Stockholm, 22 Februari 2005

Bismillaahirrahmaanirrahiim.
Assalamu'alaikum wr wbr.
 

RIYANTO MASIH TERKURUNG OLEH PANDANGAN KAUM KEJAWEN, WAHHABI & JAMAAH TABLIGH KETIKA MELIHAT ACHEH
Ahmad Sudirman
Stockholm - SWEDIA.

 

KELIHATAN DENGAN JELAS ITU JOKO RIYANTO MASIH TERKURUNG OLEH PANDANGAN KAUM KEJAWEN, WAHHABI, JAMAAH TABLIGH KETIKA MELIHAT ACHEH

"Kemudian kemaren lusa Alhamdulillah telah dilangsungkan perjanjian gencatan senjata antara RI dan GAM walaupun belum menghasilkan yang optimal. Tetapi yang saya sayangkan, ajudannya Hasan Tiro si Malik Mahmud ternyata seorang pengecut dimana dia mengatakan (tidak usah sama persis), perjanjian di Helsinki masih menghasilkan perbedaan antara RI dan GAM. Nah kok tidak dibicarakan langsung perbedaan apa itu, di bidang apa ?. Pak Ahmad coba anda ikut saja dalam perundingan pada saat ini yaitu pada tanggal 21-23 februari 2005 atau kalau seandainya pak ahmad ketinggalan keretanya Malik Mahmud, maka anda pak Ahmad bisa bernego ke Mahmud untuk ikut dalam perundingan berikutnya jika perundingan kali ini terpaksa gagal lagi dan ceritakan sejarah Aceh versi GAM/GSA sendiri. Menurut alam pikiran saya jelas kalau si Malik Mahmud sudah mengetahui dan hafal diluar kepala tentang sejarah Aceh Versi GAM/GSA. Namun dia mati kelabakan berhadapan dengan pejabat-pejabat Indonesia dan akhirnya tidak mau mengatakan perbedaan-perbedaannya." (Joko Riyanto, mas_rey_2004@yahoo.com , Mon, 21 Feb 2005 19:24:35 -0800 (PST))

Baiklah saudara Joko Riyanto di Solo, Indonesia

Setelah membaca pandangan dan pikiran saudara Joko Riyanto kawan sekantornya Rokhmawan dari kaum Wahhabi Saudi di Yayasan Pesantren Bukhori, Solo, Jawa Tengah ini, ternyata itu Joko Riyanto memang masih kurang memahami adanya suatu garis pemisah dan jurang yang sangat dalam antara pihak Soekarno cs & Susilo Bambang Yudhonoyo cs dengan pihak ASNLF dibawah Teungku Hasan Muhammad di Tiro dalam hal Negeri Acheh.

Nah, perbedaan jurang yang dalam ini kelihatan ketika tim juru runding RI bertemu dan berunding dengan tim juru runding ASNLF di Koningstedt, Finlandia hari kemaren, sekarang dan kemungkinan besok.

Tentu saja, banyak perbedaan-perbedaan dalam hal pemahaman dan konsepsi dasar mengenai perdamaian ini. Pihak RI menyatakan penyelesaian damai yang komprehensive. Artinya bahwa pihak ASNLF dan TNA harus secara penuh menyerahkan seluruh senjata dan kembali ke pihak RI dengan imbalan amnesti dan menerima otonomi khusus yang berpayung hukum UU No.18/2001. Sedangkan pihak ASNLF menyodorkan bahwa pemulihan, rehabilitasi, rekonstruksi rakyat dan negeri Acheh adalah masalah yang mendasar sehingga perlu adanya keamanan dan kebebasan untuk memberikan ruang gerak bagi para relawan asing dan nasional untuk menjalankan tugasnya di Acheh, tanpa adanya gangguan keamanan. Sehingga untuk menciptakan suasana aman itu perlu adanya gencatan senjata dan lamanya gencatan senjata dengan sistem monitoringnya. Adapun masalah otonomi, itu bagi pihak ASNLF dan rakyat Acheh yang telah sadar untuk menentukan nasib sendiri itu perjuangannya untuk kemerdekaan Acheh, bukan otonomi. Dan untuk menetapkan otonomi atau bukan itu keputusannya diserahkan kepada seluruh rakyat Acheh untuk memutuskannya dalam cara plebisit, apakah rakyat Acheh ingin otonomi atau memisahkan diri dari RI membangun Negeri sendiri yang bebas dari pengaruh kekuasaan pemerintah asing, dengan disaksikan oleh utusan dari PBB, sebagaimana contohnya plebisit di Timor Timur tanggal 30 Agustus 1999.

Nah, itulah perbedaan-perbedaan yang ada antara pihak RI dan ASNLF. Kalau Malik Mahmud mengatakan perundingan masih menghasilkan perbedaan, maka itulah perbedaan-perbedaannya seperti yang Ahmad Sudirman jelaskan diatas. Tidak perlu Malik Mahmud menjelaskan dengan detil perbedaan tersebut kepada publik selama perundingan masih berlangsung. Jadi bukan seperti yang Riyanto katakan: "Malik Mahmud seorang pengecut dimana dia mengatakan (tidak usah sama persis), perjanjian di Helsinki masih menghasilkan perbedaan antara RI dan GAM. Nah kok tidak dibicarakan langsung perbedaan apa itu, di bidang apa. Dia mati kelabakan berhadapan dengan pejabat-pejabat Indonesia dan akhirnya tidak mau mengatakan perbedaan-perbedaannya".

Jadi, yang dibicarakan dalam perundingan di Koningstedt itu adalah masalah gencatan senjata, waktunya, dan sistem monitoringnya. Kemudian kalau ketiga masalah ini telah bisa dipecahkan baru dibicarakan bagaimana itu masalah otonomi. Dan tentu saja masalah otonomi ini menyangkut seluruh rakyat Acheh, oleh karena itu untuk penyelesaiannya diserahkan kepada seluruh rakyat Acheh untuk memutuskannya melalui plebisit, bukan ditentukan oleh pihak ASNLF atau oleh pihak pemerintah dan DPR RI saja.

Selanjutnya, Riyanto mengatakan: "semua insan yang diberi akal sehat dan mengetahui tentang keborokan Hasan Tiro cs maka dengan mudah bisa menjawab pertanyaan apa dasarnya bisa mengatakan kalau Aceh semakin sengsara dibawa pimpinan Hasan Tiro?."

Nah, Riyanto ini yang memakai kacamata sejarah Acheh made in Soekarno ketika melihat Teungku Hasan Muhammad di Tiro sehingga yang terlihat hanya "keborokan Hasan Tiro cs".

Dengan hasil pandangan Riyanto yang memakai kacamata sejarah Acheh made in Soekarno inilah yang dijadikan dasar argumentasi oleh Riyanto karkun Jamaah Tabligh dari India ini, dalam melihat kepada perjuangan rakyat Acheh yang dipimpin oleh Teungku Hasan Muhammad di Tiro.

Misalnya yang dinamakan keborokan Teungku Hasan Muhammad di Tiro menurut Riyanto adalah "Hasan Tiro cs untuk tragedi aceh pasca bencana tsunami. Yang bisa dilakukan paling banter hanya bisa berkabung selama tiga hari dengan menaikkan bendera setengah tiang sebagaimana pemerintahan Swedia. Seharusnya kan si Hasan Tiro menyuruh ajudannya atau seseorang untuk mendatangi aceh dan sekaligus memberi bantuan baik berupa materiil maupun spirituil ?" Kemudian dibandingkannya dengan Jusuf Kalla: " pak Jusuf Kalla saja begitu mendengar bencana tsunami langsung merogoh koceknya sendiri (pribadi) sebesar 50 Milyard untuk disumbangkan ke aceh sana. Belum pejabat yang lainnya dan warga Indonesia lainnya pula. Nah ini baru menunjukkan kasih sayang terhadap sesamanya".

Sekarang, kalau membaca apa yang ditampilkan Riyanto tentang apa yang dinamakan "keborokan Hasan Tiro cs" tersebut, karena tidak menyuruh ajudannya atau seseorang untuk mendatangi Acheh dan sekaligus memberi bantuan baik berupa materiil maupun spirituil. Jelas itu pandangan Riyanto masih picik. Mengapa ? Karena pertama, antara pihak RI dengan ASNLF & TNA masih bermusuhan, belum adanya gencatan senjata, sehingga tidak bebas keluar masuk wilayah yang masih dikuasai TNI baik bagi pasukan TNA atau staf dari ASNLF. Kedua, soal pemberian bantuan bisa dilakukan melalui jalur lembaga non pemerintah yang telah diberi izin oleh pihak RI untuk masuk ke Acheh dan melalui kanal-kanal tertentu yang sudah dapat izin masuk ke Acheh. Jadi, itulah yang dilakukan dan dijalankan menurut kebijaksanaan politik dan kemanusiaan dari pihak ASNLF dibawah Teungku Hasan Muhammad di Tiro.

Kemudian, kalau Riyanto menyatakan: "kalau untuk Hasan Tiro cs yang jelas untuk GAM/GSA yang ada di Aceh justru kebalikannya, bukannya menolong eee malah membuat ulah seperti penghadangan yang dilakukan GAM terhadap bantuan kemanusian aceh, penembakan GAM kepada TNI yang sedang bertugas untuk kemanusian aceh, penyusupan GAM ke pengungsi demi mendapatkan bantuan logistik, penembakan oleh GAM terhadap TNI yang sedang memperbaiki jembatan pada Ahad kemaren."

Riyanto, tentang cerita-cerita itu merupakan cerita hasil dari pihak penjajah RI, dan memang cerita model demikian menguntungkan pihak RI dan pihak Pemda Acheh. Tetapi, itu cerita belum sebanding dengan cerita penumpukan bantuan oleh pihak TNI yang tidak segera disalurkan dan diberikan kepada rakyat Acheh yang sangat memerlukannya. Bahkan ada khusus bantuan untuk pihak keluarga TNI/Polri saja. Padahal bantuan itu untuk semua, bukan untuk perseorangan atau kelompok saja. Begitu juga pihak keluarga TNA, mereka itu juga perlu mendapat bantuan dari bantuan asing yang melimpah ruah itu. Apakah pihak keluarga TNA tidak diberikan hak untuk mendapatkan bantuan asing dan nasional itu ? Apakah bantuan itu hanya khusus untuk keluarga TNI/Polri dan rakyat Acheh lainnya saja, tanpa dimasukkan keluarga TNA yang juga menjadi korban ?.

Jadi, kalau berbicara masalah kemanusiaan, maka tidak ada yang namanya untuk musuh atau untuk kawan, yang ada adalah itu bantuan yang datang dari pihak asing untuk semua korban gempa dan tsunami tanpa pandang bulu. Tetapi mengapa pihak TNI di Acheh membuat perbedaan-perbedaan dalam memberikan bantuan itu ? Kalau untuk pihak TNA dan keluarganya tidak dibenarkan untuk menerima bantuan asing itu. Jelas, itu suatu pelanggaran dan suatu kebiadaban yang dijalankan oleh pihak Pemerintah Jusuf Kalla, TNI dan Pemda di Acheh terhadap korban tsunami di Acheh ini.

Jadi, dengan melihat tindakan yang demikian dari pihak Pemerintah RI, Pemda Acheh dan TNI di Acheh terhadap pihak TNA dan keluarganya dalam hal bantuan asing untuk korban tsunami, bagaimana bisa itu pihak staf ASNLF bisa diberikan izin masuk langsung memberikan bantuan kepada rakyat Acheh, sedangkan pihak keluarga TNA saja di Acheh yang berhak untuk menerima bantuan asing itu diperlakukan sedemikian kasar dan keji oleh pihak TNI ?.

Jadi Riyanto, kalau saudara hanya bisa memberikan fakta-fakta gombal diatas untuk dipakai sebagai alat menjatuhkan dan menghancurkan Teungku Hasan Muhammad di Tiro dengan ASNLF dan TNA-nya jelas itu adalah suatu usaha yang picik dan lemah sekali.

Dan tentu saja, yang gombal dan budek adalah pihak Jusuf Kalla dan TNI-nya yang menjalankan perilaku diskriminasi terhadap rakyat Acheh untuk menerima bantuan asing yang cuma-cuma itu bagi siapa saja korban tsunami di Acheh. Dimana kalau keluarga TNA dihardik dan tidak dibenarkan menerima bantuan asing itu. Jelas itulah perbuatan dan kebijaksanaan penjajah RI dibawah Susilo Bambang Yudhoyono dan Jusuf Kalla.

Seterusnya Riyanto menyinggung apa yang dikatakan oleh Ustadz Muhammad Arifin Ilham dalam tulisannya yang menyangkut seputar tragedy bencana Acheh dimana disebutkan bahwa untuk mewujudkan syariat Islam harus mengetahui pondasinya yaitu Akidah, Ahklaq, Ibadah, Muamalah dll. Jangan terburu-buru menegakkan syariat islam jikalau pondasinya belum kuat.

Memang betul apa yang dikatakan oleh Ustadz Muhammad Arifin Ilham sebagaimana paham Wahhabi Saudi juga menyebutkan demikian. Hanya sekarang yang terjadi di Acheh adalah itu penerapan syariat Islam melalui jalur UU No.18/2001 yang menyesatkan umat Islam di Acheh. Mengapa ? Karena terlihat dalam isi UU No.18/2001 itu telah dilakukan suatu pelaksanaan peradilan syariat Islam yang mengacu kepada peradilan sistem nasional yang mengacu kepada sumber sistem hukum thaghut pancasila dengan penjabaran-penjabaran dasar hukumnya, seperti TAP MPR, UU, PP, Keppres, Peraturan Pemerintah Pengganti UU.

Apakah itu yang dinamakan pelaksanaan syariat Islam di Acheh melalui UU No.18/2001, yang dimaksudkan oleh Ustadz Muhammad Arifin Ilham itu ? Ataukah menunggu dibina dulu itu orang-orang di Jawa, Madura, Sumatera, Kalimantan, Maluku, Sulawesi, Papua akidah, ahklaq, ibadah, muamalah mereka, dengan cara tidak dibenarkan mengacu pelaksanaan hukumnya kepada sistem hukum thaghut pancasila. Dihancurkan khurafat dan bid'ah yang banyak dilakukan oleh hampir kebanyakan umat Islam di Jawa. Seperti contohnya di Keraton Solo yang tiap tahun mencuci keris-keris-nya yang dianggap keramat dan sakti itu.

Sebenarnya syariat Islam sudah dijalankan Sejak Rasulullah saw membangun Daulah Islamiyah pertamanya di Yatsrib dan diteruskan oleh Khulafaur Rasyidin dan diteruskan oleh para khalifah Islamiyah, sampai kepada jatuhnya Khilafah Islamiyah Utsmani pada tahun 1924. Jadi itu syariat Islam telah dijalankan dan dilaksanakan. Umat Islam di RI ini memang ketinggalan kereta api. Ketinggalan oleh rakyat Pakistan dan rakyat Iran. Kalau itu Kerajaan Saudi Arabia dengan Wahhabinya justru menghancurkan Khilafah Islamiyah Utsmani ikutan bersama kaum dari pemerintah kerajaan Inggris.

Jadi kalau itu Riyanto menyatakan: "Sangat lucu sekali manakala ada suatu kaum ingin memberlakukan syariat islam tetapi tidak dipenuhi terlebih dahulu pondasi yang menjadi kerangkanya. Seperti contohnya di aceh, siapa bilang Aceh adalah warga yang taat terhadap agama islam ? Itu kan jaman duluuu...jaman cut nyak dien kali ya...lihat saja pada jaman sekarang di aceh banyak masjid yang ternyata kosong melompong kecuali paling maksimal hanya 1 baris (banyak laki-laki yang sholat di rumah tanpa ada udzur secara syar 'i)."

Jelas, kelihatan itu karkun Jamaah Tabligh dari India ini seenak udelnya sendiri menyatakan "siapa bilang Aceh adalah warga yang taat terhadap agama islam ? Itu kan jaman duluuu". Ini kan pernyataan gombal karkun Jamaah Tabligh India saja. Memangnya itu karkun Jamaah Tabligh India sudah hebat dalam hal ketauhidan, akidah, iman, akhlah, dan muamalahnya ?. Ataukah itu masyarakat di sekitar Solo, Jawa Tengah dan sekitar Keraton Solo orang-orang Jawa-nya itu sudah hebat dan mendalam masalah ketauhidan, akidah, iman, akhlah, dan muamalahnya ?. Padahal mereka itu orang-orang Keraton Solo hanya kejawen campuran budaya hindu saja yang dipelihara.

Dan itu kalau Riyanto menyinggung: "masalah Akhlak, memang untuk yang satu ini tergantung dari individu masing-masing tetapi mana kala kita lihat Aklaqnya GAM/GSA maka kita harus mengelus dada dalam-dalam ooohhh inikah Akhlak para pejuang islam (menurut versi Abu Jahal) dimana saling main bentak, main pukul, senang kekerasan, memusuhi yang diluar anggotanya ?."

Itu kelakuan model Abu Jahal yang jelas kelihatan adalah para penguasa di Negara pancasila yang setiap langkah dan hidupnya diacukan kepada dasar dan sumber hukum pancasila gombal menyesatkan yang dijabarkan kebawah kedalam bentuk dasar-dasar atau payung-payung hukumnya. Kalau kalian Riyanto hanya melihat kepada pihak TNA saja, memang bisa dimengerti. Karena memang mata Riyanto ini sudah terkena racun menyesatkan khurafat dan bid'ah orang-orang yang dekat di keraton Solo itu saja. Itu lebih menyesatkan dan bisa menghancurkan pondasi ketauhidan dan akidah Islam umat Islam.

Seterusnya soal barang haram yang disinggung Riyanto. Itu di tempat kalian saja, di Solo mana itu dilarang menjual barang haram seperti minuman bir dan alkohol, bahkan beredar pula penjualan narkoba. Begitu juga di kota-kota besar seperti Jakarta. Itu Jakarta tempat maksiat yang betul-betul membuat umat Islam bisa hancur akidah dan imannya. Dan tentu saja itu ganja dan narkoba diperjual belikan oleh orang-orang di Jakarta. Dan di Acheh pun itu pihak TNI yang menguasai dan mengontrol jalur penjualan ganja keluar dari ladangnya di Acheh dijual di Medan, Jakarta, Bali dan kota-kota besar lainnya. Mana itu pihak TNA bisa mengontrol sampai ke Banda Acheh, Medan dan Jakarta. Yang jelas itu pihak TNI yang mengontrol dari mulai penanaman dan penjualan ganja di Acheh dan keluar dari Acheh.

Jadi Riyanto, kalau kalian hanya membaca dari cerita berita yang dimuat di media massa RI saja, kalian akan terkecoh oleh pihak TNI yang melakukan propaganda jahat untuk menjatuhkan perjuangan rakyat muslim Acheh yang telah sadar untuk menentukan nasib sendiri bebas dari pengaruh kekuasaan negara pancasila.

Nah sekarang, kalau yang dijadikan dasar pemikiran "ustadz Muhammad Arifin Ilham syariat Islam yang digembar-gemborkan GAM hanyalah sebuah kedok untuk mencari simpatisan umat islam agar mereka ( Aceh ) dapat merdeka.". Jelas itu ustadz Muhammad Arifin Ilham memang masih perlu pencerahan otaknya. Mengapa ? Karena dia sendiri tidak tahu bagaimana untuk meluruskan ketauhidan, akidah, iman, akhlah, dan muamalahnya untuk masyarakat di sekitar kampungnya sendiri di Jawa. Memakai cara atau metode Wahhabi atau Salafi, jelas itu sudah juga dijalankan oleh kaum Wahhabi atau sakafi di RI ini. Tetapi itu sistem haghut pancasila masih tetap mereka biarkan bahkan mereka terus hidup dan menghirup udara sistem thaghut pancasila gombal menyesatkan itu.

Seterusnya itu yang dikemukakan Riyanto: "menurut alam pikiran saya, agama (untuk GAM/GSA, Hasan Tiro cs) hanya dijadikan kendaraan untuk menuju dunia politik praktis. Nah yang namanya kendaraan apabila orang yang mengendarainya sudah sampai ke tempat tujuan maka akan segera ditinggalkannya."

Riyanto, yang menjadikan agama sebagai kendaraan politik praktis adalah itu orang-orang Islam yang memakai partai politik dengan melabelkan Islam untuk masuk kedalam DPR/MPR dan Pemerintah. Berjubel itu di DPR/MPR dan Pemerintah orang-orang Islam yang memakai kendaraan politik pratis berkedok Islam. Mereka itu semua memang gombal. Mengapa ? Karena tetap saja mereka memeluk itu sistem thaghut pancasila. Seperti juga Joko Riyanto karkun Jamaah Tabligh dari India ini.

Kemudian itu yang dikatakan Riyanto: "Pak Ahmad tidak usah mencari pembenaran diri atau membela diri Hasan Tiro cs, memangnya Rosululloh dan para sahabatnya banyak yg bergelimangan harta seperti HT cs ?. Walaupun ada diantara para sahabat yang kaya raya seperti Adurrahman bin auff, dikalangan generasi berikutnya sepert umar bin abdul aziz tetapi dalam segi keagamaannya sangatlah memuaskan."

Apapula itu Riyanto bercerita yang tanpa dasar. Apakah benar itu Teungku Hasan Muhammad di Tiro cs bergelimang hartanya di Swedia ?. Jelas, itu cerita hasil karangan pihak RI saja atau pihak orang-orang yang menjadi lawan ASNLF saja. Sudah berpuluh kali Ahmad Sudirman menjelaskan di mimbar bebas ini bahwa soal bergelimang harta Teungku Hasan Muhammad di Tiro cs di Swedia adalah bohong besar. Itu hanya propaganda murahan saja untuk usaha menjatuhkan Teungku Hasan Muhammad di Tiro cs. Mengapa ? Karena mudah saja untuk mengetahui harta kekayaan orang-orang yang ada di Swedia itu. Para pejuang rakyat Acheh yang ada di luar Negeri mereka itu adalah bukan mencari kekayaan. Mereka itu adalah para pejuang yang sedang berjuang untuk menuntut nasib sendiri dan pembebasan negeri Acheh dari cengkraman poenjajah RI. Mana ada orang-orang pejuang Acheh yang kaya raya di luar Negeri. Yang menyatakan para pejuang Acheh diluar Negeri kaya raya itu hanyalah orang yang dijadikan alat propaganda pihak RI termasuk karkun Jamaah Tabligh India Joko Riyanto ini.

Terakhir, keikhlasan dan keridhaan dalam beramal, beribadah, bersedekah yang dilandasi oleh ketauhidan dan akidah yang dalam inilah yang harus dijadikan sebagai pegangan oleh setiap muslim yang mukmin.

Nah itulah Joko Riyanto tentang pikiran dan pandangan saudara di mimbar bebas ini masih kelihatan sempit atau picik dan masih terkurung oleh pandangan sesat sistem thaghut pancasila dan kaum wahhabi atau salafi serta kaum Jamaah Tabligh India itu.

Bagi yang ada minat untuk menanggapi silahkan tujukan atau cc kan kepada ahmad@dataphone.se agar supaya sampai kepada saya dan bagi yang ada waktu untuk membaca tulisan-tulisan saya yang telah lalu yang menyinggung tentang Khilafah Islam dan Undang Undang Madinah silahkan lihat di kumpulan artikel di HP http://www.dataphone.se/~ahmad

Hanya kepada Allah kita memohon pertolongan dan hanya kepada Allah kita memohon petunjuk, amin *.*

Wassalam.

Ahmad Sudirman

http://www.dataphone.se/~ahmad
www.ahmad-sudirman.com
ahmad@dataphone.se
---------

Date: Mon, 21 Feb 2005 19:24:35 -0800 (PST)
From: joko riyanto mas_rey_2004@yahoo.com
Subject: Hasan Tiro(GAM/GSA Sedia) Hanya Bisa Gigit Jari Melihat Bencana Aceh
To: ahmad@dataphone.se
Cc: husaini54daud@yahoo.com

Assalaamu 'alaikum

Hasan Tiro cs ( GAM,GSA Swedia ) Hanya Bisa Gigit Jari.
Melihat Bencana Gempa dan Tsunami Aceh. Apa kabar pak Ahmad yang berpenyakit hati (iri, dengki, dendam, buruk sangka terhadap kebaikan orang, propagandais dll) ?. Begini pak saya masih ingat pertanyaan konyol anda seperti bulan kemaren yaitu kalau tidak salah "Apa dasarnya joko riyanto bisa mengatakan kalau Aceh semakin sengsara dibawa pimpinan Hasan Tiro" ?.

Pak Ahmad yang bernyakit hati, semua insan yang diberi akal sehat dan mengetahui tentang keborokan Hasan Tiro cs maka dengan mudah bisa menjawabnya. Coba untk misalnya saja, apa yang bisa disumbangkan seorang Hasan Tiro cs untuk tragedi aceh pasca bencana tsunami ?. Yang bisa dilakukan paling banter hanya bisa berkabung selama tiga hari dengan menaikkan bendera setengah tiang sebagaimana pemerintahan Swedia. Nah apakah ini type pejuang ?. Seharusnya kan si Hasan Tiro menyuruh ajudannya atau seseoang untuk mendatangi aceh dan sekaligus memberi bantuan baik berupa materiil maupun spirituil ?

Lihat pak Jusuf Kalla saja begitu mendengar bencana tsunami langsung merogoh koceknya sendiri (pribadi) sebesar 50 Milyard untuk disumbangkan ke aceh sana. Belum pejabat yang lainnya dan warga Indonesia lainnya pula. Nah ini baru menunjukkan kasih sayang terhadap sesamanya, dimana Rosululloh SAW bersabda, "Muslim itu ibarat bangunan dimana satu bagian dengan bagian yang lainnya saling menguatkan". Beliau pun bersabda tentang tolong-menolong, "Alloh akan menolong seorang hamba selagi hamba tersebut mau menolong saudaranya dan Alloh tidak akan menolong hamba selagi hamba tersebut tidak menghiraukan saudaranya".

Nah kalau untuk Hasan Tiro cs yang jelas untuk GAM/GSA yang ada di Aceh justru kebalikannya, bukannya menolong eee malah membuat ulah seperti penghadangan yang dilakukan GAM terhadap bantuan kemanusian aceh, penembakan GAM kepada TNI yang sedang bertugas untuk kemanusian aceh, penyusupan GAM ke pengungsi demi mendapatkan bantuan logistik, penembakan oleh GAM TERHADAP TNI yang sedang memperbaiki jembatan pada Ahad kemaren. Iiih memalukaaan pak Ahmad, itu anak buah ente (Anak buah Hasan Tiro) perlu dikasih pelajaran bagaimana etika hidup di saat kesusahan dan penderitaan. Jelaslah sudah bahwasanya Aceh tidak akan merasa aman, kenyang, tentram dibawah kepimpinan Hasan Tiro cs ( GAM Teroris/GSA ). Masih banyak sekali hal-hal yang menunjukkan bahwasanya Hasan Tiro cs bukan pemimpin yang adil, bijaksana sebagaimana kita baca keadilan dan kebijaksanaan Umar Bin khotob yang begitu memperhatikan nasib warganya.

Kemudian kemaren lusa Alhamdulillah telah dilangsungkan perjanjian gencatan senjata antara RI dan GAM walaupun belum menghasilkan yang optimal. Tetapi yang saya sayangkan, ajudannya Hasan Tiro si Malik Mahmud ternyata seorang pengecut dimana dia mengatakan (tidak usah sama persis), perjanjian di Helsinki masih menghasilkan perbedaan antara RI dan GAM. Nah kok tidak dibicarakan langsung perbedaan apa itu, di bidang apa ?.

Pak Ahmad coba anda ikut saja dalam perundingan pada saat ini yaitu pada tanggal 21-23 februari 2005 atau kalau seandainya pak ahmad ketinggalan keretanya Malik Mahmud, maka anda pak Ahmad bisa bernego ke Mahmud untuk ikut dalam perundingan berikutnya jika perundingan kali ini terpaksa gagal lagi dan ceritakan sejarah Aceh versi GAM/GSA sendiri. Menurut alam pikiran saya jelas kalau si Malik Mahmud sudah mengetahui dan hafal diluar kepala tentang sejarah Aceh Versi GAM/GSA. Namun dia mati kelabakan berhadapan dengan pejabat-pejabat Indonesia dan akhirnya tidak mau mengatakan perbedaan-perbedaannya. AHAAA...beraninya hanya main kibul ama anak kecil seperti saya atau beraninya hanya lewat tulisan tanpa berembug langsung ( yang satu ini khusus untuk pak Ahmad ).

Nah sekarang sedikit saya berbicara tentang kesalahpahaman Hasan Tiro maupun pak Ahmad tentang bagaimana mewujudkan syariat islam. Dan ini saya setelah membaca ulang tauziah dari Ustadz Muhammad Arifin Ilham seputar tragedy bencana aceh dimana beliau mengatakan untuk mewujudkan syariat islam maka harus mengetahui pondasinya yaitu Akidah, Ahklaq, Ibadah, Muamalah dll. Jangan terburu-buru menegakkan syariat islam jikalau pondasinya belum kuat.

Sekarang menurut alam pikiran saya memang benar itu apa yang dikatakan oleh Ustadz Muhammad Arifin Ilham dan ini memang sesuai apa yang dicontohkan oleh Rosululloh, coba mari sedikit kita lihat bagaimana sebelum madinnah dan makkah berada dibawah kaki Rosululoh atau umat islam pada saat itu. Jelaslah bahwasanya ketika Rosululloh bersama sahabatnya ketika sebelum berhijrah ke madinnah dan kembali ke makkah lagi maka Akidah, Ibadah, Muamallah, Akhlaknya sudah terbentuk sedemikian bagusnya, bahkan disuatu riwayat Ahklaknya Rosululloh adalah Alqur 'an atau bagaikan Alqur 'an yang sedang berjalan.

Sangat lucu sekali manakala ada suatu kaum ingin memberlakukan syariat islam tetapi tidak dipenuhi terlebih dahulu pondasi yang menjadi kerangkanya. Seperti contohnya di aceh, siapa bilang Aceh adalah warga yang taat terhadap agama islam ? Itu kan jaman duluuu...jaman cut nyak dien kali ya...lihat saja pada jaman sekarang di aceh banyak masjid yang ternyata kosong melompong kecuali paling maksimal hanya 1 baris (banyak laki-laki yang sholat di rumah tanpa ada udzur secara syar 'i).

Kemudian masalah Akhlak, memang untuk yang satu ini tergantung dari individu masing-masing tetapi mana kala kita lihat Aklaqnya GAM/GSA maka kita harus mengelus dada dalam-dalam ooohhh inikah Akhlak para pejuang islam (MENURUT VERSI ABU JAHAL) dimana saling main bentak, main pukul, senang kekerasan, memusuhi yang diluar anggotanya ?.

Ayoo pak Ahmad tunjukkan dimana akhlaqnya GAM/GSA Swedia ( Hasan Tiro CS ) maupun GAM/GSA Aceh ! ( orang aceh tidak akan percaya dengan Akhlaqnya Hasan Tiro cs paling mereka yang menjadi budak nafsunya saja yang mempercayai HT cs ).

Kemudian coba kita lihat mengenai muamalah orang aceh, seharusnya merekapun meniru muamallahnya Rosululloh bukannya membuat aturan sendiri, contohnya banyak barang haram yang diperjualbelikan di Aceh dan ironisnya yang menjualnya adalah orang aceh yang ingin merdeka dengan dalih menegakkan syariat islam...ada-ada saja yaa...pak ahmad. Bahkan banyak juga diketemukan ladang ganja yang ditanam orang aceh bahkan oleh GAM/GSA untuk mencari keuntungan duniawi belaka. Nah kalau sudah demikian maka menurut ustadz Muhammad Arifin Ilham syariat islam yang digembar-gemborkan GAM hanyalah sebuah kedok untuk mencari simpatisan umat islam agar mereka ( Aceh ) dapat merdeka.

Dengan kata lain menurut alam pikiran saya demikian, agama (untuk GAM/GSA, Hasan Tiro cs) hanya dijadikan kendaraan untuk menuju dunia politik praktis. Nah yang namanya kendaraan apabila orang yang mengendarainya sudah sampai ke tempat tujuan maka akan segera ditinggalkannya.

Demikianlah yang terjadi pada diri Hasan Tiro cs termasuk GAM/GSA anak buahnya yang tersebar baik di Aceh maupun di luar negri seperti Swedia dll. Pak ahmad tidak usah mencari pembenaran diri atau membela diri Hasan Tiro cs, memangnya Rosululloh dan para sahabatnya banyak yg bergelimangan harta seperti HT cs ?. Walaupun ada diantara para sahabat yang kaya raya seperti Adurrahman bin auff, dikalangan generasi berikutnya sepert umar bin abdul aziz tetapi dalam segi keagamaannya sangatlah memuaskan.

Sebuah kisah mengatakan pada saat berdatangan unta-unta yang membawa barang dagangan Abdurrahman bin auff kepadanya maka beliau disibukkan olehnya sehingga tertinggal takbirotul ula bersama imam. Kemudian Abdurrahman bin auff memberanikan diri untuk menghadap kepada Rosululloh dan berkata, bisakah saya ganti pahala takbirotul ula dengan menginfakkan semua unta saya di jalan Alloh ? Maka Rosululloh bersabda, walaupun semua harta kekayaanmu kamu infakkan untuk di jalan Alloh maka tidak bisa mengganti pahala takbirotul ula bersama imam.

Nah sekarang bagaimana dengan yang terjadi pada diri Hasan Tiro cs ( Termasuk GAM/GSA anak buahnya ) ?. Jelas sekali sangat bertolak belakang dengan kehidupan para sahabat Rosul, jangankan bersedia menginfakkan hartanya untuk mengganti sebuah amalan yang luput (missal takbirotul ula ), memakmurkan masjid saja atau paling tidak sholat brjamaah di masjid bagi GAM/GSA, rakyat Aceh masih sangat sulit dilakukannya, kecuali bagi mereka yang benar-benar mempunyai iman yang kuat, itupun hanya sebagian kecil sekali.

Sebenarnya masih banyak keraguan dan kerancun yang ada pada diri Hasan Tiro maupum pak Ahmad mengenai bagaimana cara menafsirkan agama untuk diamalkan kedalam kehidupan sehari-hari ( seperti hijrah, jihad, syariat islam dll ).

Wassalaam

Joko Riyanto

mas_rey_2004@yahoo.com
Solo, Indonesia
----------