Stockholm, 23 Maret 2005

Bismillaahirrahmaanirrahiim.
Assalamu'alaikum wr wbr.
 

KHOIRUDDIN, ITU NEGARA PANCASILA TEMPAT SUBUR TUMBUHNYA LIBERALIS MUSLIM MODEL ULIL CS
Ahmad Sudirman
Stockholm - SWEDIA.

 

KHOIRUDDIN PERLU MENGETAHUI, ITU NEGARA PANCASILA TEMPAT TANAH SUBUR TUMBUHNYA LIBERALIS MUSLIM MODEL ULIL ABSAR ABDALLA CS

"Terimakasih Pak Ahmad Sudirman atas tanggapannya tentang Jaringan Islam Liberal. Setelah membaca artikel selanjutnya tentang JIL (seperti artikel berikut ini), maka ana pikir, mereka sudah memasuki tahap pengrusakan tauhid, aqidah, dan syariat Islam, maka bagaimana caranya 'menyapu bersih' (meminjam istilah Bapak Ahmad Sudirman) mereka? Dan JIL itu pun bersarang di IAIN Jakarta. Mereka muncul saat di Indonesia ingin menerapkan syariat Islam." (Irul Khoiruddin , irul51606@svsi.sanyo.co.id ,Wed, 23 Mar 2005 09:34:49 +0700)

Baiklah saudara Irul Khoiruddin di Cimanggis, Depok, Jawa Barat.

Ada satu hal yang perlu dijadikan dasar pemikiran dalam hal memahami itu jaringan liberalis muslim yang berusaha mencerahkan dan membebaskan alam pikiran dalam dunia Islam yang dikutak-katik oleh Ulil Absar Abdalla dengan kompaninya, yaitu tanah yang subur yang ada di Negara sekuler pancasila dengan UUD 1945 dan dasar negaranya pancasila.

Islam di Negara sekuler pancasila ini adalah merupakan suatu hal yang tidak bisa diterapkan dan diaplikasikan kedalam kehidupan masyarakat, pemerintah dan negara.

Jadi, kalau ada yang berusaha mengkutak-katik Islam seperti yang dilakukan oleh kelompok Ulil Absar Abdalla dengan jaringan Islam liberalnya yang salah kaprah dalam penggunaan istilah ini, maka itu diakibatkan oleh tanah subur di Negara pancasila RI bagi tumbuhnya pemikiran-pemikiran keropos yang mengkutak-katik Islam dalam lingkungan dunia kampus yang membawa label Islam, seperti IAIN atau sejenisnya.

Hanya tentu saja dalam tarap awal hasil kutak-katik Islam oleh kelompok liberalis muslim ini dalam lingkungan perguruan tinggi Islam, seperti IAIN atau sejenisnya. Kemudian, setelah dilakukan eksperimen, mulai diedarkan keluar dari wilayah kampus, melalui media massa, seperti surat kabar dan majalah, dan kalau sekarang melalui situs internet.

Tetapi, eksperimen mereka dalam hal pengkutak-katikan Islam ini tida akan membawa pengaruh yang besar dalam perobahan pemikiran umat Islam yang tetap mengikuti contoh Rasulullah saw. Paling yang dikutak-katiknya itu masalah-masalah ijtihad dengan ilmunya yang cetek itu, lalu masalah kebebasan beragama, seperti di negara sekuler barat lainnya, juga masalah sekuler yang memisahkan Agama dalam kehidupan masyarakat, pemerintah dan negara.

Sebenarnya orang-orang model liberalis muslim model Ulil Cs ini sudah ada sejak dulu. Jadi, tidak perlu dirisaukan dan dibesar-besarkan sekali. Karena mereka itu pemikirannya tidak akan laku. Paling laku hanya dikalangan mereka sendiri. Coba saja bawa keluar dari negara sekuler pancasila. Mana itu dagangan hasil ampas pikiran model kelompok liberalis muslim gaya Ulil akan laku kalau dijajakan di luar Negara pencasila.

Jadi, jangan dibesar-besarkan itu hasil ampas pemikiran kelompok liberalis muslim yang sok berusaha mencerahkan dan membebaskan alam pikiran dalam dunia Islam. Yang isinya hanyalah racun saja.

Dan tentu saja untuk menyapu bersih itu hasil ampas pemikiran kelompok liberalis muslim model Ulil yang hanya hidup dikalangan kampus berlabel agama ini yaitu dengan cara mendebat mereka secara baik-baik dan tidak perlu digembar-gemborkan hasil kutak-katik pemikirannya itu, anggap saja angin lalu yang tidak punya kekuatan apa-apa. Nanti juga kalau itu hasil ampas pemikirannya tidak kuat, maka akhirnya akan mati sendiri, atau kalaupun hidup akan hidup begitu-begitu saja.

Dan itu kalaupun mereka selesai mempelajari pelajarannya dari kampus agama, paling hanya laku, kalau ia jadi da'i atau dosen atau guru atau apa saja, bagi orang-orang yang sekuler saja. Yang tidak peduli kepada Islam. Persis seperti di negara sekuler lainnya.

Jadi, itu kelompok liberalis muslim model Ulil cs dan kelompok sekuler lainnya, biarkan saja hidup. Biarkan mereka mengkutak-katik Islam menurut sesukanya, karena hasilnya juga nihil alias keropos. Tidak akan laku, namanya saja nyaring, isinya gombal.

Kemudian, kalau mereka sampai mengkutak-katik dengan tujuan merusakkan dan memelencengkan tauhid, aqidah, syariat, akhlaq, maka perlu kita hadapi dengan apa yang telah dicontohkan Rasulullah saw. Kalau mereka memang mengikuti contoh Rasulullah saw, jelas, mereka tidak akan mengikuti jalur pikirannya saja. Kalau mereka tetap degil, dan hanya mengikuti jalur pikirannya saja, suruh saja dia buat sesuka hatinya. Biarkan sampai muntah dengan hasil pemikirannya itu.

Jadi dalam rangka usaha menyapu disini adalah bukan menyapu dengan menyemprot pakai obat ddt, biar habis. Melainkan menyapu pakai ilmu yang diturunkan Allah SWT dan dicontohkan Rasulullah saw. Kemudian, kalau mereka setelah disapu dengan apa yang diturunkan Allah SWT dan dicontohkan Rasulullah saw, masih juga bergeliat-geliat dengan ampas pikirannya, maka hajar terus, sampai terjerembab. Kalau mereka masih juga bertahan, sapu lagi. Kalau masih juga bertahan, sambil sempoyongan, dan sudah kelihatan mau jatuh, lalu boleh lepaskan, dan biarkan hidup dengan alam ampas pikirannya.

Jadi, saudara Irul Khoiruddin, tidak perlu ditanggapi dan dibesar-besarkan sekali itu orang-orang yang menamakan dirinya kelompok liberalis muslim atau yang mereka sajikan dengan istilah salah kaprahnya, dengan memakai istilah jaringan Islam liberal, mencerahkan, membebaskan. Tetapi kalau juga mahu mendebat mereka, debat saja dengan memakai apa yang telah diturunkan Allah SWT dan yang dicontohkan Rasulullah saw.

Bagi yang ada minat untuk menanggapi silahkan tujukan atau cc kan kepada ahmad@dataphone.se agar supaya sampai kepada saya dan bagi yang ada waktu untuk membaca tulisan-tulisan saya yang telah lalu yang menyinggung tentang Khilafah Islam dan Undang Undang Madinah silahkan lihat di kumpulan artikel di HP http://www.dataphone.se/~ahmad

Hanya kepada Allah kita memohon pertolongan dan hanya kepada Allah kita memohon petunjuk, amin *.*

Wassalam.

Ahmad Sudirman

http://www.dataphone.se/~ahmad
www.ahmad-sudirman.com
ahmad@dataphone.se
---------

Date: Wed, 23 Mar 2005 09:34:49 +0700
From: Irul Khoiruddin <irul51606@svsi.sanyo.co.id>
To: "Ahmad Sudirman" <ahmad@dataphone.se>, "Al Chaidar" <alchaidar@yahoo.com>, <silver_cat@plasa.com>, <nadri_id@yahoo.com>, <alpadangi@yahoo.com>, <syabab_hizb_islamiy@yahoo.com>, <om_puteh@yahoo.com>, <adank@rismar.co.id>, <Singgih.Ananto@hm.com>, <ardiansyah_hm@yahoo.com>, <Muhammad.Ardiansyah@hm.com>, <bimo_tejokusumo@yahoo.co.uk>, <Enny.Martono@hm.com>, <tgk_maat@yahoo.co.uk>, <inongbale_aceh@yahoo.com>, <mbzr00@yahoo.com>, <webmaster@detik.com>, <redaksi@gatra.com>, <surat@gatra.com>, <yuhe1st@yahoo.com>, <newsletter@waspada.co.id>, <waspada@waspada.co.id>, <suparmo@tjp.toshiba.co.jp>, <solopos@bumi.net.id>, <serambi_indonesia@yahoo.com>, <sea@swipnet.se>, <redaksi@waspada.co.id>, <redaksi@satunet.com>, <redaksi@kompas.com>, <editor@pontianak.wasantara.net.id>, <Padmanaba@uboot.com>, <editor@jawapos.co.id>
Subject: Re: KHOIRUDDIN, ITU ISTILAH JARINGAN ISLAM LIBERAL SALAH KAPRAH

Assalaamu'alaykum warohmatulloohi wabarokaatuh

Terimakasih Pak Ahmad Sudirman atas tanggapannya tentang Jaringan Islam Liberal. Setelah membaca artikel selanjutnya tentang JIL (seperti artikel berikut ini), maka ana pikir, mereka sudah memasuki tahap pengrusakan tauhid, aqidah, dan syariat Islam, maka bagaimana caranya 'menyapu bersih' (meminjam istilah Bapak Ahmad Sudirman) mereka? Dan JIL itu pun bersarang di IAIN Jakarta.

Mereka muncul saat di Indonesia ingin menerapkan syariat Islam.

Terimakasih atas tanggapannya nanti.
Wassalaamu'alaykum warohmatulloohi wabarokaatuh

Irul Khoiruddin

irul51606@svsi.sanyo.co.id
Cimanggis, Depok, Jawa Barat
----------

Jaringan Islam Liberal Dan Kesesatannya
Oleh: Azhari

Hayatulislam.net - Maraknya JIL dimasa reformasi bersamaan dengan keinginan kuat umat Islam untuk menerapkan Syari'at Islam bukanlah suatu kebetulan, sepertinya JIL ini dibentuk untuk menghadang kelompok "Fundamentalis" yang ingin kembali kepada Islam secara Kaffah. Berikut ini mari kita coba telaah lebih jauh apa itu JIL, tujuannya dan ide-ide yang diusungnya.

JIL yakni sebuah kelompok dikomandoi oleh Ulil Absar Abdalla, seorang yang dikenal sangat dekat dengan NU dan menantu seorang Kiai NU. Selain Ulil, kontributor JIL yang lain adalah:

- Nurcholish Madjid, Universitas Paramadina, Jakarta
- Azyumardi Azra, IAIN Syarif Hidayatullah (Universitas Islam Negara), Jakarta
- Masdar F. Mas'udi, Pusat Pengembangan Pesantren dan Masyarakat, Jakarta
- Goenawan Mohamad, Majalah Tempo, Jakarta
- Djohan Effendi, Deakin University, Australia
- Jalaluddin Rahmat, Yayasan Muthahhari, Bandung
- Moeslim Abdurrahman, Jakarta
- Nasaruddin Umar, IAIN Syarif Hidayatullah (Universitas Islam Negara), Jakarta
- Komaruddin Hidayat, Yayasan Paramadina, Jakarta , dan lain-lain.

Kelompok ini bertujuan ingin membuat suatu bentuk penafsiran baru atas agama Islam dengan wawasan sebagai berikut:
a. Keterbukaan pintu ijtihad pada semua bidang;
b. Penekanan pada semangat religio etik, bukan pada makna literal sebuah teks;
c. Kebenaran yang relatif, terbuka dan plural;
d. Pemihakan pada yang minoritas dan tertindas;
e. Kebebasan beragama dan berkepercayaan;
f. Pemisahan otoritas duniawi dan ukhrawi, otoritas keagamaan dan politik.

Istilah Islam liberal ini bukanlah hal yang baru dan telah diusung oleh Nurcholis Madjid pada tahun 70-an, hanya saja gaungnya sekarang lebih besar karena mereka didukung dana yang sangat besar dari luar negeri dan mereka menguasai jaringan media massa (Radio, Jawa Pos, Kompas, Tempo, Metro TV, dan lain-lain).

Menurut JIL, nama "Islam Liberal" menggambarkan prinsip-prinsip yang menekankan kebebasan pribadi (seusai dengan doktrin kaum Mu'tazilah tentang kebebasan manusia), dan "pembebasan" struktur sosial-politik dari dominasi yang tidak sehat dan menindas. Sederhananya JIL ingin mengatakan bahwa secara pribadi bebas (liberal) menafsirkan Islam sesuai hawa nafsunya dan membebaskan (liberal) negara dari intervensi agama (sekuler).

Unik memang, pada saat seseorang telah menyatakan menganut Islam maka ia terikat dengan hukum syara' atau ia seorang mukhallaf dan ia tidak bebas lagi (liberal) karena ucapan dan perilakunya telah dibatasi oleh syari'at. Disisi lain bagaimana mungkin bisa menggabungkan antara Islam dan Liberal karena keduanya adalah ideologi yang saling bertentangan. Islam meyakini bahwa Syari'at Allah harus dijalankan diseluruh sisi kehidupan, sedangkan Liberal meyakini pemisahan urusan agama dan negara.

Baiknya coba kita permudah pembahasan ide-ide JIL ini dalam 3 topik saja, yakni:
1. Ijtihad: keterbukaan pintu ijtihad pada semua bidang
2. Inklusifisme: kebenaran yang relatif, terbuka dan plural
3. Sekuler: pemisahan otoritas duniawi dan ukhrawi, otoritas keagamaan dan politik

1. Ijtihad
JIL meyakini bahwa pintu ijtihad masih terbuka dalam semua bidang dan untuk semua orang, penutupan pintu ijtihad akan menutup pintu akal dan kreatifitas seseorang.

Pintu ijtihad memang masih terbuka hingga saat ini tetapi para ulama telah memberikan batasan dalam hal apa saja boleh berijtihad dan syarat seseorang mampu mengeluarkan ijtihad (mujtahid).

Setiap orang boleh saja berijtihad tetapi ulama memberikan syarat-syarat seorang mujtahid, antara lain:
a. Pengetahuan bahasa Arab, lafadz dan susunan (tarkib) yang berhubungan dengan dalil-dalil hukum yang akan digali (istimbath);
b. Pengetahuan terhadap syara' yakni nash (dalil) dari al-Qur'an dan Sunnah;
c. Pengetahuan terhadap waqi' yang akan dihukumi.

Bahkan DR Yusuf Qaradhawi (Masalah-masalah Islam kontemporer) memberikan syarat yang lebih berat semisal pengetahuan bahasa Arab, mengetahui tempat-tempat ijma' yang tepat, ushul fiqih, qiyas dan penyimpulan, kaidah-kaidah syara'. Syarat lain harus adil, bertaqwa, tidak mengikuti hawa nafsu atau menjual agamanya untuk kehidupan dunia. Dengan demikian menurut Yusuf Qaradhawi, ijtihad bukan pintu yang terbuka bagi semua orang.

Disisi lain pintu ijtihad tertutup untuk nash-nash (dalil) qath'i tsubut (sudah pasti dari segi wujud) dan qath'i dilalah (sudah pasti dari segi petunjuk). Seperti dalil-dalil berikut:

Orang perempuan dan laki-laki yang berzina jilidlah masing-masing dari keduanya seratus kali jilid. (Qs. an-Nuur [24]: 2).

Laki-laki yang mencuri dan perempuan yang mencuri, potonglah tangan keduanya (sebagai) pembalasan bagi apa yang mereka kerjakan dan sebagai siksaan dari Allah. (Qs. al-Maa'idah [5]: 38).

Atau kewajiban shalat, puasa, haji, adanya malaikat, syaithan, lauhul mahfuz, akhirat, dan lain-lain. Disini akal tidak mampu lagi menjangkaunya dan kita wajib mengimaninya sesuai dengan penjelesan al-Qur'an dan sunnah.

Masalah terbukanya pintu ijtihad ini merupakan gerbang utama bagi JIL untuk menghancurkan syari'at Islam, karena jika berhasil meyakinkan umat bahwa ijtihad masih terbuka untuk semua bidang dan setiap orang maka mereka dapat menafsirkan ayat-ayat Allah dan hadits sesuai hawa nafsu mereka. Seperti yang sempat dihebohkan beberapa waktu yang lalu tentang "Jilbab tidak wajib dan merupakan kebudayaan Arab"; "Laki-laki non-muslim boleh mengawini muslimah"; "Kebebasan beragama atau murtad"; dan lain-lain.

2. Inklusifisme
Inklusifisme secara ringkas dapat diartikan tidak eksklusif atau tidak merasa paling benar sendiri, dalam bahasa JIL bahwa agama itu seperti roda yang mempunyai jari-jari. Setiap agama adalah jari-jari dari roda tersebut, jika semua pemeluk agama (apapun agamanya) dan dia berbuat saleh maka semuanya akan menuju kesatu titik poros roda tersebut yakni syurga. Artinya, seorang Muslim, Nasrani, Hindu, Budha atau Konghucu, bila menjalankan agama dengan benar (saleh) maka semuanya akan masuk syurga.

Hal ini jelas bertentangan dengan aqidah Islam, Innaddiina'indallahil Islami.

Sesungguhnya dien (agama/sistem hidup) yang diridhai Allah adalah Islam. (Qs. Ali-Imran [3]: 19).

Barangsiapa yang mengambil selain Islam sebagai dien, tidak akan diterima apapun darinya dan ia diakhirat tergolong orang yang rugi. (Qs. Ali-Imran [3]: 85).

Pada hari ini telah Aku sempurnakan untuk kalian agama kalian, telah Aku cukupkan atas kalian nikmat-Ku, dan telah Aku ridhai Islam sebagai agama bagi kalian. (Qs. al-Maa'idah [5]: 3).

Hai orang yang beriman, bertaqwalah kepada Allah sebenar-benarnya taqwa kepada-Nya, dan janganlah sekali-kali kamu mati melainkan dalam keadaan beragama Islam. (Qs. Ali-Imran [3]: 102).

Islam itu unggul dan tidak ada yang dapat mengunggulinya. [HR Bukhari].

Dan Islam tidak bisa disamakan dengan agama-agama lain tersebut karena seorang Muslim yang beriman maka syurga balasannya, sedangkan orang-orang kafir dan musyrik itu adalah orang-orang yang sesat dan merugi serta kekal dalam neraka,

Sesungguhnya Allah tidak mengampuni dosa syirik. Dan Dia mengampuni dosa selain syirik itu bagi siapa saja yang dikehendaki-Nya. Siapa saja yang menyekutukan sesuatu dengan Allah, maka sesungguhnya ia tersesat sejauh-jauhnya. (Qs. an-Nisaa') (116).

Hai orang yang beriman, jika kamu mengikuti sebahagian dari orang-orang yang yang diberi Alkitab, niscaya mereka akan mengembalikan kamu menjadi orang kafir sesudah kamu beriman. (Qs. Ali-Imran [3]: 100).

Dengan konsep yang menyesatkan ini, maka umat akan dengan mudah murtad karena mereka merasa dengan memeluk selain Islampun mereka akan masuk syurga juga.

3. Sekuler
Menurut JIL, Islam tidak mengenal pemerintahan dan agama tidak mempunyai kewenangan dalam mengatur negara.

Jika kita ingin menerapkan Islam secara kaffah dalam semua sektor kehidupan kita maka mau tidak mau harus memformalkan syariat Allah Swt yang terdapat dalam al-Qur'an dan sunnah dalam bentuk Undang-undang (UU), dan sebuah UU tidak akan berjalan jika tidak dipayungi oleh sebuah pemerintahan (daulah). Hal ini-pun telah dicontohkan oleh Rasulullah saw dan khalifah-khalifah
sesudah beliau.

Beliau menjalankan pemerintahan di Madinah, menetapkan hukum-hukum ekonomi/perdagangan, sosial/pergaulan, politik luar negeri, membentuk pasukan, peradilan, pendidikan, dan lain-lain. Beliau mengangkat pembantu-pembantu, wali, amirul jihad, amil, qadhi, dll. Dan dilanjutkan oleh Khulafaur Rasyidin dengan mengangkat Abu Bakar, Umar, Utsman dan Ali, kemudian kekhalifahan Bani Muawiyah, Abassiyah hingga Utsmaniyah. Hal ini merupakan suatu fakta bahwa Islam mengenal negara atau Islam tidak bisa dipisahkan dengan negara.

Maka demi Tuhanmu. Mereka tidak beriman (sebenarnya) sehingga mereka menjadikan kamu hakim untuk memutuskan perselisihan antara mereka. Kemudian mereka tidak merasa dalam hatinya keberatan terhadap putusanmu, dan menerima dengan perasaan lega. (Qs. an-Nisaa': 65).

Demikianlah sepak terjang JIL dengan aqidah sesatnya dan menyesatkan umat, dan merupakan tantangan bagi para hamilud dakwah untuk lebih intensif berinteraksi dengan umat untuk mensosialisasikan betapa pentingnya tegaknya syari'at Islam.

Wallahu a'lam,

Oleh: Azhari
----------