Stockholm, 17 Maret 2005

Bismillaahirrahmaanirrahiim.
Assalamu'alaikum wr wbr.
 

SAFWAN, ITU SOAL IBNU TAIMIYAH & PENJARA, HULAGU KHAN & TIMURLENK JUGA TAKFIR
Ahmad Sudirman
Stockholm - SWEDIA.

 

SAFWAN HAMID, ITU SOAL IBNU TAIMIYAH & PENJARA PADA MASA KHALIFAH ABBASIYAH, HULAGU KHAN & TIMURLENK JUGA TAKFIR

"Baiklah sdr Ahmad Sudirman saya memang keliru menyebut jihad Ibnu Taimiyah melawan tentara Inggris, tapi yang saya maksudkan adalah jihad beliau melawan tentara kufr Tartar Mongolia. Bagian sejarah ini sengaja anda sembunyikan dan menonjolkan fakta bahwa Ibnu Taiyimiah keluar masuk penjara tanpa menyebut latar belakang beliau secara lengkap. Dan sungguh saya tidak mengganggap kafir khalifah masa itu, yg saya maksud adalah penjajah Tartar Mongol. Anda hendaknya berhati-hati dalam membaca message. Dan tidak seperti anda yang mengkafirkan pemimpin-pemimpian Indonesia, yang jelas2 adalah muslim, mengucapkan kalimat syahadat, shalat, zakat, puasa. Siapa yg menuduh kafir seorang muslim maka itu akan kembali kepada dirinya." (Safwan A Hamid , owan02@yahoo.com , Wed, 16 Mar 2005 21:31:08 -0800 (PST))

Baiklah saudara Safwan A Hamid di Nusa Tenggara Barat.

Ketika Ahmad Sudirman "menyinggung perbedaan paham antara Ibnu Taimiyah dengan pihak Khalifah Abbasiyah di Kairo, Mesir dan juga Penguasa di Syria atau Syam, tentang masalah tauhid, tasawwuf Ittihadiyah yang menyatakan bahawa Allah boleh hulul dalam tubuh makhluk, berziarah ke Masjid diatas kuburan keramat, memberantas syirik, bid'ah. Kemudian pada waktu itu kekuasaan Khilafah dan pengaruh Khalifah yang dominan dalam masyarakat i Mesir dan Syria, sehingga kalau ada yang menyimpang dalam pemahamannya, bisa dimasukkan kedalam penjara, seperti yang menimpa kepada Ibnu Taimiyah ini." (Ahmad Sudirman, 16 Maret 2005)

Pernyataan tersebut jelas menggambarkan selintas adanya perbedaan paham antara Ibnu Taimiyah dengan pihak Khalifah, terutama dalam hal masalah tauhid mengenai paham tasawwuf Ittihadiyah yang menyatakan bahawa Allah boleh hulul dalam tubuh makhluk. Juga mengenai masalah pelurusan tauhid. Adanya perbedaan paham itulah yang menyebabkan Ibnu Taimiyah beberapa kali masuk dan keluar penjara, baik di Syam atau di Aleksandria, Mesir.

Ketika pasukan Hulagu Khan cucunya Genghis Khan datang menginvasi Irak, dihancurkanlah kota Baghdad sehancur-hancurnya, puluhan ribu rakyat dibunuh, pada tanggal 28 Februari 1258. Khalifah yang berkuasa di Baghdad waktu itu adalah Khalifah Al-Musta'sim (1242 - 1258). Kemudian kekuasaan Khilafah Islamiyah Abbasiyah dipindahkan ke Kairo, mesir pada tahun 1258. Ketika Kahalifah Al-Mustakfi I berkuasa (1302-1340) diminta Ibnu Taimiyah pada tahun 1313 untuk memimpin perang ke Syam guna menghadapi pasukan Mongol yang selepas Hulagu Khan diteruskan oleh Timurlenk yang lebih kejam dari pada Hulagu Khan sampai Timurlenk meninggal pada tahun 1405.

Jadi sebenarnya di masukkannya Ibnu Taimiyah kedalam penjara, tanpa memandang jasa-jasa Ibnu Taimiyah yang telah ikut memimpin perang melawan pasukan Timurlenk, melainkan karena adanya perbedaan paham antara pihak Khalifah dan Ibnu Taimiyah, terutama dalam hal pelurusan tauhid dan masalah tasawwuf Ittihadiyah.

Terakhir, menyinggung saudara Safwan yang mengatakan: "Dan tidak seperti anda yang mengkafirkan pemimpin-pemimpian indonesia, yang jelas2 adalah muslim, mengucapkan kalimat syahadat, shalat, zakat, puasa. Siapa yg menuduh kafir seorang muslim maka itu akan kembali kepada dirinya"

Nah, disini perlu diluruskan pernyataan saudara Safwan ini. Mengapa ?

Karena, Ahmad Sudirman tidak pernah mengkafirkan. Yang pernah ditulis Ahmad Sudirman yang menyangkut Negara RI adalah negara yang dasar dan sumber hukum negaranya tidak mengacu kepada Islam, maka negara itu disebut negara kafir. Contohnya seperti Negara kafir RI. Kerajaan kafir Swedia. Kerajaan kafir Inggris. Negara Federasi kafir Amerika.

Sekarang untuk mengetahui apakah kafir para pelaksana lembaga negara itu, maka semuanya harus dikembalikan kepada dasar hukum yang diturunkan Allah SWT. Karena manusia tidak mempunyai hak untuk menjatuhkan vonis atau hukuman kafir kepada seseorang.

Dimana dihubungkan dengan dasar hukum QS, At-Taubah, 9: 115: "Dan Allah sekali-kali tidak akan menyesatkan suatu kaum, sesudah Allah memberi petunjuk kepada mereka sehingga dijelaskan-Nya kepada mereka apa yang harus mereka jauhi. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui segala sesuatu." (QS, At-Taubah, 9: 115).

Dimana seseorang sesat berhubung keingkarannya dan tidak mau memahami petunjuk-petunjuk Allah. Karena itu seseorang tidak akan diazab oleh Allah karena kesesatannya, kecuali jika orang tersebut melanggar perintah-perintah yang telah diturunkan-Nya.

Kemudian dihubungkan juga dengan dasar hukum QS, Al-Isra, 17: 15 "Barangsiapa yang berbuat sesuai dengan hidayah (Allah), maka sesungguhnya dia berbuat itu untuk (keselamatan) dirinya sendiri; dan barangsiapa yang sesat maka sesungguhnya dia tersesat bagi (kerugian) dirinya sendiri. Dan seorang yang berdosa tidak dapat memikul dosa orang lain, dan Kami tidak akan meng'azab sebelum Kami mengutus seorang rasul." (QS, Al-Isra, 17: 15).

Nah dari dua dasar hukum diatas itu, yakni QS, At-Taubah, 9: 115 dan QS, Al-Isra, 17: 15 ternyata jatuhnya azab, dimana azab Allah ini sebagai balasan akibat perbuatan sesat karena melanggar perintah-perintah yang telah diturunkan Allah SWT, terhadap seseorang apabila orang tersebut melanggar perintah-perintah yang telah diturunkan-Nya dan setelah diutus Rasul-Nya. Artinya, Allah SWT tidak akan mengazab seseorang sebelum diutus Rasul-Nya.

Sekarang, kita hubungkan dengan dasar hukum Al-Maidah: 44. Dimana menurut bunyi dasar hukum Al-Maidah: 44 itu adalah: "Sesungguhnya Kami telah menurunkan Kitab Taurat di dalamnya (ada) petunjuk dan cahaya (yang menerangi), yang dengan Kitab itu diputuskan perkara orang-orang Yahudi oleh nabi-nabi yang menyerah diri kepada Allah, oleh orang-orang alim mereka dan pendeta-pendeta mereka, disebabkan mereka diperintahkan memelihara kitab-kitab Allah dan mereka menjadi saksi terhadapnya. Karena itu janganlah kamu takut kepada manusia, (tetapi) takutlah kepada-Ku. Dan janganlah kamu menukar ayat-ayat-Ku dengan harga yang sedikit. Barangsiapa yang tidak memutuskan menurut apa yang diturunkan Allah, maka mereka itu adalah orang-orang yang kafir. (QS, Al-Maidah: 44)

Kalau kita gali isi kandungan dasar hukum Al-Maidah: 44 ini ternyata memberikan gambaran kepada kita bahwa akan dikenakan Azab Allah SWT terhadap seseorang yang melanggar perintah-perintah yang telah diturunkan-Nya (QS, At-Taubah, 9: 115) dan setelah diutus Rasul-Nya Muhammad saw (QS, Al-Isra, 17: 15)

Kemudian isi kandungan dasar hukum Al-Maidah: 44 ini adalah yang menyangkut kepada aqidah atau kepercayaan seseorang terhadap dasar hukum yang diturunkan Allah SWT atau Syariat Islam dalam penegakkan, pelaksanaan, dan penerapannya dalam kehidupan individu, keluarga, masyarakat, pemerintah dan negara.

Nah, berdasarkan pada isi dasar hukum Al-Maidah: 44 ini menunjukkan bahwa "Barangsiapa yang tidak memutuskan menurut apa yang diturunkan Allah, maka mereka itu adalah orang-orang yang kafir"

Jatuhnya vonis kafir terhadap seseorang ini adalah didasarkan kepada aqidah atau kepercayaan seseorang terhadap dasar hukum yang diturunkan Allah SWT atau Syariat Islam dalam penegakkan, pelaksanaan, dan penerapannya dalam kehidupan individu, keluarga, masyarakat, pemerintah dan negara.

Sekarang, aplikasi dari dasar hukum Al-Maidah: 44 ini didasarkan pada pernyataan: "Barangsiapa berhukum dengan selain hukum Allah maka tidak keluar dari empat keadaan: Pertama, seseorang yang mengatakan: "Aku berhukum dengan hukum ini, karena ia lebih utama dari syariat Islam," maka dia kafir dengan kekafiran yang besar.

Kedua, seseorang yang mengatakan: "Aku berhukum dengan hukum ini, karena ia sama (sederajat) dengan syariat Islam, sehingga boleh berhukum dengannya dan boleh juga berhukum dengan syariat Islam," maka dia kafir dengan kekafiran yang besar.

Ketiga, seseorang yang mengatakan: "Aku berhukum dengan hukum ini namun berhukum dengan syariat Islam lebih utama, akan tetapi boleh-boleh saja untuk berhukum dengan selain hukum Allah," maka ia kafir dengan kekafiran yang besar.

Keempat, seseorang yang mengatakan: "Aku berhukum dengan hukum ini," namun dia dalam keadaan yakin bahwa berhukum dengan selain hukum Allah tidak diperbolehkan. Dia juga mengatakan bahwa berhukum dengan syariat Islam lebih utama dan tidak boleh berhukum dengan selainnya. Tetapi dia seorang yang bermudah-mudahan (dalam masalah ini) atau dia kerjakan karena perintah dari atasannya, maka dia kafir dengan kekafiran yang kecil, yang tidak mengeluarkannya dari keislaman dan teranggap sebagai dosa besar.

Empat pernyataan diatas ini memang dilontarkan oleh tokoh wahhabi atau salafi yang dalam hal ini Ahmad Sudirman setuju atas pendapatnya dan perlu ditampilkan di mimbar bebas ini, yaitu Asy-Syaikh Abdul 'Aziz bin Baz ddalam kitabnya Al-Hukmu Bighairima'anzalallahu wa Ushulut Takfir, hal. 71-72, yang dinukil dari At-Tahdzir Minattasarru' Fittakfir, karya Muhammad bin Nashir Al-Uraini hal. 21-22

Sekarang, sedikit jelas dalam memahami bagaimana proses jatuhnya vonis kafir terhadap seseorang tersebut, setelah kita membuka jalur yang menuju kepada timbulnya atau ketetapan jatuhnya hukuman atau vonis kafir terhadap seseorang.

Nah kita buka sedikit. Kemudian kita ambil contoh nama-nama pemimpin-pemimpian Indonesia, seperti Susilo Bambang Yudhoyono, Megawati, Abdurrahman Wahid, BJ Habibie, Soeharto, lalu kita lihat dan hubungkan dengan dasar hukum QS, At-Taubah, 9: 115; QS, Al-Isra, 17: 15; Al-Maidah: 44.

Kita perhatikan, Pertama apabila Susilo Bambang Yudhoyono, Megawati, Abdurrahman Wahid, BJ Habibie, Soeharto menyatakan bahwa berhukum dengan KUHP, KUHPerdata, Keppers, Inspres, Perppu, PP, Undang-Undang, UUD 1945, karena KUHP, KUHPerdata, Keppers, Inspres, Perppu, PP, Undang-Undang, UUD 1945 itu lebih utama dari syariat Islam, maka Susilo Bambang Yudhoyono, Megawati, Abdurrahman Wahid, BJ Habibie, Soeharto itu kafir dengan kekafiran yang besar.

Kedua, apabila Susilo Bambang Yudhoyono, Megawati, Abdurrahman Wahid, BJ Habibie, Soeharto menyatakan bahwa berhukum dengan KUHP, KUHPerdata, Keppers, Inspres, Perppu, PP, Undang-Undang, UUD 1945, karena KUHP, KUHPerdata, Keppers, Inspres, Perppu, PP, Undang-Undang, UUD 1945 itu sama (sederajat) dengan syariat Islam, sehingga boleh berhukum dengannya dan boleh juga berhukum dengan syariat Islam, maka Susilo Bambang Yudhoyono, Megawati, Abdurrahman Wahid, BJ Habibie, Soeharto itu kafir dengan kekafiran yang besar.

Ketiga, apabila Susilo Bambang Yudhoyono, Megawati, Abdurrahman Wahid, BJ Habibie, Soeharto menyatakan bahwa berhukum dengan KUHP, KUHPerdata, Keppers, Inspres, Perppu, PP, Undang-Undang, UUD 1945, namun berhukum dengan syariat Islam lebih utama, akan tetapi boleh-boleh saja untuk berhukum dengan selain hukum Allah, maka Susilo Bambang Yudhoyono, Megawati, Abdurrahman Wahid, BJ Habibie, Soeharto itu kafir dengan kekafiran yang besar.

Keempat, apabila Susilo Bambang Yudhoyono, Megawati, Abdurrahman Wahid, BJ Habibie, Soeharto menyatakan bahwa berhukum dengan KUHP, KUHPerdata, Keppers, Inspres, Perppu, PP, Undang-Undang, UUD 1945, namun Susilo Bambang Yudhoyono, Megawati, Abdurrahman Wahid, BJ Habibie, Soeharto dalam keadaan yakin bahwa berhukum dengan selain hukum Allah tidak diperbolehkan. Dan Susilo Bambang Yudhoyono, Megawati, Abdurrahman Wahid, BJ Habibie, Soeharto juga mengatakan bahwa berhukum dengan syariat Islam lebih utama dan tidak boleh berhukum dengan selainnya. Tetapi Susilo Bambang Yudhoyono, Megawati, Abdurrahman Wahid, BJ Habibie, Soeharto yang bermudah-mudahan (dalam masalah ini) atau Susilo Bambang Yudhoyono, Megawati, Abdurrahman Wahid, BJ Habibie, Soeharto kerjakan karena perintah dari atasannya, maka Susilo Bambang Yudhoyono, Megawati, Abdurrahman Wahid, BJ Habibie, Soeharto kafir dengan kekafiran yang kecil, yang tidak mengeluarkannya dari keislaman dan teranggap sebagai dosa besar.

Nah itulah yang telah diterangkan dan dijelaskan oleh Ahmad Sudirman di mimbar bebas ini

Jadi saudara Safwan Hamid, bukan Ahmad Sudirman yang menjatuhkan vonis kafir bagi pemimpin-pemimpin Indonesia, melainkan dasar dan sumber hukum yang datang dari Allah SWT yang menyatakan dan menerangkan jatuhnya vonis kafir itu.

Bagi yang ada minat untuk menanggapi silahkan tujukan atau cc kan kepada ahmad@dataphone.se agar supaya sampai kepada saya dan bagi yang ada waktu untuk membaca tulisan-tulisan saya yang telah lalu yang menyinggung tentang Khilafah Islam dan Undang Undang Madinah silahkan lihat di kumpulan artikel di HP http://www.dataphone.se/~ahmad

Hanya kepada Allah kita memohon pertolongan dan hanya kepada Allah kita memohon petunjuk, amin *.*

Wassalam.

Ahmad Sudirman

http://www.dataphone.se/~ahmad
www.ahmad-sudirman.com
ahmad@dataphone.se
---------

Date: Wed, 16 Mar 2005 21:31:08 -0800 (PST)
From: Safoan A Hamid owan02@yahoo.com
Subject: Jihad Ibnu Taimiyah melawan tentara kufr TARTAR (MONGOL)
To: Ahmad Sudirman <ahmad@dataphone.se>, Al Chaidar <alchaidar@yahoo.com>, silver_cat@plasa.com, mohd_alkhori@qatar.net.qa, bimo_tejokusumo@yahoo.co.uk, Enny.Martono@hm.com, tgk_maat@yahoo.co.uk, inongbale_aceh@yahoo.com, mbzr00@yahoo.com, webmaster@detik.com, redaksi@gatra.com, surat@gatra.com, yuhe1st@yahoo.com, newsletter@waspada.co.id, waspada@waspada.co.id, suparmo@tjp.toshiba.co.jp, solopos@bumi.net.id, serambi_indonesia@yahoo.com, sea@swipnet.se, redaksi@waspada.co.id, redaksi@satunet.com, redaksi@kompas.com, editor@pontianak.wasantara.net.id, Padmanaba@uboot.com, editor@jawapos.co.id, Matius Dharminta <mr_dharminta@yahoo.com>, kompas <kompas@kompas.com>, jktpost2 jktpost2@cbn.net.id

Assalamualikum wr wb

Baiklah sdr Ahmad Sudirman saya memang keliru menyebut jihad Ibnu Taimiyah melawan tentara Inggris, tapi yang saya maksudkan adalah JIHAD beliau melawan tentara kufr TARTAR MONGOLIA. Bagian sejarah ini sengaja anda sembunyikan dan menonjolkan fakta bahwa Ibnu Taiyimiah keluar masuk penjara tanpa menyebut latar belakang beliau secara lengkap. Dan sungguh saya tidak mengganggap kafir khalifah masa itu, yg saya maksud
adalah penjajah TARTAR MONGOL. Anda hendaknya berhati-hati dalam membaca message. Dan tidak seperti anda yang mengkafirkan pemimpin-pemimpian indonesia, yang jelas2 adalah muslim, mengucapkan kalimat syahadat, shalat, zakat, puasa. Siapa yg menuduh kafir seorang muslim maka itu akan kembali kepada dirinya.

Berikut sepenggal biografy syeikhul islam berkenaan dengan jihad beliau melawan tentara kafir dengan sumber terpercaya (bukan orientalis ataupun encyclopedia barat).

Safwan A Hamid

owan02@yahoo.com
Nusa Tenggara Barat
----------

Dinukil dari buku: Ibnu Taimiyah, Bathal Al-Islah Ad-Diny. Mahmud Mahdi
Al-Istambuli, cet II 1397 H/1977 M. Maktabah Dar-Al-Ma'rifah-Dimasyq. hal.Depan

DA'I, MUJAHID, PEMBASMI BID'AH DAN PEMUSNAH MUSUH

Sejarah telah mencatat bahwa bukan saja Ibnu Taimiyahsebagai da'i yang tabah, liat, wara', zuhud dan ahli ibadah, tetapi beliau juga seorang pemberani yang ahli berkuda. Beliau adalah pembela tiap jengkal tanah umat Islam dari kedzaliman musuh dengan pedannya, seperti
halnya beliau adalah pembela aqidah umat dengan lidah dan penanya.

Dengan berani Ibnu Taimiyah berteriak memberikan komando kepada umat Islam untuk bangkit melawan serbuan tentara Tartar ketika menyerang Syam dan sekitarnya. Beliau sendiri bergabung dengan mereka dalam kancah pertempuran. Sampai ada salah seorang amir yang mempunyai diin yang baik dan benar, memberikan kesaksiannya: "...... tiba-tiba (ditengah kancah pertempuran) terlihat dia bersama saudaranya berteriak keras memberikan
komando untuk menyerbu dan memberikan peringatan keras supaya tidak lari ..." Akhirnya dengan izin Allah Ta'ala, pasukan Tartar berhasil dihancurkan, maka selamatlah negeri Syam, Palestina, Mesir dan Hijaz.

Tetapi karena ketegaran, keberanian dan kelantangan beliau dalam mengajak kepada al-haq, akhirnya justru membakar kedengkian serta kebencian para penguasa, para ulama dan orang-orang yang tidak senang kepada beliau. Kaum munafiqun dan kaum lacut kemudian meniupkan racun-racun fitnah hingga karenanya beliau harus mengalami berbagai tekanan di
pejara, dibuang, diasingkan dan disiksa.

KEHIDUPAN PENJARA

Hembusan-hembusan fitnah yang ditiupkan kaum munafiqin serta antek-anteknya yang mengakibatkan beliau mengalami tekanan berat dalam berbagai penjara, justru dihadapi dengan tabah, tenang dan gembira. Terakhir beliau harus masuk ke penjara Qal'ah di
Dimasyq. Dan beliau berkata: "Sesungguhnya aku menunggu saat seperti ini, karena di dalamnya terdapat kebaikan besar."

Dalam syairnya yang terkenal beliau juga berkata:
"Apakah yang diperbuat musuh padaku !!!!
Aku, taman dan dikebunku ada dalam dadaku
Kemanapun ku pergi, ia selalu bersamaku
dan tiada pernah tinggalkan aku.
Aku, terpenjaraku adalah khalwat
Kematianku adalah mati syahid
Terusirku dari negeriku adalah rekreasi.

Beliau pernah berkata dalam penjara: "Orang dipenjara ialah orang yang terpenjara hatinya dari Rabbnya, orang yang tertawan ialah orang yang ditawan orang oleh hawa nafsunya."

Ternyata penjara baginya tidak menghalangi kejernihan fitrah islahiyah-nya, tidak menghalanginya untuk berdakwah dan menulis buku-buku tentang aqidah, tafsir dan kitab-kitab bantahan terhadap ahli-ahli bid'ah.

Pengagum-pengagum beliau diluar penjara semakin banyak. Sementara di dalam penjara, banyak penghuninya yang menjadi murid beliau, diajarkannya oleh beliau agar mereka iltizam kepada syari'at Allah, selalu beristighfar, tasbih, berdoa dan melakukan amalan-amalan shahih. Sehingga suasana penjara menjadi ramai dengan suasana beribadah kepada
Allah. Bahkan dikisahkan banyak penghuni penjara yang sudah mendapat hak bebas, ingin
tetap tinggal di penjara bersamanya. Akhirnya penjara menjadi penuh dengan orang-orang yang mengaji.

Tetapi kenyataan ini menjadikan musuh-musuh beliau dari kalangan munafiqin serta ahlul bid'ah semakin dengki dan marah. Maka mereka terus berupaya agar penguasa memindahkan beliau dari satu penjara ke penjara yang lain. Tetapi inipun menjadikan beliau semakin terkenal. Pada akhirnya mereka menuntut kepada pemerintah agar beliau dibunuh, tetapi
pemerintah tidak mendengar tuntutan mereka. Pemerintah hanya mengeluarkan surat keputusan untuk merampas semua peralatan tulis, tinta dan kertas-kertas dari tangan
Ibnu Taimiyah.

Namun beliau tetap berusaha menulis di tempat-tempat yang memungkinkan dengan arang. Beliau tulis surat-surat dan buku-buku dengan arang kepada sahabat dan murid-muridnya. Semua itu menunjukkan betapa hebatnya tantangan yang dihadapi, sampai kebebasan berfikir dan menulis pun dibatasi. Ini sekaligus menunjukkan betapa sabar dan tabahnya beliau.

Semoga Allah merahmati, meridhai dan memasukkan Ibnu Taimiyah dan kita sekalian ke dalam surganya.
----------