Stockholm, 31 Maret 2005

Bismillaahirrahmaanirrahiim.
Assalamu'alaikum wr wbr.
 

MUBA DIJON MASIH MENGGELIAT MENCARI FAKTA, BUKTI, SEJARAH & HUKUM LEGALITAS ACHEH MASUK RI
Ahmad Sudirman
Stockholm - SWEDIA.

 

DENGAN KAKI DIATAS DAN KEPALA DIBAWAH ITU MUBA DIJON TERUS MENGGELIAT MENCARI FAKTA, BUKTI, SEJARAH & HUKUM LEGALITAS ACHEH MASUK RI DARI TEMPAT SAMPAH BIN-NYA SYAMSIR SIREGAR

"Aku ingin menjelaskan kepadamu Mad bahwa akar masalah konflik Aceh adalah terkait dengan kronologi berikut. Tahun 1945 RI mendeklarasikan kemerdekaannya. Tahun 1953 (8 tahun setelah RI diproklamasikan yang wilayahnya dari Sabang sampai Merauke) Daud Beureuh merajuk Aceh dimasukkan sebagai bagian dari propinsi utara, tidak propinsi sendiri, dan syariat Aceh tidak berlakukan di sana. Tahun 1976 (21 tahun sesudah RI Merdeka, bahkan kalau dihitung sejak Irian Barat kembali ke pangkuan RI, itu 13 tahun sesudah itu) Hasan Tiro, karena sakit hati passportnya dicabut, padahal udah jadi "diplomat magang" sih di USA, ujug-ujug begitu saja mendeklarasikan Aceh merdeka. Perjuangan RI dengan claim-nya atas wilayah Sabang sampai Merauke, sukses dengan diterimanya RI menjadi anggota PBB tahun 1950, menjadi penyelenggara Konferensi Asia Afrika di Bandung tahun 1955, Irian Barat kembali ke pangkuan RI tahun 1963, juga terjalinnya hubungan diplomatik dengan seluruh negara di dunia (kecuali Israel). " (Muba Zir , mbzr00@yahoo.com , Wed, 30 Mar 2005 11:03:17 -0800 (PST))

Baiklah Muba di Dijon, Bourgogne, Perancis.

Dengan kaki diatas dan kepala dibawah seperti pemain akrobat budek dari pemain sirkus kali Ciliwung, itu Muba Dijon hidung belang, masih mencoba menggeliat-geliat untuk mencari mangsa fakta, bukti, sejarah dan dasar hukum tentang legalitas Acheh masuk RI dari tempat sampah BIN-nya Syamsir Siregar yang ada disekitar pinggir kali Ciliwung.

Begitu menemukan tumpukan ampas sampah hasil perasan info-info gombal tentang Acheh hasil kumpulan anak buah BIN-nya Syamsir Siregar yang menumpuk disepanjang pinggir kali Ciliwung, langsung saja itu Muba Dijon hidung belang ini berteriak: "Mad bahwa akar masalah konflik Aceh adalah terkait dengan kronologi berikut. Tahun 1945 RI mendeklarasikan kemerdekaannya. Tahun 1953 (8 tahun setelah RI diproklamasikan yang wilayahnya dari Sabang ampai Merauke) Daud Beureuh merajuk Aceh dimasukkan sebagai bagian dari propinsi utara, tidak propinsi sendiri, dan syariat Aceh tidak berlakukan di sana."

Setelah Ahmad Sudirman menoleh dan mendengar apa yang diteriakkan Muba Dijon hidung belang ini, rupanya cerita itu yang tertuang dalam teks hasil corat-coret tangan mbah Soekarno yang isinya "Kami bangsa Indonesia dengan ini menjatakan kemerdekaan Indonesia. Hal2 jang mengenai pemindahan kekoesaan d.l.l., diselenggarakan dengan tjara seksama dan dalam tempoh jang sesingkat-singkatnja. Djakarta 17-8-'05. Wakil2 bangsa Indonesia", dan dibacakan pada tanggal 17 Agustus 1945.

Ternyata, setelah didengar dan teliti oleh Ahmad Sudirman, itu hasil corat-coret mbah Soekarno, tidak ada menyebutkan wilayah RI meliputi Sabang sampai Merauke. Wah, kalau begini, ini hanya akal bulus Muba Dijon hidung belang saja untuk tampil sebagai pemain sirkus yang jalan diatas tali buhul bhineka tunggal ika-nya mpu Tantular. Ngaku-ngaku itu wilayah de-facto RI dari Sabang Sampai Merauke. Kenyataannya, itu mbah Soekarno tidak menyebutkannya dalam teks proklamasi RI-nya itu.

Kemudian, setelah itu Muba Dijon hidung belang ini selesai membacakan teks proklamasi mbah Soekarno yang isinya penuh corat-coret itu, dibacakannya pula itu sebagian kecil isi Preambule UUD 1945 sekuler yang menyangkut wilayah yang bunyinya: "Kemudian daripada itu untuk membentuk suatu Pemerintah Negara Indonesia yang melindungi segenap bangsa Indonesia dan seluruh tumpah darah Indonesia"

Nah, selesai itu Muba Dijon hidung belang ini membacakan itu alenia yang ada mengandung kata-kata seluruh tumpah darah Indonesia, ditambahlah sedikit improvisasi seperti pemain badut ketoprak Jawa sambil menggerakkan tangan kanannya dari kanan ke kiri, dengan mulutnya kunyam-kunyem seperti mulut mpu Tantular membacakan mantera hindu jawa majapahitnya yang berbunyi: "RI diproklamasikan yang wilayahnya dari Sabang sampai Merauke"

Rupanya, itu Muba Dijon hidung belang ini sudah ketularan Patih Gajah Mada dari kerajaan hindu Majapahit, yang kerjanya hanya membunuh dan mencaplok negeri-negeri diluar wilayah de-facto Majapahit yang dibangun Raden Wijaya yang wilayah de-factonya di daerah Tarik, di Madura, yang disulap namanya menjadi majapahit. Karena menurut ceritanya itu anak buah Raden Wijaya ketika sedang membangun daerah Tarik, kehausan dan kelaparan, lalu menemukan buah maja, yang langsung dimakannya, rupanya buah maja itu pahit rasanya, kemudian ia berteriak, majapahit, majapahit, majapahit. Lalu menjelmalah itu daerah Tarik menjadi majapahit dan dilabelkan menjadi nama kerajaannya Raden Wijaya.

Nah, itu Muba Dijon hidung belang ini, setelah jungkir jumpalik mencari fakta, bukti, sejarah dan fakta mengenai legalisasi Acheh masuk RI, akhirnya menemukan itu info dari tempat sampah BIN-nya Syamsir Siregar yang ada disekitar pinggir kali Ciliwung. Tetapi, sayang seribu sayang, itu info hasil perasan ampas anggota BIN-nya Syamsir Siregar, hanyalah info gombal alias keopos saja. Mengapa ?

Karena, terbukti, bahwa yang namanya "seluruh tumpah darah Indonesia" itu tidak lebih dan tidak kurang hanyalah di Yogyakarta saja. Kalau Raden Wijaya hanya disekitar daerah Tarik di Madura saja. Jadi, sebenarnya, sama awalnya. Raden Wijaya dan keturunannya sampai Hayam Wuruk dan Gajah Mada meluaskan wilayahnya dari Madura sampai keluar dari wilayah Madura, dengan cara menduduki dan menjajah.

Nah, kelakuan itu Gajah Mada ini dijiplak mentah-mentah oleh mbah Soekarno dengan RI-Jawa-Yogyanya. Sehingga dengan taktik sulap dan trik-trik tipu liciknya itu mbah Soekarno menelan Negara/Daerah Bagian RIS sebanyak 15 Negara/Daerah itu, ditambah Acheh, Maluku Selatan dan Papua Barat. Dari mulai 8 Maret 1950 sampai 14 Agustus 1950.

Adapun Papua Barat ditelan mbah Soekarno melalui trik sulap tipunya yang bernama pepera alias pepesoe atau penentuan pendapat soekarno yang dilakukan pada tanggal 14 Juli 1969 dan dimulai di Merauke terus menjalar ke setiap Kabupaten dan berakhir pada tanggal 4 Agustus 1969 di Jayapura. Ternyata yang dinamakan pepera alias pepesoe ini hanyalah memilih para anggota Dewan Musyawarah pepera yang banyaknya 1026 anggota. Dimana anggota Dewan Musyawarah pepera yang banyaknya 1026 inilah yang memberikan suaranya untuk memilih ya ikut mbah Soekarno atau tidak. Ternyata, hasilnya, seperti yang telah diduga, itu anggota Dewan Musyawarah pepera ikut saja ekornya mbah Soekarno. Tetapi, tentu saja, itu rakyat Papua Barat tidak menerima cara licik mbah Soekarno ini, dan sampai detik sekarang ini itu rakyat Papua Barat tetap terus menuntut penentuan nasib sendiri bebas dari pengaruh RI. Karena cara pepesoe-nya mbah Soekarno tidak benar dan tidak mencerminkan dan mewakili sikap seluruh rakyat Papua Barat.

Kemudian, itu Muba Dijon hidung belang ini meneruskan celotehnya yang berisikan : "Tahun 1953 (8 tahun setelah RI diproklamasikan yang wilayahnya dari Sabang ampai Merauke) Daud Beureuh merajuk Aceh dimasukkan sebagai bagian dari propinsi utara, tidak propinsi sendiri, dan syariat Aceh tidak berlakukan di sana."

Nah, karena itu Muba Dijon hidung belang ini tidak mengerti dan tidak paham sejarah jalur proses pertumbuhan dan perkembangan Negara RI-Jawa-Yogya yang menelan Negara/Daerah Bagian RIS dan Negeri Acheh 14 Agustus 1950 melalui secarik kertas PP RIS No.21/1950, maka ketika Teungku Muhammad Daud Beureueh memaklumatkan Acheh bebas dari pengaruh kekuasaan Pancasila pada tanggal 20 September 1953, dikatakanlah oleh Muba Dijon hidung belang ini bahwa Teungku Muhammad Daud Beureueh merajuk, karena Acheh sebagai bagian dari propinsi Sumatera utara, tidak propinsi sendiri, dan syariat Islam tidak diberlakukan di sana.

Nah disini, itu Muba Dijon hidung belang, mengakui bahwa Acheh dimasukkan kedalam provinsi Sumatera Utara pada tanggal 14 Agustus 1950, dengan PP RIS No.21/1950 buatan mbah Soekarno dari RIS tanpa adanya persetujuan seluruh rakyat Acheh dan pimpinan rakyat Acheh.

Hanya cara Soekarno memasukkan Acheh kedalam RI lalu masuk kedalam usus Sumatera Utara, itu menunjukkan bahwa Soekarno dengan seenak udelnya sendiri telah menelan dan mencaplok Acheh masuk kedalam mulut RIS, RI, dan Sumatera Utara secara ilegal. Mengapa ?

Karena mana itu fakta, bukti, sejarah dan dasar hukumnya yang menyatakan itu Acheh legal dan sah masuk RI ?. Coba bandingkan dengan Quebeq masuk legal dan sah kedalam Canada melalui referendum pada tahun 1976. Begitu juga di Hawai diadakan referendum pada tanggal 7 November 1950, walaupun rakyat Hawai merasa tertipu oleh pihak AS, karena yang ikut referendum adalah mayoritas orang-orang yang bukan asli Hawai, melainkan pendatang yang didatangkan dari daratan Amerika. Begitu juga di Timor Timur pada tangal 30 Agustus 1999 dilaksanakan referendum bagi seluruh rakyat Timor Timur.

Sedangkan di Acheh, mana fakta, bukti, sejarah dan dasar hukumnya yang membuktikan itu Acheh masuk secara legal dan sah kedalam RI . Tidak ada. Yang ada hanyalah cerita gombal seperti yang dilambungkan Muba Dijon hidung belang ini yang menyatakan: "RI diproklamasikan yang wilayahnya dari Sabang sampai Merauke".

Makanya itu, sampai kapanpun Acheh tetap saja bukan daerah legal RI, karena memang fakta, bukti, sejarah dan dasar hukumnya tidak ada. Kalau model Amerika masih lumayan bisa membuktikan hasil referendum 7 November 1950, kepada rakyat asli Hawai yang merasa ditipu AS. Begitu juga Canada masih bisa membuktikan hasil referendum di Quebeq. Tetapi di Acheh, mana itu para penerus Soekarno termasuk Muba Dijon hidung belang ini bisa membuktikan fakta, bukti, sejarah dan dasar hukum yang menyatakan legal Acheh masuk ke dalam RI.

Jadi, ketika Teungku Muhammad Daud Beureueh memaklumatkan Acheh bebas dari pengaruh kekuasaan Pancasila pada tanggal 20 September 1953, memang itulah hak rakyat Acheh untuk menentukan nasib sendiri bebas dari pendudukan dan penajajahan RI dibawah Soekarno yang telah menelan dan mencaplok Acheh pada tanggal 14 Agustus 1950.

Bandingkan dengan AS yang menduduki dan menganeksasi Hawai pada tanggal 17 Januari 1893. Kemudian pada tanggal 17 Juli 1898 dibuatlah Joint Resolution yang menyatakan Hawai masuk ke dalam tubuh Union Amerika. Tetapi, pada tanggal 7 November 1950 dilakukan referendum di Hawai untuk menentukan sikap apakah ya masuk Union AS atau tidak masuk Union AS. Ternyata hasilnya sebagian rakyat Hawai yang ikut referendum memilih ya masuk Union AS. Karena memang banyak rakyat AS yang ditransmigrasikan dari daratan AS ke Hawai, selama kurun waktu 1898 sampai 1950.

Nah, kelihatan itu kelakuan Soekarno dengan RIS-nya seperti kelakuan AS ketika menelan Hawai. Hanya bedanya itu AS akhirnya memberikan kesempatan kepada seluruh rakyat Hawai, yaitu rakyat asli Hawai dan rakyat pendatang untuk melakukan referendum. Tetapi, di Acheh, mana itu mbah Soekarno, Soeharto, BJ Habibie, Abdurahman Wahid, Megawati dan sekarang Susilo Bambang Yudhoyono memberikan hak kepada seluruh rakyat Acheh untuk menentukan sikap mereka melalui referendum.

Begitu juga dengan Teungku Hasan Muhammad di Tiro yang mendeklarkan ulang berdirinya Negara Acheh yang berdaulat pada tanggal 4 Desember 1976, setelah Teungku Muhammad Daud Beureueh menyerah kepada Soekarno pada bulan Mei 1962. Itu deklarasi ulang Negara Acheh adalah hak rakyat Acheh untuk menentukan nasib sendiri bebas dari pengaruh kekuasaan asing RI yang telah menduduki dan menjajah Acheh.

Jadi sebenarnya, yang harus dikutuk adalah itu penjajah RI, dari sejak Soekarno, Soeharto, BJ Habibie, Abdurrahman Wahid, Megawati dan Susilo Bambang Yudhoyono. Dimana pihak RI terus saja sampai detik ini menduduki dan menjajah Acheh. Apakah mereka itu tidak malu dengan kelakuan jahat dalam bentuk penjajahan di Acheh. Sedangkan Amerika saja yang mempunyai kekuatan angkatan bersenjata terkuat di dunia, mau mengadakan referendum di Hawai. Padahal kalau mau, mudah saja bagi AS untuk melumatkan habis itu seluruh orang asli Hawai yang menuntut kemerdekaan. Tetapi, tidak dilakukan AS, melainkan dilakukan melalui jalur politis, yaitu melalui referendum. Walaupun tentu saja hasilnya dianggap tidak memuaskan oleh rakyat asli Hawai, karena para pengikut referendum itu kebanyakan rakyat AS yang ditransmigrasikan dari daratan Amerika ke Hawai. Sehingga itu rakyat asli Hawai menyatakan kemerdekaannya pada tangggal 16 Januari 1994.

Jadi, Muba Dijon hidung belang, tuntutan kemerdekaan rakyat Acheh adalah hak seluruh rakat Acheh yang tanah mereka dianeksasi, diduduki dan dijajah RI. Dan jalan yang terbaik adalah memberikan kesempatan politis kepada seluruh rakyat Acheh untuk menentukan sikap mereka melalui jalur referendum. Sebagaimana yang dilakukan di Hawai dan di Quebeq.

Karena apapun yang kalian Muba Dijon hidung belang klaim, bahwa "Perjuangan RI dengan claim-nya atas wilayah Sabang sampai Merauke, sukses dengan diterimanya RI menjadi anggota PBB tahun 1950, menjadi penyelenggara Konferensi Asia Afrika di Bandung tahun 1955, Irian Barat kembali ke pangkuan RI tahun 1963".

Itu semuanya hanyalah sekedar klaim saja. Karena toh kenyataannya yang riil sampai detik ini, di Acheh masih terus berlangsung konflik. Di Papua Barat masih juga terus berlangsung konflik. Di Maluku Selatan masih juga belum bisa diselesaikan. Dan konflik-konflik ini adalah sudah terlihat oleh dunia Internasional, khususnya oleh PBB. Dan tentu saja, wajar kalau itu Sekjen PBB Kofi Annan meminta agar dilakukan penyelesaian konflik Acheh melalui jalur politis, yaitu melalui jalur perundingan. Ini membuktikan bahwa memang benar masalah Acheh adalah belum final, dan yang namanya RI itu sendiri masih belum final. Mengapa ? Karena kalau yang namanya final, itu tidak ada lagi konflik, baik di Acheh, Maluku Selatan ataupun di Papua Barat. Tetapi, kenyataannya sekarang, itu konflik masih terus timbul sampai detik ini. Dan inilah yang membuktikan bahwa apa yang dilambungkan Muba Dijong hidung belang mengenai pengklaiman atas wilayah Sabang sampai Merauke, masih sekedar pengklaiman. Bukan berdasarkan de-facto-nya. Kalau hanya sekedar mengklaim, anak kecil juga pandai mengklaim.

Bagi yang ada minat untuk menanggapi silahkan tujukan atau cc kan kepada ahmad@dataphone.se agar supaya sampai kepada saya dan bagi yang ada waktu untuk membaca tulisan-tulisan saya yang telah lalu yang menyinggung tentang Khilafah Islam dan Undang Undang Madinah silahkan lihat di kumpulan artikel di HP http://www.dataphone.se/~ahmad

Hanya kepada Allah kita memohon pertolongan dan hanya kepada Allah kita memohon petunjuk, amin *.*

Wassalam.

Ahmad Sudirman

http://www.dataphone.se/~ahmad
www.ahmad-sudirman.com
ahmad@dataphone.se
---------

Date: Wed, 30 Mar 2005 11:03:17 -0800 (PST)
From: muba zir mbzr00@yahoo.com
Subject: Ocehan lama kamu
To: Ahmad Sudirman ahmad_sudirman@hotmail.com
Cc: AcehA_yoosran <a_yoosran@yahoo.com>, Acehabu_dipeureulak <abu_dipeureulak@yahoo.com>, AcehAhmad_mattulesy <ahmad_mattulesy@yahoo.com>, AcehAhmadGPK <ahmad@dataphone.se>, Acehalasytar_acheh <alasytar_acheh@yahoo.com>, acehalchaidar <alchaidar@yahoo.com>, Acehapalambak2000 <apalambak2000@yahoo.ca>, AcehBambang <bambang_hw@rekayasa.co.id>, Acehburamu <buramu@plasa.com>, acehdityaaceh_2003 <dityaaceh_2003@yahoo.com>, AcehEdit editor@jawapos.co.id

Potongan "diskusi" lama antara Hedaya dan Mad.
---------------
Sebagian besar rakyat RI terus ditipu oleh pemikiranSoekarno dalam hal Acheh Artikel Aceh Q&A - oleh : Ahmad Sudirman on 31 Dec, 04 - 9:22 pm

"Saya mengamati bahwa GAM mendeklarasikan musuh secara fisik, sedangkan Islam mendeklarasikan musuh secara akidah, artinya akidah itulah yang harus diperangi sehingga mereka berakidah islam 100%, dan itu non sense dengan melalui propaganda, apalagi referendum seperti yang dituntut GAM selama ini yang menggambarkan dengan jelas ananiyah-nya. Dan bahkan dari opini di website ini masih ada kesan mengambil keuntungan dengan bencana Tsunami di Aceh kita atas musuhnya (RI), atau barangkali itu sebagai gambaran keputusasaan, syok dan bingung, kenapa Allah menurunkan azab yang teramat berat." (Hedaya, heda1912@yahoo.com , Date: Fri, 31 Dec 2004 22:41:48 +0900) Stockholm, 31 Desember 2004

Bismillaahirrahmaanirrahiim.
Assalamu'alaikum wr wbr.

SEBAGIAN BESAR RAKYAT RI TERUS DITIPU OLEH PEMIKIRAN SOEKARNO DALAM HAL ACHEH
Ahmad Sudirman
Stockholm - SWEDIA.

JELAS KELIHATAN SEBAGIAN BESAR RAKYAT DI RI MASIH TERUS DITIPU OLEH PEMIKIRAN SOEKARNO DALAM HAL ACHEH

Terimakasih saudara Hedaya atas tanggapan dan pikirannya.

Kalau saudara Hedaya mau jujur dan mau mendalami secara mendalam mengapa rakyat Acheh tampil memperjuangkan negeri, agama dan hartanya ?

Karena secara fakta, bukti, sejarah dan dasar hukum menggambarkan bahwa Negeri Acheh sejak tanggal 14 Agustus 1950 telah diduduki dan dijajah oleh pihak Soekarno dengan RIS-nya yang diteruskan sampai detik ini oleh Susilo Bambang Yudhoyono Cs bersama TNI/Polri, serta DPR dan MPR-nya.

Inilah yang menjadi akar permasalah yang mendasar mengapa timbul konflik Acheh.

-----------------------

Aku ingin menjelaskan kepadamu Mad bahwa akar masalah konflik Aceh adalah terkait dengan kronologi berikut.
1. Tahun 1945 RI mendeklarasikan kemerdekaannya.

2. Tahun 1953 (8 tahun setelah RI diproklamasikan yang wilayahnya dari Sabang ampai Merauke) Daud Beureuh merajuk Aceh dimasukkan sebagai bagian dari propinsi utara, tidak propinsi sendiri, dan syariat Aceh tidak berlakukan di sana.

3. Tahun 1976 (21 tahun sesudah RI Merdeka, bahkan kalau dihitung sejak Irian Barat kembali ke pangkuan RI, itu 13 tahun sesudah itu) Hasan Tiro, karena sakit hati passportnya dicabut, padahal udah jadi "diplomat magang" sih di USA, ujug-ujug begitu saja mendeklarasikan Aceh merdeka.

4.Perjuangan RI dengan claim-nya atas wilayah Sabang sampai Merauke, sukses dengan diterimanya RI menjadi anggota PBB tahun 1950, menjadi penyelenggara Konferensi Asia Afrika di Bandung tahun 1955, Irian Barat kembali ke pangkuan RI tahun 1963, juga terjalinnya hubungan diplomatik dengan seluruh negara di dunia (kecuali Israel).

Nah, dari fakta-fakta di atas itu, terutama poin (4) jelaslah RI tidak pernah dianggap dunia bermasalah atas kedaulatannya atas Aceh, apalagi "menjajah" Aceh, sehingga deklarasi Hasan Tiro tahun 1976 itu jelas adalah sebuah gerakan separatis. Untuk deklarasi Daud Beureuh 1953 ada dua pendapat: merajuk (karena alasan (2) di atas) atau juga gerakan separatis. Dua pendapat tentang Daud Beureuh ini sama kuat sih, mengingat Aceh identik dengan Islam (alasan merajuk) dan gerakan Daud Beureuh terjadi bahkan 3 tahun sesudah internasional (via PBB) mengakui RI yang baerdaulat atas Aceh juga (alasan separatis).

Gitu loh, sederhana sekali... Anak kecil aja tahu... Nggak perlu lah dipersulit dan mempersulit diri dengan mencoba merubah putih jadi abu-abu (dengan harapan suatu saat jadi hitam...)

Jadi, sekali lagi aku bilang, percuma deh ikutan asnlf, nggak ada masa depannya, mending ikutan Bang Syamsir aja bareng aku... Paling nggak kamu bisa jualan kacang rebus di Monas... Entar aku bilang Bang Yos deh...

Muba ZR

mbzr00@yahoo.com
Dijon, Bourgogne, Perancis
----------