Stockholm, 16 April 2005

Bismillaahirrahmaanirrahiim.
Assalamu'alaikum wr wbr.
 

HUSEIN & HARIWIBOWO, ITU TUJUAN ASNLF/GAM DALAM PERUNDINGAN VATAA UNTUK CAPAI PROSES DAMAI DI ACHEH
Ahmad Sudirman
Stockholm - SWEDIA.

 

M. HUSEIN & HARIWIBOWO, ITU TUJUAN ASNLF/GAM DALAM PERUNDINGAN VATAA, FINLANDIA ANDALAH UNTUK MENUJU TERCAPAINYA PROSES DAMAI DI ACHEH

"Pak Ahmad Sudirman Yth. Kami dari redaksi situs berita www.modus.or.id ingin bertanya beberapa hal kepada Bapak karena dari milist ini kami mengetahui Bapak menguasai betul soal GAM dan masalah Aceh." (M Husein, Hariwibowo, Sudibyo Toni , tonisudibyo2001@yahoo.com ,Fri, 15 Apr 2005 21:14:01 -0700 (PDT))

Baiklah saudara M Husein dan Hariwibowo di Jakarta, Indonesia

Menyinggung pertanyaan saudara: "Sebenarnya apa tujuan dari delegasi pihak GAM dalam pertemuan di Vataa Finlandia ini ? Apakah benar mereka sudah tidak lagi mendesakkan tuntutan merdeka ? dan sebenarnya apa motivasi GAM yang mendasarinya ?"

Tujuan dari delegasi ASNLF/GAM dalam pertemuan di Vataa, Finlandia ini adalah untuk menuju kepada tercapainya proses damai di Acheh. Tentang tuntutan kemerdekaan tidak pernah dikesamping atau tidak pernah dibuang oleh pihak ASNLF/GAM. Kalau dalam perundingan yang sekarang sedang berlangsung tidak muncul perkataan merdeka adalah dalam rangka mencari jalan yang bisa dilalui secara teknis guna bisa sampai kepada tujuan proses damai ini. Artinya, karena pihak RI tetap dalam posisinya digaris otonomi khusus dengan UU No.18/2001-nya, tentu saja, secara teknis, selama pihak RI masih tetap tidak bergeser dari posisi garis otonomi khususnya itu, maka perundingan untuk menuju ke arah proses damai di Acheh tidak akan tercapai. Karena itu pihak ASNLF/GAM telah menemukan satu teknis untuk membuka hambatan yang berbentuk teknis rintangan ini dengan menyodorkan teknik self-government atau pemerintahan sendiri untuk Acheh.

Nah, ternyata pihak RI menyambut sodoran teknis yang diajukan oleh pihak ASNLF/GAM dengan self-government atau pemerintahan sendiri untuk Acheh-nya.

Hanya tentu saja, konsepsi yang ada dibalik istilah self-government berbeda antara konsepsi self-government RI dan ASNLF/GAM. Pihak RI menafsirkan self-government dengan otonomi khusus dan UU No.18/2001-nya, sedangkan dari pihak ASNLF/GAM bukan otonomi khusus dan UU No.18/2001-nya. Dan konsepsi self-government model ASNLF/GAM ini telah dijelaskan kepada pihak juru runding RI di Vataa, Finlandia. Dan pihak juru runding RI akan membicarakannya dengan Pusat.

Walaupun masih ada perbedaan konsepsi tentang self-government, tetapi karena usaha kearah proses damai ini harus terus berjalan, maka diambil jalur teknik, dimana antara pihak RI dan ASNLF/GAM memahami bahwa pihak RI tidak menggunakan teknik otonomi khusus, dan pihak ASNLF/GAM tidak menggunakan teknik merdeka, melainkan memakai jalur teknik self-government.

Nah, dengan adanya pemakaian jalur teknik self-government ini, maka itu pembicaraan poin-poin yang ada dalam agenda pertemuan itu bisa dilalui tanpa mendapatkan hambatan.

Inilah, apa yang ada dibalik tabir mengapa itu istilah merdeka tidak muncul dimeja perundingan Vataa, Finlandia ini.

Jadi, pihak ASNLF/GAM sampai detik ini tidak menggugurkan atau menjatuhkan atau mengkesampingkan tuntutan kemerdekaan yang dituntutnya dari sejak tahun 1873.

Menyinggung motivasi ASNLF/GAM dalam menuju ke meja perundingan ini adalah untuk mencapai proses damai di Acheh yang didasari oleh keinginan dan tekad baik.

Nah dengan adanya keinginan dan tekad baik yang mendorong timbulnya motivasi untuk mencapai proses damai dari pihak ASNLF/GAM inilah yang menyebabkan terlaksananya perundingan di Finlandia antara RI dan ASNLF/GAM ini.

Kemudian mengenai pertanyaan: "Bisa bapak berikan informasi kepada kami tentang penasehat GAM selain Damien Kingsburry baik yang ada di Acheh, Malaysia, Singapura, Australia ataupun di beberapa tempat di Jakarta ?"

Sepengetahuan saya sampai detik ini pihak ASNLF/GAM dalam masalah perundingan di Finlandia ini baru Dr. Damien Kingsbury yang dijadikan sebagai penasehat politik ASNLF/GAM sesuai dengan keakhlian akademisnya tentang Indonesia, TNI dan Acheh.

Selanjutnya pertanyaan: "Beberapa hasil perundingan di Vataa yang bisa kami peroleh antara lain adalah delegasi GAM sudah bisa memahami bahwa tidak perlu ada referendum bagi Aceh karena pemecahan masalah Aceh harus dilihat dari masa depan rakyat Aceh sendiri ?"

Sebenarnya referendum merupakan cara dan jalan yang diambil melalui keputusan yang disampaikan oleh seluruh rakyat. Kalau referendum di Acheh diadakan berarti itu proses damai dalam rangka pemecahan dan penyelesaian konflik Acheh dilakukan dan diserahkan kepada seluruh rakyat Acheh untuk memberikan sikap mereka.

Dan pihak ASNLF/GAM sangat menghargai dan sangat menghormati cara penyelesaian konflik Acheh melalui jalur damai dan adanya kesepakatan dari seluruh rakyat Acheh ini, atau dengan istilah yang selalu dilambungkan pihak RI, secara demokrasi.

Nah adanya jalur damai dan adanya kesepakatan dari seluruh rakyat Acheh inilah justru yang dinamakan jalur proses damai melalui referendum. Dan suara yang dikumandangkan oleh rakyat Acheh untuk referendum di Acheh masih kuat. Jadi, justru pihak ASNLF/GAM bukan menyatakan tidak perlu ada referendum bagi Acheh, melainkan pihak ASNLF/GAM sangat menghargai dan memahami jalur proses kesepakatan dan keputusan yang diambil oleh seluruh rakyat Acheh di Acheh. Artinya bahwa pihak ASNLF/GAM memahami, menghargai dan mengghormati referendum di Acheh, sebagaimana referendum yang telah dilakukan di Timor Timur pada tanggal 30 Agustus 1999.

Kemudian pertanyaan: "Apakah bapak kenal dengan organisasi yang bernama AHRO (Acheh Human Rights On Line) di Australia atau Acheh Center USA yang dikelola oleh Reyza Zain. Mengapa mereka selalu mengkampanyekan bahkan mempropagandakan kekejaman TNI/Polri saja di Acheh tapi tidak balance dengan kekejaman yang dilakukan TNA GAM ?"

Saya selalu mendapat berita dari Acheh Human Rights On Line di Australia atau Acheh Center USA. Dan tentu saja, berita-berita yang mereka kirimkan kepada saya, terlebih dahulu saya teliti dengan cara seksama dan dibandingkan dengan berita lainnya yang masuk. Karena mereka mempunyai sumber berita tersendiri, dan pihak TNI pun mempunyai sumber berita tersendiri. Masalahnya sekarang apakah fakta dan bukti dari sumber berita itu benar atau tidak.

Kalau saya hanya membaca berita dari pihak TNI, jelas tiap menit hanya dibombardir dengan berita yang menyatakan kejahatan yang dilakukan oleh pihak TNA (Tentara Negara Acheh) dan GAM saja. Karena itu perlu adanya berita dari pihak diluar TNI.

Jadi untuk mengimbanginya, perlu membaca berita-berita dari pihak selain TNI, misalnya dari pihak Acheh Human Rights On Line di Australia atau Acheh Center USA. Dan tentu saja mereka ini memiliki sumber berita yang mereka percayai kebenarannya.

Adapun kalau cara mereka menampilkan beritanya yang tidak balance, ya, harus dimaklumi saja, karena memang sekarang ini di Acheh sedang berlangsung perang modern, yang didalamnya termasuk perang media. Jadi, tidak ada itu istilah balance ini ketika sedang berlangsung perang modern di Acheh ini. Siapa yang menguasai media itulah yang akan keluar sebagai pemenang.

Selanjutnya mengenai pertanyaan: "Bagaimana visi Bapak soal blue print di Aceh pasca tsunami ?"

Untuk mengembalikan kembali Acheh melalui cara rehabilitasi infrastruktur ekonomi,
mental rakyat Acheh, fisik, rekonstruksi dan rebuilding di Acheh, itu harus dikembalikan kepada seluruh rakyat Acheh, tidak boleh merobah dasar atau pondasi daerah Acheh yang sangat dipengaruhi oleh Islam dan budaya Acheh ini.

Masa depan Acheh ada ditangan seluruh rakyat Acheh, bukan ditangan pemerintah pusat Jakarta atau ditangan Badan Perencanaan Pembangunan Nasional saja. Seluruh unsur yang ada di masyarakat Acheh, dari mulai para ulama, cendekiawan, ilmuwan, pedagang, pelajar, mahasiswa, ibu rumah tangga, rakyat biasa, semuanya harus diajak dan diikutsertakan dalam pembangunan kembali Acheh yang telah dilanda gempa dan tsunami 26 Desember 2004 yang lalu.

Seterusnya mengenai pertanyaan: "Apa benar kondisi Hasan Tiro sudah pikun (pelupa) dan tidak lagi tinggal bersama isterinya Nora tapi melainkan dengan anaknya yang bernama Karin ?"

Kondisi kesehatan Teungku Hasan Muhammad di Tiro sesuai dengan usianya yang sudah melebih 70 tahun itu memang tidak sama dengan kondisi beliau ketika masih dibawah usia 40 tahunan. Karena itu kalau soal lupa memang hal yang biasa, sebagaimana juga sering menimpa kepada diri saya, yang kadang-kadang lupa, sehingga harus membuka lagi catatan-catatan lama.

Dan Teungku Hasan Muhammad di Tiro memang sudah lama bercerai dengan istri beliau. Bekas istri beliau berada di Amerika, dan Teungku Hasan Muhammad di Tiro tinggal di Swedia. Jadi, memang secara hubungan pernikahan sudah tidak ada lagi antara Teungku Hasan Muhammad di Tiro dan Dora.

Lalu tentang pertanyaan: "Bisa bapak informasikan kepada kami apa saja hasil keputusan Pengadilan di Swedia (karena bapak tinggal di Stockholm jadi tahu dan pasti memonitor) hasil keputusan mereka soal kasus Hasan Tiro Cs ?"

Sebenarnya bukan keputusan pengadilan, karena Teungku Hasan Muhammad di Tiro tidak pernah diajukan ke sidang pengadilan Swedia, melainkan keputusan yang dikeluarkan oleh pihak Kepala Jaksa Penuntut Umum Tomas Lindstrand. Dimana Tomas Lindstrand, pada hari Jumat, 16 Juli 2004, telah menghentikan penyidikannya terhadap Teungku Hasan Muhammad di Tiro yang dituduh telah melakukan pelanggaran hukum internasional oleh pihak Pemerintah Indonesia. Menurut surat keputusan yang dikeluarkan oleh Kepala Jaksa Penuntut Umum Tomas Lindstrand menyatakan bahwa alasan pembebasan tuduhan terhadap Teungku Hasan Muhammad di Tiro itu adalah karena masalah kesehatan. Karena usia yang sudah lanjut, maka Presiden ASNLF/GAM Teungku Hasan Muhammad di Tiro sejak lama kemampuannya untuk memimpin Pemerintahan sangat terbatas.

Adapun Teungku Malik Mahmud dan Dr.Zaini Abdullah yang juga dibebaskan pada hari Jumat 18 Juni 2004, oleh Kepala Jaksa Penuntut Umum Tomas Lindstrand di Stockholm, setelah beberapa jam diadakan pembicaran dihadapan tim Hakim di Pengadilan Huddinge, diluar kota Stockholm.

Ternyata setelah dibicarakan secara mendetil tentang tuduhan-tuduhan melakukan makar dan teroris yang diajukan oleh pihak Pemerintah Indonesia terhadap petinggi ASNLF/GAM, khususnya kepada Dr. Zaini Abdullah dan Teungku Malik Mahmud, ternyata semua tuduhan Pemerintah Indonesia tidak memiliki alasan dasar yang kuat, sehingga dinyatakan bahwa para Petinggi GAM bebas dan tidak dianggap bersalah melakukan tindakan terorisme, makar, pembakaran dan penculikan, sebagaimana dituduhkan oleh pihak RI.

Kemudian dengan segera Kepala Jaksa Penuntut Umum Tomas Lindstrand menarik kembali semua tuduhan yang telah diajukan kehadapan tim Hakim di Pengadilan Huddinge.

Setelah Dr. Zaini Abdullah yang pertama dinyatakan tidak bersalah dan dibebaskan dari semua tuduhan terorisme, makar, pembakaran, dan penculikan oleh Tim Hakim, maka tuduhan selanjutnya terhadap Teungku Malik Mahmud ditarik kembali oleh Kepala Jaksa Penuntut Umum Tomas Lindstrand.

Jadi dengan dihentikannya penyidikan terhadap Teungku Hasan Muhammad di Tiro, maka secara hukum Teungku Hasan Muhammad di Tiro telah dibebaskan dari semua tuduhan yang dituduhkan oleh pihak Pemerintah Indonesia. Begitu juga terhadap Teungku Malik Mahmud dan Dr.Zaini Abdullah, karena dianggap bukti-bukti tidak kuat, maka secara hukum Teungku Malik Mahmud dan Dr.Zaini Abdullah telah dibebaskan dari semua tuduhan yang dituduhkan oleh pihak Pemerintah Indonesia.

Terakhir pertanyaan yang disampaikan saudara M Husein dan Hariwibowo: "Menurut bapak, siapa saja tokoh dan NGO di Jakarta/Indonesia dan luar negeri yang sampai saat ini masih intens mendukung perjuangan GAM ?"

Rakyat Acheh yang ada di Acheh dan di RI memang mereka tetap mendukung perjuangan ASNLF/GAM dalam usaha mencapai proses damai yang aman, melalui kehendak rakyat Acheh. Contohnya dengan tampilnya 400 ulama di Acheh yang mendukung gencatan senjata di Acheh, juga para mahasiswa di Jakarta, Yogyakarta yang menyerukan usaha ASNLF/GAM untuk melakukan jalan proses damai di Acheh dengan cara gencatan senjata. Begitu juga beberapa anggota Parlemen New Zealand, Australia disamping telah memberikan bantuan untuk korban tsunami, juga menyatakan bahwa gencatan senjata merupakan suatu langkah yang logis dari pihak ASNLF/GAM dan RI untuk mencapai proses damai di Acheh.

Bagi yang ada minat untuk menanggapi silahkan tujukan atau cc kan kepada ahmad@dataphone.se agar supaya sampai kepada saya dan bagi yang ada waktu untuk membaca tulisan-tulisan saya yang telah lalu yang menyinggung tentang Khilafah Islam dan Undang Undang Madinah silahkan lihat di kumpulan artikel di HP http://www.dataphone.se/~ahmad

Hanya kepada Allah kita memohon pertolongan dan hanya kepada Allah kita memohon petunjuk, amin *.*

Wassalam.

Ahmad Sudirman

http://www.dataphone.se/~ahmad
www.ahmad-sudirman.com
ahmad@dataphone.se
---------

Date: Fri, 15 Apr 2005 21:14:01 -0700 (PDT)
From: sudibyo toni tonisudibyo2001@yahoo.com
Subject: Wawancara
To: Ahmad Sudirman ahmad@dataphone.se

Pak Ahmad Sudirman Yth
Kami dari redaksi situs berita www.modus.or.id ingin bertanya beberapa hal kepada Bapak karena dari milist ini kami mengetahui Bapak menguasai betul soal GAM dan masalah Aceh.

1. Sebenarnya apa tujuan dari delegasi pihak GAM dalam pertemuan di Vataa Finlandia ini ? Apakah benar mereka sudah tidak lagi mendesakkan tuntutan merdeka ? dan sebenarnya apa motivasi GAM yang mendasarinya ?

2. Bisa bapak berikan informasi kepada kami tentang penasehat GAM selain Damien Kingsburry baik yang ada di Acheh, Malaysia, Singapura, Australia ataupun di beberapa tempat di Jakarta ?

3. Beberapa hasil perundingan di Vataa yang bisa kami peroleh antara lain adalah delegasi GAM sudah bisa memahami bahwa tidak perlu ada referendum bagi Aceh karena pemecahan masalah Aceh harus dilihat dari masa depan rakyat Aceh sendiri ?

4. Apakah bapak kenal dengan organisasi yang bernama AHRO (Acheh Human Rights On Line) di Australia atau Acheh Center USA yang dikelola oleh Reyza Zain. Mengapa mereka selalu mengkampanyekan bahkan mempropagandakan kekejaman TNI/Polri saja di Acheh tapi tidak balance dengan kekejaman yang dilakukan TNA GAM ?

5. Bagaimana visi Bapak soal blue print di Aceh pasca tsunami ?

6. Apa benar kondisi Hasan Tiro sudah pikun (pelupa) dan tidak lagi tinggal bersama isterinya Nora tapi melainkan dengan anaknya yang bernama Karin ?

7. Bisa bapak informasikan kepada kami apa saja hasil keputusan Pengadilan di Swedia (karena bapak tinggal di Stockholm jadi tahu dan pasti memonitor) hasil keputusan mereka soal kasus Hasan Tiro Cs ?

8. Menurut bapak, siapa saja tokoh dan NGO di Jakarta/Indonesia dan luar negeri yang sampai saat ini masih intens mendukung perjuangan GAM ?

Terima kasih dan kami tunggu jawaban Bapak sejujurnya jangan berpropaganda.

Wassalamu'alaikum Wr Wb.

M Husein dan Hariwibowo

tonisudibyo2001@yahoo.com
Jakarta, Indonesia