Stavanger, 6 Mei 2005

Bismillaahirrahmaanirrahiim.
Assalamu'alaikum wr wbr.
 

PLUS II + MALING TERIAK MALING
Omar Puteh
Stavanger - NORWEGIA.

 

MASIH TETAP MENYOROT MALING TERIAK MALING

Setelah kami katakan bahwa Al Ustadz Ahmad Sudirman sendirianpun bisa menciptakan tulisan sejenis dan seformat: "Ketika Nasihat Dianggap Celaan" karya Al Ustadz Abu Muhammad Harits Abrar pada kapasitas 100 rangkaian sehari, tetapi sekarang kami mau mengatakan pula, bahwa tiga suntingan tambahan berikutnya yang telah Johan Pahlawan internetkan, sebagai menyongsong "Plus I + Maling Teriak Maling" seolah-olah Johan Pahlawan sedang memulakan berpacuan dengan "kerajaan pasai"-nya Riji Abdullah atau Tgk Riji Tgk Abdullah ?

Riji Abdullah atau Tgk Riji Tgk Abdullah dari Stavanger, Norway itu, sudah terlalu jauh dari anda dalam pekara sunting-menyunting tulisan, yang disuntingya dari mana-mana website. Malahan suntingannya itu, dihiasai dengan bermacam-macam accessories yang dihijaukan, dibirukan dimerahkan dan diputihkan dengan lain-lain kilauan. Waaaaaaau memang kren !

Selepas itu semua suntingan-suntingan itu disealnya dengan: Tengku Riji Tengku Abdullah.

Banyak orang, tertarik membacanya kembali, walaupun sudah pernah sebelum nya terbaca website asal, tetapi mau dibaca lagi, berulangkali. Makanya dia pun seperti terus ketagihan menyunting dan terus menyunting. Ketagihannya itu berfaedah dan menyenangkan banyak orang !

Riji itu, memang rajin dalam hal sunting-menyunting ! Dulu, ketika mula-mula terbit rajinnya, dia sendiri-pribadi, pernah memiliki banyak e-mail, melebihi jumlah bintang-bintang dilangit.

Dialah salah seorang yang ikut terbawa arus MP GAM , tetapi , walaupun begitu, dia tidak mau sama sekali, melibatkan diri, untuk mengatakan sesuatu yang keji dan bernajis dalam internet, seperti yang dilakukan oleh Sofyan Ali, Ketua Front Perlawanan Seperatis GAM (KFPSGAM) dari Bireuen, Acheh Utara, si Anjing Jawa Chauvinis, Anjing si Penjajah Jawa atau Anjing si Belanda Hitam, terhadap pengelola milis mimbar bebas: Al Ustadz Ahmad Sudirman, tatapi tidak dilakukannya kepada Endang Suwiryo.

Begitu juga terhadap bangsa Acheh, baik yang di Stavanger atau dibelahan dunia lain, tidak seperti "sekumpulan" orangnya MB GAM atau MP GAM ataupun GAM M-Z dari Fitya, Swedia, yang semua kita telah maklum.

Sekalipun demikian kitapun tidak bisa juga melupakan akan gambar-foto tembakannya, tembakan Riji Abdullah, yang kemudian pernah dipropagandakan oleh si Zainal Affifuddin, anak Aceh asal Lhok Sukon ?, sang komunis celupan itu, si Juru Penerangan Utama: MB GAM atau MP GAM ataupun GAM M-Z., memfitnah orang-orang GAM, dengan kata-kata yang menyakitkan hati, padahal orang-orang GAM yang difitnahnya itu, adalah sebagai tamu jemputan makan-makan, oleh rakan-rakannya sendiri, ketika kedatangannya ke Stavanger, untuk memancing ikan mackerel.

Malahan "cerita" Riji Abdullah dengan alat penyunting-elektroniknyapun pernah diolah oleh Zainal Afiffuddin . Silakan baca tulisan-tulisan "Stavanger"-nya kembali !

Kegemaran Riji Abdullah menggambar-foto itu, selalunya tidak menyenangkan orang lain, sehingga nama panggilannya Apa Riji, diubah menjadi paparazzi dan seperti bertolak belakang dengan kerjanya sunting-menyunting yang sedang dibuatnya hari ini.

Zainal Afifiuddin atau nama penanya Z. Afiff yang yang baru-baru ini, terkapar mati akibat keganasan Abidino dan terakhirnya dipersemadikan di Blodovids, Gereja Huddinge, Swedia.

Jadi, dalam hal ini atau sehubungan dengan ini perlulah Johan Pahlawan suntingkan khusus tulisan dari karya Al Ustadz al Ustadz, yang bisa mengingatkan semua orang-orang, supaya tidak terjadi berulang seperti yang dilakukan oleh si Zainal Afifuddin, sang komunis celupan itu, yang memakai "firman dan hadist" untuk melakukan pekerjaan fitnah-memfitnah terhadap GAM, sebagaimana dikehendaki oleh senario dari skrip drama buku hijau: "dokumen negara acheh"-nya MB GAM atau MP GAM ataupun MP GAM M-Z, sekembalinya memancing ikan mackerel di Stavaner, Norway.

Mengapakah tidak diinternetkan oleh MB GAM atau MP GAM :ataupun GAM M-Z , yang Zainal Affifuddin, Juru Penerangan Utamanya, "sahabat mereka" terakhir pernah disemadikan di surau Fitya, orang yang mengumbar firman dan hadits ketika membuat fitnah ? Kami tidak memang tidak heran Zainal Afiffuddin dengan firman dan hadisnya. Karena K.H Muso pun tahu firman dan hadis, KH Semaun pun tahu firman dan hadits. KH Sirajuddin Abbas , tokoh pesantren itupun pernah di Peking menjelang proolog G30S/PKI, ditahun 1965, dengan bondongan rombongan Zainal Afiffuddin !

Atau sah dia bukan Islam? Atau sah dia bukan Acheh Lhok Sukon? Walaupun "orang asing" itu sah, sebagai Penasihat dan Juru Penerangan Utama-nya MB GAM atau MP GAM ataupun GAM M-Z ?!

Selain itu, Johan Pahlawan perlu, mencari Al Ustadz al Ustadz, yang telah sanggup memahami, hak mutlak bangsa Acheh terhadap buminya yang sedang memperjuangkan kemerdekaannya dari Penjajah Indonesia Jawa atau dari si Belanda Hitam, yang telah dicaplok dengan liciknya oleh Soekarno si Penipu licik, sebagaimana yang telah diharapkan oleh Al Ustadz Ahmad Sudirman dalam bentangan tulisan panel beliau, 20 April, 2005 : "Aneuek Acheh, Itu Embah Soekarno Bukan Otak Revolusi Sosial, Melainkan Otak Pendewaan", agar dengannya Ustadz al Ustadz itu berkarya untuk menyedari Jawa Chauvinis, atau Jawa si Penjajah atau si Belanda Hitam, dengan ancaman Allah SWT.

Tiga suntingan terakhir kiriman Johan Pahlawan, seperti yang di e-mailkan kepada kami itu, tidak berkemampuan mendobrak benteng-benteng kejahatan Jenderal-Jenderal ABRI-TNI/POLRI, Tentara Teroris Nasional Penjajah Indonesia Jawa, atau si Belanda Hitam.

Johan Pahlawan ! Anda sebagai orang Acheh ??? dan seorang yang bergiat kembar, sama-serupa dengan Riji Abdullah dari "kerajaan pasai" dalam hal penyuntingan (adopsi) tulisan-tulisan orang, walaupun sudah berulangkali diedarkan, sebaiknya anda tidaklah mengadopsi Johan pahlawan itu, sebagai nama email anda, sebagaimana telah kami ingatkan sebelumnya. Atau barangkali ada tulisan atau karya Al Ustadz al Ustadz lain yang akan menfatwakannya?

Johan Pahlawan adalah sebuah gelaran anugerah Belanda, yang telah dipandang oleh bangsa Acheh sebagai lambang kepengkhianatan Teuku Umar terhdap bangsanya !

Sewaktu pengkhianatannya atau sewaktu ikut-sertannya membantu KNIL Belanda dan anak-anak Jawa pembunuh bayarannya, menyerang dan menyembelih ribuan pasukan Tengku Tjhik di Tiro Muhammad Amin, dia dan pasukannya telah "dichop" oleh bangsa Acheh sebagai tentara kaphe, sama dan setaraf dengan ribuan anak-anak Jawa pembunuh bayaran KNIL Belanda, yang dikatakan sebagai tentara kaphe !

Sebagaimana hari ini, TNA, Tentara Negara Acheh dan nasionalis-nasionalisnya memandang ABRI-TNI/POLRI, Tentara Teroris Nasional Penjajah Indonesia Jawa, atau si Belanda Hitam, ummat Pancasila, sebagai tentara kaphe, sebagai kaphe kawarij yang dengan kejam dan biadabnya menyembelih ratusan ribu ummat Islam Acheh, ummat Muhammad SAW di Acheh !

Jadi bangsa Acheh telah melupakan sematan "lencana" kebesarannya, sebagai anjing Belanda, sebagaimana Tjut Njak Dhin telah mema'afkan untuk melupakannya, tetapi mengapakah anda tidak ? Belandapun, sebagaimana telah kita ceritakan sebelumnya, telah mintakan kepada "Geriliyawan" anak-anak Jawa asal pembunuh bayaran KNIL Belanda telah dimintakan agar melupakan predikat "lencana" NICA, sebagai predikat anjing Belanda, yang sebelumnya juga pernah seprofessi sebagai anak-anak Jawa, pembunuh bayaran KNIL Belanda, menjelang perjanjian KMB, Den Haag, Belanda ditanda tangaini pada 27 Desember, 1949. Malahan sebagai mengupam dalam email anda pula ?

Soekarno si Penipu licik, pernah mengupam di Tugu Monumen Nasional bahwa indonesia itu telah melalui zaman purba kala, zaman batu, zaman perunggu, zaman ning majapahit, zaman majapahit, zaman penjajahan belanda, zaman penjajahan jepang dan kemudian, kini zaman kemerdekaan republik indonesia jawa ?!

Lupakah atau pura-pura lupakah Soekarno si Penipu licik bahwa "Indonesianya" dari zaman Purbakala itu, telah pupus-musnah sejak Pangeran Trunojoyo, yang dianggap sebagai pewaris terakhir Kerajaan Jawa-Majapahit, menyerah kalah di kaki Gunng Kelud pada 27 Desember 1679 atau persis 270 tahun sebelum ditanda tangani perjanajian di KMB, Den Haag, Belanda, dan kemudian telah mati ditikam dengan keris keperutnya oleh tangan Amangkurat II sendiri, dari Kerajaan Jawa-Mataram, sebaik saja Pangeran Trunojoyo dan Panglima Karaeng Dalesung dari Melayu-Makassar, berhasil mengalahkan Amangkurat I (yang kemudian mati konyol di Tegal), walaupun tentara Amangkurat I, dibantu tentara Belanda (VOC) dengan pembunuh bayarannya anak-anak dari Flores.

Tetapi Susilo Bambang Yudhoyono, (anak Jawa-Mataram) ini, tidak pernah melupakan sedetikpun sejarah (formula ?) bagaimana Trunojoyo (anak Jawa-Majapahit) bergabung tenaga dengan Karaeng Dalesung (anak Melayu-Makassar) bisa menumbangkan Amangkurat I (anak Jawa- Mataram), yang pernah menjadi "raja-nya" dipakai untuk menumbangkan Megawati Soekarno Putri (anak Jawa Majapahit), yang pernah menjadi "boss-nya", bergabung tenaga dengan Daeng Yusuf Kalla (anak Melayu Makassar) !

Daeng Yusuf Kalla, tentunya juga tidak akan lupa, untuk tidak membuat silap-langkah, akan sejarah Trunojoyo yang pernah menumbangkan Amangkurat I, ayah dari Amangkurat II.

Sedangkan sebelum Amangkurat I, ditumbangkan, anaknya Amangkurat II menganggap ayahnya itu, juga sebagai musuhnya juga, sedangkan Trunojoyo sahabatnya, yang membantu menumbangkan ayahnya yang kejam seperti Gajah Mada dan dikenal sebagai si Play Boy Jawa. Maka, apa lacur, kemudiannya? Kita dapat baca cerita diatas, Trunojoyo dibunuh oleh sahabatnya sendiri Amangkurat II, dengan tusukan keris langsung dibenamkan keperutnya. Maling teriak Maling?

Daeng Yusuf Kallapun, setelah berhasil menumbangkan megawati soekarno Putri, kini sedang dikepung dari darat-laut dan udara oleh orang-orangnya si Susilo Bambang Yudhoyono: Tiga Jenderal: KSAD, KSAl dan KSAU ! Si Maling teriak Maling ?

Daeng Yusuf Kalla, kalau kamu kemudian kamu tidak ada lagi bisa buat bisnis dan tidak diterima lagi di Indonesia Jawa, kamu bisa datang ke Acheh, dan bekerja seperti leluhur Bugis dan Makassar dulu, mebuatkan kapal perang untuik armada laut Acheh. Kamu akan ditempatkan di galangan kapal perang Acheh dan untuk ini Acheh akan membuka perwakilan negaranya di Makassar kembali seperti pada awal abad ke 17.

Terakhir, biarlah saya anjurkan kepada anda, Johan Pahlawan, cari dan suntinglah karya-karya yang melarang manusia-manusia produk Pancasila, Jenderal-Jenderal ABRI-TNI/POLRI, Tentra Teroris Nasional Penjajah Indonesia Jawa atau si Belanda Hitam, agar mereka menyetop semua jenis gerakan genocida di bumi Acheh.

Karena anda perlu tahu, siapakah Malingnya itu: Si Maling teriak Maling !

Edriartono Sutarto bersama semua Jenderal-Jenderal dan "Letnan-Letnan" nya dengan menggunakan ABRI-TNI/POLRI, Tentara Teroris Nasional Penjajah Indonesia Jawa, atau si Belanda Hitam, menyembelih bangsa Acheh, tetapi kemudian dia meneriakkkan TNA, Tentara Negara Acheh/ASNLF/GAM, yang melakukan.

Kan aneh, TNA, Tentara Negara Acheh, dibangun kembali untuk melindungi bangsa Acheh dan generasinya, tetapi kemudian dituduh, diteriaki sebagai pembunuh bangsanya.

Endriartono Sutarto Cs anak-anak Jawa Chauvinis, anak Jawa Kolonialis, Anak Jawa Imperialis adalah anak Jawa Rasialis, si Belanda Hitam, memang sudah jelas, sudah terang anti bangsa Acheh ! Itulah Endriartono Sutarto si Pembunuh yang selalu meneriaki: Maling teriak Maling !

Acheh adalah bangsa Acheh !!! Jawa Chauvinis, Jawa Kolonialis, Jawa Imperialis adalah anak Jawa Rasialis, si Belanda Hitam, itulah yang sekarang ini, disebut sebagai Indonesia Jawa atau Jawa Indonesialis !!!

Wassalam

Omar Puteh

om_puteh@hotmail.com
om_puteh@yahoo.com
Norway
----------