Stockholm, 22 Februari 2005

Bismillaahirrahmaanirrahiim.
Assalamu'alaikum wr wbr.
 

ARDIANSYAH, ITU MASALAH OTONOMI HARUS DIREFERENDUMKAN BUKAN DITENTUKAN OLEH RI & ASNLF
Ahmad Sudirman
Stockholm - SWEDIA.

 

ARDIANSYAH, ITU MARTTI AHTISAARI DAN DAMIEN KINGSBURY MENDUKUNG SOLUSI POLITIK DAN SOLUSI PENETAPAN MELALUI REFERENDUM

"Nah Saudara Ahmad Sudirman alias daito Pungo. Tidak ada yang mendukung anda dalam usaha anda memecah belah Bangsa Indonesia dengan Bangsa Acheh. Gencatan senjata tetap berjalan, dan itu salah satu kemenangan Bangsa Indonesia termasuk didalamnya Rakyat Acheh. Faktanya : Anda perlu cam kan Daito Pungo !. Kalau anda dkk masih tetap merupakan Warga negara Asing." (Muhammad Ardiansyah, Muhammad.Ardiansyah@hm.com , Tue, 22 Feb 2005 16:01:43 +0700)

Baiklah Ardiansyah di Jakarta, Indonesia.

Kelihatan Ardiansyah kunyuk rawun satu ini makin jungkir jumpalit sehabis makan cabe rawit yang pedas itu sehinga badannya terguling-guling sambil berteriak cuak-cuak.

Ardiansyah, itu mantan Presiden Finlandia, Martti Ahtisaari adalah sebagai fasilitator untuk terlaksananya perundingan RI-ASNLF ini. Dimana dalam perundingan itu sedang dicari jalur kesamaan untuk menemukan kesamaan dalam penyelesaian konflik Acheh. Titik-titik temu masih susah untuk didapatkan. Tetapi, mereka terus mencari dan mencari.

Disinilah bahwa titik-titik yang akan dan sedang dibicarakan adalah mengenai masalah gencatan senjata, waktu pelaksanaannya dan sistim monitoringnya. Adapun masalah otonomi khusus dengan UU No.18/2001 dan tawaran amnesti itu tidak disinggungnya.

Karena baik pihak RI ataupun pihak ASNLF tidak menyinggung secara terbuka masalah otonomi ini. Melainkan dari pihak RI hanya berani menyebutkan masalah subtansi dari otonomi itu sendiri. Artinya, tidak membahas pasal per pasal apa yang tertuang dalam UU No.18/2001. Dimana substansi dari otonomi yang disinggung oleh pihak RI adalah seperti pelaksanaan penghentian permusuhan dan melakukan perdamaian.

Karena dari pihak ASNLF yang lebih penting dalam saat pertama ini adalah adanya keamanan di Acheh. Caranya dengan melakukan gencatan senjata dan bagaimana pelaksanaan sistem monitoringnya serta berapa lama gencatan senjata itu akan berlangsung.

Baru setelah itu masalah yang penting ini bisa diterima secara sepakat, bisa membicarakan masalah otonomi. Dan tentu saja masalah otonomi ini harus diserahkan kepada seluruh rakyat Acheh untuk menentukan dan memutuskannya melalui cara plebisit yang disaksikan oleh PBB sebagaimana yang pernah dilakukan di Timor Timur pada tanggal 30 Agustus 1999.

Kemudian, kalau ada pihak lain seperti disinggung dalam berita yang dilampirkan kalian Ardiansyah, itu Damien Kingsbury, dosen senior Pembangunan Internasional di Deakin University, Melbourne, yang menjadi tim penasihat delegasi ASNLF menyatakan bahwa tentara adalah bagian dari problem, bukan solusi dan pihak ASNLF menekankan bahwa apa pun perjanjian yang tercapai nanti harus direferendumkan di Aceh.

Jelas, dari apa yang dilontarkan oleh Kingsbury itu bahwa masalah yang dibicarakan seperti misalnya masalah otonomi, itu harus direferendumkan oleh rakyat Acheh. Artinya, bukan ASNLF atau pihak RI yang bisa menyatakan bahwa otonomi atau otonomi khusus harus diterapkan di Acheh, melainkan melalui referendum.

Nah inilah sebenarnya apa yang sedang dan masih dibicarakan dalam perundingan RI-ASNLF Ardiansyah kunyuk rawun, kalau kalian masih budek saja, dan masih saja tidak paham dan tidak mengerti mengenai apa yang sedang dibicarakan dan dirundingkan di Koningstedt, Finlandia itu.

Kalau pihak Martti Ahtisaari menyatakan: "Kami tidak tahu apa hasil akhirnya nanti. Dalam pengertian itu pertemuan kali ini penting karena setelah itu kita akan tahu apakah negosiasi-negosiasi ini akan membuahkan sesuatu atau tidak". Begitu juga dengan yang dikatakan oleh Kingsbury bahwa "tentara adalah bagian dari problem, bukan solusi. Dan apa pun perjanjian yang tercapai nanti harus direferendumkan di Aceh."

Itu semuanya bukan berarti penyataan yang tidak mendukung perjuangan kemerdekaan rakyat Acheh, melainkan suatu bentuk pengungkapan adanya persetujuan bahwa penyelesaian konflik Acheh itu diselesaikan melalui perundingan dan melalui referendum.

Jadi adalah tidak benar kalau kalian Ardiansyah budek menyatakan bahwa "Tidak ada yang mendukung anda dalam usaha anda memecah belah Bangsa Indonesia dengan Bangsa Acheh"

Bagi yang ada minat untuk menanggapi silahkan tujukan atau cc kan kepada ahmad@dataphone.se agar supaya sampai kepada saya dan bagi yang ada waktu untuk membaca tulisan-tulisan saya yang telah lalu yang menyinggung tentang Khilafah Islam dan Undang Undang Madinah silahkan lihat di kumpulan artikel di HP http://www.dataphone.se/~ahmad

Hanya kepada Allah kita memohon pertolongan dan hanya kepada Allah kita memohon petunjuk, amin *.*

Wassalam.

Ahmad Sudirman

http://www.dataphone.se/~ahmad
www.ahmad-sudirman.com
ahmad@dataphone.se
---------

Subject: Gam Dalam keadaan terjepit dan terhina
Date: Tue, 22 Feb 2005 16:01:43 +0700
From: <Muhammad.Ardiansyah@hm.com>
To: <ahmad@dataphone.se>, <serambi_indonesia@yahoo.com>, <balipost@indo.net.id>, <newsletter@waspada.co.id>, <redaksi@pikiran-rakyat.com>, <editor@pontianak.wasantara.net.id>, <hudoyo@cbn.net.id>, <jktpost2@cbn.net.id>, <redaksi@kompas.com>, <redaksi@satunet.com>, <redaksi@waspada.co.id>, <waspada@waspada.co.id>, <webmaster@detik.com>, <kompas@kompas.com>, <Padmanaba@uboot.com>, solopos@bumi.net.id

Assalamu'alaikum wr wbr.

Nah Saudara Ahmad Sudirman alias daito Pungo. Tidak ada yang mendukung anda dalam usaha anda memecah belah Bangsa Indonesia dengan Bangsa Acheh. Gencatan senjata tetap berjalan, dan itu salah satu kemenangan Bangsa Indonesia termasuk didalamnya Rakyat Acheh. Faktanya : Anda perlu cam kan Daito Pungo !. Kalau anda dkk masih tetap
merupakan Warga negara Asing !!!

Coba cam kan dan cermati berita dibawah ini

Selasa, 22 Februari 2005. Berita: RI-GAM Bahas Proposal Otonomi Khusus

Delegasi dari pemerintah Republik Indonesia dan Gerakan Aceh Merdeka (GAM), Senin (21/2) bertemu lagi dalam perundingan babak kedua di Finlandia. Kali ini kedua pihak membahas antara lain proposal pemerintah Indonesia mengenai otonomi khusus bagi Aceh.

Perundingan ini merupakan lanjutan dari pertemuan pertama pada 27-29 Januari dengan mediasi Crisis Management Initiative (CMI), lembaga independen yang dipimpin bekas presiden Finlandia Martti Ahtisaari. Seperti pertemuan pertama, perundingan berlangsung di estat Koeningstedt, di luar Helsinki. Ahtisaari dijadwalkan memberikan keterangan pers pada Rabu setelah perundingan babak kedua ini selesai.

"Mereka membahas pokok-pokok proposal pemerintah tentang otonomi khusus bagi Aceh, termasuk perlucutan senjata dan rehabilitasi tentara GAM," Kata Maria-Elena Cowell, juru bicara CMI. Cowell mengungkapkan, secara terpisah kedua delegasi terlebih dulu bertemu dengan Ahtisaari, lalu memulai sesi gabungan dengannya. "Kini masih berlangsung," kata Cowell dua jam setelah perundingan dimulai pada pukul 09.00 waktu setempat (Senin, 14.00 WIB).

Seperti pada babak pertama, delegasi Indonesia terdiri dari Menteri Koordinator Bidang Politik, Hukum, dan Keamanan Widodo A.S., Menteri Hukum dan HAM Hamid Awaluddin, dan Menteri Komunikasi dan Informasi Sofyan Djalil. Menteri Sofyan Djalil, yang dihubungi Tempo, Senin (21/2) malam melalui saluran telepon internasional, belum bersedia memberi
keterangan tentang pertemuan itu. "Saya belum bisa ngomong, Mas," katanya dengan suara pelan.

Menurut CMI, GAM juga mengirim delegasi yang sama, dipimpin "Perdana Menteri" Malik Mahmud dan "Menteri Luar Negeri" Zaini Abdullah. Namun, koran Australia Sydney Morning Herald kemarin melaporkan Damien Kingsbury, dosen senior Pembangunan Internasional di Deakin University, Melbourne, kini resmi menjadi tim penasihat delegasi GAM.

"Saya kini resmi bagian dari tim 'ruang belakang' yang menasihati para pemimpin GAM dalam negosiasi dengan tim Indonesia," kata Indosianis itu. Kingsbury, yang menghadiri pertemuan pertama dan kedua di Helsinki, mengatakan bahwa GAM akan mengesampingkan tuntutan kemerdekaan asalkan pemerintah Indonesia menarik atau melucuti ke-40 ribu tentara dan polisi paramiliter dari Aceh dan mengizinkan pasukan multinasional memantau gencatan senjata.

"Tentara adalah bagian dari problem, bukan solusi," kata Kingsbury. GAM, menurut dia, juga menekankan bahwa apa pun perjanjian yang tercapai nanti harus direferendumkan di Aceh. Kingsbury membenarkan bahwa delegasi GAM akan meminta klarifikasi dari pemerintah Indonesia mengenai tawaran otonomi khusus.

Kingsbury memperkirakan pemerintah Indonesia akan sensitif terhadap keterlibatan dirinya. Namun, dia berharap Indonesia mau menerima upaya dia dalam membantu mengakhiri perang, bukan untuk mendukung tujuan-tujuan GAM. "Saya di sana tidak untuk mendukung kemerdekaan Aceh, melainkan berusaha mencapai hasil politik melalui negosiasi."

Dalam wawancara dengan kantor berita AFP pekan lalu, Ahtisaari mengatakan bahwa babak kedua ini penting untuk melihat apakah kedua pihak bisa mencapai dasar bersama bagi negosiasi berikutnya. "Kami tidak tahu apa hasil akhirnya nanti. Dalam pengertian itu pertemuan kali ini penting karena setelah itu kita akan tahu apakah negosiasi-negosiasi ini
akan membuahkan sesuatu atau tidak," katanya.

Upaya perdamaian yang diprakarsai Ahtisaari ini terdorong oleh kebutuhan untuk mengamankan bantuan internasional di Aceh yang dilanda gempa dan tsunami pada 26 Desember. Meski ada isyarat hubungan yang membaik, kedua pihak mempunyai pendekatan berbeda terhadap perundingan. Bagi Indonesia, kerangka otonomi adalah harga mati dalam penyelesaian konflik di Aceh. Sebaliknya, GAM menuntut kemerdekaan.

Meski begitu, para pemimpin GAM yang mengasingkan diri di Stockholm, Swedia, menyatakan terbuka terhadap semua ide. Sehari sebelum perundingan kemarin, Malik Mahmud mengatakan, pihaknya akan mempelajari proposal otonomi yang disodorkan pemerintah Indonesia di samping mencari berbagai opsi lainnya.

Nah Saudara Ahmad Sudirman alias daito Pungo.

Tidak ada yang mendukung anda dalam usaha anda memecah belah Bangsa Indonesia dengan Bangsa Acheh.. Gencatan senjata tetap berjalan , dan itu salah satu kemenangan Bangsa
Indonesia termasuk didalamnya Rakyat Acheh. Faktanya : Anda perlu cam kan Daito Pungo !. Kalau anda dkk masih tetap merupakan Warga negara Asing !!!

Wassalam

Ardi

Muhammad.Ardiansyah@hm.com
Jakarta, Indonesia
----------