Stockholm, 13 April 2005

Bismillaahirrahmaanirrahiim.
Assalamu'alaikum wr wbr.
 

KABAYAN KALAU BELUM PAHAM QISHASH JANGAN LANGSUNG MENYATAKAN QISHASH ITU MUDAH
Ahmad Sudirman
Stockholm - SWEDIA.

 

KABAYAN KALAU BELUM PAHAM QISHASH JANGAN LANGSUNG MENYATAKAN PENERAPAN QISHASH ITU MUDAH DAN TIDAK BERAT

"Mang Ahmad, memang Kabayan belum faham betul dengan hukum qishash itu, mangkanya terkesan menolak. Sebagai contoh, apakah yang dimaksud dengan "hutang mata, dibayar mata" itu? Apakah begini: kalau seandainya Mang Ahmad kehilangan mata karena dicongkel Kabayan dengan sengaja, maka Kabayan harus membayar dengan mengembalikan mata Mang Ahmad yang dicongkel itu? Atau, Kabayan mencongkel mata Kabayan sendiri lalu dibayarkan ke Mang Ahmad? Atau, Mang Ahmad sendiri membalas mencongkel mata Kabayan? Atau, para algojo yang membalaskan Mang Ahmad untuk mencongkel mata Kabayan? Nah bagaimana halnya kalau kehilangan matanya Mang Ahmad itu karena ketidaksengajaan Kabayan, apakah dilakukan hal yang sama?" (Kabayan , kabayan555@yahoo.com , Wed, 13 Apr 2005 17:21:49 +0100 (BST))

Baiklah mang Kabayan di Monterey, California, Amerika.

Ketika berbicara qishash, maka disitulah berbicara masalah hukum yang menyangkut penjatuhan hukuman melalui pembalasan yang sama. Jadi qishash itu adalah mengambil pembalasan yang sama.

Dalam Islam menjatuhkan hukuman atau vonis itu melalui lembaga hukum. Artinya ada didalamnya tata cara peradilan hukum yang berlaku dan diakui secara penuh oleh negara. Jadi, penjatuhan vonis tidak dilakukan secara pribadi, melainkan melalui jalur lembaga peradilan hukum.

Qishash ini bukan hanya diwajibkan kepada umat Islam saja, melainkan juga kepada umat umat sebelum Islam datang, yaitu umat Nabi Musa as. Sebagaimana yang dijelaskan dalam QS Al Maaidah, 5: 45: "Dan Kami telah tetapkan terhadap mereka di dalamnya (At Taurat) bahwasanya jiwa (dibalas) dengan jiwa, mata dengan mata, hidung dengan hidung, telinga dengan telinga, gigi dengan gigi, dan luka luka (pun) ada qishashnya. Barangsiapa yang melepaskan (hak qishash) nya, maka melepaskan hak itu (menjadi) penebus dosa baginya. Barangsiapa tidak memutuskan perkara menurut apa yang diturunkan Allah, maka mereka itu adalah orang-orang yang zalim." (QS Al Maaidah, 5: 45)

Ketika negara atau daulah Islam telah didirikan oleh Rasulullah saw di Yatsrib sekarang namanya Madinah, pada tahun 1 H / 622 M, itu sebelumnya kabilah-kabilah yang ada di Yatsrib sering saling serang menyerang satu sama lainnya. Dan diantara anggota kabilah ada yang terbunuh dan yang terluka, dan sampai membunuh wanita dan hamba sahaya.

Menurut riwayat yang diriwayatkan oleh Ibnu Abi Hatim yang bersumber dari Sa'id bin Jubair yaitu, ketika Rasulullah saw telah membangun dan mendirikan Negara atau Daulah Islamiyah pertama ini, dan kabilah-kabilah itu telah masuk Islam dan menjadi rakyat Daulah Islamiyah, dan mereka belum sempat menuntut balas atas kematian anggota kabilahnya. Dimana kabilah yang terbunuh anggota kabilahnya tetap menuntut kepada kabilah yang membunuhnya untuk membayar ganti, bahkan menuntut bila yang dibunuh itu hamba sahaya diminta diganti dengan membunuh orang yang merdeka, dan wanita diganti dengan pria. Disaat-saat situasi yang masih dipengaruhi kebiasaan jahiliyah ini, maka turunlah ayat QS Al Baqarah, 2: 178:

"Hai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kamu qishash berkenaan dengan orang-orang yang dibunuh; orang merdeka dengan orang merdeka, hamba dengan hamba, dan wanita dengan wanita. Maka barangsiapa yang mendapat suatu pema'afan dari saudaranya, hendaklah (yang mema'afkan) mengikuti dengan cara yang baik, dan hendaklah (yang diberi ma'af) membayar (diat) kepada yang memberi ma'af dengan cara yang baik (pula). Yang demikian itu adalah suatu keringanan dari Tuhan kamu dan suatu rahmat. Barangsiapa yang melampaui batas sesudah itu, maka baginya siksa yang sangat pedih." (QS Al Baqarah, 2: 178)

Nah, menurut hukum qishash ini, kalau ada yang terbunuh harus dibalas dengan pembalasan yang sama, orang merdeka dengan orang merdeka, hamba dengan hamba, dan wanita dengan wanita. Hanya kalau kalau keluarga yang terbunuh itu memberikan maaf, maka harus membayar ganti rugi atau diat kepada keluarga yang terbunuh dengan baik.

Tentu saja, dalam Negara atau Daulah Islamiyah untuk menjatuhkan vonis sipulan bersalah membunuh harus melalui lembaga pengadilan. Artinya tertuduh harus diajukan kedepan pengadilan, ada jaksa penuntut, ada hakim yang menjatuhkan vonis, dan ada pembela bagi tertuduh. Setelah diajukan kedepan pengadilan dan setelah mendengar dan melihat bukti-bukti hukum yang jelas dan benar serta mendengar saksi-saksi, ternyata terbukti bahwa tertuduh itu benar-benar bersalah dan terbukti melakukan pembunuhan, maka hukumannya adalah dengan hukuman qishash, artinya dihukum mati. Kecuali ada pemberian maaf dari keluarga yang terbunuh. Kalau ada maaf dari keluarga siterbunuh, maka harus membayar ganti rugi atau diat.

Sekarang menyinggung yang ditanyakan mang Kabayan: "apakah yang dimaksud dengan "hutang mata, dibayar mata" itu? Apakah begini: kalau seandainya Mang Ahmad kehilangan mata karena dicongkel Kabayan dengan sengaja, maka Kabayan harus membayar dengan mengembalikan mata Mang Ahmad yang dicongkel itu? Atau, Kabayan mencongkel mata Kabayan sendiri lalu dibayarkan ke Mang Ahmad? Atau, Mang Ahmad sendiri membalas mencongkel mata Kabayan? Atau, para algojo yang membalaskan Mang Ahmad untuk mencongkel mata Kabayan? Nah ... bagaimana halnya kalau kehilangan matanya Mang Ahmad itu karena ketidaksengajaan Kabayan, apakah dilakukan hal yang sama?"

Memang bedasarkan qishash maka harus diambil dengan pembalasan yang sama. Artinya kalau memang terbukti didepan pengadilan sipulan mencongkel mata sianu, maka vonisnya adalah mata sipulan harus juga dicongkel sebagaimana sipulan telah mencongkel mata sianu. Tidak ada pilihan lain.

Jadi, dalam menjatuhkan vonis ini, bukan melalui tangan sendiri atau main hakim sendiri, melainkan harus melalui jalur pengadilan. Artinya secara resmi mengajukan tuntutan bahwa sipulan telah melakukan tindak pidana dengan cara melakukan pencongkelan mata si anu. Kemudian, secara resmi si pulan diajukan sebagai tertuduh, dan mulai dihadapkan kedepan meja pengadilan untuk diadili. Kalau memang terbukti bersalah bahwa sipulan mencongkel mata sianu, maka jatuhlah vonis dengan melalui dasar hukum qishash. Artinya mata si pulan harus dicongkel sebagaimana sipulan mencongkel mata si anu.

Bagi yang ada minat untuk menanggapi silahkan tujukan atau cc kan kepada ahmad@dataphone.se agar supaya sampai kepada saya dan bagi yang ada waktu untuk membaca tulisan-tulisan saya yang telah lalu yang menyinggung tentang Khilafah Islam dan Undang Undang Madinah silahkan lihat di kumpulan artikel di HP http://www.dataphone.se/~ahmad

Hanya kepada Allah kita memohon pertolongan dan hanya kepada Allah kita memohon petunjuk, amin *.*

Wassalam.

Ahmad Sudirman

http://www.dataphone.se/~ahmad
www.ahmad-sudirman.com
ahmad@dataphone.se
---------

Date: Wed, 13 Apr 2005 17:21:49 +0100 (BST)
From: kabayan kabayan kabayan555@yahoo.com
Subject: Re: KARENA KABAYAN HANYA MENGIKUTI SUMBER HUKUM PANCASILA, MAKA MENOLAK HUKUM QISHASH
To: Ahmad Sudirman ahmad@dataphone.se

Basmalah 3x, Salam.

Mang Ahmad,
Kabayan bertanya dan menyatakan pandangan kepada Mang Ahmad adalah dalam rangka menggali sesuatu yang Kabayan belum tahu banyak, sekaligus dihadapkan dengan kenyataan hidup yang diperoleh Kabayan selama ini.

Terlepas dari status beo Kabayan (karena semua orang di dunia ini seperti beo, hanya beda mbah beo-nya ajah), Kabayan tidak menyalahkan atau membenarkan Mang Ahmad berpendapat demikian, karena itu semua takdir dari Allah. Kabayan dilahirkan di Pulau Jawa. Kalau tau bahwa hidup ini susah, walau kadang indah, Kabayan bisa nawar untuk tidak lahir, biarlah tinggal di sisi-Nya yang nyaman, tentram, damai, dan bahagia. Tapi karena sudah dilahirkan, sudah ditakdirkan lahir, senang atau susah ... ya jalani ajah kehidupan dunia nyata ini dengan segala konsekuensinya.Dan sekarang Kabayan ditakdirkan bertemu dengan Mang Ahmad di arena milist ini. Entahlah, apakah kita bisa ketemu langsung atau tidak kelak? tunggu ajah takdir berikutnya.

Mang Ahmad, untuk mencari kebenaran dan keadilan yang hakiki itu memang tidak mudah. Menurut Kabayan, seadil-adil dan sebijak-bijaknya manusia, tidak bisa menandingi kemahaadilan dan kemahabijakan Allah swt. Dengan kata lain, menurut Kabayan, semua di dunia saat ini, yang diakibatkan oleh keputusan manusia, keadilan dan kebijakannya semu dan lebih bersifat subjective - karena manusia yang memutuskannya.

Mang Ahmad, memang Kabayan belum faham betul dengan hukum qishash itu, mangkanya terkesan menolak. Sebagai contoh, apakah yang dimaksud dengan "hutang mata, dibayar mata" itu? Apakah begini: kalau seandainya Mang Ahmad kehilangan mata karena dicongkel Kabayan dengan sengaja, maka Kabayan harus membayar dengan mengembalikan mata Mang Ahmad yang dicongkel itu? Atau, Kabayan mencongkel mata Kabayan sendiri lalu dibayarkan ke Mang Ahmad? Atau, Mang Ahmad sendiri membalas mencongkel mata Kabayan? Atau, para algojo yang membalaskan Mang Ahmad untuk mencongkel mata Kabayan? Nah ... bagaimana halnya kalau kehilangan matanya Mang Ahmad itu karena ketidaksengajaan Kabayan, apakah dilakukan hal yang sama?
Terima kasih Mang Ahmad.

Hamdalah, wassalam.

Kabayan

kabayan555@yahoo.com
Monterey , California , US
----------