Stockholm, 20 April 2005

Bismillaahirrahmaanirrahiim.
Assalamu'alaikum wr wbr.
 

KETUA FPDIP TJAHJO KUMOLO COBA DEKAP ACHEH BIAR TIDAK LEPAS
Ahmad Sudirman
Stockholm - SWEDIA.

 

CARA KETUA FPDIP TJAHJO KUMOLO COBA DEKAP ACHEH DENGAN PAKAI SENJATA TNI DIBAWAH KOMANDO MAS DJOKO SANTOSO ORANG JAWA

"Meskinya pemerintah tidak berkompromi begitu saja dengan gerakan separatis GAM. Seharusnya pemerintah tidak mengakui GAM sebagai sebuah negara dalam NKRI. Kami meminta TNI tetap mempertegas posisi NKRI. TNI harus tetap mengamankan wilayah NAD dari gerakan separatis. Kami berharap langkah rehabilitasi dan percepatan pembangunan tidak mengecewakan rakyat Aceh yang sudah lama didera konflik" (Ketua Fraksi PDIP DPR, Tjahjo Kumolo, hasil laporan Ton, Selasa, 19 April 2005)

Itu Ketua Fraksi PDIP DPR, Tjahjo Kumolo, yang telah menjadi anggota PDI-P selama tujuh tahun dan dua kali dipercaya menjadi Ketua Fraksi DPR, makin kalangkabut saja ketika Jusuf Kalla acungkan tinju Bugis-Makasar-nya melalui tangan-tangan Hamid Awaluddin, Sofyan Djalil, Farid Husain, I Gusti Agung Wesaka Pudja, dan Usman Basyah digelanggang Perundingan ASNLF/GAM-RI di Vataa, Finlandia.

Karena acungan tinju Bugis-Makasar-nya Jusuf Kalla ini lembek, maka terjungkirlah Jusuf Kalla ini tertimpa angin tinjunya sendiri yang mental balik menimpa kepalanya, sambil berteriak: "apa yang dimaksud otonomi khusus oleh kita dan apa yang dimaksud dengan self-governing menurut mereka (GAM), pada intinya tidak berbeda, hanya masalah semantik (bahasa)" (Jusuf Kalla, Kantor Wapres di Jakarta, Jumat 15 April 2005)

Nah, keluarnya teriakan Jusuf Kalla yang berbau semantik atau bahasa self-government inilah yang mengundang itu Ketua Fraksi PDIP DPR, Tjahjo Kumolo berang dan naik pitamnya, sambil mencak-mencak tidak karuan, kakinya diterjang-terjangkan kekanan dan kekiri, tangannya dikepal-kepalkan seperti orang yang mau tinju meniru petinju Muhammad Ali yang sudah bisu, mulutnya terbuka sehingga lalat-lalat yang ada disekitar gedung DPR pada berdatangan untuk berkeliling disekitar mulutnya.

Tjahjo Kumolo memang budek, ia hanya pandai mengekor pada mbah Soekarno dan panatik buta pada ajaran marhaenisme mbah Soekarno yang sampai detik ini tetap dipakai sebagai landasan hidup dan jalannya partai politik Demokrasi Indonesia Perjuangan dibawah mbak Mega.

Saking budeknya itu akar utama penyebab konflik Acheh tidak kelihatan oleh mata Tjahjo Kumolo yang bulat kemerah-merahan seperti mata banteng ketaton Jawa-nya itu.

Karena Tjahjo Kumolo hampir tidak percaya dengan kemampuan Jusuf Kalla orang Sulawesi Selatan ini yang telah mengacungkan tinju Bugis-Makasarnya melalui tim juru rundingnya yang dipimpin oleh Hamid Awaluddin, maka akhirnya Tjahjo Kumolo menoleh kepada mas Djoko Santoso yang sama-sama orang Jawa untuk dipanasi dengan hembusan marhaenismenya mbah Soekarno agar supaya mengerahkan kekuatan TNI guna dipakai sebagai alat menjerat dan membunuh rakyat muslim Acheh yang telah sadar untuk menentukan nasib sendiri bebas dari pengaruh kekuasaan negara sekuler burung garuda pancasila RI.

Nah, itu Tjahjo Kumolo yang buta melihat akar utama penyebab timbulnya konflik Acheh, menghembuskan angin gerakan separatis kedepan hidung mas Djoko Santoso dengan tujuan agar mas Djoko enggeh saja untuk ikutan mbah Soekarno dan Tjahjo Kumolo guna berjingkrak-jingkrak bersama TNI sambil acungkan senjata khalasnikov made in Putin untuk dipakai membunuh rakyat Acheh yang telah sadar untuk menentukan nasib sendiri.

Dan itu Tjahjo Kumolo bukan hanya menghembus-hembuskan angin separatis di Acheh kedepan hidung mas Djoko Santoso, tetapi juga memanas-manasi Susilo Bambang Yudhoyono agar cepat berlari untuk menjalankan langkah rehabilitasi dan pembangunan di Acheh agar supaya rakyat Acheh tidak kecewa. Tentu saja, mbah Susilo Bambang Yudhoyono tidak bisa berlari kecang untuk segera merehabilitasi Acheh, karena memang duitnyapun masih terbatas, menunggu bantuan pinjaman luar negeri yang sudah dijanjikan, terutama dari Jepang.

Tjahjo Kumolo memang budek, ia mencampuradukkan separatis dengan penjajahan RI di Acheh. Dipikir Tjahjo itu mbah Soekarno tidak menelan dan tidak mencaplok Acheh, sehingga dengan girangnya menyatakan separatis terhadap para pejuang muslim Acheh yang telah sadar untuk menentukan nasib sendiri. Padahal, justru itu mbah Soekarno dengan marhaenismenya yang telah dijadikan racun pembunuh rakyat Acheh dan telah dijadikan sebagai alat untuk terus menduduki dan menjajah Acheh.

Orang-orang model Tjahjo Kumolo memang yang dijadikan ujung tombak untuk dijadikan sebagai alat propaganda oleh pihak TNI dan oleh orang-orang penerus Soekarno yang telah keracunan marhaenisme dan ampas sampah kelapa jamu pancasila mbak Mega hasil perasan mbah Soekarno guna terus menduduki dan menjajah di Acheh.

Tjahjo Kumolo, Permadi dan Suparlan itu adalah tiga sekawan dari PDI-P penerus mbah Soekarno yang tetap menjalankan politik ekspansi untuk terus menjadikan Negara RI-Soekarno-Jawa-Yogyanya tetap bisa menguasai negara-Negara dan Daerah-Daerah bekas Negara Bagian RIS ditambah dengan Negeri Acheh, Papua Barat dan Maluku Selatan.

Hanya sayang itu tiga sekawan, Tjahjo Kumolo, Permadi dan Suparlan, penerus mbah Soekarno ini, tidak memiliki dasar fakta, bukti, sejarah dan dasar hukum yang kuat yang bisa dijadikan bukti legalitas Acheh masuk kedalam RI-Jawa-Yogya-nya mbah Soekarno.

Bagi yang ada minat untuk menanggapi silahkan tujukan atau cc kan kepada ahmad@dataphone.se agar supaya sampai kepada saya dan bagi yang ada waktu untuk membaca tulisan-tulisan saya yang telah lalu yang menyinggung tentang Khilafah Islam dan Undang Undang Madinah silahkan lihat di kumpulan artikel di HP http://www.dataphone.se/~ahmad

Hanya kepada Allah kita memohon pertolongan dan hanya kepada Allah kita memohon petunjuk, amin *.*

Wassalam.

Ahmad Sudirman

http://www.dataphone.se/~ahmad
www.ahmad-sudirman.com
ahmad@dataphone.se
---------