Stockholm, 8 Maret 2005

Bismillaahirrahmaanirrahiim.
Assalamu'alaikum wr wbr.
 

NONI MUNCUL GANTIKAN ARDIANSYAH YANG HILANG, SAMBIL SODORKAN CERITA KHAYAL ACHEH CAMPUR GUDEG JAWA
Ahmad Sudirman
Stockholm - SWEDIA.

 

KELIHATAN DENGAN JELAS ITU ARDIANSYAH HILANG, MUNCUL NONI SAMBIL SODORKAN CERITA KHAYAL ACHEH CAMPUR GUDEG JAWA

"Pemberitahuan secara baik-baik sudah diupayakan, tapi rupannya itu sudah menjadi tabiat jelek mereka sehingga kita dengan sangat terpaksa harus mengalah melindungi diri sendiri dan terpaksa bersikap cuek meskipun tentunya hal ini sangat mengganggu. Apakah ini yang dinamakan hidup dengan syariat islam yang didengung-dengungkan Ahmad Sudirman jongosnya Hasan Tiro itu ? Dan ini adalah suatu kenyataan yang tidak dapat di tutupi ! ini adalah fakta yang tidak dapat di pungkiri oleh anda Ahmad Sudirman." (Noni cantik , inongbale_aceh@yahoo.com ,Tue, 8 Mar 2005 06:09:03 +0000 (GMT))

Baiklah Noni di Jakarta, Indonesia.

Waktu istirahat, dipakai untuk membaca cerita yang diberi judul "Lagi Kisah nyata tentang korban GSA"yang dikhayal oleh Noni dengan memakai nama samaran Inong bale, biar kelihatan seperti perempuan Acheh, padahal perempuan transmigran dari Jawa, tempat mbah Soekarno yang pada tanggal 14 Agustus 1950 menelan dan mencaplok Acheh memakai jaring bernama PP RIS No.21/1950.

Dimana isi cerita khayal Noni mirip cerita karya khayal Ardiansyah yang menipu memakai kedok penelitian random sampling di Acheh untuk dijadikan bahan skripsi gombalnya yang isinya penuh dengan nyamuk-nyamuk yang dijaring sarang labah-labah BIN milik Syamsir Siregar.

Celakanya cerita tersebut dihubungkan dengan payung hukum buatan mbak Mega dan mbah Abdurrahman Wahid yang ditunjang dan dibenarkan oleh Akbar Tandjung tahun 2001 dengan diberi nama payung UU No.18/2001 yang isinya mencampur adukkan pelaksanaan syariat Islam dengan peradilan hukum nasional negara pancasila yang dasar dan sumber hukumnya mengacu kepada pancasila hasil kutak-katik mbah Soekarno yang dicampur dengan tali buhul-nya mpu Tantular yang diberi nama bhineka tunggal ika.

Nah, kalau itu payung hukum yang diterapkan mbak Mega di Acheh dihubungkan dengan cerita khayal Noni yang juga hasil inkarnasi Ardiansyah yang sudah tenggelam ditelan tsunami Ahmad Sudirman, maka kelihatan bahwa cerita suami istri dengan memakai nama meutiah, biar bisa digolongkan kedalam nama Acheh, dengan suaminya yang tidak disebutkan namanya, dimana mereka tinggal di Banda Acheh. Dan ketika Meutiah dengan memakai speda motor menjalankan bisnis kreditnya kepada orang-orang Acheh, padahal memberikan kredit pake bunga itu diharamkan Islam, tetapi tidak apalah kalau itu menurut UU No.18/2001, karena tidak ada diatur itu didalam isi UU No.18/2001 kalau melakukan kredit pake bunga itu haram atau halal.

Kemudian, setelah menagih dari sipengutang, itu Meutiah dihabisi oleh orang yang dinamakan "binatang liar", tetapi kalau itu Ardiansyah mengatakan dengan "babi hutan". Hampir mirip, maklum memang Inong bale ini jelmaan Ardiansyah. Celakanya pula, itu sang suami Meutiah mengalami nasib sama seperti istrinya, kena sapu "binatang liar" juga.

Nah sekarang, ini cerita memang cerita khayal, tidak bedanya seperti cerita khayal sutasoma-nya mpu Tantular. Tujuan dari penulisan cerita khayal ini adalah untuk ikut-ikutan itu mang Endang Suwarya yang orang Sunda satu itu, yang menjabat sebagai Panglima Kodam Iskandar Muda. Juru pukulnya Letjen Djoko Santoso dan Panglima TNI Endriartono Sutarto, agar supaya pihak pasukan muslim Acheh TNA makin terpojok.

Jadi, dengan melambungkan cerita yang tidak tentu bila terjadinya dan dimana kejadiannya, memang disengaja hanya untuk dijadikan sebagai ramuan obat penenang bagi para pasukan non-organik TNI yang memang sudah kelesuan menghadapi pasukan rakyat Acheh muslim TNA. Apalagi sekarang itu mbah Susilo Bambang Yudhoyono sibuk menghadapi masalah Ambalat untuk memperebutkan Blok Ambalat yang kaya minyak yang diklaim juga oleh Datuk Seri Abdullah Ahmad Badawi.

Untuk lebih memberikan bumbu pahit gudek Jawa-nya Noni yang asal Jawa ini, ditambahlan cerita khayalannya itu dengan cerita para hidung belang yang mengintip orang-orang yang sedang ada di bilik air. Dimana Noni menghubungkan kelakuan hidung belang yang dituduhnya orang Acheh ini dengan syariat Islam. Hanya celakanya itu Noni memang tidak tahu bahwa sebenarnya syariat Islam yang diberlakukan di Acheh adalah syariat Islam buatan mbak Mega dan mbah Abdurrahman Wahid yang diamini oleh Akbar Tandjung dari DPR.

Sebenarnya logis kalau menghubungkan antara pengaruh payung hukum UU No.18/2001 dengan kebiasaan orang yang menurut Noni suka belalak matanya kalau ada orang dibilik mandi di tempat pengungsian, adalah merupakan akibat dari pengaruh isi dari UU No.18/2001 yang penuh khurafat, dan kesesatan itu. Jadi, memang dilihat dari segi empiris, tidak ada pengaruh kekuatan hukum dari UU No.18/2001 untuk dipakai sebagai senjata hukuman bagi orang-orang yang melakukan tindakan yang dilarang dalam Islam.

Jadi, kalau diteliti lebih dalam itu cerita Noni transmigran asal Jawa ini yang sekarang sudah kembali ke Jakarta, dan bersama Ardiansyah yang juga menurut cerita khayalnya punya saudara di Kota Langsa, justru memperlemah payung hukum UU No.18/2001 made in mbak Mega, mbah Abdurrahman Wahid, dan Akbar Tandjung. Karena itu sebenarnya yang perlu terlebih dahulu dihancurkan adalah itu payung hukum UU No.18/2001, kalau mau menerapkan syariat Islam secara kaffah atau menyeluruh. Dan tentu saja, sebelum diterapkan syariat Islam yang kaffah, maka itu burung garuda dan pancasila hasil kutak-katik mbah Soekarno perlu dihanyutkan ke kali Ciliwung dulu.

Bagi yang ada minat untuk menanggapi silahkan tujukan atau cc kan kepada ahmad@dataphone.se agar supaya sampai kepada saya dan bagi yang ada waktu untuk membaca tulisan-tulisan saya yang telah lalu yang menyinggung tentang Khilafah Islam dan Undang Undang Madinah silahkan lihat di kumpulan artikel di HP http://www.dataphone.se/~ahmad

Hanya kepada Allah kita memohon pertolongan dan hanya kepada Allah kita memohon petunjuk, amin *.*

Wassalam.

Ahmad Sudirman

http://www.dataphone.se/~ahmad
www.ahmad-sudirman.com
ahmad@dataphone.se
---------

Date: Tue, 8 Mar 2005 06:09:03 +0000 (GMT)
From: Noni cantik inongbale_aceh@yahoo.com
Subject: Lagi Kisah nyata tentang korban GSA
To: ahmad@dataphone.se

Assalamu'alaikum ,

Saya baru saja kembali dari Banda Aceh, mengunjungi adik yang tinggal disana, dan saya bawa oleh-oleh berita sedih tentang kekejaman para GAM Namanya Meutiah, istri seorang petani yang untuk menambah penghasilan keluarga melakukan usaha kredit barang barang rumah tangga.

Setiap minggu ibu Meutiah menagih hutang kepada para langganannya, ya namanya orang ada yang bayar ada yang tidak, tapi ibu Meutiah tak pernah berkecil hati, dengan tekun dilakoninya usaha kredit itu selama 2 tahun belakangan ini, hingga suatu hari dia pergi kedesa seberang untuk menagih.

Dengan itikad baik , dia menghidupkan sepeda motor dan mulai perjuangan hari itu, lumayan ternyata dari sekitar 15 orang yang ditagih sebagian besar membayar, dengan rasa syukur dia bersiap-siap hendak kembali pulang ke rumah.

Namun apa lacur, ketika ditengah - tengah perjalanan pulang dia dicegat oleh sekumpulan "binatang liar" yang dengan paksa meminta semua apa yang dia miliki, dengan rasa takut yang amat dia berusaha mempertahankan apa yang dia miliki, namun apalah daya seorang perempuan dibanding enam ekor "binatang liar" yang begitu ganas memandang dirinya seolah ingin menerkam.

Tanpa rasa kasihan ibu Ayu diseret ketengah hutan, semua yang dia miliki dirampas begitu saja dan yang sangat-sangat menyedihkan sebelum lehernya disembelih dia diperkosa bergantian.( begitu menurut otopsi )

Sementara dirumah suaminya mulai gelisah menunggu dan sibuk bertanya kesana-kemari tentang istri tercinta yang belum juga pulang.

Setelah 3 hari dicari kemana-mana tetap tidak ketemu, akhirnya sang suami mulai menemukan titik terang tentang keberadaan istrinya, namun malang tak dapat ditolak, dalam pencariannya dia bertemu dengan segerombolan "binatang liar lainnya yang juga akhirnya menghabisi nyawanya dengan cara menebaskan golok dilehernya.

16 pelaku telah tertangkap dan semuanya adalah anggota GSA, manusia bisa berbuat , hanya Allah lah yang berkehendak , dengan kemudahan dan Izin Nya, aparat dengan mudah menangkap Gerombolan itu atas informasi dari masyarakat setempat.

Saya merasa geram, marah dan seribu perasaan lainnya berkecamuk didada mendengar hal ini, rasanya ingin segera berada ditengah-tengah gerombolan binatang liar itu dan tanpa ampun membalaskan kematian kedua suami istri tersebut, namun Allah jua yang punya kehendak.

Tindakan Biadab bagi sesama rakyat Aceh , hanya karena tujuan mereka tidak lagi mendapat tempat dihati rakyat , hingga tega berbuat keji terhadap rakyat yang katanya akan dibela.

Saya tidak ingin mendiskreditkan yang namanya orang Aceh tapi ini adalah suatu kenyataan, di pengungsian. Dimana selama tinggal disana karena rumah adik saya hilang tersapu badai tsunami, dia terpaksa harus tinggal disuatu rumah dimana kamar mandi harus berbagi. Dan setiap kali masuk kamar mandi maka mata-mata jalang tetangga sebelah (yang notabene orang asli Aceh) selalu mengintai semua wanita yang lagi mandi. Mulanya hal ini tidak diketahui tapi lama kelamaan hal itu seperti sudah menjadi kebiasaan buat mereka sehingga kita yang masuk kamar mandi harus extra hati-hati dan tidak memeberi kesempatan buat mereka melihat lebih jauh aurat kita.

Pemberitahuan secara baik-baik sudah diupayakan, tapi rupannya itu sudah menjadi tabiat jelek mereka sehingga kita dengan sangat terpaksa harus mengalah melindungi diri sendiri dan terpaksa bersikap cuek meskipun tentunya hal ini sangat mengganggu. Apakah ini yang dinamakan hidup dengan syariat islam yang didengung-dengungkan Ahmad Sudirman jongosnya Hasan Tiro itu ? Dan ini adalah suatu kenyataan yang tidak dapat di tutupi ! ini adalah fakta yang tidak dapat di pungkiri oleh anda Ahmad Sudirman.

Wassalam

Inong bale

Noni Cantik

inongbale_aceh@yahoo.com
Jakarta, Indonesia
----------