Stockholm, 10 Maret 2005

Bismillaahirrahmaanirrahiim.
Assalamu'alaikum wr wbr.
 

ENNY MARTONO JANGAN TUDUH THAILAND & MALAYSIA MELALUI PORT KELANG TEMPAT PENYELUNDUPAN SENJATA
Ahmad Sudirman
Stockholm - SWEDIA.

 

ENNY MARTONO JANGAN MENUDUH SEENAKNYA THAILAND & MALAYSIA MELALUI PORT KELANG TEMPAT PENYELUNDUPAN SENJATA, NANTI BISA DIPECAT DARI PERUSAHAAN H&M MILIK ORANG SWEDIA

"Wah ternyata itu kang Ahmad gak pernah mau mengakui kekejaman para "jongos kang Hasan ya", minjam istilahnya inong bale alias Noni. Terus jawabannya kok ngelantur gitu sich? Kalau ngasi jawaban yg tegas dong langsung aja jawab, atau bantah kejadian itu benar apa enggak kalau kang Ahmad memang tau. Tapi saya punya cerita juga nich gak kalah seru. Kejadiannya sebelum lebaran, kurang lebih 4 orang pemuda dengan menggunakan mobil tua mengendarai dari kota pelabuhan di pantai timur Sumatera, tepatnya Teluk Nibung, di Asahan, kalau tidak salah jenis mobilnya mitsubishi keluaran tahun 1983 berwarna merah maroon, disekitar kota Lima Puluh (+/- 70 km ) dari pelabuhan tadi mobil mereka terjaring razia. Singkat cerita seluruh isi mobil digeledah, ternyata isi bagasinya terdapat sekitar 16 pucuk senapan yang saya lupa jenisnya apa tapi yang jelas semua jenis laras panjang dan kalau tidak salah terdapat 4 buah jenis AK 16. Usut punya usut, diketahui bahwa senjata itu diseludupkan dari Siam melalui Port Kelang yang hanya 4 jam pelayaran dari pelabuhan teluk Nibung. Dan semua senjata seludupan tersebut sedianya untuk dibawa ke Aceh sebagai pasokan senjata untuk gerombolan pengacau di Aceh. Ketika ditanya dari mana uang untuk membeli senjata tersebut mereka dengan santai menjawab hasil jual ganja." (Martono Enny , Enny.Martono@hm.com , Tuesday, March 08, 2005 5:47 PM)

Baiklah saudari Enny Martono di Jakarta, Indonesia.

Ada waktu pagi sedikit luang untuk dipakai membaca cerita Enny Martono yang menampilkan jalur proses penyelundupan senjata, ternyata itu Enny telah membukakan rahasia cara penyelundupan pihak TNI dan bagaimana itu pihak TNI melakukan bisnis jual beli senjata.

Coba saja perhatikan. Pertama itu Enny melibatkan Thailand, sudah barang tentu ada orang dalam Thailand yang mengetahui secara langsung. Kemudian melibatkan Malaysia dengan menyebutkan Port Kelang, yaitu Pelabuhan Kuala Lumpur. Seterusnya melibatkan RI dengan memakai pelabuhan Teluknibung, Asahan, Sumatera Utara.

Nah, melihat jalur-jalur dan tempat-tempat yang diceritakan Enny ini, jelas itu tidak mungkin dilakukan oleh pihak TNA. Yang jelas dan masuk akal adalah pihak RI sendiri melalui jalur TNI. Mengapa ? Coba saja pikirkan, bagaimana bisa lolos itu 16 pucuk senapan jenis laras panjang, dari mata kontrol di Thailand, kemudian di Pelabuhan Kelang, Kuala Lumpur, dan selanjutnya di pelabuhan Teluknibung, Asahan, Sumatera Utara. Dan lolos dimasukkan kedalam mobil mitsubishi, tetapi ditengah jalan terjaring rahasia. Lalu setelah diperiksa, keluarlah cerita bualan yang menyatakan itu 16 pucuk senjata dari Thailand untuk dimasukkan ke Acheh dengan uang hasil bisnis ganja.

Kan, bagi orang budek dan bodoh bisa saja menelan cerita model Enny Martono ini. Mengapa hanya orang budek dan bodoh percaya pada cerita model Enny Martono ini ?

Karena, kalau diteliti secara mendalam bahwa hanya itu pihak TNI dibantu kacung-kacung dari sarang labah-labah BIN-nya Syamsir Siregar saja yang memiliki jaringan sampai ke Thailand. Kemudian menguasai dengan mudah itu pelabuhan Kelang, Kuala Lumpur, Malaysia, dan orang-orang juru kontrol di pelabuhan Teluknibung, Asahan, Sumatera Utara.

Kemudian, agar supaya proses jalur penyelundupan senjata ini bisa dijadikan alat untuk memukul TNA, maka dipropagandakan bahwa mereka yang terjaring rahasia itu melakukan operasi penyelundupan senjata dari Thailand, Malaysia, dan Sumatera Utara, untuk dimasukkan ke Acheh dengan hasil jual ganja. Kan gombal itu cerita ini. Karena kalau diteliti secara mendalam itu yang melakukan bisnis ganja saja cukong-cukongnya dapat perlindungan TNI. Mana itu orang Acheh, apalagi TNA melakukan bisnis ganja dengan bebas di Acheh dan diluar Acheh dengan dapat beking TNI, kalau bukan itu orang kacung-kacung TNI yang mengaku-ngaku orang Acheh dan TNA.

Jadi Enny Martono, lain kali kalau melambungkan cerita itu sedikit yang logis dan masuk akal, dan harus ada fakta dan bukti, apalagi ini melibatkan dua Negara asing, Thailand dan Malaysia. Itu dua negara tetangga bisa saja naik pitam kalau mendengar cerita Enny ini.

Jadi Enny Martono, harus hati-hati kalau mau melambungkan cerita sampah di mimbar bebas ini. Karena akhirnya bisa terbongkar, bahwa itu cerita memang hasil propaganda TNI dibawah perintah Mang Endang Suwarya Pangdam Inskandar Muda dalam perang modern di Acheh ini.

Bagi yang ada minat untuk menanggapi silahkan tujukan atau cc kan kepada ahmad@dataphone.se agar supaya sampai kepada saya dan bagi yang ada waktu untuk membaca tulisan-tulisan saya yang telah lalu yang menyinggung tentang Khilafah Islam dan Undang Undang Madinah silahkan lihat di kumpulan artikel di HP http://www.dataphone.se/~ahmad

Hanya kepada Allah kita memohon pertolongan dan hanya kepada Allah kita memohon petunjuk, amin *.*

Wassalam.

Ahmad Sudirman

http://www.dataphone.se/~ahmad
www.ahmad-sudirman.com
ahmad@dataphone.se
---------

From: Muhammad.Ardiansyah@hm.com
To: <ahmad@dataphone.se>, <ardianyah_hm@yahoo.com>, <achehmerdeka@yahoo.com>, indonesia_teroris@yahoo.com
Cc: <mr_dharminta@yahoo.com>, <mbzr00@yahoo.com>,Enny.Martono@hm.com
Subject: FW: NONI MUNCUL GANTIKAN ARDIANSYAH YANG HILANG, SAMBIL SODORKAN CERITA KHAYAL ACHEH CAMPUR GUDEG JAWA
Date: Tue, 8 Mar 2005 18:04:37 +0700

From: Martono Enny (IDJA)
Sent: Tuesday, March 08, 2005 5:47 PM
Subject: RE: NONI MUNCUL GANTIKAN ARDIANSYAH YANG HILANG, SAMBIL SODORKAN CERITA KHAYAL ACHEH CAMPUR GUDEG JAWA

Ha ha ha, ternyata gue dapat cc email lagi, setelah sekian lama di omit dari daftar milis. Buat yang ngirimin email ini thanks ya.

Wah ternyata itu kang Ahmad gak pernah mau mengakui kekejaman para "jongos kang Hasan ya", minjam istilahnya inong bale alias Noni. Terus jawabannya kok ngelantur gitu sich? Kalau ngasi jawaban yg tegas dong langsung aja jawab, atau bantah kejadian itu benar apa enggak kalau kang Ahmad memang tau. Tapi saya punya cerita juga nich gak kalah seru.

Kejadiannya sebelum lebaran, kurang lebih 4 orang pemuda dengan menggunakan mobil tua mengendarai dari kota pelabuhan di pantai timur Sumatera, tepatnya Teluk Nibung, di Asahan, kalau tidak salah jenis mobilnya mitsubishi keluaran tahun 1983 berwarna merah maroon, disekitar kota Lima Puluh (+/- 70 km ) dari pelabuhan tadi mobil mereka terjaring razia, dan dari mulut salah seorang penumpang tercium bau alkohol, ketika di interogasi mereka terlihat gugup. Ketika diminta kartu indentitas dan rebejwesnya ternyata gak punya, kemudian polisi menyuruh mereka minggir, tapi dasar bodoh sopirnya bukannya minggir malah mau melarikan diri. Akhirnya dikejar polisi dan , singkat cerita seluruh isi mobil digeledah, ternyata isi bagasinya terdapat sekitar 16 pucuk senapan yang saya lupa jenisnya apa tapi yang jelas semua jenis laras panjang dan kalau tidak salah terdapat 4 buah jenis AK 16. Usut punya usut,diketahui bahaw senjata itu diseludupkan dari Siam melalui Port Kelang yang hanya 4 jam pelayaran dari pelabuhan teluk Nibung. Dan semua senjata seludupan tersebut sedianya untuk dibawa keaceh sebagai pasokan senjata untuk gerombolan pengacau di Aceh. Ketika ditanya dari mana uang untuk membeli senjata tersebut mereka dengan santai menjawab hasil jual ganja.

Tentu kang Mad sebagai menlu Gam mengetahui hal ini, tiadk mungkin tidak,sebab ini bukan sebuah karangan seperti yang sering dikatakan kang Mad.

Saya tuch cuma ingin kang Mad sebagai manusia yang katanya beiman gak usah membawa-bawa pemerintah yang sedang berkuasa atau siapapun dia yang gak ada sangkut pautnya dengan topik pembicaraan.

Kalau ingin membantah bantahlah dengan argumen yang kuat tanpa membawa-bawa orang lain. Ech kang Mad kan udah tua, kata orang sumatra sebelah kakinya udah dikuburan ( alias udah bau kuburan) gak sempat minta maaf sama orang-orang yang disangkut pautkan dalam setiap balasannya kan repot kalau keburu dipanggil yang kuasa.

Kang Mad kan bukan orang Aceh, ngapain sich mati-matian belain gerombolan pengacau Aceh itu? sementara jabatan yang dijanjikan pun sudah pasti gak bakalan didapat wong negaranya Cuma ada di negeri khayal. Gak enak kan , hidup dipelarian terus, gak pernah ngerasain makanan kampung halaman kang Mad (sambal oncom and lalaban). Kalau mau ditanggapin jangan masukin cerita aneh yang gak ada hubungannya ya.udah Pulang aja ....

Salam.

Enny Martono

Enny.Martono@hm.com
Jakarta, Indonesia
----------