Stockholm, 3 Maret 2005

Bismillaahirrahmaanirrahiim.
Assalamu'alaikum wr wbr.
 

ARDIANSYAH CERITA KETEMU TNA YANG BERLAMBAI TANGAN DENGAN PASUKAN RAIDER DI KOTA LANGSA
Ahmad Sudirman
Stockholm - SWEDIA.

 

CERITA ARDIANSYAH TENTANG PERTEMUAN DENGAN TNA DI KOTA LANGSA YANG BERLAMBAI TANGAN DAN SALING SAPA DENGAN PASUKAN RAIDER ADALAH CERITA GOMBAL YANG KEROPOS

"Saya ingin sedikit bercerita pada anda. Pada awal februari 2005, saya bertemu dengan gerombolan babi hutan anda di salah satu desa di Langsa, tempat saudara saya. Pada waktu itu saya tengah sibuk menghubungi kawan - kawan untuk menyebarkan angket guna bahan skripsi. Penampilan mereka sebenarnya tidaklah begitu seram, yang rata - rata anak muda seumuran saya, malah saya sempat mampir dan minta rokok sama babi hutan tsb. Mungkin karena kulit saya hitam , maka saya dikira orang asli aceh . Kemudian salah seorang bertanya dengan bahasa aceh , tapi karena saya tidak bisa berbahasa aceh , saya bicara kalau saya dari Jakarta dan berasal dari salah satu perguruan tinggi di Jakarta . Saya memberikan kepada 5 orang tsb angket yang ingin saya berikan kepada teman untuk di sebarkan secara random , dan jawaban mereka bukanlah ingin merdeka, tetapi mereka ingin aman dari gangguan TNI. Lucu memang jawaban tsb." (Muhammad Ardiansyah, ardiansyah_hm@yahoo.com , Thu, 3 Mar 2005 10:12:30 +0000 (GMT))

Baiklah Ardiansyah di Jakarta, Indonesia.

Setelah membaca cerita yang dibuat Ardiansyah tentang pertemuannya dengan TNA di kota Langsa yang terletak antara Kabupaten Acheh Timur dan Kabupaten Acheh Tamiang. Di Kota Langsa ini tinggal saudaranya Ardiansyah. Dimana Ardiansyh ini datang ke Kota Langsa dalam rangka mengumpulkan data untuk bahan skripsinya.

Ternyata dari apa yang diceritakan oleh Ardiansyah ada beberapa kejanggalan yang kalau dipelajari lebih mendalam cerita yang ditulis Ardiansyah ini banyak tidak benarnya.

Mari kita kupas. Misalnya, Ardiansyah menulis: "saya bertemu dengan gerombolan babi hutan anda di salah satu desa di Langsa, tempat saudara saya".

Nah, dari kalimat diatas ada dua hal yang menimbulkan tandatanya besar. Pertama, di Kota Langsa tidak ada yang namanya Desa. Karena Langsa sudah merupakan Kota. Yang ada Desa kalau itu Langsa adalah Kabupaten. Seperti di Kabupaten Acheh Timur dan di Kabupaten Acheh Tamiang ada Desa. Kedua, darimana itu Ardiansyah mengetahui bahwa yang bertemu dengan Ardiansyah itu "gerombolan babi hutan" ? Apakah sebelum bertemu orang Acheh itu sudah memperkenalkan "saya gerombolan babi hutan". Bagi pasukan muslim Acheh TNA tidak mungkin akan mudah didetek bahwa dirinya pasukan TNA. Kalau pasukan muslim TNA mudah saja didetek sebagai pasukan TNA, maka dalam sekejap saja habis itu pasukan TNA dari Acheh.

Nah, dari dua hal diatas, itu cerita Ardiansyah sudah tidak masuk akal. Dan masih dipertanyakan kebenarannya.

Seterusnya, kita gali lagi dalam kalimat lainnya. Dimana Ardiansyah menulis: "Kemudian salah seorang bertanya dengan bahasa aceh , tapi karena saya tidak bisa berbahasa aceh , saya bicara kalau saya dari Jakarta dan berasal dari salah satu perguruan tinggi di Jakarta. Tidak ada reaksi bahwa saya akan di culik atau di aniaya , walaupun di pinggang saya terselip sebilah rencong warisan kakek saya , dan saya bertekad kalau terjadi apa - apa maka saya akan lawan dengan sekuat tenaga, karen saya meyakinkan kalau batas antara kematian dan kehidupan itu amatlah tipis."

Dari apa yang ditulis Ardiansyah diatas ada dua hal yang masih dipertanyakan, yaitu pertama, kalau memang benar orang yang disebut "gerombolan babi hutan" oleh Ardiansyah budek ini pasukan TNA, sejak kapan orang itu menceritakan bahwa diri mereka pasukan TNA, padahal ketika Ardiansyah ditanya dengan bahasa Acheh, tidak bisa menjawabnya, karena tidak bisa berbahasa Acheh. Nah, disini, kelihatan itu Ardiansyah hanya mereka-reka saja berjumpa denga pasukan TNA. Kemudian kedua, darimana Ardiansyah mengetahui bahwa setiap pasukan TNA kerjanya kalau berjumpa dengan orang terus menculik ?. Hal ini dikarenakan Ardiansyah langsung saja keluar sak wasangkanya dengan menuliskan: "Tidak ada reaksi bahwa saya akan di culik atau di aniaya".

Jadi, dari dua hal tersebut diatas, makin bertambah keraguan Ahmad Sudirman, bahwa apakah Ardiansyah memang benar bertemu dengan pasukan TNA.

Seterusnya Ardiansyah menulsi lagi: "Saya sempat bertanya tentang gaji, katanya mereka memang tidak pernah lagi dapat gaji , tapi kalau untuk menyerah keTNI mereka masih ragu sebab belum jelas siapa lawan dan siapa kawan, malah kata mereka ada anggota GAM yang menjadi TNI aktif."

Nah, dari apa yang ditulis Ardiansyah itu, ada dua hal yang meragukan. Pertama, itu yang disebut pasukan TNA oleh Ardiansyah, mengapa mereka menyatakan: "untuk menyerah ke TNI mereka masih ragu sebab belum jelas siapa lawan dan siapa kawan". Nah, dari apa yang dituliskan Ardiansyah, timbul kerancuan. Mengapa ? Karena, mengapa orang yang dianggap TNA itu masih ragu siapa lawan dan siapa kawan. Padahal kalau ia seorang pasukan TNA, kalau menyerah kepada TNI, jelas menyerah kepada lawan TNA. Tetapi, mengapa orang yang dianggap pasukan TNA, masih tidak mengetahui bahwa TNI adalah lawan TNA. Dan TNA adalah pasukan rakyat muslim Acheh. Nah, disini adalah sesuatu hal yang masih kabur dan tidak benar dari apa yang dituliskan Ardiansyah itu.

Kedua, mengenai masalah gajih. Mengapa orang yang dianggap TNA itu menjawab bahwa ia tidak pernah lagi dapat gajih. Nah, disini timbul keraguan dalam cerita Ardiansyah. Mengapa ? Karena, kalau pasukan TNA urusan gajih adalah urusan dalam tubuh TNA. Dan pimpinan TNA yang mengatur pembayaran gajih bagi pasukannya. Kalau ada yang tidak mendapat gajih, tentu saja harus meminta kepada pimpinan pasukan TNA, bukan bercerita keluar. Apalagi kepada orang model Ardiansyah. Nah, disini, timbul keraguan, apakah memang benar itu betul-betul pasukan TNA atau hanyalah orang Acheh biasa.

Selanjutnya Ardiansyah menulis: "Saya memberikan kepada 5 orang tsb angket yang ingin saya berikan kepada teman untuk di sebarkan secara random , dan jawaban mereka bukanlah ingin merdeka, tetapi mereka ingin aman dari gangguan TNI. Lucu memang jawaban tsb."

Nah, dari apa yang ditulis Ardiansyah, sedikitnya ada dua hal yang meragukan. Pertama, Ardiansyah memberikan angket untuk diisi oleh yang disangka pasukan TNA. Jelas, kalau itu pasukan TNA, tidak mungkin ia mau mengisi angket-angket dari orang yang tidak dikenalnya itu, dan yang tidak pandai bahasa Acheh dan tinggal di Jakarta lagi. Jadi, adanya sikap yang cepat begitu saja mau merespon dengan memberikan jawaban yang ditanyakan dalam angket itu membuktikan bahwa orang yang dianggap TNA itu sebenarnya bukan pasukan TNA. Kedua, kemudian orang yang dianggap TNA itu langsung memberikan jawabannya dengan memilih opsi ingin aman dari gangguan TNI, tidak memilik opsi ingin merdeka. Nah, dari jawaban disini menimbulkan keraguan atas jawaban yang diberikan itu. Alasannya adalah kalau memang orang itu pasukan TNA yang berjuang untuk penentuan nasib sendiri, jelas ia akan mengetahui bahwa perjuangan menghadapi TNI adalah untuk penentuan nasibs endiri, yaitu untuk kemerdekaan Acheh. Tetapi, kalau orang itu bukan pasukan TNA, maka bisa saja ia menjawab seperti kebanyakan orang di Acheh lainnya, yaitu ingin aman dari gangguan TNI. Hanya tentu saja, dibalik opsi ingin aman dari gangguan TNI mengsiratkan bahwa pasukan TNI harus ditarik dari Acheh, dan rakyat Acheh diberikan kebebasan untuk menentukan nasibnya sendiri.

Selanjutnya, itu Ardiansyah menyimpulkan tentang orang yang dianggapnya pasukan TNA dengan kesimpulan: "bahwa babi hutan peliharaan Ahmad Sudirman yang bertemu dengan saya diwarung kopi ternyata didalam hati nuraninya ingin aman dan tenang, namun mereka di dalam posisi memegang buah simalakama, kasihan memang. Namun pada saat saya ingin memberi uang 300 rb , mereka menolak , katanya emang hepeng untuk apa di hutan ?"

Ternyata Ardiansyah, dengan sembrono dan seenaknya menyimpulkan bahwa orang yang baru ketemu diwarung kopi itu adalah "babi hutan peliharaan Ahmad Sudirman". Kemudian, orang yang baru ketemu itu dalam hati sanubarinya "ingin aman dan tenang".

Nah disini, kelihatan bahwa data yang baru saja ia dapatkan, yang baru secuil itu, ternyata itu data oleh Ardiansyah sudah diambil kesimpulannya dan dilambungkan bahwa itulah kesimpulannya, padahal belum tentu benar dilihat dari sudut ilmiah dan dari sudut fakta dan bukti bahwa orang itu benar-benar pasukan TNA.

Terakhir, Ardiansyah menuliskan cerita yang makin meragukan yaitu: "Senjata mereka sembunyikan di dalam sarung yang mereka bawa, dan sempat di tunjukan , sempat mereka bertemu dengan 2 orang raider 100 , malah mereka saling menyapa sambil melambaikan tangan."

Nah disini timbul lagi keraguan, yaitu mengapa itu Ardiansyah sudah sejak dari saat pertama berjumpa sudah mengetahui dan menyatakan bahwa orang itu "babi hutan", sedangkan itu pasukan Raider tidak mengenalnya bahwa itu "babi hutan", padahal seharusnya itu pasukan Raider yang kerjanya tiap hari menyisir pasukan TNA. Jadi, disini adanya ketidak jelasan dan ketidak benaran dari apa yang ditulis Ardiansyah itu, dan cerita itu masih diragukan seluruhnya. Masa itu pasukan TNA bisa mesra saling melambai tangan dan saling sapa dengan Raider.

Jadi, kalau Ahmad Sudirman melihat dan memperhatikan, itu Ardiansyah dengan melambungkan cerita bohong ini hanyalah untuk memberikan gambaran bahwa itu di Acheh tidak ada "semangat rakyat aceh yang sadar ingin menentukan nasibnya sendiri"

Hanya sayang, fakta dan bukti yang dilambungkan Ardiansyah ini ternyata fakta dan bukti gombal alias kosong. Dan itulah suatu bukti bahwa Ardiansyah memang budek dan gombal. Dasar kunyuk rawun. Mau menipu Ahmad Sudirman.

Bagi yang ada minat untuk menanggapi silahkan tujukan atau cc kan kepada ahmad@dataphone.se agar supaya sampai kepada saya dan bagi yang ada waktu untuk membaca tulisan-tulisan saya yang telah lalu yang menyinggung tentang Khilafah Islam dan Undang Undang Madinah silahkan lihat di kumpulan artikel di HP http://www.dataphone.se/~ahmad

Hanya kepada Allah kita memohon pertolongan dan hanya kepada Allah kita memohon petunjuk, amin *.*

Wassalam.

Ahmad Sudirman

http://www.dataphone.se/~ahmad
www.ahmad-sudirman.com
ahmad@dataphone.se
---------

Date: Thu, 3 Mar 2005 10:12:30 +0000 (GMT)
From: muhammad ardiansyah ardiansyah_hm@yahoo.com
Subject: sejenak bersama TNA
To: Ahmad Sudirman <ahmad@dataphone.se>, inongbale_aceh@yahoo.com

Assalamu'alaikum wr wbr,

Saya ingin sedikit bercerita pada anda. Pada awal februari 2005, saya bertemu dengan gerombolan babi hutan anda di salah satu desa di langsa, tempat saudara saya. Pada waktu itu saya tengah sibuk menghubungi kawan - kawan untuk menyebarkan angket guna bahan skripsi.

Penampilan mereka sebenarnya tidaklah begitu seram, yang rata - rata anak muda seumuran saya, malah saya sempat mampir dan minta rokok sama babi hutan tsb. Mungkin karena kulit saya hitam , maka saya dikira orang asli aceh . Kemudian salah seorang bertanya dengan bahasa aceh , tapi karena saya tidak bisa berbahasa aceh , saya bicara kalau saya dari Jakarta dan berasal dari salah satu perguruan tinggi di Jakarta .

Tidak ada reaksi bahwa saya akan di culik atau di aniaya , walaupun di pinggang saya terselip sebilah rencong warisan kakek saya , dan saya bertekad kalau terjadi apa - apa maka saya akan lawan dengan sekuat tenaga, karen saya meyakinkan kalau batas antara kematian dan kehidupan itu amatlah tipis.

Saya sempat bertanya tentang gaji, katanya mereka memang tidak pernah lagi dapat gaji , tapi kalau untuk menyerah keTNI mereka masih ragu sebab belum jelas siapa lawan dan siapa kawan, malah kata mereka ada anggota GAM yang menjadi TNI aktif.

Saya memberikan kepada 5 orang tsb angket yang ingin saya berikan kepada teman untuk di sebarkan secara random , dan jawaban mereka bukanlah ingin merdeka, tetapi mereka ingin aman dari gangguan TNI. Lucu memang jawaban tsb.

Jadi dari situ saya simpulkan bahwa babi hutan peliharaan Ahmad Sudirman yang bertemu dengan saya diwarung kopi ternyata didalam hati nuraninya ingin aman dan tenang, namun mereka di dalam posisi memegang buah simalakama, kasihan memang. Namun pada saat saya ingin memberi uang 300 rb , mereka menolak , katanya emang hepeng untuk apa di hutan ? Setelah saya membayarkan mereka makan & minum yg totalnya tidak lebih dari 35 ribu mereka kembali ke jalan setapak menuju hutan.

Senjata mereka sembunyikan di dalam sarung yang mereka bawa, dan sempat di tunjukan , sempat mereka bertemu dengan 2 orang raider 100 , malah mereka saling menyapa sambil melambaikan tangan.

Begitulah sedikit cerita dari saya , mungkin bisa menggambarkan suasana aceh yang tidak mencekam seperti yang di beritakan , atau semangat rakyat aceh yang sadar ingin menentukan nasibnya sendiri versi Ahmad Sudirman. Jelas sunda gelo ?

Wassalam,

Ardi

ardiansyah_hm@yahoo.com
Jakarta, Indonesia
----------