapangan. Apa yang ente tahu tentang keadaan lapangan di Ambon dan Maluku Utara, ente cuma bercokol di negeri kafir di luar sana, yang tidak pernah menghadapi peluru tajam TNI. ABRI pada waktu itu tidak berdaya menahan pembantaian RMS terhadap ummat Islam di Ambon dan Maluku..
Kalau Lasykar Jihad, Majlis Mujahidin dan "sisa-sisa" DI/TII Abd. Qahhar Mudzakkar tidak cepat datang, ummat Islam akan habis dibantai kuffar RMS. "Sisa-sisa" DI/TII Abd. Qahhar Mudzakkardatang ke sana mendahului Lasykar Jihad dan Majlis Mujahidin karena orang Bugis Makassar dan ummat Islam setempat sedang shalat Iyd pada 19 Januari 1999 sekonyong-konyong diserbu dan dibantai oleh kuffar RMS.

Sudah dua ketesinggungan "sisa-sisa" DI/TII Abd. Qahhar Mudzakkar, pertama difirnah terrorist dan kedua difitnah boneka TNI. Dan itu tidak dapat kami maafkan, dan menjadi utang ente dan pemfitnah yang lain, yang akan kami tagih insya-Allah fiy Yawm alDiyn.

Tidak pakai salam lagi.

H. M. Nur Abdurrahman

nur-abdurrahman@telkom.net
Jakarta, Indonesia
----------