Stockholm, 13 April 2005

Bismillaahirrahmaanirrahiim.
Assalamu'alaikum wr wbr.
 

DHARMINTA MANA SANGGUP PERTAHANKAN ACHEH KALAU HANYA PAKAI CARA BAJAK LAUT
Ahmad Sudirman
Stockholm - SWEDIA.

 

MATIUS DHARMINTA WARTAWAN JAWA POS MANA SANGGUP PERTAHANKAN ACHEH KALAU PAKAI CARA DAN METODE BAJAK LAUT

"Makan-makan sendiri, tidur-tidur sendiri. Demikian syair lagu yang pernah dilantunkan seorang penyanyi dangdut ibukota. Sepertinya hal senada juga dilantunkan oleh bung A. Sudirman. Emang belakangan kelihatan sepi dimimbar ini, mungkin orang lagi sibuk, atau lagi bosan, atau malas, bahkan mungkin ada yang beranggapan bahwa gabung dalam mimbar ini sama sekali tak bermanfaat hingga membuat papan mimbar ini sepi. Menurut pandangan aku emang sepanjang mimbar, dari hari kehari, mungkin bulan bahkan tahun, dalam pokok bahasan sama sekali tak ada hal yang baru, hingga membuat orang bosan. Namun tidak demikian dengan bung A. Sudirman, tak ada lawan di mimbar, maka dialok tunggal pun jadi hingga terciptalah: tanya-tanya sendiri, jawab-jawab sendiri, buat soal sendiri, bahas-bahas sendiri. Itulah belakangan yang dilakukan bung A.Sudirman. Dan itu semuan ia lakukan tuk memancing lawan dialok tuk menanggapi pandangan unsurnya." (Matius Dharminta , mr_dharminta@yahoo.com , 13 april 2005 11:06:10)

Baiklah Matius Dharminta di Jakarta, Indonesia.

Inilah model Matius Dharminta, dari dulu tidak berobah, kalau memberikan tanggapan tidak lebih dan tidak kurang, seperti bentuk untaian kata-kata: "Menurut pandangan aku emang sepanjang mimbar, dari hari kehari, mungkin bulan bahkan tahun, dalam pokok bahasan sama sekali tak ada hal yang baru, hingga membuat orang bosan."

Nah, itu alasan yang dilambungkan Dharminta karena memang itu orang-orang para penerus Soekarno termasuk Dharminta dan Susilo Bambang Yudhoyono mana bisa memberikan alasan hukum yang jelas, yang bisa memberikan kekuatan hukum yang sah dan legal yang menyatakan bahwa Acheh itu milik mbah Soekarno dengan RIS dan RI-nya. Sampai detik ini, mana ada itu para pengekor mbah Soekarno, termasuk juga Matius Dharminta wartawan Jawa Pos dari Surabaya ini mampu melambungkan uraian yang jelas, tepat dan mengena mengenai jalur sejarah yang menyangkut Acheh sampai masuk kedalam usus Negara RI Negara Bagian RIS. Paling yang bisa dilambungkan di mimbar bebas ini adalah: "dalam pokok bahasan sama sekali tak ada hal yang baru"

Ya, jelas, kalau bagi orang-orang pengekor mbah Soekarno, seperti Matius Dharminta, yang otaknya kosong karena termakan racun sampah pancasila, mampu menampilkan dasar hukum yang bisa diterima. Sebagaimana itu orang-orang Amerika ketika menyelsaikan kasus Hawai dengan melalui referendum di Hawai. Begitu juga dengan orang-orang Canada yang menyelesaikan kasus Quebeq dengan melalui jalan referendum di Quebeq. Tetapi, orang-orang di negara sekuler burung garuda pancasila RI ini, mana itu bisa mengikuti model-model orang Amerika atau Canada, walaupun mereka itu memiliki kekuatan angkatan bersenjata yang ampuh, yang bisa saja melumat habis itu orang Hawai dan Quebeq, tetapi mereka tidak menggunakan senjata dan pasukan militernya untuk menyelesaikan kausus dan konflik Hawai dan Quebeq. Lain di negara-nya mbah Soekarno ini, itu Negeri atau Kesultanan Acheh yang sudah berdaulat sejak 181 tahun yang lalu, dimana itu yang namanya RI masih entah dimana-mana, eh, mau pula mengklaim seenak udel sendiri itu Negeri Acheh. Hanya dengan memakai secewir kertas bertuliskan PP RIS No.21/1950, itu mbah Soekarno dengan memakai baju dengan pangkat jabatan Presiden RIS menelan dan mencaplok Negeri Acheh. Dasar Jawa kowe, kerjanya main tipu saja, termasuk didukung pula oleh orang Jawa satu Matius Dharminta ini.

Jadi, Matius Dharminta, bagaimana kalian bisa memberikan jawaban dan argumentasi yang jelas dan benar bedasarkan dasar hukum tentang legalisasi Acheh ada dalam tubuh RI, sebagaimana itu orang dan pemerintah AS dan Canada yang telah berhasil menyelesaikan konflik Hawai dan Quebeq, kalau hanya mengandalkan secarik kerta rombeng berlabelkan hasil kutak-katik mbah Soekarno cs dalam bangunan Negara yang dinamakan RIS dan Negara RI Negara bagian RIS.

Itu sama saja, dengan bajak laut, yang membajak barang milik orang, lalu diakui sebagai miliknya, dengan mengacungkan bendera bajak lautnya yang berlambang burung garuda pancasila dengan untaian kata-kata jiplakan dari sutasoma yang berbunyi bhineka tunggal ika.

Jadi Dharminta,sampai kapanpun kalian tidak akan sanggup untuk terus mendekap itu Acheh, satu saat Acheh akan kembali kepada rakyat Acheh yang hak sebagai pemilik dan penerus endatu-endatu mereka dari sejak dulu. Kalian orang Jawa hanya merampas dan menjajahnya saja, termasuk ini Matius Dharminta pengekor mbah Susilo Bambang Yudhoyono.

Dan tentu saja, ini mimbar bebas bukan mimbar bebas tunggal Ahmad Sudirman, melainkan mimbar bebas yang para pesertanya ribuan dan tersebar diseluruh dunia. Ahmad Sudirman hanyalah kebetulan sebagai pengatur lalu lintas jalannya diskusi saja, dan yang punya hak untuk bersuara dan mempertahankan suaranya, sama seperti para peserta lainnya.

Bagi yang ada minat untuk menanggapi silahkan tujukan atau cc kan kepada ahmad@dataphone.se agar supaya sampai kepada saya dan bagi yang ada waktu untuk membaca tulisan-tulisan saya yang telah lalu yang menyinggung tentang Khilafah Islam dan Undang Undang Madinah silahkan lihat di kumpulan artikel di HP http://www.dataphone.se/~ahmad

Hanya kepada Allah kita memohon pertolongan dan hanya kepada Allah kita memohon petunjuk, amin *.*

Wassalam.

Ahmad Sudirman

http://www.dataphone.se/~ahmad
www.ahmad-sudirman.com
ahmad@dataphone.se
---------

From: matius dharminta mr_dharminta@yahoo.com
Date: 13 april 2005 11:06:10
To: Ahmad Sudirman <ahmad_sudirman@hotmail.com>, PPDI@yahoogroups.com, oposisi-list@yahoogroups.com, mimbarbebas@egroups.com, politikmahasiswa@yahoogroups.com, fundamentalis@eGroups.com, Lantak@yahoogroups.com, kuasa_rakyatmiskin@yahoogroups.com, achehnews@yahoogroups.com, asnlfnorwegia@yahoo.com
CC: universityofwarwick@yahoo.co.uk
Subject: MIMBAR TUNGGAL OLEH A.SUDIRMAN

Makan-makan sendiri, tidur-tidur sendiri. Demikian syair lagu yang pernah dilantunkan seorang penyanyi dangdut ibukota. Sepertinya hal senada juga dilantunkan oleh bung A. Sudirman. Emang belakangan kelihatan sepi dimimbar ini, mungkin orang lagi sibuk, atau lagi bosan, atau malas, bahkan mungkin ada yang beranggapan bahwa gabung dalam mimbar ini sama sekali tak bermanfaat hingga membuat papan mimbar ini sepi. Menurut pandangan aku emang sepanjang mimbar, dari hari kehari, mungkin bulan bahkan tahun, dalam pokok bahasan sama sekali tak ada hal yang baru, hingga membuat orang bosan. Namun tidak demikian dengan bung A. Sudirman, tak ada lawan di mimbar, maka dialok tunggal pun jadi hingga terciptalah: tanya-tanya sendiri, jawab-jawab sendiri, buat soal sendiri, bahas-bahas sendiri. Itulah belakangan yang dilakukan bung A.Sudirman. Dan itu semuan ia lakukan tuk memancing lawan dialok tuk menanggapi pandangan unsurnya. "salam bung ahmad "

Matius Dharminta

mr_dharminta@yahoo.com
Jakarta, Indonesia
----------