Stockholm, 13 Maret 2005

Bismillaahirrahmaanirrahiim.
Assalamu'alaikum wr wbr.
 

KEPINCANGAN PARTAI POLITIK HIZBUT TAHRIR YANG MENERAPKAN METODE DAKWAH FASE MEKKAH
Ahmad Sudirman
Stockholm - SWEDIA.

 

SEDIKIT MENGGALI TAKTIK DAN STRATEGI DAKHWAH & POLITIK HIZBUT TAHRIR YANG MENERAPKAN METODE DAKWAH FASE MEKKAH

Hizbut Tahrir didirikan oleh Taqiyuddin An Nabhani. Beliau lahir di Ijzim, Palestina tahun 1909. Setelah dewasa, beliau belajar Universitas Al Azhar. Setelah beliau lulus pergi ke Libanon dan Yordania, bekerja di universitas Islam sebagai tenaga pengajar dan beliau mendirikan Hizbut Tahrir. Beliau wafat pada tahun 1977.

Dengan dasar: "Dan hendaklah ada di antara kamu segolongan yang menyeru kepada kebajikan, menyuruh kepada yang ma'ruf dan mencegah dari yang munkar. Merekalah orang-orang yang beruntung." (QS. Ali Imran, 3: 104)

Dari dasar itulah Hizbut Tahrir membangun landasan pemikirannya. Kemudian setelah melakukan pengkajian, penelitian, studi terhadap kondisi umat, kemerosotan yang dideritanya, dibandingkanlah dengan kondisi yang terjadi pada periode Mekkah, periode Madinah atau periode Rasulullah saw, periode Khulafa ar-Rasyidin, dan periode Tabi'in.

Begitu juga cara dakwah Rasulullah saw sewaktu di Mekkah sehingga berhasil membangun Daulah Islamiyah di Madinah itulah yang diambil oleh Hizbut Tahrir ini. Jadi dari hasil pengkajian itulah, Hizbut Tahrir telah menetapkan ide-ide, pendapat-pendapat dan hukum-hukum yang berkaitan dengan fikrah (pemikiran) dan thariqah (metode).

Dan dari hasil pengkajian itulah lahir Hizbut Tahrir sebagai sebuah partai politik dengan berdasarkan idiologi Islam, bukan organisasi kerohanian, bukan lembaga ilmiah, bukan lembaga pendidikan, dan bukan lembaga sosial.

Hizbut Tahrir bermaksud mendirikan kembali Khilafah Islamiyah setelah dinasti Usmaniyah Turki runtuh pada tahun 1924 M, membebaskan umat dari ide, undang-undang, hukum-hukum, dan pengaruh negara-negara kafir. Dan Hizbut Tahrir bertujuan melanjutkan kehidupan Islam dan mengemban dakwah Islam ke seluruh penjuru dunia, yang kegiatan kehidupannya diatur dengan hukum-hukum syara, berusaha mengembalikan posisi umat ke masa kejayaannya, di mana umat akan mengambil alih kendali negara-negara dan bangsa-bangsa di dunia ini.

Adapun kegiatan Hizbut Tahrir adalah mengemban dakwah Islam untuk merobah kondisi, ide-ide menjadi kondisi dan ide-ide Islam, yang mana ide-ide ini akan menjadi opini umum dan menjadi persepsi yang akan menjadi dorong untuk merealisasikannya sesuai dengan tuntutan Islam.

Dimana Hizbut Tahrir dalam mengemban dakwahnya dilakukan secara politik. Terlihat seperti pertarungan yang bersifat politik menentang Amerika dan sekutunya yang dianggap sebagai imperialis yang membelenggu, mencengkeram dalam semua aspek, kebudayaan, pemikiran, politik, ekonomi, dan militer negara-negara Islam.

Disamping itu Hizbut Tahrir juga dalam kegiatan politiknya menentang tindakan-tindakan penguasa yang dianggap mengabaikan hak-hak umat dan tidak menjalankan kewajibannya terhadap umat, dan menyalahi hukum-hukum Islam.

Kesemua kegiatan politik Hizbut Tahrir ini dilakukan tanpa menggunakan cara kekerasan senjata.

Melihat dari metode dakwah Hizbut Tahrir yang ditempuh adalah metode yang telah dijalankan Rasulullah saw ketika di Mekkah, yang sebagiannya didasarkan kepada "Sesungguhnya telah ada pada (diri) Rasulullah itu suri teladan yang baik bagimu, (yaitu) bagi orang-orang yang mengharap (rahmat) Allah dan (keselamatan) hari kiamat dan banyak menyebut Allah." (Al- Ahzab, QS,33: 21)

Pandangan Hizbut Tahrir terhadap kehidupan umat masa kini adalah umat sedang hidup di negara kafir, dengan alasan karena diterapkan atas mereka hukum-hukum kufur yang tidak diturunkan Allah Swt.

Pandangan Hizbut Tahrir yang demikian itu karena Hizbut Tahrir menganggap serupa dengan waktu fase Mekkah. Karena itulah Hizbut Tahrir dalam mempraktekan dakwahnya mengambil metode dakwah yang dilakukan Rasulullah saw ketika masih berjuang di Mekkah.

Ada tiga tahapan dakwah yang dijalankan oleh Hizbut Tahrir ini. Pertama, tahapan pembinaan dan pengkaderan, yaitu membina kader-kader Hizbut Tahrir dalam rangka pembentukan kerangka tubuh partai Hizbut Tahrir. Kedua, tahapan berinteraksi dengan umat, yaitu dalam bentuk memikul tanggung jawab dan kewajiban menjalankan dakwah Islam, dengan mengarahkan daya upaya agar umat menjadikan Islam sebagai masalah utamanya, dan mewujudkannya dalam kehidupannya. Ketiga, tahapan pengambilalihan kekuasaan, yaitu dalam rangka pelaksanaan penerapan Islam secara menyeluruh dan dalam usaha mengemban risalah Islam ke seluruh dunia.

Jadi, Hizbut Tahrir adalah partai politik, masih dalam keadaan mengikuti masa periode Mekkah dan sedang berjuang dengan cara dakwah tanpa kekerasan-nya menentang Amerika Cs yang dianggap sebagai imperialis, menentang penguasa yang tidak menjalankan hukum-hukum Islam, aktif dalam demonstrasi menentang Amerika dan sekutunya terutama dalam hal Irak dan Palestina, kalau di Indonesia Hizbut Tahrir aktif menyuarakan syariat Islam ditegakkan di RI , menyuarakan dibangunnya kembali Khilafah Islamiyah setelah dinasti Usmaniyah Turki yang telah hancur pada tahun 1924.

Dalam hal ini Ahmad Sudirman melihat karena Hizbut Tahrir adalah partai politik, dan menerapkan metode dakwah Rasulullah saw pada fase Mekkah, maka justru yang harus dipetingkan dan ditekankan dalam peride Mekkah adalah pembinaan aqidah, pembinaan mentalitas sebagai seorang muslim yang mukmin, pembinaan dan peningkatan pengetahuan tentang Islam, pembinaan dan peningkatan pengetahuan umum yang disiraminilai-nilai Islam.

Karena pada masa periode Mekkah inilah Rasulullah saw membentuk kwalitas muslim yang mukmin dengan aqidah Islam, sehingga melahirkan muslim yang tangguh yang membentuk masyarakat dan menjadi rakyat Daulah Islamiyah Rasulullah di Yatsrib, dan mampu mempertahankan Agama, Daulah dan rakyat dari segala serangan yang datang dari luar.

Kalau dalam masa periode Mekkah lebih banyak ditekankan kepada masalah politik, justru akan melahirkan kepincangan dalam membangun masyarakat muslim yang mukmin yang mempunyai kwalitas dan mentalitas yang teguh dan kokoh, sebagaimana para kaum muslimin pertama di masa periode Mekkah.

Dalam membangun Daulah Islamiyah atau Khilafah Islamiyah bukan tujuan, melainkan hanya sebagai alat untuk menuju kepada keridhaan Allah SWA. Dimana Daulah Islam atau Khilafah Islamiyah adalah sebagai tempat memberikan perlindungan kepada kaum muslimin, sebagai tempat untuk mengaplikasikan hukum-hukum Islam, sebagai alat untuk menyebarkan risalah Islam keseluruh penjuru dunia, sebagai benteng pertahanan bagi ummat Islam dari ancaman dan serangan dari pihak luar, dan sebagai tempat untuk beribadah dan untuk mendapat ridha Allah SWT.

Bagi yang ada minat untuk menanggapi silahkan tujukan atau cc kan kepada ahmad@dataphone.se agar supaya sampai kepada saya dan bagi yang ada waktu untuk membaca tulisan-tulisan saya yang telah lalu yang menyinggung tentang Khilafah Islam dan Undang Undang Madinah silahkan lihat di kumpulan artikel di HP http://www.dataphone.se/~ahmad

Hanya kepada Allah kita memohon pertolongan dan hanya kepada Allah kita memohon petunjuk, amin *.*

Wassalam.

Ahmad Sudirman

http://www.dataphone.se/~ahmad
www.ahmad-sudirman.com
ahmad@dataphone.se
---------

syabab muslim
syabab_hizb_islamiy@yahoo.com

KANTOR JURUBICARA HIZBUT TAHRIR INDONESIA
Nomor : 69/PU/E/03/05
Jakarta, 04 Maret 2005 M

PERNYATAAN PERS: MEMPERINGATI 81 RUNTUHNYA KHILAFAH AKSI UMMAT BERSAMA HIZBUT TAHRIR INDONESIA MENEGAKKAN SYARIAH DAN KHILAFAH

Sejak Khilafah Islam ditumbangkan melalui Revolusi Maret 1924, kehidupan ummat Islam di seluruh dunia telah berubah. Mereka tidak lagi mempunyai satu negara yang bisa mempersatukan seluruh bangsa Muslim di seluruh dunia. Sebaliknya, persatuan dan kesatuan mereka telah dicabik-cabik. Mereka pun akhirnya hidup di bawah negara-negara bangsa yang kecil dan tidak berdaya. Di dalam tubuh mereka sengaja ditanamkan paham Nasionalisme, yang menyebabkan bangsa Arab bangga dengan kearabannya, Turki bangsa dengan keturkiannya, Melayu bangga dengan kemelayuannya, dan begitu seterusnya. Akibatnya, persatuan Islam telah digantikan oleh persatuan bangsa. Masalah mereka yang datang bertubi-tubi dan silih berganti, yang seharusnya bisa mereka selesaikan sebagai masalah bersama, akhirnya harus mereka pecahkan sendiri. Krisis Palestina harus dihadapi oleh rakyat Palestina.

Padahal, ini merupakan persoalan ummat Islam di seluruh dunia, bukan hanya masalah bangsa Arab, atau bahkan bangsa Palestina sendiri. Krisis Irak, Kashmir, Darfur, Pattani, Aceh, Lebanon dan Suriah juga sama. Krisis-krisis tersebut bukan hanya menjadi masalah mereka, tetapi juga merupakan permasalahan ummat Islam di seluruh dunia. Mengapa? Karena mereka adalah ummat yang satu; agama mereka satu, akidah dan syariah mereka pun satu, yaitu akidah dan syariah Islam.

Kini setelah 81 tahun runtuhnya Khilafah, ummat Islam yang sakit selama puluhan tahun itu mulai sembuh, dan sedikit demi sedikit telah pulih. Di mana-mana mereka pun menyuarakan khilafah, dan suaranya pun menggema dari Asia Barat (Timur Tengah), Asia Tengah, Asia Tenggara, Afrika, Autralia hingga sampai ke Eropa dan Amerika. Gema itu pun semakin membesar, sampai badan intelijen asing pun memprediksi kembalinya Khilafah baru itu. Karenanya, keniscayaan kembalinya Khilafah yang akan menyatukan ummat Islam di seluruh dunia, dengan izin Allah, hanyalah masalah waktu.

Maka, Hizbut Tahrir Indonesia menyatakan:

1-Bahwa agenda utama ummat Islam di seluruh dunia saat ini adalah menegakkan kembali Khilafah 'ala Minhaj Nubuwwah, sebagaimana yang telah diwariskan oleh Rasulullah kepada para sahabat. Karena itu, hukum menegakkannya adalah wajib bagi setiap kaum Muslim di seluruh dunia. Para ulama' telah menyepakati kewajibannya, dan bahkan menganggapnya sebagai perkara Ma'lumun min ad-din bi ad-dharurah (perkara agama yang diyakini urgensinya), sebagaimana sabda Rasulullah saw.: Imam (Khalifah) itu tak lain merupakan perisai, dimana orang-orang akan berperang dari belakangnya, dan dia pun dijadikan sebagai pelindungnya (H.R. Muslim) Maka, adanya Khilafah bagi Islam dan ummatnya itu bagaikan penjaga, yang tanpanya Islam dan ummatnya akan hilang dari muka bumi.

2-Bahwa ummat Islam di seluruh dunia, baik dari kalangan ulama', intelektual, tokoh masyarakat, pemerintahan, politikus, polisi dan militer, kaum terpelajar maupun non-pelajar, termasuk orang awam, semuanya mempunyai kewajiban yang sama. Sama-sama mempunyai kewajiban di hadapan Allah SWT. untuk mengembalikan tegaknya kembali Khilafah di muka bumi, sebagaimana sabda Rasulullah saw.: "Siapa saja yang mati, sementara di atas pundaknya tidak ada bai'at (untuk seorang Khalifah), maka dia akan mati dalam keadaan jahiliyah (H.R. Muslim)"

Dan hanya di bawah naungan Khilafah 'ala Minhaj Nubuwwah itulah mereka akan mendapatkan kehidupan yang adil, makmur, aman, tenteran dan sejahtera. Allah pun akan menurunkan berkah-Nya dari langit, dan negeri mereka pun akan menjadi baldatun thayyibatun wa rabbun ghafur. Allah berfirman: "Jikalau sekiranya penduduk negeri-negeri beriman dan bertakwa, pastilah Kami akan melimpahkan kepada mereka berkah dari langit dan bumi, tetapi mereka mendustakan (ayat-ayat Kami) itu, maka Kami siksa mereka disebabkan perbuatannya. (Q.S. al-A'raf: 96).

3-Bahwa kembalinya Khilafah 'ala Minhaj Nubuwwah yang kedua meniscayakan adanya generasi Nubuwwah, sebagaimana para sahabat Rasulullah saw., yang di tangannyalah Khilafah 'ala Minhaj Nubuwwah yang pertama berhasil mereka wujudkan. Yaitu, generasi yang mempunyai keimanan seperti para sahabat Rasulullah saw., meski mereka tidak pernah bersua dengannya, sementara mereka senantiasa berpegang teguh kepada ajarannya. Maka, kembalinya Khilafah 'ala Minhaj Nubuwwah yang kedua juga menuntut para pejuangnya untuk senantiasa berpegang teguh kepada tuntunan Rasulullah saw, dan tidak boleh menyimpang sedikit pun darinya, meski hanya seutas rambut. Bukan cara-cara Machiavellian, yang menghalalkan segala cara demi meraih tujuan.

Jakarta, 4 Maret 2005 M

Jurubicara Hizbut Tahrir Indonesia

Muhammad Ismail Yusanto
Hp: 0811119796
Email: ismaily@telkom.net, ismaily@hizbut-tahrir.or.id
Sekretariat :Gedung Fuyinto-Sentra-Mampang Lt. 4
Jl. Mampang Prapatan Raya No 28, Jakarta Selatan 12790
Telp / Fax : (62-21)79191263 Fax. (62-21)79191263
Email : info@al-islam.or.id, info@hizbut-tahrir.or.id
Website : http://www.al-islam.or.id, www.hizbut-tahrir.or.id

Allah telah berjanji kepada orang-orang yang beriman dan beramal salih di antara kalian, bahwa Dia sungguh-sungguh akan menjadikan mereka berkuasa di bumi, sebagaimana Dia telah menjadikan orang-orang sebelum mereka berkuasa, akan meneguhkan bagi mereka agama yang telah diridhai-Nya untuk mereka, dan akan menukar keadaan mereka-sesudah mereka berada dalam ketakutan-dengan rasa aman. (QS an-Nur [24]: 55).

Catatan: Dibacakan oleh Jubir HTI pada tanggal 5 Maret 2005 di depan Istana Negara pada Peringatan 81 Tahun Keruntuhan Khilafah 3 Maret 1924 yang diikuti oleh ribuan anggota dan simpatisan HTI serta masyarakat umum ....
http://www.hizbut-tahrir.or.id/modules.php?name=News&file=article&sid=436
----------