Stockholm, 5 Maret 2005

Bismillaahirrahmaanirrahiim.
Assalamu'alaikum wr wbr.
 

DHARMINTA TUKAR HALUAN ACHEH DARI ARAH EKOR RYACUDU KE ARAH EKOR DJOKO SANTOSO
Ahmad Sudirman
Stockholm - SWEDIA.

 

MATIUS DHARMINTA IKUTAN TUKAR HALUAN ACHEH DARI ARAH EKOR RYAMIZARD RYACUDU KE ARAH DJOKO SATOSO ORANG JAWA

"Mana yang lebih smart dibanding Yudhoyono ?" (Matius Dharminta , mr_dharminta@yahoo.com ,Sat, 5 Mar 2005 01:59:03 -0800 (PST))

Baiklah Dharminta, di Surabaya, Indonesia.

Rupanya yang dinamakan smart oleh wartawan Jawa Pos Matius Dharminta ini adalah kalau anak buah Letjen Djoko Santoso orang Jawa itu bisa membunuh rakyat muslim Acheh yang telah sadar untuk menentukan nasib sendiri. Begitu juga kalau itu Susilo Bambang Yudhoyono petentengan sambil tunjukkan gigi taring dengan meluncurkan kapal perang maritimnya KRI Nuku, KRI Rencong, dan KRI Wiratno kearah pulau Ambalat yang konsesi minyaknya telah diberikan Petronas kepada Shell, dimana penandatanganan kotrak koneseinya itu dilangsungkan di Kuala Lumpur, tanggal 16 Februari 2005, itu juga dinamakan smart oleh Matius Dharminta Jawa satu itu.

Nah, begitu juga dalam emailnya hari ini, itu Dharminta menunjukkan ke-semart-an anak buah Djoko Santoso yang telah ditugaskan Susilo Bambang Yudhoyono untuk terus menduduki dan menjajah Negeri Acheh dengan cara membunuh rakyat muslim Acheh TNA.

Memang, sekarang di Acheh telah berlangsung perang modern. Dan tentang berita tembak menembak antara TNI-TNA itu memang suatu hal yang logis, karena memang di Acheh masih berlangsung perang modern dan masih terus berlangsung penjajahan. Jadi, tentu saja kejahatan pihak penjajah RI dengan menugaskan pasukan non-organik TNI-nya itu adalah dalam rangka usaha terus menjajah di Acheh.

Hanya dari pihak rakyat musalim Acheh TNA yang telah sadar untuk menentukan nasib sendiri, soal mati itu adalah soal sahid membela Negeri Acheh, yang dijajah RI dan membela Agama Islam yang telah dimanipulasi oleh pihak SusiloBambang Yudhoyono cs dan para anggota DPR dengan UU No.18/2001 yang menyesatkan umat Islam di Acheh, melalui cara mencampur-adukkan pelaksanaan syariat Islam dengan hukum nasional yang bersumberkan kepada pancasila yang dijabarkan kedalam Tap MPR, UU, Peraturan Presiden, Instruksi Presiden, Peraturan Pemerintah pengganti UU.

Dan tentu saja orang-orang model Dharminta mana mengerti itu isi UU No.18/2001 menyesatkan umat Islam di Acheh, karena memang itu Matius Dharminta tidak paham dan tidak mengerti tentang syariat Islam yang dicampur adukkan dengan dasar dan sumber hukum Negara Pancasila ini. Pokoknya itu yang namanya Matius Dharminta hanya enggeh, enggeh saja sambil kepalanya mengangguk-angguk seperti kepala burung beo dihadapan mbah Susilo Bambang Yudhoyono.

Jadi, itu soal sahidnya pasukan muslim rakyat Acheh TNA yang telah berjuang membebaskan negeri Acheh dari pasukan TNI pancasila yang sudah dicekoki oleh jampi-jampi mpu Tantular dengan bhineka tunggal ika-nya, dan sudah disembur kepalanya dengan obat jamu cairan pancasila hasil ramesan mbah Soekarno dalam sidang BPUPKI pada tanggal 1 Juni 1945.

Kita berdo'a kepada Allah SWT semoga para pejuang rakyat Acheh yang sedang berjuang membebaskan negerinya yang dijajah RI diterima amal ibadahnya dan ditempatkan disisi Allah SWT, amin. Dan bagi pasukan TNI pancasila dengan label bhineka tunggal ika-nya yang diikatkan dikeningnya, mendapat balasan yang setimpal dari Allah SWT, amin. Begitu juga bagi para pendukung TNI yang menjadi alat pembunuh rakyat muslim Acheh semoga diberikan balasan yang setimpal atas semua kejahatannya oleh Allah SWT, amin.

Dan tentu saja kalau itu Matius Dharminta meminta kepada Tuhannya untuk diperkuat pasukan TNI pancasilanya, dipersilahkan juga. Biar dicampur adukkan itu doanya dengan jampi-jampi pancasila dan bhineka tunggal ika-nya mpu Tantular dari aliran hindu dan kejawennya itu. Memang cocok kejawen, ditambah hindu bhineka tunggal ika, dikocek dengan cairan pancasila, maka menjadilah jamu racun otak bagi para pasukan non-organik TNI yang ditugaskan di Acheh untuk membunuh rakyat muslim Acheh.

Bagi yang ada minat untuk menanggapi silahkan tujukan atau cc kan kepada ahmad@dataphone.se agar supaya sampai kepada saya dan bagi yang ada waktu untuk membaca tulisan-tulisan saya yang telah lalu yang menyinggung tentang Khilafah Islam dan Undang Undang Madinah silahkan lihat di kumpulan artikel di HP http://www.dataphone.se/~ahmad

Hanya kepada Allah kita memohon pertolongan dan hanya kepada Allah kita memohon petunjuk, amin *.*

Wassalam.

Ahmad Sudirman

http://www.dataphone.se/~ahmad
www.ahmad-sudirman.com
ahmad@dataphone.se
---------

Date: Sat, 5 Mar 2005 01:59:03 -0800 (PST)
From: matius dharminta mr_dharminta@yahoo.com
Subject: MANA YANG LEBIH SMART DIBANDING YUDHOYONO?
To: Ahmad Sudirman <ahmad@dataphone.se>, Serambi Indonesia <serambi_indonesia@yahoo.com>, Habe Arifin <habearifin@yahoo.com>, Yuhendra <yuhe1st@yahoo.com>, Ditya Soedarsono <dityaaceh_2003@yahoo.com>, ahmad jibril <ahmad_jibril1423@yahoo.com>, Hassan Wirajuda <hassan.wirajuda@ties.itu.int>, Megawati <megawati@gmx.net>, Al Chaidar <alchaidar@yahoo.com>,

MANA YANG LEBIH SMART DIBANDING YUDHOYONO ?

Matius Dharminta

mr_dharminta@yahoo.com
Surabaya, Indonesia
----------

BANDA ACEH- Bentrokan bersenjata antara TNI - GAM tak terhindarkan terjadi di desa Seubam Lhok, Montasik, Aceh Besar. Dalam bentrokan kamis malam itu tiga anggota GAM dan seorang warga sipil tewas.

Ketiga anggota GAM yang tewas itu adalah Khirul, Zulkiran dan Sudirman. Sedangkan, seorang warga sipil yang tewas diketahui bernama Zaini. ''Kejadiannya malam hari, sekitar jam sepuluh malam (22.00).

Kami berhasil melumpuhkan tiga GAM, setelah mereka menembak Zaini,'' kata Komandan Peleton 2 Parako 14 Grup I Letda Usman di Montasik. Usman menuturkan, baku tembak TNI dengan GAM itu bermula dari adanya serangkaian tembakan di pos kamling di Seubam Lhok, Montasik, Aceh Besar.

Mendengar suara tembakan, pasukan TNI yang berada di sekitar lokasi langsung mendatangi tempat kejadian. Masyarakat yang berada di lokasi tersebut melaporkan bahwa Zaini ditembak.

TNI yang menduga tindakan itu dilakukan GAM, langsung melakukan pengejaran. ''Kekuatan kami yang mengejar ada 29 orang, dan beberapa saat kemudian berhasil melumpuhkan tiga GAM,'' ujarnya.

Bersamaan dengan tewasnya tiga GAM itu, TNI juga menyita barang bukti berupa tiga pucuk senjata. Ketiga senjata itu, terdiri dari dua pucuk senjata jenis AK 47 dan satu pucuk jenis M16. Di samping itu, ditemukan pula 320 butir amunisi AK 47 dan M16, kopel serta satu bendera GAM. ''Kini, barang bukti itu diamankan di Kodim 0101/Aceh Besar,'' terangnya.

Pekan lalu TNI juga melalukan pengejaran GAM di perbukitan gunung Gruetee. Ketika mendaki bukit TNI menemui sebuah gubuk. Didalamnya, terdapat tiga pucuk senapan. Dua senapan berupa AK 45 dan satu senjata SS1. Di tempat itu, ditemukan pula lima kilogram beras dan dua tempat tungku.

Saat ini memang GAM telah turun ke kampung-kampung. Mereka biasanya meminta logistik yang mulai agak sulit karena Aceh tersapu tsunami. ''Mereka sudah turun ke desa dan mengacau. Mereka minta pajak Nanggroe dan memeras masyarakat''.
----------