Stavanger, 19 Maret 2005

Bismillaahirrahmaanirrahiim.
Assalamu'alaikum wr wbr.
 

ACHEH TIDAK PERNAH MEMPUNYAI HUBUNGAN SEJARAH KETATANEGARAAN DENGAN INDONESIA JAWA
Omar Puteh
Stavanger - NORWEGIA.

 

BERDASARKAN FAKTA DAN BUKTI MENYATAKAN BAHWA ACHEH TIDAK PERNAH MEMPUNYAI HUBUNGAN SEJARAH KETATANEGARAAN DENGAN INDONESIA JAWA.

1. Telah tercatat dalam sejarah bahwa, kapal dagang saudagar-saudagar Acheh memasuki Pulau Jawa, pada tahun 1030 (262 tahun sebelum wujudnya Kerajaan Majapahit), untuk menjual batu-batu nisan hasil budayanya, bersambilan dengan misi lain mereka meng-Islamkan Jawa itu sendiri.

Catatan sejarah kuno atau purba dari bangsa Acheh terhadap perdagangan batu nisan itu, sama sekali terbaca, sebagai tidak mempunyai hubungan sebarang elemen strukturil sejarah ketatanegaraan Acheh dengan Jawa, kecuali dipandang dan disifatkan sebagai hubungan insidentil perdagangan dan kebudayaan semata-mata. Sebagaimana telah dipahamkan, bahwa sememangnya dengan batu-batu nisan itulah saudagar-saudagar Acheh meng-Islamkan Jawa-Hindu ketika itu.

Diantara salah satu dari batu-batu nisan itu, kemudian selamat ditemui pada tahun 1211 di Demak. Lucunya dari beberapa buah buku sejarah Penjajah Indonesia Jawa, tahun 1211 itu, dikatakan dan diceritakan pula sebagai tahun pertama sejarah kemasukkan Islam ke "Indonesia"?

Disini, dari keterangan diatas, terlihat perbedaan unik metoda pedagogis magis? (hanya dengan relief batu nisan) yang diapplikasikan oleh saudagar-saudagar Acheh dengan kehendak meng-Islam-kan Jawa-Hindu ketika itu, dibandingkan dengan metoda pedagogis shadowis (wayang kulit), yang diadoptasi oleh Pak Dalang Malik Maulana Ibrahim, ketika mengupgradingkan Islam Jawa Abangannya, yaitu ratusan tahun setelah Jawa-Hindu itu "dibatunisankan" oleh saudagar-saudagar Acheh.

Nah, itulah "misi" saudagar-saudagar Acheh! Dan itulah pula "misi" batu-batu nisan dagangan saudagar-saudagar Acheh itu!

Disinipun kita lihat, walaupun Penjajah Indonesia Jawa, yang telah mengetahui sejak awal, bahwa warganegara Kerajaan Peureulak, Darul 'Akla, Acheh telah menerima syari'ah Islam sejak tahun 700, jauh sebelum cerita Mpu Sendok-Jawa ditulis dalam lembaran sastra Jawa, namun sejarah itu, disembunyikan oleh Penjajah Indonesia Jawa, malahan direkayasanya pula, dalam bentuk cerita lain.

Memang Acheh itu bukan Indonesia! Dan sememangnya Jawa itu adalah Indonesia! Mereka sebenarnya telah mengakui bahwa Peureulak, Darul 'Akla, Acheh itu adalah Acheh, sedangkan Demak, Indonesia itu adalah Jawa!

Ini untuk menjadi catatan kepada Permadi PDI-P anggota Komisi I DPR Penjajah Indonesia Jawa, bahwa Acheh bukan Indonesia Jawa! Kecuali si Sofyan Djalil, yang bengok itu, yang baru saja dilantik oleh Penjajah Indonesia Jawa sebagai Menteri Komunikasi dan Informasi, yang berasal dari Peureulak, Darul 'Akla, Acheh juga, tetapi telah menyatakan dirinya sebagai Indonesia Jawa etnis Acheh Mojokertonis-Solois!

Untuk uraian masalah batu-batu nisan Acheh ke Jawa dan cerita rujak sambalnya, nampaknya sudah cukup dan memadai untuk diterangkan bahwa ianya tidak mempunyai hubungan unilateral atau bilateral ketatanegaraan apapun antara Acheh dengan Jawa.

2. Begitu juga dengan "misi" Fathahillah dari Pasee, Acheh, yang kemudian dikenal sebagai Sunan Gunung Jati, salah seorang diantara Wali Songo orang Jawa yang dipuja-sembah oleh Islam-Jawa Abangan. Dan "misi" anak-cucu Fathahillah (Sunan Gunung Jati): Sultan Yusuf menjadi Raja Sunda dan Sultan Hasanuddin menjadi Raja Banten. Misi inipun tidak mempunyai sebarang hubungan strukturil ketatanegaraan antara Acheh dengan Jawa atau Indonesia!

3. Atau begitu juga dengan rekayasa "misi" dongengan sejarah Majapahit menyerang Kerajaan Teumiang, Acheh, yang kemudian diceritakan kesemua tentara Majapahit itu sendiri, dihancurkan dan sekaligus Perdana Menterinya Gajah Mada mati dibunuh oleh tentara Kerajaan Benoa, Temiang, Acheh, yang diserang itu. Kalau benar Gajah mati dibunuh di Benoa, Teumiang, Acheh, maka secara kebetulan tahun kematiannya bertepatan dengan tahun yang sama, tahun kunjungan pertama Ibnu Bathutah ke Acheh pada tahun 1364.

Timbul pertanyaan bagaimanakah ketahanan fisik Gajah Mada, yang dikatakan pada tahun penyerangan atas Kerajaan Benoa, Teumiang, Acheh itu umurnya sudah mencecah 90 tahun, (mengikut umurnya pada tahun dia menumpas gerombolan Ranggalawe Cs), dan tidakkah ia mengalami mabuk laut termuntah-muntah dengan perahu kecilnya, berlayar dari Delta sungai Brantas atau dari Pulau Djawa yang letak geographisnya beribu-ribu mile itu?

Kemudian bangkai Gajah Mada, yang mati di Benoa, Teumiang, Acheh itu dilayarkan lewat Selat Karimata, lewat Laut Jawa, lewat Delta Kali Brantas atau lewat Pulau Jawa untuk ditanam di Pulau Buton, Sulawesi? Mengapakah musti ke Pulau Buton, Sulawesi? Mengapakah tidak ditanam di Delta Sungai Brantas, di Pulau Jawa?

Di Pulau Buton, Sulawesi itu, kuburan Gajah Mada dikeramati, seperti keramatnya para Wali Songo, yang sembilan itu, karena "ceritanya" bangkai Gajah Mada telah mengubah struktur kandungan bumi Pulau Buton, menjadi aspal hitam, seperti laaksaan juta plankton-plankton menjadi minyak, seperti pakis-pakis raksasa menjadi intan, seperti ribuan anak-anak Jawa pembunuh bayaran KNIL Belanda menjadi si Belanda Hitam?

Lantas mengapakah pula wajah Prof Mohammad Yamin SH alias Mpu Tantular dijadikan acuan gypsum untuk membentuk wajah patung Gajah Mada, yang bangkainya itu telah menjadi aspal hitam itu? Misi inipun tidak mempunyai sembarangan hubungan strukturil ketatanegaraan antara Acheh dengan Jawa atau Indonesia!

4. Atau begitu juga dengan "misi" dongengan sejarah Majapahit menyerang Pasee, (ketara sekali bentuk rekayasa dongengannya), karena dalam satu cerita lain sehubungan dengan yang disebut pada point (3) diatas: Kerajaan Pasee mengirim tentaranya membantu tentara Kerajaan Benoa, Temiang, untuk menghancurkan tentara Majapahit sehingga Perdana Menterinya Gajah Mada, sendiri mati dibunuh. Selain itu, Prof C.C.Berg, telah mengatakan bahwa tidak ada tanda-tanda apapun bahwa Majapahit pernah berjingkrak keluar dari wilayah Jawa Timur dan Madura. Jangankan dengan tentara lautnya, sedangkan tentara daratnyapun pernah dihancurkan oleh Kerajaan Pajajaran. Karena, dalam sejarahnya Majapahit tidak pernah ada armada lautnya. Kalau tidak mengapa ALRI mengambil latar belakang sejarahnya dari sejarah Angkatan Laut Kerajaan (Negara) Acheh, sebagaimana ucapan Deputy KSAL tahun 1969 di depan Mesjid Raya, Baiturrahman di Banda Acheh. Misi inipun tidak mempunyai sebarangan hubungan strukturil ketatanegaraan antara Acheh dengan Jawa atau Indonesia!

5. Atau begitu juga dengan wujudnya "misi" makam kembar dari seorang ahli kubur di Pasee: Makam pertama dari makam kembar itu, bertuliskan aksara Arab sedang makam yang sebuah lagi dari makam yang kembar itu pula, dituliskan dengan aksara Jawa? Mengapakah "benda" seperti ini bisa terjadi sedemikian rupa?

Rekayasa pemalsuan sejarah itu baru terbuka, ketika seorang periset sejarah Acheh dari Malaysia, sedang membuat serangkaian riset sejarah di Acheh, diantaranya mengunjungi makam-makam sejarah digugusan makam Sultan Malikussaleh, di Pasee. Karena mungkin ingin mengetahui langsung dari mulut sang Kurator Musium Sejarah Acheh dari Banda Acheh itu sendiri, maka beliau mengajukan sebuah pertanyaan:

"Bagaimanakah cerita sejarah sebenarnya, maka makam kembar dari seorang ahli kubur yang disemadikan disitu, tetapi kemudian dijadikan dua sebagai makam kembar: Yang satu bertuliskan dengan aksara Arab sedang makam kembar yang satu lagi pula, dituliskan aksara Jawa? Begitu susah sang Kurator Sejarah Acheh dari Banda Acheh itu menjawabnya, tetapi walaupun demikian, beliau terpaksa menjawabnya juga: "Terlalu sangat susah saya menjawabnya!" Dengan penjawaban sedemikian rupa, maka periset sejarah dari Malaysia itu, segera menjadi maklum bahwa: Inilah sebagai salah satu kuburan sejarah politik Penjajah Indonesia Jawa agaknya!!! Terungkapnya "peristiwa" perekayasaan sejarah politik Penjajah Indonesia Jawa di Acheh kepada periset sejarah Acheh dari Malaysia dan Jurnalist Utusan Malaysia pada tahun 1998 atau lebih kurang tujuh tahun yang lalu itu, sungguh sangat mengejutkan bangsa Acheh khususnya dan bangsa-bangsa Melayu Nusantara, pada umumnya, yang berada di luar Pulau Jawa. Misi inipun tidak mempunyai sebarang hubungan strukturil ketatanegaraan antara Acheh dengan Jawa atau Indonesia!

6. Begitu juga dengan "misi" Hikayat Raja-Raja Pasee. Mengapakah buku asli Hikayat Raja-Raja Pasee, katanya hanya tinggal sebuah dan hanya dimiliki oleh kerabat diraja Keraton Solo: Kuntjorodiningrat? Sehingga pernah dikabarkan bahwa, Leiden Universitiet, dari Belanda terpaksa meminjamnya dari sana? Misi inipun tidak mempunyai sebarangan hubungan strukturil ketatanegaraan antara Acheh dengan Jawa atau Indonesia!

7. Begitu juga dengan "misi" penulisan sebuah naskah sejarah kemasukan Islam di Peureulak, Darul 'Akla, Acheh pada tahun 700 itu, sebagai kemasukkan Islam pertama di Asia, dikabarkan telah diisyaratkan musti menyelipkan sealenia tulisan, yang menerangkan, bahwa Majapahit pernah menyerang Pasee?

Catatan: Tulisan tentang kemasukkan Islam ke Peureulak, Darul 'Akla, Acheh pernah sampai ke Malaysia. Omar Puteh (penulis) pernah mintakan kepada seorang rakan, agar tulisan yang telah dibingkaikan dengan cantik itu, segera diturunkan dari gantungannya. Rakan itu mungkin merasa bangga, karena tulisan yang dibingkaikan dengan cantik tadi dan digantungkan itu, menerangkan kemasukkan Islam pertama ke Peureulak, Darul 'Akla, Acheh, tetapi juga tercatat sebagai kemasukkan Islam pertama di Asia.

Tetapi rakan itu mungkin lupa dan tidak pula memikirkan kejadian apa yang akan berlaku dimasa depan, bahwa akan ada orang sejenis Permadi dari PDI-P, dari Komisi I DPR Penjajah Indonesia Jawa, akan mendakwa: Peureulak, Darul 'Akla, Acheh termasuk dalam bingkai wilayah integrasi Penjajah Indonesia Jawa. Dakwaannya itu, karena Permadi itu buta sejarah!

Kemustian menulis Majapahit menyerang Passe dalam tulisan naskah sejarah kemasukkan Islam ke Peureulak, Darul 'Akla, Acheh agar dimasa akan datang, akan dibaca dan diingat oleh generasi Acheh berikutnya bahwa sejarah Acheh yang demikian itu, akan diterima sebagai kesahihan sejarah.

Sama seperti yang telah banyak dilakukan oleh Prof Muhammad Yamin SH alias Mpu Tantular diantaranya diciptakan sejarah "Sumpah Palapa". Apa itu Sumpah Palapa? Rekayasa Sumpah Palapa itu diciptakan oleh Prof Muhammad Yamin SH alias Mpu Tantular atas kehendak Soekarno si Penipu licik, agar dengannya ketika Negara Republik Indonesia Serikat (RIS) dilebur oleh Rezim Jawa Chauvinistis dari negara bahagian RI-Jawa Jokya dari aliran nasionalisme etnis (Jawa) menjadi NKRI (Negara Kolonialis Republik Indonesia Jawa) maka wilayah "nusantara" itu akan diklaimnya sebagai wilayah otomatis orang-orang Jawa dari Negara Kertagama (Negara Kota Gajah Mada) Majapahit.

Untuk menjawab apa itu "Sumpah Palapa", Prof C.C. Berg telah menjelaskan bahwa dia telah menyelidiki dengan penuh kecermatan dan ketelitian semua naskah-naskah dongengan sejarah Jawa lama; semua kumpulan-kumpulan cerita rakyat Jawa lama, baik yang masuk kedalam panggung Ketoprak, Wayang Wong, Wayang Kulit, Ludruk dan segala jenis mantra-mantra kuda kepang mabok kemenyan bakar; namun tidak menemui apapun tanda-tanda atau bacaan-bacaan yang bisa menerangkan dan menyokong bahwa disana pernah wujudnya Sumpah Palapa itu. Kecuali sebuah sumpah murni Gajah Mada: "Aku akan mengabdikan seluruh sisa hidupku untuk negara dan tidak akan lagi mau terlibat dengan pesta-pora sex!" Mungkin inilah sebenarnya "Sumpah Palapa" itu, bukan yang mengatakan bahwa akan menyatukan seluruh wilayah Nusantra. Sumpah (Palapa) Gajah Mada itupun terikrar, setelah perempuan muda simpanannya "digeranyangi" oleh anak Raden Wijaya: Kerta Rajasa anak dari istri asal Jambi?

Kita tidak perlu heran, terhadap tingkah-laku Prof Muhammad Yamin SH alias Mpu Tantular itu, seperti tingkah-lakunya menggypsum wajahnya sendiri, tetapi kemudian dia pula mengatakan itulah wajah Patih Gajah Mada!

Kita tidak perlu heran tingkah-laku Prof Muhammad Yamin SH alias Mpu Tantular, karena dia dan Prof Soepomo yang menciptakan Pancasila, tetapi kemudian trade mark-nya, menjadi kepunyaan Soekarno si Penipu Licik.

Sama halnya kita tidak perlu heran, jika si Permadi dari PDI-P, anggota Komisi I DPR-Penjajah Indonesia Jawa, seperti suatu kejadian ketika Kolonel Sarwo Edhi (Bapak mertua si Susilo Bambang Yudhoyono) menenteng kepala Dipo Negoro Aidit ke Istana Merdeka untuk diserahkan kepada Suharto Kleptokracy, dengan sukacitanya dia mengatakan dirinya kepada Sarwo Eddi, bahwa dia bukan PNI-ASU tetapi PNI Osa-Osep!

Permadi dari PDI-P, anggota Komisi I DPR-Penjajah Indonesia Jawa, kamu telah diingatkan oleh Ustadz Ahmad Sudirman bahwa Acheh itu bukan kepunyaan Mbahmu, tetapi Acheh itu adalah kepunyaan bangsa Acheh, warisan dari nenek moyangnya, yang telah pernah dipertahankan dalam Perang Acheh sejak 1873-1942, dengan pengorbanan melebihi 100.000 jiwa bangsa Acheh, yang ikut disembelih oleh Jawa-Jawa pembunuh bayaran KNIL Belanda, atau oleh para histotrian meyebutkannya sebagai The Black Dutchmen, si Belanda Hitam!

Adakah kamu Permadi dari PDI-P, anggota Komisi I DPR-Penjajah Indonesia Jawa, pernah diberitahukan oleh Mbahmu, bahwa Mbahmu-Mbahmu adalah ex anak-anak Jawa pembunuh bayaran KNIL Belanda atau si Belanda Hitam?

Sebaiknya kamu Permadi dari PDI-P anggota Komisi I DPR-Penjajah Indonesia Jawa, kalau benar kamu adalah Permadi yang pernah diceritai oleh Kolonel Sarwo Edhi, bahwa Soeharto Kleptokracy dengan ABRI-TNI/POLRI, Tentara Teroris Nasional Penjajah Indonesia Jawanya atau si Belanda Hitam telah membunuh lebih 3.000.000 (tiga juta) jiwa: Mereka-mereka buruh pabrik yang tidak cukup makan dan buruh tani yang miskin yang tidak bersalah, sebagai korban Peristiwa 1965 dan Pulau Buru, maka kamu wajib memberi sokongan penuh di DPR-Penjajah Indonesia Jawa itu, dan kamu musti berjanji dengan sesungguh hati dengan dibarengi konsekwensi tinggi serta tanpa tedeng aleng-aleng untuk turut membantu langsung atau tidak langsung perkara gugatan dari 30.000.000 (tiga puluh juta) anggota keluarga-keluarga korban Peristiwa 1965 dan Pulau Buru untuk menggugat sampai tuntas: Suharto Kleptokracy, B.J. Habibie, Gus Dur alias Abdurrahman Wahid, Megawati Soekarno Putri dan Susilo Bambang Yudhoyono agar bisa diseret ke Mahkamah Hak-Hak Azasi Manusia, di Jakarta sesegera mungkin sebelum diseret ke Mahkamah Internasional atau International Criminal Court of Justice di Den Haag, Belanda!

Dan bukan kamu, sebagai Permadi dari PDI-P anggota Komisi I DPR-Penjajah Indonesia Jawa, yang coba mempersoalkan Wilayah Kedaulatan Negara Acheh Sumatra!

(bersambung: Plus I + Acheh Tidak Mempunyai Hubungan Sejarah Ketatanegaraan Dengan Indonesia Jawa)

Wassalam

Omar Puteh

om_puteh@hotmail.com
om_puteh@yahoo.com
Norway
----------