Stockholm, 13 April 2005

Bismillaahirrahmaanirrahiim.
Assalamu'alaikum wr wbr.
 

MUBA DIJON, ITU ACHEH DIANEKSASI DAN DIDUDUKI OLEH RI SEDANGKAN PALESTINA OLEH ISRAEL
Ahmad Sudirman
Stockholm - SWEDIA.

 

MUBA DIJON, ITU ACHEH DIANEKSASI DAN DIDUDUKI OLEH RI SEDANGKAN PALESTINA DIANEKSASI DAN DIDUDUKI OLEH ISRAEL

"Mad, masalah Aceh jelas nggak sama dengan masalah Palestina. Itu kamu aja yang ngaku-ngaku sama." (Muba Zir , mbzr00@yahoo.com , Wed, 13 Apr 2005 07:44:16 -0700 (PDT))

Baiklah Muba di Dijon, Bourgogne, Perancis

Muba, itu permasalahan yang menimpa Acheh dan Palestina adalah sama, yaitu penjajahan. Dimana tanah Palestina diduduki dan dijajah Israel. Sedangkan Acheh ditelan, dicaplok, dianeksasi dan dijajah oleh Soekarno dengan RIS diteruskan oleh NKRI dan sekarang oleh RI dibawah mbah Susilo Bambang Yudhoyono dan TNI-nya.

Soal pendudukan, aneksasi dan penjajahan RI terhadap negeri Acheh telah sering dibahas dan diterangkan di mimbar bebas ini. Dimana tidak ada seorangpun dari pihak para penerus mbah Soekarno yang mampu memberikan dasar hukum yang menyatakan sah dan legal Acheh masuk kedalam RIS, diteruskan kedalam RI dan dikurung dalam NKRI, sampai detik sekarang ini.

Masalah Acheh terus ditutupi oleh pihak RI, tetapi tentu saja sebagian anggota negara-negara PBB ini mengetahui bahwa di Acheh masih terus berlangsung konflik kemerdekaan. Di Papua Barat juga terus berlangsung konflik kemerdekaan. Hanya, karena pihak RI, terus mempropagandakan kedunia luar bahwa masalah Acheh adalah masalah internal, yang walaupun pada kenyataannya sudah menjadi masalah internasional, maka taktik propaganda pihak RI ini memang tidak mempan. Karena pada realitanya, itu masalah Acheh telah menjadi masalah internasional. Lihat saja fakta dan buktinya, itu sekarang (12-17 April 2005) sedang berlangsung perundingan ASNLF dengan RI di Helsinki, Finlandia, yang diselenggarakan oleh mantan Presiden Finlandia Martti Ahtisaari dengan Crisis Management Initiative (CMI)-nya.

Nah, karena Ahmad Sudirman telah sering mengupas masalah Acheh yang dianeksasi, diduduki dan dijajah mbah Soekarno dengan RIS dan RI-nya, maka dibawah ini akan sedikit dikupas bagaimana itu sebenarnya Palestina yang diduduki dan dijajah Israel. Dengan tujuan agar bisa membandingkan antara Acheh yang dijajah RI dan Palestina yang dijajah Israel.

Awal kemelut pertumpahan darah di Palestina, dimulai sejak akhir Perang Dunia ke II, ketika Inggris sudah tidak lagi mampu memegang mandat mengurus dan mengatur daerah Palestina yang kemudian diserahkan kepada Komisi Palestina PBB tahun 1948.

Walaupun resolusi pertama mengenai Palestina nomor 42 tahun 1948 DK PBB yang diadopsi pada 5 Maret 1948 memutuskan bahwa Komisi Palestina PBB harus berkonsultasi dan melaporkan kepada DK PBB dalam rangka membuat garis-garis instruksi yang nantinya akan disampaikan kepada Sidang Umum PBB, tetapi kemelut Palestina terus membesar. Apalagi setelah agen zionis Yahudi terlibat dalam pergolakan di Palestina, sehingga DK PBB mengeluarkan resolusi baru nomor 43 tahun 1948 yang diadopsi pada 1 April 1948 yang memutuskan Agen Yahudi untuk Palestina dan Komite Tinggi Arab yang ada di PBB dimintakan untuk mengirimkan wakilnya untuk duduk di DK PBB guna mengatur perletakan dan perlucutan senjata antara kelompok Yahudi dan Arab Palestina di Palestina.

Tetapi ternyata pertumpahan darah terus mengalir antara kelompok Arab Palestina dan kelompok Yahudi di Palestina, sehingga DK PBB mengadopsi resolusi baru lagi nomor 48 tahun 1948 tanggal 23 April 1948 yang memutuskan membentuk Komisi Perlucutan Senjata PBB yang anggota-anggotanya diambil dari negara-negara anggota DK PBB. Tetapi tidak sampai disitu saja, katika Mesir, Irak, Libanon, Saudi Arabia, Syria, Transjordania dan Yaman yang merupakan anggota Liga Arab yang dibentuk pada tanggal 22 Maret 1945 di Cairo, Mesir ikut melibatkan kedalam pergolakan di Palestina, sehingga DK PBB mengeluarkan resolusi baru nomor 50 tahun 1948 yang diadopsi pada 29 Mei 1948 yang isinya menyerukan segera dilakukan gencatan senjata di Palestina.

Kendatipun gencatan senjata diberlakukan tetapi pertumpahan darah tidak bisa distop, sehingga DK PBB mengeluarkan lagi resolusi nomor 54 tahun 1948 yang diadopsi pada 15 Juli 1948 yang isinya menunjuk juru penengah untuk penyelesaian pertumpahan darah di Palestina. Beberapa point yang diajukan oleh juru penengah PBB ini sebagian besarnya di tolak oleh kelompok Arab yang didukung oleh Liga Arab.

Nah seterusnya DK PBB dengan resolusi barunya yang bernomor 61 tahun 1948 yang diadopsi pada 4 November 1948 menugaskan kepada juru penengah PBB untuk memerintahkan kepada pihak -pihak yang bertempur guna kembali menarik diri ke garis batas yang telah ditetapkan pada tanggal 14 Oktober 1948 dan garis batas tersebut tidak boleh dilanggar.

Tidak sampai disini saja, selanjutnya DK PBB mengeluarkan lagi resolusi nomor 62 tahun 19948 yang diadopsi 16 November 1948 yang memutuskan ditempatkan pasukan PBB diseluruh sektor yang ada di Palestina guna menjaga keamanan dan kestabilan. Tetapi, ternyata walaupun telah ditempatkan pasukan keamanan PBB hampir disemua sektor, pertumpahan darah masih terus berlangsung, sehingga DK PBB mengeluarkan resolusi barunya lagi yang bernomor 66 tahun 1948 yang diadopsi 29 Desember 1948 yang isinya menyerukan gencatan senjata dengan segera dan pihak-pihak yang berperang harus segera kembali lagi ke garis batas yang telah ditetapkan dalam resolusi nomor 61 tahun 1948.

Ketika Agen Zionis Yahudi dengan pemerintah sementaranya merasa kuat karena mendapat bantuan dari Amerika, maka pada tanggal 6 Juni tahun 1967 Israel melakukan serangan ke daerah Arab Palestina, Mesir, Jordania sehingga DK PBB segera mengeluarkan resolusi barunya lagi yang bernomor 233, 234, 235, 236 tahun 1967 yang diadopsi tanggal 6, 7, 9, 11 Juni 1967 yang memerintahkan segera untuk mengadakan gencatan senjata. Tidak sampai disitu saja, DK PBB mengeluarkan lagi resolusi nomor 237 tahun 1967 yang diadopsi pada 14 Juni 1967 yang menyerukan kepada pemerintah Israel agar menjaga keselamatan, kesejahteraan dan keamanan penduduk yang daerahnya diduki oleh militer Israel.

Karena Israel telah menduduki daerah tepi Barat, Jalur Gaza dan Dataran Tinggi Golan, juga Sinai, maka DK PBB mengeluarkan lagi resolusi nomor 242 tahun 1967 yang diadopsi pada 22 November 1967 yang memutuskan Israel harus menarik kembali kekuatan militernya dari daerah yang telah didudukinya. Kemudian Israel harus berhenti dari mengklaim daerah yang didudukinya sebagai daerahnya. Juga harus menghormati kedaulatan, batas negara, dan kemerdekaan dari setiap negara di wilayah itu dan menghormati hak mereka untuk hidup damai di wilayah yang aman dan diakui batas-batasnya dari ancaman atau aksi militer yang datang dari luar.

Tetapi pada tahun 1973 Mesir dan Syria siap bertempur kembali melawan Israel, dimana Mesir mampu menghancurkan kekuatan Israel, kalau tidak segera dihentikan oleh Amerika, sehingga pada tanggal 22 Oktober 1973 DK PBB mengadopsi resolusi nomor 338 tahun 1973 yang memrintahkan segera menghentikan perang antara Mesir dan Israel dan antara Syria dan Israel untuk dilanjutkan dalam meja perundingan.

Nah, daerah yang telah diduduki oleh Israel sejak tahun 1967 yaitu Tepi Barat, Jalur Gaza dan Dataran Tinggi Golan masih tetap menjadi sumber kemelut pertumpahan darah antara kaum agen zionis Yahudi dan Arab Palestina yang daerahnya telah diduduki oleh Israel. Adapun Sinai telah dikembalikan kepada Mesir ketika Israel dan Mesir mengadakan perjanjian damai tahun 1979. Begitu juga persengketaan berbatasan dengan Jordania bisa diselesaikan ketika dilakukan perjanjian damai antara Jordania dan Israel 26 Oktober 1994. Juga perjanjian damai antara Israel dengan Libanon yang berakhir dengan militer Isreal ditarik dari Libanon Selatan yang telah diduduki sejak tahun 1982. Sedangkan Dataran inggi Golan masih tetap belum bisa diselesaikan antara Syria dan Israel.

Nah sekarang, rakyat Arab Palestina yang daerahnya telah diduduki oleh agen zionis Israel dari sejak tahun 1967 itu sampai sekarang masih tetap belum bisa diselesaikan secara menyeluruh dan damai.

Usaha dalam rangka mencari penyelesaian damai di Palestina ini adalah apa yang telah dilakukan oleh Liga Arab yang sekarang anggotanya sudah mencapai 22 negara yaitu Aljazair, Bahrain, Comoros, Djibouti, Mesir, Irak, Jordania, Kuwait, Libanon, Libya Mauritania, Maroko, Oman, Palestina, Qatar, Saudi Arabia, Somalia, Sudan, Syria, Tunisia, Arab Emirate dan Yaman yaitu telah diadakannya Konferensi Tingkat Tinggi Liga Arab di Beirut, tanggal 27-28 Maret 2002 Saudi Arabia mengajukaan proposal yang disampaikan oleh Putra Mahkota Arab Saudi, Pangeran Abdullah. Dimana dalam proposal itu diajukan bahwa akan dilakukan normalisasi penuh hubungan Israel dengan pemerintahan negara-negara Arab, apabila Israel siap menyerahkan daerah yang didudukinya pada tahun 1967, yaitu Tepi Barat, Jalur Gaza dan Dataran Tinggi Golan. Juga Israel harus mengakui negara Palestina dengan ibukotanya Yerusalem.

Hanya dalam KTT Liga Arab di Beirut itu, Yasser Arafat (alm) tidak bisa menghadirinya, disebabkan mendapat tekanan dari Ariel Sharor yang mengancam bahwa kalau Arafat tidak mampu mengatasi aksi-aksi teror yang dilakukan di daerah Israel, maka Arafat tidak bisa keluar dari Ramalah pusat keududukan pemerintahan Palestina di Tepi Barat.

Pihak Amerika tidak mampu menekan setiap Perdana Menteri Israel untuk melahirkan persetujuan damai antara Palestina dan Israel.

Misalnya ketika pada KTT di Beirut, walaupun George W. Bush setuju dengan proposal Saudi Arabia dan berusaha meyakinkan Sharon agar memberikan kebebasan kepada Arafat untuk menghadiri KTT di Beirut itu, tetapi ternyata Ariel Sharon ini tidak menggubris apa yang disarankan dan dimintakan George W. Bush.

Jadi disini, terlihat bahwa sebenarnya bukan pemerintah Amerika yang mendikte Israel dalam masalah penyelesaiaan damai Palestina, melainkan sebaliknya, Israel yang mendikte Amerika.

Adapun yang baru bisa diselesaikan oleh pemerintah Amerika di Timur Tengah sampai saat ini adalah perdamaian Mesir-Israel dibawah Carter 1979. Juga perdamaian damai antara Israel dan Jordania 1994. Sedangkan perdamaian dengan pihak Arab Palestina sampai detik ini hasilnya adalah nol besar.

Memang setelah Yasser Arafat meninggal diadakan pemilihan Presiden di Palestina, dan dimenangkan oleh Mahmoud Abbas pada tanggal 9 Januari 2005. Dan pada tanggal 16 Maret 2005 diadakan Konferensi Cairo. Dimana hasilnya adalah Israel menarik pasukannya dari Jericho. Hamas dan Islamic Jihad bergabung dengan PLO untuk mematuhi hasil Konferensi Cairo ini.

Nah sekarang dalam KTT Asia-Afrika yang akan diselenggarakan pada tanggal 22-23 April 2005 di Jakarta, dimana salah satu agendanya membicarakan masalah Palestina. Itu hanya cerita diatas kertas saja. Karena dalam kenyataannya, itu negara-negara Arab sendiri mana bersatu dalam membela perjuangan rakyat Palestina menghadapi Israel dan Amerika.

Bagi yang ada minat untuk menanggapi silahkan tujukan atau cc kan kepada ahmad@dataphone.se agar supaya sampai kepada saya dan bagi yang ada waktu untuk membaca tulisan-tulisan saya yang telah lalu yang menyinggung tentang Khilafah Islam dan Undang Undang Madinah silahkan lihat di kumpulan artikel di HP http://www.dataphone.se/~ahmad

Hanya kepada Allah kita memohon pertolongan dan hanya kepada Allah kita memohon petunjuk, amin *.*

Wassalam.

Ahmad Sudirman

http://www.dataphone.se/~ahmad
www.ahmad-sudirman.com
ahmad@dataphone.se
---------

Date: Wed, 13 Apr 2005 07:44:16 -0700 (PDT)
From: muba zir mbzr00@yahoo.com
Subject: Aceh-Palestina?
To: AcehAhmadGPK ahmad@dataphone.se
Cc: AcehA_yoosran <a_yoosran@yahoo.com>, Acehabu_dipeureulak <abu_dipeureulak@yahoo.com>, AcehAhmad_mattulesy <ahmad_mattulesy@yahoo.com>, AcehAhmadGPK <ahmad@dataphone.se>, Acehalasytar_acheh <alasytar_acheh@yahoo.com>, acehalchaidar <alchaidar@yahoo.com>, Acehapalambak2000 <apalambak2000@yahoo.ca>, AcehBambang <bambang_hw@rekayasa.co.id>, Acehburamu <buramu@plasa.com>, acehdityaaceh_2003 dityaaceh_2003@yahoo.com

Mad, masalah Aceh jelas nggak sama dengan masalah Palestina. Itu kamu aja yang ngaku-ngaku sama.

Muba ZR

mbzr00@yahoo.com
Dijon, Bourgogne, Perancis
----------

Masalah Palestina Masuk Agenda KTT Asia-Afrika

Jakarta, 13 April 2005 13:10
Masalah Palestina dipastikan akan masuk menjadi salah satu agenda yang dibahas para pemimpin negara/kepala pemerintahan dalam Konferensi Tingkat Tinggi (KTT) Asia-Afrika yang berlangsung di Jakarta, 22-23 April 2005.

"Bisa dipastikan bahwa masalah Palestina akan menjadi salah satu butir yang menjadi perhatian penting dan bagaimana menyelesaikan satu masalah yang ironis tersebut," kata Menlu Hassan Wirajudha, kepada pers, ketika menyampaikan persiapan Konferensi Bisnis Asia-Afrika, di Jakarta, Rabu.

Menurut Menlu, sebetulnya dalam konferensi mendatang para pemimpin negara/kepala pemerintahan tidak ingin membicarakan secara spesifik masalah suatu negara tapi ingin membahas bagaimana upaya membangun bersama kemitraan antara negara di kawasan Asia-Afrika.

Diakuinya, jika melihat sejarah perjalanan hubungan Konferensi Asia-Afrika sejak tahun 1955 di Bandung yang waktu itu fokusnya banyak pada upaya membantu negara-negara terjajah untuk merdeka, maka isu Palestina sebenarnya masih relevan untuk dibahas dalam
KTT tahun ini.

"Para pemimpin negara pada waktu itu memang berupaya bagaimana suatu negara yang terjajah bisa merdeka di mana saat itu dihadiri 29 negara dan tahun ini kita mengundang 105 negara anggota," katanya.

Diakuinya, masalah yang paling ironis di kawasan Asia-Afrika adalah masalah pembebasan Palestina yang ternyata masih belum bisa diselesaikan sesuai dengan amanat yang diberikan para pemimpin Asia-Afrika tahun 1955.

Menurut Menlu, masalah penghapusan warna kulit atau apartheid dalam sepuluh tahun terakhir sudah berhasil dilakukan dan berbagai masalah lain yang berkaitan dengan tindakan rasialisme relatif sudah berhasil dihilangkan dari kawasan Asia-Afrika.

"Tapi satu yang ironis bahwa masalah Palestina belum berhasil kita lakukan sehingga Palestina dipastikan akan menjadi salah satu kunci yang akan kita bicarakan di KTT Asia-Afrika tahun ini," tegasnya. [TMA, Ant]

http://www.gatra.com/artikel.php?id=83480
----------