Stockholm, 3 Maret 2005

Bismillaahirrahmaanirrahiim.
Assalamu'alaikum wr wbr.
 

ARDIANSYAH TERUS MAKAN RACUN SEJARAH ACHEH YANG DILANSIR BIN, AKHIRNYA MATI SEKARAT
Ahmad Sudirman
Stockholm - SWEDIA.

 

MAKIN KELIHATAN JELAS ITU ARDIANSYAH YANG TERUS MAKAN RACUN SEJARAH ACHEH YANG DILANSIR BIN, AKHIRNYA MATI SEKARAT

"Si daitu Pungo alias si Sunda yang maunya dibilang rakyat Aceh bilang kalo prinsip Hukum Internasional tersebut enggak bisa dipakai karena DK PBB dalam resolusinya masih memakai dasar hukum Linggar jati. Mad, pada saat itu, seluruh rakyat Indonesia dari Sabang sampai Merauke berteriak dan bertekad "merdeka atau mati" termasuk didalamnya Rakyat Aceh yang salah satu pemimpin Gerilyawan daerah II Langsa adalah alm Tengku Abdurrahman, yang nota bene adalah kakek dari Ibu saya, beliau memimpin 300 pasukan bersenjata dan lebih dari sukarelawan dari rakyat Aceh untuk menghancurkan Belanda pada saat itu. Mobilisasi yang sangat tinggi di daerah Sumatra membuat tidak ada batas antara Sumatra utara, Aceh , dan sumatra barat, dan Pasukan tsb tidak di gaji lho Mad. Untuk menghindari tragedi kemanusiaan , maka DK PBB turun tangan. Tapi ternyata kedatangan pasukan sekutu di bonceng oleh NICA Belanda. Nah dari situ mungkin terlalu panjang untuk di ceritakan , entar malah ngiler deh." (Muhammad Ardiansyah, ardiansyah_hm@yahoo.com , Thu, 3 Mar 2005 08:23:00 +0000 (GMT))

Baiklah Ardiansyah di Jakarta, Indonesia.

Dari satu tangapan ketanggapan lainnya, makin membuktikan itu kunyuk rawun satu ini memang otaknya telah dipenuhi oleh racun sejarah Acheh yang gombal yang disemburkan mbah Soekarno dan dilansir oleh BIN-nya Syamsir Siregar. Mengapa ?

Karena, coba saja perhatikan apa yang dikatakan Ardiansyah budek ini: "Si daitu Pungo alias si Sunda yang maunya dibilang rakyat Aceh bilang kalo prinsip Hukum Internasional tersebut enggak bisa dipakai, karena DK PBB dalam resolusinya masih memakai dasar hukum Linggar jati. Mad, pada saat itu, seluruh rakyat Indonesia dari Sabang sampai Merauke berteriak dan bertekad "merdeka atau mati" termasuk didalamnya Rakyat Aceh yang salah satu pemimpin Gerilyawan daerah II Langsa adalah alm Tengku Abdurrahman, yang nota bene adalah kakek dari Ibu saya"

Dari apa yang dilambungkan kunyuk rawun ini, kelihatan dengan jelas, bahwa memang itu otak kunyuk rawun ini telah penuh sampah racun sejaran lansiran BIN-nya Syamsir Siregar. Mari kita perhatikan, itu dasar hukum internasional Resolusi PBB No.67(1949) tanggal 28 Januari 1949 sudah jelas mendasarkan kepada dasar hukum Linggajati 25 Maret 1947 dan dasar hukum Perjanjian Renville 17 Januari 1948. Dan Resolusi PBB No.67(1949) menjadi dasar hukum lahirnya Perjanjian Roem Royen 7 Mei 1949.

Nah, ketika lahir Resolusi PBB No.67(1949) tanggal 28 Januari 1949, itu Negara RI tidak ada di nusantara, yang ada adalah Pemerintah Darurat RI dibawah Sjafruddin Prawiranegara. Dan pada saat itu, yang dinamakan rakyat Indonesia itu tidak ada. Yang ada adalah rakyat Daerah Istimewa Kalimantan Barat, rakyat Negara Indonesia Timur, rakyat Negara Madura, rakyat Daerah Banjar, rakyat Daerah Bangka, rakyat Daerah Belitung, rakyat Daerah Dayak Besar, rakyat Daerah Jawa Tengah, rakyat Negara Jawa Timur, rakyat Daerah Kalimantan Tenggara, rakyat Daerah Kalimantan Timur, rakyat Negara Pasundan, rakyat Daerah Riau, rakyat Negara Sumatra Selatan, rakyat Negara Sumatra Timur, dan rakyat Pemerintah Darurat RI.

Jadi, Ardiansyah budek, kalau kalian menyatakan: "seluruh rakyat Indonesia dari Sabang sampai Merauke berteriak dan bertekad "merdeka atau mati" termasuk didalamnya Rakyat Aceh". Jelas, apa yang dilambungkan kunyuk rawun ini salah kaprah, karena tidak ditunjang oleh fakta, bukti, sejarah, dan dasar hukum yang jelas dan benar, selain hanya cuapan saja.

Itu wilayah Sabang dan wilayah Merauke pada saat lahir Resolusi PBB No.67(1949) tanggal 28 Januari 1949, masih berada di luar wilayah Negara RI. Apalagi pada waktu itu Negara RI sudah hilang dan lenyap secara de-facto dan de-jure.

Masa Negara RI sudah hilang lenyap, masih juga mengklaim wilayah Sabang yang terletak disebelah utara Acheh, dan Merauke yang letaknya di Papua Barat sebagai wilayah Negara RI. Kan gombal dan ngaco saja.

Kemudian kalau rakyat Acheh misalnya seperti yang ditulis oleh Ardiansyah budek: "rakyat Aceh yang salah satu pemimpin Gerilyawan daerah II Langsa adalah alm Tengku Abdurrahman, yang nota bene adalah kakek dari Ibu saya, beliau memimpin 300 pasukan bersenjata dan lebih dari sukarelawan dari rakyat Aceh untuk menghancurkan Belanda pada saat itu."

Nah, kalau itu Ardiansyah budek mau belajar sejarah dengan benar, maka akan mengetahui bahwa itu wilayah Acheh sudah bukan lagi wilayah Negara RI yang telah hilang ketika Resolusi PBB No.67(1949) lahir. Begitu juga kalau dilihat dari hasil Perjanjian Renville 17 Januari 1948, Perjanjian Roem Royen 7 Mei 1949, perjanjian KMB 23 Agustus 1949 , Piagam Konstitusi RIS 14 Desember 1949, penyerahan kedaulatan dari Belanda kepada RIS 27 Desember 1949.

Jadi, hanya alasan yang diada-adakan saja kalau itu Ardiansyah budek terus mempertahankan Negeri Acheh merupakan bagian wilayah RI. Karena memang tidak ada fakta, bukti, sejarah dan dasar hukumnya yang jelas dan benar.

Kalau hanya menyatakan: "kakek dari Ibu saya, beliau memimpin 300 pasukan bersenjata dan lebih dari sukarelawan dari rakyat Aceh untuk menghancurkan Belanda pada saat itu.". Itu bukan merupakan fakta,buti dan dasar hukum yang kuat untuk mengklaim dan melegalisasi wilayah Acheh menjadi wilayah RI.

Tidak ada itu disebutkan dalam dasar hukum gombal sepihak buatan Soekarno dengan RIS-nya yang dinamakan PP RIS No.21/1950 14 Agustus 1950 mencantumkan bahwa karena "kakek dari Ibu Ardiasnyah budek, beliau memimpin 300 pasukan bersenjata dan lebih dari sukarelawan dari rakyat Aceh untuk menghancurkan Belanda pada saat itu". Lalu disahkan Negeri Acheh menjadi bagian wilayah RI.

Apakah model orang begini yang dinamakan sarjana lulusan fakultas hukum dari universitas negeri di Negara sekuler pancasila ? Pantas saja itu Negara RI amburadul. Karena memang orang-orang yang otaknya sudah dijejali hukum, rupanya penuh dengan sampah ampas kelapa racun mpu Tantular dengan bhineka tunggal ika-nya saja, yang dicampur jamuan dan ramuan racun pancasila hasil perasan Soekarno penipu licik dan penjajah di Negeri Acheh.

Seterusnya, itu kunyuk rawun ini masih juga celoteh dengan cuapan gombalnya: "Mobilisasi yang sangat tinggi di daerah Sumatra membuat tidak ada batas antara Sumatra utara, Aceh , dan sumatra barat, dan Pasukan tsb tidak di gaji lho Mad."

Ya jelas, kalian kunyuk rawun, mana mengetahui itu jalur pertumbuhan dan perkembangan di tempat kalian sendiri. Padahal itu Negara Sumatra Selatan telah berdiri. Negara Sumatra Timur telah berdiri. Derah Bangka dan Daerah Belitung telah berdiri, tidak bersatu dengan Negara RI Soekarno. Begitu juga Daerah Acheh berdiri sendiri, sampai akhirnya dicaplok Soekarno pada tanggal 14 Agustus 1950 memakai mulut Sumatera Utara dengan memakai hukum gombal sepihak PP RIS No.21/1950, karena itu Sumatera Utara sudah dibentuk dari hasil leburan Negara Sumatera Timur dalam wadah RIS.

Jadi, Ardiansyah budek, kalau itu lahir Resolusi PBB No.67(1949) bukan seperti yang kalian katakan: "untuk menghindari tragedi kemanusiaan, maka DK PBB turun tangan.".

Itu seperti yang telah berulang kali dijelaskan Ahmad Sudirman bahwa lahirnya Resolusi PBB No.67(1949) adalah untuk memberikan dan membuka jalur baru guna terbukanya jalan pembentukan RIS dan penyerahan kedaulatan dari Belanda kepada RIS. Dan itu Negara RI yang sudah hilang lenyap, hidup kembali dan balik lagi ke Yogyakarta, untuk selanjutnya ikut dalam KMB, dan masuk kedalam RIS, agar supaya Belanda secepatnya mengakui dan menyerahkan kedaulatannya kepada RIS, bukan kepada Negara RI Soekarno.

Tetapi, karena memang kalian Ardiansyah budek, maka mana kalian itu mengerti dan paham apa yang telah menjadi sejarah jalur proses pertumbuhan dan perkembangan Negara RI dihubungkan dengan Acheh, kalau otak kalian hanya dipenuhi oleh ampas kelapa sejarah gombal Acheh made in Soekarno yang dilansir BIN-nya Syamsir Sieragar orang Sipirok itu.

Karena itu Ardiansyah budek, kalau kalian tidak mau sesat dan salah kaprah dalam berdebat dengan Ahmad Sudirman di mimbar bebas ini tentang Acheh, RI dan lainnya, harus pelajari dulu itu sejarah RI dan Acheh yang benar, bukan hanya mencomot dan menelan dari apa yang disodorkan BIN-nya Syamsir Siregar saja.

Kemudian, karena memang kalian Ardiansyah masih budek, maka tetap saja kalian kalau berdebat hanya pandai melambungkan kata.kata: "rakyat bahu membahu dan rela berkorban demi keutuhan wilayah republik, dan bukan untuk Syafrudin prawiranegara, ataupun Founder father. Tekad merdeka atau mati, tanpa memperdulikan siapa pemimpin, yang ada hanya satu, mengusir Belanda dari Bumi Nusantara"

Itu jelas, hanya pernyataan gombal dan keropos. Mengapa ? Sudah dijelaskan diatas, bahwa yang namanya RI, itu hanya sebagian kecil saja diantara 16 Negara dan Daerah yang ada dalam RIS. Itu yang namnya RI adalah hanya Negara Bagian RIS. Dan ketika Belanda menyerahkan dan mengakui kedaulatannya, bukan diserahkan kepada Negara Bagian RI, melainkan kepada RIS. Tetapi, celakanya oleh itu orang-orang penerus Soekarno ditukarnya, itu RIS menjadi RI, dibuang S nya. Dasar gombal penipu licik.

Dan itu kalau ada yang mempropagandakan RIS sebagai politik "de vide et impera". Itu adalah merupakan taktik dan stragei politik Soekarno cs dengan RI-nya saja. Jangankan Negara dan daerah yang ada dalam RIS dikatakan sebagai "de vide et impera". Itu Daerah Sabah dan Serawak saja diklaimnya sebagai wilayah RI oleh Soekarno. Kan gombal. Tetapi, ternyata dalam prakteknya itu Soekarno bisa dipukul habis oleh Teungku Abdurahman dari Kerajaan Federasi Malaysia. Dimana itu Sabah dan Serawak masuk dan menjadi Negara Bagian Negara Federasi Malaysia. Kan mati konyol itu Soekarno penipu licik orang Jawa satu ini.

Seterusnya kalau Ahmad Sudirman membuka kembali dan sekaligus meluruskan kembali sejarah jalur proses pertumbuhan dan perkembangan Negara RI dihubungkan dengan Acheh, Maluku selatan dan Papua Barat. Itu semua bukan untuk menggugat berdirinya RI, melainkan untuk meluruskan dan membenarkan duduk persoalannya, bahwa itu Soekarno dengan RIS-nya telah menelan dan mencaplok Acheh, Maluku Selatan dan papua Barat. Sehingga akibatnya menjadi bumerang bagi generasi berikutnya sampai detik sekarang ini. Tetapi oleh para pengikut mbah Soekarno, seperti Ardiansyah budek ini, bukan diluruskan kesalahan Soekarno itu, malahan dikatakannya sebagai usaha aneksasi yang smart. Kan gombal, persis itu penipu licik yang budek dan picik.

Terakhir, itu karena memang kunyuk rawun ini buta sejarah yang benar tentang Acheh dan RI, maka ketika mendengar dan membaca perjuangan rakyat Acheh yang telah sadar untuk menentukan nasib sendiri bebas dari pengaruh kekuasaan Negara pancasila, dianggapnya sebagai "gangguan keamanan di Aceh itu adanya secara sporadis tahu ! dan tidak terfokus sebagaimana Rakyat Indonesia mengenyahkan penjajah Belanda dalam kurun waktu 350 tahun lamanya."

Kan, jelas dan nyata, itu alasan dan argumentasi yang dilambungkan kunyuk rawun ini, hanyalah cerita isapan jempol saja, alias gombal dan keropos. Yang memperjuangkan pembebasan Acheh itu bukan seporadis. Kalau yang namanya seporadis, sudah lama bisa dihancurkan oleh itu pasukan TNI-nya Djoko Santoso yang menggantikan Ryamizard Ryacudu.

Yang jelas dan benar adalah sampai detik ini perjuangan rakyat muslim Acheh TNA dan ASNLF masih tetap kuat dan tetap tegar untuk terus memperjuangkan kemerdekaan Acheh dan diperolehnya kembali Negeri Acheh yang telah ditelan dan dicaplok Soekarno dengan RIS-nya.

Bagi yang ada minat untuk menanggapi silahkan tujukan atau cc kan kepada ahmad@dataphone.se agar supaya sampai kepada saya dan bagi yang ada waktu untuk membaca tulisan-tulisan saya yang telah lalu yang menyinggung tentang Khilafah Islam dan Undang Undang Madinah silahkan lihat di kumpulan artikel di HP http://www.dataphone.se/~ahmad

Hanya kepada Allah kita memohon pertolongan dan hanya kepada Allah kita memohon petunjuk, amin *.*

Wassalam.

Ahmad Sudirman

http://www.dataphone.se/~ahmad
www.ahmad-sudirman.com
ahmad@dataphone.se
---------

Date: Thu, 3 Mar 2005 08:23:00 +0000 (GMT)
From: muhammad ardiansyah <ardiansyah_hm@yahoo.com>
Subject: Si ahmad Sudirman terus terjerumus kedalam lembah kebingungan..insyaflah
To: Ahmad Sudirman <ahmad@dataphone.se>, inongbale_aceh@yahoo.com

Assalamu'alaikum wr wbr.

Terlihat secara sepintas memang si daitu pungo kacung meneer karsten memang telah menjawab dengan tangkas. Tapi coba lihat , ada yang di sembunyikan dari pengupasan masalah: Si daitu pungo mengurangi jumlah yang hadir di masjid baiturahman dari 2 juta menjadi 1 juta.. he he he, tapi masih enggak muat tuh di Masjid & halaman baiturahman , paling banyak 100 ribu orang , itupun udah saling tindih & injak dasar blo on sedangkan menurut kesaksian , pada saat acara tsb teman saya masih bisa makan jajanan di pinggir masjid wahhh ngaco nih.

Si daitu Pungo alias si sunda yang maunya dibilang rakyat aceh bilang kalo prinsip Hukum Internasional tersebut enggak bisa dipakai karena DK PBB dalam resolusinya masih memakai dasar hukum linggar jati .

Mad , Pada saat itu , seluruh rakyat Indonesia dari sabang sampai merauke berteriak dan bertekad " MERDEKA ATAU MATI" termasuk didalamnya Rakyat aceh yang salah satu pemimpin Gerilyawan daerah II Langsa adalah alm tengku Abdurrahman , yang nota bene adalah kakek dari Ibu saya , beliau memimpin 300 pasukan bersenjata dan lebih dari sukarelawan dari rakyat aceh untuk menghancurkan Belanda pada saat itu. mobilisasi yang sangat tinggi di daerah Sumatra membuat tidak ada batas antara Sumatra utara, Aceh , dan sumatra barat.dan Pasukan tsb tidak di gaji lho mad.

Untuk menghindari tragedi kemanusiaan , maka DK PBB turun tangan . Tapi ternyata kedatangan pasukan sekutu di bonceng oleh NICA Belanda. Nah dari situ mungkin terlalu panjang untuk di ceritakan , entar malah ngiler deh.

Rakyat Bahu membahu dan rela berkorban demi keutuhan wilayah republik ,dan bukan untuk Syafrudin prawiranegara , ataupun Founder father. Tekad merdeka atau mati , tanpa memperdulikan siapa pemimpin , yang ada hanya satu , mengusir Belanda dari Bumi Nusantara !!

Nah dari situlah kalau anda menjiwai sejarah berdirinya Republik Indonesia , dan bukan RIS seperti harapan Penjajah dengan politiknya "de vide et impera"

Menurut cerita dulu , wilayah Aceh pun sama dengan wilayah RI lainnya , mereka bertempur lintas batas daerah , bahu membahu menghancurkan kekuatan Belanda.

Nah, Sekaran datang Si Sunda Gila Ahmad Sudirman dan ASNLF nya menggugat berdirinya Republik Indonesia . Masuknya wilayah - wilayah republik Indonesia bukan jalan kekerasan dan memang dengan jalan pencaplokan.tapi itu semua demi bangsa. Kalau diteriakan penjajahan di bumi serambi mekkah , itu sudah tidak ada, mana ada bangsa sendiri menjadi penjajah ? Eh tolol ! coba camkandi benak mu itu !

Gangguan keamanan di Aceh itu adanya secara sporadis tahu ! dan tidak terfokus sebagaimana Rakyat Indonesia mengenyahkan penjajah Belanda dalam kurun waktu 350 tahun lamanya.

Mad apa sebenarnya yang kamu cari dengan menyembunyikan kebenaran , dengan cara berlagak pintar petantang petenteng di mimbar bebar. Atos atuhh, jeulma sunda mah suda wae atuh.

Cik kakebon tu aya lalab jeng telek ayam dasar jeulma gelo siah ! Mad , Pembunuh teungku bantaqiyah , adalah gerombolan babi hutan kamu , mana ada Pemerintah mau membunuh alm yang jelas ingin kembali ke NKRI ? dasar penyebar fitnah !! isyaf lah saudara.. Lihat Allah Maha melihat tipu daya kalian.

Wassalam

Ardi

ardiansyah_hm@yahoo.com
Jakarta, Indonesia
----------