Stavanger, 16 April 2005

Bismillaahirrahmaanirrahiim.
Assalamu'alaikum wr wbr.
 

PERUNDING ACHEH DI FINLANDIA BERSIDANG DENGAN WIBAWA SEJARAH BANGSA DAN NEGARANYA
Omar Puteh
Stavanger - NORWEGIA.

 

MENYOROT PERUNDING ACHEH DI FINLANDIA BERSIDANG DENGAN WIBAWA SEJARAH BANGSA DAN NEGARANYA

Hari ini: Acheh Self Government tantang Jawa Colonialist Government !
Mengulangi kembali ekses dari penyerangan pertama KNIL Belanda yang dibantu oleh ribuan anak-anak Jawa, pembunuh bayarannya pada 26 Maret, 1873 maka:

1. Wilayah Negara Acheh yang merdeka dan berdaulat telah dimasukkan kedalam "peta baru" wilayah penjajahan Hindia Belanda.

2. "Peta baru" wilayah tanah jajahan Hindia Belanda itu, pada tannggal 27 Desember, 1949 diserahkan diatas meja Konferensi Meja Bundar di Den Haag, Belanda, kepada anak-anak Jawa ex-mercenarynya, ex-pembunuhan bayarannya, si Belanda Hitam, untuk dijadikan sebagai wilayahnya Negara Republik Indonesia Serikat. Mengapakah "peta baru" wilayah tanah jajahan Hindia Belanda itu, musti diserahkan kepada anak-anak Jawa, ex-mercenarynya, ex-pembunuh bayaran KNIL Belanda, si Belanda Hitam, Jawa Chauvinis yang memerintah sekarang ini?

3. Kedua point diatas: point 1 dan point 2, telah menjelaskan dengan jitu nya kepada bangsa Acheh sekarang ini dan khususnya kepada Permadi dari PDI-P anggota Komisi I, DPR-Penjajah Indonesia Jawa dan orang-orang sejenisnya dari Java Colonialist Government, bagaimana kedudukan sebenarnya sejarah ketatanegaraan Negara Acheh, yang merdeka dan berdaulat, tetapi telah berobah dan bertukar menjadi "peta baru" wilayah Hindia Belanda. Sehingga kedua point diatas itu, akan menjadi bahan uraian penting dari judul tulisan kami berikutnya: Self Government dan Self State !

Dari kedua point paparan sejarah, yang tidak dapat dibantah (undebatable) diatas itu: Point 1 dan point 2 menghendaki:

a. Tengku Hasan di Tiro dan para nasionalis-nasionalis Acheh (yang hari ini mengalah dengan sebutan sebagai GAM) memproklamirkan kembali kemerdekaan Negara Acheh Sumatera pada 4 Desember, 1976 !

b. Tengku Hasan di Tiro dan para nasionalis-nasionalis Acheh pada tahun 1992 menuntut ke PBB via Kantornya di Geneva, Switzerland, agar di Acheh segera diadakan referendum opsi merdeka !

c. Tengku Nazar dari Sira Rakan dan 2 juta nasionalis-nasionalis Acheh, yang pernah berhimpun tahun 1999 di depan Mesjid Raya, Baithurrahman, Banda Acheh, menuntut ke PBB yang berkantor di New York, agar di Acheh diadakan referendum opsi medeka !

d. Perdana Menteri in exile, Tengku Malik Mahmud dan Menteri Luar in exile, Tengku Dr Zaini Abdullah MD menantang ultimatum Pernyataan Perang Megawati Soekarno Putri, di Tokyo yang dibawa oleh Raden Wiryono Sastrohandoyo, yang memaksa agar Acheh menjadi Propinsi Nangro‰ Acheh Darussalam, Penjajah Indonesia Jawa, sebagaimana Sultan Mahmud Shah menolak ultimatum Pernyataan Perang James Louden, yang dibawa oleh Raden Sumowidigdjo, yang memaksa agar Acheh menjadi Propinsi Wilayah Jajahan Penjajah Hindia Belanda.

e. Perdana Menteri in exile Tengku Malik Mahmud dan Menteri Luar in exile Tengku Dr Zaini Abdullah MD dan para nasionalis-nasionalisnya di Helsinki, Findlandia menolak Otonomi Khusus Penjajah Indonesia Jawa dan mendesak Mr Murtti Ahtisaari Crisis Management Iniative agar menerima initiative pendekatan: Self Government, yang kerangka bentuk dan sifat pemerintahannya berdasarkan pada keauthentikan dan ketransparanannya sejarah Ketatanegaraan Negara Acheh.

f. Para penganalis dan periset historia, politika, sosiologika Acheh dari Universitas-Universitas atau Lembaga-Lembaga Ilmiah Penjajah Indonesia Jawa akan mendapat gabaran jelas, bagaimana sebenarnya mendatai dan menganalis: Historia, politika dan sosiologika dari kebenaran dan kemurnian sejarah itu.

Kemudian "peta baru" Hindia Belanda itu, telah dijadikan pula sebagai "peta" Negara (Federasi) Republik Indonesia Serikat yang juga disebut "Negara 233 Hari" !

Kemudian lagi "peta" Negara (Federasi) Republik Serikat atau "Negara 233 Hari" itu, telah dirampas oleh ex-mercenary KNIL Belanda, ex-Pembunuh bayaran KNIL Belanda, si Belanda Hitam atau si Jawa Chauvinistis untuk dijadikan:

a. Sebagai "peta kelabu baru" Negara Kolonialis Republik Indonesia (NKRI), Jawa Jokya, maka pada tanggal 15 Agustus, 1950, anak-anak Jawa ex-pembunuh bayaran KNIL Belanda, si Belanda Hitam, Jawa Chauvinis telah membingkaikannya dengan: PP RIS No 21/08/1950. Setelah pembingkaian "peta kelabu baru" itulah, maka dengan resminya sejak 17 Agustus, 1950, mati tercekiklah RIS.

Kemudian diatas "pusara" RIS, Soekarno si Penipu licik, dengan liciknya mendirikan Negara Kolonialis Republik Indonesia Jawa (NKRI) dengan semangat nasionalisme etnis Jawa Chauvinistisnya.

Sekali lagi masalah menimpa Acheh: Kalau dulu, pada tanggal 26 Maret, 1873 Belanda dengan bantuan ribuan anak-anak Jawa, pembunuh bayarannya menyerang Acheh, dengan letupan bedil, setelah Jawa terjajah selama 277 tahun. Dan atas kehendak kuat kolonialisme dan imperialisme Belanda itu, mendorongnya untuk membuat "peta baru" wilayah tanah jajahan Hindia Belanda, sebagaimana telah disebut diatas.

Tetapi kali ini anak-anak Jawa ex-pembunuh bayaran KNIL Belanda, si Belanda Hitam, Jawa Chauvinis menyerang Acheh pada tanggal 14 Agustus, 1950, setelah hari ke 230 Jawa merdeka dari cengkeraman penjajahan Belanda selama 353 tahun, dengan permainan kotor dan jahat Perpu No 05/08/1950. Dan atas kehendak kuat kolonialisme dan imperialisme Jawa Chauvinis itu, mendorongnya pula untuk membuat "peta kelabu baru" wilayah tanah jajahan Jawa Chauvinis, si Belanda Hitam, sebagaimana juga telah digambarkan diatas.

b. Dari "peta kelabu baru" inilah, terlalu ramai mereka-mereka yang memperkenalkan diri sebagai penganalis dan periset dari Universitas-Universitas atau dari Lembaga-Lembaga Ilmiah, tetapi tidak menganalis dan meriset bagaimana kejahatan "si broker beras merah kemerdekaan": Soekarno si Penipu licik wilayah Acheh, terhadap "peta baru" wilayah tanah jajahan Hindia Belanda (setelah memasukkan Wilayah Daulat Negara Acheh), kemudian wilayah Negara (Federasi) Republik Indonesia Serikat, kemudian menjadi wilayah tanah jajahan Negara Kolonialis Republik Indonesia Jawa (setelah mencaplok Acheh dengan tangan Perpu, 14 Agustus, 1950, No 05/08/1950), sehingga semua buah hasil riset dan coretan analisis mereka, akhirnya menjadi referensi ilmiah yang keliru dan menyesatkan banyak orang tentang: khazanah historia, tentang bacaan politika dan kehidupan sosiologika, dengan kesalahan-kesalahan sangat menyolok diantaranya yang dibuat ditapak persemainan benih rekayasa oleh Prof Dr Taufiq Abdullah Cs dimana mereka mencari makan di LIPI. Dari kekeliruan atau kesalahan sepeti ini lah yang menuntun si Banteng Ketatonnya PPDI-P: Permadi Cs !

Ataupun dari "peta kelabu baru" inilah Permadi dari PDI-P anggota Komisi I DPR-Penjajah Indonesia Jawa dan orang-orang sejenisnya coba mengklaim Wilayah Kedaulatan Negara Acheh sambil mengancam hendak memberondong nasionalis-nasionalis Acheh. Dasar algojo Jawa anak si Belanda Hitam !!!

Ini telah dapat kita baca sebagaimana ungkapan Menteri Pertahanan Penjajahan Indonesia Jawa yang menyamakan ASNLF/GAM cq perjuangan bangsa Acheh seperti Tamil Elam (Tamil Tiger) di Sri Lanka atau Assam di India.

Perjuangan Tamil Elam di Utara Sri Lanka atau Assam di Timur Laut India sama seperti perjuangan Madura dengan Jawa Timur. Atau sama seperti perjuangan orang-orang Biafra di Selatan Negeria, atau sama seperti perjuangan orang-orang Rusia-Cremia di Ukraina atau sama seperti orang-orang di Lembah Wyoming di Amerika (dulu) atau sama perjuangan orang-orang Jawa-Pujakesuma di Sumatra (hari ini) !

Ada yang mencoba pula menyamakan ASNLF/GAM cq perjuangan bangsa Acheh dengan perjuangan antara Cypriot-Turkya dengan Cypriot-Mecodonia inipun salah. Bacalah sejarah mereka dan bacalah sejarah bangsa Acheh !

Malahan mengikut perjalanan sejarah perjuangan ASNLF/GAM cq bangsa Acheh adalah berbeda dengan perjuangan bangsa Timor Timur atau Timor Leste, baik karekteristik ataupun strukturil sekalipun matlamat (strategi) nya adalah sama: Merdeka !

Walaupun Timor Leste yang berbeda karekteristik dan strukturil perjuangannya dengan ASNLF/GAM cq bangsa Acheh, tetapi jika bangsa Timor Leste berjuang untuk membebaskan bangsa Timor Barat, dari kuasa Penjajah Indonesia Jawa, maka perjuangan mereka tidakpun bisa disamakan juga seperti perjuangan Tamil Elam di Sri Lanka ataupun Assam di India ! Mengikut hakikat atropologis dan etnis Pulau Timor tidak bisa dibagi menjadi Timor Leste dan Timor Barat, seperti antara Haiti dengan Republik Dominica di Kepulauan Carabian. Tidak ada Timor Purtugal dan tidak ada Timor Belanda !

Tetapi hanya satu Timor, satu Negara Timor ! Contoh yang kami berikan inipun menghendaki Permadi dari PDI-P anggota Komisi I DPR-Penjajah Indonesia Jawa, musti membaca seluruh kehidupan atau perjalan sejarah bangsa-bangsa dengan timbangan tara yang betul !

Tinggalkan membaca sejarah Jawa, yang penuh dengan dongengan dan rekayasa sejarah !

Jadi seperti inilah dianjurkan kepada Prof Dr Taufiq Abdullah untuk mempersalahkan Penjajah Indonesia Jawa dalam konteks cerita arogan integrasi wilayah atau cerita arogan bingkainya NKRI dan sebaliknya membetulkan perjuangan ASNLF/GAM cq bangsa Acheh, sebagaimana makalah-makalah yang pernah kami berikan pada sesi makan-makan dari acara perpisahan terakhir di Hotel Hilton, Shah Alam, Malaysia.

Maka dengan sedikit itu dulu argumentasi yang kita lemparkan, sehubungan ucapan Menteri Pertahanan Penjajah Indonesia Jawa didepan anggota Komisi I DPR- Penjajah Indonesia Jawa, sementara memadai.

Karenanya kita mau membicarakan dulu masalah apa itu Otonomi atau Otonomi Khusus NAD (yang Gubernurnya kini ditugaskan selama 10 tahun duduk dalam Penjara, sementara Gubernur KDH adalah Menteri Dalam Negeri, Penjajah Indonesia Jawa di Jakarta-Batavia sana, sesuai dengan predikat "khusus"-nya. Kapankah Endang Suwarya Cs ditugaskan duduk dalam penjara, akrena mencuri hutan tropica Acheh dan menjualnya kepada China-China di Medan atau di lepas pantai Calang dan Tapak Tuan selain merampok harta-benda bangsa Acheh ?) dan apa itu Self Government maka perlu kembali kita mempelajari mengapakah:

1. Negara Brunei Darussalam tidak memakai Otonomi atau Otonomi Khusus tetapi Self Government menjelang 3 tahun kemerdekaan penuhnya dari Inggeris dari formula Inggeris ?

2. Negara Palestina menolak memakai Otonomi atau Otonomi Khusus tetapi menerima Kuasa Authority sebagai kuasa tunggal PLO-nya menjelang kemerdekaan penuhnya dari Israel dengan formula USA.

3. Negara Vatican tidak menggunakan istilah Otonomi atau Otonomi Khusus tetapi juga menggunakan Kuasa Authority Gereja Katholik yang rakyatnya bukan saja dipersekitaran Kota Vatikan tetapi seluruh dunia menjelang menjadi Self State.

4. Negara Monaco ( yang benderanya juga merah putih: merah diatas putih dibawah dengan ukuran lebih kecil tetapi bukan seperti bendera Penjajah Indonesia Jawa, sobekan dari bendera tiga warna Belanda, memakai ukuran sama seperti bendera Belanda itu sendiri), tidak menggunakan istilah Otonomi atau Otonomi Khusus, tetapi menggunakan kuasa Authority Monarki atas wilayah yang luasnya hanya 1.6 mile persegi menjelang menjadi Self State.

Sebagaimana kita ketahui kedua: Negara Vatican dan Negara Monaco baru tiga tahun yang lalu diterima menjadi anggota PBB.

5. NKRI tidak melalui tangga kuasa Otonomi atau Otonomi Khusus ataupun Kuasa Authority, tetapi dengan hanya "trick" dan "foul play" PP RIS No 21/08/1950 lantas menjadi Self State.

6. Negara Acheh Sumatra membuat pendekatan dengan Self Government mengikut anak tangga referendum PBB sebagaimana yang pernah dituntut oleh Tengku Hasan di Tiro via kantornya di Geneve, 1992, sebagaimna yang juga dituntut Sira Rakan langsung ke kantornya di New York, 1999, seperti yang baru-baru ini dilakukan oleh PBB di Timor Timur.

7. Daerah Isimewa Jokyakarta menolak menggunakan istilah Propinsi atau Otonomi ataupun Otonomi Khusus, karena Jokyakarta yang dibangunkan oleh Belanda di bawah kuasa Jacob Mossel, dipersiapkan untuk menjadi Negara Jawa, Negara Jawa Kejawen oleh anak-nak Jawa Chauvinis: Lurah Semar, Soekarno si Penipu licik atau Lurah Super Semar Suharto Kleptokracy, tetapi malangnya telah keburu dibongkar habis oleh masyarakat dunia khususnya majalah The Economic London.

Mengapakah Penjajah Indonesia Jawa menghendaki Acheh menerima Otonomi atau Otonomi Khusus dan memaksa Acheh untuk mengakui DPR-Penjajah Indonesia Jawanya si Permadi Cs, sebuah forum, sebuah means untuk mengahancurkan Acheh.

Begitu juga, mengapakah Penjajah Indonesia Jawa, dipersidangan Helsinki, Finlandia, mengecilkan darjat-martabat tahanan-tahanan Acheh dengan amnesti gombal itu ? Tahanan-tahanan Acheh tidak perlu dibebaskan dengan amnesti presiden Penjajah Indonesia Jawa, karena kesemua mereka tidak bersalah. Kesemua mereka adalah pejuang-pejuang kemerdekaan atau kesemua adalah nasionalis-nasionalis Acheh.

Pejuang-Pejuang Kemerdekaan ataupun Nasionalis-Nasionalis lebih tinggi derajat-martabatnya dari seorang presiden. Ini diakui oleh sejarah tamandn dunia ! Karenanya masalah tahanan-tahanan pejuang-pejuang atau nasionalis-nasionalis Acheh musti dibebaskan tampa syarat tampa ada embelan apapun, baik dengan embelan amnesti gombal Susilo Bambang Yudhoyono !.

Kita tahu, bahwa kesemua presiden-presiden Penjajah Indonesia Jawa, kesemua Jenderal-Jenderal ABRI-TNI/POLRI, Tentara Teroris Nasional Penjajah Indonesi Jawa, si Belanda Hitam, adalah penjahat perang, namun kita tidak akan memberi keampunan apapun baik berbentuk grasi ataupun amnesti, tetapi musti diseret ke Tribunal PBB: International Criminal Court for Jutice !

Karenanya dinasihatkan jangan ada perunding-perunding ASNLF/GAM dalam pendekatan diplomatik apapun memanggil presiden-presiden Indonesia Jawa dengan sebutan berpredikat "presiden". Adakah mereka memaggil Tengku Hasan di Tiro sebagai Wali Negara, sebagai predikat kenegaraan resmi dari kepala negara bangsa Acheh, kepala Negara Acheh Sumatra yang lebih darjad dan murtabatnya sebagaimana tercatat dalam sejarah? Begitu juga dengan Perdana Menteri Negara Acheh Sumatra: YML Tengku Malik Mahmud dan Menteri Luar Negerinya: YML Tengku Dr Zaini Abdullah MD adakah mereka menyebutnya dengan predikat Perdana Menteri dan Menteri Luar ?

Kesemua presiden-presiden dan Jenderal-Jenderal Penjajah Indonesia Jawa terlibat dengan penyembelihan lebih 100.000 jiwa bangsa Acheh sejak 1946-hingga hari ini !

Kita tidak akan mengikuti jejak Perdana Menteri Timor Leste: Mari Alkatiri, yang memberi ucapan pengampunan atas kesalahan kesemua Presiden Penjajah Indionesia Jawa: Soeharto Kleptokracy, Gus Dur Abdurrahman Wahid, BJ Habibie, Megawati dan Susiolo Bambang Yudhoyono dan kesemua Jenderal-Jenderalnya yang telah membunuh 300.000 hingga 4000.000 bangsa Timor Leste hanya dalam masa 24 (dua puluh empat tahun) tahun, pembunuh kilat! Bagaimanakah Mari Alkatiri bisa bisa melupakan jiwa dan raga bangsa Timor Leste yang dibunuh dengan biadab tampa prikemanusiaan, setelah dia duduk berkuasa ?

PM Mari Alkatiri boleh melupakan, dari 1975-1999 Timor Timur pernah dibaptis sebagai Indonesia Jawa, yang sekarang ini telah kembali dengan nama sejarahnya seperti sebelum kedatangan Portugis, yang lari diusir oleh nasionalis-nasionalis Acheh dari dari Pulau Sampoe (Pulau Kampai), Pangkalan Susu, Sumatra Utara tahun 1528 !

Sedangkan bagi bangsa Acheh, 100.000 jiwa lebih bangsanya yang disembelih oleh Belanda dengan bantuan anak-anak Jawa, pembunuh bayaran sejak 1873 hingga 1942 plus kemudian penyembelihan oleh ABRI-TNI/POLRI, Tentara Teroris Nasional Penjajah Indionesia Jawa si Belanda Hitam dari tahun 1946-hingga hari ini, 100.000 jiwa lebih namun tidak akan melupakannnya, walau sedetikpun.

(Bersambung ke Plus I + Perunding Acheh Di Finlandia Bersidang Dengan Wibawa Sejarah Bangsa Dan Negaranya !)

Wassalam

Omar Puteh

om_puteh@hotmail.com
om_puteh@yahoo.com
Norway
----------