Stockholm, 3 Maret 2005

Bismillaahirrahmaanirrahiim.
Assalamu'alaikum wr wbr.
 

MUBA & PERMADI KEROPOS TIDAK BERANI MELAKUKAN PLEBISIT DI ACHEH, HANYA MENGEMBEK EKOR SOEKARNO SAJA
Ahmad Sudirman
Stockholm - SWEDIA.

 

ITU KELIHATAN MAKIN JELAS MUBA & PERMADI MEMANG KEROPOS TIDAK BERANI MELAKUKAN PLEBISIT DI ACHEH, HANYA MENGEMBEK EKOR SOEKARNO SAJA

"Soekarno, mbahku yang cerdik, nasionalis sejati, patriotik, dan heroik itu, tidak menebarkan racun, malah memberi kami sebuah RI yang berdaulat dari Sabang sampai Merauke. Aceh dan Maluku Selatan tidak pernah menjadi masalah bagi RI dalam pergaulan internasionalnya. Perundingan New York dan diterimanya RI menjadi anggota PBB tanpa syarat adalah fakta tak terbantahkan mengenai kedaulatan RI atas Aceh dan Maluku Selatan. Papua Barat disebut dalam Perundingan New York, dan akhirnya selesai dengan manis lewat Pepera yang diawasi KTN (Komisi Tiga Negara). Sejarah tidak pernah salah kaprah. Apa yang selama ini kamu sampaikan tentang Renville mungkin benar, tapi itu berlaku hanya beberapa tahun. Perundingan KMB dan New York serta diterimanya RI tanpa syarat oleh PBB telah menyebabkan Renville tidak berlaku lagi. Sangat tepat apa yang disampaikan Permadi. Apalagi dia sering menjuluki dirinya sebagai "Penyambung Lidah Bung Karno. Sudah aku tunjukkan: KMB, Perundingan New York, Pepera, serta diterimanya RI oleh PBB tanpa syarat. Apalagi yang kurang? Sekali lagi kukatakan: Renville tak berlaku lagi sejak KMB, apalagi setelah New York." (Muba Zir, mbzr00@yahoo.com ,Thu, 3 Mar 2005 10:16:41 -0800 (PST))

Baiklah Muba di Paris, Perancis.

Muba, bagi kalian yang menjadi ekor Soekarno, mana bisa kalian menolak dijejali sampah oleh mbahmu Soekarno penipu licik itu. Kalian boleh saja menyebut seenak kalian kepada mbah mu. Mau disebut komunis, sosialis, nasionalis, internasionalis, nazist, pembunuh, penjajah, itu hak kalian Muba. Tetapi, yang jelas, itu Soekarno telah melakukan kebiadaban dan tindakan yang betul-betul melanggar dasar hukumnya sendiri seperti yang tertuang dalam pembukaan UUD 1945-nya yang gombal, juga melanggar dasar hukum internasional dengan menelan, dan mencaplok wilayah Negeri Acheh. Apapun alasan kalian, yang jelas, kalian tidak bisa membuktikan secara hukum, dimana status legalitas RI dihubungkan dengan wilayah Acheh.

Kalian Muba hubungkan penelanan Acheh dengan Perundingan KMB dan New York serta diterimanya RI tanpa syarat oleh PBB, lalu kalian katakan: "menyebabkan Renville tidak berlaku lagi.". Jelas itu salah kaprah cara berpikir kalian itu Muba.

Sekarang dimana letak hubungannya antara KMB dengan RI, RIS, Acheh, Renville, Roem Royen ?

Itu jelas, KMB menerima RI sebagai salah satu utusan bersama tiga utusan lainnya, yaitu Badan Permusyawaratan Federal atau Bijeenkomst voor Federal Overleg (BFO), Belanda, dan United Nations Commission for Indonesia (UNCI), untuk mengikuti Konferensi berdasarkan pada Perjanjian Roem Royen. Dimana Perjanjian Roem Royen bisa dilangsungkan karena didasarkan pada Resolusi PBB No.67(1949). Kemudian Resolusi PBB No.67(1949) lahir didasarkan pada Perjanjian Linggajati dan Perjanjian Renville.

Jadi, kelihatan disini, bahwa apa yang kalian Muba katakan, bahwa Renville tidak berlaku lagi setelah KMB, itu jelas salah kaprah dan ngaco. Justru karena adanya hasil Perjanjian Renville dan Perjanjian Linggajati itulah sampai lahir KMB.

Nah sekarang, KMB dihubungkan dengan Acheh, RI, RIS, dan Perjanjian New York. Jelas, kelihatan bahwa menurut hasil KMB itu Belanda akan menyerahkan kedaulatan kepada Republik Indonesia Serikat (RIS) pada akhir bulan Desember 1949. Perhatikan disini, penyerahan kedaulatan kepada RIS, bukan kepada RI. Dimana letak posisi RI dihubungkan dengan RIS ? Letak posisi RI adalah dalam RIS sebagai Negara Bagian RIS diantara 16 Negara/Daerah Bagian RIS lainnya.

Selanjutnya, KMB dihubungkan dengan Acheh. Jelas, Belanda menyerahkan kedaulatan kepada RIS, sedangkan Negeri Acheh, bukan termasuk Negara/daerah Bagian RIS. Jadi, Acheh berada di luar RIS.

Kemudian RI dihubungkan dengan Acheh. Jelas, melihat daripada dasar hukum Linggajati, Renville, Resolusi PBB No.67(1949), Perjanjian Roem Royen, KMB, dan Perjanjian Penyerahan Kedaulatan Belanda kepada RIS, itu Negeri Acheh berada diluar wilayah de-facto dan de-jure RI. Jadi, Acheh berada di luar RIS dan diluar RI.

Seterusnya, KMB dihubungkan dengan Perjanjian New York. Jelas, dalam isi Perjanjian KMB disebutkan bahwa Irian barat penyelesaiannya ditunda selama satu tahun. Ternyata itu Soekarno dimasa Kabinet Ali Sastroamidjojo atau Kabinet Ali II, membatalkan secara sepihak perjanjian KMB pada tanggal 3 Mei 1956, dengan mendasarkan kepada pembuatan undang-undang sepihak yaitu UU No.13 Tahun 1956. Kemudian melakukan langkah-langkah pencaplokan Irian Barat.

Persoalannya, taktik dan strategi Soekarno untuk mencaplok Irian Barat atau Papua Barat ini tidak berhasil. Karena tidak berhasil, Soekarno melalui Subrandio melakukan perundingan dengan J Van Roywen dan CW Schmurmann wakil Belanda di New York, dan pada tanggal 15 Agustus Perjanjian New York ini ditandatangani. Dimana salah satu isi tambahan dari perjanjian ini adalah "Penentuan Pendapat Rakyat" (Ascertainment of the wishes of the people).

Sekarang yang menjadi permasalahan dengan pepera ini adalah, pelaksanaannya yang tidak didasarkan kepada penentuan pendapat dari seluruh rakyat Papua Barat, melainkan melalui taktik model Soekarno yang licik, yaitu dengan memilih anggota Dewan Musyawarah Pepera sebanyak 1026 anggota dari delapan kabupaten. Anggota Dewan Musyawarah Pepera yang melakukan pepera. Kan gombal itu. Ya, jelas, itu Papua Barat bisa dimasukkan kedalam wilayah RI. Tetapi, tentu saja, masalah pepera ini tidak selesai sampai detik sekarang ini. Itu rakyat Papua Barat masih terus berjuang untuk diadakannya kembali referendum bagi seluruh rakyat Papua Barat untuk menentukan masa depan Papua Barat dan nasib mereka sendiri.

Jadi hubungan KMB dengan Perjanjian New York adalah Perjanjian KMB dibatalkan secara sepihak oleh Soekarno. Kemudian dilakukan Perjanjian baru di New York antara Belanda dan RI. Dilakukannya pepera model Soekarno, yang ternyata persoalan pepera ini tidak selesai sampai detik sekarang ini.

Jadi kesimpulannya, adanya kaitan antara Perjanjian Linggajati, Renville, Resolusi PBB No.67(1949), Perjanjian Roem Royen, KMB, dan Perjanjian Penyerahan Kedaulatan Belanda kepada RIS, RIS, Pembatalan sepihak KMB oleh Soekarno, Perjanjian New York, dan Pepera.

Nah inilah Muba budek, tidak ada diantara dasar-dasar hukum diatas yang dihilangkan atau dibatalkan, kecuali pembatalan salah satu isi KMB mengenai Papua Barat oleh Soekarno.

Selanjutnya menyinggung soal Permadi itu hak kalian Muba untuk memberikan gelar atau sebutan apapun kepada Permadi, mau disebut "Penyambung Lidah Bung Karno", nasionalis, patriotist, heroist, dan sebutan lainnya. Bagi Ahmad Sudirman tidak penting dan tidak merugikan atau menguntungkan.

Yang menjadi persoalan disini mengenai Permadi ini adalah karena ia tidak mau menggali, mempelajari, meneliti, menganalisa, menyimpulkan akar masalah utama penyebab timbulnya konflik Acheh. Itu Permadi hanya membeo kepada mbah Soekarno, persis seperti Muba budek.

Dan ternyata dasar argumentasi kalian Muba yang telah kalian sodorkan di mimbar bebas ini, seperti yang kalian perkuat dalam tanggapan ini, ternyata dapat dipatahkan oleh Ahmad Sudirman. Sebagaimana yang telah dijelaskan diatas oleh Ahmad Sudirman mengenai berbagai perjanjian dan hubungannya satu dengan lainnya.

Nah sekarang, kalau kalian dan itu Permadi dari PDIP ada kemampuan coba tampilkan alasan lain yang bisa dijadikan sebagai status legal bagi RI untuk memasukkan wilayah Acheh. Jangan hanya mengembek saja pada ekor mbah Soekarno penipu licik.

Karena memang kalian hanya mengembek kepada Soekarno, dan karena ketidak mampuan kalian, baik itu dari Permadi atau kalian Muba untuk menampilkan argumentasi yang berlandaskan kepada fakta, bukti, sejarah dan dasar hukum yang menyatakan status legal RI memasukkan Acheh kedalamnya, maka kalian hanya bisa menyodorkan UU No.18/2001.

Ini membuktikan kekerdilan dan kepicikan dari kalian karena memang ketidak mampuan untuk memberikan dasar kekuatan hukum, sejarah, fakta dan bukti, status legal RI menguasai Acheh, sehingga kalang kabut dan amburadul ketika berhadapan dengan rakyat Acheh yang telah sadar untuk menentukan nasib sendiri, yang sedang memperjuangkan pembebasan negerinya dari pendudukan dan penjajahan RI.

Bukti lainnya adalah karena memang pihak RI kehilangan kekuatan dasar hukum, sejarah, fakta, dan bukti tentang status legal RI menguasai Acheh, maka ketika rakyat Acheh yang telah sadar menuntut plebisit atau referendum, kalian betul-betul seperti kunyuk rawun yang takut masuk kedalam air. Kan gombal itu. Dasar penyamun dan perampok.

Jadi sebenarnya model Permadi, Muba dan para anggota DPR Komisi I itulah yang pantas disebut bencong. Karena memang benconglah yang tidak berani untuk menerima tantangan rakyat Acheh untuk melakukan plebisit atau referendum di Acheh. Dasar bencong budek.

Bagi yang ada minat untuk menanggapi silahkan tujukan atau cc kan kepada ahmad@dataphone.se agar supaya sampai kepada saya dan bagi yang ada waktu untuk membaca tulisan-tulisan saya yang telah lalu yang menyinggung tentang Khilafah Islam dan Undang Undang Madinah silahkan lihat di kumpulan artikel di HP http://www.dataphone.se/~ahmad

Hanya kepada Allah kita memohon pertolongan dan hanya kepada Allah kita memohon petunjuk, amin *.*

Wassalam.

Ahmad Sudirman

http://www.dataphone.se/~ahmad
www.ahmad-sudirman.com
ahmad@dataphone.se
---------

Date: Thu, 3 Mar 2005 10:16:41 -0800 (PST)
From: muba zir mbzr00@yahoo.com
Subject: Re: ANGGOTA DPR KOMISI I PERMADI & KRISNANDI HANYA JADI BURUNG BEONYA MBAH SOEKARNO PENCAPLOK ACHEH
To: Ahmad Sudirman <ahmad@dataphone.se>, AcehA_yoosran <a_yoosran@yahoo.com>, Acehabu_dipeureulak <abu_dipeureulak@yahoo.com>, AcehAhmad_mattulesy <ahmad_mattulesy@yahoo.com>, acehahmadjibril <ahmad_jibril1423@yahoo.com>, acehalchaidar <alchaidar@yahoo.com>, Acehapalambak2000 <apalambak2000@yahoo.ca>, AcehArdi <muhammad.ardiansyah@hm.com>,

Hm mungkin kamu benar, seperti cacing kepanasan, tepatnya gregetan, karena tidak setuju RI yang gagah dan bermartabat itu duduk sama rendah dengan pawang celeng yang hina dina.

Soekarno, mbahku yang cerdik, nasionalis sejati, patriotik, dan heroik itu, tidak menebarkan racun, malah memberi kami sebuah RI yang berdaulat dari Sabang sampai Merauke.

Aceh dan Maluku Selatan tidak pernah menjadi masalah bagi RI dalam pergaulan internasionalnya. Perundingan New York dan diterimanya RI menjadi anggota PBB tanpa
syarat adalah fakta tak terbantahkan mengenai kedaulatan RI atas Aceh dan Maluku Selatan. Papua Barat disebut dalam Perundingan New York, dan akhirnya selesai dengan manis lewat Pepera yang diawasi KTN (Komisi Tiga Negara).

Bagi sebuah negara yang bermartabat dan berdaulat dari Sabang sampai Merauke, adalah benar jika memberlakukan suatu UU di wilayahnya.

Sejarah tidak pernah salah kaprah. Apa yang selama ini kamu sampaikan tentang Renville mungkin benar, tapi itu berlaku hanya beberapa tahun. Perundingan KMB dan New York serta diterimanya RI tanpa syarat oleh PBB telah menyebabkan Renville tidak berlaku lagi.

Sangat tepat apa yang disampaikan Permadi. Apalagi dia sering menjuluki dirinya sebagai "Penyambung Lidah Bung Karno".

Sudah aku tunjukkan: KMB, Perundingan New York, Pepera, serta diterimanya RI oleh PBB tanpa syarat. Apalagi yang kurang? Sekali lagi kukatakan: Renville tak berlaku lagi sejak KMB, apalagi setelah New York.

Sama sekali tidak picik. Permadi menunjukkan nasionalismenya, patriotismenya, dan heroismenya, walau jelas tidak secerdik Bung Karno, tapi jauh lebih cerdas daripada Mad si tukang ngelap kaca itu.

Kebenaran yang diperjuangkan oleh Allahyarham Soekarno harus tetap disuarakan, oleh siapapun, termasuk aku.

"Karena itu wajar saja kalau mereka beruda ini tidak ingin melihat di Negeri Acheh aman dan damai. Karena yang dinamakan aman dan damai oleh itu orang budek anggota DPR Komisi I adalah hanya menyodorkan dua pilihan, yaitu terima UU No.18/2001 atau menolak." (Ahmad Sudirman, 2 Maret 2005)

Itu memang satu-satunya syarat bagi perdamaian. Nothing else. Kalo tidak, Mang Endang akan bertindak.

Pemikiran seorang Nasionalis seperti Permadi dan Krinadi jelas berbeda dengan pemikiran orang yang hobby masturbasi seperti kamu walalupun kamu sering berkata-kata dengan Islam sebagai bumbu.

Aku tetap berminat. Setuju, tapi kamu juga (dan tiro banci itu serta kacung2 lainnya), harus tahu yang namanya sajadah dong. Sorry, tidak ada salam buat penyebab rakyat Aceh menderita.

Muba ZR

mbzr00@yahoo.com
Paris, Perancis
----------