Stockholm, 29 Maret 2005

Bismillaahirrahmaanirrahiim.
Assalamu'alaikum wr wbr.
 

ABU PEUREULAK, ITU AICC BUKAN WADAH POLITIK, MELAINKAN ALAT UNTUK MENDEKAP RAKYAT ACHEH
Ahmad Sudirman
Stockholm - SWEDIA.

 

ABU PEUREULAK, ITU AICC MENGGUNAKAN RAKYAT ACHEH UNTUK MENGIKAT RAKYAT ACHEH, INILAH TAKTIK DAN STRATEGI MBAH SUSILO BAMBANG YUDHOYONO DAN JUSUF KALLA.

"Terima kasih atas jawabannya! Saya sebenarnya ada diundang untuk menghadiri forum AICC tersebut. tetapi ketika saya lihat tidak ada arah dan tujuan yang jelas dan siapa yang bermain, saya putuskan untuk tidak hadir. Sejauh pemahaman pak Ahmad bagaimana eksistensi forum AICC tersebut, apa latar belakangnya, tujuannya dan lain sebagainya ? Bagaimana menurut pak Ahmad perundingan antara RI-GAM pada bertengahan bulan april ini, apakah GAM akan menerima otonomi khusus? atau pertemuan ini hanya sandiwara politik saja." (Abu Peureulak , abu_dipeureulak@yahoo.com , Tue, 29 Mar 2005 05:18:09 -0800 (PST))

Terimkasih Abu Di Peureulak di Jakarta, Indonesia.

Jumpa lagi Abu Peureulak, dan Ahmad Sudirman melihat Abu Peureulak tidak lagi di Singapore tetapi sekarang sudah ada lagi di Jakarta, Indonesia.

Dan tentu saja Ahmad Sudirman tidak heran kalau Abu Peureulak diundang (walaupun tidak jadi pergi) ke pertemuan di di Universitas Islam Antar Bangsa, Kuala Lumpur, Malaysia, yang diadakan antara 18 - 20 Februari 2005 untuk membentuk Acheh International Consultative Committee (AICC). Dimana pertemuan ini dihadiri Paguyuban Acheh Indonesia, Taman Iskandar Muda Jakarta, Acheh Sepakat Indonesia, Universitas Syah Kuala, IAIN Asyariri Banda Acheh, Ikatan Masyarakat Acheh Malaysia (IMAM), pelajar Acheh di Australia, Amerika Serikat dan Jepang, mantan Menteri Besar Kedah dan mantan Menteri Pertanian Malaysia Tan Seri Sanusi Juned, mantan Gubernur Acheh Samsudin Mahmud, dan mantan rektor Universitas Syah Kuala Abdullah Ali. Tentu saja pertemuan ini dimotori juga oleh Ketua Fraksi Reformasi dan anggota Komisi VI DPR, Achmad Farhan Hamid asal Acheh. Dan juga tokoh masyarakat Acheh di Jakarta.

Sebenarnya melihat latar belakang dibangun dan dibentuknya Acheh International Consultative Committee (AICC) dilihat dari sudut kacamata RI adalah sebagai satu wadah untuk mengupayakan penyatuan masyarakat Acheh kedalam dekapan RI, bukan hanya masyarakat Acheh yang ada di Acheh tetapi juga yang ada diluar Acheh, seperti yang ada di Malaysia, Australia, Jepang, Amerika. Hanya sejauh mana usaha yang dimotori oleh orang asal Acheh yang sudah bisa ditarik oleh mbah Susilo Bambang Yudhoyono dan Jusuf Kalla bisa berhasil dalam tugasnya untuk menjalankan program penjeratan rakyat Acheh kedalam sangkar RI.

Contohnya, itu Ketua Fraksi Reformasi, anggota Komisi VI DPR, dan tokoh masyarakat Acheh di Jakarta, Achmad Farhan Hamid yang merupakan salah seorang motor dari penggalangan masyarakat Acheh, disamping mantan Gubernur Acheh Samsudin Mahmud, mantan rektor Universitas Syah Kuala Abdullah Ali, dan mantan Menteri Besar Kedah Tan Seri Sanusi Juned. Dimana para motor ini memang telah dipersiapkan oleh pihak Susilo Bambang Yudhoyono dan Jusuf Kalla untuk dijadikan sebagai penggerak dan pemicu untuk menarik dan menjaring masyarakat Acheh kedalam kancah dan jaringan RI, agar supaya bisa dijadikan alat untuk menutupi dan mengelabui pendudukan dan penjajahan RI di Acheh.

Tujuan pihak RI dengan ditariknya masyarakat Acheh kedalam bangunan badan Acheh International Consultative Committee (AICC) dan diarahkan kepada pembangunan Acheh yang difokuskan kepada masalah sosial dan ekonomi Aceh, khususnya mengenai bantuan bagi korban gempa dan tsunami, yang dilakukan dalam bentuk pemberian pertolongan dan pengupayaan kesejateraan masyarakat Acheh ke depan, adalah merupakan usaha terselubung untuk menutupi dan mengelabui kebijaksanaan politik RI dalam hal pendudukan RI di Acheh.

Tentu saja bagi rakyat Acheh yang kurang sadar dan kurang melek matanya, dengan melihat adanya usaha dari pihak orang Acheh sendiri, yang sebenarnya merupakan jelmaan politis mbah Susilo Bambang Yudhoyono dan Jusuf Kalla, akan mudah terpengaruh dan masuk kedalam tali jeratan AICC yang telah dipasang oleh mbah Susilo Bambang Yudhoyono, Jusuf Kalla, Endriartono Sutarto, Djoko Santoso dan Syamsir Siregar.

Hanya Acheh International Consultative Committee (AICC) ini tidak dilibatkan kedalam bidang politik, karena masalah politik akan diatur langsung oleh pihak Pemerintah pusat. Walaupun AICC bukan merupakan wadah aktifitas politik, tetapi dengan wujudnya AICC merupakan satu jalan untuk memecah belah kekuatan perjuangan rakyat Acheh yang menuntut penentuan nasib sendiri dan penentuan masa depan Acheh yang bebas, merdeka.

Adapun eksistensi Acheh International Consultative Committee (AICC) akan tetap diusahakan wujud dengan dimotori oleh orang-orang Acheh sendiri yang telah kena umpan yang disodorkan pihak Susilo Bambang Yudhoyono dan Jusuf Kalla.

Kemudian menyinggung perundingan informil antara RI dengan ASNLF yang akan dilangsungkan antara 12 sampai 17 April 2005 itu agendanya belum ditentukan. Hanya tentu saja agenda itu akan didasarkan kepada agenda yang sebelumnya yang sudah dibicarakan pada pertemuan sebelumnya dan pada pertemuan informil yang akan datang di Helsinki, Finlandia ini akan dikembangkan dan akan diperinci lebih mendetil. Oleh karena itu masalah self-government akan diketahui bagaimana bentuknya setelah perundingan informil pada 12-17 April 2005 dilaksanakan. Jadi, untuk saat sekarang, sebaiknya kita menunggu saja, apa yang akan disodorkan oleh masing-masing pihak dalam perundingan informil ini.

Tentu saja, kalau ternyata hasil perundingan nantinya tidak memuaskan pihak rakyat Acheh, maka bisa memberikan masukan dan memberikan jalan pemecahannya yang terbaik kepada pihak ASNLF. Karena toh, hasil perundingan pada tanggal 12-17 April 2005 itupun masih informil dan sifatnya tidak mengikat, yang setiap waktu bisa saja ambruk dan berantakan.

Yang paling baik dan paling bijaksana adalah kita tunggu saja sampai perundingan itu berjalan, dimana kita nantinya bisa melihat dan mendengar hasilnya. Kemudian setelah itu, bisa saja memberikan masukan dan kritikan, kalau memang dianggap hasilnya tidak memuaskan dan merugikan perjuangan kemerdekaan rakyat Acheh.

Jadi, perundingan antara ASNLF dengan RI ini perundingan yang akan mengarah kepada perdamaian di Acheh, bukan hanya sandiwara politik.

Bagi yang ada minat untuk menanggapi silahkan tujukan atau cc kan kepada ahmad@dataphone.se agar supaya sampai kepada saya dan bagi yang ada waktu untuk membaca tulisan-tulisan saya yang telah lalu yang menyinggung tentang Khilafah Islam dan Undang Undang Madinah silahkan lihat di kumpulan artikel di HP http://www.dataphone.se/~ahmad

Hanya kepada Allah kita memohon pertolongan dan hanya kepada Allah kita memohon petunjuk, amin *.*

Wassalam.

Ahmad Sudirman

http://www.dataphone.se/~ahmad
www.ahmad-sudirman.com
ahmad@dataphone.se
---------

Date: Tue, 29 Mar 2005 05:18:09 -0800 (PST)
From: abu peureulak abu_dipeureulak@yahoo.com
Subject: Latar belakang AICC
To: Ahmad Sudirman ahmad@dataphone.se

Terima kasih atas jawabannya!

Saya sebenarnya ada diundang untuk menghadiri forum AICC tersebut. tetapi ketika saya lihat tidak ada arah dan tujuan yang jelas dan siapa yang bermaian, saya putuskan untuk tidak hadir. Sejauh pemahaman pak ahmad bagaimana eksistensi forum AICC tersebut, apa latar belakangnya, tujuannya dan lain sebagainya? Bagaimana menurut pak ahmad perundingan antara RI-GAM pada bertengahan bulan april ini, apakah GAM akan menerima otonomi khusus? atau pertemuan ini hanya sandiwara politik saja.

Wassalam

Abu Di Peureulak

abu_dipeureulak@yahoo.com
Jakarta, Indonesia
----------