Stockholm, 15 Maret 2005

Bismillaahirrahmaanirrahiim.
Assalamu'alaikum wr wbr.
 

KHOIRUDDIN, ITU PENELANAN HEJAZ, BUKAN USAHA PEMBASMIAN PAHAM SUFI, MELAINKAN POLITIK EKSPANSI WILAYAH
Ahmad Sudirman
Stockholm - SWEDIA.

 

IRUL KHOIRUDDIN, ITU PENELANAN HEJAZ, BUKAN USAHA PEMBASMIAN PAHAM SUFI, MELAINKAN POLITIK EKSPANSI WILAYAH YANG DIKEMBANGKAN IBNU SAUD

"Menurut Bapak Ahmad Sudirman, ide pemikiran Syaikh Muhammad bin Abdul Wahhab mengarah kepada perbaikan ketauhidan dan pembaharuan ketauhidan yang didasarkan kepada Al-Qur'an, Sunnah shahih (hadits Rasulullah saw yang shahih), dan Al-Qur'an dan Sunnah yang dipahami menurut pemahaman sahabat Nabi saw, tabi'in , dan tabiut tabi'in. Sampai kepada ketiga buah poin di atas, menurut ana, ajaran Syaikh Muhammad bin Abdul Wahhab adalah ajaran menuju kemurnian Islam yang mungkin telah dirusak oleh pemikiran sejumlah kalangan yang tidak berdasar kepada ketiga poin tersebut, apalagi pada jaman sekarang yang lebih jauh lagi jaraknya dari kehidupan Tabiut tabiin dibandingkan pada jaman Syaikh Muhammad bin Abdul Wahhab. Sampai sekarang dinasti itu berlaku di Saudi Arabia, dan sudah mafhum di kalangan salafy bahwa tidak dibolehkan melakukan pemberontakan kepada penguasa, walaupun penguasa tersebut berkuasa tidak dengan dasar Islam, karena menurut mereka mudhorotnya lebih besar daripada manfaatnya. Kalau menurut pandangan ana, maka ini adalah usaha untuk terus mempertahankan kekuasaan keluarga kerajaan. Bagaimana menurut Bapak Ahmad Sudirman?" (Irul Khoiruddin , irul51606@svsi.sanyo.co.id , Tue, 15 Mar 2005 12:34:27 +0700)

Baiklah saudara Irul Khoiruddin di Cimanggis, Depok, Jawa Barat.

Sebenarnya lahirnya pemikiran pelurusan dan pemurnian tauhid dari Syeikh Muhammad bin Abdul Wahhab adalah karena memang dari sejak masa hidupnya Syeikh Muhammad bin Abdul Wahhab telah tumbuh itu khurafat, syirik dan bid'ah ini. Mereka meminta-minta kepada kuburan, membangun bangunan kecil diatas kuburan. Nah, dengan adanya perilaku umat Islam yang demikianlah lahir pemikiran Syeikh Muhammad bin Abdul Wahhab untuk meluruskan dan memurnikan tauhid dari bau-bau khurafat, syirik dan bid'ah itu.

Dimana Syeikh Muhammad bin Abdul Wahhab ini banyak dipengaruhi oleh pemikiran Ibnu Taimiyah, atau nama lengkapnya adalah Taqiyuddin Abdul Abbas Ahmad bin Abdul Salam bin Abdullah bin Muhammad bin Taimiyah Al-Harrani Al-Hambali.

Ibnu Taimiyah ini memang beberapa kali masuk dan keluar penjara, bahkan meninggalnya beliau dalam penjara di Mesir pada tanggal 20 Zulkaedah 728 H / 25 September 1328 M. Ketika pada masa Ibnu Taimiyah, itu yang berkuasa di Mesir adalah Khalifah Al-Mustansir 1261 M, Al-Hakim I 1262 M -1302 M , Al-Mustakfi I 1302 M -1340 M dari Khilafah Islamiyah Abbasiyah yang berpusat di Kairo, Mesir. Dimana mengenai pandangan Ibnu Taimiyah mengenai Ahlu Sunnah Wal Jama'ah adalah :"...mereka (tabi'in dan tabiut tabi'in) adalah para shahabat Rasulullah saw, mereka disebut sebagai Ahlu Sunnah Wal Jama'ah karena mereka selalu mengikuti shari'ah dan jama'ah karena mereka menggalang persatuan meskipun mereka tidak bertemu sekalipun. (Fattawa ibn Taymiyyah vol.13 hal 358).

Dengan dasar pemikiran Ibnu Taimiyah inilah, itu Syeikh Muhammad bin Abdul Wahhab melambungkan pemikirannya bahwa dalam rangka meluruskan dan memurnikan tauhid harus berpijak kepada Al-Qur'an, Sunnah shahih (hadits Rasulullah saw yang shahih), dan Al-Qur'an dan Sunnah yang dipahami menurut pemahaman sahabat Nabi saw, tabi'in , dan tabiut tabi'in. Dan sahabat Nabi saw, tabi'in , dan tabiut tabi'in inilah yang digolongkan kedalam salafus Shaleh.

Nah, yang dimaksud dengan pemahaman sahabat Nabi saw, tabi'in , dan tabiut tabi'in inilah yang merupakan pemahaman yang didasarkan kepada hasil pemikiran Ibnu Taimiyah yang menyatakan bahwa mereka yang disebut sebagai Ahlu Sunnah Wal Jama'ah adalah karena mereka selalu mengikuti shari'ah dan jama'ah dan karena mereka menggalang persatuan meskipun mereka tidak bertemu sekalipun.

Persoalan sekarang yang timbul adalah, kelompok-kelompok lain yang telah digolongkan oleh para pengikut Syeikh Muhammad bin Abdul Wahhab ini yang bukan dan tidak masuk kedalam kelompok atau golongan Ahlu Sunnah Wal Jama'ah yang salafus shaleh, digolongkan kepada kelompok bid'ah, sesat dan lainnya. Nah, disinilah permasalahannya. Sehingga kita melihat bahwa para pengikut Syeikh Muhammad bin Abdul Wahhab dengan pemahaman Ahlu Sunnah Wal Jama'ah dan salafus-Shaleh-nya ini mendobrak kesana-sini. Tetapi mereka sendiri tidak berhasil menyapu bersih khurafat, bid'ah dan syirik ini. Lihat saja di Saudi Arabia, apakah mereka bisa berhasil menyapu syirik yang datang dari adanya ribuan pengaruh tentara Amerika dan keluarganya yang sampai sekarang menetap dan mengawasi di Saudi Arabia. Mereka bebas melakukan tradisi dan kebiasaannya sebagaimana kebiasaan mereka di Amerika. Mereka tentara Amerika ini tidak bisa dihancurkan bid'ah dan syiriknya, karena mereka telah melindungi Saudi Arabia dari gempuran Saddam Hussein.

Kemudian, kembali ke masalah waktu perjuangan Syaikh Muhammad bin Abdul Wahhab dan Amir Muhammad bin Saud menjalankan ekspansi politik wilayah Dar'iyah-nya.

Masalahnya, itu Syaikh Muhammad bin Abdul Wahhab telah terlibat masuk kedalam wadah perjuangan politik dan pemerintahan yang dikembangkan oleh Amir Muhammad bin Saud dari Dar'iyah. Jadi, itu Syaikh Muhammad bin Abdul Wahhab tidak lagi bisa keluar dari belenggu ikatan politik dan pemerintahan Amir Muhammad bin Saud. Sehingga ketika taktik dan strategi yang akan dijalankan oleh Amir Muhammad bin Saud itu harus juga disetujui oleh Syaikh Muhammad bin Abdul Wahhab. Karena kalau tidak, itu perjuangan politik dan pemerintahan Amir Muhammad bin Saud dario Dar'iyah ini tidak akan berjalan. Apalagi itu kekuatan pasukan Amir Muhammad bin Saud dari Dar'iyah ini adalah barisan muwahhidin atau ikhwan dengan gerakan wahhabiyah atau salafiyyahnya.

Kekuatan pasukan perang barisan muwahhidin atau ikhwan dengan gerakan wahhabiyah atau salafiyyahnya ini merupakan inti dari kekuatan militer Amir Muhammad bin Saud.

Karena itu, ketika Amir Muhammad bin Saud meluaskan wilayahnya keluar dari Dar'iyah, meluas ke Hejaz (Mekkah, Madinah, Jeddah) itu merupakan kebijaksanaan politik dan kekuasaan dari Amir Muhammad bin Saud yang dibantu oleh kekuatan militer barisan muwahhidin atau ikhwan dengan gerakan wahhabiyah atau salafiyyahnya yang diamini oleh Syaikh Muhammad bin Abdul Wahhab.

Kalau diteliti dan dipelajari sampai kedalam, itu perluasan wilayah atau penelanan wilayah Hejaz (Mekkah, Madinah, Jeddah) yang merupakan wilayah de-facto Khilafah Islamiyah Utsmaniyah, bukan karena didasarkan kepada alasan untuk memberantas kaum Sufi di Hejaz, melainkan merupakan suatu kebijaksanaan politik dan kekuasaan yang dilancarkan oleh Amir Muhammad bin Saud yang didukung dan disokong penuh oleh Syaikh Muhammad bin Abdul Wahhab.

Jadi, kalau ada yang menyatakan bahwa " kalau negara (Khilafah Islamiyah Utsmani) tidak mau melakukan nahi munkar, maka tampillah segolongan kelompok (Syaikh Muhammad bin Abdul Wahhab dan Amir Muhammad bin Saud) mengambil tugas itu". Jelas, itu pernyataan salah dan diputar balik. Mengapa ?

Karena kalau memang pihak Pemerintah Khilafah Islamiyah Utsmani tidak berhasil menghabiskan paham sufi, syirik, bid'ah dan khurafat, itu tidak berarti pihak Pemerintah Negara lain boleh ikut campur dan dengan alasan membasmi paham sufi, syirik, bid'ah dan klhurafat masuk ke wilayah de-facto Khilafah Islamiyah Utsmani, kemudian menduduki dan merampas wilayahnya. Ini jelas, melanggar hukum internasional dan perbuatan yang harus dikutuk.

Kalau mau jujur, bisa saja dari pihak Syaikh Muhammad bin Abdul Wahhab mengirimkan da'i-da'inya ke wilayah Khilafah Islamiyah Utsmani di Hejaz untuk memberikan dakhwah tentang pelurusan dan pemurnian tauhid. Bukan mengirimkan pasukan perang barisan muwahhidin atau ikhwan dengan gerakan wahhabiyah atau salafiyyahnya ke wilayah Khilafah Islamiyah Ustmani dan mendudukinya.

Sebenarnya usaha politik ekspansi perluasan wilayah Dar'iyah itu telah ditanamkan dan dijalankan dari sejak awal, ketika Amir Muhammad bin Saud berkuasa di Dar'iyah. Sehingga para anak, cucu, dan cicit dari Amir Muhammad bin Saud terus menjalankan kebijaksanaan pemerintahan yang telah dijalankan oleh Amir Muhammad bin Saud.

Jadi, para anak, cucu, dan cicit dari Amir Muhammad bin Saud yang didukung oleh para anak, cucu, dan cicik Syaikh Muhammad bin Abdul Wahhab adalah melanjutkan politik ekspansi dan pemerintahan Dar'iyah yang telah ditetapkan dan dijalankan oleh Amir Muhammad bin Saud.

Kemudian, keterlibatan Pemerintah Kerajaan Inggris adalah tidak terlepas dari kebijaksanaan Kerajaan Inggris untuk menghancurkan kekuatan Khilafah Islamiyah Utsmani. Dan ketika pihak Kerajaan Inggris mengetahui dan melihat pihak Abdul Aziz bin Abdul Rahman bin Faisal Al Saud yang bergelar Sultan Najd menjalankan taktik dan strategi penguasaan Hijaz, maka kesempatan baik bagi pihak Kerajaan Inggris untuk ikut terlibat didalamnya. Sehingga lahirlah Perjanjian Qatif atau Treaty of Qatif tanggal 26 Desember 1915 antara Sultan Najd Abdul Aziz bin Abdul Rahman bin Faisal Al Saud dengan pihak Kerajaan Inggris.

Nah, dengan adanya Perjanjian Qatif ini pihak Sultan Najd Abdul Aziz bin Abdul Rahman bin Faisal Al Saud berhasil mengalahkan Ibnu Rashid penguasa Provinsi Hejaz dalam Khilafah Islamiyah Utsmani pada tahun 1922, dan menumbangkan Amir Mekkah Hussain bin Ali al-Hashimi Amir tahun 1925, serta memproklamasikan berdirinya Kerajaan Saudi pada tanggal 23 September 1932 yang diakui secara langsung oleh Pemerintah Kerajaan Inggris.

Itu dengan ditandatanganinya Perjanjian Qatif pihak Abdul Aziz bin Abdul Rahman bin Faisal Al Saud berhasil menduduki Hijaz dan memproklamasikan Kerajaan Ibnu Saud atau Kerajaan Saudi Arabia. Sedangkan pihak Kerajaan Inggris gembira itu Khilafah Islamiyah Utsmani jatuh berantakan. Dan Palestina bisa dibagi dua untuk diberikan kepada pihak kaum Yahudi korban perang Dunia I dan Ke II di Jerman. Akibatnya terasa sampai detik sekarang ini. Masalah Palestina tidak selesai.

Jadi, sebenarnya penalanan dan pencaplokan Hejaz oleh pihak Abdul Aziz bin Abdul Rahman bin Faisal Al Saud bukan karena alasan pembasmian bid'ah, khurafat dan syirik, melainkan dengan alasan politik ekspansi dan kekuasaan yang ditunjang oleh barisan muwahhidin atau ikhwan dengan gerakan wahhabiyah atau salafiyyahnya dan dibantu oleh Kerajaan Inggris. Dimana Inggris mempunyai tujuan untuk membelah Khilafah Islamiyah Utsmani dan menghancurkannya memakai tangan Abdul Aziz bin Abdul Rahman bin Faisal Al Saud.

Terakhir, saudara Irul Khoiruddin menulis: "Dan sampai sekarang dinasti itu berlaku di Saudi Arabia, dan sudah mafhum di kalangan salafy bahwa tidak dibolehkan melakukan pemberontakan kepada penguasa, walaupun penguasa tersebut berkuasa tidak dengan dasar Islam, karena menurut mereka mudhorotnya lebih besar daripada manfaatnya. Kalau menurut pandangan ana, maka ini adalah usaha untuk terus mempertahankan kekuasaan keluarga kerajaan. Bagaimana menurut Bapak Ahmad Sudirman?"

Sebenarya, melakukan pemberontakan kepada pihak Raja Fahd bin Abdul Aziz atau Putra Mahkota Abdullah bin Abdul Aziz al Saud memang tidak dibenarkan, selama pihak Raja Fahd bin Abdul Aziz atau Putra Mahkota Abdullah bin Abdul Aziz al Saud tidak melakukan pelanggaran Islam dan pelanggaran terhadap konstitusi Kerajaan Saudi Arabia. Hanya, kalau pihak Raja melakukan penyimpangan dan penyelewengan dari sudut Islam, misalnya mabuk-mabuk, korupsi, berpoya-poya, menghabiskan uang kas Kerajaan seperti yang dilakukan oleh Raja Saud bin Abdul Aziz, maka Raja Saud bin Abdul Aziz diturunkan dan digantikan oleh Faisal bin Abdul Aziz pada tanggal 2 November 1964, dan Raja Saud bin Abdul Aziz diasingkan dan hidup di exil di Yunani.

Nah, persoalan sekarang adalah, kalau pihak ulama wahhabi atau salafi yang dimintakan fatwa oleh Raja Fahd bin Abdul Aziz atau Putra Mahkota Abdullah bin Abdul Aziz al Saud menyetujui kebijaksanaan politik dan pemerintahan Raja Fahd bin Abdul Aziz atau Putra Mahkota Abdullah bin Abdul Aziz al Saud, maka rakyat Saudi Arabia, harus menerimanya. Jadi, hak rakyat untuk melakukan kritik dan introspeksi dalam tubuh pemerintah Kerajaan Saudi Arabia memang tidak disuburkan dan tidak dibenarkan, setelah para ulama yang dimintakan fatwanya menyetujui kebijaksanaan Raja Fahd bin Abdul Aziz atau Putra Mahkota Abdullah bin Abdul Aziz al Saud. Walaupun ada Majelis Shura, tetapi itu anggota Majelis Shura hanya membeo saja, apalagi anggotanya yang 120 orang itu, dimana Ketua Majelis Shura diangkat oleh Raja, sedangkan baru bulan November 2004 dilakukan perubahan dengan memilih 40 anggota Majelis Shura melalui pemilihan, selebihnya, 80 anggota diangkat oleh Raja. Jadi, itu anggota Majelis Syura kebanyakan seperti burung beo saja. Suara nyaring melagukan lagu Raja Fahd bin Abdul Aziz atau Putra Mahkota Abdullah bin Abdul Aziz al Saud.

Bagi yang ada minat untuk menanggapi silahkan tujukan atau cc kan kepada ahmad@dataphone.se agar supaya sampai kepada saya dan bagi yang ada waktu untuk membaca tulisan-tulisan saya yang telah lalu yang menyinggung tentang Khilafah Islam dan Undang Undang Madinah silahkan lihat di kumpulan artikel di HP http://www.dataphone.se/~ahmad

Hanya kepada Allah kita memohon pertolongan dan hanya kepada Allah kita memohon petunjuk, amin *.*

Wassalam.

Ahmad Sudirman

http://www.dataphone.se/~ahmad
www.ahmad-sudirman.com
ahmad@dataphone.se
---------

Date: Tue, 15 Mar 2005 12:34:27 +0700
To: ahmad@dataphone.se, mohd_alkhori@qatar.net.qa, irul51606@svsi.sanyo.co.id, Rasjid Prawiranegara <rasjid@bi.go.id>, ahmad@dataphone.se, imarrahad@eramuslim.com, JKamrasyid@aol.com, hadifm@cbn.net.id
From: Irul Khoiruddin irul51606@svsi.sanyo.co.id
Subject: Re: KHOIRUDDIN, ITU KAUM WAHHABI ATAU SALAFI DI SAUDI BELUMTENTU KAUM YANG SELAMAT

Assalaamu'alaykum warohmatulloohi wabarokaatuh

Terimakasih atas penjelasan historikal yang detail sekali dari Bapak Ahmad Sudirman tentang kaum Wahabi atau Salafy dalam menanggapi tulisan dari Syaikh Abul Hasan Musthafa As-Sulaimani tentang Bolehkah Mengambil Kebaikan Setiap Firqah

Dari penjelasan Bapak, timbul kembali beberapa hal yang muncul sehingga ana mohon penjelasan selanjutnya dari Bapak.

Pertama, menurut Bapak Ahmad Sudirman, ide pemikiran Syaikh Muhammad bin Abdul Wahhab mengarah kepada perbaikan ketauhidan dan pembaharuan ketauhidan yang didasarkan kepada : 1.Al-Qur'an. 2.Sunnah shahih (hadits Rasulullah saw yang shahih). 3.Al-Qur'an dan Sunnah yang dipahami menurut pemahaman sahabat Nabi saw, tabi'in , dan tabiut tabi'in.

Sampai kepada ketiga buah poin di atas, menurut ana, ajaran Syaikh Muhammad bin Abdul Wahhab adalah ajaran menuju kemurnian Islam yang mungkin telah dirusak oleh pemikiran sejumlah kalangan yang tidak berdasar kepada ketiga poin tersebut, apalagi pada jaman sekarang yang lebih jauh lagi jaraknya dari kehidupan Tabiut tabiin dibandingkan pada jaman Syaikh Muhammad bin Abdul Wahhab. Bagaimana menurut Bapak?

Kedua, berdasarkan sejarah yang Bapak paparkan, yaitu "Melihat dari provinsi-provinsi yang berada dibawah kekuasaan Khilafah Islamiyah Utsmani, itu provinsi Hejaz (Mekkah, Madinah, Jeddah) berada dibawah kekuasaan de-jure dan de-facto Khilafah Islamiyah Utsmani. Dan provinsi Hejaz (Mekkah, Madinah, Jeddah) inilah yang direbut dan diduduki oleh Amir Muhammad bin Saud dari Dar'iyah yang disokong penuh oleh Syaikh Muhammad bin Abdul Wahab dengan barisan muwahhidinnya, gerakan salafiyyahnya atau gerakan wahhabiyahnya, dan yang juga dibantu oleh pemerintah kerajaan kafir Inggris. Celakanya itu barisan muwahhidinnya dengan gerakan salafiyyahnya atau gerakan wahhabiyahnya untuk menyerang dan menduduki Hejaz (Mekkah, Madinah, Jeddah) justru memakai alasan untuk membasmi kaum Sufi yang dituduh melakukan kebid'ahan." (Ahmad Sudirman, 14 Maret 2005)

Yang ana tangkap disini adalah, dengan alasan membasmi kaum Sufi, yang menurut Syaikh Muhammad bin Abdul Wahhab bahwa Sufi itu adalah musuh ketauhidan (bid'ah), maka dilakukanlah ekspansi untuk merebut provinsi Hejaz, yang saat itu dibawah kekuasaan de-jure dan de-facto khilafah Islamiyah Utsmani. Namun apakah pada saat itu Negara Khilafah Islamiyah Utsmani tidak menegur atau 'memberantas' kaum Sufi di Hejaz, sehingga Syaikh Muhammad bin Abdul Wahhab beserta Amir Muhammad bin Saud mengambil langkah dalam usaha 'memerdekakan' provinsi Hejaz dari kaum Sufi yang notabene menurut mereka adalah bid'ah atau perusak kemurnian tauhid? Jadi, kalau negara tidak mau melakukan nahi munkar, maka tampillah segolongan kelompok mengambil tugas itu?

Ketiga, apakah pemanfaatan oleh Abdullah bin Saud, Turki bin Abdullah, Faisal bin Turki bin Abdullah Al Saud, Abdul Rahman bin Faisal, Abdul Aziz bin Abdul Rahman Al Saud itu adalah usaha diluar kontrol Syaikh Muhammad bin Abdul Wahhab beserta Amir Muhammad bin Saud? Sehingga dimulailah dinasti kerajaan Ibnu Saud, (karena dari awal pembentukan negara tersebut bukan berdasarkan usaha syar'i dimana dimanfaatkan pula oleh Inggris dan tokoh-tokoh tersebut di atas). Atau dengan kata lain, usaha pemberantasan bid'ah tadi ditunggangi oleh pihak ketiga yang ingin menghancurkan Negara Khilafah Ustmani.

Dan sampai sekarang dinasti itu berlaku di Saudi Arabia, dan sudah mafhum di kalangan salafy bahwa tidak dibolehkan melakukan pemberontakan kepada penguasa, walaupun penguasa tersebut berkuasa tidak dengan dasar Islam, karena menurut mereka mudhorotnya lebih besar daripada manfaatnya. Kalau menurut pandangan ana, maka ini adalah usaha untuk terus mempertahankan kekuasaan keluarga kerajaan. Bagaimana menurut Bapak Ahmad Sudirman?

Untuk sementara demikian dulu pertanyaan awal ana.

Jazakumulloohi khoiron katsiiro

Wassalaamu'alaykum

Irul Khoiruddin

irul51606@svsi.sanyo.co.id
Cimanggis, Depok, Jawa Barat
----------