Stockholm, 24 Maret 2005

Bismillaahirrahmaanirrahiim.
Assalamu'alaikum wr wbr.
 

MUBA, ITU AICC TAKTIK PECAH BELAH ACHEH MODEL YUDHOYONO & SYAMSIR SIREGAR
Ahmad Sudirman
Stockholm - SWEDIA.

 

MUBA, ITU ACHEH INTERNATIONAL CONSULTATIVE COMMITTEE (AICC) TAKTIK PECAH BELAH ACHEH MODEL SUSILO BAMBANG YUDHOYONO & SYAMSIR SIREGAR

"Senada dengan yang disuarakan 6 senator USA dan suara-suara lainnya yang juga senada, tidak dilibatkannya ASNLF dalam AICC membuktikan untuk kesekian kalinya bahwa ASNLF memang tidak penting dalam penyelesaian "Masalah Aceh". Sejarah memang mencatat bahwa ASNLF didirikan oleh segelintir warga negara Swedia, tanpa ada hujan tanpa ada angin, semata karena nafsu serakahnya tergiur melihat kekayaan Propinsi NAD." (Muba Zir , mbzr00@yahoo.com ,Thu, 24 Mar 2005 03:05:14 -0800 (PST))

Baiklah Muba di Paris, Perancis.

Muba jangan hanya mengembek pada Susilo Bambang Yudhoyono dan Syamsir Siregar saja. Kalian Muba mana bisa melihat itu bagaimana Susilo Bambang Yudhoyono dibantu dengan Syamsir Siregar dengan sarang labah-labah BIN-nya untuk memecah belah kekuatan perjuangan rakyat Acheh dengan memakai cara pecah belah-nya.

Itu yang namanya Acheh International Consultative Committee (AICC) adalah merupakan wadah kegiatan sosial dan ekonomi yang dibelakangnya adalah orang-orang mbah Susilo Bambang Yudhoyono seperti mantan Gubernur Acheh Samsudin Mahmud, mantan rektor Universitas Syah Kuala Abdullah Ali, dan mantan Menteri Besar Kedah dan mantan Menteri Pertanian Malaysia Tan Seri Sanusi Juned.

Kemudian, itu yang dinamakan masyarakat Acheh adalah orang-orang dari Betawi dengan ondel-ondelnya saja, seperti dari Taman Iskandar Muda Jakarta, Acheh Sepakat Indonesia, Paguyuban Acheh Indonesia. Lalu dicampur dengan beberapa gelintir dari Universitas Syah Kuala dan IAIN Asyariri Banda Acheh. Terus dikocek dengan beberapa orang dari pelajar Acheh di Australia, Amerika Serikat dan Jepang. Seterusnya, diaduk dengan beberapa orang dari Ikatan Masyarakat Acheh Malaysia. Dan tentu saja dimotori oleh itu mbah-mbah dari RI, seperti Samsudin Mahmud dan Abdullah Ali, serta diperkuat oleh Sanusi Juned atas nama mbah Malaysia. Paling banyak itu tidak lebih dari seratus orang. Seterusnya, biar keren, diselengarakanlah di Ibu Kota Kerajaan Malaysia, Kuala Lumpur di Universitas Islam Antar Bangsa.

Nah, coba perhatikan, ketika itu dibentuk Acheh International Consultative Committee (AICC) pada tanggal 18-20 Februari 2005. Kemudian apa yang terjadi satu hari kemudian, ternyata pada tanggal 21 sampai 23 Februari 2005 dilangsung pertemuan antara ASNLF dengan RI di Helsinki, Finlandia.

Jadi, memang itu kelihatan dengan jelas, bagaimana cara mbah Susilo Bambang Yudhoyono dengan itu Syamsir Siregar dan Jusuf Kalla berusaha untuk memecahkan kekuatan perjuangan kemerdekaan rakyat Acheh. Dipecahkan kekuatan rakyat Acheh dengan beberapa pecahan. Celakanya orang-orang Acheh yang bisa ditipu oleh mbah Susilo Bambang Yudhoyono melalui tangan Samsudin Mahmud, Abdullah Ali, dan Sanusi Juned, tidak menyadari bahwa perjuangan untuk penentuan nasib sendiri guna mencapai kemerdekaan Acheh telah dipecah sedemikian rupa oleh mbah Susilo Bambang Yudhoyono dan Syamsir Siregar.

Dan tentu saja, Muba budek dari Paris ini mana mengetahui dan merasakannya. Karena itu Muba hanya mengekor buntut mbah Susilo Bambang Yudhoyono dan Syamsir Siregar saja.

Jadi, kalau kejadian itu terlihat oleh mata Ahmad Sudirman, maka yang muncul adalah bukan seperti yang dibayangkan Muba dengan mengatakan: "tidak dilibatkannya ASNLF dalam AICC membuktikan untuk kesekian kalinya bahwa ASNLF memang tidak penting dalam penyelesaian Masalah Aceh". Kan ngaco, hasil penafsiran Muba ini. Muba tidak melihat itu kelakuan jahat dari BIN-nya Syamsir Siregar yang terus berusaha untuk memporakporandakan kekuatan perjuangan rakyat Acheh untuk menentukan nasib sendiri beba dari pengaruh kekuasaan negara pancasila.

Sedangkan mata Ahmad Sudirman melihat kejadian itu sebagai satu cara Susilo Bambang Yudhoyono dan Syamsir Siregar untuk memecah belah kekuatan perjuangan rakyat Acheh.

Tetapi, Muba hanya bisa melihat dengan matanya yang rabun dimakan racun ampas pancasila, itu ASNLF tidak dilibatkan kedalam AICC karena ASNLF tidak penting. Kan gombal itu hasil analisa Muba yang kerjanya di tukang kebab di Paris ini.

Padahal itu adalah kerjanya BIN-nya Syamsir Siregar dibelakang layar. Itu Syamsir Siregar cengengesan dibelakang layar. Dan Ahmad Sudirman melihat itu taktik gombal Syamsir Siregar yang memecah belah kekuatan rakyat Acheh ini.

Seterusnya itu masalah surat dari 6 Senator AS, dimana Ahmad Sudirman telah memberikan tanggapannya dalam tulisan sebelum ini. Itu soal isi surat dari 6 Senator AS, yaitu Senator AS Mr. Patrick Leahy, Senator Edward M. Kennedy, Senator James M: Jeffords, Senator Russel D. Feingold, Senator Dianne Feinstein, dan Senator Robert G.Torricelli, yang ditujukan kepada almarhum Tgk Abdullah Syafi'ie c/q Teungku Nashiruddin bin Ahmad, Gam-Joint Committee on Security Matters, Kuala Tripa Hotel, Banda Aceh, Aceh, 17 Mei 2001, yang sebagian isinya menyatakan bahwa hanya melalui dialog untuk mengakhiri konflik, dan kedua belah pihak harus terus berusaha untuk mencari jalan guna memulai perundingan ASNLF - RI. Dan memang dialog telah dilakukan dialog antara ASNLF dengan pihak RI, di Geneva, Tokyo, Jepang, dan di Helsinki, Finlandia. Dan itulah jalur politis yang ditempuh pihak ASNLF. Dan tentu saja, walaupun 6 Senator AS itu menyatakan menyokong integritas Indonesia, tetapi itu tidak berarti menutupi kemungkinan jalur politik yang menuju ke arah usaha penentuan nasib sendiri melalui bentuk atau cara plebisit bagi seluruh rakyat Acheh di Acheh. Seandaianya rakyat Acheh menghendaki penyelesaian politik melalui jalur plebisit. Sebagaimana yang dilakukan rakyat Hawai pada tanggal 7 November 1950. Dan tentu saja 6 Senator AS ini mengetahui itu sejarah referendum di Hawai ini. Dan hal ini bisa juga terjadi di Acheh.

Jadi Muba, cara kalian memberikan analisa dan tanggapan tentang Acheh ini memang terus saja salah kaprah. Mengapa ? Karena Muba memang tidak memiliki dasar pengetahuan sejarah yang jelas dan benar tentang proses pertumbuhan dan perkembangan RI dihubungkan dengan Negeri Acheh, kecuali hanya mengembek dan membeo kepada apa yang dimuntahkan mbah Soekarno dan mbah Susilo Bambang Yudhoyono saja.

Bagi yang ada minat untuk menanggapi silahkan tujukan atau cc kan kepada ahmad@dataphone.se agar supaya sampai kepada saya dan bagi yang ada waktu untuk membaca tulisan-tulisan saya yang telah lalu yang menyinggung tentang Khilafah Islam dan Undang Undang Madinah silahkan lihat di kumpulan artikel di HP http://www.dataphone.se/~ahmad

Hanya kepada Allah kita memohon pertolongan dan hanya kepada Allah kita memohon petunjuk, amin *.*

Wassalam.

Ahmad Sudirman

http://www.dataphone.se/~ahmad
www.ahmad-sudirman.com
ahmad@dataphone.se
---------

Date: Thu, 24 Mar 2005 03:05:14 -0800 (PST)
From: muba zir mbzr00@yahoo.com
Subject: Re: ABU PEUREULAK BERTANYA TENTANG TAN SERI SANUSI JUNED MANTAN MENTERI BESAR KEDAH
To: Ahmad Sudirman ahmad@dataphone.se

Senada dengan yang disuarakan 6 senator USA dan suara-suara lainnya yang juga senada, tidak dilibatkannya asnlf dalam AICC membuktikan untuk kesekian kalinya bahwa asnlf memang tidak penting dalam penyelesaian "Masalah Aceh"... Sejarah memang mencatat bahwa asnlf didirikan oleh segelintir warga negara Swedia, tanpa ada hujan tanpa ada angin, semata karena nafsu serakahnya tergiur melihat kekayaan Propinsi NAD.

Muba ZR

mbzr00@yahoo.com
Paris, Perancis
----------