Stockholm, 30 Maret 2005

Bismillaahirrahmaanirrahiim.
Assalamu'alaikum wr wbr.
 

MUBA DIJON HANYA BERGELANTUNGAN DIBAWAH POHON GOOGLE, MANA MENGERTI DAULAH ISLAM RASULULLAH
Ahmad Sudirman
Stockholm - SWEDIA.

 

MUBA DIJON MENCOBA MENDEKATI HADITS YANG MENYANGKUT TAAT PADA PIMPINAN, TETAPI DANGKAL DALAM PEMAHAMAN DAN PENERAPANNYA

"Kamu juga mengatakan bahwa pemerintahan SBY bertolak belakang dengan undang-undang Madinah atau pemerintah di jaman Rasulallah. Apa memang benar begitu? Jangan membesar-besarkan lah ! Itu kan artinya membual ! Bertolak belakang itu secara matematik artinya disjoint, tidak ada irisan sama sekali. Apa memang begitu ? Trus, kamu juga bilang "Kaum wahhabi atau salafi Saudi yang ada di Negara RI bersama penguasa dibawah mbah Susilo Bambang Yudhoyono, Jusuf Kalla, Jenderal TNI Endriartono Sutarto, dan Letjen Djoko Santoso untuk bersama-sama menumpas habis rakyat muslim Acheh yang sedang berjuang menuntut penentuan nasib sendiri bebas dari pengaruh kekuasaan Negara pancasila sekuler RI." (Ahmad Sudirman, 29 Maret 2005) Kenyataannya kan rakyat Aceh masih eksis tuh, tidak tumpas, malah mereka adem ayem aja. Jadi jelas pernyataan kamu itu (lagi-lagi) hanya bualan. Trus pernyataan yang mengaitkan kaum wahabi dan salafi di atas mendiskreditkan mereka nggak sih?" (Muba Zir , mbzr00@yahoo.com , Tue, 29 Mar 2005 13:28:45 -0800 (PST))

Baiklah Muba di Dijon, Bourgogne, Perancis.

Muba Dijon mau coba-coba ikutan kaum wahhabi atau salafi Saudi pegang-pegang hadits dan memuter-muternya, biar itu mbah Susilo Bambang Yuhdooyno dan Jusuf Kalla ikut berputar tujuh keliling.

Muba Dijon, cara kalian berpikir memang masih picik dan dangkal, terutama ketika menggali mengenai masalah penggunaan bahasa, yang secara dangkal ditafsirkan memakai logika ala Muba Dijon yang ikutan mbah Soekarno penipu licik.

Nah, kalau Ahmad Sudirman menyatakan: "Karena daulah sekuler pancasila RI yang dipimpin oleh para pemimpin model seperti Susilo Bambang Yudhoyono dan Jusuf Kalla, itu bertolak belakang dan tidak mengacu kepada daulah yang dibangun Rasulullah saw dan dikembangkan oleh Khulafaur Rasyidin dan para kahlifah penerusnya dari Umayyah, Abbasiyah, Fatimiyah dan Utsmaniyah." (Ahmad Sudirman, 29 Maret 2005)

Itu artinya, bangunan negara sekuler pancasila RI yang dasar dan sumber hukumnya tidak mengacu kepada apa yang diturunkan Allah SWT dan dicontohkan Rasulullah saw adalah bertolah belakang dengan bangunan Daulah Islamiyah yang dasar dan sumber hukumnya mengacu kepada apa yang diturunkan Allah SWT dan yang dicontohkan Rasulullah saw.

Nah, disini artinya, kalau kalian Muba Dijon tidak budek dan tidak gombal dan otak kalian bukan otak udang, maka kalian akan melihat itu bangunan dasar dan sumber hukum yang diacu Negara sekuler pancasila bertolak belakang dengan dasar dan sumber hukum yang diacu dalam daulah Islamiyah pertama di Yatsrib yang dibangun Rasulullah saw dan dikembangkan oleh Khulafaur Rasyidin.

Bertolak belakangnya ini terlihat dari sudut sumber hukum yang dijadikan acuan. Dimana yang satu hukum mengacu kepada sumber hukum yang diturunkan Allah dan dicontohkan Rasulullah saw. Dan yang satu lagi hukum yang tidak mengacu kepada sumber hukum yang diturunkan Allah dan dicontohkan Rasulullah saw.

Nah, inilah yang dimaksud oleh Ahmad Sudirman dengan bertolak belakang. Artinya, hukum yang satu sumbernya datang dari Allah SWT dan Rasul-Nya, sedang hukum yang lainnya sumbernya bukan yang datang dari Allah SWT dan Rasul-Nya. Coba pakai sedikit otak, Muba Dijon, bukan hanya mengembek kepada mbah Susilo Bambang Yudhoyono dan Jusuf Kalla saja.

Kemudian, kita lihat mengapa Ahmad Sudirman menyatakan bahwa daulah sekuler pancasila RI bertolak belakang dan tidak mengacu kepada daulah yang dibangun Rasulullah saw ?

Nah disini untuk menjawabnya, sebagaimana yang telah dijelaskan diatas, yaitu melihat kepada dasar dan sumber hukum yang dijadikan acuan. Dasar dan sumber hukum di Negara sekuler pancasila RI tidak mengacu kepada apa yang diturunkan Allah SWT dan Sunah Rasulullah saw, artinya Al Qur'an dan Sunnah. Dasar dan sumber hukum yang diacu dalam Negara sekuler pancasila RI adalah pancasila yang dijabarkan dalam bentuk UUD 1945, Tap MPR, UU, Keppres, PP, Inspres, Perppu, KUHPidana, KUHPerdata dan peraturan lainnya.

Kemudian ketika Ahmad Sudirman menyatakan: "Nah, ternyata para pengikut paham wahhabi atau salafi Saudi ini, khususnya yang ada di Negara sekuler pancasila RI masih buta dalam cara penerapan dan pelaksanaan dalil naqli dan dalil aqli ini, atau penerapan dan pelaksanaan hadits dan hasil pemikiran ulama para pengikut kaum wahhabi atau salafi Saudi ini. Misalnya itu para pengikut kaum wahhabi atau salafi Saudi yang ada di Negara sekuler pancasila RI atau Negara burung garuda pancasila sekuler RI dalam jihadnya menerapkan dalil naqli dan aqli-nya bersama penguasa dibawah mbah Susilo Bambang Yudhoyono, Jusuf Kalla, Jenderal TNI Endriartono Sutarto, dan Letjen Djoko Santoso untuk bersama-sama menumpas habis rakyat muslim Acheh yang sedang berjuang menuntut penentuan nasib sendiri bebas dari pengaruh kekuasaan Negara pancasila sekuler RI." (Ahmad Sudirman, 29 Maret 2005)

Nah, kalau itu Muba Dijon menyanggah dengan mengatakan: "Kenyataannya kan rakyat Aceh masih eksis tuh, tidak tumpas, malah mereka adem ayem aja. Jadi jelas pernyataan kamu itu (lagi-lagi) hanya bualan."

Memang, karena yang dikatakan Ahmad Sudirman adalah "mbah Susilo Bambang Yudhoyono, Jusuf Kalla, Jenderal TNI Endriartono Sutarto, dan Letjen Djoko Santoso untuk bersama-sama menumpas habis rakyat muslim Acheh yang sedang berjuang menuntut penentuan nasib sendiri bebas dari pengaruh kekuasaan Negara pancasila sekuler RI."

Nah, dengan mengatakan untuk menumpas habis rakyat muslim Acheh yang sedang berjuang menuntut penentuan nasib sendiri bebas dari pengaruh kekuasaan Negara pancasila sekuler RI. Artinya rakyat yang yang telah sadar untuk menentukan nasib sendiri. Dimana itu Susilo Bambang Yudhoyono, Jusuf Kalla, Jenderal TNI Endriartono Sutarto, dan Letjen Djoko Santoso untuk bersama-sama menumpas habis. Disini ketika dikatakan menumpas habis, artinya proses penumpasan itu terus berlangsung. Jadi bukan proses penumpasan ini sudah selesai, melainkan masih terus berjalan. Kalau penumpasan ini sudah selesai berarti itu pihak mbah Susilo Bambang Yudhoyono sudah adem ayem tidur diatas ranjangnya tanpa dihantui mimpi buruk tentang konflik Acheh.

Selanjutnya, itu Muba Dijon menyinggung: "Trus pernyataan yang mengaitkan kaum wahabi dan salafi di atas mendiskreditkan mereka nggak sih?"

Itu ketika Ahmad Sudirman menyatakan: "ternyata para pengikut paham wahhabi atau salafi Saudi ini, khususnya yang ada di Negara sekuler pancasila RI masih buta dalam cara penerapan dan pelaksanaan dalil naqli dan dalil aqli ini, atau penerapan dan pelaksanaan hadits dan hasil pemikiran ulama para pengikut kaum wahhabi atau salafi Saudi ini."

Itu artinya adalah para pengikut paham wahhabi atau salafi Saudi masih salah kaprah dalam penerapan dan pelaksanaan hadits-hadits yang ada hubungannya dengan taat pada pimpinan, kalau itu hadits-hadits diterapkan dan dilaksanakan dalam negara sekuler pancasila RI yang dasar dan sumber hukum negaranya tidak mengacu kepada apa yang diturunkan Allah SWT dan yang dicontohkan Rasulullah saw.

Nah, kalau apa yang dikatakan Ahmad Sudirman ini dianggap Muba Dijon sebagai mendiskreditkan atau memperlemah wibawa para pengikut paham wahhabi atau salafi Saudi di Negara sekuler pancasila RI, jelas itu salah. Disini bukan masalah memperlemah wibawa, yang ditekankan disini adalah kesalahan dalam penerapan dan pelaksanaan hadits-hadits yang menyangkut taat kepada pimpinan. Dimana hadits-hadits tersebut diterapkan dalam Negara yang dasar dan sumber hukum negaranya tidak mengacu kepada apa yang diturunkan Allah SWT dan dicontohkan Rasulullah saw.

Terakhir, menyinggung isi hadits : "Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda: "Akan ada sepeninggalku para penguasa yang mereka itu tidak berpegang dengan petunjukku dan tidak mengikuti cara/jalanku. Dan akan ada di antara para penguasa tersebut orang-orang yang berhati syaithan dalam bentuk manusia." Hudzaifah berkata : "Apa yang kuperbuat bila aku mendapatinya?" Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda: "Hendaknya engkau mendengar dan menaati penguasa tersebut! Walaupun punggungmu dicambuk dan hartamu dirampas, maka (tetap) dengarkanlah (perintahnya) dan taatilah (dia)." (HR. Muslim dari shahabat Hudzaifah bin Al-Yaman radhiallahu 'anhu, 3/1476, no. 1847)"

Dimana Muba Dijon memberikan tanggapan: "Pernyataan (1) tidak menetapkan adanya satu pemerintahan (yang bagaimanapun) untuk boleh tidak ditaati"

Nah, disini kelihatan itu Muba Dijon memang budek dan gombal, tida tahu sejarah Rasulullah saw. Itu Rasulullah saw menyatakan tentang kepemimpinan tersebut ketika Daulah Islamiyah pertama di Yatsrib telah dibangun pada tahun 1 Hi / 622 M. Setelah Rasulullah saw hijrah ke Yatsrib (Madinah sekarang)

Jadi, ketika Rasulullah saw menyatakan "Akan ada sepeninggalku para penguasa yang mereka itu tidak berpegang dengan petunjukku dan tidak mengikuti cara/jalanku."

Artinya, sepeninggal Rasulullah saw, baik sebagai Rasul, Nabi dan Pemimpin Daulah Islamiyah pertama di Yatsrib, akan ada para penguasa yang mereka itu tidak berpegang dengan petunjukku dan tidak mengikuti cara/jalanku.

Nah, karena memang Daulah Islamiyah telah terbentuk dan berdiri di Yatsrib, maka tentu saja pemerintahan Daulah Islamiyah dibawah Rasulullah saw sudah wujud dan berjalan.

Jadi, melihat dari dasar pemikiran Rasulullah saw yang mendasarkan kepada pimpinan dalam pemerintahan Daulah Islamiyah, yang harus didengar dan ditaati, artinya selama negara itu mencontoh kepada apa yang telah dicontohkan Rasulullah saw, yaitu dasar dan sumber hukum daulah atau negaranya mengacu kepada apa yang diturunkan Allah SWT dan diconthkan Rasul-Nya, maka selama itu pimpinannya harus didengar dan ditaati. Tetapi, kalau itu daulah atau negara yang dasar dan sumber hukumnya tidak mengacu kepada apa yang diturunkan Allah SWT dan dicontohkan Rasulullah saw, itu berada diluar dari pada isi dan maksud hadits tersebut. Mengapa ?

Karena, tidak mungkin Rasulullah saw bersabda berdasarkan pemikiran sebagai pemimpin daulah sekuler atau daulah kafir. Jadi, yang dimaksud daulah atau negara yang pemimpinnya harus didengar dan ditaati oleh rakyatnya adalah daulah atau negara yang mengacu kepada negara atau daulah yang dibangun Rasulullah saw. Artinya, daulah atau negara yang dasar dan sumber hukumnya mengacu kepada apa yang diturunkan Allah SWT dan dicontohkan Rasulullah saw.

Bagi yang ada minat untuk menanggapi silahkan tujukan atau cc kan kepada ahmad@dataphone.se agar supaya sampai kepada saya dan bagi yang ada waktu untuk membaca tulisan-tulisan saya yang telah lalu yang menyinggung tentang Khilafah Islam dan Undang Undang Madinah silahkan lihat di kumpulan artikel di HP http://www.dataphone.se/~ahmad

Hanya kepada Allah kita memohon pertolongan dan hanya kepada Allah kita memohon petunjuk, amin *.*

Wassalam.

Ahmad Sudirman

http://www.dataphone.se/~ahmad
www.ahmad-sudirman.com
ahmad@dataphone.se
---------

Date: Tue, 29 Mar 2005 13:28:45 -0800 (PST)
From: muba zir mbzr00@yahoo.com
Subject: Re: JOHAN, ITU PENGIKUT WAHHABI ATAU SALAFI SAUDI DI NEGARA PANCASILA SALAH KAPRAH MENERAPKAN HADIST
To: Ahmad Sudirman ahmad@dataphone.se
Cc: AcehA_yoosran <a_yoosran@yahoo.com>, Acehabu_dipeureulak <abu_dipeureulak@yahoo.com>, AcehAhmad_mattulesy <ahmad_mattulesy@yahoo.com>, AcehAhmadGPK <ahmad@dataphone.se>, Acehalasytar_acheh <alasytar_acheh@yahoo.com>, acehalchaidar <alchaidar@yahoo.com>, Acehapalambak2000 <apalambak2000@yahoo.ca>, AcehBambang bambang_hw@rekayasa.co.id

Kok aku menangkap ada pertentangan signifikan antara dua pernyataan ini (ini hanya logika bahasa saja):

1. Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda: "Akan ada sepeninggalku para penguasa yang mereka itu tidak berpegang dengan petunjukku dan tidak mengikuti cara/jalanku. Dan akan ada di antara para penguasa tersebut orang-orang yang berhati syaithan dalam bentuk manusia." Hudzaifah berkata : "Apa yang kuperbuat bila aku mendapatinya?" Rasulullah
Shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda: "Hendaknya engkau mendengar dan menaati penguasa tersebut! Walaupun punggungmu dicambuk dan hartamu dirampas, maka (tetap) dengarkanlah (perintahnya) dan taatilah (dia)." (HR. Muslim dari shahabat Hudzaifah bin Al-Yaman radhiallahu 'anhu, 3/1476, no. 1847)

2.Tetapi, kalau para pimpinan daulah itu yang memimpin daulah dimana dasar dan sumber daulahnya tidak mengacu kepada apa yang diturunkan Allah SWT dan dicontohkan Rasulullah saw, maka itu para pimpinan tidak termasuk kepada apa yang disabdakan Rasulullah saw itu. Mengapa?

Pernyataan (1) tidak menetapkan adanya satu pemerintahan (yang bagaimanapun) untuk boleh tidak ditaati, sedangkan pernyataan (2) justru sebaliknya, membuat satu kekecualian yang sebenarnya tidak diberi ruang oleh pernyataan (1).

Kemudian kamu juga mengatakan bahwa pemerintahan SBY bertolak belakang dengan undang-undang Madinah atau pemerintah di jaman Rasulallah. Apa memang benar begitu? Jangan membesar-besarkan lah...! Itu kan artinya membual...! Bertolak belakang itu secara
matematik artinya disjoint, tidak ada irisan sama sekali. Apa memang begitu?

Trus, kamu juga bilang "Kaum wahhabi atau salafi Saudi yang ada di Negara RI bersama penguasa dibawah mbah Susilo Bambang Yudhoyono, Jusuf Kalla, Jenderal TNI Endriartono Sutarto, dan Letjen Djoko Santoso untuk bersama-sama menumpas habis rakyat muslim Acheh yang sedang berjuang menuntut penentuan nasib sendiri bebas dari pengaruh kekuasaan Negara pancasila sekuler RI." Kenyataannya kan rakyat Aceh masih eksis tuh, tidak tumpas, malah mereka adem ayem aja... Jadi jelas pernyataan kamu itu (lagi-lagi) hanya bualan...

Trus pernyataan yang mengaitkan kaum wahabi dan salafi di atas mendiskreditkan mereka nggak sih?
Aku terhibur sih dengan logika ngacomu itu... Ha ha...Thanks ya.

Muba ZR

mbzr00@yahoo.com
Dijon, Bourgogne, Perancis
----------