Sandnes, 30 April 2005

Bismillaahirrahmaanirrahiim.
Assalamu'alaikum wr wbr.
 

YANG PEGANG TALI, YANG PEGANG BAJI DAN YANG DUDUK SENDIRI SAMA DOSANYA
Muhammad Al Qubra
Sandnes - NORWEGIA.

 

MENYOROT RIBUAN TON BANTUAN OBAT-OBATAN DAN MAKANAN TELANTAR DI BELAWAN

Ya, kalau sudah begini masing-masing pihak membela diri. Kami tidak bersalah, mereka tidak bersalah. Yang bersalah siapa ?

Kalau kita kembali kepada pepatah Acheh begini: "Simat taloe, si peh badjoe si duek keudroe saban desja". Artinya:"Yang pegang tali, yang pegang baji dan yang duduk sendiri sama dosanya". Kalau yang pegang tali dan yang pegang baji, sangat mudah untuk kita pahami bahwa kedua model pihak yang terlibat dalam kemungkaran itu berdosa (akan mendapat hukuman Allah kelak). Namun yang perlu kita analisa kenapa orang hanya duduk sendiri, menyaksikan kedhaliman itu juga turut bersalah dan sama kapasitas salahnya dengan pelaku itu sendiri. Inilah yang tak pernah dipahami orang-orang yang bersekongkol dalam system Indonesia Munafiq dan Dhalim.

Kendatipun ada beberapa orang TNI tidak tinggal shalat, puasa, membayar zakat dan bahkan naik haji lagi, mengimami shalat jamaah, bekhutbah dimimbar-mimbar mesjid "Dhirar", mereka tetap saja sama dengan serigala-serigala haus darah itu, dhalim dan terkutuk (baca TNI/POLRI)

Berdasarkan pepatah tersebut diatas, ternyata Islam di Acheh itu, sudah Idiologis sejak dulunya. Hal ini penting untuk kita analisa sebab erat hubungannya dengan perjuangan bangsa Acheh dahulukala ketika mereka melawan penjajahan Belanda. Kenapa Belanda tidak mampu mengalahkan Acheh ketika itu, kendatipun ditambah dengan sontoloyo-sontoloyo Jawa yang kuburan mereka dapat kita saksikan di Kherkhot 1 Banda Acheh.

Jawabannya adalah bahwa bangsa Acheh dulu memahami persis keberadaan orang-orang yang hanya menjaksikan kedhaliman di depan hidungnya sama dhalimnya dengan orang-orang yang sedang mendhalimi itu sendiri, yaitu dalam hal ini Penjajah Belanda (si mat taloe dan si peh bajoe). Andaikata kita analisa lebih jauh lagi. Kenapa pepatah tersebut selaras dengan apa yang di kumandangkan Imam Khomeini bahwa orang-orang yang berdiam diri menyaksikan suatu kedhaliman, lebih jahat dari kedhaliman itu sendiri.Jawabannya akan dibuktikan oleh perjalanan sejarah yang sedang di ukir bangsa Acheh sendiri saat ini, insya Allah.

Sayang beribu kali sayang bahwa Idealisme bangsa Acheh masa lalu telah di netralisasikan oleh Snouck Hurgronje dalam jangka waktu yang begitu lama. Dan kinilah bangsa Acheh bangkit kembali dengan siasah fatanahnya.

Beberapa bangsa lain bolehlah menganggap remeh buat sementara waktu terhadap bangsa Acheh, namun jika di umpamakan dengan pribadi seseorang jelas bahwa Bangsa Acheh bagaikan seseorang yang sanggup menempuh perjalanan hidup kendatipun banyaknya rintangan sementara kebanyakan bangsa yang lain umpamakan seseorang yang hidup manja tanpa ritangan apapun.

Kembali ke persoalan diatas tadi bahwa kedhaliman di Indonesia itu exis secara system. Dan system Indonesia itu persis bagaikan "System Pencuri 7" (Koruptor). Memang dalam negara tersebut ada fasilitas dan sarana agama apapun seperti mesjid, Pesantren organisasi Islam ini, organisasi Islam itu. Namun kesemuanya tunduk patuh kepada Rajanya Pencuri, kalau sekarang kan Yudhono namanya. Jadi apa artinya mereka mengatakan Islam ini Islam itu, tetap sama saja dengan Pencuri tujuh itu. Hanya penampilannya saja yang "mentreng" berkat hasil curian.

Jadi ketimpangan mereka orang-orang "Pintar" itu terletak pada satu cenel saja yaitu cenel System. Untuk lebih gamblang pahami saja sebagai "Bahtera". Jadi ada yaqng namanya bahtera pencuri tujuh, duimana didalamnya masih ada orang yang meyakini wajibnya Shalat sementara mereka tetap saja tunduk patuh kepada Rajanya pencuri 7 bitu, tanpa mampu melompat kedalam "Bahtera" yang redha Allah. Disinilah ketidak berdayaan mereka dalam berfikir.

Sebahagian mereka memang berusaha untuk melompat, namun lompatan mereka terlalu dha'if. Mereka tak mampu melompat jauh keluar dari orbitnya bahtera tersebut, ketika bahtera itu berada dalam kecepatan tinggi. Ketidak mampuan mereka adalah disebabkan banyaknya kesalahan yang mereka lakukan terhadap kaum dhu'afa.(Q.S, 2:8 - 20)

Billahi fi sabililhaq

Muhammad Al Qubra

acheh_karbala@yahoo.no
Sandnes, Norwegia.
----------

Ribuan Ton Bantuan Telantar di Belawan
103 Mobil, Obat-obatan, dan Makanan

Medan, Kompas - Ketika para korban bencana di Aceh dan Nias terancam kekurangan logistik, sedikitnya 1.488 TEU's (twenty feet equivalen units) barang dan 103 mobil bantuan kemanusiaan untuk Aceh dan Sumatera Utara masih menumpuk di Pelabuhan Belawan, Medan, Sumatera Utara, hingga Kamis (28/4). Bantuan berupa obat-obatan, makanan, tenda, dan selimut itu tiba di Pelabuhan Belawan sejak Januari lalu dan tidak diambil lembaga penerima bantuan.

Kepala Kantor Pelayanan Bea dan Cukai (KPBC) Wilayah Belawan Tambos M Naiborhu mengatakan, sejak tanggal 28 April 2005 jumlah barang bantuan luar negeri yang didatangkan melalui Pelabuhan Belawan mencapai 4.073 TEU's.

Sedangkan jumlah bantuan kendaraan bermotor melalui Pelabuhan Belawan sebanyak 146 unit dan 53 TEU's. Sebanyak 96 unit kendaraan sudah diambil, namun 50 unit dan 53 TEU's masih teronggok di pelabuhan. Yang belum diambil di antaranya 14 ambulans.

"Barang-barang tersebut tertumpuk karena dua sebab, yaitu karena izinnya belum diurus atau izin sudah beres tetapi lembaga penerima atau penyalur bantuan enggan mengambilnya," kata Cerah Bangun, Kepala Seksi Pencegahan dan Penyidikan KPBC Wilayah Belawan.

Menurut Cerah, berdasarkan Surat Menteri Perdagangan Nomor 21 Tahun 2005, barang-barang bantuan untuk Aceh dan Sumut seperti beras, gula, kendaraan bermotor, dan pakaian harus mendapat izin dari Menteri Perdagangan.

Menumpuk
Berdasarkan pengamatan pada Kamis kemarin, barang-barang bantuan kemanusiaan itu terlihat menumpuk di dalam kontainer yang memenuhi sebagian lapangan peti kemas Pelabuhan Belawan.

Data dari KPBC menyebutkan, barang yang paling lama teronggok di pelabuhan yaitu satu kontainer logistik berupa beras, air bersih, dan barang-barang bantuan dari Singapura untuk Palang Merah Indonesia (PMI) Cabang Medan. Bantuan itu tiba di Pelabuhan Belawan 16 Januari lalu dan belum diurus hingga kini.

Barang yang belum diambil di antaranya dialamatkan ke PMI Aceh, Rumah Sakit Zainal Abidin Banda Aceh, UNICEF, Departemen Sosial RI, Mabes TNI, Yakuum Emergency Unit, Bakornas, Posko Deplu, Aceh Sepakat, dan berbagai lembaga lain. Sejumlah bantuan yang dialamatkan ke Rizal Nurdin selaku Kepala Posko Satkorlak Bencana Alam Aceh dan Sumut juga masih teronggok.

Sedangkan kendaraan bermotor yang belum diurus antara lain dialamatkan kepada Merlin Banda Aceh, Solidaritas Aide Humanitaire D'Urgence Medan, PMI Medan, Crisis Centre Medan, United Nation Population Fund Jakarta, PT Asia Rim Reliance Indonesia, World Vision Indonesia, dan FAO Medan.

Cerah menambahkan, "Kami pada prinsipnya tidak mempersulit pengambilan barang, bahkan mendorong agar bantuan itu cepat diambil. Jika tidak diambil bisa mengganggu kelancaran bongkar muat barang karena memakan banyak tempat di terminal."

Pihak bea dan cukai sendiri, menurut Cerah, telah melaporkan kondisi itu ke Dirjen Bea Cukai agar diberi kemudahan, khususnya barang bantuan yang harus memenuhi tata niaga impor maupun kepada pihak penerima agar segera mengeluarkan barang. (AIK)

http://www.kompas.com/kompas-cetak/0504/29/daerah/
----------