Stockholm, 22 Februari 2005

Bismillaahirrahmaanirrahiim.
Assalamu'alaikum wr wbr.
 

NUR ABDURRAHMAN MASIH TERLALU DANGKAL DAN PICIK DALAM PERJUANGAN PENEGAKKAN ISLAM-NYA
Ahmad Sudirman
Stockholm - SWEDIA.

 

KELIHATAN ITU NUR ABDURRAHMAN MASIH TERLALU DANGKAL DAN PICIK DALAM PERJUANGAN PENEGAKKAN ISLAM-NYA

"Syahdan, 25 April 1950 dr Soumokil cs memproklamasikan berdirinya Republik Maluku Selatan (RMS) dengan mengibarkan bendera RMS benang raja/pelangi. Tentara RMS berasal dari pasukan ex Koninklijke Nederlands Indische Leger (KNIL), yang terdiri dari etnik Ambon. Setelah pasukan Siliwangi menumpas mereka, beberapa di antara gembong RMS melarikan diri keluar negeri utamanya bermukim di negeri Belanda di kota kecil Rijssen. (Saya sempat mengunjungi kota tersebut dalam tahun 1973). Soumoukil, yang tidak sempat meluputkan diri, kemudian ditangkap di p. Seram. Di negeri Belanda RMS melanjutkan aktivitasnya, dipimpin oleh Ir Manusama. Inilah peledakan bom waktu yang pertama, yang ditanam Belanda, yang tidak ikhlas melepaskan tanah jajahannya." (H. M. Nur Abdurrahman" nur-abdurrahman@telkom.net , Mon, 21 Feb 2005 23:39:46 +0700)

Baiklah saudara M. Nur Abdurrahman di Jakarta, Indonesia.

Ternyata setelah Ahmad Sudirman membaca apa yang dilambungkan Nur Abdurrahman ini, kelihatan dengan jelas bahwa Abdurrahman telah menempatkan dirinya dipihak Soekarno dan para penerusnya serta TNI.

Terbukti dengan disodorkannya fakta dan bukti mengenai telah diproklamasikannya Republik Maluku Selatan oleh Soumokil pada tanggal 25 April 1950 dari Negara Indonesia Timur (NIT). Dimana pada waktu itu NIT merupakan Negara Bagian RIS. Sebelum NIT dilebur kedalam tubuh Negara RI yang juga Negara Bagian RIS pada tanggal 19 Mei 1950.

Dari fakta yang disodorkan Abdurrahman itu ditambah dengan sikap Abdurrahman yang memihak Soekarno cs yang menelan Wilayah Republik Maluku Selatan yang sudah dimerdekakan dari NIT, dengan ungkapan: "Tentara RMS berasal dari pasukan ex Koninklijke Nederlands Indische Leger (KNIL), yang terdiri dari etnik Ambon. Setelah pasukan Siliwangi menumpas mereka, beberapa di antara gembong RMS melarikan diri keluar negeri utamanya bermukim di negeri Belanda di kota kecil Rijssen. (Saya sempat mengunjungi kota tersebut dalam tahun 1973). Soumoukil, yang tidak sempat meluputkan diri, kemudian ditangkap di p. Seram. Di negeri Belanda RMS melanjutkan aktivitasnya, dipimpin oleh Ir Manusama. Inilah peledakan bom waktu yang pertama, yang ditanam Belanda, yang tidak ikhlas melepaskan tanah jajahannya."

Nah dengan ditampilkannya sikap Abdurrahman diatas seperti "Inilah peledakan bom waktu yang pertama, yang ditanam Belanda, yang tidak ikhlas melepaskan tanah jajahannya". Itu menandakan bahwa Abdurrahman dengan nyata telah memihak Soekarno cs yang menelan dan mencaplok Republik Maluku Selatan, dan menganggap RMS diproklamasikan sebagai bom waktu yang ditanam Belanda. Dan hal itu diperkuat ketika Abdurrahman menyatakan: ""Sisa-sisa" DI/TII Abd. Qahhar Mudzakkar datang ke sana mendahului Lasykar Jihad dan Majlis Mujahidin karena orang Bugis Makassar dan ummat Islam setempat sedang shalat Iyd pada 19 Januari 1999 sekonyong-konyong diserbu dan dibantai oleh kuffar RMS."

Kemudian Abdurrahman dengan fakta lainnya menyatakan: "18 Desember 2000, jam 09.30 WIT di hotel Amboina lahirlah secara formal Neo-RMS, yaitu Front Kedaulatan Maluku (FKM), yang dideklarasikan oleh dr. Alex H.Manuputty, (ketua FKM) dan Hengki Manuhutu (sekretaris FKM). Benggolan FKM ini mendukung sepenuhnya pengibaran bendera benang raja/pelangi, yang telah dikibarkan di Gunung Nona dan Kudamati sehari sebelum tragedi 'IydulFithri berdarah seperti telah disebutkan di atas. FKM akan meneruskan perjuangan RMS yang sempat tertunda, demikian ditekankan Manuputty dalam jumpa pers seusai pendeklerasian itu. FKM/Neo-RMS merencanakan mengibarkan bendera RMS pada 25 April 2001. Inilah sisa-sisa peledakan bom waktu yang kedua itu."

Nah sekarang makin jelas, bahwa Nur Abdurrahman telah menempatkan dirinya makin kedalam dibarisan Soekarno cs dan para pengikutnya termasuk Abdurrahman Wahid waktu itu sebagai Presiden RI dan pihak TNI-nya yang waktu itu Wiranto menjabat sebagai Menhankam/Pangab Jenderal TNI.

Dengan Abdurrahman menempatkan dirinya dipihak RI dan pasukan TNI-nya maka itu membuktikan dan menunjukkan bahwa Abdurrahman yang melibatkan "Sisa-sisa" DI/TII Abd. Qahhar Mudzakkar dalam hal konflik di Maluku merupakan secara tidak langsung sebagai alat atau pelurunya TNI. Sebagaimana yang disinyalir oleh Bakhtiar Abdullah. Jadi memang bukan fitnah semata, melainkan suatu kenyataan.

Nah sekarang, kalau Abdurrahman mengatakan kepada Ahmad Sudirman: "Apa? Sebenarnya kalau mau berpikir dengan waras, bukan Laskar Jihad yang harus menghadapi RMS? Sebenarnya ente tidak berpikir waras, karana pikiran ente terpaku di atas kertas. Pikiran ente tidak waras karena ente mengabaikan keadaan lapangan. Apa yang ente tahu tentang keadaan lapangan di Ambon dan Maluku Utara, ente cuma bercokol di negeri kafir di luar sana, yang tidak pernah menghadapi peluru tajam TNI."

Jelas itu pernyataan Abdurrahman merupakan pernyataan yang membingungkan dirinya sendiri. Mengapa ? Karena disatu pihak itu Abdurrahman menjadi musuh RMS dan memihak kepada Soekarno Cs yang mencaplok wilayah Maluku Selatan, tetapi dilain pihak merasa dirinya atau kelompoknya dapat tekanan dari pihak TNI seperti yang dikatakannya: "ente cuma bercokol di negeri kafir di luar sana, yang tidak pernah menghadapi peluru tajam TNI."

Nah dengan mengatakan: "tidak pernah menghadapi peluru tajam TNI", seolah-olah menunjukkan bahwa itu Abdurrahman dengan kelompoknya menjadi lawan TNI. Kan ngaco itu. Masa Abdurrahman dan kelompoknya yang menjadi musuh dan lawan kuffar RMS ternyata harus menghadapi peluru tajam TNI.

Yang sebenarnya dimaksudkan oleh Abdurrahman dengan pernyataan: "tidak pernah menghadapi peluru tajam TNI" ini adalah karena memang ada dari pihak anggota RMS yang keluarganya anggota TNI. Dan hal ini dinyatakan dan diakui oleh Menhankam/Pangab Jenderal TNI Wiranto waktu itu bahwa dalam kerusuhan di Maluku khususnya Kodya Ambon, beberapa oknum prajurit ABRI putra daerah memihak kelompok tertentu. Hal ini karena adanya ikatan kekeluargaan, sehingga tidak dapat melaksanakan tugas sebagaimana mestinya. Akibatnya, mereka melanggar ketentuan dan memihak kelompok tertentu. Dari perbincangan dengan para perwira, dari kolonel ke atas yang berasal dari Ambon, Selasa malam lalu, mereka sebenarnya mengerti kondisi daerahnya, karena lahir dan dibesarkan di Ambon. ( http://www.dataphone.se/~ahmad/990305.htm )

Jadi, bukan pasukan TNI yang resmi ditugaskan Abdurrahman Wahid dengan Keppres No.88/2000 itu yang menembak pelurunya kearah saudara Abdurrahman dan "Sisa-sisa" DI/TII Abd. Qahhar Mudzakkar melainkan orang-orang anggota TNI yang memang memihak keluarganya yang sedang memperjuangkan kemerdekaan Maluku Selatan.

Karena itu, tidak benar menurut fakta bahwa pihak Abdurrahman dan "Sisa-sisa" DI/TII Abd. Qahhar Mudzakkar "menghadapi peluru tajam TNI". Yang benar adalah Abdurrahman dan "Sisa-sisa" DI/TII Abd. Qahhar Mudzakkar mendapat hantaman peluru anggota TNI yang memihak kepada RMS, bukan pasukan TNI yang membawa misi dari Abdurahman Wahid dan Wiranto.

Nah, kalau Ahmad Sudirman menyatakan bahwa memang benar yang harus menghadapi RMS musuhnya Abdurrahman dan kelompoknya, dan juga musuhnya RI dan TNI adalah pasukan TNI, bukan Abdurrahman, atau "Sisa-sisa" DI/TII Abd. Qahhar Mudzakkar, atau Laskar Jihad atau Laskar Mujahidin. Mengapa ?

Karena itu Abdurrahman atau "Sisa-sisa" DI/TII Abd. Qahhar Mudzakkar, atau Laskar Jihad atau Laskar Mujahidin adalah hanya merupakan alat dan pelurunya TNI dibawah perintah Menhankam/Pangab Jenderal TNI Wiranto dan Presiden Abdurrahman Wahid saja.

Kemudian kalau itu Abdurrahman atau kelompoknya tetap saja melakukan perlawanan terhadap anggota RMS, maka akhirnya kena sapu peluru TNI juga. Mengapa ? Karena TNI menganggap Abdurrahman dan kelompoknya itu membuat kekacauan di Maluku dan Maluku Utara berdasarkan Keppres No.88/2000 itu.

Nah inilah yang Ahmad Sudirman katakan bahwa TNI yang harus melawan RMS bukan Laskar Jihad atau Laskar Mujahidin atau Abdurrahman atau atau "Sisa-sisa" DI/TII Abd. Qahhar Mudzakkar.

Terakhir, kalau saudara Abdurrahman dan pihak "sisa-sisa" DI/TII Abd. Qahhar Mudzakkar tersinggung dan tidak mau memaafkan hanya dengan dikatakan sebagai alat TNI dan sebagai pengacau atau teroris menurut Bakhtiar Abdullah, maka sebenarnya itu Abdurrahman masih picik dan dangkal pandangan dan taktik strategi perjuangannya. Mengapa ?

Sebenarnya, kalau memang benar itu Abdurrahman dan pihak "sisa-sisa" DI/TII Abd. Qahhar Mudzakkar membela dan mau menegakkan Daulah Islamiyah, maka tidak akan menyokong dan membantu Soekarno cs dan para penerusnya yang terus menjajah Acheh, Papua Barat dan Maluku Selatan. Sedangkan mujahid Islam besar DI/TII Abdul Qahhar Mudzakkar tidak membela Soekarno dan RI-nya. Dan tidak mempermasalahkan itu Soumokil memproklamasikan Maluku Selatan dari Negara Indonesia Timur menjadi Republik Maluku Selatan. Biarkan itu rakyat Ambon menentukan nasib mereka sendiri sebagaimana dulu perjuangan umat Islam Sulawesi Selatan dibawah pimpinan Abdul Qahhar Mudzakkar menegakkan dan membangun Negara Islam dan bergabung dengan NII Imam SM Kartosoewirjo.

Jadi, Abdurrahman ini kepada rakyat Acheh dibawa Teungku Hasan Muhammad di Tiro ditentang, perjuangan rakyat Papua Barat juga ditentangnya, begitu juga rakyat Ambon yang berjuang untuk kemerdekaan negerinya ditentangnya. Jadi yang tidak ditentang oleh Abdurrahman justru itu Soekarno dengan RI dan pancasilanya yang telah menelan Negeri Acheh, Papua Barat dan Maluku Selatan. Sebaiknya kalian Abdurrahman perjuangkan itu wilayah Sulawesi Selatan sebagai wilayah Daulah Islamiyah sebagaimana yang diperjuangkan oleh Abdul Qahhar Mudzakkar itu. Bukan ikut-ikutan membela Soekarno cs dan para penerusnya beserta TNI-nya. Dan ikut-ikutan kaum Wahhabi Saudi Arabia dengan Laskar Jihadnya itu.

Kemudian itu soal teroris, mengapa kalian Abdurrahman merasa tersinggung dikatakan teroris, kalau memang kalian bukan teroris, cepat tanggapi dan bantah. Sebagaimana yang dilakukan oleh pihak ASNLF yang dikatakan teroris oleh pihak Pemerintah dan DPR/MPR RI. Tetapi pihak ASNLF cepat membantahnya, dengan menyatakan tidak ada di pemerintah asing di dunia ini yang menganggap ASNLF organisai payung perjuangan kemerdekaan Acheh sebagai teroris, yang menganggap teroris adalah hanya pihak Pemerintah RI dan DPR/MPR, serta TNI-nya saja yang budek itu.

Bagi yang ada minat untuk menanggapi silahkan tujukan atau cc kan kepada ahmad@dataphone.se agar supaya sampai kepada saya dan bagi yang ada waktu untuk membaca tulisan-tulisan saya yang telah lalu yang menyinggung tentang Khilafah Islam dan Undang Undang Madinah silahkan lihat di kumpulan artikel di HP http://www.dataphone.se/~ahmad

Hanya kepada Allah kita memohon pertolongan dan hanya kepada Allah kita memohon petunjuk, amin *.*

Wassalam.

Ahmad Sudirman

http://www.dataphone.se/~ahmad
www.ahmad-sudirman.com
ahmad@dataphone.se
---------

From: "H. M. Nur Abdurrahman" nur-abdurrahman@telkom.net
To: "Ahmad Sudirman" ahmad@dataphone.se
Cc: "ahmad mattulesy" ahmad_mattulesy@yahoo.com
Subject: Re: NUR ABDURRAHMAN MASIH TIDAK MENGERTI TNI PAKAI LASKAR JIHAD & LASKAR MUJAHIDIN SEBAGAI ALAT
Date: Mon, 21 Feb 2005 23:39:46 +0700

D I U L A N G I

Apa? Sebenarnya kalau mau berpikir dengan waras, bukan Laskar Jihad yang harus menghadapi RMS? Sebenarnya ente tidak berpikir waras, karana pikiran ente terpaku di atas kertas. Pikiran ente tidak waras karena ente mengabaikan keadaan lapangan. Apa yang ente tahu tentang keadaan lapangan di Ambon dan Maluku Utara, ente cuma bercokol di negeri kafir di luar sana, yang tidak pernah menghadapi peluru tajam TNI. ABRI pada waktu itu tidak berdaya menahan pembantaian RMS terhadap ummat Islam di Ambon dan Maluku.

Kalau Lasykar Jihad, Majlis Mujahidin dan "sisa-sisa" DI/TII Abd. Qahhar Mudzakkar tidak cepat datang, ummat Islam akan habis dibantai kuffar RMS. "Sisa-sisa" DI/TII Abd. Qahhar Mudzakkardatang ke sana mendahului Lasykar Jihad dan Majlis Mujahidin karena orang Bugis Makassar dan ummat Islam setempat sedang shalat Iyd pada 19 Januari 1999 sekonyong-konyong diserbu dan dibantai oleh kuffar RMS.

Sudah dua ketesinggungan "sisa-sisa" DI/TII Abd. Qahhar Mudzakkar, pertama difirnah terrorist dan kedua difitnah boneka TNI. Dan itu tidak dapat kami maafkan, dan menjadi utang ente dan pemfitnah yang lain, yang akan kami tagih insya-Allah fiy Yawm alDiyn.

Tidak pakai salam lagi.

H. M. Nur Abdurrahman

nur-abdurrahman@telkom.net
Jakarta, Indonesia
----------

BISMILLA-HIRRAHMA-NIRRAHIYM
http://www.bismillah.co.nr
WAHYU DAN AKAL - IMAN DAN ILMU
[Kolom Tetap Harian Fajar]
472. RMS, Bom Waktu yang Ditanam Belanda

Menjelang akhir April 2001, segenap telinga dan mata diarahkan ke Jakarta, karena terpengaruh oleh tiga titik-waktu, yaitu: Tgl 25 (mulai mengalirnya PBM ke Jakarta dan pembukaan masa sidang DPR), tgl 29 (warga NU beristighatsah) dan tgl 30 (sidang paripurna DPR untuk mengeluarkan(?) Memo II). Namun tidak ada salahnya, terkait dengan tgl 25 April, jika telinga dan mata itu diarahkan pula sekilas ke sebelah timur Makassar. Ada apa gerangan?

Syahdan, 25 April 1950 dr Soumokil cs memproklamasikan berdirinya Republik Maluku Selatan (RMS) dengan mengibarkan bendera RMS benang raja/pelangi. Tentara RMS berasal dari pasukan ex Koninklijke Nederlands Indische Leger (KNIL), yang terdiri dari etnik Ambon. Setelah pasukan Siliwangi menumpas mereka, beberapa di antara gembong RMS melarikan diri keluar negeri utamanya bermukim di negeri Belanda di kota kecil Rijssen. (Saya sempat mengunjungi kota tersebut dalam tahun 1973). Soumoukil, yang tidak sempat meluputkan diri, kemudian ditangkap di p. Seram. Di negeri Belanda RMS melanjutkan
aktivitasnya, dipimpin oleh Ir Manusama. Inilah peledakan bom waktu yang pertama, yang ditanam Belanda, yang tidak ikhlas melepaskan tanah jajahannya.

Ingatlah, 19 Januari 1999 terjadi tragedi 'IydulFithri berdarah di Ambon, yang pada waktu itu terdengar yel yel: hidup RMS, hidup RMS, dipekikkan saat pembantai membantai ummat Islam yang sedang shalat 'IydulFitri. Sehari sebelumnya, 18 Januari 1999, bendera RMS dikibarkan di Gunung Nona dan Kudamati. Maka jelas, akar penyebab konflik horisontal di Maluku adalah masalah politik, yaitu dalam rangka menghidupkan kembali RMS. Jadi bukan
karena kesenjangan sosial antara BBM yang pendatang versus penduduk setempat, seperti disangka banyak orang selama ini. Mengapa kemudian berwujud menjadi konflik horisontal di antara dua kubu Muslim versus Kristen, oleh karena yang membantai ummat Islam yang sedang shalat 'IydulFithri tentulah bukan orang-orang Islam, melainkan niscaya orang-orang
Kristen yang diprovokasi oleh provokator-provokator "penerus RMS" (baca: Neo-RMS). Patut diduga bahwa Neo-RMS ini berideologi marxis, ataupun sekurang-kurangnya neo-marxis, yang berdogma pada historische materialismenya Karl Marx, sehingga mereka senantiasa menempuh upaya mencipta-kan dan mengembangkan pertentangan kelas (baca: agama). Inilah peledakan bom waktu yang kedua, yang ditanam Belanda.

18 Desember 2000, jam 09.30 WIT di hotel Amboina lahirlah secara formal Neo-RMS, yaitu Front Kedaulatan Maluku (FKM), yang dideklarasikan oleh dr. Alex H.Manuputty, (ketua FKM) dan Hengki Manuhutu (sekretaris FKM). Benggolan FKM ini mendukung sepenuhnya pengibaran bendera benang raja/pelangi, yang telah dikibarkan di Gunung Nona dan Kudamati sehari sebelum tragedi 'IydulFithri berdarah seperti telah disebutkan di atas. FKM
akan meneruskan perjuangan RMS yang sempat tertunda, demikian ditekankan Manuputty dalam jumpa pers seusai pendeklerasian itu. FKM/Neo-RMS merencanakan mengibarkan bendera RMS pada 25 April 2001. Inilah sisa-sisa peledakan bom waktu yang kedua itu.

Kamis, 4 Januari 2001 dilaksanakan demo besar-besaran di depan Masjid Al Fatah, dihadiri massa yang terdiri dari 14 lembaga Islam, 16 OKP Islam, 19 Raja (Kepala Desa) seluruh p.Ambon dan 15 Posko Jihad. Massa pendemo menuntut kepada Penguasa Darurrat Sipil (PDS) untuk menindak tegas para deklator FKM/Neo-RMS. Kamis 14 Januari 2001 Kapolda Maluku Firman Gani menangkap Alex H. Manuputty. Namun kemudian dibebaskan kembali.

Gubernur Maluku Saleh Latuconsina selaku Penguasa Darurat Sipil (PDS) Maluku, akhirnya mampu melihat secara benar kedudukan separatis FKM/Neo-RMS tersebut. Pada hari Senin, 16 April 2001, Gubernur mengeluarkan SK No. 09/PDSDM/IV/2001, yang berlaku sejak dikeluarkannya. Isi SK tersebut melarang FKM/Neo-RMS beraktifitas di Maluku. Larangan itu disampaikan Saleh Latuconsina kepada pers di kantor Gubernur, dan juga melalui TVRI Ambon. Gubernur juga membaca SK itu untuk diketahui masyarakat. Keputusan tersebut
juga meliputi larangan mengibarkan bendera RMS, atau bendera dengan nama apapun yang warnanya identik dengan bendera RMS. Agar SK tersebut dapat dilaksanakan oleh seluruh jajaran PDS, maka Gubernur memerintahkan kepada Kapolda, Pangdam, Kajati dan para Bupati/Walikota untuk mengamankan keputusan itu.

Walaupun telah dilarang melakukan berbagai bentuk kegiatan di Maluku oleh Penguasa Darurat Sipil (PDS) Maluku, Front Kedaulatan Maluku (FKM) tetap nekat melakukan aksinya mengibarkan bendera Republik Maluku Selatan (RMS) di Ambon, Rabu (24/4) sekitar pukul 07.00 WIT. Pengibaran ini dilakukan dalam rangka memperingati kemerdekaan RMS. FKM mengklaim, 25 April 1950 merupakan hari kemerdekaan RMS. Pimpinan Eksekutif FKM, Alex Manuputty, kepada pers di Ambon seusai upacara tersebut menjelas-kan, pengibaran bendera dan peringatan hari 'kemerdekaan' RMS itu merupakan bukti dan cita-cita yang
akan dicapai oleh FKM, mencapai Maluku merdeka. Upacara yang dilaksanakan di kediaman Alex Manuputty, di Jl. DR. Kayadoe, Kudamati yang juga dijadikan markas RMS itu, diikuti oleh massa pendukung RMS. Terlihat, sepanjang halaman dipadati oleh massa RMS yang notabene semuanya warga kristen. Massa separatis tersebut juga meminta Manuputty untuk memperjuangkan kemerdekaan Nasrani Maluku. "Bendera RMS yang kami kibarkan itu merupakan cita-cita yang akan kami raih, yaitu menciptakan Maluku merdeka, terlepas dari RI. Dan itu yang kami perjuangkan." Katanya. Selain di Kudamati, bendera RMS juga dikibarkan di desa Batu Gajah, Bere-Bere, Latuhalat, Aboru (Haruku), P. Nusa Laut. Berjalan sepuluh menit setelah bendera itu dinaikkan, sekitar satu peleton polisi Polda Maluku datang di lokasi. Dengan lemah lembut, Kapten John Maiitimu yang memimpin polisi itu meminta Alex Manuputty mengijinkan polisi menurunkan bendera itu. Setelah bersendau gurau dengan Manuputty, semua anggota polisi yang ternyata kristen semua itu menurunkan bendera yang
dikibarkan. Sehabis menurunkan, tidak ada niatan polisi untuk membawa Manuputty ke Mapolda Maluku, bahkan terlihat antara polisi dan pengurus FKM terlihat mesra. Hal ini terjadi karena di antara massa pendukung RMS terdapat pengurus gereja protestan Maluku

Temuan berdasarkan data dan fakta menunjukkan, gerakan separatis dan makar RMS didukung penuh oleh Gereja Kristen di Maluku. Fakta itu di antaranya:

1. Semy Waeleruny, SH yang merupakan pimpinan Yudikatif FKM juga merupakan koordinator Tim Pengacara Gereja (TPG).

2. Dukungan kelompok Kristen terhadap perjuangan FKM dibuktikan dengan gerakan menuntut pembebasan Pimpinan Eksekutif FKM, dr. Alex Manuputty, dari tahanan Polda Maluku, yang arak-arakan massanya dimulai dari Gereja Maranatha.

3. TPG melakukan pembelaan hukum terhadap perjuangan Alex Manuputty.

4. Gereja melalui Tim Pengacara Gereja dan elit-elit Kristen menolak keberadaan sesama anak bangsa di Maluku yang berjihad mempertahan-kan wilayah negara dari rongrongan separatis Kristen RMS, tapi di sisi lain menuntut adanya intervensi PBB.

Akhirulkalam, kepada Gubernur Maluku Saleh Latuconsina selaku Penguasa Darurat Sipil Maluku kami himbau: Wahai Gubernur Latuconsina, setelah selesai mengeluarkan SK melarang aktivitas FKM/Neo-RMS, maka tindak lanjutilah dengan membubarkan separatis
FKM/Neo-RMS tersebut, kemudian tangkap dan adili gembong-gembongnya. -- FADZA FRGHT FANSHB. WALY RBK FARGHB (S. ALANSYRAH, 7-8), dibaca: Faidza-
faraghta fanshab. Waila- rabbika farghab (s. al.insyira-h), artinya: Apabila engkau telah selesai (melakukan pekerjaan), maka berupayalah (menindak-lanjuti). Dan kepada Maha Pemeliharamu berharaplah (94:7-8). WaLlahu A'lamu bi Al Shawa-b.

Makassar, 29 April 2001
[H.Muh.Nur Abdurrahman]
----------