Stockholm, 13 Maret 2005

Bismillaahirrahmaanirrahiim.
Assalamu'alaikum wr wbr.
 

TEJOKUSUMO, ITU KARENA RI MENUTUPI AKAR UTAMA PENYEBAB KONFLIK ACHEH SEHINGGA KALIAN TERJERUMUS
Ahmad Sudirman
Stockholm - SWEDIA.

 

BIMO TEJOKUSUMO, ITU KARENA PIHAK RI MENUTUPI AKAR UTAMA PENYEBAB KONFLIK ACHEH SEHINGGA KALIAN TERJERUMUS KEDALAM KEBUTAAN

"Bukankah Rasulullah mengajarkan kerendahhatian, bahkan ketika Malaikat Jibril mengatakan agar Rasulullah memerntahkan kaum kafir ditimpakan gunung batu, Rasulullah (semoga rahmat Allah menyertainya), malah tersenyum dan melarang Jibril untuk melakukan itu. Tapi anda malah mendukung RMS, Papua Merdeka, jadi bisa disimpulkan anda berjuang bukan untuk Islam, melainkan hanya untuk segelintir orang yg ingin Aceh terpisah dari saudaranya sesama muslim di Indonesia. Orang lain yg melihat, apakah anda ikhlas berjuang untuk Islam, ataukah hanya untuk segelintir orang yg mau memisahkan dari NKRI. Anda mengecam wahabi, mengecam salafi, mengecam Mauhammadiyah, mengecam Gusdur, mengecam Amien Rais, mengecam Bung Karno, mengecam ki Bagus Kusumo, mengecam orang Aceh yg bersedia bersaudara dg sesama muslim di Indonesia, mengecam pejuang-pejuang Aceh yg dg legowo bersama membangun peradaban di Indonesia. Aku sih tidak peduli Aceh mau merdeka atau tidak, tetapi cara anda memperjuangkan melalui situs Daulah Islam Rasulullah, adalah sangat tidak mencerminkan keislaman anda." (Bimo Tejokusumo , bimo_tejokusumo@yahoo.co.uk , Sun, 13 mars 2005 09:46:25)

Baiklah saudara Bimo Tejokusumo di Malmo, Swedia.

Sebelum membaca apa yang disampaikan saudara Tejokusumo ini, Ahmad Sudirman mengharapkan kalau saudara Tejokusumo mampu memberikan fakta, bukti, sejarah dan dasar hukum, baik yang menyangkut Acheh, Maluku Selatan ataupun Papua Barat.

Tetapi sayang, ternyata isi dari sodoran pikiran saudara Tejokusumo ini gersang dari itu semua. Apalagi setelah Tejokusumo menyatakan: "Aku sih tidak peduli Aceh mau merdeka atau tidak, tetapi cara anda memperjuangkan melalui situs Daulah Islam Rasulullah, adalah sangat tidak mencerminkan keislaman anda."

Nah, kelihatan disini saudara Tejokusumo hanya sekedar melambungkan kritik yang tanpa isi dari yang dikritiknya itu. Misalnya masalah fakta, bukti, sejarah dan dasar hukum tentang legalisasi Acheh dianeksasi RIS, RI, NKRI. Begitu juga Maluku Selatan, dan Papua Barat.

Misalnya saudara Tejokusumo hanya menyatakan: "Tapi anda malah mendukung RMS, Papua Merdeka, jadi bisa disimpulkan anda berjuang bukan untuk Islam, melainkan hanya untuk segelintir orang yg ingin Aceh terpisah dari saudaranya sesama muslim di Indonesia

Nah, disinilah kelemahan dari cara pandang dan cara berpikir saudara Tejokusumo ini. Mengapa ?

Karena, apa yang telah dilambungkan Ahmad Sudirman yang menyangkut fakta, bukti, sejarah dan dasar hukum tentang jalur proses pertumbuhan dan perkembangan Negara RI dihubungkan dengan Acheh, Maluku Selatan dan Papua Barat, itu semua adalah merupakan cara dan langkah untuk bisa dipakai sebagai batu titian guna mencari akar utama penyebab timbulnya konflik Acheh, Maluku Selatan dan Papua Barat.

Nah, apakah mungkin seseorang bisa menyelesaikan konflik Acheh, maluku Selatan, Papua Barat, kalau tidak memiliki dasar dan argumentasi penyebab dari timbulnya konflik Acheh, maluku Selatan, dan Papua Barat ini ?.

Jelas jawabannya, adalah tidak mungkin.

Jadi, kalau Ahmad Sudirman membukakan akar utama yang menjadi sebab timbulnya konflik Acheh, maluku Selatan dan Papua Barat ini adalah dalam rangka menegakkan keadilan dan hukum. Jangan menyelesaikan konflik Acheh, Maluku Selatan dan Papua Barat hanya didasarkan dari permukaannya saja, tanpa memahami, mendalami, mengerti, menganalisa, menyimpulkan penyebab timbulnya konflik Acheh, Maluku Selatan, dan Papua Barat ini.

Dengan ditampilkannya fakta, bukti, sejarah dan dasar hukum yang menyangkut konflik Acheh, Maluku Selatan, dan Papua Barat oleh Ahmad Sudirman, seharusnya dari pihak RI atau dari pihak saudara Tejokusumo sendiri mampu menampilkan fakta, bukti, sejarah dan dasar hukum yang minimal sebanding atau lebih dari apa yang telah dilambungkan Ahmad Sudirman.

Tetapi, kenyataannya, tidak. Saudara Tejokusumo bahkan sebaliknya, melakukan kritik yang kosong. Jadi, bagaimana Ahmad Sudirman bisa berbicara dan melakukan perbandingan, kalau tidak ada satu fakta, bukti, sejarah dan dasar hukum tentang Acheh, Maluku Selatan, dan Papua Barat dilambungkan saudara Tejokusumo, selain hanya menyatakan: "Aku sih tidak peduli Aceh mau merdeka atau tidak, tetapi cara anda memperjuangkan melalui situs Daulah Islam Rasulullah, adalah sangat tidak mencerminkan keislaman anda".

Nah, itu kan jawaban yang sangat rendah dan kosong alias gombal, yang disampaikan oleh saudara Tejokusumo.

Kemudian, itu soal cara atau metode yang dilakukan Ahmad Sudirman dalam hal membicarakan dan memperdebatkan tentang masalah Acheh, Maluku Selatan dan Papua Barat yang dianggap saudara Tejokusumo tidak mencerminkan ke Islaman Ahmad Sudirman, dikarenakan ketika Ahmad Sudirman membicarakan dan menampilkan masalah Acheh, Maluku Selatan dan Papua Barat ini dalam situs www.dataphone.se/~ahmad yang didalamnya juga membicarakan bagaimana Rasulullah saw membangun, menegakkan Daulah Islamiyah Rasulullah pertama di Yatsrib.

Justru, disinilah letaknya, Ahmad Sudirman membandingkan tindakan dan kebijaksanaan yang telah dijalankan oleh pihak Soekarno cs ketika membangun Negara RI, RIS, NKRI dengan ketika Rasulullah saw berjuang membangun, menegakkan, menerapkan, menjalankan syiar Islam di Mekkah dan melakukan hijrah ke Yatsrib, lalu membangun dan menegakkan Daulah Islamiyah pertama diYatsrib.

Coba perhatikan sebagai perbandingan, dimana setelah turun QS, Al-Hijr, 15: 94 yang memerintahkan menyampaikan risalah secara terang-terangan dan supaya berpaling dari orang-orang musyrik, maka mulailah Rasulullah saw tampil dengan penuh semangat tanpa merasa takut lagi berhadapan dengan orang-orang musyrik Mekkah. Nah, dengan turunnya deklarasi QS, Al-Hijr, 15: 94 inilah timbul penentangan dan sikap permusuhan dari pihak penguasa Quraisy Mekkah atas misi Rasulullah saw dalam menyebarkan risalahnya. Dimana cacian, hinaan, kutukan, yang dilontarkan oleh penduduk Mekkah, tetapi Rasulullah saw tetap dengan tegas dan gamblang menyampaikan risalaahnya. Perhatikan apa yang dikatakan Abu Lahab paman Rasulullah saw yang berteriak: "Celaka engkau hai Muhammad. Hanya untuk inikah engkau panggil kami?". (Ibnu Sa'd, Ath.Thabaqat al-Qubra, Jil. I, hal. 200). Peristiwa itu terjadi di bukit Shafa yang terkenal di Mekkah. Tempat memanggil orang. Dimana ketika itu Rasulullah saw naik ke bukit Shafa dan yang datang ke bukit Shafa itu termasuk paman Rasulullah saw, Abu Lahab, dimana Abu Lahab inilah yang berteriak itu yang mengutuk Rasulullah saw.

Jadi, itu taktik strategi Rasulullah saw dalam berdakhwah ini adalah secara terbuka, tegar, tanpa mundur, kalau diserang orang, balik menangkis dengan senjata dakhwahnya. Akhirnya setelah banyak yang memeluk Islam karena metode dakhwah yang terang-terangan dan berani ini, ternyata memberikan akibat yang menegangkan yang menimbulkan permusuhan dari kalangan kaum Quraisy yang sangat berpengaruh di Mekkah. Tetapi tentu saja, Rasulullah saw tidak gentar menghadapi sikap permusuhan dari pihak Quraisy ini. Rasulullah saw terus tampil, pantang mundur. Tidak ada istilah lembek menghadapi kaum Quraisy ini.

Inilah yang tidak dipahami dan tidak dimengerti oleh saudara Bimo Tejokusumo.

Nah, ketika Ahmad Sudirman membukakan fakta, bukti, sejarah dan dasar hukum tentang proses pertumbuhan dan perkembangan Negara RI ketika menelan Acheh, Maluku Selatan dan Papua Barat, jelas itu, merupakan suatu tindakan yang jauh berbeda dengan tindakan Rasulullah saw ketika membangun dan menegakkan Daulah Islamiyah pertama diYatsrib.

Jadi, seharusnya dari pihak RI, dan kalau bisa dari pihak saudara Bimo menampilkan alasan dan argumentasi legalitas mengenai masuknya Acheh, Maluku Selatan dan Papua Barat ini kedalam RI. Jangan hanya menyatakan: "Aku sih tidak peduli Aceh mau merdeka atau tidak".

Bagiamana kalau saudara Bimo hanya bisa menyatakan alasan seperti itu. Kemudian saudara Bimo langsung melambungkan bahwa cara Ahmad Sudirman tidak mencerminkan ke-Islaman karena bicara dalam situs Daulah Islamiyah Rasulullah. Lalu membicarakan Acheh, Maluku Selatan dan Papua Barat.

Jelas, itu argumentasi yang sangat lemah.

Kalau Ahmad Sudirman menentang Abdurrahman Wahid, Amien Rais, Soekarno, ki Bagus Hadikusumo, dalam hal kebijaksanaan Acheh dan pancasila, itu karena Ahmad Sudirman mempunyai dasar argumentasi yang jelas dan terang tentang pihak RIS, RI, NKRI menelan dan mencaplok Acheh melalui tangan Soekarno.

Justru, seharusnya dari pihak Abdurrahman Wahid dan Amien Rais berani menampilkan argumentasi bahwa itu pihak Soekarno dengan RIS, RI, NKRI-nya tidak menelan, mencaplok Acheh dan Maluku Selatan.

Tetapi kenyataannya, mereka itu dalam prakteknya, justru terus melakukan dan menjalankan kebijaksanaan politik yang telah dijalankan Soekarno dalam hal Acheh, yaitu menduduki dan menjajah Acheh.

Jadi, kebijaksanaan politik Abdurrahman Wahid dan Amien Rais tentang Acheh itulah yang ditentang Ahmad Sudirman. Apakah itu mantan Presiden RI Abdurrahman Wahid dan mantan Ketua Umum MPR Amien Rais, mampu menyelesaikan konflik Acheh ? Kan, mereka tidak mampu. Mengapa ? Karena mereka berdua, terus saja menutupi kebohongan mengenai akar utama konflik Acheh itu. Coba perhatikan, itu sebelum Abdurrahman Wahid dipilih menjadi Presiden, ia berjanji mahu mengadakan referendum di Acheh. Tetapi, ketika telah terpilih menjadi Presiden ia justru menutupi itu usaha referendum di Acheh.

Itu kan jelas, usaha dan taktik munafik dari Abdurrahman Wahid. Apakah orang yang demikian yang akan diikuti Ahmad Sudirman ?. Kan tidak.

Begitu juga tentang Amien Rais. Itu Amien Rais sebelum terpilih jadi Ketua Umum MPR, bersama Abdurrahman Wahid bertemu dengan rakyat Acheh di Masjid Baiturrahman, Banda Acheh. Dan itu Abdurrahman Wahid sambil meneteskan air mata, menyatakan mendukung perjuangan rakyat Acheh untuk melakukan referendum di Acheh. Tetapi kenyataannya itu Amien Rais dan Abdurrahman Wahid, bukan merealisasikan janjinya itu, melainkan justru menghancurkan janjinya itu. Jadi bagaimana tidak dikatakan itu janji Abdurrahman Wahid terhadap rakyat Acheh tentang referendum di Acheh sebagai janji gombal.

Nah, itulah saudara Bimo, mengapa Ahmad Sudirman menentang Abdurrahman Wahid dan Amien Rais.

Begitu juga mengenai masalah Ki Bagus Hadikusumo. Ahmad Sudirman telah menyatakan bahwa itu Ki Bagus Hadikusuomo yang orang Muhammadiyah itu justru menempelkan embel-embel tauhid kedalam kata "yang maha esa" sebagai penggati tujuh kata "dengan kewajiban menjalankan syariat Islam bagi pemeluknya". Dengan alasan itu istilah "yang maha esa" yang digabungkan dari belakang kata "ketuhanan" diembelkan kepada masalah tauhid dengan mencomot QS Al Baqarah, 2: 163 dan QS Al-Ikhlas, 112: 1-4. Padahal pencomotan pada QS Al Baqarah, 2: 163 dan QS Al-Ikhlas, 112: 1-4, adalah hanya sebatas dalam kertas saja, atau hanya dalam bakul saja. Mengapa ? Karena tidak ada penerapannya dalam pemerintahan dan negara yang dijabarkan kedalam dasar hukum yang dipakai di RI. Padahal itu pancasila merupkan sumber hukum RI. Artinya tempat mengacu segala dasar hukum, aturan, undang-undang, ketetapan, uud, yang ada di RI. Jadi, Ahmad Sudirman melihat apa yang dilakukan oleh Ki Bagus itu hanyalah merupakan pemberian embel tauhid yang berlaku dalam bakul saja. Karena memang kosong dalam penerapannya dalam dasar hukum yang dipakai di RI.

Nah sekarang, kalau saudara Bimo sanggup. Coba jelaskan secara padat dan terperinci, kalau memang itu sila ketuhanan yang maha esa sebagai tauhid, dimana dan bagaimana cara penjabarannya atau cara penegakkan dan penerapannya dalam dasar hukum yang berlaku di RI, kemudian dihubungkan dengan Daulah Islamiyah Rasulullah saw di Yatsrib ?.

Ahmad Sudirman menunggu jawaban saudara Bimo Tejokusumo pada email yang akan datang.

Kemudian menyangkut masalah wahhabi atau salafi. Itu telah banyak disinggung oleh Ahmad Sudirman di mimbar bebas ini. Ketika itu saudara Rokhmawan dari Yayasan Pesantren Al Bukhari, di Solo berdiskusi di mimbar bebas ini. Juga ketika almarhum saudara Mazda ikutan Rokhmawan berdebat masalah wahhabi atau salafi ini. Bisa saudara Bimo melihatnya dalam situs http://www.dataphone.se/~ahmad , tidak perlu Ahmad Sudirman mengulang-ulangnya, kecuali kalau memang saudara Bimo akan membuka lagi masalah wahhabi atau salafi di mimbar bebas ini. Ahmad Sudirman siap kapan saja.

Jadi, saudara Bimo tidak pernah Ahmad Sudirman menentang dalam hal Acheh dan pancasila, baik itu kepada Abdurrahman Wahid, Amien Rais, Ki Bagus Hadikusumo, dan kepada pihak lainnya, tanpa dibekali dengan argumentasi yang kuat dari pihak Ahmad Sudirman.

Kemudian kalau saudara Tejokusumo menulis: "Anda bahkan menyerukan permusuhan kepada semua muslim yg tidak sepaham dg anda, dan ini adalah kesalahan. setiap muslim bersaudara, dan untuk itulah saya menyerukan anda untuk memperbaiki cara mendebat, karena yg diinginkan muslim hanyalah kedamaian, bukan permusuhan seperti anda."

Ahmad Sudirman tidak menyerukan permusuhan kepada semua muslim yang tidak sepaham dengan Ahmad Sudirman. Yang Ahmad Sudirman nyatakan di mimbar bebas ini adalah coba tampilkan fakta, bukti, sejarah dan dasar hukum tentang sejarah jalur proses pertumbuhan dan perkembangan Negara RI dihubungkan dengan Acheh, Maluku Selatan dan Papua Barat.

Itu bukan merupakan paham Ahmad Sudirman. Itu hanyalah merupakan fakta dan bukti serta sejarah dan dasar hukum saja. Nah, bagi mereka yang tidak sanggup untuk menampilkan fakta, bukti, sejarah dan dasar hukum tentang sejarah jalur proses pertumbuhan dan perkembangan Negara RI dihubungkan dengan Acheh, Maluku Selatan dan Papua Barat, tidaklah Ahmad Sudirman memusuhi mereka.

Yang dimaksud musuh oleh Ahmad Sudirman adalah mereka dari pihak penjajah RI bersama TNI-nya yang telah mendeklarkan perang di Acheh melawan dan membunuh rakyat Acheh yang telah sadar untuk menentukan nasib sendiri. Itulah yang dimaksud musuh oleh Ahmad Sudirman. Jadi kalau pihak TNI membunuh rakyat muslim Acheh yang telah sadar untuk menentukan nasib sendiri, itulah menurut Ahmad Sudirman adalah musuh rakyat Acheh.

Apakah pernah Ahmad Sudirman mendeklarkan di mimbar bebas ini: "permusuhan kepada semua muslim yang tidak sepaham dengan Ahmad Sudirman" ?

Justru Ahmad Sudirman menyatakan, silahkan paham apa saja yang kalian anut, bebas kalian pakai dan jalankan, lakum dinukum waliyadin.

Hanya kalau ada dari pihak RI yang tidak mampu menampilkan fakta, bukti, sejarah dan dasar hukum tentang sejarah jalur proses pertumbuhan dan perkembangan Negara RI dihubungkan dengan Acheh, Maluku Selatan dan Papua Barat. Itu tandanya mereka memang masih lemah. Dan mereka masih menjalankan jalur dan jalan militer dalam bentuk pendudukan dan penjajahan. Contohnya di Acheh.

Bagi yang ada minat untuk menanggapi silahkan tujukan atau cc kan kepada ahmad@dataphone.se agar supaya sampai kepada saya dan bagi yang ada waktu untuk membaca tulisan-tulisan saya yang telah lalu yang menyinggung tentang Khilafah Islam dan Undang Undang Madinah silahkan lihat di kumpulan artikel di HP http://www.dataphone.se/~ahmad

Hanya kepada Allah kita memohon pertolongan dan hanya kepada Allah kita memohon petunjuk, amin *.*

Wassalam.

Ahmad Sudirman

http://www.dataphone.se/~ahmad
www.ahmad-sudirman.com
ahmad@dataphone.se
---------

From: bimo tejokusumo bimo_tejokusumo@yahoo.co.uk
Date: 13 mars 2005 09:46:25
To: Ahmad Sudirman ahmad_sudirman@hotmail.com
Subject: Re: TEJOKUSUMO HARUS MEMPERBANYAK BELAJAR PERSAMAAN KATA, JANGAN HANYA MENGERTI.....

Salam, segenap puji bagi Allah, salam salawat semoga sampai kepda Rasulullah Muhammad SAW.....

Yth. Ahmad Sudirman, justru karena aku ngerti persamaan kata, tidakkah itu padanan kata yg mencerminkan ketidaksopanan? Juga sering aku renungkan, di situs anda mengatakan Selamat Datang di Daulah Islam Rasulullah, namun bukan kesejukan yg nampak, melainkan kata-kata berhamburan yg cenderung sangat tidak Islami.

Bukankah Rasulullah mengajarkan kerendahhatian, bahkan ketika Malaikat Jibril mengatakan agar Rasulullah memerntahkan kaum kafir ditimpakan gunung batu, Rasulullah (semoga rahmat Allah menyertainya), malah tersenyum dan melarang Jibril untuk melakukan itu.

Tapi anda malah mendukung RMS, Papua Merdeka, jadi bisa disimpulkan anda berjuang bukan untuk Islam, melainkan hanya untuk segelintir orang yg ingin Aceh terpisah dari saudaranya sesama muslim di Indonesia.

Orang lain yg melihat, apakah anda ikhlas berjuang untuk Islam, ataukah hanya untuk segelintir orang yg mau memisahkan dari NKRI. Anda mengecam wahabi, mengecam salafi, mengecam Mauhammadiyah, mengecam Gusdur, mengecam Amien Rais, mengecam Bung Karno, mengecam ki Bagus Kusumo, mengecam orang Aceh yg bersedia bersaudara dg sesama muslim di Indonesia, mengecam pejuang-pejuang Aceh yg dg legowo bersama membangun peradaban di indonesia, ..

Anda mengecam semuanya, seakan-akan andalah yg paling benar. Anda memposisikan kebenaran di pihak anda, dan menutup mata terhada risiko-risiko kesalahan yg notabene adalah sunnatullah, anda bisa salah dan kalau yg anda kecam sebegitu banyak, maka anda harus minta maaf kepada mereka semua.

Aku sih tidak peduli Aceh mau merdeka atau tidak, tetapi cara anda memperjuangkan melalui situs Daulah Islam Rasulullah, adalah sangat tidak mencerminkan keislaman anda. Anda bahkan menyerukan permusuhan kepada semua muslim yg tidak sepaham dg anda, dan ini adalah kesalahan. setiap muslim bersaudara, dan untuk itulah saya menyerukan anda untuk memperbaiki cara mendebat, karena yg diinginkan muslim hanyalah kedamaian, bukan permusuhan seperti anda.

Saya ingatkan anda sebelum penyesalan karena mengunyah daging muslim.

Wassalam

Bimo Tejokusumo

bimo_tejokusumo@yahoo.co.uk
Malmo, Swedia
----------