Stockholm, 4 April 2005

Bismillaahirrahmaanirrahiim.
Assalamu'alaikum wr wbr.
 

IMARRAHAD, ITU PERBEDAAN ANTARA AISYAH CS DENGAN KELOMPOK KHAWARIJ
Ahmad Sudirman
Stockholm - SWEDIA.

 

SITI AISYAH CS MENENTANG ALI BIN ABI THALIB TIDAK KELUAR DARI KHILAFAH, SEDANGKAN KELOMPOK KHAWARIJ MENENTANG ALI BIN ABI THALIB DAN KELUAR DARI KHILAFAH

"Terima kasih penjelasan sebelumnya, ada yang masih saya tidak mengerti. Sebetulnya, apa itu prinsip dasar yang membedakan antara perang yang dilakukan Siti Aisyah yaitu perang jamal di mana Siti Aisyah atau pihak Muawiayah dalam hal ini juga menjadi pihak yang memerangi khalifah Ali, dan demikian pula pihak yang Bpk sebutkan keluar dari pasukan Khalifah Ali lalu memerangi khalifah Ali sehingga disebut dengan khwarij. Apakah prinsip yang membedakannya itu antara khwarij atau bukan adalah 'yang keluar' dari khalifah dan yang 'tidak keluar' dari khalifah ? Selanjutnya, kaitannya dengan sejarah Wahabi yang Bpk bisa simpulkan bredasarkan sejarah termasuk khawarij, apakah menjadi pihak yang keluar dari khalifah Utsmani ataukah tidak ? Bagaimana sebetulnya posisi pasukan wahabi itu dalam daulah dinasti Utsmani ?" (Imarrahad , imarrahad@eramuslim.com , 4 Apr 2005 07:07:27 -0000)

Baiklah saudara Imarrahad di Jakarta, Indonesia.

Prinsip dasar perang jamal atau perang unta dibawah komando Siti Aisyah yang dibantu pasukan Gubernur Mesir Amr bin Ash, pasukan Gubernur Syam Mu'awiyah bin Abu Sufyan, Zuber bin Awwam dan Thalhah bin Ubaidillah dari Mekkah, dimana dua orang terakhir ini merupakan saingan politiknya Ali Bin Abi Thalib ketika diadakan pemilihan Khalifah sepeninggal Khalifah Utsman bin Affan, adalah adanya perbedaan sikap politis dalam hal kepemimpinan dengan Khalifah Ali bin Abi Thalib dan masalah belum dituntaskannya kasus terbunuhnya Khalifah Utsman bin Affan. Khususnya dari pihak Gubernur Mesir Amr bin Ash yang sangat rapat hubungannya dengan Khalifah Utsman bin Affan menganggap bahwa Khalifah Ali bin Abi Thalib berada dibelakang layar terbunuhnya Khalifah Utsman bin Affan.

Jadi, perang jamal atau perang unta ini timbul bukan karena ingin menghancurkan Khilafah Islam dan membentuk negara baru, melainkan adanya sikap politis dalam hal kepemimpinan Khalifah Ali bin Abi Thalib dan masalah terbunuhnya Khalifah Utsman bin Affan yang tidak dituntaskan secara hukum.

Begitu juga dengan timbulnya perang Shiffin antara Gubernur Syam Mu'awiyah bin Abu Sufyan dengan Khalifah Ali bin Abi Thalib. Dimana perang Shiffin ini timbul sebagai kelanjutan dari perang jamal yang waktu itu dimenangkan oleh pasukan Khalifah Ali bin Abi Thalib, juga merupakan perebutan kekuasaan, kepemimpinan dan pemerintahan dalam Khilafah.

Berbeda dengan prinsip dasar yang dipakai oleh kelompok khawarij, yang keluar dan memisahkan diri dari Khalifah Ali bin Abi Thalib setelah terlebih dahulu melakukan penentangan terhadap hasil perundingan atau tahkim atau arbitrase antara Khalifah Ali bin Abi Thalib melalui juru rundingnya Abu Musa al-Asy'ari dengan Gubernur Syam Mu'awiyah bin Abu Sufyan melalui juru rundingnya 'Amr bin al-'Ash, yang diselenggarakan di Dumatul Jandal pada tahun 37 H / 657 M.

Jadi prinsip dasar penentangan yang dilakukan Siti Aisyah, Zuber bin Awwam, Thalhah bin Ubaidillah, Mu'awiyah bin Abu Sufyan, Amr bin Ash dengan prinsip dasar penentangan yang dilakukan pihak khawarij terhadap Khalifah Ali bin Abi Thalib adalah jauh berbeda. Dimana prinsip dasar penentangan yang dilakukan Siti Aisyah cs adalah penentangan terhadap kepemimpinan dan kebijaksanaan politik Khalifah Ali bin Abi Thalib dan tetap melanjutkan Khilafah. Sedangkan prinsip dasar penentangan yang dilakukan oleh kelompok khawarij adalah menentang kepada kepemimpinan dan kebijaksanaan politik Khalifah Ali bin Abi Thalib lalu keluar dari Khilafah dan terus melakukan penentangan kepada Khalifah Ali bin Abi Thalib sampai Khalifah Ali bin Abi Talib berhasil dibunuh mereka.

Nah kalau dihubungkan dan dikaitkan dengan Syeikh Muhammad bin Abdul Wahhab dan Amir Muhammad bin Saud dari Dar'iyah yang dibantu oleh barisan muwahhidin atau ikhwan dengan gerakan wahhabiyah atau salafiyyahnya yang menjalankan kebijaksanaan politik dan kekuasaan dari Amir Muhammad bin Saud menentang kepemimpinan Khilafah Islamiyah Utsmani dan menguasai wilayah de-facto Khilafah Islamiyah Utsmaniyah, Hejaz (Mekkah, Madinah, Jeddah), dan seterusnya melepaskan diri dari Khilafah Islamiyah Utsmani dan tetap terus melakukan penentangan terhadap Khilafah Islamiyah Utsmani sampai Khilafah Islamiyah Utsmani runtuh, untuk membangun kerajaan Ibnu Saud, bukan untuk meneruskan dan melanjutkan Khilafah Islamiyah Utsmani.

Nah, prinsip dasar penentangan terhadap kepemimpinan dan kebijaksanaan politik Khalifah dari Khilafah Islamiyah Utsmani yang dilakukan oleh pihak Syeikh Muhammad bin Abdul Wahhab dan keturunannya dan Amir Muhammad bin Saud dari Dar'iyah dan keturunannya adalah sama seperti prinsip dasar yang dilakukan oleh pihak kelompok khawarij yang menentang kepada kepemimpinan dan kebijaksanaan politik Khalifah Ali bin Abi Thalib lalu keluar dari Khilafah Islamiyah dan tetap terus melakukan penentangan sampai Khalifah Ali bin Abi Talib berhasil dibunuh mereka.

Bagi yang ada minat untuk menanggapi silahkan tujukan atau cc kan kepada ahmad@dataphone.se agar supaya sampai kepada saya dan bagi yang ada waktu untuk membaca tulisan-tulisan saya yang telah lalu yang menyinggung tentang Khilafah Islam dan Undang Undang Madinah silahkan lihat di kumpulan artikel di HP http://www.dataphone.se/~ahmad

Hanya kepada Allah kita memohon pertolongan dan hanya kepada Allah kita memohon petunjuk, amin *.*

Wassalam.

Ahmad Sudirman

http://www.dataphone.se/~ahmad
www.ahmad-sudirman.com
ahmad@dataphone.se
---------

Date: 4 Apr 2005 07:07:27 -0000
From: imarrahad@eramuslim.com
To: "Ahmad Sudirman" ahmad_sudirman@hotmail.com
Cc: ahmad@dataphone.se
Subject: Masih Ttg Khawarij

Assalamualaikum wr wb

Terima kasih penjelasan sebelumnya, ada yang masih saya tidak mengerti. Sebetulnya, apa itu prinsip dasar yang membedakan antara perang yang dilakukan Siti Aisyah yaitu perang jamal di mana Siti Aisyah atau pihak Muawiayah dalam hal ini juga menjadi pihak yang memerangi khalifah Ali, dan demikian pula pihak yang Bpk sebutkan keluar dari pasukan Khalifah Ali lalu memerangi khalifah Ali sehingga disebut dengan khwarij.

Apakah prinsip yang membedakannya itu antara khwarij atau bukan adalah 'yang keluar' dari khalifah dan yang 'tidak keluar' dari khalifah ?

Selanjutnya, kaitannya dengan sejarah Wahabi yang Bpk bisa simpulkan bredasarkan sejarah termasuk khawarij, apakah menjadi pihak yang keluar dari khalifah Utsmani ataukah tidak ? Bagaimana sebetulnya posisi pasukan wahabi itu dalam daulah dinasti Utsmani ?

Dari yang saya pahami apa yang dilakukan Siti Aisyah ra dan Gubernur Syam Muawiyah itu juga merupakan kesalahan karena melakukan perang kepada khalifah Ali, tapi karena tidak menyatakan keluar dari kekhalifahan artinya tidak melepaskan ketha'atan kepada khalifah Ali, dan melakukan peperangan itu bukan untuk menghilangkan daulah Islamnya, tapi dalam hal perbedaan pandangan dalam masalah kepemimpinan seperti yang pernah Bpk ungkapkan,
maka tidak bisa dikiaskan dnegan kelompok khwarij yang keluar atau melepas ketaatan kepada khalifah Ali. Benarkah ?

Terima kasih.
Wassalam

Imarrahad

imarrahad@eramuslim.com
Jakarta, Indonesia
----------