Stockholm, 14 Maret 2005

Bismillaahirrahmaanirrahiim.
Assalamu'alaikum wr wbr.
 

KHOIRUDDIN, ITU KAUM WAHHABI ATAU SALAFI DI SAUDI BELUM TENTU KAUM YANG SELAMAT
Ahmad Sudirman
Stockholm - SWEDIA.

 

IRUL KHOIRUDDIN, ITU KAUM WAHHABI ATAU SALAFI DI SAUDI BELUM TENTU KAUM YANG SELAMAT, APALAGI KALAU RAJA-RAJA MEREKA ITU DILINDUNGI PASUKAN AS DAN DIBENTENGI PERTAHANANNYA OLEH GEORGE W. BUSH

"Ana mau tanya tanggapan ikhwan sekalian mengenai tulisan di bawah ini "Bolehkah mengambil kebaikan setiap firqah ? Oleh : Syaikh Abul Hasan Musthafa As-Sulaimani, karena ana sedang belajar dan ingin sekali digolongkan ke dalam golongan yang selamat di dunia dan akhirat. Ana pernah dengar bahwa dajjal laknatulloh di akhir zaman nanti tidak bisa masuk ke kota Makkah dan Madinah, apakah itu artinya jika dianalogikan, bahwa mazhab yang berlaku di 2 kota suci tersebut adalah yang selamat? Semoga kita dimasukkan oleh Alloh ke dalam golongan yang selamat, insya Alloh. Terimakasih sebelumnya atas tanggapannya." (Irul Khoiruddin , irul51606@svsi.sanyo.co.id , Mon, 14 Mar 2005 10:29:57 +0700)

Baiklah saudara Irul Khoiruddin di Doha, Qatar.

Setelah Ahmad Sudirman membaca tulisan Syaikh Abul Hasan Musthafa As-Sulaimani, ternyata isinya hanya melambungkan paham wahhabi atau salafi dari Saudi Arabia saja.

Ada beberapa poin yang disampaikan oleh Syaikh Abul Hasan Musthafa As-Sulaimani yang perlu digaris bawahi dan perlu diperjelas.

Diantaranya itu Syaikh Abul Hasan Musthafa As-Sulaimani menulis: "Kami tidak menampik adanya spesialisasi dalam disiplin ilmu dan pada beberapa aspek dak'wah. Namun hal itu tidak akan baik bila masing-masing kelompok tidak bertolak dari satu pedoman."

Disini, kita akan gali apa yang dinamakan dengan dengan satu pedoman dan dari siapa itu pedoman datangnya.

Nah, mari kita kupas. Itu sebenarnya, yang dinamakan kelompok yang mengeluarkan pedoman yang harus dijadikan pedoman itu adalah dari kaum apa yang dinamakan Wahhabi atau salafi.

Itu kata salaf berasal dari kata dasar salifa yang berarti sabiq atau yang pertama atau yang mula-mula atau yang terdahulu. Nah mengapa itu kata salaf atau salifa atau sabiq atau yang pertama atau yang mula-mula atau yang terdahulu dihubungkan dengan gerakan yang dikembangkan oleh pemikiran Syaikh Muhammad bin Abdul Wahhab ?

Karena ide pemikiran Syaikh Muhammad bin Abdul Wahhab mengarah kepada perbaikan ketauhidan dan pembaharuan ketauhidan yang didasarkan kepada 1. Al-Qur'an. 2. Sunnah shahih (hadits Rasulullah saw yang shahih). 3. Al-Qur'an dan Sunnah yang dipahami menurut pemahaman sahabat Nabi saw, tabi'in , dan tabiut tabi'in.

Dimana memang Syaikh Muhammad bin Abdul Wahhab banyak dipengaruhi oleh ide yang dikembangkan oleh Taqiyuddin Abdul Abbas Ahmad bin Abdul Salam bin Abdullah bin Muhammad bin Taimiyah Al-Harrani Al-Hambali atau yang lebih dikenal dengan nama Ibnu Taimiyah yang lahir pada hari Senin, 10 Rabiul Awal 66l H (22 Januari 1263 M) di Harran dan meninggal pada tanggal 20 Zulkaedah 728 H. (25 September 1328 M) dalam penjara, karena Ibnu Taimiyah memang beberapa kali keluar dan masuk penjara di Mesir selama pemerintahan Khilafah Islamiyah Abbasiyah dibawah Khalifah Al-Mustansir 1261 M, Al-Hakim I 1262 M -1302 M , Al-Mustakfi I 1302 M -1340 M yang berpusat di Kairo, Mesir. Dimana Ibnu Taymiyyah berkata:"...mereka (tabi'in dan tabiut tabi'in) adalah para shahabat Rasulullah saw, mereka disebut sebagai Ahlu Sunnah Wal Jama'ah karena mereka selalu mengikuti shari'ah dan jama'ah karena mereka menggalang persatuan meskipun mereka tidak bertemu sekalipun. (Fattawa ibn Taymiyyah vol.13 hal 358).

Jadi kata salaf atau salifa atau sabiq ini oleh Syaikh Muhammad bin Abdul Wahhab dikenakan kepada orang-orang Islam pertama pada masa Rasulullah saw, atau yang dinamakan para sahabat, dan para pengikut sahabat atau yang disebut dengan tabi'in, serta mereka para pengikut tabi'in, yang disebut tabiut tabi'in. Nah mereka itulah yang disebut orang-orang terdahulu, atau orang sabiq atau orang salifa atau orang salaf oleh para pengikut paham wahhabi atau salafi yang dikembangkan oleh Syaikh Muhammad bin Abdull Wahhab.

Selanjutnya, itu kaum wahhabi atau salafi ini yang gerakannya adalah gerakan wahhabiyah atau salafiyyah adalah bertujuan untuk memperbaiki tauhid dan memperbaharui tauhid berdasarkan kepada Al-Qur'an, Sunnah shahih (hadits Rasulullah saw yang shahih), dan pemahaman Al-Qur'an dan Sunnah menurut yang dipahami oleh para sahabat Nabi saw, tabi'in, dan tabiut tabi'in.

Kemudian, kita gali bagaimana itu paham wahhabi atau salafi ini yang dihubungkan dengan Ahlu Sunnah Wal Jama'ah muncul.

Itu diawali ketika Syaikh Muhammad bin Abdul Wahab bersama Amir Muhammad bin Saud melancarkan gerakan pemurnian ketauhidan dan gerakan ekspansi wilayah diluar wilayah kekuasaan Dar'iyah, itu Khilafah Islamiyah Utsmani sedang berkuasa ( 679 H - 1341 H /1281 M - 1924 M). Dimana wilayah kekuasaan de-jure dan de-facto Khilafah Islamiyah Utsmani mencakup 29 provinsi yang masing-masingnya dipimpin oleh Gubernur Jenderal, yaitu Rumelia, Anatolia, Roma, Karamanid, Mesir, Syria, Diyarbekir, Kurdistan, Dulgadir, Pulau Aegean (The Aegean Islands), Erzerum, Van, Shehrizor, Baghdad, Buda, Bosnia, Kanizsa, Ochakov, Trebizond (Trabzon), Tripoli, Cyprus, Tunisia, Morea, Algeria, Al-Hasa, Aleppo, Mosul, Basra, Hejaz. Sedangkan Wallachia, Moldavia, dan Crimea merupakan daerah yang berada dalam wilayah kekuasaan Khilafah Islamiyah Utsmani yang wajib membayar pajak (tributary). Adapun wilayah Transylvania langsung dibawah pemerintahan pusat Khilafah (suzerainty).

Melihat dari provinsi-provinsi yang berada dibawah kekuasaan Khilafah Islamiyah Utsmani, itu provinsi Hejaz (Mekkah, Madinah, Jeddah) berada dibawah kekuasaan de-jure dan de-facto Khilafah Islamiyah Utsmani. Dan provinsi Hejaz (Mekkah, Madinah, Jeddah) inilah yang direbut dan diduduki oleh Amir Muhammad bin Saud dari Dar'iyah yang disokong penuh oleh Syaikh Muhammad bin Abdul Wahab dengan barisan muwahhidinnya, gerakan salafiyyahnya atau gerakan wahhabiyahnya, dan yang juga dibantu oleh pemerintah kerajaan kafir Inggris. Celakanya itu barisan muwahhidinnya dengan gerakan salafiyyahnya atau gerakan wahhabiyahnya untuk menyerang dan menduduki Hejaz (Mekkah, Madinah, Jeddah) justru memakai alasan untuk membasmi kaum Sufi yang dituduh melakukan kebid'ahan.

Padahal sebenarnya itu barisan muwahhidinnya dengan gerakan salafiyyahnya atau gerakan wahhabiyahnya untuk menyerang dan menduduki Hejaz (Mekkah, Madinah, Jeddah) dengan alasan untuk membasmi kaum Sufi yang dituduh melakukan kebid'ahan telah dimanfaatkan oleh Abdullah bin Saud, Turki bin Abdullah, Faisal bin Turki bin Abdullah Al Saud , Abdul Rahman bin Faisal, Abdul Aziz bin Abdul Rahman Al Saud untuk menyerang Mekkah, Madinah, Jeddah dari tangan kekuasaan Khilafah Islamiyah Utsmani dan sekaligus ingin mendirikan kerajaan Saudi. Satu-satunya kerajaan di dunia yang memakai nama keluarga, yaitu nama ibnu Saud.

Selanjutnya, itu barisan muwahhidinnya dengan gerakan salafiyyahnya atau gerakan wahhabiyahnya dibawah kaum wahabi Saudi inilah yang setelah Kerajaan Ibnu Saud berdiri gencar menyebarkan paham wahhabinya dengan mempergunakan kekuasaan yang ada ditangan Raja-Raja keturunan Ibnu Saud, dari mulai Raja Abdul Aziz bin Abdul Rahman Al Saud, Raja Saud bin Abdul Aziz, Raja Faisal bin Abdul Aziz, Raja Khalid bin Abdul Aziz, dan Raja Fahd bin Abdul Aziz. Celakanya itu Raja-Raja keturunan Abdul Aziz ini tidak mampu membasmi syirik, bid'ah dan khurafat sebagaimana dipropagandakan oleh barisan muwahhidinnya dengan gerakan salafiyyahnya atau gerakan wahhabiyahnya.

Sekarang mengapa barisan muwahhidinnya dengan gerakan salafiyyahnya atau gerakan wahhabiyahnya dibawah kaum wahabi Saudi yang muncul setelah tahun 1703 M dibawah Syaikh Muhammad bin Abdul Wahab menghubungkan gerakannya dengan Ahlus Sunnah Wal Jama'ah ?

Karena kaum wahabi ini memaklumkan dan mendeklarkan bahwa gerakan dakwah salafiyah-nya atau dakhwah wahhabiyahnya berdiri diatas Al-Qur'an, Sunnah shahih (hadits Rasulullah saw yang shahih), dan Al-Qur'an dan Sunnah wajib dipahami menurut pemahaman sahabat Nabi saw, tabi'in , dan tabiit tabi'in. Dan didasarkan juga kepada Ibnu Taymiyyah yang berkata:"...mereka adalah para shahabat Rasulullah saw, mereka disebut sebagai Ahlu Sunnah Wal Jama'ah karena mereka selalu mengikuti shari'ah dan jama'ah karena mereka menggalang persatuan meskipun mereka tidak bertemu sekalipun. (Fattawa ibn Taymiyyah vol.13 hal 358).

Nah kalau kita lihat itu yang dideklarkan oleh kaum wahabi dengan dakhwah wahhabiyah atau salafiyyahnya yang menganggap diri mereka lebih dari Ahlu Sunnah Wal Jama'ah yang lainnya adalah karena kaum wahabi ini menyatakan harus memahami Al-Qur'an dan Sunnah menurut pemahaman sahabat Nabi saw, tabi'in, dan tabiit tabi'in. Artinya sampai ke tabiit tabi'in atau para pengikut tabiin yang hidup antara tahun 100 H - 300 H / 790 M - 913 M . Atau sampai ke masa Khilafah Islamiyah dibawah Abbasiyah dibawah Khalifah Al-Muqtadir 908 M - 932 M. Inilah yang dinamakan pemahaman Al-Qur'an dan Sunnah menurut salafus shalih menurut paham wahabi dari kaum wahabi Saudi.

Sekarang, apakah kelompok Ahlu Sunnah Wal Jama'ah lainnya yang juga mengikuti, mempelajari, menggali apa yang dipelajari oleh para sahabat Rasulullah saw, pengikut sahabat dimasa Khilafah Islamiyah Umayyah, dan juga pengikut para pengikut sahabat pada masa Khilafah Islamiyah Umayyah dimana Khilafah Islamiyah Abbasiyah, tetapi bukan dari golongan kaum wahabi akan dianggap sebagai bukan golongan Ahlu Sunnah Wal Jama'ah yang salafus shalih ?.

Jelas itu pemahaman kaum wahabi Saudi ini memang lebih merasa lurus tauhidnya ketimbang dari orang-orang Ahlu Sunnah Wal Jama'ah lainnya yang juga mereka memahami, mempelajari, mendalami apa yang dipahami atau diajari oleh para tabi'in, dan tabiit tabi'in.

Kemudian kalau terus kita meneropong bagaimana itu hubungan antara Amir Muhammad bin Saud dengan Syaikh Muhammad bin Abdul Wahab.

Kalau kita menggali dari tahun 1745 M sampai tahun 1792 M itu wilayah kekuasaan Amir Muhammad bin Saud telah meluas dari wilayah Dar'iyah meluas ke wilayah Riyadh. Dengan didudukinya Riyadh, berarti sebagian besar wilayah Najd dikuasainya. Setelah Amir Muhammad bin Saud meninggal pada tahun 1765, digantikan oleh putranya Abdul Aziz bin Muhammad bin Saud yang juga menantu Syaikh Muhammad bin Abdul Wahhab, yang berkuasa dari tahun 1765 sampai tahun 1803.

Disini terlihat bagaimana itu jihad perang untuk menguasai wilayah Riyadh yang telah dilancarkan oleh Syaikh Muhammad bin Abdul Wahhab bersama Amir Muhammad bin Saud dan juga diteruskan bersama Abdul Aziz bin Muhammad bin Saud yang memakan waktu hampir 50 tahun ini. Dan jihad Syaikh Muhammad bin Abdul Wahhab inilah yang selintas dilontarkan oleh ulama wahhabi atau salafi Syaikh Abdul Aziz bin Abdullah bin Baz diatas.

Sepeninggal Syaikh Muhammad bin Abdul Wahhab pada tahun 1206 H / 1792 M, perjuangan barisan muwahhidin dengan gerakan wahhabiyah atau salafiyyahnya tidak berhenti, malahan makin gencar dan makin meluas. Seperti diteruskan oleh putra-putra Syaikh Muhammad bin Abdul Wahhab, diantaranya Syaikh Imam Abdullah bin Muhammad, Syaikh Husin bin Muhammad, Syaikh Ibrahim bin Muhammad, Syaikh Ali bin Muhammad. Juga oleh cucu-cucu Syaikh, seperti Syaikh Abdurrahman bin Hasan, Syaikh Ali bin Husin, Syaikh Sulaiman bin Abdullah bin Muhammad. Termasuk murid-murid Syaikh, diantaranya Syaikh Hamad bin Nasir bin Mu'ammar.

Dibawah pimpinan Abdul Aziz bin Muhammad bin Saud itu barisan muwahhidin dengan gerakan wahhabiyah atau salafiyyahnya pergi ke Najaf di Irak untuk menghancurkan bangunan makam Khalifah Ali bin Abi Thalib, juga diteruskan ke Karbala di Iraq untuk menghancurkan bangunan makam Imam Hussein bin Ali bin Abi Thalib yang dilakukan pada tahun 1802, satu tahun sebelum Abdul Aziz bin Muhammad bin Saud turun dari kekuasaannya.

Ketika Abdul Aziz bin Muhammad bin Saud turun, digantikan oleh Saud bin Abdul Aziz bin Muhammad Al Saud yang memerintah dari tahun 1803 sampai meninggalnya pada tahun 1814. Dibawah pimpinan Saud bin Abdul Aziz bin Muhammad Al Saud barisan muwahhidin dengan gerakan wahhabiyah atau salafiyyahnya menyerang Hejaz, dan bisa menduduki Mekkah dan Madinah. Tetapi, Khilafah Islamiyah Utsmani, melalui Raja Muda Muhammad Ali dari Mesir bisa merebut kembali Mekkah dan Madinah, dimana pasukan barisan muwahhidin dengan gerakan wahhabiyah atau salafiyyahnya dipaksa mundur kembali ke Najd. Ketika Saud bin Abdul Aziz bin Muhammad Al Saud meninggal digantikan oleh Abdullah bin Saud yang berkuasa dari tahun 1814 sampai tahun 1818. Tetapi pasukan muwahhidin dengan gerakan wahhabiyah atau salafiyyahnya dibawah pimpinan Abdullah bin Saud tidak mampu melawan pasukan perang Muhammad Ali dari Mesir, sehingga akhirnya Riyadh jatuh ketangan pasukan Muhammad Ali dan Abdullah bin Saud dipaksa mundur ke Dar'iyah. Tetapi, Dar'iyah inipun akhirnya jatuh ketangan pasukan Raja Muda Muhammad Ali dari Mesir.

Ketika Muhammad Ali menguasai kembali Hejaz dan Najd termasuk Dar'iyah, dinasti Saud masih hidup walaupun tidak mempunyai kekuasaan dan wilayah de-facto, dimana penerus Abdullah bin Saud adalah Turki bin Abdullah, dan setelah Turki bin Abdullah turun digantikan oleh Faisal bin Turki bin Abdullah Al Saud. Ketika Faisal bin Turki bin Abdullah Al Saud turun digantikan oleh Abdul Rahman bin Faisal (1850 - 1928), yang berkuasa dari tahun 1889 sampai tahun 1891. Pada tahun 1889 Abdul Rahman bin Faisal bisa memegang kembali kendali pemerintahan secara de-jure dan de-facto dan melakukan serangan ke Riyadh dan berhasil mendudukinya. Tetapi Abdul Rahman bin Faisal tidak mampu bertahan ketika timbul pertentangan melawan Ibnu Rashid yang berkuasa diwilayah yang berada dibawah kekuasaan Khilafah Islamiyah Utsmani. Pada tahun 1891 Abdul Rahman bin Faisal dipaksa keluar dari Riyadh dan mendapat asilum di Kuwait. Walaupun Abdul Rahman bin Faisal berada di exil di Kuwait, tetapi ia tetap dianggap sebagai Imam sampai meninggalnya pada tahun 1928.

Ketika Abdul Rahman bin Faisal dipaksa keluar dari Riyadh dan mendapat asilum di Kuwait, diangkat Abdul Aziz bin Abdul Rahman bin Faisal Al Saud (1880 M - 9 November 1953 M) pada tahun 1901 dalam usia 21 tahun sebagai pemimpin Dinasti Saud dengan gelar Sultan Najd. Setahun kemudian, pada tahun 1902, Sultan Abdul Aziz bin Abdul Rahman bin Faisal Al Saud atau yang dipanggil dengan panggilan Ibnu Saud bersama pasukan barisan muwahhidin dengan gerakan wahhabiyah atau salafiyyahnya melakukan serangan ke Riyadh dan berhasil menduduki Riyadh dan membunuh Gubernur Riyadh yang berasal dari keluarga Ibnu Rashid. Dengan didudukinya Riyadh, wilayah kekuasaan de-jure dan de-facto Ibnu Saud kembali meluas. Tetapi, Ibnu Rashid bersama pasukan Khilafah Islamiyah Utsmani kembali menyerang pasukan muwahhidin dengan gerakan wahhabiyah atau salafiyyahnya, sehingga pasukan muwahhidin dengan gerakan wahhabiyah atau salafiyyahnya dibawah Ibnu Saud bisa dipukul mundur dan dikalahkan pada tanggal 15 Juni 1904.

Ternyata, pasukan muwahhidin dengan gerakan wahhabiyah atau salafiyyahnya yang telah dipukul mundur oleh pasukan Ibnu Rashid bersama pasukan perang Khilafah Islamiyah Utsmani, bisa dibangun kembali dengan bantuan dan latihan dari pihak pasukan Kerajaan kafir Inggris yang sedang terlibat dalam Perang Dunia Pertama (1914 - 1918).

Barisan muwahhidin atau ikhwan dengan gerakan wahhabiyah atau salafiyyahnya ini setelah Abdul Aziz bin Abdul Rahman bin Faisal Al Saud yang bergelar Sultan Najd menandatangani perjanjian Qatif atau Treaty of Qatif tanggal 26 Desember 1915 dengan pihak Kerajaan kafir Inggris, dan bisa mengalahkan Ibnu Rashid penguasa Provinsi Hejaz dalam Khilafah Islamiyah Utsmani pada tahun 1922, dan menumbangkan Amir Mekkah Hussain bin Ali al-Hashimi Amir tahun 1925, serta memproklamasikan berdirinya Kerajaan Saudi pada tanggal 23 September 1932 yang diakui secara langsung oleh Pemerintah Kerajaan kafir Inggris.

Perjanjian Qatif atau Treaty of Qatif 26 Desember 1915 ini telah banyak ditulis oleh sejarawan-sejawaran dunia dan ditulis dalam buku-buku sejarah dunia yang menyangkut sejarah pertumbuhan dan perkembangan Kerajaan Dinasti Ibnu Saud, sebagaimana yang ditulis juga oleh seorang akhli sejarah Arnold J Toynbee dalam bukunya Survey of International Affairs tahun 1925, Vol. 1, halaman 273.

Dimana Pemerintah Kerajaan kafir Inggris melakukan perjanjian dengan Ibnu Saud pada bulan Desember 1915 yang menjadikan wilayah Najd yaitu wilayah kekuasaan de-facto dan de-jure Ibnu Saud sebagai wilayah protektorat Inggris. Sedangkan dari pihak Ibnu Saud memberikan janji akan melakukan perang melawan Ibnu Rashid yang menguasai Provinsi Hejaz dibawah wilayah kekuasaan Khilafah Islamiyah Utsmani. Dengan bantuan uang sebanyak 5000 Pound Sterling setiap bulan ditambah dengan bantuan alat persenjataan dari Kerajaan kafir Inggris, akhirnya pada tahun 1922 Ibnu Saud yang didukung oleh barisan muwahhidin dengan gerakan salafiyyah alias wahhabiyahnya bisa mengalahkan pasukan Ibnu Rashid dari Khilafah Islamiyah Utsmani untuk Provinsi Hejaz. Setelah Hejaz dikuasai oleh Ibnu Saud beserta pasukan barisan muwahhidin dengan gerakan salafiyyah alias wahhabiyahnya, pada tanggal 23 September 1932 dinyatakan berdiri Kerajaan Saudi dan diakui langsung oleh Kerajaan kafir Inggris, dengan paham wahhabi dinyatakan sebagai paham atau ideologi Kerajaan Saudi.

Nah, kelihatan bahwa jalur proses berdirinya Kerajaan Saudi ini yang melibatkan didalamnya keturunan dari Syaikh Muhammad bin Abdul Wahhab bersama Amir Muhammad bin Saud dan keturunannya yang bersekutu dengan Kerajaan kafir Inggris melalui Perjanjian Qatif 26 Desember 1915 yang sebagian perjanjiannya ialah mengakui wilayah de-facto Najd sebagai wilayah kekuasaan Abdul Aziz bin Abdul Rahman bin Faisal Al Saud (1880 M - 9 November 1953 M) atau dikenal dengan panggilan Ibnu Saud yang bergelar Sultan Najd, dan merupakan wilayah protektorat Inggris , serta mendapat subsidi sebesar 5000 pound Sterling perbulannya ditambah dengan perlengkapan persenjataan.

Memang walaupun Syaikh Muhammad bin Abdul Wahab sendiri tidak menuliskan dan tidak mengikuti ketika dilangsungkannya perjanjian Qatif ini, karena memang Syaikh Muhammad bin Abdul Wahab telah meninggal pada tahun 1206 H / 1792 M. Tetapi para penerus perjuangan dan pergerakan hawahhabiyah atau salafiyyahnya dengan gerakan muwahhidinnya atau gerakan ikhwannya terus melekat didada-dada kaum wahhabi atau salafi ini termasuk para keluarga Ibnu Saud ini. Seperti Abdul Aziz bin Abdul Rahman bin Faisal Al Saud yang bergelar Sultan Najd menandatangani perjanjian Qatif atau Treaty of Qatif tanggal 26 Desember 1915 ini dengan pihak Kerajaan kafir Inggris.

Dimana dengan ditandatanganinya Perjanjian Qatif ini, maka itu pihak Ibnu Saud bisa mengalahkan Ibnu Rashid yang menguasai Provinsi Hejaz dibawah wilayah kekuasaan Khilafah Islamiyah Utsmani pada tahun 1922. Begitu juga Hussain bin Ali al-Hashimi Amir Mekkah bisa dijatuhkan oleh Ibnu Saud pada tahun 1925. Setelah Mekkah jatuh ketangan Ibnu Saud dengan barisan muwahhidin atau ikhwannya ini, langsung Inggris pada tahun1927 mengakui kekuasaan dan wilayah Ibnu Saud yang meliputi Hejaz ini. Dan setelah Hejaz dikuasa, maka pada tanggal 23 September 1932 dinyatakan Kerajaan Saudi berdiri dan diakui langsung oleh Kerajaan kafir Inggris, dengan paham wahhabi dinyatakan sebagai paham atau ideologi Kerajaan Saudi.

Nah sekarang, apakah memang pihak barisan muwahhidin atau ikhwan dengan gerakan wahhabiyah atau salafiyyahnya ini tidak mengakui isi perjanjian Qatif 26 Desember 1915 yang ditandatangani oleh Ibnu Saud yang nota bene adalah Sultan Najad atau Sultannya kaum barisan muwahhidin atau ikhwan ini ?.

Ataukah memang itu kaum wahabi atau salafi dengan barisan muwahhidin atau ikhwannya ini setelah Kerajaan Dinasti Ibnu Saud berdiri tidak lagi mau mengikuti sepenuh hati Raja-Raja mereka dari keturunan Ibnu Saud ini ? Sehingga kaum wahhabi atau salafi ini menafikan dan menutup mata dari fakta, bukti, sejarah dan dasar hukum berdirinya Kerajaan Dinasti Ibnu Saud dengan bantuan dan kerjasama Kerajaan kafir Inggris melalui Perjanjian Qatif 26 Desember 1915 untuk menguasai dan menduduki wilayah kekuasaan Khilafah Islamiyah Utsmani yakni wilayah Hejaz (Madinah, Mekkah, Jeddah)

Ataukah memang setelah meninggalnya Raja Abdul Aziz bin Abdul Rahman bin Faisal Al Saud, yang digantikan oleh putranya Raja Saud bin Abdul Aziz tahun 1953 yang kerjanya poya-poya dengan menghambur-hamburkan uang minyaknya dan sangat dekat dengan Penguasa Negara kafir federasi Amerika, sehingga Kerajaan Saud hampir bangkrut, kalau tidak segera digantikan oleh Faisal bin Abdul Aziz pada tanggal 2 November 1964, dan Raja Saud bin Abdul Aziz dipaksa untuk hidup di exil di Yunani. Juga ternyata Raja Faisal bin Abdul Aziz inipun tidak sepenuh hati didukung oleh kaum wahhabi atau salafi dari gerakan muwahhidin atau ikhwannya ini, sehingga Raja Faisal bin Abdul Aziz dibunuh dengan cara ditembak oleh keponakannya, Faisali bin Musad bin Abdul Aziz pada tanggal 25 Maret 1975. Kemudian muncul Khalid bin Abdul Aziz sebagai Raja tetapi tidak lama karena tahun 1982 meninggal dunia karena serangan jantung. Sehingga tahta Kerajaan Ibnu Saud jatuh ke tangan Fahd bin Abdul Aziz, tetapi karena Fahd ini terkena serangan strok, maka yang berkuasa secara de-facto adalah Putra Mahkota Abdullah bin Abdul Aziz al Saud.

Kelihatannya itu kaum wahhabiyin atau salafiyyin dengan barisan muwahhidin atau ikhwannya ini yang telah ikut bersama-sama dari sejak awal perjuangan di Dar'iyah dibawah pimpinan Syaikh Muhammad bin Abdul Wahhab, Amir Muhammad bin Saud, diteruskan oleh Abdul Aziz bin Muhammad bin Saud menantunya Syaikh Muhammad bin Abdul Wahhab, Saud bin Abdul Aziz bin Muhammad al Saud, Abdullah bin Saud, Turki bin Abdullah, Faisal bin Turki, Abdul Rahman bin Faisal, Abdul Aziz bin Abdul Rahman bin Faisal Al Saud, Saud bin Abdul Aziz, Faisal bin Abdul Aziz, Khalid bin Abdul Aziz, Fahd bin Abdul Aziz, berusaha untuk menghilangkan sejarah hitam yang melekat dalam tubuh dinasti Ibnu Saud dengan Perjanjian Qatif-nya tanggal 26 Desember 1915 dengan Pemerintah Kerajaan kafir Inggris untuk menghancurkan wilayah kekuasaan Khilafah Islamiyah Utsmani di Hejaz (Mekkah, Madinah, jeddah).

Dimana kaum wahhabiyin atau salafiyyin dengan gerakan muwahhidin atau ikhwannya ini kalau bisa ingin menghapuskan jalur hitam dari proses lajunya pertumbuhan dan perkembangan Dinasti Ibnu saud dengan kerajaan Saudi-nya yang didalamnya mengandung Perjanjian Qatif 26 Desember 1915.

Dan memang kelihatan itu setelah berdiri Kerajaan Saudi, ternyata timbul pertentangan yang sangat mendasar antara barisan muwahhidin atau ikhwan dengan Raja Abdul Aziz bin Abdul Rahman bin Faisal Al Saud. Dimana pertentangan antara kaum barisan muwahhidin atau ikhwan dengan gerakan wahhabiyah atau salafiyyahnya yang dilahirkan dari pemikiran Syaikh Muhammad bin Abdul Wahhab dengan pihak keluarga Kerajaan Saud khususnya dengan Raja Abdul Aziz bin Abdul Rahman bin Faisal Al Saud pada awal berdirinya Kerajaan Saudi ini, tidak begitu dibesarkan oleh kedua belah pihak, disebabkan masih loyalnya para ulama kaum wahhabi atau salafi ini terhadap Raja-raja keturunan Ibnu saud ini. Dimana perbedaan yang menyolok itu adalah dimana Raja Abdul Aziz bin Abdul Rahman bin Faisal Al Saud berpikiran cukup membangun Kerajaan Saud yang sudah berdiri, sedangkan barisan muwahhidin atau ikhwan berpikiran ingin terus memperluas kekuasaan wilayah untuk tunduk dibawah kekuasaan wahabi atau salafinya.

Bagaimana untuk mengakhiri konflik perbedaan taktik strategi kekuasaan ini, ternyata Putra Raja Talal bin Abdul Aziz pernah menyatakan bahwa ketika diawal berdirinya Kerajaan Saudi, itu Raja Abdul Aziz bin Abdul Rahman bin Faisal Al Saud memanggil para ulama wahabi atau salafi ini untuk datang ke Ibu Kota Riyadh dengan disuruh memilih dua pilihan, yakni memilih Malik Mamlakah atau memilih barisan muwahhidin atau ikhwan. Ternyata para ulama wahhabi atau salafi memilik Malik Mamlakah Al Arabiyah Suudiyah.

Walaupun sejak itu kelihatan dari permukaan keadaan cukup tenang, tetapi pergolakan dibawah cukup bergejolak. Hanya karena selama pihak ulama wahabi atau salafi masih bisa bekerjasama dengan Raja-Raja Ibnu Saud ini, yang sekaligus juga dijadikan alat politik oleh keluarga Raja Ibnu Saud, khsusunya dalam hal pembuatan fatwa dan pemberian nasehat. Adapun soal kebijaksanaan dan pelasanaan pemerintahan yang menyangkut politik keamanan, sosial, ekonomi ada ditangan Raja.

Nah sekarang, dengan latar belakang inilah, mengapa itu para pengikut paham wahhabi atau salafi yang ada diluar Kerajaan Ibnu Saud, seperti di Indonesia, bersikap seperti apa yang difatwakan oleh ulama-ulama wahabi atau salafinya di Saudi yang tetap setia kepada para Raja, walaupun Raja-Raja Saudi tidak mencerminkan contoh pemimpin Islam yang betul-betul, tetapi selama para ulama wahhabi atau salafi mengiyakan dan tidak melakukan tindakan pembangkangan, maka selama itu para pengikut kaum wahhabi atau salafi yang ada diluar Kerajaan saudi bersikap persis seperti para ulamanya.

Sehingga memang bisa dimengerti mengapa itu kaum wahhabiyin atau salafiyyin tidak ada yang terang-terangan menuliskan kronologis proses pertumbuhan dan perkembangan Kerajaan Dinasti Ibnu Saud ini dalam situs-situs wahhabi atau salafi-nya.

Walaupun memang Kerajaan Dinasti Ibnu Saud ini memakai paham wahhabi atau salafi sebagai ideologi negaranya, tetapi, karena kaum wahhabiyin atau salafiyyin dengan barisan muwahhidin atau ikhwannya ini melihat tingkah laku Raja-Raja Ibnu saud ini sudah dianggap menyimpang dari garis-garis Islam, seperti contohnya Raja Saud bin Abdul Aziz dipaksa untuk turun karena kerjanya minum-minum, menghamburkan uang Kerajaan dan uang sakunya sendiri, ditambah begitu eratnya dengan Presiden Amerika, terutama Presiden Dwight D. Esinhower yang berkuasa dari tahun 1953 sampai tahun 1961.

Nah sekarang, dari fakta, bukti, dan sejarah proses pertumbuhan dan perkembangan Kerajaan Saudi dari mulai di Dar'iyah sampai ke Mekkah, Madinah, Jeddah inilah bisa dilihat dan dibaca bagaimana sebenarnya perjuangan dan sepak terjang Syaikh Muhammad bin Abdul Wahhab bersama Amir Dar'iyah Muhammad bin Saud membangun Dinasti Saud yang bermula di Dar'iyah dan meluas dengan menduduki wilayah Hejaz yang dikuasai oleh Khilafah Islamiyah Utsmani dan akhirnya menjadi Kerajaan Saudi dengan menerapkan paham wahhabi atau salafinya.

Nah inilah fakta, bukti, dan sejarah berdirinya Kerajaan Saudi Arabia yang dibangun oleh keluarga Muhammad bin Saud dan Keluarga Syaikh Muhammad bin Abdul Wahhab dengan barisan muwahhidin dan gerakan wahhabiyah atau salafiyyahnya.

Dan sebagaimana Ahmad Sudirman selalu berulang kali menyatakan bahwa fakta, bukti, dan sejarah versi wahhabi atau salafi mengenai jalur proses berdirinya Kerajaan Saudi ini yang melibatkan didalamnya Syaikh Muhammad bin Abdul Wahhab dan keturunannya bersama Amir Muhammad bin Saud dan keturunannya yang bersekutu dengan Kerajaan kafir Inggris melalui Perjanjian Qatif 26 Desember 1915. Ini berarti bukan hanya membicarakan Syaikh Muhammad bin Abdul Wahhab atau Amir Muhammad bin Saud saja, melainkan membicarakan proses jalur perjuangan barisan muwahhidin atau ikhwan yang dibangun oleh Syaikh Muhammad bin Abdul Wahhab bersama Amir Dar'iyah Muhammad bin Saud sampai kepada berdirinya Kerajaan Ibnu Saud dan sampai detik sekarang ini.

Jadi kalau membicarakan sepak terjang perjuangan Syaikh Muhammad bin Abdul Wahhab dan keturunannya bersama Amir Dar'iyah Muhammad bin Saud dan keturunannya, itu artinya membicarakan perjuangan kaum wahhabi atau salafi dengan barisan muwahhidin atau ikhwannya dan perjuangan politik yang dikembangkan oleh Amir Muhammad bin Saud yang diteruskan oleh anak-cucu-cucunya, sampai terbentuknya Kerajaan Ibnu Saud hingga sekarang ini.

Karena itu untuk mengetahui apa itu kaum wahabi atau salafi dengan barisan muwahhidin atau ikhwannya dengan gerakan wahhabiyah atau salafiyahnya, maka harus dipelajari dari mulai sepak terjang yang dijalankan oleh Syaikh Muhammad bin Abdull wahab yang bekerjasama dengan Amir Muhammad bin Saud dari sejak di Dar'iyah hingga terbentuknya Kerajaan Ibnu Saud dan sampai detik sekarang ini.

Berdasarkan dasar pemikiran yang menyeluruh inilah Ahmad Sudirman menampilkan apa itu yang dinamakan kaum wahhabi atau salafi dengan gerakan wahhabiyah atau salafiyah bersama barisan muwahhidin atau ikhwannya.

Jadi, Ahmad Sudirman dalam membicarakan barisan muwahhidin atau ikhwannya dengan gerakan wahhabiyah atau salafiyahnya tidak hanya mencomot sebagian kecil saja (misalnya kehidupan Syaikh Muhammad bin Abdul Wahhab), melainkan membicarakan jalur proses pertumbuhan dan perkembangan gerakan wahhabiyah atau salafiyyah dengan barisan muwahhidin atau ikhwannya yang dikembangkan dan dilahirkan oleh Syaikh Muhammad bin Abdul Wahhab yang bekerjasama dengan Ibnu Saud dan para keturunannya dalam rangka usaha memperluas wilayah kekuasaan dari daerah Dar'iyah meluas ke Riyadh, Najd, Madinah, Jeddah dan Mekkah, untuk membentuk dan membangun Kerajaan Ibnu Saud.

Kemudian yang dinamakan ulama kaum wahhabi atau salafi ini bukan hanya pendiri gerakan wahhabi atau salafi dengan barisan muwahhidin atau ikhwan Syaikh Muhammad bin Abdul Wahhab saja, melainkan banyak lagi ulama-ulama wahhabi atau salafi ini sepeninggal Syaikh Muhammad bin Abdul Wahhab sampai detik sekarang ini, baik itu para putra dan para cucu serta para cicit-nya Syaikh Muhammad bin Abdul Wahhab yang tinggal di Kerajaan Ibnu Saud, ataupun yang ada diluar wilayah kekuasaan Kerajaan Ibnu Saud.

Nah inilah yang perlu dipahami dan dipelajari oleh mereka yang ingin mengetahui sampai mendalam mengenai sepak terjang kaum wahhabi atau salafi dan gerakan wahhabiyah atau salafiyyahnya dengan barisan muwahhidin atau ikhwannya. Jadi bukan hanya melihat dan mendengar dari atas permukaannya saja.

Seterusnya Syaikh Abul Hasan Musthafa As-Sulaimani menyatakan: "Realita membuktikan bahwa hakekat perselisihan yang terjadi diantara jama'ah-jama'ah tersebut adalah dalam memahami Al-Qur'an dan As-Sunnah dan dalam memilih wasilah (metode) dalam menuju sesuatu yang menjadi tuntunan syari'at. Seruan jihad itu ditujukan untuk melawan kaum muslimin -walaupun mungkin mereka menyimpang-. Akibatnya terjadilah fitnah (kekacauan) dan kaum musliminpun tercerai berai. Akhirnya musuh-musuh Allah mendapat kesempatan untuk menimpakan berbagai penindasan terhadap wali-wali Allah (orang-orang yang shalih)."

Nah disini, Syaikh Abul Hasan Musthafa As-Sulaimani menyinggung masalah jihad yang ditujukan untuk melawan kaum muslimin- walaupun mungkin mereka menyimpang -. Akibatnya terjadilah fitnah (kekacauan) dan kaum musliminpun tercerai berai.

Itu yang selalu disinggung oleh kaum wahhabi atau salafi ini mengenai jihad yang ditujukan untuk melawan kaum muslimin adalah yang menyangkut masalah pemahaman QS Al Maidah, 5: 44: "...wa man lam yahkum bimaa anzala Allah fa ulaaika humulkafiruun". QS Al Maidah, 5: 45: "...wa man lam yahkum bimaa anzala Allah fa ulaaika humudzalimuun". QS Al Maidah, 5: 47: "...wa man lam yahkum bimaa anzala Allah fa ulaaika humulfasiquun".

Nah, dibawah ini Ahmad Sudirman memberikan gambaran bahwa apa yang dilambungkan pihak kaum wahhabi atau salafi Saudi ini memang tidak tepat, dengan menganggap bahwa Seruan jihad itu ditujukan untuk melawan kaum muslimin.

Karena itu itu ayat QS Al Maidah, 5: 44, 45, 47 adalah ayat-ayat muhkamaat atau ayat yang terang dan jelas artinya, yang diturunkan ketika Haji Wadaa'. Selanjutnya QS Al Maidah, 5: 44, 45, 47 yang telah ditetapkan Allah SWT dan diberlakukan kepada kaum Yahudi (ayat 44, 45), dan Nasrani (ayat 47), tetapi oleh Al Qur'an dibenarkan dan tidak dimansukhkan, maka syariat untuk kaum Yahudi dan Nasrani itu berlaku kepada kaum muslimin juga. Dan seluruh ulama berhujjah dengan ayat-ayat ini.

Secara hukum, itu syariat yang telah ditetapkan bagi kaum Yahudi dan Nasrani berlaku juga bagi kaum Muslimin. Hal ini diperkuat oleh ayat 48 : "wa anjalnaa ilaikal kitaba bil haqqi mushaddikan lima baina yadaihi minal kitabi wa muhaimina 'alaihi fahkum bainahum bima anzala Allahu wa la tattab'i ahwaa ahum 'amma jaa aka minal haqqi..." (QS Al Maidah,5: 48).
Karena itu lengkaplah sudah, pertama, Al-Quran telah membenarkan syariat kaum Yahudi dan kaum Nasyrani dan tidak memansukhkan. D kedua, QS Al Maidah, 5: 44, 45, 47 diperkuat dengan ayat 48.

Disebabkan dalam QS Al Maidah, 5: 44, 45, 47 ini menyangkut masalah dasar hukum, yang sangat penting dan paling mendasar dalam kehidupan umat manusia didalam bermasyarakat, dan bernegara. Sehingga itu surat Al Maidah diturunkan ketika Daulah Islamiyah pertama telah dibangun dan dijalankan oleh Rasulullah saw. Mengapa QS Al Maidah, 5: 44, 45, 47 ini diturunkan setelah Daulah Islamiyah pertama telah dibangun dan dijalankan oleh Rasulullah saw ?

Karena diatas hukum itulah keadilan bisa ditegakkan. Diatas hukumlah itu perdamaian bisa ditegakkan. Diatas hukumlah itu keamanan bisa terjamin dan terlaksana. Sehingga Rasulullah saw sendiri tidak ada memberikan komentar terhadap ayat QS Al Maidah, 5: 44, 45, 47, 48 ini. Mengapa ? Karena memang ayat QS Al Maidah, 5: 44, 45, 47, 48 sudah jelas arah dan maksudnya.

Nah ketika QS Al Maidah, 5: 44, 45, 47, 48 ini diturunkan, itu Daulah Islamiyah telah berdiri. Karena itu sudah jelas dan pasti bahwa bagi penguasa dalam Daulah Islamiyah atau alam Khilafah Islamiyah yang menetapkan, memutuskan, menjalankan aturan, hukum, undang-undang dengan penuh kesadaran dan dengan i'tikadnya tanpa menurut aturan, hukum yang diturunkan Allah SAW dan yang dicontohkan Rasul-Nya, maka penguasa Daulah Islamiyah itu sudah menjurus kepada kafir (QS Al Maidah, 5: 44).

Sekarang itu menyinggung soal menghukum atau menjatuhkan vonis seseorang kafir adalah harus dikembalikan kepada dasar hukum yang diturunkan Allah SWT. Kita tidak punya hak untuk mengkafirkan atau menyatakan seseorang keluar dari keyakinan keIslamannya, kecuali semuanya dikembalikan kepada dasar hukum Allah SWT yang telah diturunkan Allah SWT.
Seseorang sesat berhubung keingkarannya dan tidak mau memahami petunjuk-petunjuk Allah. "Dan Allah sekali-kali tidak akan menyesatkan suatu kaum, sesudah Allah memberi petunjuk kepada mereka sehingga dijelaskan-Nya kepada mereka apa yang harus mereka jauhi. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui segala sesuatu." (QS, At-Taubah, 9: 115).

Berdasarkan dasar hukum ayat diatas dinyatakan bahwa seseorang tidak akan diazab oleh Allah karena kesesatannya, kecuali jika orang tersebut melanggar perintah-perintah yang telah diturunkan-Nya.

Begitu juga "Barangsiapa yang berbuat sesuai dengan hidayah (Allah), maka sesungguhnya dia berbuat itu untuk (keselamatan) dirinya sendiri; dan barangsiapa yang sesat maka sesungguhnya dia tersesat bagi (kerugian) dirinya sendiri. Dan seorang yang berdosa tidak dapat memikul dosa orang lain, dan Kami tidak akan meng'azab sebelum Kami mengutus seorang rasul." (QS, Al-Isra, 17: 15).

"Dan barangsiapa yang menentang Rasul sesudah jelas kebenaran baginya, dan mengikuti jalan yang bukan jalan orang-orang mukmin, Kami biarkan ia leluasa terhadap kesesatan yang telah dikuasainya itu dan Kami masukkan ia ke dalam Jahannam, dan Jahannam itu seburuk-buruk tempat kembali." (QS, An-Nisa, 4: 115)

Selanjutnya, "Sesungguhnya Kami telah menurunkan Kitab Taurat di dalamnya (ada) petunjuk dan cahaya (yang menerangi), yang dengan Kitab itu diputuskan perkara orang-orang Yahudi oleh nabi-nabi yang menyerah diri kepada Allah, oleh orang-orang alim mereka dan pendeta-pendeta mereka, disebabkan mereka diperintahkan memelihara kitab-kitab Allah dan mereka menjadi saksi terhadapnya. Karena itu janganlah kamu takut kepada manusia, (tetapi) takutlah kepada-Ku. Dan janganlah kamu menukar ayat-ayat-Ku dengan harga yang sedikit. Barangsiapa yang tidak memutuskan menurut apa yang diturunkan Allah, maka mereka itu adalah orang-orang yang kafir." (QS, Al-Maidah: 44).

Nah orang-orang kafir yang divonis Allah SWT ini adalah karena mereka benci dan ingkar kepada hukum Allah.

Kemudian Syaikh Abul Hasan Musthafa As-Sulaimani mengemukakan: "Pada asalnya yang dibolehkan adalah politik yang sejalan dengan kaidah-kaidah syari'at (siyasah syar'iyyah), bukan politik praktis yang menyimpang dari kaidah-kaidah syari'at (seperti turut serta dalam pesta demokrasi). Sungguh jauh berbeda antara keduanya. Namun kendatipun membandel tetap berkecimpung dalam praktek politik yang menyimpang itu, jama'ah Ikhwanul Muslimin tidak menghasilkan faedah apapun darinya."

Nah disini, kita akan kupas, apa itu politik praktis yang menyimpang dari kaidah-kaidah syari'at (seperti turut serta dalam pesta demokrasi) yang disinggung Syaikh Abul Hasan Musthafa As-Sulaimani.

Dalam membicarakan pemilihan umum kalau di Negara RI adalah membicarakan mekanisme pemilihan anggota-anggota lembaga legislatif DPR dan MPR dalam rangka melaksanakan prinsip kedaulatan rakyat dan pemilihan umum Presiden dan Wakil Presiden dalam rangka melaksanakan tugas Pemerintahan yang dilimpahkan oleh DPR dan MPR dan membuat peraturan, hukum, undang undang disamping peraturan, hukum Allah SWT, lalu tidak menetapkan peraturan, hukum menurut peraturan hukum yang diturunkan Allah SWT kepada Rasul-Nya.

Pemilihan umum legislatif ini merupakan proses pelaksanaan prinsip kedaulatan rakyat melalui cara pemilihan anggota Lembaga pembuat Undang-Undang dan Lembaga pembuat Undang-Undang Dasar, yang kalau dilihat dari sudut Islam, prinsip kedaulatan rakyat adalah sangat bertentangan dengan prinsip kedaulatan Allah SWT. Artinya pembuatan undang-undang melalui lembaga legislatif melalui cara pemungutan suara adalah tidak dibenarkan menurut Islam. Karena aturan, hukum dalam Islam ditetapkan berdasarkan aturan, hukum yang diturunkan Allah SWT kepada Rasul-Nya.

Didalam Islam tidak ada yang dinamakan lembaga pembuat undang-undang yang diputuskan melalui pemungutan suara, yang ada adalah lembaga peradilan yang menegakkan, melaksanakan, menjalankan aturan, hukum yang tidak bertentangan dengan aturan, hukum yang telah diturunkan Allah SWT. Sedangkan lembaga permusyawarahan tugas dan fungsinya membicarakan semua permasalahan kemasyarakatan, pemerintahan, kenegaraan, dan penetapan aturan, hukum, undang-undang menurut apa yang diturunkan Allah SWT kepada Rasul-Nya Muhammad saw.

Karena proses pelaksanaan prinsip kedaulatan rakyat tidak ada dalam Islam, yang ada kedaulatan Allah SWT, yang berarti semua hal harus mengacu pada Al-Qur'an dan As-Sunnah, maka lembaga legislatif atau lembaga pembuat undang undang melalui cara pemungutan suara tidak diperlukan dalam Islam. Yang diperlukan adalah lembaga permusyawarahan yang tugas dan fungsinya membicarakan semua permasalahan kemasyarakatan, pemerintahan, kenegaraan, dan penetapan aturan, hukum, undang-undang menurut apa yang diturunkan Allah SWT kepada Rasul-Nya Muhammad saw.

Kembali kepada pemilihan umum lembaga legislatif. Karena lembaga legislatif yang tugas dan fungsinya membuat undang undang dan undang undang dasar melalui cara pemungutan suara tidak ada dalam Islam, maka pemilihan umum untuk memilih anggota legislatif seperti DPR, MPR tidak dibenarkan dan diharamkan.

Dalam sejarah Islam Rasulullah saw pernah memberikan contoh tentang pemilihan anggota untuk menjadi pemimpin, yaitu pada ikrar Aqaba ke dua, pada tahun keduabelas kenabian.

Dimana pada saat itu datang 73 orang muslim dari Yatsrib di musim Haji dan menerima Islam. Kemudian Rasulullah saw meminta mereka untuk memilih 12 orang sebagai pemimpin. Orang-orang muslim Yatsrib itu memilih 9 orang dari Bani Khazraj, dan 3 orang dari Bani Aus. Setelah ikrar Aqaba ke dua ini Rasulullah saw memberikan izin bagi kaum muslimin untuk berhijrah ke Yatsrib.

Dari ikrar Aqaba ke dua ini bisa dijadikan sebagai dasar untuk mengadakan pemilihan anggota yang akan menjadi wakil-wakil dari golongan-golongan untuk duduk dalam lembaga permusyawarahan. Tetapi bukan untuk mengadakan pemilihan umum untuk memilih anggota yang akan menjadi wakil-wakil dari golongan-golongan untuk duduk dalam lembaga legislatif atau pembuat undang undang melalui cara pemungutan suara. Dan bukan untuk mengadakan pemilihan umum untuk memilih Presiden & Wakil Presiden yang mempunyai salah satu tugas dan fungsinya membuat, menetapkan peraturan, hukum, undang-undang disamping aturan, hukum Allah SWT, lalu tidak menetapkan peraturan, hukum menurut peraturan, hukum yang diturunkan Allah SWT.

Mengapa memilih anggota lembaga legislatif atau pembuat undang undang melalui cara pemungutan suara dan memilih Presiden & Wakil Persiden yang mempunyai salah satu tugas dan fungsinya membuat peraturan, hukum, undang-undang disamping aturan, hukum Allah SWT, lalu tidak menetapkan peraturan, hukum menurut peraturan, hukum yang diturunkan Allah SWT diharamkan oleh Islam ? Karena berdasarkan nash: "Dan janganlah kamu mengatakan terhadap apa yang disebut-sebut oleh lidahmu secara dusta "ini halal dan ini haram", untuk mengada-adakan kebohongan terhadap Allah. Sesungguhnya orang-orang yang mengada-adakan kebohongan terhadap Allah tiadalah beruntung." (An-Nahl, QS16: 116).

"Dan tidaklah patut bagi laki-laki yang mu'min dan tidak (pula) bagi perempuan yang mu'min, apabila Allah dan Rasul-Nya telah menetapkan suatu ketetapan, akan ada bagi mereka pilihan (yang lain) tentang urusan mereka. Dan barangsiapa mendurhakai Allah dan Rasul-Nya maka sungguhlah dia telah sesat, sesat yang nyata." (Al Ahzab, QS 33: 36).

"Sesungguhnya Kami telah menurunkan Kitab Taurat di dalamnya (ada) petunjuk dan cahaya (yang menerangi), yang dengan Kitab itu diputuskan perkara orang-orang Yahudi oleh nabi-nabi yang menyerah diri kepada Allah, oleh orang-orang alim mereka dan pendeta-pendeta mereka, disebabkan mereka diperintahkan memelihara kitab-kitab Allah dan mereka menjadi saksi terhadapnya. Karena itu janganlah kamu takut kepada manusia, (tetapi) takutlah kepada-Ku. Dan janganlah kamu menukar ayat-ayat-Ku dengan harga yang sedikit. Barangsiapa yang tidak memutuskan menurut apa yang diturunkan Allah, maka mereka itu adalah orang-orang yang kafir." (Al-Maidah, QS 5: 44)

"Dan Kami telah tetapkan terhadap mereka di dalamnya (At Taurat) bahwasanya jiwa (dibalas) dengan jiwa, mata dengan mata, hidung dengan hidung, telinga dengan telinga, gigi dengan gigi, dan luka luka (pun) ada kisasnya. Barangsiapa yang melepaskan (hak kisas) nya, maka melepaskan hak itu (menjadi) penebus dosa baginya. Barangsiapa tidak memutuskan perkara menurut apa yang diturunkan Allah, maka mereka itu adalah orang-orang yang zalim." (Al-Maidah, QS 5: 45)

"Dan hendaklah orang-orang pengikut Injil, memutuskan perkara menurut apa yang diturunkan Allah didalamnya. Barangsiapa tidak memutuskan perkara menurut apa yang diturunkan Allah, maka mereka itu adalah orang-orang yang fasik." (Al-Maidah, QS 5: 47)

"Dan Kami telah turunkan kepadamu Al Quran dengan membawa kebenaran, membenarkan apa yang sebelumnya, yaitu kitab-kitab (yang diturunkan sebelumnya) dan batu ujian terhadap kitab-kitab yang lain itu; maka putuskanlah perkara mereka menurut apa yang Allah turunkan dan janganlah kamu mengikuti hawa nafsu mereka dengan meninggalkan kebenaran yang telah datang kepadamu. Untuk tiap-tiap umat diantara kamu, Kami berikan aturan dan jalan yang terang. Sekiranya Allah menghendaki, niscaya kamu dijadikan-Nya satu umat (saja), tetapi Allah hendak menguji kamu terhadap pemberian-Nya kepadamu, maka berlomba-lombalah berbuat kebajikan. Hanya kepada Allah-lah kembali kamu semuanya, lalu diberitahukan-Nya kepadamu apa yang telah kamu perselisihkan itu," (Al-Maidah, QS 5: 48)

Dari apa yang telah di Firmankan Allah SWT diatas menunjukkan bahwa dilarang mengatakan halal atau haram tanpa ditunjang nash yang kuat. Apabila Allah dan Rasul-Nya telah menetapkan suatu ketetapan, maka tidak akan ada bagi mereka pilihan (yang lain) tentang urusan mereka. Barangsiapa yang tidak memutuskan menurut apa yang diturunkan Allah, maka mereka itu adalah orang-orang yang kafir. Barangsiapa tidak memutuskan perkara menurut apa yang diturunkan Allah, maka mereka itu adalah orang-orang yang zalim.

Barangsiapa tidak memutuskan perkara menurut apa yang diturunkan Allah, maka mereka itu adalah orang-orang yang fasik. maka putuskanlah perkara mereka menurut apa yang Allah turunkan dan janganlah kamu mengikuti hawa nafsu mereka dengan meninggalkan kebenaran yang telah datang kepadamu. Untuk tiap-tiap umat diantara kamu, Kami berikan aturan dan jalan yang terang.

Sekarang bagaimana pemilihan dan pengangkatan khalifah dimasa Khulafaur Rasyidin. Kita akan gali bagaimana pengangkatan Abu Bakar, Umar bin Khatthab, Usman bin Affan dan Ali bin Abi Thalib.

Pengangkatan Abu Bakar sebagai khalifah pertama.

Dimana pemilihan khalifah pertama ini dilakukan di pendopo kaum anshar Bani Sa'idah, yang dipimpin oleh Sa'ad bin Ubbadah kepala suku Khazradj. Walaupun Abu Bakar sendiri pada mulanya menolak, bahkan beliau mengajukan dua calon khalifah yaitu Umar bin Khattab dan Abu Ubaidah Amir bin Djarrah. Namun Umar dan Abu Ubaidah menolaknya, dengan mengatakan "tidak mungkin jadi, selama tuan (Abu Bakar) masih berada di tengah-tengah kami".

Kemudian mereka sepakat untuk mengangkat Abu Bakar sebagai khalifah, lalu Umar bin Khattab maju kedepan langsung memberikan bai'atnya atas pengangkatan Abu Bakar. Besok harinya dipanggillah seluruh rakyat ke Masjid Nabi untuk melakukan bai'at atas pemilihan dan pelantikan Abu Bakar sebagai khalifah. Yang tidak hadir dalam bai'at itu ada empat tokoh utama, yaitu Ali bin Abi Thalib, Abbas bin Abdul Mutthalib, Fatimah putri Nabi dan Sa'ad bin Ubbadah.

Beberapa hari Abu Bakar berikhitiar untuk memperoleh bai'atnya dari mereka. Disini dapat dilihat dengan jelas bahwa pemilihan khalifah pertama adalah dipilih oleh para utusan ulil amri walaupun tidak lengkap dan langsung semua rakyat melakukan bai'atnya.

Pemilihan khalifah kedua yaitu Umar bin Khatthab dilakukan sedikit lebih teratur.

Sebelum Khalifah Abu Bakar meninggal, dilakukan terlebih dahulu perundingan dengan beberapa anggota ulil amri, diantaranya Abdur Rahman bin Auf tentang Kepala Negara yang akan menggantikannya. Dalam sidang ulil amri ini Abu Bakar mengajukan calon khalifah yaitu Umar bin Khatthab, kemudian sidang ulil amri menyetujui akan pencalonan Umar bin Khatthab untuk menjadi khalifah. Pada waktu itu juga Abu Bakar menandatangi suatu surat bai'at atas penganggkatan khalifah kedua ini.

Disinipun kita lihat Khalifah Abu Bakar sebelum meninggal merundingkan dahulu dengan para ulil amri untuk membicarakan siapa yang akan menjadi khalifah sepeninggalnya. Bukan melakukannya dengan paksaan, mengangkat begitu saja Umar bin Khatthab menjadi khalifah.

Pemilihan khalifah ke tiga, Usman bin Affan, dilakukan lebih sempurna lagi.

Dimana dicalonkan enam calon khalifah yaitu Usman bin Affan, Ali bin Abi Thalib, Zuber bin Awwam, Sa'ad bin Abi Waqqash, Thalhah bin Ubaidillah dan Abdur Rahman bin Auf. Keenam calon khalifah ini diajukan oleh Khalifah Umar bin Khatthab. Dari enam calon ini dua yang tinggal, Usman bin Affan dan Ali bin Abi Thalib. Kedua-duanya siap untuk menggantikan khalifah Ummar bin Khatthab. Namun dalam sidang ulil amri yang dipimpin oleh Abdur Rahman bin Auf, dipilih Usman bin Affan sebagai khalifah. Sedangkan Ali bin Abi Thalib yang tidak terpilih, dia menerima dengan perasaan dan jiwa yang besar dan melakukan bai'at atas pengangkatan Usman bin Affan sebagai khalifah ketiga.

Pemilihan khalifah keempat, Ali bin Abi Thalib.

Dalam pemilihan khalifah ini diajukan tiga calon yaitu, Ali bin Abi Thalib, Thalhah bin Ubaidillah dan Zubair bin Awwam. Pemilihan khalifah ini diserahkan sepenuhnya kepada ulil amri, karena Khalifah Usman bin Affan tidak sempat mengajukan pencalonannya, dikarenakan telah dibunuhnya oleh para pemberontak.

Disinipun Ali bin Abi Thalib tidak menerima pencalonannya, namun setelah kedua calon lainnya yang mengundurkan diri dan memilih Ali bin Abi Thalib sebagai khalifah keempat, maka dipilihlah Ali bin Abi Thalib sebagai khalifah.

Dengan cara pengangkatan khalifah-khalifah dimasa Khulafaur Rasyidin ini, boleh kita ambil sebagai contoh pemilihan umum dalam Khilafah Islam. Sedangkan pada masa dinasti-dinasti Umaiyah, Abbassiyah, Fathimiyah dan Usmaniyah tidak ada yang namanya pemilihan khalifah dan melibatkan ulil amri, karena pengangkatan khalifah langsung menurut keturunan. Misalnya, khalifah Mu'awiyah bin Abi Sufyan dari dinasti Umaiyah mengangkat putranya Jazid sebagai khalifah. Begitu seterusnya.

Selanjutnya Syaikh Abul Hasan Musthafa As-Sulaimani masih juga menulis: "Realita membuktikan bahwa mereka pada hakikatnya tidak merujuk secara jujur kepada ulama dakwah salafiyah dalam banyak masalah. Masing-masing jama'ah sudah merasa cukup dengan orang yang dianggap ulama diantara mereka. Sekalipun sangat jauh kualitas ilmunya dengan ulama salafiyun."

Sebenarnya, masalah ulama salafi yang dibesar-besarkan oleh kaum wahhabi atau salafi Saudi Arabia hanya karena mereka menganggap telah berhasil membangun Kerajaan Saudi dengan paham wahhabinya. Dimana yang memberikan fatwa dan semua urusan Agama di Saudi itu adalah para keturunan dari Syaikh Muhammad bin Abdul Wahhab. Yang dianggap menguasai paham wahhabi atau salafi yang mereka anggap sebagai akhli yang memahami salafus-Shalih.
Padahal mana itu khurafat, bid'ah dan syirik bisa dihancurkan oleh kaum wahhabi atau salafi ini. Lihat saja di Indonesia, yang katanya kaum wahhabi atau salafi ini telah punya kaki. Tetapi, itu khurafat, syirik dan bid'ah yang besar yang menyangkut sistem taghut pancasila, masih juga dipertahankan. Mana itu dari pihak kaum wahhabi atau salafi di Indonesia berani dan mau menghancurkan itu taghut pancasila yang penuh dengan syirik, bid'ah dan khurafat.

Terakhir itu Syaikh Abul Hasan Musthafa As-Sulaimani menulis: "Kenyataan telah membuktikan bahwa mafsadat yang terjadi lebih banyak daripada maslahat yang hendak di raih. Tanyakan saja kepada pentolan pentolan politik tersebut di Mesir, Syam, Asia Timur, Aljazair dan Yaman, apa yang mereka dapatkan dari tindakan mereka itu ? Tidak lain hanyalah fitnah (kekacauan), provokasi, terhalangnya proses menuntut ilmu, atau pelecehan terhadap ilmu agama dan ulama, tersebarnya buruk sangka terhadap dakwah dan para da'i, tercerai-berainya barisan kaum muslimin, tersamarnya kebenaran di tengah-tengah manusia, tersia-sianya tenaga, waktu dan harta umat untuk perkara-perkara semu bagaikan fatamorgana."

Memang, itu antara kaum wahhabi atau salafi Saudi Arabia ini sangat bertentangan sekali dengan para ulama Mesir. Itu memang dari sejak masa Khilafah Utsmani, dimana Mesir dianggap musuh bebuyutannya keluarga Ibnu Saud. Jadi, sebenarnya, itu bukan karena masalah perbedaan jalur ketauhidan, melainkan itu merupakan perbedaan mengenai masalah politik saja. Begitu juga dengan para tokoh pergerakan di Yaman, salah satunya itu Osama Bin Laden yang dari Yaman. Sebenarnya, mereka itu keturunan dari Bani Hasyim dari kaum Quraisy yang hijrah ke Yaman dulu. Itu kan sudah jelas, bagaimana mereka bermusuhan antara kaum Wahhabi atau Salafi Saudi dengan pihak Osama Bin Laden cs yang dari Yaman.

Bagi yang ada minat untuk menanggapi silahkan tujukan atau cc kan kepada ahmad@dataphone.se agar supaya sampai kepada saya dan bagi yang ada waktu untuk membaca tulisan-tulisan saya yang telah lalu yang menyinggung tentang Khilafah Islam dan Undang Undang Madinah silahkan lihat di kumpulan artikel di HP http://www.dataphone.se/~ahmad

Hanya kepada Allah kita memohon pertolongan dan hanya kepada Allah kita memohon petunjuk, amin *.*

Wassalam.

Ahmad Sudirman

http://www.dataphone.se/~ahmad
www.ahmad-sudirman.com
ahmad@dataphone.se
---------

Date: Mon, 14 Mar 2005 10:29:57 +0700
To: Sumitro <mitro@kpei.co.id>, Rasjid Prawiranegara <rasjid@bi.go.id>, ahmad@dataphone.se, imarrahad@eramuslim.com, JKamrasyid@aol.com, H4D! <hadifm@cbn.net.id>, irul51606@svsi.sanyo.co.id
From: Irul Khoiruddin irul51606@svsi.sanyo.co.id
Subject: BOLEHKAH MENGAMBIL KEBAIKAN SETIAP FIRQAH?

Assalaamu'alaykum Warohmatulloohi Wabarokaatuh
Ikhwan fillah rahimakumulloh, mohon maaf mengganggu waktunya sebentar. Ana mau tanya tanggapan ikhwan sekalian mengenai tulisan di bawah ini, karena ana sedang belajar dan ingin sekali digolongkan ke dalam golongan yang selamat di dunia dan akhirat. Ana pernah dengar bahwa dajjal laknatulloh di akhir zaman nanti tidak bisa masuk ke kota Makkah dan Madinah, apakah itu artinya jika dianalogikan, bahwa mazhab yang berlaku di 2 kota suci tersebut adalah yang selamat? Semoga kita dimasukkan oleh Alloh ke dalam golongan yang selamat, insya Alloh. Terimakasih sebelumnya atas tanggapannya.

Wassalaamu'alaykum warohmatulloohi wabarokaatuh.

Mohd. Al-Khori

mohd_alkhori@qatar.net.qa
Doha, State of Qatar.
----------

Irul Khoiruddin
irul51606@svsi.sanyo.co.id

BOLEHKAH MENGAMBIL KEBAIKAN SETIAP FIRQAH ?
Oleh : Syaikh Abul Hasan Musthafa As-Sulaimani

Pertanyaan:
Syaikh Abul Hasan Musthafa As-Sulaimani ditanya: Kami pernah mendengar dari sebagian orang yang cinta kepada kebaikan bahwa menjamurnya jama'ah-jama'ah Islamiyah sekarang ini adalah fenomena yang sehat. Bahwa jama'ah-jama'ah tersebut menegakkan pilar-pilar Islam dalam bidang masing-masing. Jika kita menghendaki ilmu, ambillah dari Salafiyun. Jika kita menghendaki jihad, ambillah dari Jama'atul Jihad. Kalau kita ingin politik, ambillah dari Ikhwanul Muslimin. Kalau kita menghendaki manajemen hati, ambillah dari Jama'ah Tabligh. Mereka mengatakan : "Kondisinya seperti orang-orang yang sakit matanya, tentu ia tidak berkonsultasi dengan dokter sepesialis saraf. Bagi yang sakit dadanya, tentu ia tidak memeriksskan dirinya kepada dokter spesialis tulang". Apakah ucapan seperti ini dapat dibenarkan?

Jawaban
Orang yang mengatakan ucapan diatas sebenarnya tidak mengerti hakikat dak'wah Ilallah. Dan juga tidak memahami hakekat perbedaan yang terjadi antara jama'ah-jama'ah tersebut. Mustahil sebuah perpecahan dapat menegakan Islam! padahal Allah Subhanahu wa Ta'ala telah melarang perpecahan. "Artinya : Sesungguhnya orang yang memecah belah agamanya dan mereka (terpecah) menjadi beberapa golongan , tidak ada sedikitpun tanggung jawabmu terhadap mereka".[Al-An'am: 159]

Dalam ayat lain Allah berfirman: "Artinya : Dan janganlah kamu termasuk orang-orang yang mempersekutukan Allah, yaitu orang-orang yang memecah belah agama mereka dan mereka menjadi beberapa golongan. Tiap-tiap golongan merasa bangga dengan apa yang ada pada golongan mereka". [Ar-Ruum: 31-32]

Dan Allah juga berfirman: "Artinya : Dan berpeganglah kamu semuanya dengan tali Allah (agama) Allah, dan janganlah kamu bercerai berai". [Al-Imran: 103]

Realita yang ada menunjukan bahwa jumlah jama'ah-jama'ah itu terus bertambah dari waktu ke waktu. Dan bertambah lebar juga jurang perselisihan dan pertikaian. Kekeliruan diatas dapat kita jabarkan sebagai berikut :

Pertama
Kami tidak menampik adanya spesialisasi dalam disiplin ilmu dan pada beberapa aspek dak'wah. Namun hal itu tidak akan baik bila masing-masing kelompok tidak bertolak dari satu pedoman. Mereka harus bertolak dari satu dasar pemahaman dan pedoman. Serta berusaha mewujudkan tuntunan syari'at dengan cara yang dibenarkan syari'at berkaitan dengan spesialisasi masing-masing. Adapun bila pedoman berbeda, tujuan dan metoda juga berbeda, maka kondisinya seperti yang digambarkan syair berikut. Bilakah satu istana akan sempurna bangunannya, bila kamu sibuk membangun, sementara yang lain merubuhkannya.

Kedua
Realita membuktikan bahwa hakekat perselisihan yang terjadi diantara jama'ah-jama'ah tersebut adalah dalam memahami Al-Qur'an dan As-Sunnah dan dalam memilih wasilah (metode) dalam menuju sesuatu yang menjadi tuntunan syari'at . Persaingan, perseteruan dan permusuhan diantara jama'ah-jama'ah tersebut dapat terlihat jelas. Setiap jama'ah berusaha merubuhkan bangunan yang telah disusun oleh jama'ah lainnya. Sebagian orang berasumsi bahwa jika dia dapat mengusir sorang khatib/ustadz salafi, seolah-olah dia telah berhasil mengembalikan Masjidil Aqsha dari tangan Yahudi! Dia menganggapnya sebagai sebuah kemenangan besar

Faktor penyebabnya adalah perbedaan persepsi dalam mendiagnosa sebuah penyakit, berakibat komposisis obat yang dipakai juga berbeda. Sebagian jama'ah berpendapat bahwa problem umat sekarang ini seputar penguasa yang tidak berhukum dengan hukum Allah. Mereka lantas berusaha mengenyahkan penguasa itu atau berusaha menyaingi kekuasaan mereka, baik penguasa itu kafir ataupun muslim. Sebagian jama'ah lainnya berpandangan bahwa penyakit hati telah begitu mewabah di tengah-tengah umat. Mereka beranggapan dengan memperbaiki hati selesailah semua problem. Mereka mengerahkan segala upaya untuk menyembuhkan penyakit-penyakit hati. Ironinya mereka mengabaikan penyakit hati yang paling berbahaya yaitu syirik, bid'ah dan lainnya.

Sedangkan sebagian jama'ah yang lain memahami bahwa penyakit kronis yang menggerogoti umat ini adalah kejahilan mereka tentang Dinul Islam. Baik yang berkaitan dengan masalah tauhid/aqidah, ibadah dan lainnya. Mereka juga menyadari bahwa di antara penyakit yang menimpa umat ini adalah fenomena perpecahan dan bergolong-golongan. Merekapun berusaha menghidupkan kembali sunnah-sunnah yang sudah dilupakan. Mereka sebarkan aqidah yang benar dan sunnah yang shahih, sekaligus memerangi syirik dengan berbagai macam dan bentuknya. Mereka peringatkkan umat dari bahaya berpecah belah dan fanatik jahiliyah. Namun sayangnya jama'ah ini justru ditentang oleh jama'ah-jama'ah lainnya !, Wallahul Musta'an.

Ketiga
Kita tidak dapat menerima sangkaan (yang berpendapat) bahwa jama'ah-jama'ah tersebut layak diambil ilmunya-kecuali salafiyun meskipun ada kekurangan pada pribadi-pribadi sebagian mereka-. Sebagi buktinya masalah jihad, di dalam Islam jihad disyari'atkan untuk memerangi kaum musyrikin supaya Dienullah menjadi yang paling tinggi. Dan supaya tidak terjadi kemusyrikan sebagaimana firman Allah: "Artinya : Dan perangilah mereka, supaya jangan ada fitnah dan supaya agama itu semata-mata untuk Allah" [Al-Anfal : 39]

Namun kenyataan yang kita jumpai, seruan jihad itu ditujukan untuk melawan kaum muslimin -walaupun mungkin mereka menyimpang-. Akibatnya terjadilah fitnah (kekacauan) dan kaum musliminpun tercerai berai. Akhirnya musuh-musuh Allah mendapat kesempatan untuk menimpakan berbagai penindasan terhadap wali-wali Allah (orang-orang yang shalih). Demikian pula masalah politik, pada asalnya yang dibolehkan adalah politik yang sejalan dengan kaidah-kaidah syari'at (siyasah syar'iyyah), bukan politik praktis yang menyimpang dari kaidah-kaidah syari'at (seperti turut serta dalam pesta demokrasi). Sungguh jauh berbeda antara keduanya. Namun kendatipun membandel tetap berkecimpung dalam praktek politik yang menyimpang itu, jama'ah Ikhwanul Muslimin tidak menghasilkan faedah apapun darinya. Kenyataan yang ada cukup sebagai buktinya. Demikain pula Jama'ah Tabligh, sekalipun pada mereka terdapat sisi-sisi positif, namun mereka mengabaikan sisi yang paling urgen, yaitu pembenahan aqidah dan menuntut ilmu hadits 1)

Secara jujur kami katakan, hanya dari salafiyun sajalah yang layak diambil ilmu yang berguna. Ilmu yang mereka miliki telah memimpin dunia. Ulama merekalah yang menjadi panutan umat dan menjadi tempat bertanya tentang Dienullah. Setiap orang berusaha mengikuti pedoman mereka dan bangga menisbatkan diri kepada mereka. Kecuali sekelompok kecil yang tidak begitu dipandang. Semoga Allah Subhanahu wa Ta'ala mencurahkan hidayah kepada kita semua.

Keempat
Sekiranya kita anggap jama'ah-jama'ah itu memiliki ilmu-ilmu tersebut, masalahnya adalah : "Apakah kaidah dasar dan pijakan bagi yang ingin beramal? Bukankah bagi yang ingin berjihad, berkecimpung dalam bidang politik atau berdakwah wajib merujuk kepada ulama terlebih dahulu ..? Sebelumnya telah kalian sebutkan bahwa salafiyun adalah rujukan dalam masalah ilmu. Sebab salafiyun mengetahui perkara-perkara yang tersamar atas jama'ah-jama'ah tersebut ..? Lalu mengapa mereka tidak merujuk kepada salafiyun yang secara khusus mengetahui masalah ? Menanyakan bolehkah berjihad sementara keadaan kami seperti ini ? atau bolehkah berkecimpung dalam kancah politik modern (demokrasi) .?

Realita membuktikan bahwa mereka pada hakikatnya tidak merujuk secara jujur kepada ulama dakwah salafiyah dalam banyak masalah. Masing-masing jama'ah sudah merasa cukup dengan orang yang dianggap ulama diantara mereka. Sekalipun sangat jauh kualitas ilmunya dengan ulama salafiyun. Sekiranya mereka bertanya kepada ulama dakwah salafiyah, maka pertanyaan-pertanyaan yang diajukan dipolitisir sedemikian rupa supaya jawabannya sesuai dengan kehendak mereka.

Misalnya pertanyaan yang berbunyi : "Kami tinggal di negeri yang menerapkan undang-undang yang menyelisihi hukum Islam, jika kami tidak turut serta duduk bersama mereka di pemerintahan maka musuh-musuh Islam akan bertambah kuat. Jika kami duduk bersama mereka, maka akan dapat mewujudkan maslahat yang banyak dan dapat menolak berbagai kerusakan, bagaimanakah hukum Islam dalam masalah ini ..?"

Redaksi pertanyaan seperti ini jawabannya mudah ditebak. Namun sekalipun demikian, dalam memberikan jawabannya para ulama pasti menyebutkan persyaratan-persyaratan yang ketat. demi terciptanya maslahat dan tertolaknya mudharat. Kenyataan telah membuktikan bahwa mafsadat yang terjadi lebih banyak daripada maslahat yang hendak di raih. Tanyakan saja kepada pentolan pentolan politik tersebut di Mesir, Syam, Asia Timur, Aljazair dan Yaman, apa yang mereka dapatkan dari tindakan mereka itu ? Tidak lain hanyalah fitnah (kekacauan), provokasi, terhalangnya proses menuntut ilmu, atau pelecehan terhadap ilmu agama dan ulama, tersebarnya buruk sangka terhadap dakwah dan para da'i, tercerai-berainya barisan kaum muslimin, tersamarnya kebenaran di tengah-tengah manusia, tersia-sianya tenaga, waktu dan harta umat untuk perkara-perkara semu bagaikan fatamorgana. maslahat yang dihasilkan tidaklah seberapa dibandingkan mafsadat yang timbul.

Kendatipun pada awal mulanya mereka sulit memprediksi maslahat dan mafsadat dalam masalah ini, namun dalih tersebut tidak mungkin dikemukakan pada hari ini, setelah berlalu lebih dari setengah abad. Kenyatannya, keburukan yang timbul dari waktu ke waktu menjadi lebih jelas.

Seandainya pembagian yang tersebut di dalam pertanyaan di atas dapat di terima, maka kewajiban bagi kita semua adalah merujuk kepada ahli ilmu dengan sejujur-jujurnya, menerima fatwa ulama beserta dalilnya, dan menceritakan kepada mereka segala sesuatunnya. Namun yang terjadi umumnya tidak seperti itu !

Kelima
Kita tidak bisa menerima bulat-bulat,bahwa seorang yang terserang suatu penyakit tidak boleh bertanya kepada selain dokter spesialis penyakit itu. Sering kita dengar seorang yang akan menjalani operasi tulang, terlebih dahulu meminta pertimbangan dari dokter spesialis penyakit dalam, untuk mengetahui apakah ia sanggup menjalani operasi atau tidak, karena sebuah badan itu apabila menderita sakit, maka seluruh anggota tubuh akan merasakan panas dan meriang. Demikian pula da'wah ilallah, harus dilakukan dengan ilmu dan hujah yang nyata. Dan harus merujuk kepada ulama Ahli Sunnah. Jika tidak, maka seluruh usaha akan gagal dan sia-sia. Hendaklah kita bertakwa kepada Allah dalam mengemban amanat da'wah. Dan senantiasa berpegang teguh dengan pedoman salafus-Sholih.

CATATAN (Syaikh Abul Hasan Musthafa):
1.Uraian yang kami cantumkan dalam fatwa ini belum meliput seluruh dalil-dalil yang ada.Untuk lebih luasnya silahkan merujuk kepada buku-buku yang memuat dalil-dalil tersebut secara rinci.

2.Jawaban ini sama sekali tidak bertujuan untuk meremehkan sisi positif yang ada pada jama'ah lain. Namun hanya menampilkan realita yang terjadi di lapangan. dan untuk membuka pandangan aktifis da'wah. Supaya mereka mengetahui kesalahan-kesalahan yang ada, lalu segera memperbaikinya. Dan supaya mereka benar-benar kembali kepada Al-Qur'an dan As-Sunnah sesuai pemahaman As-Salafus-Sholih, dengan demikian akan terbuka pintu-pintu kebaikan dan tertutup pintu-pintu keburukan. Dan supaya mereka dapat mengeluarkan umat dari kejahilan dan perpecahan . Kami sungguh merasa pilu dan prihatin terhadap kondisi kaum muslimin.

Semoga Allah Subhanahu wa Ta'ala melapangkan dada kita untuk menerima manhaj Salafus- Sholih, baik dalam bidang aqidah, ibadah maupun da'wah. Dan semoga Allah Subhanahu wa Ta'ala menyingkap mendung yang menaungi umat ini dan menyatukan barisan mereka. Sesungguhnya Dia maha berkuasa atas segala sesuatu . Sholawat dan salam semoga tercurah atas Nabi Muhammad ShalaAllahu 'Alaihi wa Salam, atas keluarga dan segenap sahabat beliau.

[Disalin dari Majalah As-Sunnah Edisi 03/Tahun V/1421H/2001M hal.28-30. Syaikh Abul Hasan Musthafa As-Sulaimani hafizhahullah, seorang ulama Ahlus Sunnah di Ma'rib, Yaman. Diterjemahkan oleh Abu Ihsan Al-Atsari Al-Maidani dari Silsilah Al-Fatawa Asy-Syar'iyyah, soal no. 54]
________
Foote Note
[1]. Sebenarnya tidak tampak sisi-sisi positif pada Jama'ah Tabligh sebagaimana yang disebutkan, bila dibandingkan dengan sisi negatif yang mereka timbulkan. Salah satunya adalah berupa banyak orang awam yang terkecoh dengan penampilan lahir mereka kemudian menganggap Jama'ah seperti itulah yang dibutuhkan umat. Tanpa memerperhatikan penyimpangan aqidah yang ada pada Jama'ah itu. Apakah ada kesesatan yang lebih berbahaya daripada penyimpangan aqidah .?
----------