Stockholm, 26 Maret 2005

Bismillaahirrahmaanirrahiim.
Assalamu'alaikum wr wbr.
 

JOHAN HANYA PENGEKOR KAUM WAHHABI ATAU SALAFI SAUDI
Ahmad Sudirman
Stockholm - SWEDIA.

 

JOHAN KARENA HANYA PENGEKOR KAUM WAHHABI ATAU SALAFI SAUDI INI, MANA IA BISA MEMBEDAKAN NEGARA SEKULER PANCASILA DENGAN KERAJAAN IBNU SAUD APALAGI MENGACU KEPADA NEGARA YANG DIBANGUN RASULULLAH SAW.

"Kalo kalian berpegang dengan Kitabullah dan Sunnah Rasulullah Shalallahu 'Alaihi Wa salam maka kalian tidak akan mengangkat senjata dengan melawan pemerintahan di negeri muslim yang dipimpin seorang muslim, bagi kami cukup nasehat dan peringatan dari Rasulullah dan para pengikut mereka yang utama bahwa kami tidak akan melepaskan ketaatan kami kepada penguasa selama dia muslim. Lain kalo dia kafir maka kami akan bersatu bersama dengan kaum muslimin untuk menggulingkannya dan menggantinya dengan yang muslim" (Johan Pahlawan , johan_phl@yahoo.com , Sat, 26 Mar 2005 03:28:05 -0800 (PST))

Baiklah saudara Johan Pahlawan di Jakarta, Indonesia.

Apa yang dilambungkan oleh Johan Pahlawan dari kaum wahhabi atau Salafi Saudi ini, yang menyatakan bahwa yang dimaksud dengan "pemerintahan di negeri muslim yang dipimpin seorang muslim" adalah negara sekuler pancasila RI memang benar-benar salah kaprah.

Atas dasar apa Johan mengatakan bahwa Negara sekuler RI sebagai negeri muslim ? Apakah kalian Johan sudah membandingkannya dengan Negara yang dibangun Rasulullah saw dan yang dikembangkan oleh Khulafaur Rasyidin ? Ataukah hanya dibandingkan dengan Kerajaan Ibnu Saud yang berdirinya hasil dari kerjasama dengan Pemerintah kerajaan kafir Inggris bersama-sama untuk menghancurkan Khilafah Islamiyah Utsmani ?.

Inilah kesalahan dari para kaum wahhabi atau salafi Saudi yang sekarang banyak bermunculan di Negara sekuler pancasila RI ini. Mana mereka kaum wahhabi atau salafi Saudi ini berani menyatakan bahwa mereka berada dalam cengkraman sistem taghut pancasila negara sekuler kafir RI.

Kalian Johan melihat Negeri atau Negara sekuler pancasila RI hanya dari kulitnya saja. Sedangkan apa yang didalamnya, yang menyangkut masalah dasar dan sumber hukum, kalian abaikan. Disinilah kelemahan dan kesesatan kalian dalam menerapkan hadist Rasulullah saw mengenai taat pada pimpinan. Karena kalian tidak bisa membedakan pimpinan di Negara yang dibangun Rasulullah saw dan yang dikembangkan Khulafaur Rasyidin. Kalian menganggap Negara sekuler pancasila RI sama dengan Negara yang dibangun Rasulullah saw dan Khilafah yang dikembangkan Khulafaur Rasyidin yang dasar dan sumber hukumnya mengacu kepada apa yang diturunkan Allah SWT dan dicontohkan Rasulullah saw.

Makanya, kalian Johan, pengikut kaum wahhabi atau salafi Saudi yang ada di Negara sekuler pancasila, karena memang kalian itu buta, tidak paham dan tidak mengerti bagaimana menerapkan hadist Rasulullah saw tentang taat pada pimpinan Negeri, maka ketika melihat dan memperhatikan Negara sekuler pancasila, kalian Johan menganggap sebagai negara yang dimaksud Rasulullah saw dengan hadistnya tentang taat pada pimpinan, walaupun pimpinan itu hatinya seperti syaitan. Yang dimaksud dengan taat pada pimpinan oleh Rasulullah saw adalah pimpinan dari negeri atau Khilafah yang dasar dan sumber hukumnya mengacu kepada apa yang diturunkan Allah SWT dan dicontohkan Rasulullah saw. Bukan pimpnan di negeri atau negara yang dasar dan sumber hukumnya tidak mengacu kepada apa yang diturunkan Allah SWT dan dicontohkan Rasulullah saw.

Apalagi itu pimpinan negara kafir sekuler RI ini menjajah Negeri Acheh. Islam hanya dijadikan kedok saja. Mana Islam dijadikan dasar dan sumber hukum di Negara pancasila RI ini. Apakah itu Susilo Bambang Yudhoyono menjadikan Islam sebagai dasar dan sumber hukum negara pancasila RI ?. Mimpi kalian Johan pengekor kaum wahhabi atau salafi Saudi.

Kemudian, itu kalian Johan menyinggung: "Mr Ahmad Sudirman yang juga bersembunyi di negeri Kufar Stockhlom Swedia, yang berjudul lebih kurangnya Proklamasi Sekuler RI dan NLFAS/ ASNLF"

Ahmad Sudirman tidak bersembunyi di negeri kufar Stockholm Swedia. Melainkan hidup dan tinggal sebagaimana kalian Johan hidup dan tinggal di negeri kufar pancasila RI. Itu negeri kufar pancasila RI memang dasar dan sumber hukumnya tidak mengacu kepada apa yang diturunkan Allah SWT dan dicontohkan Rasulullah saw.

Kemudian itu menyinggung deklarasi ulang untuk penentuan nasib sendiri bebas dari pengaruh kekuasaan Negara RI yang sebagian isinya "We, the people of Acheh, Sumatra, exercising our right of self-determination, and protecting our historic right of eminent domain to our fatherland, do hereby declare ourselves free and independent from all political control of the foreign regime of Jakarta and the alien people of the island of Java....In the name of sovereign people of Acheh, Sumatra. Tengku Hasan Muhammad di Tiro. Chairman, National Liberation Front of Acheh Sumatra and Head of State Acheh, Sumatra, December 4, 1976". ("Kami, rakyat Aceh, Sumatra melaksanakan hak menentukan nasib sendiri, dan melindungi hak sejarah istimewa nenek moyang negara kami, dengan ini mendeklarasikan bebas dan berdiri sendiri dari semua kontrol politik pemerintah asing Jakarta dan dari orang asing Jawa....Atas nama rakyat Aceh, Sumatra yang berdaulat. Tengku Hasan Muhammad di Tiro. Ketua National Liberation Front of Acheh Sumatra dan Presiden Aceh Sumatra, 4 Desember 1976") (The Price of Freedom: the unfinished diary of Tengku Hasan di Tiro, National Liberation Front of Acheh Sumatra,hal : 15, 17, 1984).

Nah, dari sebagian isi deklarasi ulang tersebut, Negara Acheh masih belum berdaulat penuh. Artinya hukum belum bisa ditegakkan dan dijalankan secara penuh, karena wilayah de-facto Acheh masih berada dalam penjajah RI. Jadi, kalau mengacu kepada Negara yang dibangun Rasulullah saw, jelas, negeri Acheh belum berdiri penuh dan berdaulat, sehingga dasar dan sumber hukum belum bisa diterapkan secara sempurna. Karena itu belum bisa dikatakan sebagai negeri Acheh sekuler, karena memang kenyataannya secara de-facto dan de-jure masih belum bisa hukum ditegakkan dan dijalankan secara mandiri dan berdaulat penuh di seluruh wilayah Acheh.

Kemudian, menyinggung isi deklarasi ulang 4 Desember 1976, secara penuh belum bisa dikatakan sebagai suatu fakta dan bukti bahwa memang benar deklarasi ulang 4 Desember 1976 secara penuh dan berdaulat berdiri diatas Negara Acheh yang mengarah kepada sekuler, sebagaimana yang ada dan terjadi di negara RI.

Tentu saja, kalau menyelami lebih kedalam dari isi deklarasi ulang 4 Desember 1976 ini "melindungi hak sejarah istimewa nenek moyang negara kami. Ini menunjukkan dan membuktikan bahwa sejarah nenek moyang Negara Acheh dari sejak dibangun dan berdirinya adalah sudah mengacu kepada Islam. Jadi berdasarkan dasar sejarah sudah bisa dihubungkan dengan negara Acheh atau Kesultanan Acheh yang dasar dan sumber hukumnya mengacu kepada Islam dan Islam telah dijadikan sebagai agama dialam negara Acheh atau Kesultanan Acheh. Jadi, memang kalau melihat dari kulit luarnya saja, maka itu deklarasi ulang Acheh selintas kelihatan sebagai deklarasi yang tidak ada hubungannya dengan Islam. Tetapi, kalau ditelusuri lebih kedalam, maka akan terbuka dan terbukti bahwa Islam merupakan dasar yang dijadikan fondasi dalam Negara Acheh atau Kesultanan Acheh dari sejak Negeri Acheh dibangun dan dikembangkan.

Dan tidak ada fakta dan bukti yang bisa dijadikan pegangan dan yang menyatakan bahwa di Negara Acheh atau Kesultanan Acheh berlaku sekularisme. Artinya, pemisahan Islam dari masyarakat, pemerintahan dan Negara atau Kesultanan.

Lain dengan di Negara RI, dimana Islam telah dipisahkan dari kehidupan masyarakat, pemerintah dan negara. Islam hanyalah merupakan hal pribadi, dimana hukum Islam tidak bisa diterapkan dalam kehidupan masyarakat, pemerintah dan negara.

Begitu juga mengenai masalah kebangsaan. Dimana kebangsaan ini, kalau diteliti lebih kedalam dari apa yang terkandung dalam deklarasi ulang 4 Desember 1976, maka akan terbuka bahwa yang dimaksud dengan "dan melindungi hak sejarah istimewa nenek moyang negara kami". Itu tidak mengarah kepada kebangsaan. Melainkan itu menunjukkan kepada menjaga, melindungi, melaksanakan apa yang telah dijadikan sebagai dasar dan sumber hukum yang dipakai dalam Negara Acheh atau Kesultanan Acheh, yaitu Islam. Jadi, kalau dilihat secara sepintas dan secara dangkal, maka bisa saja timbul penafsiran kebangsaan, tetapi, kelau diteliti dan digali lebih kedalam dari apa yang terkandung dalam deklrasi ulang 4 Desember 1976 itu, maka bukan kebangsaan yang dimaksudkan, melainkan Islam.

Jadi, kalian Johan, kaum wahhabi atau salafi Saudi yang ada di negara kafir pancasila RI, kalau kalian menganggap bahwa pimpinan negara kafir sekuler pancasila RI harus diturut dengan mengambil hadits Rasulullah saw tentang taat pada pimpinan, maka kalian Johan wahhabiyin atau salafiyyin Saudi adalah salah kaprah. Kalian Johan pengekor kaum wahhabi atau salafi Saudi memang buta dalam menerapkan atau mengaplikasikan hadist Rasulullah saw tentang taat pada pimpinan tersebut.

Bagi yang ada minat untuk menanggapi silahkan tujukan atau cc kan kepada ahmad@dataphone.se agar supaya sampai kepada saya dan bagi yang ada waktu untuk membaca tulisan-tulisan saya yang telah lalu yang menyinggung tentang Khilafah Islam dan Undang Undang Madinah silahkan lihat di kumpulan artikel di HP http://www.dataphone.se/~ahmad

Hanya kepada Allah kita memohon pertolongan dan hanya kepada Allah kita memohon petunjuk, amin *.*

Wassalam.

Ahmad Sudirman

http://www.dataphone.se/~ahmad
www.ahmad-sudirman.com
ahmad@dataphone.se
---------

Date: Sat, 26 Mar 2005 03:28:05 -0800 (PST)
From: "Johan Pahlawan" johan_phl@yahoo.com
Subject: TANGGAPAN ATAS KOMENTAR ALI AL ASYTAR DI KOLONG NEGERI KUFAR STAVANGER NORWEGIA
To: matoari@yahoo.com, sidqy_suyitno@yahoo.com, zul@mucglobal.com, agungdh@emirates.net.ae, henry@bkpm.go.id, fahrida@rad.net.id, syah_rizal_m@yahoo.com, redaksi@sabili.co.id, arry.kusnadi@det.nsw.edu.au, nizaminz@yahoo.com, adriandw@centrin.net.id, abdul.muin@conocophillips.com, perlez@nytimes.com, dewisifa@yahoo.com, ziembah2003@yahoo.com, inda_aceh@lycos.com, s4043015@student.uq.edu.au, CheLives@gmail.com, mas_rey_2004@yahoo.com

TANGGAPAN ATAS KOMENTAR ALI AL ASYTAR DI KOLONG NEGERI KUFAR STAVANGER NORWEGIA
 

"Assalamu'alaikum
Rupanya pengikut takfiri ala Warwick yang muncul, sebenarnya saya berharap si Warwick sendiri yang muncul bukan kroconya, tapi rupanya ada yang gatel dengan bantahan saya yakni yang menamakan dirinya Mr Ali Al Asytar yang sembunyi dikolong negeri kafir yang dipujanya, baik saya akan jawab komentar anda." (Johan Pahlawan, 26 Maret 2005)

"Bermimpikah kalian ?. Anda (Johan Pahlawan) nampaknya bersemangat sekali untuk membela Jawa, ada apa rupanya hubungan kalian dengan Jawa ketoprakitu? Kalian katakan malu ? Kelakuan kalian yang membela Jawa Pancasila itutidak malu? Lalu kalian mengaku diri sebagai bangsa Acheh, anggap saja dulubetul. Abdullah bin Ubai kan orang Arab juga, namun apakah dia juga termasuk Golongan Rasulullah saw dalam perjuangannya, tidak kan ?" (Ali Al Asytar, 26 Maret 2005)

"Comment: Mr Ali Asytar yang sedang berada diketiak negeri kafir rupanya sama dan seleting dengan Warwick yang Khariji, hubungan saya dengan kaum muslimin di jawa adalah hubungan sesama muslim, Islam tidak memandang dari mana kita berasal, warna kulit, bahasa, dsb, bukankah begitu Mr Ali Asytar. Dimanapun kaum muslimin entah di Aceh, Jawa, Kalimantan, Papua, barat dan timur dan dimanapun mereka berada mereka adalah saudara seiman. Saya mengatakan malu karena vonis atas kafir secara umum terhadap saudara seiman di Indonesia adalah terlalu berlebihan bukankah Rasulullah Shalallahu 'Alaihi Wa salam bersabda: "Barangsiapa mengatakan kepada saudaranya: 'Wahai orang kafir,' maka (hukum) tersebut akan kembali kepada salah satu dari keduanya." (HR. Al-Bukhari dan Muslim...). Kemudian menjawab tuduhan anda bahwa saya membela Pancasila, itu jelas salah kaprah saya tetap berkeyakinan bahwa Islam lah azas yang paling benar, dengan Al Qur'an dan As Sunnah dengan pemahaman Salaf. Dan saya tidak menjadikan Islam sebagai azas tunggal sebagaimana paham orba. Bicara masalah munafiqin seperti yang anda contohkan justru julukan itu akan balik kepada anda Mr Ali Asytar, untuk lengkapnya simah koment saya selanjutnya agar anda tahu." (Johan Pahlawan, 26 Maret 2005)

"Andaikata kalian mampu berfikir sebagaimana orang-orang Acheh - Sumatra yangada dalam perjuangan, kalian dapat memahami bahwa memang tidak semua orangJawa yang munafiq, namun kita berbicara senantiasa dalam bentuk Mayoritas(Meuseue lam raga sabee na bacut udeueng ken sabee cit takheun, panenatakheun udeueng)" (Ali Al Asytar, 26 Maret 2005)

"Comment: Inilah buktinya dijawab sendiri dalam ucapanmu Mr Ali Asytar: "namun kita berbicara senantiasa dalam bentuk Mayoritas". Inilah yang disebut mengkafirkan secara umum tanpa merincinya, kau pukul rata semuanya, dan inilah aqidah Khariji atau paham Takfiri, baik engkau sadari atau tidak sadari engkau sudah masuk dalam paham satu ini. Lalu dalam tulisan sebelumnya engkau tulis: "Andaikata kalian mampu berfikir sebagaimana orang-orang Acheh - Sumatra yang ada dalam perjuangan, kalian dapat memahami bahwa memang tidak semua orang Jawa yang munafiq". Nah anda jawab sendiri bukan bahwa tidak semua orang jawa munafiq, tapi kalimat selanjutnya "namun kita berbicara senantiasa dalam bentuk Mayoritas" nah disinilah kesalahannya Mr Ali Asytar." (Johan Pahlawan, 26 Maret 2005)

"Kami bangsa Acheh Sejati tunduk patuh kepada Allah, RasulNya dan pemimpinyang melawan penjajah yaitu "Jawa dan Beulanda" serta siapapun yangmembelanya. (semoga Belanda ber tanggung jawab terhadap kesalahan nya duluagar namanya terhapus dari lembaran hitam kami)" (Ali Al Asytar, 26 Maret 2005)

"Comment: Ini pengakuan sekedar pengakuan Mr Ali Asytar, kalo kalian berpegang dengan Kitabullah dan Sunnah Rasulullah Shalallahu 'Alaihi Wa salam maka kalian tidak akan mengangkat senjata dengan melawan pemerintahan dinegeri muslim yang dipimpin seorang muslim, bagi kami cukup nasehat dan peringatan dari Rasulullah dan para pengikut mereka yang utama bahwa kami tidak akan melepaskan ketaatan kami kepada penguasa selama dia muslim. Lain kalo dia kafir maka kami akan bersatu bersama dengan kaum muslimin untuk menggulingkannya dan menggantinya dengan yang muslim." (Johan Pahlawan, 26 Maret 2005)

"Ucapan itu membuktikan bahwa kalian termasuk bahagian dari penjajahan Itu sendiri, kendatipun mengaku sebagai bangsa Acheh. Paling kurang kalian dapatdisebut sebagai keledai yang terperosok pada lobang yang sama (hadist). Apakah kalian sedang bermimpi ? Bagaimana mungkin seseorang yang tidak memiliki uang dapat memberikan uang kepada orang lain. Bagaimana mungkinorang yang tidak memiliki syariat kecuali syariat "Puncasilap" dapatmemberikan "syariat" kepada orang lain, gombal. Bagaimana mungkin "muallaf" nak mengajar "teungku", masya Allah !!! Benar-benar block on lah kamu punya orang." (Ali Al Asytar, 26 Maret 2005)

"Comment: Kami bangsa Aceh memang di dzalimi oleh penguasa pemerintah Indonesia tetapi itu bukan alasan bagi kami untuk memberontak, karena kami akan tetap terus berpegang dengan wasiat Rasulullah untuk tidak meninggalkan ketaatan kepada penguasa pada hal yang ma'ruf, dan kami selalu berdoa kepada Allah, "Ya Allah perbaikilah pemerintahan negeri kami dan penguasa kami, dan jadikanlah kami tetap sabar menerima cobaan ini."Tentang syariat Islam toh nyatanya bisa berjalan walaupun masih banyak hal-hal yang belum atau jauh dari sempurna, semua itu kan butuh waktu." (Johan Pahlawan, 26 Maret 2005)

"Kemudian kalian menuduh kami sekuler ? Saya khawatir jangan-jangan Kalian mengertipun tidak apa itu sekuler? " (Ali Al Asytar, 26 Maret 2005)

"Comment: Baiklah Teungku biar anda tau bahwa GAM/ASNLF itu sekuler silahkan simak komentarnya sohib kamu atau mungkin guru kamu yakni Mr Ahmad Sudirman yang juga bersembunyi di negeri Kufar Stockhlom Swedia, yang berjudul lebih kurangnya Proklamasi Sekuler RI dan NLFAS/ ASNLF, baca itu uraian temen kamu. OK bung selamat disimak ya uraiannya Mr Ahmad Sudirman." (Johan Pahlawan, 26 Maret 2005)

"Ada beberapa hal yang perlu saya tanyakan pertama, apa maksudnya "bangsakami". Apakah yang kalian maksudkan bangsa Jawa? Sebab ucapan kalianmencirikan bahwa kalian tidak berasal dari bangsa Acheh. Kalau Tengku HasanMuhammad di Tiro tak muncul, kebanyakan orang Acheh masih enggeh-enggehterhadap Hindunesia Jawa munafiq persisnya macam kalian yang tetap "teungeut" sampai hari ini. Kalian juga sepertinya tak pernah mengerti bagaimana bedanya negara Swedia dengan negara Hindunesia Munafiq. Yang menjadi persoalan disini bukan Kafir tapi Munafiq. Masalah Kristen dengan Islam sudah final: "Lakum dinukum waliadin" dan "La ikraha fiddin". Buktinya lagi orang Islam di Swedia dan juga di Norwegia tempat saya tinggal, hiduplayak ditengah-tengah masyarakat, sementara di negara munafiq Hindunesiarakyatnya hidup morat-marit, mengapa ? Itukah yang namanya islam ? Itunamanya munafiq . Pemimpin-pemimpin di Swedia dan Norwegia bermental"pantang korupsi", sementara di Hindunesia yang mengaku Islam, korupsi itusudah jadi budaya. Kemudian Hakim di Swedia benar-benar independen, buktinya lihat kasus Tuduhan palsu Hindunesia Munafiq terhadap pemimpin ASNLF diStockholm, sementara hakim-hakim Hindunesia munafiq fonis menurut selerasang penguasa dhalim. Jadi nampaknya kalian tidak memahami perbedaan orang munafiq dengan orang Islam sejati, kenapa ? Jawabannya kalian sendiri adalah bahagian dari mereka, alias munafiq." (Ali Al Asytar, 26 Maret 2005)

"Comment: Bangsa disini adalah bangsa Aceh yang tetap sadar dengan agamanya bukan dengan dengkul dan emosinya, bukan dengan paham takfirinya, bukan dengan paham rusak yang merusakkan seluruh amalan inilah bangsa kami. Kemunculan Hasan Tiro bukan barokah buat kami Bangsa Aceh tapi awal petaka bagi kami, sudah banyak yang jadi korban atas ucapannya dan provokasinya, adakah ini masih kurang Teungku?. J Anda coba bela Negara Kafir Swedia yang telah memberikan tempat tidur buat kalian, yang memberikan tanah buat kalian tinggali, yang bisa kalian tidur nyeyak dengannya menikmati sajian makanan khas eropa dan sederet kenikmatan lainnya. Tapi ketahui Teungku kami disini tetap bertahan dengan segala kesabaran kami, kami berdo'a untuk pemimpin negeri kami biarpun dia berbuat dzalim, mengambil apa yang seharusnya menjadi hak kami, semua itu karena ketaatan kami atas wasiat Rasulullah untuk tidak meninggalkan dan melepaskan ketaatan kepada penguasa muslim walaupun dia jahat dan dzalim kepada kami ataupun fisik dia jelek, maka kami akan tetap taat dan patuh kepada penguasa muslim dalam hal yang ma'ruf. Kami disini tidak lari seperti kalian yang mendapat suaka di negeri-negeri kufar yang kemudian mengobok-obok bangsa kami, dan perang sesama anak negeri pun harus terjadi. Pemerintahan negeri kami Indonesia memang bukan pemerintahan Islam tapi karena penguasanya muslim maka wajib bagi kami untuk taat dan patuh kepadanya dalam hal yang ma'ruf. Soal korupsi itu memang sudah menjadi penyakit serta budaya dan mudah-mudahan hal seperti itu bisa diberantas atau diminimalkan se minimal mungkin. Dan untuk mencapai itu butuh usaha dan kerja keras bukan cumin sekedar teriak-teriak diatas mimbar. Dari jawaban saya anda bisa tau kan siapa yang munafiq." (Johan Pahlawan, 26 Maret 2005)

Wassalamu'alaikum

Johan Pahlawan

From Banda Aceh
Johan_phl@yahoo.com
----------