Stockholm, 24 April 2005

Bismillaahirrahmaanirrahiim.
Assalamu'alaikum wr wbr.
 

ANEUK ACHEH, ITU MBAH SOEKARNO DENGAN RAS ARIA-JAWA-NYA MENIRU MODEL RAS ARIA-NYA BANGSA GERMANIKA
Ahmad Sudirman
Stockholm - SWEDIA.

 

ANEUK ACHEH MENANYAKAN TENTANG MBAH SOEKARNO DENGAN RAS ARIA-JAWA-NYA YANG MENIRU MODEL RAS ARIA-NYA BANGSA GERMANIKA & TENTANG SYI'AH

"Tgk.Ahmad yang mulia negara-negara mana saja yang termasuk ras Aria, dan sewaktu saya masih bersekolah dulu saya sering mendengar bahwa syiah di Iran itu sesat dalam hal pengakuan kenabian Muhammad, mereka lebih mengakui Ali sebagai nabi akhir zaman." (Aneuk Aceh , harapan_aceh@yahoo.com , Sat, 23 Apr 2005 00:28:12 -0700 (PDT))

Baiklah Aneuk Aceh di Depok, Jawa Barat, Indonesia.

Menyinggung masalah Syi'ah di mimbar bebas ini tidak akan dibahas secara mendalam, hanya sekedar singkat saja, dan kalau Aneuk Acheh mau melanjutkan pembicaraan tentang Syi'ah ini selanjutnya, bisa dilakukan dijalur pribadi saja.

Pengertian Sy'iah menurut etimologis berarti pengikut. Dalam Al Qu'ran akar kata Sy'iah adalah sya'i ayau syuyu'. "wa inna syi'atihi la ibrahiim" (Dan sesungguhnya Ibrahim benar-benar termasuk pengikutnya (Nuh) (QS Ash-Shaffat, 37: 83)

Syi'ah Menurut terminologis adalah kaum muslimin yang menganggap pengganti Nabi Muhammad saw merupakan hak istimewa keluarga Nabi Muhammad (dalam hal ini Ali bin Abi Thalib).

Syi'ah Ali bin Abi Thalib atau pengikut Ali bin Abi Thalib sudah ada sejak masa Nabi Muhammad saw. Dan makin menguat pada masa Khalifah Ali bin Abi Thalib memegang kekuasaan. Dan kalau digali lebih kedalam Syi'ah atau pengikut Ali bin Abi Thalib lahir menjadi satu kelompok besar adalah ketika timbulnya masalah dalam Khilafah yang didalamnya menyangkut adanya perbedaan masalah politik dan kepemimpinan. Terutama ketika terjadi pertentangan politik antara Khalifah Ali bin Abi Thalib dengan pihak Siti Aisyah yang dibantu pasukan Gubernur Mesir Amr bin Ash, pasukan Gubernur Syam Mu'awiyah bin Abu Sufyan, Zuber bin Awwam dan Thalhah bin Ubaidillah dari Mekkah. Dimana perbedaan politik ini menyangkut adanya perbedaan sikap politis dalam hal kepemimpinan dengan Khalifah Ali bin Abi Thalib dan masalah belum dituntaskannya kasus terbunuhnya Khalifah Utsman bin Affan. Khususnya dari pihak Gubernur Mesir Amr bin Ash yang sangat rapat hubungannya dengan Khalifah Utsman bin Affan menganggap bahwa Khalifah Ali bin Abi Thalib berada dibelakang layar terbunuhnya Khalifah Utsman bin Affan. Kemudian dengan adanya perbedaan politik ini melahirkan perang jamal atau perang onta dibawah komando Siti Aisyah.

Kemudian diteruskan dengan perang Shiffin antara Gubernur Syam Mu'awiyah bin Abu Sufyan dengan Khalifah Ali bin Abi Thalib. Dimana perang Shiffin ini timbul sebagai kelanjutan dari perang jamal yang waktu itu dimenangkan oleh pasukan Khalifah Ali bin Abi Thalib, juga merupakan perebutan kekuasaan, kepemimpinan dan pemerintahan dalam Khilafah.

Perang Shiffin ini dapat dimenangkan oleh Khalifah Ali bin Abi Thalib, tetapi karena kelihaian Mu'awiyah bin Abu Sufyan dan Amr bin Ash, Mu'awiyah bin Abu Sufyan mengangkat Al-Qur'an untuk mengajak damai. Khalifah Ali bin Abi Thalib menyetujui perdamaian ini.

Dalam penyelesaian damai ini dilakukan tahkim atau arbitrase. Pihak Mu'awiyah bin Abu Sufyan mengirim utusan juru rundingnya Amr bin Ash, sedangkan dari pihak Khalifah Ali bin Abi Thalib mengirimkan juru runding Abu Musa Al-Asy'ari. Setelah bermusyawarah, mereka sepakat untuk menurunkan kedua pemimpin mereka, Khalifah Ali bin Abi Thalib dan Mu'awiyah bin Abu Sufyan, lalu dipilih secara aklamasi.

Untuk pelaksanaan hasil perundingan, Abu Musa Al-Asy'ary dipersilahkan untuk menyatakan penurunan pemimpinnya (Khalifah Ali bin Abi Thalib) dan kursi ke Khalifahan. Setelah itu Amr bin Ash maju untuk menyatakan penurunan Mu'awiyah bin Abu Sufyan, tetapi dengan liciknya, lihainya Amr bin Ash menyatakan: "Karena delegasi Ali sudah menyatakan pengunduranannya dan kursi kekhalifahan kosong, maka dengan demikian Muawiyah-lah yang patut untuk menduduki kekhalifahan ini." Dengan demikian Pen-tahkim-an ini dimenangkan oleh pihak Mu'awiyah bin Abu Sufyan atas kelicikan Amr bin Ash.

Ternyata keputusan yang tidak adil ini, menimbulkan ketidakpuasan di kalangan pasukan Khalifah Ali bin Abi Thalib, maka pasukan ini terpecah menjadi beberapa kelompok. Dimana ada kelompok yang tetap mendukung Khalifah Ali bin Abi Thalib dan ada kelompok yang menolak Khalifah Ali bin Abi Thalib. Kelompok yang menolak Khalifah Ali bin Abi Thalib ini memisahkan diri, dan membentuk kelompoknya sendiri, dalam sejarah kelompok ini dinamakan Khawarij. Dikalangan Khawarij ini ada tiga tokoh yang sepakat untuk membunuh Khalifah Ali bin Abi Thalib, Mu'awiyah bin Abu Sufyan, dan Amr bin Ash.

Abdurahman bin Muljam ditugasi untuk membunuh Khalifah Ali bin Abi Thalib, Amr bin Abi Bakar ditugasi untuk membunuh Mu'awiyah bin Abu Sufyan, dan Amir bin Bakar ditugasi untuk membunuh Amr bin Ash. Dari tiga orang yang ditugaskan untuk membunuh ini, hanya Abdurahman bin Muljam dapat membunuh Khalifah Ali bin Abi Thalib, yaitu ketika Khalifah Ali bin Abi Thalib berangkat ke Masjid untuk Shalat shubuh. Khalifah Ali bin Abi Thalib wafat pada tanggal 17 Ramadhan tahun 40 H dalam usia 63 tahun setelah menjabat sebagai khalifah selama 5 tahun.

Nah, setelah tragedi-tragedi berdarah inilah yang menjadikan golongan Syi'ah atau golongan pengikut Ali bin Abi Thalib berpencar dan menyebar. Pertumpahan darah di Karbala, dengan dibunuhnya secara kejam putra Ali bin Abi Thalib, Husain bin Ali bin Abi Thalib oleh pihak Yazid bin Mu'awiyah bin Abu Sufyan merupakan fakta dan bukti pertentangan politik dan kepemimpinan yang terus berkelanjutan.

Setelah tragedi-tragedi yang menyedihkan dan menggetirkan ini, Syi'ah atau pengikut Ali bin Abi Thalib ini terus dihantui pengejaran dan pembantaian secara massal terhadap Keluarga Rasulullah saw dan pengikutnya.

Golongan Syi'ah yang bertahan sampai sekarang dalam jumlah besar adalah Syi'ah Imamiyah Istnaa 'Asyariyah atau Syi'ah Imam Dua Belas, yang dianut oleh kurang lebih 90 % rakyat Iran, 50 % rakyat Irak, sebagian rakyat Afghanistan, Syria, Pakistan, dan beberapa negara lain. Kelompok Syi'ah Imam Dua Belas tidak mengakui Syi'ah Zaidiyah yang dikenal dengan nama Syi'ah Imam Lima, dan berkembang di Yaman dan hampir 40% daripada penduduk negara tersebut adalah pengikut Syi'ah Zaidiyah. Dan juga tidak mengakui Syi'ah Ismailiyah atau yang dikenal dengan Syi'ah Imam Tujuh, pengikutnya ada di India, Asia Tengah, dan Timur Afrika.

Syi'ah Imam Dua Belas berkeyakinan bahwa Nabi Muhammad saw telah menetapkan dengan nash (pernyataan yang tegas) khalifah sesudahnya yaitu Imam Ali bin Abi Thalib ra. Kemudian Imam adalah maksum, yaitu terpelihara daripada dosa kecil dan besar dari sejak anak-anak sampai meninggal dunia. Kemudian, yakin akan kemunculan semula Imam Mahdi. Seterusnya. Percaya bahwa melakukan cara berpura-pura atau al-Taqiyyah dibenarkan, artinya menyembunyikan sesuatu yang boleh membahayakan diri atau harta bendanya dengan melahirkan yang bukan hakikat sebenar dari kandungan hatinya. Selanjutnya, menyanjung kepada Imam Ali bin Abi Thalib ra. Kemudian, menghalalkan nikah mut'ah. Lalu, percaya kepada hadits shaheh, adapun Bukhori dan Muslim adalah pengumpul hadits bukan mempertimbangkan keshahihannya. Berkeyakinan, mengkritik terhadap kebijaksanaan Abu Bakar, Umar bin Khattab, Utsman bin Affan adalah tindakan yang tidak menjadikan kafir. Tindakan yazid bin Mu'awiyah bin Abu Sufyan yang membunuh keluarga Nabi atau akhlul bait, yaitu Husein bin Abi Thalib dianggap telah kafir.

Tentu saja adanya keyakinan atau aqidah dari para pengikut Ali bin Abi Thalib atau Syi'ah Ali ini didasarkan pada dasar nash naqli dan aqli yang ada pada mereka. Kalau dari pihak Akhlu Sunnah wal Jamaah menganggap keyakinan atau aqidah Syi'ah ada penyimpangan, itu berdasarkan dasar nash naqli dan aqli yang ada pada kaum Akhlu Sunnah wal Jamaah. Dan perbedaan-perbedaan ini telah dibicarakan dan didebatkan dari sejak lahirnya Syi'ah ini. Dan sampai detik sekarang tidak habis-habisnya dan tidak selesai-selesainya diperdebatkan.

Nah, untuk menghindari perdebatan Syi'ah yang tidak kunjung selesai ini, lebih baik bagi para pengikut Akhlu Sunnah wal Jamaah, coba baca dan gali sumber-sumber yang dipakai oleh kaum Syi'ah, begitu juga sebaliknya, bagi pengikut Ali bin Abi Thalib atau Syi'ah Ali mencoba membaca dan menggali sumber-sumber rujukan yang dipakai oleh Akhlu Sunnah wal Jamaah. Dan tidak perlu diperdebatkan di mimbar bebas ini. Tetapi, kalau juga mau memperdebatkan, dipersilahkan dijalur pribadi, tidak melalui mimbar bebas ini.

Kemudian Aneuk Aceh menanyakan: "negara-negara mana saja yang termasuk ras Aria".

Sebenarnya nama dan istilah ras Aria muncul ketika Adolf Hitler menganggap bahwa ras Aria atau bangsa Germanika merupakan manusia super yang lebih tinggi derajat dan kemampuan berpikirnya daripada manusia asal ras lainnya.

Sebenarnya pendekatan dari sudut ras dan biologi tubuh manusia ini yang banyak dipengaruhi oleh teori Darwin, tidak banyak memberikan hasil positif bagi peradaban kehidupan budaya umat manusia. Toh, akhirnya setelah Adolf Hitler dengan ras Aria-nya tertimbun puing-puing bangunan karena terkena bom-bom yang dijatuhkan oleh pasukan udara Amerika dan sekutunya, hilang lenyap dari permukaan bumi. Ras German sekarang adalah sama dengan ras orang dari suku dan etnis lainnya dalam hal kemampuan berpikiranya.

Hanya walaupun Adolf Hitler dengan ras Aria-nya tidak berhasil menciptakan ras Aria atau murni bangsa Germanika, tetapi ternyata masih ada segelitir pimpinan di negara-negara diluar German yang melakukan metode dan cara Adolf Hitler dengan ras Aria-nya. Misalnya mbah Soekarno dengan gaya ras Jawa-nya yang dianggap mayoritas untuk melenyapkan ras minoritas dari suku-suku diluar Jawa melalui cara pemusnahan adat dan budaya suku-suku dan bangsa-bangsa diluar suku dan bangsa Jawa.

Nah, cara yang dilakukan oleh mbah Soekarno dari Jawa ini bisa digolongkan kedalam model dan cara Adolf Hitler dengan ras Aria-nya. Hanya, istilah ras Aria diganti dengan ras Jawa yang diselubungi dengan nama Indonesia. Jadi kalau dilihat dari sudut kacamata Adolf Hitler dengan ras Aria-nya, maka kelihatan itu bangsa Indonesia adalah bangsa ras Aria model Jawa, yang telah menempatkan dan menghilangkan budaya-budaya suku dan bangsa lainnya, seperti bahasa, budaya, adat istiadat suku dan bangsa diluar suku dan bangsa Jawa, dan semuanya di Aria-Jawakan, atau di Indonesiakan.

Hanya tentu saja, akhirnya model dan cara mbah Soekarno dengan ras Aria-Jawa-nya ini pun akhinya akan gagal juga, sebagaimana gagalnya Adolf Hitler dengan ras Aria-nya.

Bagi yang ada minat untuk menanggapi silahkan tujukan atau cc kan kepada ahmad@dataphone.se agar supaya sampai kepada saya dan bagi yang ada waktu untuk membaca tulisan-tulisan saya yang telah lalu yang menyinggung tentang Khilafah Islam dan Undang Undang Madinah silahkan lihat di kumpulan artikel di HP http://www.dataphone.se/~ahmad

Hanya kepada Allah kita memohon pertolongan dan hanya kepada Allah kita memohon petunjuk, amin *.*

Wassalam.

Ahmad Sudirman

http://www.dataphone.se/~ahmad
www.ahmad-sudirman.com
ahmad@dataphone.se
---------

Date: Sat, 23 Apr 2005 00:28:12 -0700 (PDT)
From: Aneuk Aceh <harapan_aceh@yahoo.com>
Subject: syiah sesat
To: ahmad@dataphone.se

Assalamualaikum wr..wb.

Tgk.Ahmad yang mulia sewaktu saya masih bersekolah dulu saya sering mendengar bahwa syiah di Iran itu sesat dalam hal pengakuan kenabian Muhammad, mereka lebih mengakui Ali sebagai nabi akhir zaman. Dan negara-negara mana saja yang termasuk ras Aria.

Aneuk Aceh

harapan_aceh@yahoo.com
Depok, Jawa Barat, Indonesia
----------