Stockholm, 26 Maret 2005

Bismillaahirrahmaanirrahiim.
Assalamu'alaikum wr wbr.
 

BIMO TEJOKUSUMO TERTIPU OLEH PENJAJAH RI YANG MENYESATKAN UMAT ISLAM ACHEH DENGAN UU NO.18/2001
Ahmad Sudirman
Stockholm - SWEDIA.

 

BIMO TEJOKUSUMO MEMANG BUTA KARENA TERTIPU OLEH PENJAJAH RI YANG MENYESATKAN UMAT ISLAM ACHEH DENGAN UU NO.18/2001

"Yth. Sdr. Ahmad Sudirman mengatakan ini: "Orang kafir yang datang itu. Adalah demi kemanusiaan, bukan untuk merobah agama orang Acheh" ini adalah kebohongan Sdr. Ahmad Sudirman: coba lihat ini: http://www.inminds.co.uk/tsunami.html Mengapa muslim mengkhawatirkan saudaranya dimurtadkan, kok disalahkan?" (Bimo Tejokusumo , bimo_tejokusumo@yahoo.co.uk , Sat, 26 Mar 2005 09:42:11 +0000 (GMT))

Baiklah saudara Bimo Tejokusumo di Malmo, Swedia.

Ada sedikit pelurusan dari apa yang dikatakan oleh saudara Bimo diatas, yaitu sebenarnya saudara Muhammad Al Qubra dari Sandnes, Norwegia, yang menulis: "Ironisnya Justru Hizbut Tahrir juga turut mengambil bagian dari provokasi murahan itu. Mereka sepertinya tidak memahami bahwa yang berbahaya bagi orang Islam Acheh justru kaum munafiq yang bersekongkol dalam system Thaghut Indonesia sendiri, bukan orang kafir. Orang kafir yang datang itu adalah demi kemanusiaan, bukan untuk merobah agama orang Acheh." (Muhammad Al Qubra, 26 Maret 2005)

Sebenarnya, apa yang dikatakan oleh saudara Muhammad Al Qubra adalah seluruh relawan militer dan sipil dari negara-negara asing adalah datang ke Acheh bukan untuk memurtadkan rakyat muslim Acheh guna meninggalkan Islam, melainkan untuk membantu menyelamatkan, memulihkan dan merehablitasi para korban gempa dan tsunami.

Begitu juga Lembaga Swadaya Masyarakat yang non Islam, yang datang ke Acheh dalam rangka ikut memberikan bantuan guna menyelamatkan, memulihkan, merehabilitasi para korban gempa dan tsunami, bukan ditujukan untuk memurtadkan rakyat muslim Acheh.

Nah, kalau ada organisasi seperti yang disinggung saudara Bimo Tejokusumo WorldHelp dari Amerika yang dihebohkan membawa 300 anak yatim Acheh korban tsunami untuk dididik sebagai seorang kristen dan suatu saat kembali lagi ke Acheh bisa memurtadkan rakyat muslim Acheh.

Itu cerita gombal alias kosong molongpong. Ahmad Sudirman dalam tulisan sebelum ini telah mengupas itu cerita isapan jempol dari kelompok Evangelis Amerika yang salah satunya kelompok World Help.

Dimana sebenarnya itu kasus "300 Anak Aceh Akan Dirawat di Panti Asuhan Kristen" yang berawal dari pernyataan Presiden World Help Vernon Brewer melalui email yang diforwardkan kepada Washington Post yang digembar-gemborkan oleh pihak kaum Evangelis yang tergabung dalam organisasi misi Evangelis World Help yang berpusat di Virginia, USA, dengan alamat P.O. Box 501, Forest, VA 24551, dan anggota dari The Evangelical Fellowship of Mission Agencies (EFMA) yang didirikan pada tahun 1947 dan berkedudukan di Georgia, USA, yang beralamat di 4201 N Peachtree Rd, Atlanta, GA 30341-1207.

Pernyataan Presiden World Help Vernon Brewer tersebut dipublikasikan oleh Washington Post melalui tangan Staf penulis Washington Post Alan Cooperman pada tanggal 14 Januari 2005 dengan judul berita "Tsunami Orphans Won't Be Sent to Christian Home"

Celakanya itu sumber berita yang diambil oleh Presiden World Help Vernon Brewer diambil dari email yang dikirimkan oleh Henry Lantang, lulusan dari Dallas Theological Seminary, kepada kawannya Eric Vess, dari World Help. Dimana Henry Lantang ini mempunyai sekolah Bible di Manado, Sulawesi Utara, yang dibantu oleh anaknya, Roy, seorang warganegara Amerika, lulusan Institut Bible Moody di Chicago.

Jadi, berita tentang anak-anak Acheh korban tsunami yang kehilangan kedua orang tuanya akan diasuh di panti asuhan anak-anak yatim milik organisasi kaum Evangelis dibawah kontrol World Help yang mempunyai link kepada Henry Lantang dan Roy dari sekolah Bible Manado, Sulawesi Utara, yang dimuat oleh Washington Post, ternyata telah menimbulkan isu yang sangat peka.

Sehingga menimbulkan udara panas dalam bentuk berbagai protes yang dilambungkan oleh pihak-pihak dari umat Islam yang ada di Acheh dan di RI. Begitu juga dari pihak Persekutuan Gereja-Gereja Indonesia (PGI) dan Konferensi Waligereja Indonesia (KWI) tampil dengan argumentasi bahwa mereka tidak ada hubungannya dengan pihak kaum Envangelis yang tergabung dalam World Help yang berkedudukan di Virginia, USA yang sekarang berada dibawah perintah Vernon Brewer. Kedua organisasi Kristen ini untuk menutupinya, mereka menyatakan penolakan atas usaha yang menghubungkan antara misi kemanusiaan dengan misi pengkristenisasian.

Jelas, setelah adanya protes keras dari kalangan muslim, dan penolakan dari pihak Persekutuan Gereja-Gereja Indonesia (PGI) dan Konferensi Waligereja Indonesia (KWI), maka pihak World Help melalui Presiden-nya, Vernon Brewer menyatakan bahwa anak-anak Acheh tersebut tidak pernah dibawa pindah. Begitu juga Henry Lantang menyatakan bahwa pada awalnya memang ia dan anaknya, Roy akan memindahkan anak-anak Acheh korban tsunami ini ke Jakarta, tetapi setelah adanya larangan dari pihak RI, maka usaha itu tidak dilanjutkan, bahkan rencana itupun tidak pernah dibicarakan dan tidak pernah melakukan kontak dengan pihak RI. Dimana pernyataan Presiden World Help Vernon Brewer dan Henry Lantang ini dipublikasikan oleh pihak Washington Post pada tanggal 15 Januari 2005 melalui tulisan Alan Sipress dengan judul "WorldHelp Partner in Indonesia Says No Steps Were Taken to Obtain 300 Children"

Dengan adanya usaha dari kaum Evangelis Amerika, khususnya melalui kelompok World Help dibawah pimpinan Vernon Brewer dan kompanyonnya, Henry Lantang, dari sekolah Bible di Manado, Sulawesi Utara untuk berusaha menerapkan ajaran Evangelisnya kepada anak-anak keluarga muslim Acheh yang kehilangan kedua orang tuanya akibat tsunami, jelas itu merupakan usaha secara terang-terangan pendobrakan kepada pihak muslim Acheh.

Tetapi tentu saja, usaha pendobrakan terhadap muslim Acheh melalui rencana penerapan ajaran Evangelis kepada anak-anak yatim dari keluarga muslim Acheh akibat gempa dan tsunami yang akan dilakukan oleh kaum Evangelis Amerika melalui World Help ini ternyata mengalami kebobolan. Karena memang kalau dilihat dari sudut kehidupan bersama diantara berbagai penganut agama, maka adanya sikap ekspansi penyebaran ajaran agama dari satu penganut agama kepada penganut agama lain adalah menunjukkan suatu usaha pendeklarasian konfrontasi langsung dalam kehidupan antar agama. Dan inilah yang harus dicegah dan diluruskan.

Jadi, kalau itu isu kaum Evangelis Amerika melalui World Help melalui konco-konconya di Menado dan Jakarta tentang rencana pemurtadan anak-anak muslim Acheh yang kehilangan orang tuanya akibat tsunami dibesar-besarkan, jelas, itu usaha untuk menimbulkan pertentangan antar agama dan mengalihkan persoalan dari tujuan utama untuk menyelamatkan, memulihkan, merehabilitasi korban gempa dan tsunami di Acheh kepada masalah pemurtadan agama.

Saudara Bimo, sebenarnya, rakyat muslim Acheh sekarang sudah dirobah oleh itu kaum penjajah RI dengan dicekoki oleh berbagai pandangan, pikiran dan bahkan aturan serta hukum. Seperti itu UU No.18/2001 yang menyesatkan kaum muslimin di Acheh. Apakah saudara tidak membaca itu isi dari UU No.18/2001 yang isinya penuh kesesatan dan bisa memurtadkan rakyat muslim Acheh ?.

Coba baca dulu itu isi UU No.18/2001, sebelum berdebat lagi dengan Ahmad Sudirman mengenai masalah pemurtadan umat Islam Acheh di Acheh oleh kaum penjajah negara sekuler pancasila RI ini.

Jadi, kalau saudara Muhammad Al Qubra menyatakan: "Ironisnya Justru Hizbut Tahrir juga turut mengambil bagian dari provokasi murahan itu. Mereka sepertinya tidak memahami bahwa yang berbahaya bagi orang Islam Acheh justru kaum munafiq yang bersekongkol dalam system Thaghut Indonesia sendiri, bukan orang kafir. Orang kafir yang datang itu adalah demi kemanusiaan, bukan untuk merobah agama orang Acheh."

Memang benar adanya. Yang berbahaya adalah orang-orang munafik yang berkeliaran di Negara sekuler pancasila dengan UU No.18/2001 gombalnya itu. Itu adalah penipuan dan penyesatan umat Islam di Acheh.

Ribuan para relawan militer dan sipil dari negara Asing datang ke Acheh untuk membantu menyelamatkan, memulihkan, merehabilitasi korban gempa dan stunami, bukan untuk memurtadkan umat Islam di Acheh. Para relawan non muslim itu datang ke Acheh untuk tujuan kemanusiaan. Yang justru berbahaya adalah kaum penjajah RI dengan tipu dan akal bulus nya guna menipu dan menyesatkan umat Islam Acheh dengan aturan dan undang- undang gombalnya seperti UU No.18/2001.

Bagi yang ada minat untuk menanggapi silahkan tujukan atau cc kan kepada ahmad@dataphone.se agar supaya sampai kepada saya dan bagi yang ada waktu untuk membaca tulisan-tulisan saya yang telah lalu yang menyinggung tentang Khilafah Islam dan Undang Undang Madinah silahkan lihat di kumpulan artikel di HP http://www.dataphone.se/~ahmad

Hanya kepada Allah kita memohon pertolongan dan hanya kepada Allah kita memohon petunjuk, amin *.*

Wassalam.

Ahmad Sudirman

http://www.dataphone.se/~ahmad
www.ahmad-sudirman.com
ahmad@dataphone.se
---------

Date: Sat, 26 Mar 2005 09:42:11 +0000 (GMT)
From: bimo tejokusumo bimo_tejokusumo@yahoo.co.uk
Subject: Kristenisadi Aceh Memang Nyata
To: Ahmad Sudirman <ahmad@dataphone.se>, Al Chaidar <alchaidar@yahoo.com>, silver_cat@plasa.com, kuratasaku@yahoo.com, dwi.iswahyudi@trakindo.co.id, nadri_id@yahoo.com, alpadangi@yahoo.com, syabab_hizb_islamiy@yahoo.com, om_puteh@yahoo.com, adank@rismar.co.id, bimo_tejokusumo@yahoo.co.uk, tgk_maat@yahoo.co.uk, mbzr00@yahoo.com, Muhammad.Ardiansyah@hm.com, chairil2000@yahoo.com, hermanranuwiharjo@email.com, zikry@cbn.net.id, nur-abdurrahman@telkom.net, as_fitri04@yahoo.com

Salam, Yth. Sdr. Ahmad Sudirman mengatakan ini: "Orang kafir yang datang itu
Adalah demi kemanusiaan, bukan untuk merobah agama orang Acheh"

ini adalah kebohongan Sdr. Ahmad Sudirman: coba lihat ini: http://www.inminds.co.uk/tsunami.html

CRUSADER WATCH:MISSIONARIES PREYING ON TSUNAMI SURVIVORS
24 January 2005 Innovative Minds (c) 2005 www.inminds.co.uk

At least 234,000 people have been confirmed killed, thousands missing and millions displaced in several Asian countries in tidal waves triggered by a 9.0 magnitude undersea earthquake - the world's biggest in 40 years - which struck deep in the Indian Ocean off the west coast of Indonesia's Sumatra Island on 26th December 2004.

One missionary interviewed by the Telegraph newspaper[13], who didn't want his surname revealed, was candid about why he was in Banda Aceh (Indonesia):

"I'm not here to do relief work," said John. His calling was missionary work, he admitted. "They are looking for answers," he said of the disaster victims, whom he described as particularly good candidates for conversion.

"Now we are befriending them, giving them food aid, clothes and stuff. We need to make friends with them first rather than telling them the concept of salvation. Long term that's where we are heading towards, to save their souls."

One missionary interviewed by the Telegraph newspaper[13], who didn't want his surname revealed, was candid about why he was in Banda Aceh (Indonesia): "I'm not here to do relief work," said John. His calling was missionary work, he admitted. "They are looking for answers," he said of the disaster victims, whom he described as particularly good candidates for conversion.

"Now we are befriending them, giving them food aid, clothes and stuff. We need to make friends with them first rather than telling them the concept of salvation. Long term that's where we are heading towards, to save their souls."

Sponsor A Missionary
Abducting Muslim Orphans

Indonesia, the world's most populous Muslim country, lost well over 170,000 people to the killer sea surges. The Indonesian government estimated that 35,000 children have been made homeless, orphaned or separated from their parents in Aceh, where Muslims make up 98 percent of the population.

Jan Egeland, the UN undersecretary for humanitarian affairs and emergency relief coordination, has highlighted that "There is a big and consistent rumor that children orphans are now systematically adopted, kidnapped, taken away to be Christianized in the West. It is happening but they are isolated cases but we need to stop it immediately."[21]

Subsequently it was exposed in the Washington Post[18] that WorldHelp, an American missionary group, abducted 300 Muslim tsunami orphans from the province of Aceh and plans to raise them as Christians with the aim of one day returning them back to Aceh as Christians missionaries to convert the Muslim population.

INDONESIA THE MOST DIFFICULT FOR KRISTENISASI

According to the Waco church group's Web site, its teams in Sri Lanka and Indonesia are performing "children's ministry," seeing "many people saved" and continuing to "minister to families and children through prayer and evangelism." The congregation uses small groups called "cell churches" to attract new members.

A January 18th posting from the team in Indonesia says the country's devastated Aceh Province is "ripe for Jesus!!"

"What an opportunity," it adds. "It has been closed for five years, and the missionaries in Indonesia consider it the most militant and difficult place for ministry. The door is wide open and the people are hungry."

Remember Afghanistan

Mengapa muslim mengkhawatirkan saudaranya dimurtadkan, kok disalahkan?

Wassalam

Bimo Tejokusumo

bimo_tejokusumo@yahoo.co.uk
Malmo, Swedia
----------