Sandnes, 13 Maret 2005

Bismillaahirrahmaanirrahiim.
Assalamu'alaikum wr wbr.
 

TUGAS MENDIRIKAN SISTEM ALLAH ADALAH HAQ BUKAN KEWAJIBAN SEBAGAIMANA DINYATAKAN HT
Husaini Daud Sp
Sandnes - NORWEGIA.

 

SEKILAS MENEROPONG LANGKAH HIZBUT TAHRIR INDONESIA

Setelah membaca apa yang disampaikan saudara Muhammad Ismail Yusanto, Juru bicara Hizbut Tahrir Indonesia, dalam pernyataan pers setelah 81 tahun runtuhnya Khilafah, ada beberapa hal yang perlu digarisbawahi. Diantaranya, mengenai pernyataan mendirikan "Khalifah Islamiah" merupakan suatu kewajiban, yang anda tulis secara berulang-ulang. Dimana pernyataan itu sangat keliru. Saya yakin anda memahami "knotasi" kewajiban. Artinya bila kita melaksanakan akan mendapat "pahala" dan "berdosa" apabila kita tinggalkan. Akibatnya orang banyak berkesimpulan bahwa perkara "dosa" masih dapat meminta ampun kepada Allah, bukankah Allah maha pengampun ? Buat apa kita musti berjuang yang mungkin saja sangat membahayakan orang banyak dan kita sendiri.

Yang benar adalah "Haq" untuk memperjuangkan System Allah atau "Khalifah Islamiah". "Haq" disini adalah lawan kata dari "Bathil". Artinya andaikata kita tidak berdaya upaya untuk memperjuangkannya kita termasuk dalam golongan yang "bathil" kendatipun kita berkoar-koar di depan manusia bahwa kita orang Islam. Disinilah kita mencapai titik klimak dalam befikir berdasarkan firman Allah yang senantiasa di ulang-ulang dalam Al Qur-anul karim: "afala ta'qilun dan afala yatazakkarun" dan inilah Idiology Islam sejati yang pasti senantiasa dilawan oleh orang-orang dhalim dari kalangan manapun jua.

Apa yang saya utarakan ini selaras juga dengan hadist yang anda kemukakan sendiri: "Siapa saja yang mati, sementara di atas pundaknya tidak ada bai'at (untuk seorang Imam/Khalifah), maka dia akan mati dalam keadaan jahiliyah (H.R. Muslim). Jadi kalau kita sudah bertekat untuk memperjuangkan System Allah tidak boleh tidak pastilah muncul seorang Imam/Khalifah, dimana kita "haq" berbai'at kepadanya.

Anda juga mengemukakan ayat berikut: "Jikalau sekiranya penduduk negeri-negeri beriman dan bertakwa, pastilah Kami akan melimpahkan kepada mereka berkah dari langit dan bumi, tetapi mereka mendustakan (ayat-ayat Kami) itu, maka Kami siksa mereka disebabkan perbuatannya. (Q.S. al-A'raf: 96). Dengan ayat tersebut jelaslah kebenaran persepsi anda bahwa didalam system Indonesia Pancasila tidak ada keredhaan Allah. Makanya sejak dari Soekarno (yang telah menggusur System Allah di kepulauan Melanesia itu) sampai SBY, tetap saja rakyat hidup dalam keadaan morat-marit, kecuali koruptor-koruptor.

Selanjutnya anda mengemukakan ayat berikut: "Allah telah berjanji kepada orang-orang yang beriman dan beramal salih di antara kalian, bahwa Dia sungguh-sungguh akan menjadikan mereka berkuasa di bumi, sebagaimana Dia telah menjadikan orang-orang sebelum mereka berkuasa, akan meneguhkan bagi mereka agama yang telah diridhai-Nya untuk mereka, dan akan menukar keadaan mereka-sesudah mereka berada dalam ketakutan-dengan rasa aman. (QS an-Nur, 24: 55). Ayat ini juga tepat untuk dikemukakan dalam kontek permasalahan ini, tinggal lagi saya ingin menambahkan bahwa Allah juga berfirman bahwa Dia tidak akan merobah nasib suatu kaum kecuali kaum itu sendiri yang merobahnya. (QS, Ar-Rad, 13: 11). Artinya tanpa kita bertekat untuk menerima resiko mati Syahid atau hidup menderita dalam memperjuangkan System Allah itu, mustahil akan menjelma sendiri.

Kita "haq" mencontohi Perjuangan Imam Hussein bersama 72 sahabat setianya bertekat melawan kedhaliman tentera Yazid yang berjumlah 30,000. Lalu kita bandingkan dengan kekuatan kita sekarang, kenapa kita masih diam dengan bermacam alasan yang mengundang alternatif lainnya?.

Selanjutnya saya tutup kritikan ini dengan beberapa alinia dari tulisan saya sendiri yang berjudul "Pendidikan Islam Kaffah" yang saya kutip dari "Ahmad Hakim Sudirman Homepage":

"Kehidupan di dunia menghadapkan manusia pada dua jalan. Jalan yang mendaki lagi sukar dan jalan yang mulus lagi menyenangkan(QS, 90:10). Jalan yang mendaki lagi sukar adalah jalan yang membebaskan kaum dhuafa dari belenggu penindasan dan penjajahan, yang menimpa kuduk-kuduk mereka, membebaskan manusia dari sistem perbudakan baik perbudakan ortodok mahupun perbudakan modern (QS, 7:157 & QS, 90:12-18)). Untuk menempuh jalan ini tidak boleh tidak dituntut untuk mendirikan sistem Allah. Untuk mendirikan sistem Allah membutuhkan kemantapan power dan Ideology sebab pasti akan berhadapan dengan kekuatan system Thaghut, jelasnya pasti akan berhadapan dengan medan tempur. Justru itulah para Rasul dilengkapi dengan Ideologi, Mizan dan Power (QS Al-Hadid :25).

Setelah periode para Rasul berakhir, tugas mendirikan sistem Allah dilanjutkan para Imam/Khalifah (ulama warasatul Ambiya). Andaikata di suatu negeri tidak ada ulama warasatul ambiya, tugas tersebut akan diambil alih oleh penyeru-penyeru kebenaran secara kolektif sebab tugas mendirikan sistem Allah adalah Haq lawan kata daripada Bathil. Hal ini perlu digarisbawahi sebab banyak orang yang terkecoh dengan pendapat klasik yang mengatakan hukumnya wajib. Haq dalam konteks ini kedudukannya di atas wajib. Bila hukumnya wajib, andaikata tidak didirikan paling-paling berdosa. Sedangkan perkara dosa masih ada jalan untuk meminta ampun. Sedangkan perkara Haq, bila tidak didirikan hukumnya bathil. Resiko berada dalam sistem yang batil adalah neraka. Andaikata kita tidak berada dalam sistem Allah (Haq), otomatis kita berada dalam sistem Thaghut (bathil) ke cuali taqiah. Untuk kasus ini Allah berfirman; "Qul Ja al Haqqu wazahaqal Baathil, innal Bathila kana Zahuuqa"

Jalan yang mulus lagi menyenangkan adalah jalan qabil, pembunuh manusia, jalan Namruz, Firaun, Jalan Kaisar-Kaisar di Roma, Jalan Abu Sofyan, jalan Muawiyah, jalan Yazid, Jalan orang-orang yang bersatu padu dalam system Thaghut Hindunesia-Jawa kecuali "Taqiah" dan Basyar-basyar. Kesemuanya adalah jalan orang-orang yang mencari kebahagiaan di dunia ini diatas penderitaan orang lain. Mereka itu umumnya baik secara langsung mahupun tidak langsung, penentang ayat-ayat Allah. Mereka sekedar bereksistensi dan tak pernah beresensi. Manakala berbicara tentang negara Islam, Kedaulatan Allah, System Allah sebagian mereka langsung menentangnya, sementara sebagian yang lain merasa grogi, memperlihatkan sikap yang tidak senang dengan mengemukakan berbagai dalih, tidak mungkinlah, mustahillah, mimpilah, dsb. Mereka mengaku diri sebagai orang beriman, Islam. Mereka sesungguhnya telah dinyatakan Allah dengan jelas dalam Al Quran Karim surat Al Baqarah ayat 8-20. Hal ini juga terdapat dalam surah Surah yang lainnya seperti Surah Al-Munafiqun dari ayat 1 sampai ayat 8 dan juga ayat-ayat di surah-surah lainnya."

Demikianlah sebagai kritikan konstruktif dari saya mudah-mudahan saudara Muhammad Ismail Yusanto berlapang dada untuk menerimanya dan mohon maaf andai kata ada hal yang menyentuh hati anda.

Billahi fi sabililhaq

Husaini Daud Sp

husaini54daud@yahoo.com
Sandnes, Norwegia.
----------

syabab muslim
syabab_hizb_islamiy@yahoo.com

KANTOR JURUBICARA HIZBUT TAHRIR INDONESIA
Nomor : 69/PU/E/03/05
Jakarta, 04 Maret 2005 M

PERNYATAAN PERS: MEMPERINGATI 81 RUNTUHNYA KHILAFAH AKSI UMMAT BERSAMA HIZBUT TAHRIR INDONESIA MENEGAKKAN SYARIAH DAN KHILAFAH

Sejak Khilafah Islam ditumbangkan melalui Revolusi Maret 1924, kehidupan ummat Islam di seluruh dunia telah berubah. Mereka tidak lagi mempunyai satu negara yang bisa mempersatukan seluruh bangsa Muslim di seluruh dunia. Sebaliknya, persatuan dan kesatuan mereka telah dicabik-cabik. Mereka pun akhirnya hidup di bawah negara-negara bangsa yang kecil dan tidak berdaya. Di dalam tubuh mereka sengaja ditanamkan paham Nasionalisme, yang menyebabkan bangsa Arab bangga dengan kearabannya, Turki bangsa dengan keturkiannya, Melayu bangga dengan kemelayuannya, dan begitu seterusnya. Akibatnya, persatuan Islam telah digantikan oleh persatuan bangsa. Masalah mereka yang datang bertubi-tubi dan silih berganti, yang seharusnya bisa mereka selesaikan sebagai masalah bersama, akhirnya harus mereka pecahkan sendiri. Krisis Palestina harus dihadapi oleh rakyat Palestina.

Padahal, ini merupakan persoalan ummat Islam di seluruh dunia, bukan hanya masalah bangsa Arab, atau bahkan bangsa Palestina sendiri. Krisis Irak, Kashmir, Darfur, Pattani, Aceh, Lebanon dan Suriah juga sama. Krisis-krisis tersebut bukan hanya menjadi masalah mereka, tetapi juga merupakan permasalahan ummat Islam di seluruh dunia. Mengapa? Karena mereka adalah ummat yang satu; agama mereka satu, akidah dan syariah mereka pun satu, yaitu akidah dan syariah Islam.

Kini setelah 81 tahun runtuhnya Khilafah, ummat Islam yang sakit selama puluhan tahun itu mulai sembuh, dan sedikit demi sedikit telah pulih. Di mana-mana mereka pun menyuarakan khilafah, dan suaranya pun menggema dari Asia Barat (Timur Tengah), Asia Tengah, Asia Tenggara, Afrika, Autralia hingga sampai ke Eropa dan Amerika. Gema itu pun semakin membesar, sampai badan intelijen asing pun memprediksi kembalinya Khilafah baru itu. Karenanya, keniscayaan kembalinya Khilafah yang akan menyatukan ummat Islam di seluruh dunia, dengan izin Allah, hanyalah masalah waktu.

Maka, Hizbut Tahrir Indonesia menyatakan:

1-Bahwa agenda utama ummat Islam di seluruh dunia saat ini adalah menegakkan kembali Khilafah 'ala Minhaj Nubuwwah, sebagaimana yang telah diwariskan oleh Rasulullah kepada para sahabat. Karena itu, hukum menegakkannya adalah wajib bagi setiap kaum Muslim di seluruh dunia. Para ulama' telah menyepakati kewajibannya, dan bahkan menganggapnya sebagai perkara Ma'lumun min ad-din bi ad-dharurah (perkara agama yang diyakini urgensinya), sebagaimana sabda Rasulullah saw.: Imam (Khalifah) itu tak lain merupakan perisai, dimana orang-orang akan berperang dari belakangnya, dan dia pun dijadikan sebagai pelindungnya (H.R. Muslim) Maka, adanya Khilafah bagi Islam dan ummatnya itu bagaikan penjaga, yang tanpanya Islam dan ummatnya akan hilang dari muka bumi.

2-Bahwa ummat Islam di seluruh dunia, baik dari kalangan ulama', intelektual, tokoh masyarakat, pemerintahan, politikus, polisi dan militer, kaum terpelajar maupun non-pelajar, termasuk orang awam, semuanya mempunyai kewajiban yang sama. Sama-sama mempunyai kewajiban di hadapan Allah SWT. untuk mengembalikan tegaknya kembali Khilafah di muka bumi, sebagaimana sabda Rasulullah saw.: "Siapa saja yang mati, sementara di atas pundaknya tidak ada bai'at (untuk seorang Khalifah), maka dia akan mati dalam keadaan jahiliyah (H.R. Muslim)"

Dan hanya di bawah naungan Khilafah 'ala Minhaj Nubuwwah itulah mereka akan mendapatkan kehidupan yang adil, makmur, aman, tenteran dan sejahtera. Allah pun akan menurunkan berkah-Nya dari langit, dan negeri mereka pun akan menjadi baldatun thayyibatun wa rabbun ghafur. Allah berfirman: "Jikalau sekiranya penduduk negeri-negeri beriman dan bertakwa, pastilah Kami akan melimpahkan kepada mereka berkah dari langit dan bumi, tetapi mereka mendustakan (ayat-ayat Kami) itu, maka Kami siksa mereka disebabkan perbuatannya. (Q.S. al-A'raf: 96).

3-Bahwa kembalinya Khilafah 'ala Minhaj Nubuwwah yang kedua meniscayakan adanya generasi Nubuwwah, sebagaimana para sahabat Rasulullah saw., yang di tangannyalah Khilafah 'ala Minhaj Nubuwwah yang pertama berhasil mereka wujudkan. Yaitu, generasi yang mempunyai keimanan seperti para sahabat Rasulullah saw., meski mereka tidak pernah bersua dengannya, sementara mereka senantiasa berpegang teguh kepada ajarannya. Maka, kembalinya Khilafah 'ala Minhaj Nubuwwah yang kedua juga menuntut para pejuangnya untuk senantiasa berpegang teguh kepada tuntunan Rasulullah saw, dan tidak boleh menyimpang sedikit pun darinya, meski hanya seutas rambut. Bukan cara-cara Machiavellian, yang menghalalkan segala cara demi meraih tujuan.

Jakarta, 4 Maret 2005 M

Jurubicara Hizbut Tahrir Indonesia

Muhammad Ismail Yusanto
Hp: 0811119796
Email: ismaily@telkom.net, ismaily@hizbut-tahrir.or.id
Sekretariat :Gedung Fuyinto-Sentra-Mampang Lt. 4
Jl. Mampang Prapatan Raya No 28, Jakarta Selatan 12790
Telp / Fax : (62-21)79191263 Fax. (62-21)79191263
Email : info@al-islam.or.id, info@hizbut-tahrir.or.id
Website : http://www.al-islam.or.id, www.hizbut-tahrir.or.id

Allah telah berjanji kepada orang-orang yang beriman dan beramal salih di antara kalian, bahwa Dia sungguh-sungguh akan menjadikan mereka berkuasa di bumi, sebagaimana Dia telah menjadikan orang-orang sebelum mereka berkuasa, akan meneguhkan bagi mereka agama yang telah diridhai-Nya untuk mereka, dan akan menukar keadaan mereka-sesudah mereka berada dalam ketakutan-dengan rasa aman. (QS an-Nur [24]: 55).

Catatan: Dibacakan oleh Jubir HTI pada tanggal 5 Maret 2005 di depan Istana Negara pada Peringatan 81 Tahun Keruntuhan Khilafah 3 Maret 1924 yang diikuti oleh ribuan anggota dan simpatisan HTI serta masyarakat umum ....
http://www.hizbut-tahrir.or.id/modules.php?name=News&file=article&sid=436
----------