Sandnes, 15 April 2005

Bismillaahirrahmaanirrahiim.
Assalamu'alaikum wr wbr.
 

ANGIN BADAI BERHEMBUS DI GUNUNG, KENAPA POHON INI DAN POHON ITU YANG TUMBANG
Husaini Daud Sp
Sandnes - NORWEGIA.

 

TIDAK ADA TEMPAT UNTUK BERUNDING DENGAN SIPA-I JAWA MUNAFIK PENIPU LICIK

Menurut hemat saya, tak ada tempat untuk berunding dengan Sipa-i-Jawa yang munafiq itu. Dalam kamus Islam sejati, tidak ada istilah berunding dengan musuh sa'at perang sudah kita putuskan. Hal ini disebabkan bahwa dalam kamus musuh, berunding itu adalah "taktik strategi". Justru itu kapan saja kita mau berunding dengan musuh, mulai sa'at itulah kita sudah dapat bersiap-siap untuk kalah.

Opini tersebut diatas saya susun menurut analisa saya sendiri terhadap sejarah Rasulullah saw, Imam Ali bin Abi Thalib dan sejarah perang Acheh - Belanda. Perundingan yang dibuat Rasulullah dengan kafir Qurasy adalah sebagai uji coba untuk diambil i'tibar oleh orang-orang yang beriman bahwa musuh kita takpernah menepati janji. Hal ini di abadikan Allah dalam Al-Qur-an sebagai pedoman hidup bagi orang-orang yang beriman bahwa Allah sendiri yang membatalkan perjanjian tersebut (QS At-Taubah, 9:1-8).

Imam Ali sebagai warisan Rasul, sangat paham tentang hal tersebut. Namun sebahagian besar pengikutnya terpengaruh dengan strategi licik dan keji dari Amru bin Ask, menggunakan mushaf Al Qur-an untuk mengelabui pengikut Imam Ali. Sa'at ini sipa-i Djawa munafiq juga menggunakan taktik keji model Amru bin Ask untuk menipu bangsa Acheh. Perjanjian Linggar jati dan Renville pun sudah sama-sama kita pahami sebagai guru bagi sipa-i Jawa munafiq itu.

Redjim dhalim macam sipa-i Jawa munafiq itu memang sangat menakutkan umpama jeratan "Laba-laba" yang membuat belalang tak berdaya. Justru itu tak satu golonganpun yang mampu melawan kecuali golongan jihad. Dalam kamus jihad tertulis dengan jelas bagi orang-orang yang beriman: "Sesungguhnya jeratan labalaba itu adalah rapuh" (QS An Nisaa', 4: 71-78).

Dalam sejarah Islam terbukti bagaimana gempuran pasukan Islam sejati terhadap kerajaan Parsi dan Romawi yang berhasil mendapat kemenangan, kendatipun pasukan Islam jauh lebih kecil dibandingkan pasukan musuh. Begitu juga gempuran jihad tentera Acheh terhadap tentera Belanda yang senjatanya jauh lebih moderen dari senjata kita. Hal ini sudah begitu jelas kita baca dalam tulisan wali Negara Acheh, Teungku Hasan Muhammad di Tiro.

Setelah itu kita lihat lagi bagaimana kerajaan Islam yang begitu luas (Parsi dan Romawi) sanggup dikalahkan oleh satu pasukan yang jauh lebih kecil (Holakokhan), kenapa ? Begitu juga sejarah perang Hunain, dimana pasukan Islam yang begitu besar dapat dikalahkan musuh kendatipun setelah itu menang kembali, kenapa ?

Jawabannya: Angin badai berhembus di gunung, kenapa pohon ini dan pohon itu saja yang tumbang ? Tumbangnya pohon ini dan pohon itu bukan disebabkan angin badai, namun pohon itu sendiri sudah keropos akarnya atau di makan anai-anai. Artinya bukan Holakokhan yang mengalahkan kerajaan Super Power Islam saat itu, namun tentera dan orang Islam sendiri sudah dekaden, 'Aqidah/Idiology sudah sirna, tujuan hidup bukan lagi untuk mencari keredhaan Allah, melainkan untuk mencari kesenangan ataupun materi/harta segala-galanya.

Semoga bangsa Acheh - Sumatra hari ini mampu berfikir bahwa mungkin saja setelah kita meraih kemerdekaan, akan muncul bahaya lainnya. Orang-orang yang salah tujuan hidupnya menjadi suatu penyakit yang lebih berbahaya daripada musuh yang sedang kita perangi hari ini.

Namun demikian, andaikata hari ini pemimpin kita terpaksa mengambil suatu alternatif untuk berunding akibat situasi dunia yang serba tidak menentu, sangat perlu kita tentukan syarat-syaratnya sebagaimana tersebut dibawah ini:

1. Lepaskan dulu seluruh tahanan politik Acheh terutama sekali ex utusan perundingan. (Bagaimana mungkin kita berunding sementara musuh tak punya aturan sama sekali, menangkap utusan tersebut)

2. Tarik seluruh pasukan non organik dan bubarkan seluruh pos-pos yang dibuat selama darurat militer.

3. Fokuskan gencatan senjata (cise fire) sebagai syarat utama perundingan dengan jaminan badan Internasional (PBB) secara tertulis, untuk monitoring. ( Tak ada gunanya perundingan dilanjutkan sementara di loapangan perang terus berlangsung)

4. Cabut aturan apa saja yang menghambat kepada kebebasan, seperti Keppres No.43/2003 dan PP No.2/2004 . Dan kondisikan suasana kehidupan politik yang aman dan bebas bagi seluruh rakyat Acheh.

Demikianlah menurut hemat saya mudah-mudahan mendapat redha Allah dan saya tutup tulisan ini dengan firman Nya: "Hai orang-orang yang beriman, ta'atilah Allah, Rasul Nya dan ulul amri mingkum (wali dari kalangan kamu sendiri). Kemudian jika kamu berlainan pendapat tentang sesuatu, maka kembalikanlah kepada Allah (Al Qur-an) dan Rasul (Sunnahnya), jika kamu benar-benar beriman kepada Allah dan hari kemudian. Yang demikian itu lebih utama (bagi mu) dan lebih baik akibatnya. (QS An-Nisaa', 4: 59)

Motto: Yang menang belum tentu benar, yang benar pasti menang

Billahi fi sabililhaq

Husaini Daud Sp

husaini54daud@yahoo.com
Sandnes, Norwegia.
---------