Stockholm, 3 Maret 2005

Bismillaahirrahmaanirrahiim.
Assalamu'alaikum wr wbr.
 

KARENA ARDIANSYAH PAKAI RANDOM SAMPLING DIBAWAH PAYUNG HUKUM DM & DS, MAKA TIDAK BERANI LAKUKAN PLEBISIT
Ahmad Sudirman
Stockholm - SWEDIA.

 

MEMANG LOGIS, KARENA ARDIANSYAH PAKAI RANDOM SAMPLING DIBAWAH PAYUNG HUKUM DM & DS, MAKA TIDAK BERANI LAKUKAN PLEBISIT

"Pada saat pertemuan di masjid Baiturrahman tidak ada terkumpul 2 juta rakyat aceh seperti yang di katakan situa gila itu , sebab teman saya hadir dalam pertemuan tersebut, dan logikanya , mana mungkin halaman masjid mampu menampung 2 juta orang ? Dan mengenai almarhum , mereka di bunuh oleh GAM alias babi hutan. Kekuatan babi hutan tidak berada pada tingkat kabupaten , tapi terselubung dalam beberapa desa , jadi tidak benar apa yang di ucapkan. SIRA sekarang hanya tinggal sisa - sisa nya saja, sebagian Mahasiswa telah mendapat pekerjaan dan kesibukannya sebagai manusia normal hasil random sampling pada 10 kabupaten , 30 desa, pada 4 kota , menyiratkan kebencian Rakyat pada GAM. Demikianlah laporan yang sebenarnya, semoga tidak termakan berita sampah dari si keledai tua pungo itu , rakyat aceh butuh kedamaian, GAM harus ditumpas habis, kami rakyat ingin kedamaian dibawah naungan NKRI." (Muhammad Ardiansyah, ardiansyah_hm@yahoo.com , Thu, 3 Mar 2005 05:08:23 +0000 (GMT))

Baiklah Ardiansyah di Jakarta, Indonesia.

Makin kelihatan itu kunyuk rawun satu ini, sudahlah jumpalitan, masih juga komat-kamit membacakan jampi-jampi hindunya bhineka tunggal ika-nya mpu Tantular.

Lihat saja, bagaimana itu keadaan Ardiansyah yang memang sudah tidak berkutik, kerena argumentasi yang dipungutnya dari tempah sampah BIN-ya Syamsir Siregar, sudah tidak mempan lagi untuk dipakai menghantam benteng pertahanan yang dipasang Ahmad Sudirman bersama rakyat Acheh yang telah sadar untuk menentukan nasib sendiri.

Karena memang itu Ardiansyah budek ini sudah tidak mampu lagi memakai argumentasi lainnya, akhirnya melambungkan fakta yang dikumpulkannya untuk dijadikan sebagai bahan argumentasinya agar bisa kuat untuk dijadikan alat pemukul rakyat Acheh yang telah sadar untuk menentukan nasib sendiri ini.

Dimana fakta yang dilambungkan Ardiansyah budek ini yang dirangkum dalam kalimat: "sebagian Mahasiswa telah mendapat pekerjaan dan kesibukannya sebagai manusia normal hasil random sampling pada 10 kabupaten , 30 desa, pada 4 kota , menyiratkan kebencian Rakyat pada GAM."

Nah, kita kupas, itu hasil random sampling-nya kunyuk budek satu ini. Itu random sampling yang dikumpulkan oleh kunyuk budek atau kawannya atau siapa saja dari kacungnya Susilo Bambang Yudhoyono, tidak menyebutkan kapan itu pengumpulan fakta dilakukannya. Mengapa waktu pengumpulan data itu perlu dicantumkan ? Karena menyangkut payung hukum yang dipakai di Negeri Acheh.

Kalau melihat dari payung hukum yang dipakai di Acheh dari sejak dua tahun yang lalu, yaitu dari sejak tanggal 19 Mei 2003, maka payung hukum yang dipakai di Acheh adalah Keputusan Presiden RI nomor 28 tahun 2003 tentang pernyataan keadaan bahaya dengan tingkatan keadaan darurat militer di Acheh yang dikeluarkan pada tanggal 18 Mei 2003 dan diberlakukan pada tanggal 19 Mei 2003. Kemudian disusul dengan payung hukum Keputusan Presiden Republik Indonesia selaku Penguasa Darurat Militer Pusat Nomor 43 Tahun 2003 Tentang Pengaturan kegiatan Warga Negara Asing, Lembaga Swadaya Masyarakat dan Jurnalis di Acheh yang ditetapkan dan diundangkan di Jakarta pada tanggal 16 Juni 2003.

Nah, melihat dari jenjang waktu ini, kalau itu fakta yang dikumpulkan Ardiansyah cs berada dalam jengjang waktu diberlakukan dasar hukum Darurat Militer di Acheh, maka sudah dipastikan bahwa hasil dari pengumpulan fakta, apakah itu melalui angket, atau interview, atau wawancara langsung, dengan orang-orang yang ada di Acheh yang dipilih secara tidak teratur, alias siapa saja, apakah itu orang transmigran Jawa, atau orang Acheh. Yang penting asal masuk kategori random sampling, adalah banyak dipengaruhi oleh adanya tekanan dan ketakutan terhadap militer yang selalu mengawasi, menindak, membunuh, apabila dianggap melangar payung hukum Darurat Militer yang diterapkan di Acheh.

Faktor-faktor inilah yang tidak dimasukkan kedalam pembicaraan mengenai adanya faktor ekternal yang bisa mempengaruhi hasil pengumpulan data secara empiris ini yang didalamnya penuh dipengaruhi oleh adanya subjetifitas. Artinya, adanya ketakutan kalau mau menyatakan sesuatu dengan cara terus terang dan jujur.

Jadi, data-data yang terkumpul dari setiap pertanyaan yang diajukan dalam angket atau interview atau wawancara ini masih diragukan keobjektifannya.

Nah, coba berapa puluh, atau berapa ratus, atau berapa ribu orang dari 10 kabupaten, dan 4 kota yang diambil sebagai contoh random untuk diminta keterangannya dan sikapnya terhadap setiap pertanyaan yang diajukan oleh Ardiansyah cs ini.

Selanjutnya, kalau dibandingkan dengan jumlah penduduk Acheh, sebelum tsunami terjadi, yang memiliki hak pilih, yaitu sebanyak 2.495.590 orang dari jumlah seluruh penduduk Acheh sebelum ditelan tsunami berjumlah 4.226.999 orang.

Sekarang, kalau itu random sampling yang diambil Ardiansyah misalnya hanya 1000 atau paling banyak 5000 orang dari 10 kabupaten dan 4 kota, maka sudah jelas, jumlah tersebut tidak mewakili mayoritas atau lebih dari 50 % dari seluruh penduduk Acheh yang punya hak pilih.

Nah, dari sini saja, sudah bisa dilihat bahwa fakta dan bukti yang dikumpulkan Ardiansyah dalam bentuk random sampling ini, ditambah dengan keadaan dan situasi hukum yang dijalankan di Acheh berdasarkan Darurat Militer dan dilanjutkan dengan Darurat Sipil sampai detik sekarang ini, maka sudah bisa dipastikan, bahwa kumpulan fakta dan bukti Ardiansyah cs itu tidak bisa dijadikan andalan dan alasan kuat untuk menyetujuinya keinginan besar rakyat Acheh untuk melakukan plebisit atau referendum di Acheh.

Memak logis dan masuk akal, itu Ardiansyah budek ini tidak berani dan tidak mau mendukung dan menyokong keinginan dari rakyat Acheh untuk melakukan plebisit atau referendum. Hal itu disebabkan karena fakta dan bukti yang dikumpulkannya itu, yang dikatakannya fakta ilmiah, adalah sangat lemah untuk dijadikan sebagai dasar argumentasi bagi penyokongan dan persetujuan diadakannya plebisit atau referendum. Mengapa ?

Karena kalau Ardiansyah menyetujui diadakannya plebisit atau referendum berdasarkan fakta yang telah dikumpulkannya secara random sampling dari 10 kabupaten dan 4 kota, maka itu hasil plebisit atau referendum akan memberikan peluang bagi seluruh rakyat Acheh untuk meraih dan mendapatkannya kembali negeri Acheh yang telah ditelan, dicaplok, dan dijajah Soekarno dengan RIS, RI-nya.

Jadi, wajar dan masuk akal kalau itu Ardiansyah budek kunyuk rawun ini akan terus mempertahankan Acheh dengan menolak plebisit, sambil bercuap: "Demikianlah laporan yang sebenarnya, semoga tidak termakan berita sampah dari si keledai tua pungo itu , rakyat aceh butuh kedamaian, GAM harus ditumpas habis, kami rakyat ingin kedamaian dibawah naungan NKRI."

Terakhir, itu Ardiansyah budek ini menulis: "Pada saat pertemuan di masjid Baiturrahman tidak ada terkumpul 2 juta rakyat aceh seperti yang di katakan situa gila itu , sebab teman saya hadir dalam pertemuan tersebut, dan logikanya , mana mungkin halaman masjid mampu menampung 2 juta orang ? Dan mengenai almarhum , mereka di bunuh oleh GAM alias babi hutan."

Memang, pada tanggal 8 Novembber 1999 dan 8 November 2000, itu SIRA bukan berkumpul dalam masjid Baiturrahman saja, melainkan diluar masjid. Dan seluruh rakyat Acheh dari mulai mahasiswa, pelajar, santri, pemuda, para ulama meneriakkan referendum. Seluruh negeri Acheh bergegar dengan semangat referendum. Lebih dari dua juta rakyat Acheh selama periode 1999-2001 menyuarakan dan menggemakan referendum sampai saat ketika Abdurrahman Wahid sebagai presiden RI mengeluarkan Instruksi Presiden Nomor 4 Tahun 2001 Tentang langkah-langkah komprehensif dalam rangka penyelesaian masalah Acheh yang ditetapkan pada tanggal 11 April 2001.

Jadi jelas, itu hampir seluruh Acheh menyatakan untuk referendum, dimana hampir lebih dari dua juta orang Acheh yang mempunyai hak pilih menyuarakan referendum. Masalahnya, pihak Abdurrahman Wahid ketakutan sendiri, akhirnya SIRA di porak-porandakan, ketua dan anggotanya ditangkapi dan dijatuhi hukuman dengan alasan makar. Kan gombal itu. Itulah memang taktik penjajah RI yang mengikuti nasehat Snouck Horgronye.

Bagi yang ada minat untuk menanggapi silahkan tujukan atau cc kan kepada ahmad@dataphone.se agar supaya sampai kepada saya dan bagi yang ada waktu untuk membaca tulisan-tulisan saya yang telah lalu yang menyinggung tentang Khilafah Islam dan Undang Undang Madinah silahkan lihat di kumpulan artikel di HP http://www.dataphone.se/~ahmad

Hanya kepada Allah kita memohon pertolongan dan hanya kepada Allah kita memohon petunjuk, amin *.*

Wassalam.

Ahmad Sudirman

http://www.dataphone.se/~ahmad
www.ahmad-sudirman.com
ahmad@dataphone.se
---------

Date: Thu, 3 Mar 2005 05:08:23 +0000 (GMT)
From: muhammad ardiansyah ardiansyah_hm@yahoo.com
Subject: Re: HARIWIBOWO, ITU KEINGINAN MERDEKA RAKYAT ACHEH SUDAH TERTANAM SEJAK LAMA
To: Ahmad Sudirman <ahmad@dataphone.se>, Serambi Indonesia <serambi_indonesia@yahoo.com>, balipost <balipost@indo.net.id>, waspada <newsletter@waspada.co.id>, PR <redaksi@pikiran-rakyat.com>, Pontianak <editor@pontianak.wasantara.net.id>, Hudoyo <hudoyo@cbn.net.id>, JKT POST <jktpost2@cbn.net.id>, Redaksi Kompas <redaksi@kompas.com>, Redaksi Satu Net <redaksi@satunet.com>, Redaksi Waspada <redaksi@waspada.co.id>, Waspada <waspada@waspada.co.id>, Detik <webmaster@detik.com>, KOMPAS <kompas@kompas.com>,

Assalamu'alaikum, wr wbr

Saya perlu meluruskan uraian ngaco dari Saudara Ahmad Sudirman. Pada saat pertemuan di masjid Baiturrahman tidak ada terkumpul 2 juta rakyat aceh seperti yang di katakan situa gila itu , sebab teman saya hadir dalam pertemuan tersebut, dan logikanya , mana mungkin halaman masjid mampu menampung 2 juta orang ? Dan mengenai almarhum , mereka di bunuh oleh GAM alias babi hutan. Kekuatan babi hutan tidak berada pada tingkat kabupaten , tapi terselubung dalam beberapa desa , jadi tidak benar apa yang di ucapkan.

SIRA sekarang hanya tinggal sisa - sisa nya saja, sebagian Mahasiswa telah mendapat pekerjaan dan kesibukannya sebagai manusia normal hasil random sampling pada 10 kabupaten , 30 desa, pada 4 kota , menyiratkan kebencian Rakyat pada GAM.

Demikianlah laporan yang sebenarnya, semoga tidak termakan berita sampah dari si keledai tua pungo itu , rakyat aceh butuh kedamaian, GAM harus ditumpas habis, kami rakyat ingin kedamaian dibawah naungan NKRI. Cukup sudah bencana Tsunami menjadi teguran bagi kami.

Wassalam

Ardi

ardiansyah_hm@yahoo.com
Jakarta, Indonesia
----------