Stockholm, 23 April 2005

Bismillaahirrahmaanirrahiim.
Assalamu'alaikum wr wbr.
 

JOHAN IKUT WAHHABI ATAU SALAFI SAUDI YANG MANA ?
Ahmad Sudirman
Stockholm - SWEDIA.

 

KAUM WAHHABI ATAU SALAFI SAUDI YANG BERPECAH BELAH SALING GEBUK SATU SAMA LAIN TIDAK PATUT DIJADIKAN CONTOH

"Telah sampai kepadaku beberapa pertanyaaan seputar syubhat-syubhat mengenai "Daulah Islamiyah", telah kita ketahui bersama dalam mimbar bebas seperti ini kita dapati banyak email yang disebarkan oleh para pengagung dan pengikut manhaj Khariji khususnya dalam mimbar ini adalah Ahmad Sudirman dan cs-nya. Sekilas kita mungkin akan tertipu dengan ucapan para pengikut khariji yang mencari cari alasan dalam hal ketaatan dengan mengatakan: bahwa itu daulah Islamiyah maka kita wajib taat kepada penguasanya karena daulahnya adalah daulah Islam dan sistemnya adalah sistem Islam walaupun ideologinya Mu'tazilah. Indonesia negaranya bersistem non Islam atau demokrasi Pancasila walaupun penguasanya muslim tapi karena sistemnya bukan hukum Islam maka kafir mutlak dan tidak ada ketaatan padanya. Disinilah bedanya Ahlus Sunnah dengan Ahlul Bid'ah yang mana mereka mencari-cari alasan bahwa ketaatan hanya berlaku pada daulah Islam atau negara yang menggunakan sistem Islam di negeri-negeri kaum muslimin " (Johan Pahlawan , johan_phl@yahoo.com ,
Fri, 22 Apr 2005 15:59:00 -0700 (PDT))

Baiklah Johan Pahlawan di Malang, Jawa Timur, Indonesia.

Johan Pahlawan penerus (alm) Mazda, telah tampil di mimbar bebas ini dengan paham wahhabi atau salafi Saudi-nya. Dimana kaum wahhabi atau salafi Saudi ini telah terpecah- belah kedalam beberapa golongan, yang satu dengan lainnya saling mengkhawarijkan, saling membid'ahkan, saling tuduh meng-ahlul khawa-kan, saling tuduh melecehkan ulama, dan saling tuduh meng-sururiyah-kan, sehingga tidak tahu mana kelompok yang tidak bid'ah, mana kelompok yang bid'ah, mana kelompok yang tidak meng-ahlul khawa-kan, dan mana kelompok yang mengikuti ahlul khawa.

Bagaimana bisa dari kelompok wahhabi atau salafi Saudi yang berpecah belah ini akan bisa diambil contoh dan tauladan bagi umat Islam.

Coba saja perhatikan, sebagaimana yang telah dijelaskan Ahmad Sudirman dalam tulisan sebelum ini, dimana para ulama wahhabi atau salafi Saudi saling gebuk satu sama lain. Misalnya, ulama wahhabi atau salafi Saudi seperti:

Abdurrahman Abdul Khaliq orang Saudi, yang dituduh menikam ulama wahhabi atau salafi Saudi, karena Abdurrahman Abdul Khaliq yang juga wahhabi atau salafi Saudi tetapi mendukung dan mengutamakan Ikhwanul Muslimin dan Yayasan Ihya'ut Turats Kuwait.

Salman bin Fahd Al-Audah yang merupakan ulama wahhabi atau salafi Saudi yang dimasukkan kepenjara oleh pemerintah Kerajaan Saudi Arabia selama lima tahun dari tahun 1994 sampai 1999 karena dituduh menentang pemerintah yang sah dengan melakukan protes terhadap tindakan korupsi dan tindakan menyalahi kesusilaan yang dilakukan oleh pemerintah Raja Fahd bin Abdul Aziz dan Putra Mahkota Abdullah bin Abdulaziz al-Saud. Setelah terjadi 11 September 2001, Salman bin Fahd Al-Audah dituduh sebagai penasehat Osama bin Laden oleh pihak Saudi Arabia dan pihak Amerika.

Aidh Al Qarni yang ulama wahhabi atau salafi Saudi tetapi karena ia menentang pihak Yahudi dan Amerika yang dianggapnya sebagai negara yang melakukan teror. Dan pemerintah Kerajaan Saudi meminta bantuan kepada Amerika dengan seizin ulama wahhabi atau salafi Saudi. Dengan sikap yang anti Amerika dan Yahudi inilah akhirnya pihak ulama wahhabi atau salafi Saudi menganggap Aidh Al Qarni sebagai orang yang melecehkan ulama.

Safar bin Abdul al-Rahman al-Hawali ulama wahhabi atau salafi Saudi yang menentang kebijaksanaan dobel moral George W. Bush dan menentang kebijaksanaan politik pemerintah Kerajaan Raja Fahd bin Abdul Aziz dan Putra Mahkota Abdullah bin Abdulaziz al-Saud yang bergandengan serta paralel dengan kebijaksanaan politik Amerika, sehingga Safar bin Abdul al-Rahman al-Hawali dianggap melecehkan ulama wahhabi atau salafi Saudi.

Muhammad bin Abdillah Al Masari ulama wahhabi atau salafi Saudi yang merupakan pelopor yang mendirikan Hizbut Tahrir di Saudi Arabia, yang sekarang menetap di Inggris karena diusir dari Saudi. Ulama-ulama wahhabi atau salafi Saudi menganggap Muhammad bin Abdillah Al Masari menentang dan melecehkan ulama ahlus sunnah dan dianggap sebagai khawarij, karena Muhammad bin Abdillah Al Masari mengklaim bahwa pemerintah Kerajaan Saudi Arabia tidak mengadili berdasarkan lembaga hukum Islam.

Muhammad Surur bin Nayef Zainal Abidin dari Ikhwanul Muslimin Syria yang sekarang bermukim di Birmingham, Inggris yang menganggap bahwa ulama-ulama wahhabi atau salafi Saudi adalah orang-orang yang berbuat tanpa ada rasa takut, yang selalu menyesuaikan sikap-sikapnya dengan sikap para tuannya. Dan orang-orang yang berbicara tentang tauhid namun mereka budak budak budak budaknya budak, dan tuan terakhir mereka adalah seorang nashrani. Akibat sikap Muhammad Surur bin Nayef Zainal Abidin yang keras terhadap pemerintah Raja Fahd bin Abdul Aziz, Putra Mahkota Abdullah bin Abdulaziz al-Saud, Presiden George W. Bush dari Amerika, dan para ulama wahhabi atau salafi Saudi inilah yang menyebabkan Muhammad Surur bin Nayef Zainal Abidin disebut sebagai pendiri gerakan Sururiyah, yang diambil dari namanya Surur.

Nah perpecahan dan saling gebuk kaum wahhabi atau salafi Saudi satu sama lainnya ini, ternyata menjalar ke negara sekuler pancasila RI, seperti munculnya kelompok Rokhmawan dengan Yayasan Pesantren Al Bukhori di Solo. Kemudian kelompok Laskar Jihad (sudah dibubarkan) tetapi FKAWJ-nya di Jakarta masih wujud. Lalu kelompok Al-Haramain dan Al-Sofwah di Jakarta. Begitu juga ada kelompok Al-Furqan di Gresik. Tidak ketinggalan kelompok pusat Islam-nya Bin Baaz bersama kelompok Jamilurahman As-Salafi di Yogyakarta. Juga masuk kelompok Dhiyaus Sunnah di Cirebon.

Dengan melihat dari dekat apa yang terjadi diantara para ulama wahhabi atau salafi Saudi ini, yang ternyata diantara para ulama atau syeikh-syeikh wahhabi atau salafi Saudi ini saling tinju satu sama lain dan saling gebuk sesamanya. Begitu juga para pengikutnya di negara sekuler RI, tidak ada bedanya dengan mereka yang ada di Saudi.

Kemudian, disaat-saat para ulama wahhabi atau salafi Saudi dan para pengikutnya di negara sekuler RI saling gebuk sama dengan lainnya, muncul pula Johan Pahlawan tergopoh-gopoh meneruskan jejak langkah (alm) Mazda dengan cara mengutip cerita-cerita hasil tulisan para pengikut wahhabi atau salafi Saudi yang ada di negara sekuler pancasila RI.

Misalnya, itu Johan menurunkan tulisan yang berisikan kita tetap diperintahkan ta'at kepada penguasa di negara sekuler burung garuda pancasila RI, berdasarkan sabda Nabi yang telah mengabarkan: "Akan datang setelahku para pemimpin yang tidak mengikuti petunjukku dan tidak menjalani sunnahku dan ada pada mereka orang-orang yang hati mereka adalah hati-hati setan yang berada dalam jasad manusia."(Hudzaifah berkata): "Wahai Rasulullah, apa yang aku perbuat jika aku menemui mereka?" Beliau menjawab: "Engkau dengar dan engkau taati walaupun punggungmu dicambuk dan hartamu diambil." (Shahih, HR. Muslim).

Sebenarnya dalam hal ini, Ahmad Sudirman sudah menjelaskan sebelumnya bahwa Rasulullah saw mencontohkan dan memberikan gambaran, walaupun sampai punggung dicambuk, harta dirampas oleh pimpinan, tetapi harus tetap mendengar perintahnya dan harus tetap mentaatinya. Dimana ketaatan kepada pimpinan ini adalah pimpinan atau khalifah yang memimpin Khilafah Islamiyah yang dasar dan sumber hukum khilafahnya mengacu kepada apa yang diturunkan Allah SWT dan dicontohkan Rasulullah saw.

Mengapa hadits Rasulullah saw tentang ketaatan kepada pimpinan ini hanya berlaku dalam negara atau daulah atau Khilafah Islamiyah yang dasar dan sumber hukum khilafahnya mengacu kepada apa yang diturunkan Allah SWT dan dicontohkan Rasulullah saw ?.

Karena, selama dasar dan sumber hukum negara atau daulah atau khilafahnya mengacu kepada apa yang diturunkan Allah SWT dan dicontohkan Rasulullah saw, maka selama itu walaupun keyakinan pemimpinnya bertolak belakang dengan apa yang diturunkan Allah SWT dan dicontohkan Rasulullah saw, tetapi tetap harus taat, jangan melakukan tindakan dan perlawanan dengan cara menjatuhkan pimpinan dan meruntuhkan negara atau daulah atau khilafah. Kalau pimpinan dan negara atau daulah atau khilafah dijatuhkan dan diruntuhkan maka hancurlah pimpinan dan berantakanlah daulah.

Jadi, selama negara atau daulah atau khilafah yang dasar dan sumber hukum khilafahnya mengacu kepada apa yang diturunkan Allah SWT dan dicontohkan Rasulullah saw tidak diganggu gugat, maka itu persoalan pimpinan akan terjadi melalui cara pergantian biasa yang telah diatur dalam undang-undang yang berlaku.

Kemudian, bagaimana kalau hal tersebut terjadi di negara atau daulah yang dasar dan sumber hukum negara atau daulahnya tidak mengacu kepada apa yang diturunkan Allah SWT dan dicontohkan Rasulullah saw ?.

Disini hadits Rasulullah saw tidak berlaku. Mengapa ?

Karena, tidak mungkin Rasulullah saw memberikan contoh taat pada pimpinan dalam Negara atau daulah yang dasar dan sumber hukum negara atau daulahnya tidak mengacu kepada apa yang diturunkan Allah SWT dan dicontohkan Rasulullah saw, misalnya di negara sekuler pancasila RI, padahal Rasulullah saw sendiri sebagai Rasul, Nabi dan pemimpin Daulah Islamiyah pertama di Yatsrib.

Jadi, tidak masuk akal dan tidak sesuai dengan yang dicontohkan Rasulullah saw. Apabaila Rasulullah saw memberikan contoh dalam haditsnya itu mereferensikan pada pimpinan dalam satu negara yang dasar dan sumber hukumnya tidak mengacu kepada apa yang diturunkan Allah SWT dan dicontohkan Rasulullah saw, padahal ketika hadits itu disabdakan, Rasulullah sedang memimpin Daulah Islamiyah pertama di Yatsrib, yang dasar dan sumber hukum daulahnya mengacu kepada apa yang diturunkan Allah SWT dan yang dijalankan oleh Rasulullah saw sendiri.

Nah sekarang, itu Johan hanya menekankan pada ketaatan kepada pimpinan, tanpa melihat situasi, kondisi, dasar dan sumber hukum yang dipakai dalam negara. Sehingga tidak peduli kalau itu negara kafir atau negara Islam, kalau dipukul punggung dan dirampas harta atau ditipu oleh pemimpin yang korup, tetap harus taat dan mendengar.

Jelas, itu Johan hanya menerapkan hadits dengan mata buta dan telinga pekak, sehingga tidak bisa membedakan mana daulah yang sedang dipimpin dan dicontohkan Rasulullah saw, dan mana daulah yang bukan daulah yang dicontohkan Rasulullah saw.

Jadi, Johan ini hanya menyomot dan menerapkan hadits, tetapi tidak memahami dan tidak mengerti dalam keadaan situasi dan kondisi yang bagaimanakah Rasulullah saw menyabdakan hadits itu ?

Nah inilah cara dan metode yang dipakai oleh para pengikut wahhabi atau salafi Saudi, sehingga diantara mereka para ulama wahhabi atau salafi Saudi yang menentang kebijaksanaan George W. Bush dari negara kafir Amerika dianggap melecehkan ulama, bid'ah, akhlu khawa, dan dituduh sebagai khawarij, dengan alasan karena George W. Bush banyak membantu kepada Raja Fahd bin Abdul Aziz dan Putra Mahkota Abdullah bin Abdulaziz al-Saud, dan kebijaksanaan politik pemerintah Ibnu Saud ini dalam beberapa hal ada kesamaan dengan politik George W. Bush.

Begitu juga di negara sekuler burung garuda pancasila RI dibawah mbah Susilo Bambang Yudhoyono dari Partai Demokrat sekuler, walaupun itu TNI-nya disuruh membunuh rakyat muslim Acheh, tetap saja Johan Pahlawan yang mengaku orang Acheh ini enggeh dan manggut saja kepada para algojo TNI dibawah perintah mas Djoko Santoso. Dengan alasan hadits Nabi harus taat pada mbah Susilo Bambang Yudhoyono dan mas Djoko Santoso di negara sekuler pancasila RI.

Inilah orang-orang buta pengikut paham wahhabi atau salafi Saudi yang memang kerjanya saling gebuk satu sama lainnya, sehingga itu mbah Susilo Bambang Yudhoyono dan mas Djoko Santoso beserta TNI-nya yang membunuh ratusan tibu rakyat muslim Acheh di Acheh dianggap pimpinan yang harus terus ditaati sampai mati.

Bagi yang ada minat untuk menanggapi silahkan tujukan atau cc kan kepada ahmad@dataphone.se agar supaya sampai kepada saya dan bagi yang ada waktu untuk membaca tulisan-tulisan saya yang telah lalu yang menyinggung tentang Khilafah Islam dan Undang Undang Madinah silahkan lihat di kumpulan artikel di HP http://www.dataphone.se/~ahmad

Hanya kepada Allah kita memohon pertolongan dan hanya kepada Allah kita memohon petunjuk, amin *.*

Wassalam.

Ahmad Sudirman

http://www.dataphone.se/~ahmad
www.ahmad-sudirman.com
ahmad@dataphone.se
---------

Date: Fri, 22 Apr 2005 15:59:00 -0700 (PDT)
From: Johan Pahlawan johan_phl@yahoo.com
Subject: Menjawab Syubhat Khilafah Islamiyah
To: kuratasaku@yahoo.com, kompas <kompas@kompas.com>, kabayan555@yahoo.com, kinana@gmail.com, koransp@suarapembaruan.com, karim@bukopin.co.id, koran@tempo.co.id, johan_phl@yahoo.com, jktpost2 <jktpost2@cbn.net.id>, jus_gentium2002@yahoo.co.uk, jakarta.newsroom@reuters.com, JKamrasyid@aol.com, inda_aceh@lycos.com, hasan_saleh1945@yahoo.com, hudoyo@cbn.net.id, habearifin@yahoo.com, hassan.wirajuda@ties.itu.int, harold.crouch@anu.edu.au, humas@dpr.go.id, harapan_aceh@yahoo.com, hermanpamungkas65@yahoo.com, hermanranuwiharjo@email.com, heda1912@yahoo.com
Cc: johan_phl@yahoo.com

Menjawab Syubhat Khilafah Islamiyah

Assalamu'alaikum Warahmatullahi Wabarokatuh
Telah sampai kepadaku beberapa pertanyaaan seputar syubhat-syubhat mengenai "DAULAH ISLAMIYAH", telah kita ketahui bersama dalam mimbar bebas seperti ini kita dapati banyak email yang disebarkan oleh para pengagung dan pengikut manhaj Khariji khususnya dalam mimbar ini adalah Ahmad Sudirman dan cs-nya.

Sesungguhnya ucapan mereka amat sangat mudah untuk kita patahkan, dalam artikel atau tulisan yang saya sebarkan-pun juga telah memberikan penjelasan dan bantahan atas argumen mereka.

Namun karena ada beberapa permintaan kepada saya agar memberikan jawaban ringkas atas syubhat tersebut, maka pada kali ini saya akan menjawab argumen tersebut.

Apakah Negara Indonesia ini negara muslim?
Indonesia sebagaimana yang kita ketahui mayoritas penduduknya adalah muslim dan dipimpin oleh seorang muslim walaupun saat ini prosentasenya sudah berkurang seiring dengan gencarnya kampanye misionaris-salibis dalam memurtadkan saudara-saudara kita. Dari hal ini maka kita ketahui secara umum negara ini adalah negara muslim dengan sistem pemerintahan buatan manusia (demokrasi pancasila) dan dengan penguasa seorang muslim.

Indonesia menggunakan sistem bukan Islam dan bukan Daulah Islamiyah apakah kita harus taat kepada penguasa-nya yang pemerintahannya menganut sistem demokrasi ala barat ini, dan adakah dalil dari perkataan Allah atau Rasul-Nya mengenai hal ini?

Ya, benar kita tetap diperintahkan ta'at kepada penguasa tersebut sebagaimana Nabi telah mengabarkan kepada kita: "Akan datang setelahku para pemimpin yang tidak mengikuti petunjukku dan tidak menjalani sunnahku dan ada pada mereka orang-orang yang hati mereka adalah hati-hati setan yang berada dalam jasad manusia." (Hudzaifah berkata): "Wahai Rasulullah, apa yang aku perbuat jika aku menemui mereka?" Beliau menjawab: "Engkau dengar dan engkau taati walaupun punggungmu dicambuk dan hartamu diambil." (Shahih, HR. Muslim).

Pada hadits diatas telah jelas bahwa beliau mengabarkan "akan datang setelahku para pemimpin yang tidak mengikuti petunjukku dan tidak menjalani sunnahku.." penjelasannya yakni akan datang para pemimpin yang tidak berhukum dengan hukum Allah atau hukum Islam atau bukan sistem daulah Islamiyah karena telah jelas apa yang beliau bawa adalah syariat Islam yang Allah turunkan maka yang tidak mengikutinya otomatis akan mengikuti selain petunjuk dan sunnah beliau Shalallahu 'Alaihi Wa salam. Dan pada kalimat selanjutnya beliau memerintahkan kepada kita dan berwasiat kepada kita kaum muslimin untuk tetap taat kepada penguasa tersebut walaupun penguasa tersebut berbuat dzalim kepada kita (rakyatnya).

Al Hasan Al Basri mengatakan: "Ketahuilah -semoga Allah memberimu 'afiyah- bahwa kedzaliman para raja merupakan adzab dari Allah, dan adzab Allah itu tidak dihadapi dengan pedang akan tetapi dihindari dengan do'a, taubat, kembali kepada Allah dan mencabut segala dosa. Sungguh adzab Allah jika dihadapi dengan pedang maka ia lebih bisa memotong." (Asy Syari'ah karya Al Imam Al Ajurri, hal. 38 dinukil dari Fiqih Siyasah Syar'iyah, hal 166-167).

Apakah ketaatan kepada penguasa bagi seorang muslim hanya berlaku pada Daulah Islamiyah dan yang selainnya kita tidak taat walaupun penguasanya seorang muslim?

Ketaatan tetap berlaku baik yang penguasanya yang berhukum dengan hukum Islam (hukum Allah) ataupun bukan, sebagaimana hadits yang saya bawakan pada jawaban no 2 diatas. Dan aku tambahkan lagi bahwasannya Rasulullah Shalallahu 'Alaihi Wa salam bersabda: "Sejelek-jelek pimpinan kalian adalah yang kalian membencinya dan membenci kalian, yang kalian melaknatinya dan melaknati kalian." Dikatakan kepada beliau: "Wahai Rasulullah, tidakkah kita melawannya dengan pedang?" Beliau menjawab "Jangan, selama ia mendirikan shalat (di antara) kalian dan jika kalian melihat pada pimpinan kalian sesuatu yang kalian benci maka bencilah amalnya dan jangan kalian cabut tangan kalian dari ketaatan." (Shahih, HR. Muslim). Dan masih banyak lagi hadits berkenaan dengan wajibnya taat kepada penguasa muslim dinegeri-negeri kaum muslimin.

Sesungguhnya sampai berapa lamakah pemerintahan Kekhalifahan, apakah sebagaimana yang dipahami pada sebagian kita sampai dinasti Utsmani?.

Pertanyaan ini sering saya dapati dari para pengikut jama'ah harokah, sesungguhnya Rasulullah Shalallahu 'Alaihi Wa salam telah mengabarkan kepada kita: "Masa kekhalifahan adalah tiga puluh tahun, kemudian setelah itu adalah raja." (Hadits ini ditakhij oleh Abu Dawud (no.4646, 4647), At Tirmidzi (2/35), Ath Thahawi dalam Musykilul Atsar (4/313), Ibnu Hibban dalam kitab Shahih-nya (no.1534,1535), Ibnu Abi Ashim dalam As Sunnah (2/114), Al Hakim (71/145), Ahmad dalam Al Musnad (5/220,221), Rauyani dalam Musnad-nya (25/136/1), Abu Ya'la Al Mushili dalam Al Mafarid (3/15/2), Abu Hafs Ash Shairafi dalam haditsnya (no.261/1), Khaitsamah bin Sulaiman dalam Fath 'ilush Shahabat (3/108-109), Ath Thabrani dalam Al Mu'jam Al Kabir (1/8/1), Abu Nu'aim dalam Dalalilun Nubuwah (j.2), dan hadits ini telah dishahihkan pula oleh Syaikh kami Al Albani rahimahullah dalam Silsilah Hadits Shahih (1/460).

Pemerintahan di negeri-negeri muslim yang tidak berhukum dengan hukum Islam apakah bisa dikatakan kafir mutlak dengan dasar firman Allah Ta'ala: "Barangsiapa yang tidak berhukum dengan apa yang diturunkan oleh Allah maka mereka itulah orang-orang yang kafir." (QS. Al Maidah: 44)

Menjawab pertanyaan ini Syaikh kami Abdul Aziz bin Bazz rahimahullah berkata: "Barangsiapa berhukum dengan selain hukum Allah maka tidak keluar dari empat keadaan:

Seseorang yang mengatakan: "Aku berhukum dengan hukum ini, karena ia lebih utama dari syariat Islam," maka dia kafir dengan kekafiran yang besar (yang dapat mengeluarkannya dari Islam-pent).
Seseorang yang mengatakan: "Aku berhukum dengan hukum ini, karena ia sama (sederajat) dengan syariat Islam, sehingga boleh berhukum dengannya dan boleh juga berhukum dengan syariat Islam," maka dia kafir dengan kekafiran yang besar.
Seseorang yang mengatakan: "Aku berhukum dengan hukum ini namun berhukum dengan syariat Islam lebih utama, namun boleh-boleh saja untuk berhukum dengan selain hukum Allah," maka dia kafir dengan kekafiran yang besar.
Seseorang yang mengatakan: "Aku berhukum dengan hukum ini," namun dia dalam keadaan yakin bahwa berhukum dengan selain hukum Allah tidak diperbolehkan. Dia juga mengatakan bahwa berhukum dengan selain hukum Allah tidak diperbolehkan. Dia juga mengatakan bahwa berhukum dengan syariat Islam lebih utama dan tidak boleh berhukum dengan selainnya. Tetapi dia seorang yang bermudah-mudahan (dalam masalah ini) atau dia kerjakan karena perintah atasannya, maka dia kafir dengan kekafiran yang kecil, yang tidak mengeluarkannya dari keislaman dan teranggap sebagai dosa besar." (Al Hukmu Bighairima Anzalallahu wa UshulutTakfir, hal 71-71, dinukil dari At Tahdzir Minattasarru' Fittakfir, karya Muhammad bin Nashir Al Uraini hal. 21-22).

Dari penjelasan beliau telah jelas dan gamblang bahwa berhukum selain dengan hukum Allah mencakup dua jenis kekafiran, yakni kekafiran kecil (yang tidak mengeluarkannya dari Islam), dan kekafiran besar (yang dapat mengeluarkannya dari Islam). Maka dalam mengkafirkan seseorang atau penguasa yang tidak berhukum dengan selain hukum Allah harus dengan merincinya apakah dengan pengingkarannya terhadap hukum Allah atau tidak.

Mohon dijelaskan atas ucapan yang dinyatakan oleh Ahlul Bid'ah Ahmad Sudirman bahwa peristiwa Imam Ahmad bin Hambal yang tidak memberontak kepada penguasanya yang berideologikan Mu'tazilah yakni pada masa Al Makmun karena pemerintahannya adalah Khilafah Islamiyah dengan membandingkan dengan pemerintahan Indonesia bagaimana jawaban atas pernyataan ini.

Telah saya bawakan hadits Rasulullah Shalallahu 'Alaihi Wa salam, bahwasannya setelah masa Khulafaur Rasyidin adalah pemerintahan raja-raja, sedangkan penyebutan Khalifah kepada raja-raja setelah Khulafaur Rasyidin, berkata Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah dalam risalahnya: "Boleh menyebut khalifah terhadap orang-orang yang menjadi pemimpin setelah masa Khulafaur Rasyidin. Walaupun mereka itu sebagai raja, dan bukan pengganti Nabi, berdasarkan hadits riwayat Bukhari dan Muslim dalam kitab Shahih-nya dari Abu Hurairah dari Rasulullah Shalallahu 'Alaihi Wa salam, beliau bersabda: "Adalah kaum Bani Israil merupakan kaum yang dihiasi para nabi. Jika seorang nabi mati, maka digantikan nabi yang lain, dan tiada nabi pun setelah (kewafatan)-ku. Dan kelak ada beberapa khalifah yang kemudian menjadi banyak. "Mereka berkata: "Lalu apa yang kau perintahkan kepada kami?". Beliau bersabda:"Katakanlah oleh kalian dengan ba'iat yang pertama, lalu yang pertama. Berikanlah hak mereka. Dan Allah yang akan memintanya dari apa yang Allah percayakan kepada manusia." (HR. Bukhari dan Muslim). Sabda Nabi "fatakatstsar", sebagai bukti, bahwa yang selain Khulafaur Rasyidin tidaklah banyak. Dan juga sabda Nabi, "Katakanlah dengan ba'iat awwal, lalu yang awal." Itu menunjukkan bahwa mereka berselisih atau bertikai. Sedangkan Khulafaur Rasyidin tidak pernah bertikai atau berselisih (selesai (sampai disini ucapan beliau)-pen ucapan ini dinukil dari Silsilah Hadits Shahih karya Syaikh Al Albani jilid 1 pada penjelasan hadits no 460).

Maka bila kita membandingkannya antara pemerintahan keduanya (yakni masa kekhalifahan atau raja Al Makmun dengan pemerintahan Indonesia sekarang) dapat kita simpulkan keduanya memiliki perbedaan. Perbedaannya Al Makmun bersistem Daulah Islam dan berideologikan Mu'tazilah dan Indonesia sebuah negeri muslim bersistem demokrasi dan berideologi pancasila. Sekilas kita mungkin akan tertipu dengan ucapan para pengikut khariji yang mencari cari alasan dalam hal ketaatan dengan mengatakan: bahwa itu daulah Islamiyah maka kita wajib taat kepada penguasanya karena daulahnya adalah daulah Islam dan sistemnya adalah sistem Islam walaupun ideologinya Mu'tazilah.

Sedangkan Indonesia negaranya bersistem non Islam atau demokrasi Pancasila walaupun penguasanya muslim tapi karena sistemnya bukan hukum Islam maka kafir mutlak dan tidak ada ketaatan padanya.

Disinilah bedanya Ahlus Sunnah dengan Ahlul Bid'ah yang mana mereka mencari-cari alasan bahwa ketaatan hanya berlaku pada daulah Islam atau negara yang menggunakan sistem Islam di negeri-negeri kaum muslimin dan hal ini telah terbantah dengan sabda Nabi: "Akan datang setelahku para pemimpin yang tidak mengikuti petunjukku dan tidak menjalani sunnahku dan ada pada mereka orang-orang yang hati mereka adalah hati-hati setan yang berada dalam jasad manusia." (Hudzaifah berkata): "Wahai Rasulullah, apa yang aku perbuat jika aku menemui mereka?" Beliau menjawab: "Engkau dengar dan engkau taati walaupun punggungmu dicambuk dan hartamu diambil." (Shahih, HR. Muslim).

Dan penjelasannya sebagaimana di awal no 2. dan juga sabda Nabi Shalallahu 'Alaihi Wa salam: "Sejelek-jelek pimpinan kalian adalah yang kalian membencinya dan membenci kalian, yang kalian melaknatinya dan melaknati kalian." Dikatakan kepada beliau: "Wahai Rasulullah, tidakkah kita melawannya dengan pedang?" Beliau menjawab "Jangan, selama ia mendirikan shalat (di antara) kalian dan jika kalian melihat pada pimpinan kalian sesuatu yang kalian benci maka bencilah amalnya dan jangan kalian cabut tangan kalian dari ketaatan." (Shahih, HR. Muslim).

Demikianlah jawaban yang bisa aku berikan kepada saudara penanya mudah-mudahan jawaban ini bermanfaat bagi diriku dan bagi kaum muslimin seluruhnya dan sebagai nasehat bagi para penyeru kebid'ahan dan kita berlindung dan berlepas diri dari amalan-amalan bid'ah atau yang diada-adakan dan mudah-mudahan Allah Subhanahu Wa Ta'ala selalu membimbing kita untuk selalu berada diatas jalan-Nya dan tetap berpegang teguh dengan Al Qur'an dan As Sunnah dengan pemahaman salafus shalih.
Wallahu A'lam Bisshawab.

Wassalamu'alaikum Warahmatullahi Wabarokatuh
Hamba Allah yang fakir

Johan Pahlawan

johan_phl@yahoo.com
Malang, Jawa Timur, Indonesia
----------