Stockholm, 15 April 2005

Bismillaahirrahmaanirrahiim.
Assalamu'alaikum wr wbr.
 

MUBA, ITU PROPAGANDA KOSONG SELF-GOVERNMENT ALA YUDHOYONO YANG DILAMBUNGKAN KALLA
Ahmad Sudirman
Stockholm - SWEDIA.

 

MUBA DIJON, ITU PROPAGANDA KOSONG SELF-GOVERNMENT ALA SUSILO BAMBANG YUDHOYONO YANG DILAMBUNGKAN JUSUF KALLA

"Tidak ada lagi pembicaraan soal merdeka, itu sudah disetujui bersama. Sekarang tinggal bicara teknis mengenai apa yang dimaksud otonomi khusus oleh kita dan apa yang dimaksud dengan self-governing menurut mereka (GAM). Pada intinya tidak berbeda, hanya masalah semantik (bahasa) dan masalah-masalah substansi yang akan dibicarakan secara lebih teknis lagi. Jadi, kemajuannya baik" (Wakil Presiden Jusuf Kalla, Kantor Wapres, Jakarta, Jumat 15 April 2005)

"ASNLF berpolitik? Jadi partai politik? Siapa yang mau milih? Ha ha Yang bukan-bukan aja kamu itu kalo ngomong, Mad, Bilang aja deh pengen uang kompensasi (walau nggak jelas, kompensasi apa dan atas nama siapa). Yang jelas, kalian kan akhirnya setuju bicara dalam kerangka NKRI... Aku kan udah bilang, kebenaran itu pasti datang kok, dan itu adalah NKRI" (Muba Zir , mbzr00@yahoo.com , Fri, 15 Apr 2005 11:09:00 -0700 (PDT))

Baiklah Muba di Dijon, Bourgogne, Perancis

Muba Dijon, itu Jusuf Kalla, membual untuk kepentingan propaganda dalam negeri saja, biar disantap oleh rakyat yang bisa ditipunya. Tidak ada lagi pembicaraan soal merdeka, bukan berarti itu sudah disetujui bersama. Ini adalah penipuan dan akal bulus Jusuf Kalla saja. Mana pernah itu dibicarakan dalam perundingan bahwa dengan tidak dibicarakannya soal merdeka, berarti itu sudah disetujui bersama.

Itulah kesimpulan yang ngaco dan salah kaprah dari Jusuf Kalla. Dari mana itu info yang mengatakan bahwa masalah kemerdekaan tidak diangkat dalam pembicaraan, berarti ASNLF tidak lagi menuntut kemerdekaan. Inilah propaganda gombal dari RI yang salah kaprah, untuk menipu rakyat di RI dan di Acheh.

Dan itu mengenai masalah self-government adala masih berbeda antara ASNLF dan RI. Dimana RI masih tetap ngotot dengan otonomi khusus dengan UU No.18/2001-nya. Adapun pihak ASNLF self-government itu bukan otonomi khusus dengan UU No.18/2001 RI-nya.

Itu self-government model ASNLF telah dibicarakan dan disodorkan kepada pihak RI, yang sangat jauh berbeda dengan apa yang tertuang dalam UU No.18/2001. Bahkan itu kalau mengikuti self-government model ASNLF, semua isi UU No.18/2001 harus dirobah total. Dan tentu saja, perobahan total itu harus dilakukan oleh DPR.

Self-government model ASNLF adalah betul-betul self-government, bukan bentuk otonomi khusus jelmaan mbah Soekarno tahun 1956.

Jadi, bukan hanya sekedar masalah semantik (bahasa). Itu kesimpulan yang ngaco dan salah kaprah. Mana pernah pihak ASNLF dalam perundingan itu menyatakan bahwa self-government untuk Acheh sama dengan otonomi khusus dengan UU No.18/2001. Itu betul-betul kesimpulan ngaco. Justru pihak juru runding RI dibawah Hamid Awaluddin telah memanipulasi apa yang telah disuguhkan pihak ASNLF mengenai self-government itu. Tetapi, mereka tidak berani dan tidak mau membukakannya didepan rakyat RI. Dan memutar balikkan fakta dan bukti, sehingga disimpulkan oleh itu Jusuf Kalla bahwa self-government itu hanya berbeda soal bahasanya saja. Kan, betul-betul gombal dan ngaco.

Jadi, Muba Dijon, itu yang dikatakan Jusuf Kalla adalah hanya propaganda untuk memenuhi dan menyuapi mulut-mulut rakyat di RI saja yang bisa ditipu dan dibohongi dengan berita gombal alias kosong. Hanya orang-orang bodoh saja yang mengekor kepada mbah Susilo Bambang Yudhoyono seperti Muba Dijon yang bisa ditipu dengan cerita kosong keropos Jusuf Kalla itu.

Apakah begitu mudah itu ASNLF membuang tuntutan kemerdekaan yang telah diperjuangkan sejak tahun 1873 atau 132 tahun yang lalu, yang telah diperjuangkan oleh para endatu rakyat Acheh ?

Kalian Muba Dijon dan semua para pendukung penjajah RI yang telah melakukan pembunuhan yang kejam terhadap rakyat Acheh yang telah sadar untuk menentukan nasib sendiri bebas dari pengaruh kekuasaan Negara sekuler burung garuda pancasila RI.

Kalian enak saja Muba Dijon, mengaku itu Acheh milik kalian dan milik mbah kalian Susilo Bambang Yudhoyono dan Jusuf kalla. Bagaimana bisa kalian klaim itu Acheh milik kalian dan milik negara sekuler burung garuda pancasila RI ?

Itu soal pengaturan ekonomi, itu tidak ada artinya dibanding dengan kekayaan bumi Acheh yang telah dikuras oleh kalian Muba Dijon. Dari mulai itu mbah Soeharto raja korup sampai saat sekarang oleh mbah Susilo Bambang Yudhoyono. Kalian Muba Dijon kuras habis itu kekayaan alam bumi Acheh, kemudian kalian Muba Dijon katakan itu pengaturan ekonomi tidak jelas dan atas alasan apa. Kalian memang buta dan budek Muba Dijon, kalian yang sudah menduduki dan menjajah Acheh lebih dari setengah abad, masih juga enak-enak menganggap itu adalah kekayaan milik negara sekuler burung garuda pancasila RI ?. Dasar penjajah, yang tidak tahu malu dan harga diri.

Jadi, Muba Dijon, itu adalah benar-benar propaganda gombal yang dilambungkan Jusuf Kalla itu, hanya untuk barang dagangan dan makan apak untuk disuguhkan kehadapan raktyat RI yang masih bisa ditipu dan dibohongi. Dasar penjajah.

Bagi yang ada minat untuk menanggapi silahkan tujukan atau cc kan kepada ahmad@dataphone.se agar supaya sampai kepada saya dan bagi yang ada waktu untuk membaca tulisan-tulisan saya yang telah lalu yang menyinggung tentang Khilafah Islam dan Undang Undang Madinah silahkan lihat di kumpulan artikel di HP http://www.dataphone.se/~ahmad

Hanya kepada Allah kita memohon pertolongan dan hanya kepada Allah kita memohon petunjuk, amin *.*

Wassalam.

Ahmad Sudirman

http://www.dataphone.se/~ahmad
www.ahmad-sudirman.com
ahmad@dataphone.se
---------

Date: Fri, 15 Apr 2005 11:09:00 -0700 (PDT)
From: muba zir mbzr00@yahoo.com
Subject: Re: SELF-GOVERNMENT UNTUK ACHEH MODEL MBAH YUDHOYONO & MBAH SOEKARNO TERUS DIGOYANG-GOYANG
To: Ahmad Sudirman ahmad@dataphone.se
Cc: AcehA_yoosran <a_yoosran@yahoo.com>, Acehabu_dipeureulak <abu_dipeureulak@yahoo.com>, AcehAhmad_mattulesy <ahmad_mattulesy@yahoo.com>, AcehAhmadGPK <ahmad@dataphone.se>, Acehalasytar_acheh <alasytar_acheh@yahoo.com>, acehalchaidar <alchaidar@yahoo.com>, Acehapalambak2000 <apalambak2000@yahoo.ca>, AcehBambang <bambang_hw@rekayasa.co.id>, Acehburamu <buramu@plasa.com>,

ASNLF berpolitik? Jadi partai politik? Siapa yang mau milih?... Ha ha... Yang bukan-bukan aja kamu itu kalo ngomong, Mad... Bilang aja deh pengen uang kompensasi... (walau nggak jelas, kompensasi apa dan atas nama siapa...). Yang jelas, kalian kan akhirnya setuju bicara dalam kerangka NKRI... Aku kan udah bilang, kebenaran itu pasti datang kok, dan itu adalah
NKRI...

Muba ZR

mbzr00@yahoo.com
Dijon, Bourgogne, Perancis
----------

Wapres: Perundingan Helsinski Capai Kemajuan
(Media Indonesia On Line, Jum'at, 15 April 2005 20:17 WIB)

JAKARTA--MIOL: Wakil Presiden Jusuf Kalla mengatakan, perundingan antara delegasi Indonesia dengan pihak Gerakan Aceh Merdeka (GAM) di Helsinki, Finlandia, yang kini memasuki hari ketiga telah mencapai sejumlah kemajuan.

"Banyak poin yang sudah ada kemajuan yang baik," katanya kepada wartawan dalam jumpa pers usai sholat Jumat di Kantor Wapres, Jakarta, Jumat (15/4). Dalam pertemuan tahap ketiga dengan GAM yang berlangsung di Helsinki

12-17 April 2005, delegasi RI diketuai Menteri Hukum dan Hak Asasi Manusia Hamid Awaluddin, didampingi Menteri Negara Komunikasi dan Informasi Sofyan A Djalil, dan salah seorang deputi Menteri Koordinator (Menko) Bidang Kesejahteraan Rakyat, Farid Husain.

Wapres mengatakan, perundingan itu kini sudah memasuki substansi-substansi mengenai "Point of Understanding" yang nantinya juga akan disampaikan ke pemerintah untuk dipelajari.

Meski tidak menyebut secara rinci kemajuan apa saja yang dimaksud namun wapres menyebutkan pokok-pokok pembicaraan pada perundingan itu dalam kerangka Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI) dan hal itu menjadi pesetujuan kedua belah pihak.

"Tidak ada lagi pembicaraan soal merdeka, itu sudah disetujui bersama. Sekarang tinggal bicara teknis mengenai apa yang dimaksud otonomi khusus oleh kita dan apa yang dimaksud dengan self-governing menurut mereka (GAM)," kata Wapres.

Tapi, menurut Wapres, pada intinya tidak berbeda, hanya masalah semantik (bahasa) dan masalah-masalah substansi yang akan dibicarakan secara lebih teknis lagi. "Jadi, kemajuannya baik," katanya.

Sedangkan mengenai kompensasi ekonomi yang diminta GAM, Wapres mengatakan, istilahnya bukan kompensasi tetapi pengaturan-pengaturan masalah ekonomi ke depan di Aceh.

"Hal itu sebagian besar sudah dilaksanakan, tingggal bagaimana mengatur substansinya. Memang dibutuhkan rumusan-rumusan yang baik agar jangan sampai terjadi penafsiran yang berbeda-beda," katanya. (Ant/OL-1)

http://www.mediaindo.co.id/berita.asp?id=62605
----------