Stockholm, 4 April 2005

Bismillaahirrahmaanirrahiim.
Assalamu'alaikum wr wbr.
 

ANEUK ACHEH RISYAD MASIH BERTANYA TENTANG PKS, NURCHOLISH MADJID & RAKYAT BANYAK JADI BABU
Ahmad Sudirman
Stockholm - SWEDIA.

 

MENYOROT SEDIKIT TENTANG PARTAI KEADILAN SEJAHTERA, NURCHOLISH MADJID & BANYAK WANITA INDONESIA MENJADI BABU DI LUAR NEGERI

"Tgk.Ahmad yang mulia, Risyad datang lagi dan mau tanya beberapa pertanyaan .Adapun yang ingin saya tanya adalah: PKS partai nasionalis atau agamis. Bagaimana pandangan Tgk tentang Nurcholish Madjid. Mengapa Indonesia kaya tapi rakyatnya banyak jadi babu di luar negeri. Itu saja pertanyaan dari saya kali yang lain saya sambung lagi." (Aneuk Aceh Risyad , harapan_aceh@yahoo.com ,Sun, 3 Apr 2005 12:30:52 -0700 (PDT))

Baiklah aneuk Acheh Risyad di Depok, Jawa barat, Indonesia

Tentang apa yang ditanyakan aneuk Acheh Risyad: apakah PKS partai nasionalis atau agamis?

Sebenarnya kalau mahu mengetahui apakah Partai Keadilan Sejahtera termasuk partai nasionalis atau agamis, maka perlu menggali apa yang dijadikan dasar dan landasan PKS ini.

Nah, kalau Ahmad Sudirman melihat dan menyelusuri lebih dalam tentang landasan yang dijadikan fondasi berdiri dan tulang punggung yang menjadi batang tubuh PKS ini, maka ditemukan batu-batu dan lapisan semen yang dijadikan fondasi dan tulang punggung PKS yang terbuat dari ramuan dan campuran yang tertuang dalam asas yang memakai label Islam dengan diselubungi dengan demokratisasi yang menjadi tulang punggung PKS.

Nah, kalau kalau ditelaah lebih kedalam, maka akan ditemukan keparadokan antara asas dan tulang punggung PKS ini. Dimanakah letak keparadokan antara asas dan tulang punggung PKS ini ? Letaknya diantara asas berlabel Islam dengan tulang punggung bermerk demokratisasi.

Untuk melihat dan mendalami demokratisasi atau pendemokrasian dari sudut contoh Rasulullah saw dan Khulafaur Rasyidin. Menurut contoh negara-nya Rasulullah saw dan Khulafaur Rasyidin, itu pendemokrasian sebagaimana yang dimaksud dalam negara RI tidak ada, yang ada hanyalah yang mencakup hal pemilihan wakil-wakil dan pemimpin saja. Tidak mencakup kepada pendemokrasian hukum. Artinya kalau dilihat dari sudut contoh negara-nya Rasulullah saw dan Khulafaur Rasyidin terbentuknya dasar hukum atau payung hukum bukan melalui proses pendemokrasian, atau melalui proses penentuan dan pemutusan wakil-wakil rakyat yang ada dalam lembaga pembuat undang-undang, seperti DPR/MPR, melainkan dasar dan sumber hukum itu harus mengacu kepada sumber hukum yang diturunkan Allah SWT dan dicontohkan Rasulullah saw. Jadi, istilah pendemokrasian hukum dalam Islam tidak dikenal, yang dikenal dan ada alah mengangkat, menerapkan dan menjalankan hukum.

Nah, disinilah yang Ahmad Sudirman katakan adanya keparadokan asas dan tulang punggung PKS.

Tetapi tentu saja, Ahmad Sudirman memahami, mengapa PKS walaupun ada keparadokan antara asas dan tulang punggung, tetap saja PKS melaju seolah-olah hal yang paradok tersebut dianggap suatu hal yang remeh atau sepele saja.

Hal ini disebabkan, karena adanya kebijakan umum dalam hal politik-nya PKS yang memperjuangkan konsepsi-konsepsi Islam dalam sistem kemasyarakatan dan kenegaraan.

Nah, karena kebijakan umum dalam hal politik-nya PKS memperjuangkan konsepsi-konsepsi Islam dalam sistem kemasyarakatan dan kenegaraan, maka sudah jelas dan pasti, itu PKS hanya mengikuti jalur dan jalan serta sistim yang sudah baku dalam negara sekuler pancasila RI. Artinya, pihak PKS hanyalah ikut berenang dan menceburkan diri kedalam sistem kemasyarakatan dan kenegaraan sekuler pancasila RI saja.

Jadi, itu PKS bukan menjalankan kebijakan umum dalam hal politik untuk merobah sistem kemasyarakatan dan kenegaraan sekuler pancasila RI menjadi sistem Islam, melainkan hanya sekedar ikut berpesta pora dan berenang-renang kegirangan dalam lumpur sistem thaghut pancasila.

Nah, inilah dasar dan alasan mengapa itu PKS walaupun ada keparadokan antara asas dengan tulang punggung, atau antara asas Islam dengan tulang punggung demokratisasi, tetapi tetap saja roda PKS bergelinding melaju di negara sekuler pancasila RI.

Jadi, itu PKS adalah bukan partai politik yang agamis melainkan partai politik nasionalis. Artinya, PKS hanya ikut dan berpesta pora dalam lumpur sistem thaghut pancasila yang menjadikan sila kebangsaan atau jelmaan dari persatuan Indonesia sebagai salah satu sila dari dasar dan asas negaranya.

Selanjutnya aneuk Acheh Risyad menanyakan: "bagaimana pandangan Tgk tentang Nurcholish Madjid ?"

Nurcholish Madjid bukan seorang politikus dan bukan juga seorang birokrat, melainkan seorang pemikir dan cendekiawan hasil godogan IAIN Jakarta dan Universitas Chicago, Amerika Serikat, yang menulis disertasi mengenai filsafat dan kalam-nya Ibnu Taimiya.

Pemikiran Nurcholish Madjid yang mengarah kepada sekularisme dengan menampilkan pemikiran bahwa karena partai politik Islam dan organisasi Islam telah dijadikan sebagai suatu hal yang tidak boleh digugat dan harus diikuti, sebagaimana mengikuti perintah Tuhan, dan sudah saling mengharamkan dan membid'ahkan satu sama lainnya, maka lahirlah pemikiran Nurcholish Madjid, bahwa kalau memperjuangkan Islam yes tetapi kalau partai Islam no. Artinya disini menurut Nurcholish Madjid, bagi siapa saja, orang Islam bebas memilih partai, tidak harus terikat kepada satu partai atau organisasi Islam.

Nah, pemikiran Nurcholish Madjid inilah yang telah memberikan lampu hijau kepada orang Islam di Negara sekuler pancasila untuk bebas memilih tanpa harus terikat dan patuh kepada partai politik yang berlabel Islam.

Dan hasil pemikiran Nurcholish Madjid inilah yang membuka jalan sekularisme tumbuh subur di Negara sekuler pancasila RI.

Dan tentu saja, Nurcholish Madjid bukan hanya memberikan dan membuka jalur dan jalan sekularisme tumbuh subur di Negara sekuler pancasila RI, melainkan juga Nurcholish Madjid memang tidak mengakui bahwa Rasulullah saw telah membangun dan mendirikan Daulah Islam pertama di Yatrsib. Karena menurut Nurcholish Madjid tidak ada yang namanya negara Islam, karena tidak ada dalil naqlinya, yang ada adalah masyarakat madani. Masyarakat kota yang terdiri dari masyarakat yang pluraris, ada orang Yahudi yang terdiri dari berbagai suku, ada orang anshar yang terdiri dari berbagai suku, dan ada orang muhajirin yang terdiri dari berbagai suku. Rasulullah saw di Yatsrib bukan membangun Negara, melainkan hanya membangun masyarakat madani atau masyarakat kota.

Nah, karena Nurcholish Madjid tidak lagi terikat oleh golongan, partai dan organisasi yang berlabel Islam, maka yang dinamakan masyarakat Islam tidak ada, yang ada adalah masyarakat pluralis, artinya masyarakat yang terdiri dari berbagai agama, suku, budaya. Dan masyarakat yang pluralis inilah yang dinamakan satu bangsa yaitu bangsa Indonesia. Atau dengan kata lain masyarakat muslim inklusif. Artinya orang Islam tidak lagi perlu menegakkan dan menjalankan syariat dalam kehidupan keluarga, masyarakat, pemerintah dan negara, melainkan cukup Islam dijadikan sebagai agama untuk pribadi saja. Masyarakat Islam itu inklusif dengan masyarakat lainnya. Masalah pengangkatan dan penerapan syariat Islam hanya cukup terjadi dan ditulis dalam buku-buku dan kitab-kitab bahan pelajaran di bangku sekolah dan perguruan tinggi saja. Jadi, istilah persatuan berdasarkan aqidah, itu menurut Nurcholis Madjid adalah tidak perlu dipakai, yang harus dipakai adalah persatuan menurut tali ikatan kebangsaan, sebagaimana yang telah dicontohkan oleh mpu Tantular dengan bhineka tunggal ika-nya.

Jadi, itu Nurcholish Madjid lebih yakin dan lebih kuat kepercayaannya kepada tali ikatan bhineka tunggal ika-nya mpu Tantular untuk menyatukan rakyat, ketimbang menyatukan berdasarkan aqidah atau kepercayaan sebagaimana yang dicontohkan Rasulullah saw.

Karena itu, mengapa pemikiran Nurcholish Madjid tentang tali persatuan yang berdasarkan pada tali buhul bhineka tunggal ika-nya mpu Tantular terus dipertahankan dan dijadikan alat pengikat untuk menyatukan Acheh, Papua Barat dan Maluku Selatan kedalam tubuh RI. Dan bisa dimengerti, mengapa itu Nurcholis Madjid tetap mendukung kebijaksanaan penjajah RI untuk terus menduduki dan menjajah Negeri Acheh. Dan tentu saja itu Nurcholish Madjid adalah termasuk salah seorang dari pendukung dan penyokong penjajahan RI di Negeri Acheh, Papua Barat dan Maluku Selatan, sambil mengacungkan bendera mpu Tantular-nya yang bermerk kebangsaan dengan tulisan bhineka tunggal ika.

Selanjutnya aneuk Acheh Risyad masih mempertanyakan: "mengapa Indonesia kaya tapi rakyatnya banyak jadi babu di luar negeri ?"

Sebenarnya Indonesia tidak kaya, Indonesia paling miskin di dunia, hutang luar negerinya tidak akan dan tidak bisa terbayar oleh anak cucu keturunan rakyatnya. Karena itu memang masuk akal dan wajar kalau ratusan ribu wanita-wanita dari Jawa menjadi babu di Malaysia dan di negara-negara Arab, seperti Saudi.

Yang membuat miskin dan hutang luar negeri makin menumpuk dan merajalelanya korupsi adalah karena mbah Soeharto dan konco-konco Orba-nya. Disusul oleh Mbah Abdurrahman Wahid dan konco-konconya. Tidak ketinggalan Mbak Megawati dan konco-konconya, dan sekarang mbah Susilo Bambang Yudhoyono dengan konco-konconya. Coba baca dan perhatikan, untuk menutupi defisit APBN, ditutupi dengan cara menghutang. Cara menghutang untuk menutupi defisit APBN ini telah berjalan dari sejak mbah Soeharto pegang kekuasaan. Celakanya, mbah Soeharto disamping menghutang, juga mengkorupsi, maka jadilah mbah Soeharto sebagai raja koruptor di dunia. Dan negeri RI ini adalah termasuk negara yang paling tinggi tingkat korupsinya di dunia. Walaupun mbah Susilo Bambang Yudhoyono masih dinyatakan bersih korupsi, tetapi anak-anak buahnya, seperti Gubernur, Bupati pada menjadi maling.

Nah, karena tingkat korupsi di RI paling tinggi di dunia, banyak pengusaha-pengusaha asing yang takut menanamkan modalnya di RI. Tanpa adanya perusahaan-perusahaan yang jalan di RI, mana bisa menampung tenaga kerja. Ribuan sarjana keluar setiap tahun, tetapi lapangan kerja tidak ada, akhirnya hanya menjadi penganggur. Atau pergi keluar negeri untuk mencari kerja. Puluhan ribu berbondong-bondong mahu menjadi pegawai negeri, menyogok jutaan rupiah. Mahu menjadi pegawai negeri seperti guru sekolah negeri harus menyogok, kalau tidak menyogok, mana bisa menjadi guru sekolah negeri. Sogok menyogok dan suap menyuap sudah menjadi kebiasaan dan budaya bangsa Indonsia hasil pengajaran dan contoh mbah Soeharto.

Ratusan ribu TKI dipulangkan dan diusir dari Malaysia, karena habis izin kontrak, izin kerja dan izin tinggalnya, sampai di Indonesia, mana bisa ditampung, paling diperkebunan, itupun tidak bisa menampung semua TKI yang dipulangkan.

Bagi yang ada minat untuk menanggapi silahkan tujukan atau cc kan kepada ahmad@dataphone.se agar supaya sampai kepada saya dan bagi yang ada waktu untuk membaca tulisan-tulisan saya yang telah lalu yang menyinggung tentang Khilafah Islam dan Undang Undang Madinah silahkan lihat di kumpulan artikel di HP http://www.dataphone.se/~ahmad

Hanya kepada Allah kita memohon pertolongan dan hanya kepada Allah kita memohon petunjuk, amin *.*

Wassalam.

Ahmad Sudirman

http://www.dataphone.se/~ahmad
www.ahmad-sudirman.com
ahmad@dataphone.se
---------

Date: Sun, 3 Apr 2005 12:30:52 -0700 (PDT)
From: Aneuk Aceh harapan_aceh@yahoo.com
Subject: pks arahnya kemana
To: ahmad@dataphone.se

Assalamualaikum .wr..wb.

Tgk.Ahmad yang mulia, Risyad datang lagi dan mau tanya beberapa pertanyaan .Adapun yang ingin saya tanya adalah :
1. PKS partai nasionalis atau agamis.
2. Bagaimana pandangan Tgk tentang Nurcholish Madjid
3. Mengapa Indonesia kaya tapi rakyatnya banyak jadi babu di luar negeri.

Itu saja pertanyaan dari saya kali yang lain saya sambung lagi.
Wassalam

Risyad

harapan_aceh@yahoo.com
Depok , Jawa Barat, Indonesia
----------