Stockholm, 1 Maret 2005

Bismillaahirrahmaanirrahiim.
Assalamu'alaikum wr wbr.
 

MUBA, ITU ORANG TRANSMIGRAN JAWA YANG KOLABORASI DENGAN TNI, JADI MUSUH RAKYAT ACHEH YANG SADAR
Ahmad Sudirman
Stockholm - SWEDIA.

 

MEMANG MUBA, ITU ORANG TRANSMIGRAN JAWA YANG KOLABORASI DENGAN TNI, MENJADI MUSUH RAKYAT ACHEH YANG TELAH SADAR UNTUK MENENTUKAN NASIB SENDIRI

"Ini dia GAM pelindung dan harapan masyarakat Aceh. Kisah Sandera GAM: Saya Dilepas karena Tak Terbukti Memiliki Kebun Jati 12 Januari 2004" (Muba Zir , mbzr00@yahoo.com ,Mon, 28 Feb 2005 16:36:14 -0800 (PST))

"GAM butuh duit tuh, Mad. GAM Kembali Sandera dan Minta Uang Tebusan, 27 Mei 2002" (Muba Zir , mbzr00@yahoo.com , Mon, 28 Feb 2005 16:30:48 -0800 (PST))

Baiklah Muba di Paris, Perancis.

Rupanya Muba budek ini mencoba menampilkan fakta yang sudah sekitar tiga tahun yang lalu yang dimuat oleh surat kabar online sinarharapan.co.id dengan judul "GAM Kembali Sandera dan Minta Uang Tebusan", yang dipublikasikan pada tanggal 27 Mei 2002. Dimana isi beritanya adalah karyawan SPBU Langsa, Sudirman (28), diculik GAM sewaktu melayani pembeli bensin. Dalam aksi itu GAM meminta uang tebusan sebesar Rp 300 juta. Dimana berita ini dikutip dari siaran pers yang disampaikan Dansatgaspen Koops TNI Mayor Inf Zaenal Muttaqin, Minggu, 26 Mei 2002.

Nah, ini cerita yang menurut Muba budek merupakan fakta untuk disodorkan di mimbar bebas ini. Dimana fakta ini sudah hampir 3 tahun yang lalu. Dimana kalau melihat yang disandera itu bernama Sudirman, jelas itu bukan orang Acheh asli. Itu kemungkinan besar orang dari luar Acheh. Atau mungkin juga dari Sunda atau dari Jawa kowek sana, satu kampung dengan Muba budek yang di Paris sekarang. Yang jelas bukan Ahmad Sudirman.

Jadi, yang jelas dan pasti, itu yang diculik adalah bukan orang Acheh, kemungkinan besar adalah orang yang dianggap musuh atau mata-mata atau kolaborator TNI. Karena itu yang bernama Sudirman ini ditangkap oleh pihak GAM.

Hanya persoalannya, itu cerita gombal ini tidak ada kelanjutannya. Karena memang itu Muba budek hanya memungut dari tempat sampah didepan tukang kebab orang Arab Libanon di kota Paris.

Jadi Muba budek, kalau itu kalian tampilkan untuk menyatakan bahwa pihak GAM pada bulan Mei tahun 2002 berkoar-koar mengenai tegakkan hukum dan keadilan, adalah masih lumayan dibandingkan dengan pihak Megawati dan Susilo Bambang Yudhoyono yang pada waktu itu menjabat sebagai Menteri Koordinator Hukum, Politik dan Keamanan yang gombal. Yang terus saja melakukan pembunuhan terhadap rakyat muslim Acheh yang telah sadar untuk menentukan nasib sendiri.

Dan tentu saja, siapa saja orang transmigran Jawa yang menjadi kolaborator TNI, maka orang tersebut menjadi musuh TNA. Begitu juga itu Muba budek ini karena terus-terusan mengikuti ekor Susilo Bambang Yudhoyono dan mendukung penuh TNI, maka Muba budek telah menjadi musuh TNA dan rakyat muslim Acheh yang telah sadar untuk menentukan nasib sendiri bebas dari pengaruh kekuasaan Negara pancasila. Dan dibenarkan apabila TNA menangkap Muba budek untuk diadili menurut aturan perang yang berlaku di Acheh. Muba budek adalah kolaborator dan tangan kanan TNI budek pembunuh rakyat muslim Acheh TNA. Bersiap-siaplah Muba budek.

Selanjutnya Muba budek melampirkan cerita lainnya yang juga diambil dari surat kabar online sinarharapan.co.id yang berjudul "Kisah Sandera GAM: Saya Dilepas karena Tak Terbukti Memiliki Kebun Jati", yang dipublikasikan pada tangal 12 Januari 2004, setahun lebih yang lalu. Dimana isi beritanya adalah M Asyik Ibrahim, Imuem Mukim (tokoh agama) di Bukit Baro Kecamatan Montasik Aceh Besar, dibebaskan Jumat siang, 2 Januari 2004, tanpa syarat, setelah tiga hari disekap Gerakan Aceh Mereka di Montasik. Dengan alasan karena ia tidak terbukti memiliki kebun jati.

Nah, jelas cerita model begini sengaja ditampilkan Muba budek untuk dijadikan alat pemukul TNA. Karena didalamnya diselipkan pajak Nanggroe. Mengenai pajak nanggroe ini memang dibenarkan untuk diterapkan diwilayah yang dikuasai oleh ASNLF dan TNA. Dan itu merupakan kebijaksanaan politik dan ekonomi di wilayah de-facto yang dikuasai oleh ASNLF dan TNA. Karena itu adanya usaha propaganda gombal dari Muba budek ini, tidak akan mempan untuk dipakai alat pemukul, karena memang isinya seperti lumpur hitam yang tidak mempunyai kekuatan dasar hukum. Sehingga itu cerita Asyik Ibrahim hanyalah cerita sambil lalu begitu saja. Masuk telinga kanan, keluar dari telinga kiri.

Selanjutnya, itu Muba budek, dengan cerita yang diambil dari sinarharapan.co.id ini juga sengaja untuk menampilkan masalah penahanan Camat Peureulak Timur, Furqan yang ditahan selama enam bulan. Tetapi telah dibebaskan pada hari kedua lebaran Idul Fitri, 28 November 2003 dengan tebusan Rp 30 juta. Kelihatan disini bahwa itu Muba mencoba menunjukkan bahwa GAM melakukan penyanderaan untuk mendapat tebusan. Nah, sebenarnya, siapa saja yang menjadi kaki tangan pihak Pemerintah RI, seperti Camat, jelas itu adalah musuh dan sekaligus kaki tangan TNI. Camat adalah dianggap musuh bagi perjuangan rakyat Acheh. Camat adalah merupakan alat penjajah di Negeri Acheh. Karena itu memang wajar dan memang benar, itu Camat dianggap sebagai kolaborator dan musuh perjuangan rakyat Acheh yang telah sadar untuk menentukan nasib sendiri bebas dari pengaruh kekuasaan negara pancasila.

Dan tentu saja, taktik yang dilakukan pihak TNI pun adalah juga merupakan taktik perang modern, yaitu pihak TNI menyandera keluarga TNA agar supaya yang ditahan oleh TNA dibebaskan. Misalnya seperti Seorang karyawan PT Arun Blang Lancang Aceh Utara yang ditahan TNA. Kemudian, karyatan PT Arun itu dibebaskan TNA. Nah disini terjadi taktik perang modern, yaitu mata dengan mata, telinga dengan telinga, nyawa dengan nyawa, kepala dengan kepala, tahanan dengan tahanan.

Terakhir, itu cerita yang sengaja diangkat Muba kepermukaan ini adalah mengenai 277 orang, termasuk kamerawan Ferry Santoro dan dua istri perwira TNI Angkatan Udara.

Tetapi itu cerita penahanan oleh TNA ini telah selesai dan semua telah dibebaskan oleh Panglima Komando Operasi TNA Wilayah Peureulak (alm) Teungku Ishak Daud pada tanggal 15 Mei 2004 melalui Palang Merah Internasional (ICRC) setelah dilakukan gencatan senjata selama 36 jam yang mulai berlaku pada tanggal 15 Mei 2004.

Jadi Muba budek, apa yang kalian tampilkan dengan cara mengutip cerita-cerita lama ini memang kalian sengaja untuk memukul TNA. Tetapi dalam kenyataannya, itu cerita yang kalian kutip dari tempat sampah itu, tidak memiliki kekuatan hukum apapun, selain cerita-cerita yang memang sudah selesai. Dan tidak bisa dijadikan senjata untuk memukul pasukan muslim Acheh TNA.

Bagi yang ada minat untuk menanggapi silahkan tujukan atau cc kan kepada ahmad@dataphone.se agar supaya sampai kepada saya dan bagi yang ada waktu untuk membaca tulisan-tulisan saya yang telah lalu yang menyinggung tentang Khilafah Islam dan Undang Undang Madinah silahkan lihat di kumpulan artikel di HP http://www.dataphone.se/~ahmad

Hanya kepada Allah kita memohon pertolongan dan hanya kepada Allah kita memohon petunjuk, amin *.*

Wassalam.

Ahmad Sudirman

http://www.dataphone.se/~ahmad
www.ahmad-sudirman.com
ahmad@dataphone.se
---------

Date: Mon, 28 Feb 2005 16:36:14 -0800 (PST)
From: muba zir <mbzr00@yahoo.com>
Subject: Ini dia GAM pelindung dan harapan masyarakat Aceh...
To: AcehA_yoosran <a_yoosran@yahoo.com>, Acehabu_dipeureulak <abu_dipeureulak@yahoo.com>, AcehAcheh_karbala <acheh_karbala@yahoo.com>, AcehAhmad_mattulesy <ahmad_mattulesy@yahoo.com>, AcehAhmadGPK <ahmad@dataphone.se>, Acehapalambak2000 <apalambak2000@yahoo.ca>, AcehArdi <muhammad.ardiansyah@hm.com>, AcehBambang <bambang_hw@rekayasa.co.id>

Muba ZR

mbzr00@yahoo.com
Paris, Perancis
----------

Kisah Sandera GAM: Saya Dilepas karena Tak Terbukti Memiliki Kebun Jati

BANDA ACEH - Tak lepas-lepas ucapan syukur meluncur dari M Asyik Ibrahim. Imuem Mukim (tokoh agama) di Bukit Baro Kecamatan Montasik Aceh Besar itu pantas mengucapkan puji kepada Allah. Pasalnya, setelah tiga hari disekap Gerakan Aceh Mereka (GAM) di Montasik, akhirnya pengajar di Pesantren Empe Awe Aceh Besar dilepaskan tanpa luka sedikit pun. Padahal, dua hari sebelumnya, 29 Desember 2003, reporter RCTI Ersa Siregar yang disandera GAM sejak 29 Juni 2003 tewas oleh peluru TNI di Peureulak Aceh Timur dalam kontak senjata. "Saya dilepaskan karena tidak terbukti memiliki kebun jati," ungkap Ibrahim kepada wartawan, pekan lalu di Banda Aceh.

Pria 66 tahun itu menuturkan, tragedi penyanderaan dirinya diawali ketika dia hendak pulang ke rumahnya di Bukit Baro dari Pesantren Empe Awe pada 31 Desember silam. Baru beberapa ratus meter meninggalkan pekarangan pesantren, di sebuah tikungan yang sepi, dirinya dihadang oleh empat anggota GAM yang dipimpin oleh Panglima GAM Operasi Montasik Muchlis. Ibrahim diperintahkan mengikuti mereka ke hutan. Ia tak dapat berkutik Moncong senjata laras panjang M-16 terus menempel di punggungnya. Sementara sepeda motornya dibawa kabur oleh GAM ke arah lainnya.

Pajak Nanggroe
Menjelang tiba di kaki hutan belantara, mata Ibrahim ditutup dengan selembar kain hitam. Walaupun mata ditutup, dia merasakan beberapa kali mendaki gunung dan tiga kali menyeberangi sungai. Setelah berjalan sekitar 10 jam, perjalanan menegangkan ini berakhir pada sebuah bivak GAM yang beratap plastik hitam. Kain hitam pun dilepaskan dan dia menyaksikan sekitar 20 anggota GAM yang berbaju loreng dan beberapa di antaranya menyandang M-16 dan AK-47. Rasa kantuk dan lelah yang luar biasa menyebabkan dia tertidur bersama anggota GAM.

Esoknya, usai sarapan pagi dengan menu alakadarnya, Ibrahim dibawa oleh dua GAM ke tepi alur. Ia diberondong dengan sejumlah pertanyaan. GAM menuduh dirinya memiliki kebun jati di kawasan Empe Awe, memiliki pesantren dan ada proyek reboisasi di Montasik. "Kesimpulannya, GAM mau minta pajak Nanggroe," ungkapnya. Pajak Nanggroe adalah kata lain untuk upeti yang harus disetor kepada GAM untuk dana akomodasi dan pembelian senjata. Ibrahim tenang saja. Justru dia meminta kepada GAM untuk membuktikan dirinya sebagaimana yang dituduh oleh GAM. Bahkan dia menyatakan siap menerima risiko apapun dari GAM jika bohong. Kejujuran itu membawa berkah. Dua hari kemudian pada Jumat siang, 2 Januari 2004, dia dilepaskan tanpa syarat. "Saya bisa kerkumpul kembali dengan keluarga, santri dan masyarakat," ujarnya.

Sebelum dilepaskan oleh GAM, tak pelak penyanderaan tokoh masyarakat ini membuat pemuda dari sejumlah desa di Montasik berencana untuk menyandera keluarga Muchlis (Panglima GAM Montasik) dan keluarga anggota GAM lain sebagai ganti terhadap penyanderaan Imuen Mukim mareka. Sebelum niat ini direalisasikan, Ibrahim sudah dilepaskan. Warga hanya membaca Yassin di seluruh masjid pada Jumat malam mendoakan agar Ibrahim dapat kembali lagi ke masyarakat.

Uang Tebusan
Kasus serupa juga dialami oleh Camat Peureulak Timur, Furqan yang disandera GAM selama enam bulan. Dia dibebaskan pada hari kedua lebaran Idul Fitri yakni 28 November 2003 dengan tebusan Rp 30 juta. Furqan juga pernah bertemu dengan reporter Ersa Siregar sebelum
akhirnya dipisah-pisahkan.

Fenomena warga menyandera keluarga GAM karena GAM menyandera warga sipil dinilai mujarab untuk mengembalikan sandera. Seorang karyawan PT Arun Blang Lancang Aceh Utara yang disandera oleh GAM serta minta tebusan puluhan juta pada Desember 2003, berakhir tanpa satu sen uang pun keluar. Caranya, aparat menyandera keluarga GAM yang menyandera karyawan staf PT Arun. Karyawan itu pun dibebaskan setelah beberapa hari ditahan oleh GAM.

Selain GAM membebaskan sandera, ada juga sandera yang lolos karena kelengahan GAM. Misalnya, Saparuddin, 14 tahun yang kembali masuk kelas I SMP Sukamakmur Aceh Besar setelah enam bulan ditahan oleh GAM. GAM menculik bocah ini sejak awal April 2003 dan berhasil lolos pada 12 Oktober 2003. Selama dalam sekapan GAM, Saparuddin bertugas sebagai koki. Peristiwa serupa juga terjadi di Aceh Singkil, tiga warga sipil lolos setelah berhasil merampas senjata GAM dan menembak penjaga tersebut. Supir RCTI Rahmadsyah pun lolos dari sekapan usai kontak senjata antara TNI dengan GAM pada Desember 2003.
Menurut Menko Polkam Susilo Bambang Yudhoyono, jumlah warga sipil yang masih disandera GAM di seluruh Aceh yakni 277 orang, termasuk kamerawan Ferry Santoro dan dua istri perwira TNI Angkatan Udara.

http://www.sinarharapan.co.id/berita/0401/12/nas06.html
----------

Date: Mon, 28 Feb 2005 16:30:48 -0800 (PST)
From: muba zir <mbzr00@yahoo.com>
Subject: GAM butuh duit tuh, Mad...
To: AcehA_yoosran <a_yoosran@yahoo.com>, Acehabu_dipeureulak <abu_dipeureulak@yahoo.com>, AcehAcheh_karbala <acheh_karbala@yahoo.com>, AcehAhmad_mattulesy <ahmad_mattulesy@yahoo.com>, AcehAhmadGPK <ahmad@dataphone.se>, Acehapalambak2000 <apalambak2000@yahoo.ca>, AcehArdi <muhammad.ardiansyah@hm.com>, AcehBambang <bambang_hw@rekayasa.co.id>

Muba ZR

mbzr00@yahoo.com
Paris, Perancis
----------

GAM Kembali Sandera dan Minta Uang Tebusan
Banda Aceh, Sinar Harapan

Gerakan Aceh Merdeka (GAM) kembali melakukan aksi brutal berikut penculikan terhadap karyawan SPBU Langsa, Aceh Timur, Selasa (21/5). "Dalam aksi itu mereka meminta uang tebusan sebesar Rp 300 juta," demikian siaran pers yang disampaikan Dansatgaspen Koops TNI Mayor Inf Zaenal Muttaqin, Minggu (26/5).

Disebutkan bahwa sebelumnya GAM telah menyandera karyawan Telkom, pelajar SMU, karyawan PLN, Exxon Mobil dan karyawan kontraktor Pertamina. Karyawan SPBU Langsa, Sudirman (28), diculik GAM sewaktu melayani pembeli bensin. Secara tiba-tiba GAM menyergap dan menaikkan Sudirman ke atas kendaraan mereka lantas langsung dibawa kabur. Hingga kini, ia masih disekap GAM dan belum diketahui nasibnya. Zaenal Muttaqin juga menambahkan keluarga korban mengaku tak mampu memenuhi permintaan uang tebusan. Karenanya mereka melaporkan penculikan itu untuk mendapatkan bantuan dari aparat keamanan. Zaenal menuding aksi penculikan itu sebagai bukti kalau kelompok GAM selama ini berkoar-koar menghormati hukum dengan cara menghindari aksi pelanggaran HAM, hanyalah slogan belaka.

"Di lapangan GAM melakukan penculikan, penyanderaan, disertai dengan pemerasan, perampokan harta benda dengan kekerasan dan perbuatan lainnya yang merugikan dan menyengsarakan masyarakat," ujarnya. Ditegaskan bahwa TNI akan terus memburu dan menemukan lokasi penyekapan Sudirman. (fer)

http://www.sinarharapan.co.id/berita/0205/27/nas09.html
----------