Stockholm, 3 Mei 2005

Bismillaahirrahmaanirrahiim.
Assalamu'alaikum wr wbr.
 

KUNTORO KACUNGNYA MBAH YUDHOYONO, BERJINGKRAK PEGANG PECUT BRR UNTUK TERUS CENGKERAM ACHEH
Ahmad Sudirman
Stockholm - SWEDIA.

 

KUNTORO MANGKUSUBROTO ORANG JAWA KACUNGNYA MBAH YUDHOYONO, BERJINGKRAK PEGANG PECUT BRR UNTUK TERUS CENGKERAM ACHEH

Mantan Menteri Pertambangan dan Energi Kuntoro Mangkusubroto orang Jawa satu klan dengan mbah SusiloBambang Yudhoyono dilantik sebagai Kepala Dewan Pelaksana Badan Rehabilitasi dan Rekontruksi (BRR) untuk Acheh dan Nias hari Sabtu, 30 April 2005 di Istana Negara, Jakarta.

Badan Rehabilitasi dan Rekontruksi (BRR) yang terdiri dari tiga tubuh Dewan, yaitu Dewan Pelaksana yang dikepalai oleh Kuntoro Mangkusubroto orang Jawa. Kemudian Dewan Pengarah yang diketuai oleh Widodo Adi Sutjipto juga orang Jawa. Lalu Dewan Pengawas yang diketuai oleh Abdullah Ali orang Acheh mantan Rektor Universitas Syiah Kuala, Banda Acheh. Dimana tugas dari anggota Badan Rehabilitasi dan Rekontruksi ini akan berlangsung selama 4 tahun, dan bisa diperpanjang.

Nah, itu mbah Susilo Bambang Yudhoyono telah membentuk satu badan eksekutif khusus untuk Acheh yang diberi tugas selama 4 tahun dan bisa diperpanjang kalau diperlukan guna dipakai sebagai alat pendudukan dan penjajahan yang terselubung dengan label Badan Rehabilitasi dan Rekontruksi.

Agar supaya kelihatan bawa Badan Rehabilitasi dan Rekontruksi didukung oleh orang Acheh, maka dimasukkanlan orang-orang Acheh yang telah bisa ditarik hidungnya oleh mbah Susilo Bambang Yudhoyono seperti, Wakil Gubernur Acheh Azwar Abubakar yang diangkat sebagai Wakil Kepala Badan Pelaksana BRR, Ramli Ibrahim sebagai Sekretaris Badan Pelaksana BRR, Rektor Universitas Syah Kuala Abdi A Wahab, Rektor IAIN Ar Raniri Rusdi Ali Muhammad, Muslimin Ibrahim, Badruzzaman, Surya Paloh, Ibrahim Hasan dan Humam Hamid sebagai anggota Dewan Pengarah BRR, Abdullah Ali sebagai Ketua Dewan Pengawas BRR dan Mayjen Pur TNI Djali Jusuf sebagai anggota Dewan Pengawas BRR.

Dimna jumlah keseluruhan anggota BRR adalah 39 orang, terdiri dari 19 anggota Dewan Pengarah, 9 anggota Dewan Pengawas dan 11 anggota Dewan pelaksana BRR.

Nah, orang-orang Acheh itulah yang dijadikan label propaganda oleh mbah Susilo Bambang Yudhoyono untuk menunjukkan bahwa usaha pendudukan dan penjajahan di Acheh yang diselubungi dengan label Rehabilitasi dan Rekontruksi pasca tsunami di Acheh didukung oleh rakyat Acheh.

Padahal kalau ditelusuri lebih mendalam, usaha mbah Susilo Bambang Yudhoyono dengan Bapenas-nya Sri Mulyani orang Jawa ini serta Polhukam-nya Widodo Adi Sutjipto orang Jawa juga adalah merupakan suatu usaha penerus penjajahan yang telah dilakukan oleh mbah Soekarno penipu licik yang menelan dan mencaplok Acheh pada 14 Agustus 1950 dengan memakai kecewir kertas yang berlabelkan PP RIS No.21/1950 dan selembar kertas yang bertuliskan Perppu No.5/1950.

Tentu saja bagi rakyat di RI dan Acheh yang buta akan pendudukan dan penjajahan RI di Acheh akan melihat kepada Badan Rehabilitasi dan Rekontruksi sebagai badan yang akan merebilitasi dan merekontruksi Acheh, padahal sebenarnya sebagai suatu usaha untuk mencekeram Negeri Acheh agar supaya tidak lepas dari sangkar negara sekuler burung garuda pancasila RI. Inilah taktik dan strategi mbah Susilo Bambang Yudhoyono orang Jawa dengan gaya Jawa-nya, persis seperti mbah Soekarno.

Penipuan licik model inilah yang diterapkan mbah Susilo Bambang Yudhoyono. Hanya tentu saja, bagi rakyat Acheh yang telah sadar untuk menentukan nasib sendiri bebas dari pengaruh kekuasaan negara sekuler Pancasila ini tidak akan mudah tertipu dengan akal bulus yang dilontarkan oleh mbah Susilo Bambang Yudhoyono ini. Dan tentu saja Badan Rehabilitasi dan Rekontruksi untuk Acheh ini tidak akan berjalan dengan baik, selama konflik Acheh tidak bisa diselesaikan dengan melalui jalur politik yang aman dan damai. Dan tentu saja, selama TNI-nya Endriartono Sutarto dan mas Djoko Santoso bergentayangan di Acheh, maka selama itu usaha pihak mbah Susilo Bambang Yudhoyono dengan BRR model Jawa-nya mbah Soekarno ini tidak akan bisa berhasil dengan baik, apalagi dana yang dipakai untuk merehabilitasi dan merekontruksi Acheh ini hasil pinjaman dan bantuan asing.

Negara-negara donor tidak akan senang dan tidak akan setuju kalau uang bantuan dan pinjaman untuk merehabilitasi dan merekontruksi Acheh tidak dibarengi dengan usaha penyelesaian konflik Acheh secara politis melalui jalur perundingan, bukan melalui jalur kekerasan senjata sebagaimana yang dilakukan oleh TNI-nya Djoko Santoso dan Endriartono Sutarto sampai detik sekarang ini.

Bagi yang ada minat untuk menanggapi silahkan tujukan atau cc kan kepada ahmad@dataphone.se agar supaya sampai kepada saya dan bagi yang ada waktu untuk membaca tulisan-tulisan saya yang telah lalu yang menyinggung tentang Khilafah Islam dan Undang Undang Madinah silahkan lihat di kumpulan artikel di HP http://www.dataphone.se/~ahmad

Hanya kepada Allah kita memohon pertolongan dan hanya kepada Allah kita memohon petunjuk, amin *.*

Wassalam.

Ahmad Sudirman

http://www.dataphone.se/~ahmad
www.ahmad-sudirman.com
ahmad@dataphone.se
---------