Stockholm, 10 April 2005

Bismillaahirrahmaanirrahiim.
Assalamu'alaikum wr wbr.
 

KABAYAN LEBIH BAIK INTROSPEKSI DULU SEBELUM MENGACUNGKAN TELUNJUK
Ahmad Sudirman
Stockholm - SWEDIA.

 

YANG TERBAIK KABAYAN, TERLEBIH DAHULU PERLU INTROSPEKSI SEBELUM MENGACUNGKAN TELUNJUK

"Kalau melihat penjelasan Ahmad Sudirman, "Sedangkan yang 72 golongan adalah mereka orang-orang yang zalim yang disesatkan dan tidak ada bagi mereka seorang pelindungpun dan tidak pula seorang penolong" (Ahmad Sudirman, 9 April 2005) Orang-orang yang menjadi zalim tersebut disesatkan oleh Allah. Kabayan meyakini bahwa sikap zalim orang-orang tersebut karena terhasut oleh bujuk rayuan syaitan. Sementara orang-orang yang tidak zalim adalah orang-orang yang tidak terhasut oleh bujuk rayuan syaitan. Kabayan jadi ingin bertanya, selain para Nabi dan Rasul, siapa saja kah orang-orang yang termasuk tidak zalim saat ini? Kalau ada contoh orangnya, siapa namanya ? Barangkali kita bisa lebih objective untuk menirunya. " (Kabayan , kabayan555@yahoo.com , 10 april 2005 06:21:24)

Baiklah saudara Kabayan di Monterey, California, Amerika.

Apa yang dilambungkan saudara Kabayan: "Kabayan meyakini bahwa sikap zalim orang-orang tersebut karena terhasut oleh bujuk rayuan syaitan. Sementara orang-orang yang tidak zalim adalah orang-orang yang tidak terhasut oleh bujuk rayuan syaitan. Kabayan jadi ingin bertanya, selain para Nabi dan Rasul, siapa saja kah orang-orang yang termasuk tidak zalim saat ini? Kalau ada contoh orangnya, siapa namanya ? Barangkali kita bisa lebih objective untuk menirunya"

Ya, banyak faktor yang bisa terjerumus kedalam orang-orang yang mempunyai sikap zalim itu, bukan hanya karena terhasut oleh bujuk rayuan syaitan saja. Mengikut ekornya mbah Susilo Bambang Yudhoyono saja yang menjalankan kebijaksanaan membunuh rakyat muslim Acheh yang telah sadar untuk menentukan nasib sendiri, bisa digolongkan kepada sikap zalim.

Tentang selain para Nabi dan Rasul, siapa saja kah orang-orang yang termasuk tidak zalim saat ini?

Orang-orang yang tidak zalim adalah orang-orang yang benar mengikuti apa yang diturunkan Allah SWT dan dicontohkan Rasulullah saw. Siapa orangnya ? orangnya bisa siapa saja. Keimanan, keyakinan, tauhid seseorang tidak bisa diukur secara emoiris, melainkan terlihat dalam ucapan, tulisan, perbuatan atau amalan lainnya, seperti ibadahnya, dan sebagainya. Hanya untuk mengetahui apakah ia tidak termasuk orang yang zalim tentu saja harus memakai tolak ukur atau pegangan yang dijadikan ukuran yang telah ditentukan Allah SWT dan dicontohkan Rasulullah saw.

Siapa saja bisa dilihat ucapan, tulisan, perbuatan atau amalan lainnya, seperti ibadahnya, dan sebagainya dengan memakai alat ukuran yang telah diturunkan Allah SWT dan dicontohkan Rasulullah saw.

Persoalananya sekarang adalah apakah orang yang memakai alat ukuran yang telah diturunkan Allah SWT dan dicontohkan Rasulullah saw bisa memakai alat tersebut untuk dijadikan sebagai alat ukur ?.

Nah, disinilah yang perlu diperhatikan. Bahwa setiap orang bisa saja mengatakan bahwa ia bisa memakai alat ukuran yang telah diturunkan Allah SWT dan dicontohkan Rasulullah saw untuk dijadikan alat pengukur.

Tetapi, belum tentu ia bisa memakai alat pengukur tersebut. Buktinya, banyak kelompok yang memakai alat ukuran yang diklaimnya sebagai alat ukur yang diturunkan Allah SWT dan dicontohkan Rasul-Nya dan para sahabatnya, tetapi dalam prakteknya justru bukan dijadikan alat ukur melainkan dijadikan senjata untuk memukul dan menjatuhkan.

Karena itu yang terbaik adalah kembalikan dulu kepada diri sendiri, apakah memang diri sendiri sudah sesuai dan mengikuti apa yang telah diturunkan Allah SWT dan dicontohkan Rasul-Nya. Kalau memang masih belum, coba terus benahi dan luruskan sendiri. Sejalan dengan introspeksi ini, harus juga jalan usaha untuk saling meluruskan satu sama lain. Jadi, kalau ada, misalnya mbah Susilo Bambang Yudhoyono, Jusuf Kalla dan mas Djoko Santoso dengan TNI terus saja membunh rakyat muslim Acheh, maka harus diingatkan bahwa itu perbuatan yang zalim. Rakyat Acheh itu sedang menuntut negerinya yang dijajah oleh RI, maka berikanlah haknya kepada rakyat Acheh itu untuk menentukan sikapnya. Jangan ditekan dan dibunuh begitu saja. Tetapi, kalau itu mbah Susilo Bambang Yudhoyono, Jusuf Kalla dan mas Djoko Santoso dengan TNI terus saja membunh rakyat muslim Acheh, walaupun telah diperingatkan, maka boleh saja mereka disebut orang-orang zalim yang merampas hak dan tanah serta negeri Acheh.

Kemudian kalau ada orang yang menyatakan bahwa itu mbah Susilo Bambang Yudhoyono, Jusuf Kalla dan mas Djoko Santoso dengan TNI tidak melakukan kezaliman, dengan alasan Acheh adalah milik RI-nya mbah Soekarno dan para penerusnya, maka coba buktikan berdasarkan fakta, bukti, sejarah dan dasar hukum yang menyatakan legalitas Acheh masuk kedalam RI, agar supaya tidak dimasukkan kedalam golongan orang-orang yang zalim.

Jadi saudara Kabayan, siapa saja bisa termasuk kedalam orang yang tidak zalim, kalau dilihat dari alat ukur yang diturunkan Allah SWT dan dicontohkan Rasulullah saw, ternyata memang benar orang tersebut adalah orang yang tidak zalim. Asal jangan memakai gincu saja, seperti contohnya, ketika melihat mbah Susilo Bambang Yudhoyono menyapu dan menduduki serta menjajah Acheh, karena ia memakai gincu hijau lambang warna Islam, maka dianggaplah mbah Susilo Bambang Yudhoyono tidak menzalimi rakyat muslim Acheh.

Bagi yang ada minat untuk menanggapi silahkan tujukan atau cc kan kepada ahmad@dataphone.se agar supaya sampai kepada saya dan bagi yang ada waktu untuk membaca tulisan-tulisan saya yang telah lalu yang menyinggung tentang Khilafah Islam dan Undang Undang Madinah silahkan lihat di kumpulan artikel di HP http://www.dataphone.se/~ahmad

Hanya kepada Allah kita memohon pertolongan dan hanya kepada Allah kita memohon petunjuk, amin *.*

Wassalam.

Ahmad Sudirman

http://www.dataphone.se/~ahmad
www.ahmad-sudirman.com
ahmad@dataphone.se
---------

From: kabayan kabayan <kabayan555@yahoo.com>
Date: 10 april 2005 06:21:24
To: Ahmad Sudirman <ahmad_sudirman@hotmail.com>
CC: Hidajat Sjarif <siliwangi27@hotmail.com>
Subject: Re: KABAYAN, ITU TERPECAHNYA UMAT ADALAH UNTUK MENGUJI SIAPA YANG MENDAPAT PETUNJUK

Basmalah 3x, Salam.

Pak Ahmad,
"Dan kalau Allah menghendaki niscaya Allah menjadikan mereka satu umat (saja), tetapi Dia memasukkan orang-orang yang dikehendaki-Nya ke dalam rahmat-Nya. Dan [mengenai] orang-orang yang zalim tidak ada bagi mereka seorang pelindungpun dan tidak pula seorang penolong." (QS Asy Syura, 42: 8)

"Dan kalau Allah menghendaki, niscaya Dia menjadikan kamu satu umat (saja), tetapi Allah menyesatkan siapa yang dikehendaki-Nya dan memberi petunjuk kepada siapa yang dikehendaki-Nya. Dan sesungguhnya kamu akan ditanya tentang apa yang telah kamu kerjakan." (QS Nahl, 16: 93)

Jadi, bila mengacu ayat-ayat tersebut dan penjelasan Ahmad Sudirman, maka tergolong-golongnya umat muslim itu karena kehendak Allah yang telah diperkuat dengan sabda Rasulullah s.a.w.

Melihat kenyataan yang ada sekarang ini, kelihatannya Allah belum menghendaki kaum muslim untuk bersatu. Mudah-mudahan Allah segera menghendaki kita, kaum muslim, untuk bersatu. Mungkinkah? Bila mengacu pada sabda Nabi, nampaknya tidak mungkin. Tapi bila mengacu pada firman Allah, asalkan Allah berkehendak, masih mungkin.

Kalau melihat penjelasan Ahmad Sudirman, "Sedangkan yang 72 golongan adalah mereka orang-orang yang zalim yang disesatkan dan tidak ada bagi mereka seorang pelindungpun dan tidak pula seorang penolong" (Ahmad Sudirman, 9 April 2005). Orang-orang yang menjadi zalim tersebut disesatkan oleh Allah.

Kabayan meyakini bahwa sikap zalim orang-orang tersebut karena terhasut oleh bujuk rayuan syaitan. Sementara orang-orang yang tidak zalim adalah orang-orang yang tidak terhasut oleh bujuk rayuan syaitan. Kabayan jadi ingin bertanya, selain para Nabi dan Rasul, siapa saja kah orang-orang yang termasuk tidak zalim saat ini? Kalau ada contoh orangnya, siapa namanya ? Barangkali kita bisa lebih objective untuk menirunya. Terima kasih.

Hamdalah, Salam.

Kabayan

kabayan555@yahoo.com
Monterey , California , US
----------