Canberra, 27 Maret 2005

Bismillaahirrahmaanirrahiim.
Assalamu'alaikum wr wbr.
 

PERJUANGAN SALAFI DI JAWA & LASKAR JIHADNYA HANYA MENGEKOR BUNTUT TNI
Muhammad Dahlan
Canberra - AUSTRALIA.

 

MEMANG KELIHATAN DENGAN JELAS ITU PERJUANGAN SALAFI DI JAWA & LASKAR JIHADNYA HANYA MENGEKOR BUNTUT TNI

Pak Ahmad yang baik!. Baiklah, saya juga ingin memberikan tanggapan terhadap pemikiran sdr Pejuang Akhir, yang seolah-olah mendukung perjuangan pendirian negara Islam. Untuk diketahui bahwa perjuangan pendirian negara Islam di Indonesia selama ini hanyalah dalam rangka mendukung negara pancasila yang harus berbingkai NKRI, dengan kata lain Islam Indonesia adalah ashabiyah suku tertentu dan harus membenarkan apa kata Jendral mereka.

Contohnya, perjuangan Salafi di Jawa dengan lasykar jihadnya, adalah perjuangan penjilatan pantat TNI, akhirnya apa yang terjadi di Ambon dan Maluku. Adalah tindakan pelanggaran dan pembunuhan yang katanya didukung oleh beberapa Jendral dari Jakarta.

Demikian juga, kaum Salafi sesat ini, sangat benci dengan perjuangan bangsa Islam Acheh. Sudah tentu alasannya sangat jelas, adalah karena ashabiyah Salafi sesat ini hanya kepada kaumnya saja.

Bahkan, salah seorang pemimpin Salafi sesat ini pernah ngomong bahwa perjuangan bangsa Acheh adalah sesat karena telah membunuh anggota TNI. Lalu kita katakan apa urusan Salafi untuk membela TNI karena telah dibunuh oleh pejuang kemerdekaan Acheh?

Untuk diketahui, bahwa dalam pandangan apapun kalian hendak melihat, yang jelas dan benar bahwa tanah Acheh adalah milik bangsa Acheh dan hak bangsa Acheh untuk membelanya. Siapapun yang berani merampas hak-hak bangsa lain mereka adalah penjajah dan penjahat dan wajib dikejar dan dihukum. Dalam hal ini, TNI adalah salah satu kaum pembunuh alias fir'aun ala Jawa.

Jadi kalau bangsa Acheh yang mendukung pengusiran penjajah lalu terbunuh dalam perjuang ini maka mereka adalah syahid, karena mereka membela hak-hak mereka dan mempertahankan hak milik mereka yang telah dikaruniakan oleh Allah Ta'ala kepada mereka sejak dahulu kala.

Apapun agama mereka, TNI wajib keluar dari Acheh atau berhadapan dengan perlawan bangsa Acheh dan mati terbunuh sebagai penjajah dan penolong idelogi sesat pancasila/NKRI, walaupun sering ke masjid di Acheh dan turut ceramah Agama di kampung-kampung, bagaikan Snouck Hurgronje yang berbangsa Belanda itu.

Jadi para ustaz yang datang dari Jawa dan sekarang berada di Acheh dengan alasan untuk memberi pelajaran Agama ditambah dengan pesan sponsor dari mbah Sukarno, sama dengan tindakan Snouck Hurgronje dahulu kala.

Yang menyedihkan lagi, bahwa musibah yang tertimpa bangsa Acheh selama ini, juga diambil manfaat oleh bangsa penjajah TNI alias NKRI alias Jawa, untuk menahan dan menyalah gunakan bantuan dunia kepada bangsa Acheh.

Ada beberapa wakil pencuri yang menyandang Menteri dari negara NKRI, datang ke Australia, dalam rangka mendengar bimbingan PM Australia untuk menggunakan bantuan Australia beberapa hari yang lalu. Aneh bin ajaib, bahwa dalam salah satu komentar mereka/wakil mereka, lewat Radio SBS Australia, bahwa mereka ke Australia adalah dalam rangka mendiskusikan bagaimana membangun Indonesia kembali dan Acheh.

Untuk diketahui bahwa komentar ini adalah mewakili lima mentri penjajah Indonesia yang berkunjung ke Australia dengan menggunakan uang bantuan dunia yang sebenarnya adalah untuk bangsa Acheh. Tapi tega-teganya mereka kurang ajar dalam memberikan komentar demikian.

Ada urusan apa dengan membangun kembali Indonesia, apakah karena mereka ingin menggunakan bantuan itu untuk menutupi uang-uang korupsi mereka terdahulu, sehingga Indonesia hancur dan perlu dibangun kembali?

Inilah salah satu karakter bangsa NKRI yang hendak dibela oleh Salafi sesat yang berpusat di pulau Jawa. Bantuan musibah untuk bangsa Acheh masih juga ditilap mereka dan TNI di Acheh terus saja memperkaya pribadi-pribadi mereka dengan menyalah gunakan bantuan yang diberikan dunia kepada bangsa Acheh yang tekena musibah.

Kita berharap, agar bangsa Acheh sabar dan terus berdo'a suapaya musibah penjajahan atas mereka segera berakhir sebagaimana berakhirnya musibah tsunami yang telah dihadapi dengan segala ketabahan. Ingat pesan endatu kita, bahwa "Hana udjeun jang hana pirang hana prang yang hana talo, (tidak ada hujan yang tiada berhenti dan tidak perang yang tidak terkalahkan).

Wassalam,

Muhammad Dahlan

tang_ce@yahoo.com
Canberra, Australia
----------