Stockholm, 11 Maret 2005

Bismillaahirrahmaanirrahiim.
Assalamu'alaikum wr wbr.
 

MUBA BENTENG KALIAN & BIN-NYA SYAMSIR SIREGAR SUDAH ROBOH
Ahmad Sudirman
Stockholm - SWEDIA.

 

MAKIN KELIHATAN ITU MUBA PENGEKOR BIN-NYA SAMSYIR SIREGAR, JUNGKIR JUMPALIT, TIDAK MAMPU LAGI MEMAKAI DASAR ARGUMENTASI FAKTA, BUKTI, SEJARAH DAN DASAR HUKUM YANG KUAT, KECUALI HANYA MENGATAKAN "MAD, TIDAK ADA BUKTI SEJARAH"

"Mad, tidak ada bukti sejarah yang menyatakan Aceh menolak bergabung ke dalam RI-1945, RIS-1949, maupun NKRI-1950. Jadi jangan dibalik dong, jangan malah beriklan: "Dicari bukti Aceh setuju bergabung RI-1945, RIS-1949, dan NKRI-1950". (Muba Zir , mbzr00@yahoo.com , Thu, 10 Mar 2005 14:35:26 -0800 (PST))

Baiklah Muba di Paris, Perancis.

Memang kelihatan makin jelas itu Muba budek yang berlagak mau menjadi orang yang mempertahankan benteng burung garuda dan cairan hitam pekat ampas kelapa pancasila dalam bangunan Negara RI hasil penelanan, peleburan pencaplokaa, dan pendudukan Negara/Daerah Bagian RIS dan Daerah diluar de-facto dan de-jure RIS seperti Acheh, Maluku Selatan dan Papua Barat.

Tetapi kenyataannya, itu Muba karena memang kacungnya Syamsir Siregar dari sarang labah-labah BIN, maka yang mampu dicuapkan oleh Muba ini hanya sekedar melambungkan tulisannya Mursalin Dahlan tentang mosi integral Natsir yang dimuat surat kabar Pikiran Rakyat pada tanggal 23 Mei 2003, dan tulisan Taufik Abdullah dari LIPI yang menulis Soekarno yang dimuat di Kompas, tanggal 28 Desember 2004, ditambah dengan cuplikan sejarah pencasila yang dikupas Hazairin yang memperkuat Ki Bagus Hadikusumo orang Muhammadiyah yang memakai tauhid untuk diembelkan kepada "yang maha esa" dan ditempatkan dibelakang kata "ketuhanan", yang hanya merupakan tauhid dalam bakul saja.

Jadi, memang apapun yang dicuapkan Muba dari Paris yang ngakunya sudah melalap kursi perguruan tinggi. Tetapi karena memang otaknya hanya otak yang telah dibiasakan menjiplak dan mengekor garis jalur sejarah ngaco tentang Acheh hubungannya dengan Negara RI atau Negara RI-Jawa-Yogya buatan Soekarno dan penerusnya, maka ketika tampil di mimbar bebas ini untuk berdebat tentang sejarah jalur proses pertumbuhan dan perkembangan Negara RI dihubungkan dengan Acheh, Maluku Selatan, dan Papua Barat, kelihatan dari hari ke hari makin jungkir jumpalit saja, walaupun yang ditampilkan Hazairin, Ki Bagus Hadikusumo, Syamsir Siregar, Hasyim Muzadi, Susilo Bambang Yudhoyono, Permadi, Mursalin Dahlan, Taufik Abdullah, Soekarno. Mengapa ?

Karena, Muba dan para penerus Soekarno ini tidak mau membuka pikirannya untuk membaca, menggali, memikirkan, membandingkan, menganalisa, menyimpulkan akar utama penyebab timbulnya konflik di Acheh, konflik di Maluku Selatan, dan konflik di Papua Barat.

Coba saja perhatikan apa yang ditulis oleh Mursalin Dahlan mengenai mosi integral yang dilambungkan Mohammad Natsir pada tanggal 3 April 1950 di depan Parlemen RIS, yang dijadikan alat argumentasi untuk mencaplok Acheh dengan membawa-bawa umat Islam Acheh yang diklaim sebagai bagian dari rakyat RI Soekarno. Dimana Ahmad Sudirman telah menanggapi tulisan Mursalin Dahlan ini dalam tulisan sebelum ini.

Begitu juga itu Taufik Abdullah dari LIPI yang menutupi kejahatan Soekarno dengan RIS-nya untuk menelan dan melebur Negara/Daerah Bagian RIS kedalam Negara Bagian RI dalam RIS.

Sedangkan itu Muba, mana dia mengetahui, mengerti dan memahami tentang jalur proses pertumbuhan dan perkembangan Negara RI dalam RIS, kalau tidak Ahmad Sudirman membukakan dan menjelaskan di mimbar bebas ini.

Tetapi, ketika Ahmad Sudirman telah membongkar semua kelicikan Soekarno dalam RIS yang menelan dan melebur Negara/Daerah Bagian RIS kedalam Negara Bagian RI, matanya Muba terbelalak, kaget, karena memang ia tidak tahu, masalah itu tidak diajarkan oleh guru dan dosen sejarahnya. Hanya, karena otak Muba sudah dicuci oleh racun mpu Tantular dengan bhineka tunggal ika-nya, dan racun ampas kelapa pancasila hasil kutak katik Soekarno dengan dimasuki unsur "yang maha esa" oleh Ki Bagus orang Muhammadiyah yang pahamnya banyak dipengaruhi oleh paham wahhabi Saudi itu, maka jadilah Muba kalap. Bukan Muba mau berpikir dan menggali kembali jalur sejarah pertumbuhan dan perkembangan Negara RI dihubungkan dengan Acheh yang sebenarnya, melainkan Muba terus putar haluan mengekor para penerus Soekarno seperti Mursalin Dahlan dan Taufik Abdullah yang memang sudah dicekoki dengan racun mematikan ampas kelapa pancasila hasil ramesan Soekarno yang dibantu Ki Bagus Hadikusumo dan Hazairin dari belakang.

Jadi Muba, sampai kapanpun kalian itu tidak akan sanggup merobohkan benteng pertahanan perjuangan rakyat Acheh yang telah sadar untuk menentukan nasib sendiri bebas dari pengaruh kekuasaan Negara pancasila. Apalagi kalian mampu merobohkan benteng pertahanan yang telah dipasang oleh Ahmad Sudirman. Kecuali kalian Muba budek, hanya mampu memberikan jawaban: "Aku katakan ya, Mad, tidak ada bukti sejarah yang menyatakan Aceh menolak bergabung ke dalam RI-1945, RIS-1949, maupun NKRI-1950"

Coba, perhatikan dengan seksama, itu yang dijawab oleh Mba budek kacungnya Syamsir Siregar dari sarang labah-labah BIN. Dimana itu Muba mengatakan bahwa tidak ada bukti sejarah yang menyatakan Aceh menolak bergabung ke dalam RI-1945, RIS-1949, maupun NKRI-1950.

Itu jawaban yang ngaco. Mengapa jawaban yang ngaco ? Karena itu Muba memang sebenarnya tidak mengetahui sejarah jalur proses pertumbuhan dan perkembangan Negara RI dihubungkan dengan Negeri Acheh.

Nah, kalau itu Muba bicara RIS, PP RIS No.21/1950, Undang-Undang Darurat No 11 tahun 1950 tentang Tata Cara Perubahan Susunan Kenegaraan RIS yang dikeluarkan pada tanggal 8 Maret 1950. Itu semuanya, setelah Ahmad Sudirman menjelaskan di mimbar bebas ini. Karena sebelumnya mana itu Muba budek mengetahuinya.

Hanya saja, setelah Ahmad Sudirman membuka semua fakta, bukti, sejarah dan dasar hukum tentang penelanan, peleburan Negara/Daerah Bagian RIS kedalam tubuh Negara Bagian RI dalam RIS, dan setelah RIS menelan, mencaplok Acheh dan Maluku Selatan, ternyata itu Muba bukannya mau mempelajari dan menggalinya lebih dalam, malahan berbalik, ikut-ikutan kacungnya para penerus Soekarno, seperti itu Mursalin Dahlan dan Taufik Abdullah, menutup-nutupi kejahatan Soekarno dengan RIS-nya itu terhadap Negeri Acheh, Maluku Selatan dan Papua Barat.

Nah, kalau itu Muba budek, mengetahui dengan benar mengenai jalur proses sejarah pertumbuhan dan perkembangan Negara RI dihubungkan dengan Acheh, maka Muba akan melihat dengan jelas, berdasarkan kronologis pertumbuhan dan perkembangan Negara RI, dimana bisa kelihatan letak posisi Negara RI dan dimana letak posisi Acheh, bagaimana status RI dan bagaimana hubungannya dengan Acheh. Sehingga tidak ada alasan untuk mengatakan: "Mad, tidak ada bukti sejarah yang menyatakan Aceh menolak bergabung ke dalam RI-1945, RIS-1949, maupun NKRI-1950"

Contoh konkritnya saja, ketika Soekarno dengan RIS-nya menelan Acheh pada tanggal 14 Agustus 1950 dengan PP RIS no.21/1950. Kemudian Teungku Muhammad Daud Beureueh pada tanggal 20 September 1953 memaklumatkan Acheh bebas dari pengaruh pancasila, dari pengaruh NKRI Soekarno. Lalu Muba membantah: "kenapa itu Daud Beureuh telat banget ngeresponnya?"

Nah, sebenarnya bukan telat banget, 3 tahun bukan waktu yang telat dalam masalah perjuangan pembebasan negeri. Masalahnya itu seluruh rakyat Acheh dan pimpinan rakyat Acheh ditipu Soekarno. Ketika itu Soekarno membuat PP RIS No.21/1950 tanggal 14 Agustus 1950, mana ada diberitahukan kepada seluruh rakyat Acheh dan pimpinan rakyat Acheh Teungku Muhammad Daud Beureueh, bahwa itu Negeri Acheh akan dimasukkan kedalam provinsi Sumatera Utara, setelah RIS melebur semuanya kedalam RI pada tangal 15 Agustus 1950 untuk dijelmakan menjadi NKRI. Apakah ada yang dinamakan plebisit atau referendum atau penentuan suara rakyat Acheh untuk menyatakan hak seluruh rakyat Acheh, apakah mau masuk NKRI Soekarno atau merdeka. Kan tidak ada.

Teungku Muhammad Daud Beureueh mengetahui bahwa Negeri Acheh tidak termasuk Negara/Daerah Bagian RIS dan tidak juga wilayah de-facto dan de-jure Negara Bagian RI. Tetapi tahu-tahu setelah RIS dilebur kedalam RI dan menjelma menjadi NKRI, ada dalam perut Provinsi Sumatera Utara. Bagaimana ini bisa terjadi ?.

Jadi, memang masuk akal dan logis, kalau itu Teungku Muhammad Daud Beureueh akhirnya memaklumatkan: "Dengan Lahirnja Peroklamasi Negara Islam Indonesia di Atjeh dan daerah sekitarnja, maka lenjaplah kekuasaan Pantja Sila di Atjeh dan daerah sekitarnja, digantikan oleh pemerintah dari Negara Islam"

Nah, dengan maklumat ini kelihatan dengan jelas dan gamblang itu Teungku Muhammad Daud Beureueh telah menyatakan Acheh berdiri sendiri terlepas dari pengaruh kekuasaan pancasila atau NKRI dan lenyap pengaruh pancasila di dalam wilayah NII.

Jadi itu soal waktu 3 tahun, itu bukan masalah yang prinsipil. Waktu itu relatif. Yang jelas, fakta, bukti, sejarah dan dasar hukum tentang berdiri bebas Acheh dibawah Teungku Muhammad Daud Beureueh dari pengaruh Negara pancasila atau NKRI memang ada, benar, dan tidak bisa dibantah oleh siapapun.

Kemudian kalau itu Muba budek menyatakan: "Daud Beureuh dan stafnya menyerah kepada NKRI begitu mudah pada Desember 1962, hanya melalui amnesti. Ini hanya bisa dimengerti jika memang Daud Beureuh itu hanya "merajuk saja" agar Aceh diberi status khusus: terpisah dari Sumut dan syariat Islam diberlakukan di sana. Setelah kedua hal itu setuju dilaksanakan Jakarta (NKRI), Allahyarham Buya Daud Beureuh merasa tugasnya selesai".

Muba, kalau kalian tidak memahami itu Maklumat yang dilahirkan oleh Teungku Muhammad Daud Beureueh yang memaklumatkan: "Dengan Lahirnja Peroklamasi Negara Islam Indonesia di Atjeh dan daerah sekitarnja, maka lenjaplah kekuasaan Pantja Sila di Atjeh dan daerah sekitarnja, digantikan oleh pemerintah dari Negara Islam".

Jelas dan gamblang itu Muba, maklumat Teungku Muhammad Daud Beureueh itu, merupakan Maklumat penentuan nasib sendiri bebas dari pengaruh NKRI, dan menjadi Negara yang berdiri sendiri dibawah Pemerintah dari Negara Islam.

Apakah Maklumat tersebut menunjukkan suatu bentuk Daerah Otonomi ? Kan tidak, Muba budek.

Jadi Muba kalau kalian hanya mampu memberikan alasan: "Trus mengapa pula, setelah NII jadi kutu loncat (ini sejarah versi GPK) ke NII Kartosuwijo dan RPI, Daud Beureuh dan stafnya menyerah kepada NKRI begitu mudah pada Desember 1962, hanya melalui amnesti. Ini hanya bisa dimengerti jika memang Daud Beureuh itu hanya "merajuk saja" agar Aceh diberi status khusus: terpisah dari Sumut dan syariat Islam diberlakukan di sana.Setelah kedua hal itu setuju dilaksanakan Jakarta (NKRI), Allahyarham Buya Daud Beureuh merasa tugasnya selesai. Kamu harus inget juga bahwa menyerahnya Daud Beureuh itu terjadi di sebuah majelis yang bernama Musyawarah Kerakyatan Rakyat Aceh."

Itu alasan yang tidak ditunjang oleh fakta, bukti, sejarah dan dasar hukum yang kuat. Coba kalian Muba buktikan apakah ada dari hasil Musyawarah Kerakyatan Rakyat Acheh yang menyatakan bahwa Acheh harus dipisahkan dari Provinsi Sumatera Utara dan diberlakukan syariat Islam di Acheh ? Coba buktinya tuliskan di mimbar bebas sini. Coba tanyakan itu kepada Mursalin Dahlan atau Taufik Abdullah atau Syamsir Siregar dari BIN ?. Setelah kalian menemukan buktinya, tuliskan di mimbar bebas ini. Jangan hanya bercuap tidak tentu arah saja.

Jadi, bagaimana bisa kalian Muba, dan juga Mursalin Dahlan atau itu Taufik Abdullah menganggap Acheh sebagai bagian integral RI atau yang kalian tulis sebagai bagian integral yang tak terpisahkan dari umat Islam bangsa Indonesia.

Itu kan hanya alasan dan argumentasi yang kosong keropos, tidak ditunjang oleh fakta, bukti, sejarah dan dasar hukum yang jelas dan benar, Muba budek.

Coba sekali lagi, untuk membuktikan argumentasi kalian itu Muba, cari fakta, bukti, sejarah dan dasar hukum tentang hasil Musyawarah Kerakyatan Rakyat Acheh yang menyatakan bahwa Acheh harus dipisahkan dari Provinsi Sumatera Utara dan diberlakukan syariat Islam di Acheh.

Sebelum kalian dan konco kalian semuanya mampu dan berhasil menemukan buktinya, jangan kalian bercuap yang keropos alias kosong di mimbar bebas ini, Muba budek. Membuat tertawaan peserta mimbar bebas saja.

Selanjutnya itu soal yang kalian Muba tampilkan: "tanggal 4 Desember 1976 Hasan Tiro memproklamasikan Aceh. Apa dasar hukumnya? Emang siapa dia? Apakah gengsinya melebihi Daud Beureuh? Atau malah melebihi majelis bergengsi yang bernama Musyawarah Kerakyatan Rakyat Aceh itu?"

Itu fakta, bukti, sejarah dan dasar hukumnya adalah karena pihak NII yang menjelma menjadi RIA atau Republik Islam Acheh dinyatakan menyerah kepada pihak Soekarno dengan Teungku Muhammad Daud Beureueh menerima abolisi yang ditawarkan Soekarno, dan ikut serta dalam Musyawarah Kerakyatan Rakyat Acheh bulan Desember 1962 yang diselenggrakan Panglima Kodam I/Iskandar Muda, Kolonel M.Jasin.

Jadi, secara de-facto dan de-jure tidak ada lagi lembaga Negara di Acheh, karena telah kembali diduduki, dan dijajah pihak Soekarno dengan NKRI-nya. Oleh sebab itu berdasarkan fakta, bukti, sejarah dan dasar hukum Teungku Hasan Muhammad di Tiro mendeklarasikan ulang Negara Acheh pada tanggal 4 Desember 1976: "Kami, rakyat Aceh, Sumatra melaksanakan hak menentukan nasib sendiri, dan melindungi hak sejarah istimewa nenek moyang negara kami, dengan ini mendeklarasikan bebas dan berdiri sendiri dari semua kontrol politik pemerintah asing Jakarta dan dari orang asing Jawa....Atas nama rakyat Aceh, Sumatra yang berdaulat. Tengku Hasan Muhammad di Tiro. Ketua National Liberation Front of Acheh Sumatra dan Presiden Aceh Sumatra, 4 Desember 1976")

Nah, sejarah dan dasar hukumnya deklarasi ulang Negara Acheh ini adalah tentang tanggal deklarasi Negara Aceh 4 Desember, merupakan simbol jatuhnya Negara Acheh dibawah pimpinan pemimpin perang Teungku Tjhik Maat yang satu hari sebelumnya, 3 Desember 1911 ditembak oleh pasukan Belanda dalam perang di Alue Bhot, Tangse. Jadi pada tanggal 4 Desember 1911 merupakan hilangnya kemerdekaan Negara Acheh. Berdasarkan tanggal inilah Teungku Hasan Muhammad di Tiro secara simbolis menghidupkan dan meneruskan kembali kedaulatan Negara Acheh yang telah lenyap karena diduduki dan dijajah Belanda, Jepang dan diteruskan dengan pencaplokan oleh RI.

Jadi Muba budek, lahirnya deklarasi ulang Negara Acheh, bukan "gengsi Teungku Hasan Muhammad di Tiro melebihi Daud Beureuh? Atau malah melebihi majelis bergengsi yang bernama Musyawarah Kerakyatan Rakyat Aceh itu?", sebagaimana yang kalian Muba katakan. Melainkan karena secara de-facto dan de-jure itu Teungku Muhammad Daud Beureueh dengan RIA-nya telah menyerah kepada Soekarno dan telah dinyatakan hilang oleh Soekarno.

Nah, karena secara de-facto dan de-jure itu lembaga Negara di Acheh telah dinyatakan hilang, dan tetap terus berada dalam pendudukan dan panjajahan NKRI, maka lahirlah Deklarasi ulang Negara Acheh oleh Teungku Hasan Muhammad di Tiro pada tanggal 4 Desember 1976.

Nah sekarang Muba budek, bagaimana bisa kalian terus-menerus memepertahankan benteng RI untuk dipakai alat mengurung Negeri Acheh, kalau ternyata bukti, fakta, sejarah dan dasar hukum yang kalian pegang Tentang proses jalur pertumbuhan dan perkembangan Negara RI dihubungkan dengan Acheh sangat lemah dan penuh kepalsuan.

Jadi, wajarlah kalian Muba, tidak berani untuk tampil dengan menyodorkan fakta, bukti, sejarah dan dasar hukum yang kuat untuk dipakai sebagai alat pengklaiman terhadap wilayah Negeri Acheh, Maluku Selatan dan Papua Barat. Sebagaimana yang kalian katakan kepada Ardiansyah: "Eh, Ardiansyah, nggak perlu lah bikin seminar di sini. Percuma deh. Nggak akan ada manfaatnya. Kecuali asnlf dan faksi-faksi lainnya, termasuk yang ada di Aceh, ikutan, juga cukup banyak rakyat Aceh (yang sudah sadar menentukan sikapnya sebagai bagian dari Bangsa Indonesia itu) terlibat. Emangnya si Mad ini siapa? Sebesar apa representasi Acehnya? Dia kan click-nya Malik-Zaini, yang mau kudeta tiro banci (waduh, gue ngomong kudeta nih, pasti idung pemaen tonneel ini kembung, hua ha) Udah gitu bloon lagi Jadi statusnya nggak jelas. Ya, dia bersama Malik-Zaini ini mirip Brutus lah. Tanya aja Tengku Maat. Tiro banci aja nggak signifikan, apalagi si Mad."

Lihat dan perhatikan, beginilah cara menjawab dari Muba, sehingga memang pantas disebut budek alias kosong otaknya karena telinganya tersumbnat racun sampah ampas pancasila hasil ramesan mbah Soekarno yang menjajah Negeri Acheh.

Hanya orang budeklah yang memberikan jawaban model diatas itu. Orang yang smart dan pandai serta paham mengenai sejarah sebenarnya tentang Acheh hubungannya RI, mana berani memberikan jawaban seperti Muba budek ini. Apalagi itu Muba budek mengetahui sejarah perjuangan rakyat Acheh untuk pembebasan dan kemerdekaan Acheh dibawah pimpinan Teungku Hasan Muhammad di Tiro dengan ASNLF-nya, hasil korekan dari tempah sampah BIN sana itu di Jakarta dekat kali Ciliwung, yang setiap tahun banjir terus. Jadi, memang masuk akal kalau itu Muba disebut budek dan kacungnya Syamsir Siregar dari sarang labah-labah BIN.

Bagi yang ada minat untuk menanggapi silahkan tujukan atau cc kan kepada ahmad@dataphone.se agar supaya sampai kepada saya dan bagi yang ada waktu untuk membaca tulisan-tulisan saya yang telah lalu yang menyinggung tentang Khilafah Islam dan Undang Undang Madinah silahkan lihat di kumpulan artikel di HP http://www.dataphone.se/~ahmad

Hanya kepada Allah kita memohon pertolongan dan hanya kepada Allah kita memohon petunjuk, amin *.*

Wassalam.

Ahmad Sudirman

http://www.dataphone.se/~ahmad
www.ahmad-sudirman.com
ahmad@dataphone.se
---------

Date: Thu, 10 Mar 2005 14:35:26 -0800 (PST)
From: muba zir mbzr00@yahoo.com
Subject: Re: MUBA, ITU TAUFIK ABDULLAH DARI LIPI SEMBUNYIKAN SOEKARNO DENGAN RIS-NYA YANG MENELAN & MENCAPLOK ACHEH
To: AcehA_yoosran <a_yoosran@yahoo.com>, Acehabu_dipeureulak <abu_dipeureulak@yahoo.com>, AcehAhmad_mattulesy <ahmad_mattulesy@yahoo.com>, AcehAhmadGPK <ahmad@dataphone.se>, Acehalasytar_acheh <alasytar_acheh@yahoo.com>, acehalchaidar <alchaidar@yahoo.com>, Acehapalambak2000 <apalambak2000@yahoo.ca>, AcehArdi muhammad.ardiansyah@hm.com

Makin kelihatan aja bloonnya itu si Mad. (Eh, aku nyontek kamu Mad... Biasanya kan kamu ngomong begitu di awal kalimat: "Makin kelihatan aja Muba pinter dan gantengnya... bla... bla... bla..."). Sesudah merasa lebih pinter dari Ki Bagus, Prof Hazairin, dan Dr. Mursalim Dahlan, sekarang dia merasa lebih pinter dari Prof Taufik Abdullah yang makanan utamanya sejarah. Kualat bener-bener, dan nggak ngaca... Kawalat nyaho...! Teu nalipak maneh, siah..!

Aku katakan ya, Mad, tidak ada bukti sejarah yang menyatakan Aceh menolak bergabung ke dalam RI-1945, RIS-1949, maupun NKRI-1950. Jadi jangan dibalik dong, jangan malah beriklan: "Dicari bukti Aceh setuju bergabung RI-1945, RIS-1949, dan NKRI-1950". Kalau begitu kan kacau namanya. Pager Ageung aja nggak pernah memberikan surat persetujuannya, tapi adem ayem aja kan dalam RI modern. Juga Cililitan, Palangkaraya, Leuwigajah, Bojonggede, dan lain-lain... Mereka adem ayem aja tuh, meskipun RT dan Camatnya nggak ngasih surat kuasa.

Kemudian, kamu sengaja mengkaburkan PDRI yang berpusat di Bukittinggi sebelum Penyerahan Kedaulatan Belanda kepada RIS 27 Desember 1949, dengan PRRI yang bersama NII Daud Beureuh dan Permesta mendirikan RPI pada Februari 1960. Mentang-mentang tokoh PDRI dan PRRI sama, yaitu Syafruddin Prawiranegara. Jadi jelas, PDRI itu pusatnya di Bukittinggi, sedangkan RPI di Aceh bolehlah, wong aku juga nggak tahu, dan memang RPI itu dibesar-besarkan oleh kalian, Mad, padahal umurnya cuma 18 bulan.

Umur RIS memang singkat juga, cuma 8 bulan (27 Desember 1949 - 15 Agustus 1950). Kan aku udah bilang, bangsa Indonesia dari Sabang sampe Merauke itu nggak suka dengan eksistensi negara-negara bagian bentukan Belanda. Mereka maunya persatuan. Bahkan cikal-bakal NKRI itupun sudah keluar 3 bulan setelah Penyerahan Kedaulatan, tepatnya 8 Maret 1950, tanggal dikeluarkannya UU Darurat No. 11 tahun 1950 tentang Tatacara Perubahan Kenegaraan RIS. Ini juga kamu selalu bilang: Soekarno mencaplok 13 lalu 15 negara bagian. Mencaplok gimana sih? Berhentilah bilang mencaplok..! Baca sejarah yang bener..! Pakailah kaca mata kuda kalau perlu..!

RIS sendiri sebenarnya lahir akibat desakan rakyat Indonesia dari Sabang sampai Merauke serta para petinggi negara boneka itu yang kelimpungan karena nggak ada Soekarno. Mereka memang gandrung persatuan dan menginginkan seluruh negara boneka itu berhimpun. Ya, RIS itulah bentuk himpunannya. Negara-negara boneka itu kan akibat nafsu Belanda menghancurkan RI-1945 melalui Linggarjati dan Renville.

Trus, fakta bahwa Soekarno dilantik menjadi Presiden NKRI tanggal 17 Agustus 1950, itu menunjukkan bahwa semua anggota RIS (yang sudah lebur menjadi NKRI itu) percaya banget tuh sama mbahku itu (dia hebat emang... Subhanallah...). Siapa yang bisa lawan... Wong beliau pemain utama yang melahirkan RI-1945. Padahal RI-Renville itu baru resmi jadi anggota RIS 14 Desember 1949 loh, sedangkan RIS sendiri dibicarakan kelahirannya terakhir 31 Juli s/d 2 Agustus 1949 di Jakarta. Jadi mungkin 2 Agustus itulah RIS berdiri. Memang, RIS tanpa Soekarno, yang tetap konsisten dengan RI-nya, adalah "negara" tanpa roh saja.
Sehingga wajar kalau Prof Taufik Abdullah bilang "Soekarno jadi pemimpin Indonesia sudah menjadi keharusan sejarah". Itu kata-kata arif dari seorang begawan sejarah. Begawan kok ditentang, kualat luh...!

Andaikan... Ini andaikan saja Aceh mau menggugat dimasukannya dia ke dalam NKRI melalui PP RIS No. 21 tahun 1950 tentang pembentukan 10 propinsi di NKRI, dimana Aceh menjadi bagian propinsi Sumatra Utara, kenapa itu Daud Beureuh telat banget ngeresponnya? NII-nya katanya baru berdiri 20 September 1953. Berarti 3 tahun itu telatnya. Trus mengapa pula, setelah NII jadi kutu loncat (ini sejarah versi GPK) ke NII Kartosuwijo dan RPI, Daud Beureuh dan stafnya menyerah kepada NKRI begitu mudah pada Desember 1962, hanya melalui amnesti. Ini hanya bisa dimengerti jika memang Daud Beureuh itu hanya "merajuk saja" agar Aceh diberi status khusus: terpisah dari Sumut dan syariat Islam diberlakukan di sana. Setelah kedua hal itu setuju dilaksanakan Jakarta (NKRI), Allahyarham Buya Daud Beureuh merasa tugasnya selesai. Kamu harus inget juga bahwa menyerahnya Daud Beureuh itu terjadi di sebuah majelis yang bernama Musyawarah Kerakyatan Rakyat Aceh. Itu jelas sebuah majelis bergengsi, apalagi melibatkan Daud Beureuh, jadi wajar kalau Dr. Mursalim Dahlan menganggap itu adalah tonggak teramat penting sehingga beliau mengingatkan umat Islam Aceh akan tanggung jawab sejarah mereka sebagai bagian integral yang tak terpisahkan dari umat Islam bangsa Indonesia. Jelas? Orang yang jelas integrasinya terhadap Islam seperti Dr. Murslim Dahlan ini kok dilawan. Nggak akan nyampe otakmu, Mad. Lihat kiprah beliau sebagai muslim: Ketua Dept. Siarah Sar'iyah MM/Ketua Umum DPD PUI Jawa Barat. Sedangkan kamu? Tukang ngelap kaca aja belagu...

Kemudian, nggak ada angin nggak ada hujan, tanggal 4 Desember 1976 Hasan Tiro memproklamasikan Aceh. Apa dasar hukumnya? Emang siapa dia? Apakah gengsinya melebihi Daud Beureuh? Atau malah melebihi majelis bergengsi yang bernama Musyawarah Kerakyatan Rakyat Aceh itu? Cuuiiihhh...! Tiro banci itu memang ada darah biru, tapi itu bukan alasan untuk meng-claim sebagai representasi Aceh. Tak tahu malu. Lagian kenapa pula itu Tiro banci itu baru ngomong proklamasi 14 tahun setelah Daud Beureuh dan Musyawarah Kerakyatan Rakyat Aceh sepakat berada di dalam NKRI? Ke mana aja dia? Pacaran sama Yahudi itu ya? Mad, Mad... play boy cap dua anting kaya tiro banci gitu kok diturut... ini kebangetan bloonnya...

Sejarah itu bukan hanya tanggal saja Mad, baca yang bener. Trus jangan membohongi publik mimbar bebas dengan silat lidahmu yang TANGGUNG itu, Ha ha...

Eh, Ardiansyah, nggak perlu lah bikin seminar di sini. Percuma deh. Nggak akan ada manfaatnya. Kecuali asnlf dan faksi-faksi lainnya, termasuk yang ada di Aceh, ikutan, juga cukup banyak rakyat Aceh (yang sudah sadar menentukan sikapnya sebagai bagian dari Bangsa Indonesia itu) terlibat. Emangnya si Mad ini siapa? Sebesar apa representasi Acehnya? Dia kan click-nya Malik-Zaini, yang mau kudeta tiro banci... (waduh, gue ngomong kudeta nih... pasti idung pemaen tonneel ini kembung, hua ha....) Udah gitu bloon lagi... Jadi statusnya nggak jelas... Ya, dia bersama Malik-Zaini ini mirip Brutus lah... Tanya aja Tengku Maat... Tiro banci aja nggak signifikan, apalagi si Mad...

Gua ketawa ngakak kemaren waktu si Mad nasehatin Tengku Maat... Gaya bahasanya udah persis seorang Menteri tuh... Hua ha ha... Pagi, pak Menmud Urjanmud... Udah ah, capek ngomong...

Muba ZR

mbzr00@yahoo.com
Paris, Perancis
----------